Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    KAJIAN KOMUNITAS RAYAP AKIBAT ALIH GUNA HUTAN MENJADI AGROFORESTRI DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU, SULAWESI TENGAH (Termites Community Impact of Forest Conversion to Agroforestry in Lore Lindu National Park, Central Sulawesi)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji komunitas rayap akibat alih guna hutan dan hubungannya dengan faktor lingkungan. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2011 sampai Juni 2013. Dilaksanakan di wilayah Taman Nasional Lore Lindu di sekitar Desa Rahmat, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi. Pengamatan rayap dilakukan dengan menggunakan metode transek. Parameter yang diamati adalah parameter lingkungan, iklim mikro, sifat fisik dan kimia tanah. Total diversitas rayap yang ditemukan adalah 20 spesies, yang terdiri dari 15 spesies pada hutan primer, 15 spesies pada hutan sekunder dan 8 spesies pada agroforestri. Biomassa pohon tertinggi pada hutan primer (620,91 Mg/ha), nekromas dan jumlah seresah tertinggi pada hutan sekunder yaitu masing-masing 8,22 Mg/ha dan 19 Mg/ha. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa alih guna hutan menjadi agroforestri diikuti oleh perubahan komunitas rayap. Suhu tanah dan suhu udara meningkat setelah alih guna hutan. ABSTRACTThis study was conducted to evaluate the termines community impact forest conversion  and its relation with the environmental factors.  It was conducted from December 2011 to June 2013 and implemented in Lore Lindu National Park located in around of Rahmat village, subdistrict of Palolo, district of Sigi.  The observation of termites community was performed using method of transect.  The measured parameters were environmental parameters, microclimate, and physic and chemical characteristics of the soil.  There were 20 species found totally, consisted of 15 species in primary forest, 15 species in secondary forest, and 8 species in agroforestry.  The highest biomass of tree in primary forest was 620.90 Mg/ha, whereas the necromass and highest amount of litter in secondary forest were respectively 8.22 Mg/ha and 19 Mg/ha.  Land use change in TN.Lore Lindu was alearly followed by the change of termites diversity. The soil and water temperatures were increased

    MODEL SPASIAL DINAMIK GENANGAN AKIBAT KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI PESISIR SEMARANG (Spatial Dynamic Model of Inundated area due to Sea Level rise at Semarang coastal Area)

    Get PDF
    ABSTRAKKota Semarang merupakan kota pesisir di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki topografi datar pada wilayah laut yang biasa disebut dengan kota bawah dan bergunung pada bagian atasnya yang biasa disebut dengan kota atas. Kota bawah memiliki kerentanan yang tinggi terhadap genangan akibat kenaikan muka air laut, hal ini disebabkan olehkondisi topografi yang datar. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran secara dinamik distribusi genangan akibat berbagai skenario kenaikan muka air laut. Model spasial dinamik menggunakan Flash yang berfungsi memberikan gambaran secara interaktif dan real time pada berbagai skenario kenaikan muka air laut. Skenario kenaikan muka air laut menggunakan skenario IPCC hingga tahun 2100. Hasil studi menunjukkan bahwa terjadi kenaikan jumlah genangan dari 599,4 ha pada tahun 2020 menjadi 4.235,4 ha pada tahun 2100. ABSTRACTSemarang is one of coastal city located at Central Java Province. It has flatten topography at coastal area called “downside town” and hilly topography at upper area called “topside town”.  Ownside town was highly vulnerable to sea level rise caused by it’s topographic condition and the land subsidence phenomena. This research conducted to mapeed the inundated area due to sea level rise at many scenarios of sea level rise. The dynamic spatialmodel of sea level rise represented using flash techmology to showed distributed area inundated by sea level rise. The scenario of sea level rise by IPCC prediction was used at this study. The stuty showed that the inundated area increased from 599.4 ha at year 2020 to 4,235.4 ha at 2100.ABSTRAKKota Semarang merupakan kota pesisir di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki topografi datar pada wilayah laut yang biasa disebut dengan kota bawah dan bergunung pada bagian atasnya yang biasa disebut dengan kota atas. Kota bawah memiliki kerentanan yang tinggi terhadap genangan akibat kenaikan muka air laut, hal ini disebabkan olehkondisi topografi yang datar. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran secara dinamik distribusi genangan akibat berbagai skenario kenaikan muka air laut. Model spasial dinamik menggunakan Flash yang berfungsi memberikan gambaran secara interaktif dan real time pada berbagai skenario kenaikan muka air laut. Skenario kenaikan muka air laut menggunakan skenario IPCC hingga tahun 2100. Hasil studi menunjukkan bahwa terjadi kenaikan jumlah genangan dari 599,4 ha pada tahun 2020 menjadi 4.235,4 ha pada tahun 2100. ABSTRACTSemarang is one of coastal city located at Central Java Province. It has flatten topography at coastal area called “downside town” and hilly topography at upper area called “topside town”.  Ownside town was highly vulnerable to sea level rise caused by it’s topographic condition and the land subsidence phenomena. This research conducted to mapeed the inundated area due to sea level rise at many scenarios of sea level rise. The dynamic spatialmodel of sea level rise represented using flash techmology to showed distributed area inundated by sea level rise. The scenario of sea level rise by IPCC prediction was used at this study. The stuty showed that the inundated area increased from 599.4 ha at year 2020 to 4,235.4 ha at 2100

