Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN BERDASARKAN KEARIFAN LOKAL SUKU MOILE DAN SUKU MEYAH DI KABUPATEN MANOKWARI PROVINSI PAPUA BARAT (Rehabilitation of Forest and Land Based On Local Knowledge of Moile and the Meyah in Manokwari Regency West Papua Province)
ABSTRAKKajian Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat telah dilakukan dengan berdasarkan kearifan lokal Suku Moile dan Suku Meyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis–jenis tanaman lokal, indentifikasi kearifan lokal masyarakat Suku Moile dan Suku Meyah dan merumuskan strategi RHL berdasarkan kearifan lokal masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Kampung Sub Sai Distrik Warmare dan Kampung Lebau Distrik Manokwari Utara Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat. Teknik pengambilan data adalah pendekatan metode kombinasi data primer dan sekunder yang diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan teknik Snowball sampling dan penelusuran dokumen. Metode deskriptif dengan analisis Miles dan Huberman digunakan untuk mengidentifikasi kearifan lokal Suku Moile dan Suku Meyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis tanaman lokal yang berpotensi digunakan dalam kegiatan RHL di Kabupaten Manokwari adalah: tanaman yang mempunyai kualitas kayu pertukangan yang baik dan memiliki nilai ekonomis tinggi, seperti: kayu besi (Intsia bijuga), kayu susu (Astonia sp), kayu matoa (Pometia sp). Di samping tanaman yang buah dan kulitnya bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat menambah penghasilan masyarakat, seperti: buah merah (Pandanus conoideus), Gaharu (Aquilaria malaccensis), Mangga (Manggifera indica), Rambutan (Nephelium lappaceum), Durian (Durio Zibethinus). Masyarakat Arfak pada kawasan ini memiliki nilai dan kearifan budaya Igya Ser Hanjob yang artinya berdiri menjaga batas. Kawasan hutan yang dimanfaatkan terbagi atas 4 (empat) bagian yakni Susti, Bahamti, Nimahamti dan Tumti, dengan fokus kegiatan RHL seharusnya dilakukan di Susti dan Nimahamti yang berfungsi sebagai kawasan penyangga.ABSTRACTStudy of the Forest and Land Rehabilitation (FLR) in Manokwari Regency West Papua Province have been done based on local knowledge of Moile and the Meyah. This research aims to know the type of local plants, identification the local wisdom of a tribal society Moile and Tribe Meyah and formulate the FLR strategy based on the wisdom of the local community. The study is done in sub sai vilagge warmare district and lebau vilagge manokwari the northern district manokwari counties provincial west papua. Techniques used in the data is the approach combination method through observation field, interviews with snowball sampling techniques and the tracing documents. Descriptive method with an analysis Miles and Huberman used to identify local knowledge of Moile and Meyah. The results showed that the local-crop potentially used FLR in the district Manokwari intsia bijuga asltonia sp, pometia .sp, where its have good quality for use as timber carpentry having high as well as economic value and Pandanus conoideus, Aquilaria malaccensis, Manggifera indica, Nephelium lappaceum, Durio Zibethinus which fruit and the skin can be utilized to add community incomes. The community arfak in this area has a value and culture igya wisdom similar hanjob which means keeping the limit stood, forest areas being utilized divided over 4 (four) : susti, bahamti, nimahamti and tumti , where RHL activities should be undertaken in susti and nimahamti because it can function as buffer are
PENENTUAN BOD, ZN, DAN NO3-N DI WADUK SAGULING PADA SETIAP PEMBAGIAN KELAS TAHUN BERDASARKAN DISKRIT MARKOV 3 DAN 5 KELAS (Determination of BOD, ZN, and NO3-N Concentrations in Saguling Reservoir on Each Year Class Division Based on Discrete Markov’s 3 and 5 Class)
