Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    CSR DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT (STUDI IMPLEMENTASI CSR-PTBA DI MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN) (CSR and Community Development (Implementation Studies of CSR in PTBA in Muara Enim, South Sumatera Province)

    No full text
    ABSTRAKSalah satu program CSR-PTBA adalah merelokasi permukiman penduduk di wilayah Atas Dapur dan sekitarnya yang telah tumbuh menjadi daerah kumuh karena sanitasi dan lingkungan hidup mengalami polusi. Adanya Kebijakan Pengembangan dan Penataan Tata Ruang Kota Pemda Tanjung Enim, permukiman penduduk di wilayah ini tidak sesuai lagi peruntukannya karena akan dijadikan TAHURA. Banyak kendala yang ditemui, antara lain masalah trust, persepsi, motivasi dan partisipasi warga yang direlokasi. Hasil penelitian  menemukan adanya best practices dari kebijakan PTBA yang mampu memberdayakan masyarakat dengan memberikan hak milik atas tanah dan bangunan serta sarana pendukung yang lengkap untuk kepentingan umum. Dalam membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap PTBA, PSLH-UGM melakukan penelitian,  memediasi dan mensosialisasikannya, sehingga tidak muncul konflik kepentingan dan tidak terjadi konflik  yang manifest.  ABSTRACTOne of the programs is  CSR-PTBA, which involves the relocation of  residents of Atas Dapur and surrounding areas. The area has become a slum  due to increasingly poor sanitation, and environment.  Based on the  new  policy on  development and spatial reorganization adopted by Tanjung Enim city, the area is no longer  residence but will become peoples forest area (TAHURA).  The execution of the program has encountered many obstacles which ranged from  distrust,  poor perception, low motivation and minimal participation of the people who were  relocated.  The research identified  best practices from  PTBA policy , which included the empowerment of relocated people through providing them with land  and building certificates,  and establishment of self containing  supporting facilities and services. To avert  the danger of  new conflicts of interest as well as out blown conflicts,  the center for environment studiesGadjahMadaUniversity  (PSLH-UGM), conducted  research,  facilitated mediation and carried out socialization of program outcomes , all of which were aimed at restoring public trust in PTBA program

    ANALISIS PERMIBILITAS KERUANGAN DAN DINAMIKA FLUIDA ANGIN DAN SUHU KAWASAN PERMUKIMAN TROPIS SUNGAI DI BANJARMASIN, INDONESIA (An Analysis on Spatial Permeability and Fluid Dynamics of Wind and Thermal in Tropical Riverside Residential Areas)

    No full text
    ABSTRAKPermukiman tepian sungai di Banjarmasin secara alami merupakan permukiman berbasis pada alam dan budaya huni sungai, saat ini mengalami degradasi kualitas kehidupan dan alamnya. Hal ini diakibatkan oleh bencana kebakaran, banjir dan tinggi resiko terjadinya urban heat island. Secara konfigurasi keruangan tidak terjadi hubungan dan keterpaduan antara ruang arsitektur dan infrastruktur kawasan yang berbasis daratan dan perairan. Fenomena yang terjadi adalah kepadatan, hubungan kawasan darat dan sungai yang lemah serta degradasi kualitas lingkungan. Selain itu kenyamanan termal kawasan pun sangat rendah, yaitu: aliran angin yang tidak lancar, kelembaban cukup tinggi dan suhu yang tidak nyaman. Penelitian ini mencoba melakukan eksperimen melalui pendekatan simulasi permibilitas ruang dan kenyamanan termal dengan menggunakan metode analisis ruang dengan program Space Syntax dan metode analisis kenyamanan termal dengan program Envimet. Penelitian ini membandingkan kondisi eksisiting dan usulan model arsitektur permukiman kampung beringkat yang berbasis arsitektur permukiman vernakular tepi sungai Banjarmasin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah melalui pendekatan permibilitas keruangan yang mensimbiosiskan konfigurasi antara ruang darat dan air serta arsitektur kawasan dapat ditingkatkan kinerja kejelasan keruangannya tetapi secara kenyamanan termal tidak menunjukkan peningkatan kinerja secara signifikan karena morfologi kawasan yang relatif datar dan dengan proporsi ketinggian rata-rata bangunan yang rendah sehingga tidak terbentuk jalur pergerakan angin sebagai sarana ventilasi dan kenyamanan termal kawasan.ABSTRACTRiverside settlements in Banjarmasin that were initially based on their river culture and nature are currently experiencing degradation of life quality and nature. This is caused by fires, floods, and a high risk of urban heat island. In terms of spatial configuration there are no interrelation and integration between regional architecture and infrastructure, which are based on land and water. Problems occurring in these areas are density, less interconnectivity, poor accessibility, and very low intelligibility. In addition, the areas’ thermal comfort is very low – poor wind circulation, high humidity, and uncomfortable temperatures. In the study the researcher conducted an experiment based on permeability approach to solve the challenges and problems related to spatial and thermal comfort by using a spatial analysis method, space syntax, and a thermal comfort analysis method, Envimet. This study compared the existing condition with a model architecture of a city block kampung settlement, which was based on local vernacular architecture of Banjarmasin river banks. The research concluded that the intelligibility performance of spatial permeability approach could be improved. This approach resulted in a symbiosis between spatial configuration of land and water and the regional architecture. However, in terms of thermal comfort no significant improvement of performance occurred because the morphology of the area was relatively flat and the proportion of the average height of buildings was low. Consequently, wind path as ventilation was not formed and area thermal comfort was not created