    PERAN MIKROBA STARTER DALAM DEKOMPOSISI KOTORAN TERNAK DAN PERBAIKAN KUALITAS PUPUK KANDANG (The Role of Microbial Starter in Animal Dung Decomposition and Manure Quality Improvement)

    Get PDF
    ABSTRAKPupuk organik perlu didekomposisi oleh mikroba dan memerlukan lingkungan yang sesuai agar cepat matang sempurna dan tidak memberikan dampak negatif pada aspek sosial, estetika maupun kesehatan pada makluk hidup dan lingkungan. Dekomposisi bahan pupuk organik dilakukan dengan menggunakan kotoran sapi, dengan 2 perlakuan mikroba (tanpa dan dengan mikroba starter) dan 3 variasi waktu, yaitu 0, 6 dan 24 jam setelah diberi mikroba starter. Analisis meliputi  uji fisik bahan pupuk yang meliputi pH, warna, aroma, lengas, dan DHL,  uji mikroba patogen (Eschericia. coli dan Salmonella) pada pupuk, pengujian kandungan hara pupuk total (C, N, P, K, Ca, Mg, Na, S, Cd, Cr, B, Fe, Cu, Zn)  dan Ntersedia (NH4 dan NO3),  serta analisis emisi gas amonia (NH3), oksigen (O2), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), metana (CH4), NOx, NO, dan SO2. Mikroba starter mengandung mikrobia dan unsur hara yang sangat diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik. Pupuk kandang sapi setelah aplikasi  mikroba starter masih mengandung E. coli dan Salmonella sp. yang cenderung menurun seiring dengan lama waktu inkubasi. Terjadi dinamika kandungan unsur-unsur hara seperti P, K, Mg, Fe dan Cu serta logam berat Cr selama proses inkubasi baik pada pupuk kandang ayam maupun sapi. Dengan perlakuan mikroba starter, bagian senyawa sulfur dari bahan organik banyak yang terombak menjadi gas SO2 yang relatif tidak berbau, dan sebaliknya H2S serta senyawa reduktif sulfida lainnya menjadi terhambat pembentukannya. Perombakan dengan  mikroba starter sebaiknya diupayakan dalam suasana aerobik atau dengan suasana lembab tetapi tidak sampai anaerobik sehingga kehadiran senyawa H2S dan senyawa sulfur reduktif lainnya dapat dikurangi atau tidak terbentuk. Hasil penelitian ini menunjukkkan pentingnya penggunaan mikroba starter optimal dan benar untuk memperbaiki kandungan nutrisi dan kualitas pupuk kandang. ABSTRACTProcess of decomposition of organic fertilizer relies on the microbial decomposer population and requires a condusive environment. Those two factors influence on the  rate of organic material decomposition and limites the negative impact of this organic fertilizer on the aspect of social, ethic, and health of living organism. Cow dung was used as the material for decomposition of organic fertilizer. Two treatments were applied: with or without microbial decomposer (microbial starter) followed by incubation in the dark condition under room temperature. The cow dung was sampled in 0, 6, and 24 hours after microbial starter application.The cow dung pH, color, smell, water content, and electrical conductivity were analyzed.  Furthermore, microbial pathogen (Eschericia coli and Salmonella), cow dung total nutrition (C,N,P,K,Ca,Mg,Na,S,Cd,Cr,B,Fe,Cu,Zn), and available N (NH4 dan NO3) were also determined. Amonia emision (NH3), oxygen (O2), carbon monoxide (CO), carbon dioxide (CO2), methane (CH4), NOx, NO, and SO2were analyzed as well. The result showed that microbial starter contained of important microbial for the process of cow dung decomposition. Application of microbial starter in cow dung reduced E. coli dan Salmonella sp. by the length of incubation time.Variation of nutrition, i.a. P, K, Mg, Fe, Cu, and heavy metal, i.a. Cr was found during incubation, both in chicken and cow manure.Application of microbial starter reduced sulfur in organic matter to be SO2 without smell, and inhibited H2S production. Decomposition by application of microbial starter should be conducted in aerob condition to reduce H2S production.  This research implied that application of microbial starter is crucially important in improving manure nutrition and quality

    PERANAN MANGROVE SEBAGAI BIOFILTER PENCEMARAN AIR WILAYAH TAMBAK BANDENG TAPAK, SEMARANG (Role of Mangrove as Water Pollution Biofilter in Milkfish Pond, Tapak, Semarang)