ABSTRAKWaduk Saguling adalah salah satu dari tiga Waduk Kaskade Citarum yang berlokasi di Kabupaten Bandung. Kondisi kualitas air Waduk Saguling cenderung menunjukkan penurunan, baik disebabkan pencemaran oleh limbah industri, domestik, perikanan, peternakan, dan berbagai aktivitas lainnya di sekitar DAS Citarum Hulu. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengimplementasikan model konseptual pencemaran air dimana konsentrasi pencemar bergantung pada kuantitas air yang berkarakteristik acak sehingga penelitian pencemaran air dilakukan menggunakan pendekatan diskrit Markov. Dalam penelitian ini, konsentrasi pencemar merupakan fungsi dari waktu, dalam hal ini waktu ditunjukkan dalam tahun yang akan dibagi atau dikelompokkan berdasarkan Diskrit Markov 3 kelas menjadi kondisi kering, normal, dan basah dan berdasarkan Diskrit Markov 5 kelas menjadi kondisi sangat kering, kering, normal, basah, dan sangat basah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pencemar memiliki nilai yang tinggi pada tahun sangat kering dan nilai yang rendah pada tahun sangat basah. BOD di Pos Nanjung, Pos Muara Ciminyak, dan Pos Intake Turbin secara berturut-turut pada tahun sangat kering adalah 58,62; 11,94 dan 12,81 mg/L. Konsentrasi Zn di Pos Nanjung, Pos Muara Ciminyak, dan Pos Intake Turbin secara berturut-turut pada tahun sangat kering adalah 0,11; 0,028; dan 0,030 mg/L. Konsentrasi NO3-N di Pos Nanjung, Pos Muara Ciminyak, dan Pos Intake Turbin secara berturut-turut pada tahun sangat kering 3,56 ; 1,91 ; dan 1,74 mg/L. BOD di Pos Nanjung, Pos Muara Ciminyak, dan Pos Intake Turbin secara berturut-turut pada tahun sangat basah adalah 17,91; 5,86; dan 9,01 mg/L. Konsentrasi Zn di Pos Nanjung, Pos Muara Ciminyak, dan Pos Intake Turbin secara berturut-turut pada tahun sangat basah adalah 0,034; 0,011; dan 0,012 mg/L. Konsentrasi NO3-N di Pos Nanjung, Pos Muara Ciminyak, dan Pos Intake Turbin secara berturut-turut pada tahun sangat basah adalah 2,67; 1,26; dan 1,29 mg/L.AbstractSaguling is one of the three reservoirs of Citarum Cascade located in Bandung Regency, West Java Province. Water quality conditions in Saguling reservoir tend to decrease, either due to pollution by industrial waste, domestic, fisheries, livestock, and also other events around Citarum upstream watershed. The purpose of this research is to implement the conceptual model of water pollution which pollutant concentrations depend on the quantity of water which has random characteristic. Study of water pollution in this research was conducted using Markov discrete approach. In this study, the concentration of pollutants is a function of time where time was indicated of year the the observation years (1999-2013) was divided or grouped by Discrete Markov 3 classes become dry, normal, and wet conditions and also based on Discrete Markov 5 class becomes very dry, dry, normal and wet and very wet conditions. The results showed that the concentrations of pollutants have a high value in a very dry condition and low value at a very wet condition. BOD concentration in Nanjung Station, Muara Ciminyak Station, Turbine Intake Station consecutively in very dry condition was 58.62; 11.94; and 12.81 mg/L. Concentration of Zn in Nanjung Station, Muara Ciminyak Station, and Turbine Intake Station consecutively in very dry condition was 0.11; 0,028; and 0,030 mg/L. NO3-N concentration in Nanjung Station, Muara Ciminyak Station, and Turbine Intake Station consecutively in very dry condition was 3.56; 1.91; and 1.74 mg/L. BOD concentration in Nanjung Sation, Muara Ciminyak Station, and Turbine Intake Station consecutively in a very wet condition was 17.91; 5.86; and 9.01 mg/L. Concentration of Zn in Nanjung Station, Muara Ciminyak Station, and Turbine Intake Station consecutively in very wet condition was 0,034; 0,011; and 0.012 mg/L. NO3-N concentration in Nanjung Station, Muara Ciminyak Station, and Turbine Intake Station consecutively in very wet condition was 2.67; 1.26; and 1.29 mg/L.