    SOIL PROPERTIES OF EIGHT FOREST STANDS RESULTED FROM REHABILITATION OF DEGRADED LAND ON THE TROPICAL AREA FOR ALMOST A HALF CENTURY (Sifat-sifat Tanah Delapan Tegakan Hutan Hasil Rehabilitasi Lahan Terdegradasi pada Daerah Tropika Selama Setengah Abad)

    Get PDF
    ABSTRACTPhysical, chemical and biological properties of soil are influenced by vegetation types which grow above it. Different tree species of stands will produce difference litter quantity, litter quality and also plants’ root system. Therefore quantifying physical and chemical soil properties in several stands after rehabilitation of degraded land will increase the understanding of forest soil characteristics. The research was conducted in 8 forest stands in Wanagama I, Gunungkidul, Yogyakarta. Collection of soil samples was done at the depth of 0-10, 10-30 and 30-50 cm by making soil profile. The result showed that the textural classes were from sandy clay loam to clay. The content of clay increased with increasing soil depth. Bulk density did not differ much among the profiles and soil depth, ranging from 0.90 to 1.28 g/cm3, and so were particle density ranged from 2.19 to 2.55 g/cm3 and pore space ranged from 47.89 to 58.08 %. pH H2O ranging from 5.81 to 7.49 (slightly acid to neutral), meanwhile  pH KCl ranging from 4.44 to 6.37. C-organic content varied widely among the vegetations and soil depth ranged between 0.11 and 5.17 %. Available P and total P varied widely from 1 to 104 ppm and from 20 to 390 ppm, respectively. CEC were not much different among the profiles and soil depths, ranging from 19.80 to 38.06 cmol (+)/kg and base saturation in all samples were very high i.e. > 100 %. ABSTRAKSifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah dipengaruhi oleh tipe vegetasi yang tumbuh di atasnya. Perbedaan spesies pohon suatu tegakan akan menghasilkan perbedaan jumlah seresah, kualitas seresah dan juga sistem perakaran. Kuantifikasi sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada beberapa tegakan hutan pada lahan terdegradasi setelah direhabilitasi akan meningkatkan pemahaman mengenai sifat-sifat tanah hutan. Penelitian dilakukan pada I jenis tegakan hutan di Hutan Pendidikan Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalaman 0-10, 10-30 dan 30-50 cm dengan cara membuat profil tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas tekstur mulai dari geluh lempung pasiran sampai lempung. Kandungan lempung meningkat dengan semakin dalamnya tanah. Berat volume tidak banyak berbeda antar profil dan kedalaman tanah, berkisar antara 0,90 - 1,28 g/cm3, dan kerapatan partikel berkisar antara 2,19 - 2,55 g/ cm3, dan ruang pori tanah berkisar antara 47,89 - 58,08 %. pH H2O berkisar antara 5,81 - 7,49 (agak asam sampai netral), pH KCI berkisar dari 4,44 - 6,37. Kandungan C-organik sangat bervariasi antar jenis vegetasi dan kedalaman tanah mulai 0,11 - 5,17 %. Kandungan P tersedia dan P total sangat bervariasi, secaraberturut-turut dari 1- 104 ppm dan 20 - 370 ppm. Nilai KPK tidak banyak berbeda antar profil dan kedalaman tanah berkisar antara 19,80 - 38,06 cmol (+)/ kg dan kejenuhan basa untuk semua sampel mempunyai nilai sangat tinggi > 100 %

    KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN YANG BERGUNA SECARA LOKAL DI DESA BATU AMPAR, DI DEKAT KAWASAN HUTAN LINDUNG BUKIT RAJA MANDARA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN (The Diversity of Locally Useful Plants in Batu Ampar Village Near Bukit Raja Mandara Protected)