    Get PDF
    ABSTRAKMangrove yang tumbuh di ujung sungai besar berperan sebagai penampung terakhir bagi limbah dari industri di perkotaan dan perkampungan hulu yang terbawa aliran sungai. Area hutan mangrove mempunyai kemampuan mengakumulasi logam berat yang terdapat dalam ekosistem tempat tumbuhnya. Tujuan yang hendak dicapai dari  penelitian ini adalah mengkaji peranan mangrove sebagai biofilter pencemaran air dan  mengetahui jenis mangrove yang terbaik berperan sebagai biofilter pencemaran air di di lingkungan tambak bandeng Tapak Kota Semarang. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif. Berdasarkan hasil penelitian tentang akumulasi logam berat Cu antara air dan sedimen tambak, diperoleh hasil telah terjadi akumulasi Cu dengan Faktor Konsentrasi antara 43-400.  Pada stasiun 3 dan 4 terdapat akumulasi Cu dengan nilai Faktor Konsentrasi 3 dan 0,3. Hal ini menunjukkan akumulasi Cu dari sedimen ke akar mangrove relatif masih kecil. Perbedaan akumulasi dari tiap stasiun penelitian yang diamati menunjukkan adanya perbedaan jenis mangrove yang tumbuh pada masing-masing stasiun penelitian. Mangrove yang berada di lingkungan tambak bandeng wilayah Tapak Kota Semarang disimpulkan dapat berperan sebagai biofilter pencemaran air yang ada di perairan tersebut. Mangrove dari jenis Avicennia marina mempunyai peranan yang lebih baik dari jenis Rhizophora sp sebagai biofilter pencemaran air di lingkungan tambak bandeng Tapak Kota Semarang. ABSTRACTMangroves,  that is growing at the end of a great river, has a role as the last place for the waste water from urban and domestic industry at the upstream that were carried by the flow of river. Mangrove area  has  ability to accumulate a heavy metals  which is contained in it. The  goals  from this research is to assess role of mangrove as biofilter of water pollution and to find out the best species of mangrove as biofilter of water pollution in milkifish pond in Tapak, Semarang. This research used exploratory descriptive  design. The result showed that the accumulation of  Cu in the location has concentration factor of 43-400.  Whereas at station 3 and 4 there is accumulation of Cu with concentration factor value 3 and 0.3. It was  showed that accumulation of  Cu  from sediment to mangrove roots relatively small. The big difference in the accumulation from each station is due to differences of mangrove species that is growing at each research station. The conclution of this research  is; mangrove are located in milkfish pond can be role as biofilter of existing water pollution in these teritory. The mangrove species of Avicennia marina having a better role as biofilter of water pollution in milkfish pond in Tapak Semarang than Rhizophora sp