KARAKTERISTIK HABITAT MANGROVE DI SEKITAR PERTAMBANGAN TIMAH LEPAS PANTAI KABUPATEN BANGKA SELATAN (Characteristic Of Mangrove Habitat Around Tin Offshore Mining in South Bangka Regency)
AbstrakKegiatan penambangan timah lepas pantai di Kabupaten Bangka Selatan dapat mengganggu komponen biotik mangrove terkait kualitas air meliputi suhu, kekeruhan, salinitas, oksigen terlarut, pH, kedalaman lumpur, kandungan logam berat dari air laut dan komponen abiotik mangrove seperti vegetasi mangrove dan Plankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik habitat mangrove berdasarkan kualitas perairan, vegetasi mangrove serta kandungan logam pada wilayah mangrove tanpa aktivitas pertambangan timah dan mangrove dengan aktivitas pertambangan timah. Metode pengambilan sampel di lapangan dilakukan secara systemactic sampling with random start, kemudian dianalisis dengan analisis independent sample test. Pengujian kualitas perairan dan kandungan logam dilakukan dengan mengacu pada baku mutu kebutuhan biota laut KepMenLH 2004. Hasil penelitian ini menunjukkan ada beda nyata rata-rata ketebalan lumpur pada kawasan mangrove alami 64 dan 179 cm pada kawasan mangrove di wilayah pertambangan timah lepas pantai, salinitas 32,56 dan 11,79 ‰, derajat keasaman (pH) 7,3 dan 6,2, oksigen terlarut 15,14 dan 12,82 ppm, kekeruhan 32 dan 9 cm, kelimpahan plankton 435.273 dan 546.800 individu/mL dengan keanekaragaman plankton 4,08 dan 2,99. Kerapatan jenis mangrove alami yaitu 46.600 individud/ha dan kerapatan jenis di kawasan mangrove pertambangan timah lepas pantai sebesar 18.300 individud/ha dengan keanekaragaman jenis 0,74 dan 0,84 dan perbandingan Suhu 28,4 dan 28,7 oC berdasarkan analisis sample test tidak menunjukkan beda nyata. Kandungan logam Timbal (Pb) dan Cu (tembaga) memiliki nilai yang sama, yaitu Pb < 0,0161 mg/L dan Cu < 0,0069 mg/L. Kadar Pb dan Cu di kawasan mangrove alami dipengaruhi oleh kondisi kepulauan merupakan jalur transportasi kapal-kapal yang menggunakan bahan bakar, sedangkan pada wilayah pertambangan timah di pengaruhi oleh limbah buangan hasil penambangan timah.Abstract Tin offshore mining in South Bangka Regency activity can disturb biotic component of mangrove related to water quality such as temperature, turbidity, salinity, dissolved oxygen pH, the depth of mud, the content of heavy metal of sea and mangrove abiotic component such as mangrove vegetation and plankton. The purpose of this study was to find the characteristic of mangrove habitat based on water quality, vegetation, and the content of heavy metal in the mangrove area with and without tin mining activities. The method of sample this research was done in systematic sampling with random start, and then was analyzed by using independent sample test. The quality of water and the content of heavy metal was analyzed referred to sea water quality standards for heavy marine life KepMenLH 2004. The research showed, there were obvious different of the mud thickness average value at the natural mangrove 64 and 179 cm of mangrove area in tin mining offshore. Salinity 32.56 and 11.79 ‰, degree acidity (pH) 7.3 and 6.2, dissolved oxygen 15.14 and 12.82 ppm, turbidity 32 and 9 cm, plankton 435,273 and 54,800 individual/mL which species diversity 4.08 and 2.99. Species density of offshore mining in mangrove area is 18,330 individual/ha and the natural mangrove 46,600 individual/ha which species diversity 0.74 and 0.84 and comparison of temperature 28.4 and 28.7oC of independent sample test can’t show different real. The content of lead metal (Pb) and Cu (copper) having the same value, Pb <0.0161 mg/L and Cu <0.0069 mg/L. Levels Pb and cu in the natural mangrove was influenced by the island was the transportation ships using fuel, while in the tin mining areas were influenced by the waste disposal of tin mining
IMPLEMENTASI DIALOG OTENTIK DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI BKPH NGARENGAN KPH PATI PERUM PERHUTANI DIVISI REGIONAL JAWA TENGAH (Authentic Dialogue Implementation on Forest Management in BKPH Ngarengan KPH Pati Perum Perhutani Central Java Regional Division)