    No full text
    ABSTRAKKeanekaragaman jenis tumbuhan memiliki banyak fungsi bagi masyarakat, terutama adalah mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Masing-masing masyarakat tradisional di Indonesia memiliki pengetahuan khusus tentang tumbuhan yang terdapat di lingkungan mereka dan pemanfaatanya. Memiliki banyak jenis tumbuhan dan suku bangsa, Indonesia kaya akan keanekaragaman biologi dan budaya. Namun, pertanian modern dan globalisasi cenderung menurunkan keanekaragaman biologi dan budaya tersebut. Oleh karena itu, pelestarian pengetahuan dan pemanfaatan tradisional sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan keanekaragaman jenis tumbuhan yang digunakan oleh penduduk desa Batu Ampar, di Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penduduk desa tersebut memanfaatkan 83 jenis tanaman dalam 8 kategori, yaitu bahan makanan sebanyak 35 jenis, bahan obat-obatan 30 jenis, bahan bangunan 16 jenis, kayu bakar 9 jenis, pagar dan pagar hidup 9 jenis, kerajinan tangan 9 jenis, pewarna 1 jenis dan racun 1 jenis. Lima puluh lima jenis tumbuhan diambil dari lahan pribadi dan 28 jenis dari hutan. Secara ekonomis, 54 jenis tumbuhan dimanfaatkan untuk keperluan sendiri, sedangkan 29 jenis tumbuhan selain dimanfaatkan sendiri juga dijual.ABSTRACTThe diversity of plant species serves many purposes for community, especially those living in rural areas. Each traditional community inIndonesiamay have specific knowledge and use of plants found in their environment.  Having many plant species and tribes,Indonesiais rich in biological and cultural diversity. Modern agriculture and globalization, however, tends to reduce both diversities. It is, therefore, essential that traditional knowledge and uses of biological diversity be preserved. This study was aimed to document the diversity of plants used by villagers of Batu Ampar,KedurangSubdistrict, South Bengkulu District. Results showed that villagers used as many as 83 species of plants for eight categories, namely food, followed by medicine, construction, firewood, fence and hedge, handycaraft, coloring agent and poison with 35, 30, 16, 9, fence and hedge 9, handicraft 9, coloring agent 1 and poison 1 species respectively. Fifty five of the plant species were taken from private land and 28 from forest. Economically, 54 species were used for the villagers’ own purpose, while 29 species were not only for their own use but also for sale

    MINIMASI RESIKO DALAM SISTEM PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS DI KOTA BANDUNG, INDONESIA DENGAN PENDEKATAN LINEAR PROGRAMMING (Risk Minimization for Medical Waste Management System in Bandung City, Indonesia: A Linear Programming Approach)

    No full text
    ABSTRAKBerbagai macam pelayanan perawatan kesehatan yang disediakan oleh rumah sakit akan berpotensi menghasilkan limbah medis. Walaupun sebagian besar limbah rumah sakit dapat dikelompokkan sebagai limbah yang tidak berbahaya yang memiliki sifat yang sama dengan sampah rumah tangga dan dapat dibuang ke tempat penimbunan sampah, sebagian kecil dari limbah medis harus dikelola dengan tepat untuk meminimasi resiko terhadap kesehatan masyarakat. Model pengelolaan limbah medis yang dikembangkan ditujukan untuk meminimasi resiko terhadap fasilitas umum dan komersial seperti fasilitas ibadah, bank, perkantoran, restoran, hotel, stasiun pengisian bahan bakar, fasilitas pendidikan, mall dan pusat perbelanjaan, taman dan pusat olahraga/kebugaran, akibat pengangkutan limbah medis dan abu hasil pengolahannya. Tingkat resiko dari setiap fasilitas di atas ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Permasalahan diselesaikan dengan mengaplikasikan linear programming menggunakan software optimimasi LINGO®. Output model berupa optimasi alokasi limbah medis dari setiap rumah sakit ke fasilitas pengolahan dan alokasi abu dari fasilitas pengolahan ke tempat penimbunan akhir. Hasil model memperlihatkan bahwa rute terpendek tidak menghasilkan total resiko terkecil karena dipengaruhi oleh jumlah dan tingkat resiko dari setiap fasilitas yang dilalui oleh kemdaraan pengangkut limbah medis dan abu. Perbedaan fasilitas yang berada di sekitar pengolahan limbah medis juga akan menghasilkan total resiko yang berbeda.ABSTRACTA broad range of healthcare services provided by hospital may generate medical waste. Although a large percentage of hospital waste is classified as general waste, which has similar nature as that of municipal solid waste and, therefore, could be disposed in municipal landfill, a small portion of medical waste has to be managed in a proper manner to minimize risk to public health. A medical waste management model is proposed in order to minimize a risk to the public and commercial utilities such as religious facility, bank, office, restaurant, hotel, gasoline station, education facility, mall and shopping center, and park & sport center due to transportation of medical waste and ash and operational of medical waste treatment facility as well. The risk level of each public utility above is determined using Analytical Hierarchy Process (AHP) method. The problem is solved by applying linear programming using optimization software of LINGO®. The model finds optimal medical waste allocation from each hospital to the treatment facility and ash allocation from the treatment to the final disposal site. The result shows that the shortest route may not meet minimum total risk as it is affected also by number and risk level of each public utility passed by medical waste and ash vehicles. Different utilities located surrounding the waste treatment will also generate different total risk