    STRUKTUR KOMUNITAS TUMBUHAN DAN FAKTOR LINGKUNGAN DI LAHAN KRITIS, IMOGIRI YOGYAKARTA (Community Structure of Plant and Environmental Factor in Critical Land, Imogiri Yogyakarta)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian bertujuan mempelajari struktur komunitas tumbuhan pada berbagai tingkat pertumbuhan  sebagai  respon  terhadap aktivitas masyarakat, dan kualitas fisik kimia tanah yang terbentuk di kawasan lahan kritis Imogiri. Metode penelitian menggunakan kuadrat plot, dengan  ukuran plot 1x1, 5x5, 10x10, ulangan 6 – 10 diletakkan secara stratified random sampling. Pengumpulan data dengan mengamati kehadiran cacah spesies, dihitung kerapatan, dominansi, frekuensi spesies, dan Nilai Penting. Analisis ordinasi dua dimensi digunakan untuk mengelompokkan komunitas pada berbagai tingkat pertumbuhan, dengan analisis t-test untuk uji signifikansi unsur fisik kimia tanah. Hasil penelitian ditemukan 303 spesies, terdiri dari 34 tingkat pohon, 62 sapling dan 207 tumbuhan bawah dengan distribusi yang bervariasi. Kemelimpahan menunjukkan bahwa pada tingkat pohon terjadi pengelompokan, sedangkan pada tingkat sapling dan tumbuhan bawah mengumpul menjadi satu. Dalbergia sisso tingkat pohon dan sapling serta tumbuhan bawah  Euphatorium inulifolium merupakan spesies paling dominan dan merespon kondisi lahan kritis sehingga dapat dijumpai pada semua lokasi kajian. Kemelimpahan tingkat pohon sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat, dan mineral organik yang terbentuk sehingga didominasi vegetasi dengan nilai ekonomi tinggi. Sedangkan kehadiran spesies tingkat sapling dan tumbuhan bawah merespon kandungan hara yang terbentuk. ABSTRACTThe purpose of this research was to study the community structure of plant at different growth-forms in response to the activities of the local community (people) and the physico-chemical characteristics of soil in the critical land of Imogiri. The research methods employed random quadrat with plot size of 1 x 1, 5 x 5, 10 x 10 m.  The placement of the plot followed stratified random sampling. At each plot, species richness, density, dominance, frequency of species, importance values were calculated. The grouping of growth-forms was analyzed using Ordination Analysis and t-test was used to find out the significance of physico-chemical characteristics of the soil. The finding suggested that 303 species could be found in Imogiri, consisting of 34 trees, 62 saplings, and 207 seedlings. Based on the calcultation of the species abundance, it could be concluded that there was an unequal pattern of vegetation communities at the level of trees, saplings, and seedlings/ shrubs. At the level of tree, grouping could be found. Meanwhile at the level of tree, sapling and seedlings  tend to show one group (clumped). The tree and sapling of Dalbergia sisso and the shrub of Euphatorium inulifolium showed high dominance and responded the critical land very well hence they could be found in almost in all locations. The abundance of tree species was highly influenced by people’s activities and organic minerals that occur in the area. Hence, most of trees had high economical value. Meanwhile, the presence of species at the level of sapling and seedling responded the occuring soil-nutrients. ABSTRAKPenelitian bertujuan mempelajari struktur komunitas tumbuhan pada berbagai tingkat pertumbuhan  sebagai  respon  terhadap aktivitas masyarakat, dan kualitas fisik kimia tanah yang terbentuk di kawasan lahan kritis Imogiri. Metode penelitian menggunakan kuadrat plot, dengan  ukuran plot 1x1, 5x5, 10x10, ulangan 6 – 10 diletakkan secara stratified random sampling. Pengumpulan data dengan mengamati kehadiran cacah spesies, dihitung kerapatan, dominansi, frekuensi spesies, dan Nilai Penting. Analisis ordinasi dua dimensi digunakan untuk mengelompokkan komunitas pada berbagai tingkat pertumbuhan, dengan analisis t-test untuk uji signifikansi unsur fisik kimia tanah. Hasil penelitian ditemukan 303 spesies, terdiri dari 34 tingkat pohon, 62 sapling dan 207 tumbuhan bawah dengan distribusi yang bervariasi. Kemelimpahan menunjukkan bahwa pada tingkat pohon terjadi pengelompokan, sedangkan pada tingkat sapling dan tumbuhan bawah mengumpul menjadi satu. Dalbergia sisso tingkat pohon dan sapling serta tumbuhan bawah  Euphatorium inulifolium merupakan spesies paling dominan dan merespon kondisi lahan kritis sehingga dapat dijumpai pada semua lokasi kajian. Kemelimpahan tingkat pohon sangat dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat, dan mineral organik yang terbentuk sehingga didominasi vegetasi dengan nilai ekonomi tinggi. Sedangkan kehadiran spesies tingkat sapling dan tumbuhan bawah merespon kandungan hara yang terbentuk. ABSTRACTThe purpose of this research was to study the community structure of plant at different growth-forms in response to the activities of the local community (people) and the physico-chemical characteristics of soil in the critical land of Imogiri. The research methods employed random quadrat with plot size of 1 x 1, 5 x 5, 10 x 10 m.  The placement of the plot followed stratified random sampling. At each plot, species richness, density, dominance, frequency of species, importance values were calculated. The grouping of growth-forms was analyzed using Ordination Analysis and t-test was used to find out the significance of physico-chemical characteristics of the soil. The finding suggested that 303 species could be found in Imogiri, consisting of 34 trees, 62 saplings, and 207 seedlings. Based on the calcultation of the species abundance, it could be concluded that there was an unequal pattern of vegetation communities at the level of trees, saplings, and seedlings/ shrubs. At the level of tree, grouping could be found. Meanwhile at the level of tree, sapling and seedlings  tend to show one group (clumped). The tree and sapling of Dalbergia sisso and the shrub of Euphatorium inulifolium showed high dominance and responded the critical land very well hence they could be found in almost in all locations. The abundance of tree species was highly influenced by people’s activities and organic minerals that occur in the area. Hence, most of trees had high economical value. Meanwhile, the presence of species at the level of sapling and seedling responded the occuring soil-nutrients.

    DAMPAK PENERAPAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM JALUR TERHADAP KELESTARIAN KESUBURAN TANAH DALAM MENUNJANG KELESTARIAN PENGELOLAAN HUTAN ALAM (The Impact of Selective Cutting and Strip Planting System Implementation Toward Sustainability of Soil)