ABSTRAKPerum Perhutani berusaha berkolaborasi dengan masyarakat dalam pengelolaan hutan dengan meluncurkan progam pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM). Pelaksanaan PHBM di BKPH Ngarengan KPH Pati Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah saat ini terhambat karena adanya konflik dengan masyarakat. Penelitian ini berusaha mengkaji pelaksanaan PHBM di BKPH Ngarengan dari sudut pandang collaborative policymaking serta mencari solusi konflik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman kepentingan dan saling ketergantungan antara masyarakat dan Perhutani dalam pengelolaan hutan serta menyusun strategi untuk menciptakan kondisi pengelolaan hutan kolaboratif. Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan terlibat dan wawancara mendalam kepada petugas Perhutani, pengurus LMDH serta masyarakat. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan bentuk saling ketergantungan dan ragam kepentingan dalam pengelolaan hutan, sedangkan analisis SWOT digunakan untuk merumuskan strategi menuju pengelolaan hutan kolaboratif. Hasil penelitian ini yaitu terdapat bentuk ragam kepentingan dan saling ketergantungan antara masyarakat dan Perhutani dalam pengelolaan hutan. Untuk menciptakan pengelolaan hutan kolaboratif dan sebagai resolusi konflik dilakukan dengan model pengaruh politik dengan membuat program bersama berupa pengaturan jarak tanam dan pengamanan hutan bersama yang sebelumnya didahului dengan dialog otentik untuk membangun kesepahaman, tawar-menawar dan membuat kesepakatan program bersama.ABSTRACTPerum Perhutani efforts in a collaboration with the local community of forest management introduce Forest Management with Community (PHBM) Program. PHBM implementation in BKPH Ngarengan KPH Pati Perum Perhutani, Central Java Regional Division is currently hampered because of a conflict with the local community. This study examines the implementation of PHBM in BKPH Ngarengan from the perspective of collaborative policymaking as well as finding solutions to conflicts. This study aims to determine the diversity of interests and interdependence between community and Perhutani in forest management and develop strategies to create the conditions of collaborative forest management. Data were collected by observation and interviews with Perhutani officials, administrators of LMDH, and the community.Descriptive analysis is used to describe the interdependence and diverse of interests in forest management, while SWOT analysis is used to formulate strategies toward collaborative forest management. Result of this research isthere is a form of diversity of interests and interdependence between community and Perhutani in forest management. To create collaborative forest management and as a model of conflict resolutioncan be carried out using political influence by creating a joint program such as plant spacing arrangement and forest security protection.which are preceded by dialogue to build understanding, bargaining and deal making programs together
PENGGUNAAN AERMOD UNTUK KAJIAN SIMULASI DAMPAK PENCEMARAN KARBON MONOKSIDA DI KOTA YOGYAKARTA AKIBAT EMISI KENDARAAN BERMOTOR (Using Aermod to Simulation Study of Carbon Monoxide Pollution Effect in Yogyakarta City Caused by The Emission of Motor Vehicles)
ABSTRAKTelah dilakukan penelitian terkait simulasi dampak pencemaran udara di Kota Yogyakarta akibat dari emisi kendaraan bermotor dengan menggunakan perangkat lunak AERMOD dan visualisasi hasil dengan menggunakan perangkat lunak SURFER 9. AERMOD merupakan perangkat lunak yang dikembangkan oleh US-EPA dan merupakan perangkat lunak yang direkomendasikan oleh US-EPA untuk memprakirakan dampak polutan udara. Penelitian dilakukan di 4 ruas jalan kota Yogyakarta, yaitu jalan Cik Di Tiro, jalan Prof. Herman Yohanes, jalan Colombo, dan jalan Jendral Sudirman dan dilaksanakan pada bulan Januari 2015. Data iklim diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Parameter yang diukur adalah karbon monoksida (CO) dan jumlah kendaraan yang lewat di lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tertinggi CO pada bulan Januari 2015 berada pada rentang antara 