    Get PDF
    ABSTRAKTebang pilih merupakan salah satu sistem silvikultur yang  dikembangkan untuk mengelola hutan hujan tropis di Indonesia. Sistem ini didasarkan pada limit diameter, jumlah tegakan tinggal untuk rotasi berikutnya dan keberhasilan permudaan alam maupaun penanaman pengkayaan. Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dengan teknik silvikultur intensif (SILIN) diintrodusir pada tahun 2005 untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas Logged Over Area (LOA) hujan hujan tropis dengan pola penanaman pengkayaan jalur. Pelaksanaan TPTJ dimungkinkan akan mempengaruhi stabilitas tanah karena tanah pada hutan hujan tropis sangat sensitif terhadap perubahan akibat pelaksanaan TPTJ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi status kesuburan tanah LOA (1 dan 5 tahun setelah penanaman) pada hutan hujan tropis yang dikelola dengan sistem TPTJ dengan teknik SILIN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  tanah  pada lokasi penelitian bersifat sangat asam (pH H2O: 3.97-4.50 dan pH KCl: 3,57-4,07). Nilai pH tersebut  mengindikasikan bahwa tingkat konsentrasi kandungan nutsisi Ca, Mg  dan K dalam kategori rendah  sebab tanah tersebut masuk dalam ordo Ultisols. Kandungan nutrisi pada areal 1 dan 5 tahun setelah penanaman tidak berbeda nyata pada uji T dengan taraf kepercayaan 5%. Pada umumnya, kandungan nutrisi orda Horizon A mempunyai nilai C-organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan di bawahnya karena keberadaan akumulasi dari bahan organik dan nilai ini mempunyai korelasi yang positif terhadap Kapasitas Tukar Kation (R2= 0.946) sehingga keberadaannya akan menyediakan unsur hara dalam mendukung pertumbuhan tanaman dipterocarps pada sistem penanaman jalur. ABSTRACTSelective cutting is one of the silviculture system  developed to manage the tropical rain forest in Indonesia. This system is based on diameter limit, the number of trees left (residual stand) for the next harvesting and successfully regeneration natural of residual stand or enrichment planting. In 2005, selective cutting and strip planting with intensive sillviculture was being applied to rehabilitate and to improve the productivity of Logged Over Area (LOA) of tropical rain forest with enrichment planting in strip planting system. TPTJ system might stimulate the soil stability of tropical rain forest damaged because it was sensitive of changing. The objective of this research was to investigate the soil fertility status on LOA (1 and 5 years old after planting) of tropical rain forest in selective cutting and strip planting with intensive sillviculture. The result showed that soil at the reseach sites were very acid it was about pH H2O 3.97-4.50 and pH KCl 3,57-4,07.  This pH values indicated that nutrient concentrations especially Ca, Mg and K were very low because the soil included on Ultisols. Nutrient concentration at 1 and 5 years old after planting of area was not significant in T test with 5% confident level. In general, nutrient concentrations in A, horizon  was organic matter accumulation on the top soil would increase C-organic content and this value had positive correlation with cation exchangeable capacity (CEC) that value of correlation coefficient (R2)  was 0.946, so it could provide nutrient to support growth of dipterocarps in the strip planting system.ABSTRAKTebang pilih merupakan salah satu sistem silvikultur yang  dikembangkan untuk mengelola hutan hujan tropis di Indonesia. Sistem ini didasarkan pada limit diameter, jumlah tegakan tinggal untuk rotasi berikutnya dan keberhasilan permudaan alam maupaun penanaman pengkayaan. Sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) dengan teknik silvikultur intensif (SILIN) diintrodusir pada tahun 2005 untuk merehabilitasi dan meningkatkan produktivitas Logged Over Area (LOA) hujan hujan tropis dengan pola penanaman pengkayaan jalur. Pelaksanaan TPTJ dimungkinkan akan mempengaruhi stabilitas tanah karena tanah pada hutan hujan tropis sangat sensitif terhadap perubahan akibat pelaksanaan TPTJ. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginvestigasi status kesuburan tanah LOA (1 dan 5 tahun setelah penanaman) pada hutan hujan tropis yang dikelola dengan sistem TPTJ dengan teknik SILIN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  tanah  pada lokasi penelitian bersifat sangat asam (pH H2O: 3.97-4.50 dan pH KCl: 3,57-4,07). Nilai pH tersebut  mengindikasikan bahwa tingkat konsentrasi kandungan nutsisi Ca, Mg  dan K dalam kategori rendah  sebab tanah tersebut masuk dalam ordo Ultisols. Kandungan nutrisi pada areal 1 dan 5 tahun setelah penanaman tidak berbeda nyata pada uji T dengan taraf kepercayaan 5%. Pada umumnya, kandungan nutrisi orda Horizon A mempunyai nilai C-organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan di bawahnya karena keberadaan akumulasi dari bahan organik dan nilai ini mempunyai korelasi yang positif terhadap Kapasitas Tukar Kation (R2= 0.946) sehingga keberadaannya akan menyediakan unsur hara dalam mendukung pertumbuhan tanaman dipterocarps pada sistem penanaman jalur. ABSTRACTSelective cutting is one of the silviculture system  developed to manage the tropical rain forest in Indonesia. This system is based on diameter limit, the number of trees left (residual stand) for the next harvesting and successfully regeneration natural of residual stand or enrichment planting. In 2005, selective cutting and strip planting with intensive sillviculture was being applied to rehabilitate and to improve the productivity of Logged Over Area (LOA) of tropical rain forest with enrichment planting in strip planting system. TPTJ system might stimulate the soil stability of tropical rain forest damaged because it was sensitive of changing. The objective of this research was to investigate the soil fertility status on LOA (1 and 5 years old after planting) of tropical rain forest in selective cutting and strip planting with intensive sillviculture. The result showed that soil at the reseach sites were very acid it was about pH H2O 3.97-4.50 and pH KCl 3,57-4,07.  This pH values indicated that nutrient concentrations especially Ca, Mg and K were very low because the soil included on Ultisols. Nutrient concentration at 1 and 5 years old after planting of area was not significant in T test with 5% confident level. In general, nutrient concentrations in A, horizon  was organic matter accumulation on the top soil would increase C-organic content and this value had positive correlation with cation exchangeable capacity (CEC) that value of correlation coefficient (R2)  was 0.946, so it could provide nutrient to support growth of dipterocarps in the strip planting system

    LIFE CYCLE COSTING DAN EKSTERNALITAS BIODIESEL DARI MINYAK SAWIT DAN MINYAK ALGA DI INDONESIA (Life Cycle Costing and Externities of Palm and Algal Biodiesel in Indonesia)

    Get PDF
    ABSTRAKBiaya produksi biodiesel menjadi salah satu hambatan program konversi bahan bakar minyak ke biodiesel negara-negara termasuk Indonesia dalam upaya mengantipasi terjadinya krisis energi. Salah satu penyebab biaya produksi yang tinggi adalah karena variabel biaya produksi yang diperbandingkan selama ini belum sepenuhnya mencerminkan keseluruhan potensi yang terkandung dalam biodiesel. Potensi biodiesel yang tergolong ke dalam komoditas lingkungan seperti sifat terbarukan, rendah dalam penggunaan lahan, dan ramah lingkungan perlu dimasukkan dalam perhitungan agar mendapatkan perbandingan perhitungan yang obyektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan komoditas lingkungan pada stuktur biaya produksi biodiesel dari minyak sawit dan minyak alga. Nilai komoditas lingkungan diperkirakan dengan metode metode benefit transfer dan untuk memperlihatkan nilai keuntungan digunakan pendekatan willing to pay (WTP). Nilai-nilai komoditas lingkungan diacu dari hasil perhitungan perangkat lunak Environmental Priority Strategy (EPS) versi 2000. Untuk kasus Indonesia, nilai komoditas lingkungan EPS diinferensi dengan elastisitas berdasarkan dari perbandingan nilai pendapatan per kapita negara Swedia dan Indonesia. Hasil penelitian menyatakan bahwa analisis life cycle costing (LCC) yang diaplikasikan dengan menambahkan variabel eksternalitas dapat memberikan informasi yang detil tentang komposisi biaya produksi biodiesel dan dapat digunakan sebagai metode untuk mendapatkan gambaran total biaya produksi yang paling kompetitif dari beberapa sumber.  Analisis juga menyimpulkan bahwa variabel eksternalitas turut mempengaruhi kenaikan total biaya produksi biodiesel hingga 14%. Hasil analisis profitabilitas menyatakan bahwa pasokan biomasa alga untuk produksi biodiesel lebih terjamin dan berkelanjutan dibandingkan biomasa sawit karena kendala teknis dan non teknis pada produksi biomasa alga lebih mudah diatasi selain itu juga keunggulan perannya dalam mitigasi GRK yang turut memperbesar peluang sebagai bahan utama biodiesel di masa depan. ABSTRACTThe high cost of biodiesel production was to be an obstacle conversion to biodiesel fuel including Indonesia due to anticipate the energy crisis. The high cost of production due to the variable cost of production has not fully comparable reflect the overall potential contained in biodiesel. Potential biodiesel belonging to the commodity nature of the environment such as renewable biomass, low in land use, and environmentally friendly should be included in the calculation in order to obtain an objective comparison of the calculations.This study aimed to evaluate the effect of adding commodities to the structure of the production cost of biodiesel between palm oil and algal oil. Estimated value of the commodity by the method of benefit transfer method shows the value used is the approach gains willingness to pay (WTP). Environmental commodity values referenced from the calculation software Environmental Priority Strategy (EPS) version 2000. For the case of Indonesia, the commodity value of the elasticity was infered EPS basis of comparison of income per capita of Sweden and Indonesia.The results stated that the analysis of life cycle costing (LCC) applied by adding variable externalities can provide detailed information about the composition of biodiesel production costs and can be used as a method to get a total picture of the most competitive production costs from several sources. The analysis also concluded that the externality variables also affect the total cost of biodiesel production by up to 14%. Profitability analysis stated that the algal biomass for biodiesel production more secure and sustainable than palm biomass due to technical and non-technical constraints on the production of algal biomass more easier to treat but it also advantages role in GHG mitigation that helped widen the opportunities as the main ingredient of biodiesel in the futur

    KAJIAN TOTAL DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN HARIAN MENGGUNAKAN PEMODELAN QUAL2K UNTUK PENCEMAR BOD, TSS, AMMONIA, FOSFAT DAN NITRAT DI SUNGAI KAMPUNG BUGIS (Study of Total Maximum Daily Load Using QUAL2K Modelling for BOD, TSS, Ammonia, Phosphate)