5.500 – 8.000 mg/m3 (4,46–6,49 ppm) berada di jalan Cik Di Tiro. Hasil simulasi selama 10 tahun menunjukkan bahwa pada tahun 2025, konsentrasi CO tertinggi hingga mencapai ± 16.000 mg/m3 (16 ppm) dan berada di jalan Cik Di Tiro.ABSTRACTA research of the simulation of air pollution effect in Yogyakarta city caused by the emission of motor vehicles had been conducted by using the AERMOD software, and the result was visualized by using SURFER 9. AERMOD was a software which was developed and is recommended by US-EPA to predict air pollution. The research was conducted on January 2015 in 4 locations in Yogyakarta city, which were Cik Di Tiro Road, Prof. Herman Yohanes Road, Colomobo Road, and Sudirman Road. Climatology data was obtained from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) of the Special Province of Yogyakarta. Parameters which were measured in this research were carbon monoxide (CO) and traffic counting. The result showed that the highest concentration of CO on January 2015 was 5,500–8,000 mg/m3 (4.46–6.49 ppm) located in Cik Di Tiro Road. The result of air pollution simulation for ten years showed that in 2025, the highest concentration of CO would be approximately ± 16,000 mg/m3 (16 ppm), located in Cik Di Tiro Road
ANALISIS PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN NON-LITIGASI ANTARA PERUSAHAAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN WARGA DESA SIDOMULYO, KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR (Analysis of Non-Litigation Environmental Dispute Settlement between Oil Palm Plantation Company and Sidomulyo Villagers, Ogan Komering Ilir District)
AbstrakPenelitian ini menganalisis masalah peranan Tim Terpadu Penyelesaian Sengketa Kabupaten Ogan Komering Ilir dalam menyelesaikan sengketa lingkungan non-litigasi, yakni dengan proses mediasi antara perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan warga Desa Sidomulyo. Penelitian ini memiliki tujuan agar penyelesaian sengketa yang dilakukan tim terpadu di kemudian hari, dapat memberikan solusi yang terbaik bagi para pihak serta untuk mendukung penyelenggaraan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan sosio-legal yang bermaksud melakukan penjelasan atas permasalahan yang diteliti dalam hubungannya dengan aspek-aspek hukum dan sosial serta mencoba menjelajahi realitas empirik dalam penyelesaian sengketa. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa Tim Terpadu Penyelesaian Sengketa Kabupaten Ogan Komering Ilir telah melakukan tugasnya sesuai prosedur. Namun begitu ada beberapa hal yang memerlukan perbaikan dan penelitian ini memberikan solusi dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan tugas tim terpadu yang memerlukan perbaikan, diantaranya adalah proses penyelesaian sengketa terlalu lama dan berlarut-larut. Kemudian, belum ada pengawasan terhadap kesepakatan penyelesaian sengketa yang dilakukan tim terpadu. Masalah selanjutnya adalah kekuatan mengikat dari suatu kesepakatan dalam sebuah penyelesaian sengketa non-litigasi. Selanjutnya tim terpadu menemui kendala yakni ketiadaan dokumen hak atas tanah yang sah milik warga desa. Terakhir, tim terpadu belum menggunakan mediasi dengan pendekatan kearifan lokal.AbstractThis research analyzes problem of the Integrated Team of Dispute Resolution of Ogan Komering Ilir District role in resolving non-litigation environmental dispute settlement, by a process of mediation between Oil Palm Plantation Company against Sidomulyo villagers. This research aims to resolve disputes that conducted by integrated team in the future, could provide the best solution for the parties and to support the implementation of sustainability palm oil plantations. This research method conducted with the socio-legal approach that intends to make the explanation of observed issues in relation with the legal and social aspects and try to explore empirical reality in dispute resolution. From the results of this research is known that Integrated Team of Dispute Resolution of Ogan Komering Ilir District has done its job in accordance with procedures. However there are several things that need of improvement and this research provides the solution implementation. Implementation of an integrated team tasks that need of improvement, including the dispute resolution process is too long and protracted. Then, there is no supervision of the dispute settlement agreement that conducted by integrated team. The next issue is the binding force of an agreement in a non-litigation dispute resolution. Furthermore, an integrated team met some obstacles that lack land rights documents that rightfully belonged to the villagers. Finally, the integrated team not using local wisdom approach in the mediation process
SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN DI KOTA BIMA PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT (System of Municipal Solid Waste Management in Bima City West Nusa Tenggara Province)
ABSTRAKSistem pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia pada umumnya masih menerapkan metode konvensional. Lain pihak volume sampah terus mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan pola hidup masyarakat. Hal itu juga terjadi di wilayah Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat, di mana sistem pengelolaan sampah belum berjalan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik sampah dan sistem pengelolaannya, serta membuat rencana pengembangan sistem pengelolaan sebagai suatu solusi penanganan permasalahan sampah. Penelitian ini menggunakan pendekatan rasional dengan teknik analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif yaitu berdasarkan standar normatif dan distribusi frekuensi. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa komponen sistem pengelolaan sampah di Kota Bima masih di bawah standar pengelolaan sampah perkotaan. Hal itu diperoleh dari hasil analisis pendapat masyarakat dan analisis berdasarkan standar normatif. Perencanaan sistem pengelolaan sampah perkotaan di Kota Bima dengan konsep non-konvensional mampu mengurangi timbulan sampah yang dibuang ke TPA sebesar 46,23% dan memperoleh keuntungan yang dimulai pada tahun ke 13 umur proyek dengan keuntungan total pada hingga akhir periode proyek sebesar Rp. 78.949.779.000. ABSTRACTCommonly, Municipal Solid Waste (MSW) management in urban life, Indonesia still applies conventional system. Otherwise, solid waste volume gets higher as population and lifestyle, but not supports its management well. It also occurs in Bima City West Nusa Tenggara Province, where the waste management system has not gone well. The purpose of this study is to find out the characteristics of waste and its management system, as well as to make a plan for developing a management system as a solution for handling waste problems. This research applies rational approach with the analysis techniques used are qualitative and quantitative analysis based on normative standards and frequency distribution. The results of this study indicate that the components of the waste management system in the city of Bima are still below the standard of MSW Management. This was obtained from the results of the analysis of public opinion and analysis based on normative standards. The planning of MSW management system in Bima City with non-conventional concept can reduce the amount of waste disposed to the landfill by 46.23% and earn profits starting on the 13th year of project age with total profit at the end of the project period of Rp. 78,949,779,000
ASPEK LINGKUNGAN DAN PARTISIPASI MASYARAKAT PADA PENYELENGGARAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA JATINEGARA BARAT (Accessibility of Rented Simple Flats in Perspective of Sustainable Housing)