    Get PDF
    ABSTRAKTelah dilakukan studi untuk mengetahui kualitas air serta memprakirakan beban pencemar di Sungai Kampung Bugis Kota Tarakan Kalimantan Utara. Metode pendekatan yang digunakan adalah dengan simulasi pemodelan QUAL2K serta metode perhitungan Total Beban Tampung Maksimum Harian. Berdasar hasil studi, dinyatakan bahwa kandungan pencemar khususnya BOD dan NH3 di Sungai Kampung Bugis melebihi Baku Mutu Lingkungan (BML). Hal serupa didapat dari hasil pemodelan QUAL2K, dinyatakan bahwa Sungai Kampung Bugis tidak dapat menampung beban pencemar TSS, BOD dan NH3. Namun demikian, beban pencemar lainnya yaitu NO3 dan PO4 masih berada pada batas normal, di bawah nilai BML. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan QUAL2K, dapat diprediksi bahwa pola persebaran pencemar untuk masing-masing pencemar di Sungai Kampung Bugis pada setiap ruas dari hulu menuju hilir tidak merata, kecuali pada PO4 dan NO3. Hasil perhitungan total beban maksimum harian pencemar adalah BOD 90,32 kg/hari, TSS 73,77 kg/hari, NH35,11 kg/hari, PO40,03 kg/hari dan NO3sebesar 5,75 kg/hari. ABSTRACTDetermination and prediction studies on water quality as well as on the number of pollutant load in Kampung Bugis River, Tarakan, South Borneo were studied. The approaching methods used were modelling simulation with QUAL2K and calculating method with Total Maximum Daily Load (TMDL). Based on the result of study, the number of pollutants in Kampung Bugis River were exceeding the environmental quality standards especially for BOD and NH3. However, for other pollutants, PO4 and NO3 were on normal level, below than the environmental quality standard. Simulation results by QUAL2K stated that the prediction of dispersion pattern for each pollutant from the headwaters to downstream were uneven, except for PO4 and NO3. In addition, the load capacity results for BOD, TSS, NH3, PO4 and NO3 were  90.32; 73.77; 5.11; 0.03 and 5.75 kg/day, respectively.ABSTRAKTelah dilakukan studi untuk mengetahui kualitas air serta memprakirakan beban pencemar di Sungai Kampung Bugis Kota Tarakan Kalimantan Utara. Metode pendekatan yang digunakan adalah dengan simulasi pemodelan QUAL2K serta metode perhitungan Total Beban Tampung Maksimum Harian. Berdasar hasil studi, dinyatakan bahwa kandungan pencemar khususnya BOD dan NH3 di Sungai Kampung Bugis melebihi Baku Mutu Lingkungan (BML). Hal serupa didapat dari hasil pemodelan QUAL2K, dinyatakan bahwa Sungai Kampung Bugis tidak dapat menampung beban pencemar TSS, BOD dan NH3. Namun demikian, beban pencemar lainnya yaitu NO3 dan PO4 masih berada pada batas normal, di bawah nilai BML. Berdasarkan hasil simulasi menggunakan QUAL2K, dapat diprediksi bahwa pola persebaran pencemar untuk masing-masing pencemar di Sungai Kampung Bugis pada setiap ruas dari hulu menuju hilir tidak merata, kecuali pada PO4 dan NO3. Hasil perhitungan total beban maksimum harian pencemar adalah BOD 90,32 kg/hari, TSS 73,77 kg/hari, NH35,11 kg/hari, PO40,03 kg/hari dan NO3sebesar 5,75 kg/hari. ABSTRACTDetermination and prediction studies on water quality as well as on the number of pollutant load in Kampung Bugis River, Tarakan, South Borneo were studied. The approaching methods used were modelling simulation with QUAL2K and calculating method with Total Maximum Daily Load (TMDL). Based on the result of study, the number of pollutants in Kampung Bugis River were exceeding the environmental quality standards especially for BOD and NH3. However, for other pollutants, PO4 and NO3 were on normal level, below than the environmental quality standard. Simulation results by QUAL2K stated that the prediction of dispersion pattern for each pollutant from the headwaters to downstream were uneven, except for PO4 and NO3. In addition, the load capacity results for BOD, TSS, NH3, PO4 and NO3 were  90.32; 73.77; 5.11; 0.03 and 5.75 kg/day, respectively

    PEMODELAN SISTEM PENGUSAHAAN WISATA ALAM DI TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI, JAWA BARAT (Modelling of Nature Tourism Management System in Gunung Ciremai National Park, West Java)

    Get PDF
    ABSTRAKPemanfaatan sumber daya alam taman nasional yang terbatas untuk wisata alam dan jasa lingkungan memerlukan perencanaan yang cermat sehingga tujuan konservasi dan tujuan sosial ekonomi dapat tercapai. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk membangun model pemanfaatan sumber daya alam TNGC yang dapat memenuhi tujuan ekologi dan tujuan sosial-ekonomi. Metode penelitian yang digunakan adalah Analisis Sistem Dinamik dengan perangkat lunak STELLA 9.02.  Berdasarkan kajian sebelumnya pengusahaan wisata alam merupakan program pemanfaatan pilihan masyarakat dengan prioritas tertinggi.  Hasil simulasi sesuai kondisi saat ini menunjukkan bahwa apabila tidak ada perubahan pada variabel kunci pada sepuluh tahun yang akan datang maka terjadi peningkatan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan luas tutupan hutan hanya sampai sebesar 46,63 % dari luas TNGC. Pada simulasi dengan skenario pengembangan terjadi peningkatan secara signifikan dalam hal jumlah wisatawan, pendapatan masyarakat dan pendapatan pemerintah, dengan  tutupan hutan mencapai 68,64 % dari luas TNGC. Model pengusahaan wisata alam ini sangat dipengaruhi oleh peran stakeholders dalam pengelolaan promosi wisata alam, kegiatan restorasi,  pengamanan TNGC untuk menekan gangguan hutan, peningkatan kualitas objek-objek wisata alam, dan sarana jalan akses menuju objek wisata alam, peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia taman nasional, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pengusahaan wisata alam. ABSTRACTThe utilization of national park’s natural resources which is limited on nature tourism and environmental services needs proper management plan that can meet the ecological goal and socio-economical goal. Therefore this research aimed to build the model of Gunung Ciremai National Park (TNGC) natural resources utility development which could reach the ecological’s goal and socio-economical’s goal. Method used in this research was Dynamic Sistem Analysis with STELLA 9.02 software. Based on the previous study, nature tourism management was the prioritized activity chosen by the community.  Result of the simulation based on the recent condition showed that if there was not change in key variables for  the next ten years, there was   increase in tourist number, community income and government income, but decrease in forest cover which only reached 46.63 % of the TNGC area. Simulation with development scenario showed the significant increase in tourist number, community income and government income and the forest cover reached 68.64 % of TNGC area. The nature tourism management model was very influenced by stakeholders’ role, especially in managing promotion, restoration, forest protection, tourism site quality improvement and accesibilities, improving TNGC’s human resources capacity and competency, and  increasing community participation in the management.  

    NILAI EKONOMI AIR UNTUK RUMAH TANGGA DAN TRANSPORTASI – STUDI KASUS DI DESA–DESA SEKITAR HUTAN RAWA GAMBUT MERANG KEPAYANG, PROVINSI SUMATERA SELATAN (Economic Value of Water for Domestric and Transportation - Case Study in Villages Around Merang Kepayang

    Get PDF
    ABSTRAKHutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK) memiliki fungsi hidrologis yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya.  HRGMK menjaga ketersediaan air bagi masyarakat  baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun sarana transportasi.  Peran HRGMK sebagai sumber air yang penitng belum disadari oleh masyarakat, sehingga dukungan untuk pelestarian ekosistem HRGMK masih rendah.  Penelitian ini bertujuan untuk menaksir nilai ekonomi air dari HRGMK, baik sebagai sumber air rumah tangga maupun sarana transportasi. Dengan diketahuinya nilai ekonomi air, diharapkan masyarakat dapat mendukung kelestarian ekosistem HRGMK.  Nilai ekonomi air didekati dengan penaksiran kesediaan membayar (Willingness to Pay/WTP) masyarakat di dua desa yang berbatasan langsung dengan HRGMK.  Responden merupakan masyarakat dari kedua desa yang sumber airnya berasal dari HRGMK,  Nilai kesediaan membayar responden diperoleh dari wawancara dengan menggunakan pertanyaan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total nilai ekonomi air kawasan HRGMK yang berasal dari nilai air untuk  rumah tangga dan air untuk transportasi adalah Rp. 888.834.365.275,25 per tahun atau Rp. 6.431.507,71 per hektar per tahun.  Hal ini menunjukkan bahwa dalam kaitannya dengan ketersediaan air bagi masyarakat di sekitarnya, HRGMK memberikan manfaat yang penting dan dapat dinilai secara moneter.  Sehingga kelestarian ekosistem HRGMK harus didukung untuk menjaga kualitas lingkungan dan kelestarian perekonomian. ABSTRACTMerang Kepayang Peat Swamp Forest (MKPSF) has a hydrological function that benefit for the surrounding community. MKPSF maintain availability of water for the community to meet the needs of water for households and transportation. The role of MKPSF as important water source  has  not been recognized by community, so that the  support for the preservation of MKPSF ecosystems still low.  This research aims to estimate the economic value of water from MKPSF both households and transportation.  By knowing the economic value of water, the community is expected to support the preservation of MKPSF ecosystems. Economic value of water was aproached by estimating the willingness to pay (WTP) of community in two villages directly adjacent to MKPSF. Respondents are the people of the two villages which are the source of water comes from MKPSF. Respondents' willingness to pay values obtained from interviews using open-ended questions. The results showed that the total economic value of water MKPSF  region derived from the value of water for household and water for transportation was Rp. 888,834,365,275.25 per year or Rp. 6,431,507.71 per hectare per year. This suggests that in relation to the availability of water for surrounding communities, MKPSF  provide significant benefits that can be monetary  assessed. So that  the sustainability of MKPSF ecosystem should be supported to maintain environmental quality and economic sustainability

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