ABSTRAKJakarta sebagai kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan akibat terbatasnya daya tampung kota untuk memberikan kehidupan yang berkualitas. Kenyataan ini bertentangan dengan konsep aksesibilitas perumahan yang didefinisikan sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan hak atas perumahan yang layak salah satunya berdasarkan kriteria ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan perumahan. Kriteria ini sangat erat kaitannya dengan keberlanjutan lingkungan dalam konsep perumahan berkelanjutan. Pendekatan kualitatif dianggap sebagai pendekatan yang tepat dalam penelitian ini. Namun metode pengumpulan data penelitian dirancang untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif yang dapat memperkaya evaluasi ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan di rumah susun sederhana sewa, serta partisipasi masyarakat penghuni rumah susun. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana lingkungan, yang berkaitan erat dengan perwujudan keberlanjutan lingkungan dalam konsep perumahan berkelanjutan, belum diterapkan dengan baik pada Rusunawa Jatinegara Barat. Partisipasi masyarakat penghuni secara kelompok dalam menjaga kebersihan lingkungan rusunawa belum dapat dikaji mendalam mengingat rusunawa baru saja dihuni. Namun kesadaran untuk menjaga kebersihan secara individu mulai terlihat. Inisiatif individu untuk berpartisipasi menjaga kebersihan lingkungan adalah langkah awal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, terutama dalam hal pengelolaan sampah rumah tangga.ABSTRACTJakarta as the city with high density of population will rise several environmental issues due to the limited city capacity in providing quality living to its dense population. This fact contradicts the housing accessibility, which is defined as an opportunity to access one’s rights to sustainable housing based on a criteria of facilities and infrastructure in the residential neighborhood. This criterion is closely related to environmental sustainability aspect in the concept of sustainable housing. Qualitative approach was considered as the best approach for this study. However, the data collection methodology was designed to gather qualitative and quantitative data that can enrich the evaluation of the availability of facilities and infrastructure in the residential neighborhood, as well as participation of the rented simple flat’s residents. The result of the study explains that the availability of facilities and infrastructure in the residential neighborhood, which is closely related with the creation of environmental sustainability in the concept of housing sustainability has not been applied properly in Rusunawa Jatinegara Barat. Participation within community group has not been able to be observed in depth since the building has just been occupied. However, the awareness in maintaining environmental hygiene has been observed. Individual innitiatives to participate in maintaining environmental hygiene are initial steps that can be developed to improve community participation, especially in household waste management.
RISIKO LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KEJADIAN MALARIA DI WILAYAH DANAU SENTANI, KABUPATEN JAYAPURA, PROVINSI PAPUA (Physical Environment Risk to The Incidence of Malaria in The Region of Sentani Lake, Jayapura District, Papua Province)
Abstrak Kejadian malaria di Indonesia merupakan persoalan kesehatan yang utama. Di Provinsi Papua, khususnya di wilayah Danau Sentani, prevalensi kejadian malaria masih menunjukkan angka yang tinggi. Kejadian ini dipengaruhi oleh berbagai faktor di antaranya adalah faktor lingkungan fisik. Untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara faktor risiko lingkungan fisik yang terdiri dari suhu, kelembaban, curah hujan, kondisi air, ketinggian, lahan, dan kondisi tempat tinggal dengan kejadian malaria di wilayah Danau Sentani. Observasi analitik yang dilaksanakan di empat kampung di wilayah Distrik Sentani Kabupaten Jayapura yaitu Kampung Yoboi/Kehiran, Kampung Hobong, Ifar Besar, dan Ifale. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk di Distrik Sentani. Sampel penelitian sebanyak 200 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random. Metode pengumpulan data dengan cara kuesioner, observasi, dokumentasi, dan wawancara. Metode analisis menggunakan analisis bivariate, uji statistik Chi-Square, dan uji regresi logistik. Faktor lingkungan fisik memiliki hubungan yang bermakna dengan kajadian malaria, dengan nilai Chi-Square sebesar 7,531 (p = 0.006 0,05). Lingkungan fisik yang terdiri dari suhu, kelembaban, curah hujan, kondisi air, ketinggian, lahan, dan kondisi tempat tinggal mempengaruhi kejadian malaria di wilayah Danau SentaniAbstractThe incidence of malaria represented serious health problem in Indonesia. In Papua province, especially in the area of Sentani Lake, the prevalence of malaria was still high. It was influenced by various physical environmental factors. The study aimed at identifying and analyzing the correlation between physical environment and the incidence of malaria in the region of Sentani Lake. It was an observational and analytic study conducted in four villages in the area of Sentani district, Jayapura, which were Yoboi/Kehiran, Hobong, Ifar Besar and Ifale. Its population was all of the residents of Sentani district and there were 200 individuals randomly drawn as samples. Data were collected using questionnaires, observation, documentation, and interviews. The data were analyzed using bivariate analysis, Chi-Square statistic test, and logistic regression. The results showed that the physical environmental factors and the incidence of malaria were significantly correlated with the Chi-Square value of 7.531 (p = 0.006 0.05). The physical environmental factors, including temperature, humidity, rainfall, water condition, elevation, and living condition, had significant influence on the incidence of malaria in Sentani Lake regio
PENGEMBANGAN EKOWISATA KAWASAN HUTAN DENGAN SKEMA HUTAN KEMASYARAKATAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Development of Forest Area Ecotourism with Community Forest Scheme in Daerah Istimewa Yogyakarta)
AbstractPengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKm) oleh pemerintah bertujuan untuk pemberdayaan dan peningkatan pendapatan masyarakat. HKm dapat dilaksanakan di area hutan produksi maupun hutan lindung. Petani HKm hutan lindung harus dapat mengembangkan potensi selain hasil kayu, salah satunya potensi wisata. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap peluang dan tantangan pengembangan ekowisata di kawasan HKm hutan lindung di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian dilakukan tahun 2014 di kawasan HKm Kulon Progo maupun Gunungkidul. Data dikumpulkan melalui metode observasi dan wawancara. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Peluang pengembangan ekowisata sangat besar karena areal HKm hutan lindung yang ada sudah memiliki potensi masing-masing. Di Gunungkidul, pengembangan ekowisata HKm dilakukan pada area Hutan Turunan/obyek wisata Watu Payung. Di Kulon Progo, pengembangan wisata di Kalibiru sudah menunjukkan hasil yang cukup baik dan ada beberapa embrio pengembangan ekowisata di lokasi Watu Gembel dan Puncak Dipowono. Seluruh obyek ekowisata tersebut mengandalkan potensi yang relatif hampir sama, yaitu pemandangan alam yang indah serta berbagai atraksi wisata lokal. Tantangan pada semua lokasi serupa, yaitu mencakup masalah finansial, infrastruktur dan kesiapan masyarakat setempat. AbstrakThe development of community forests (HKm) by the government aimed to empower and increase the income of forest communities. HKm can be undertaken in production forest or protect forest. The protect forest HKm farmer should have to improve forest’s potential besides wood potential. One of it was tourism potential. This article aims to reveal the opportunities and challenges of tourism development in the area of protected forest HKm in Yogyakarta. The research was done in 2014 at HKm area in Kulon Progo and Gunungkidul. Data were collected by observation and interview. Data were analysed by qualitative descriptive method. The results showed that ecotourism development opportunities are very large because each area HKm existing protected forest already has the potential of each. In Gunung Kidul, ecotourism development conducted in the area of Turunan Forest/Watu Payung. In Kulon Progo, tourism development in Kalibiru has shown good results and there are some new development of ecotourism in Watu Gembel and Peak Dipowono. The whole object was rely on beautiful natural landscape and numerous tourism local attraction. Challenges at all locations, include financial problems, infrastructure and readiness of local communities