    PENGELOLAAN SUNGAI BERBASIS MASYARAKAT LOKAL DI DAERAH LERENG SELATAN GUNUNGAPI MERAPI (River Management Based on Local Community in the Southern Slope of Marapi Volcano)

    Get PDF
    ABSTRAKDalam kehidupan manusia, ternyata ada hubungan yang saling terkait antara manusia dengan sungai. Manusia memerlukan sungai untuk mendukung keperluan dan aktivitasnya, sebaliknya keberadaan sungai juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Dalam memanfaatkan dan memelihara sungai tidak terlepas dari pemanfaatan air di dalam sungai dan alur sungainya. Dalam memgelola sungai tidak terpisahkan antara pengelolaan air sungai dan alur sungainya. Hal tersebut juga tergantung dari karakteristik sungai dan kondisi sosial budaya masyarakat. Penelitian yang dilakukan di lereng selatan Gunungapi Merapi dengan cara survei di lapangan. Data dikumpulkan dengan observasi lapangan dan wawancara dengan masyarakat. Selanjutnya dikuti dengan analisis data secara deskriptif kualitatif. Sungai sungai besar di daerah penelitian telah dikelola oleh pemerintah, sedangkan masyarakat lebih berperan kepada pemanfaatan dan pemeliharaan sungai kecil. Berbagai penggunaan dilakukan terhadap sungai-sungai kecil, untuk keperluan rumah tangga, irigasi dan perikanan. Teknik pengambilan dan pemanfaatan air dilakukan dengan cara sederhana dengan beaya yang relatif murah, tetapi tetap mengedepankan azas kebersamaan dan keadilan. Pemeliharaan terhadap alur sungai terhadap kerusakkan lingkungan dilakukan berdasarkan atas kesadaran untuk keberlangsungan lingkungan dengan yang dilakukan secara perorangan dan berkelompok. Dalam pemeliharaan dikedepankan asas kegotongroyongan tanpa mengabaikan budaya masyarakat setempat.ABSTRACTIn human life, there was a relationship between human activities with rivers. Humans need rivers to support their need and their activities; otherwise the existence of rivers can also be affected by human activities. The management of river cannot be separated from managing water in the river and its channels. It also depends on rivers characteristics as well as social and culture of the community. This research was conducted in the southern slopes of Merapi volcano using field survey. Data were collected through field observation and interviewing of local community, followed with descriptive- qualitative analyses. Big rivers in the study area have been managed by the government, while for smaller rivers the involvement in the utilization and maintenance by local community is dominant. Some small rivers are used for domestic, irrigation and fishery purposes. The way of managing rivers have been done in a simple way with relatively low cost of technique based on solidarity and local wisdom principles. Preventing the river from the environmental damage has been done individually or by groups, considering the awareness of the local community for environmental sustainability. It is also based on the principle of mutual cooperation without neglecting the characteristics of local culture

    BIOAKUMULASI DAN DISTRIBUSI CD PADA AKAR DAN PUCUK 3 JENIS TANAMAN FAMILI BRASSICACEAE: IMPLEMENTASINYA UNTUK FITOREMEDIASI (Cadmium Bioaccumulation and Distribution in Root and Shoot of 3 Crops of Brassicaceae: Implication For Phytoremediation)

    No full text
    ABSTRAKEffisiensi tanaman untuk fitoremediasi salah satunya ditentukan oleh besarnya akumulasi logam dalam biomassa tanaman yang dipanen. Akumulasi kadmium pada organ berbagai jenis tanaman menunjukkan respon yang beragam, Sebuah percobaan pot telah dilakukan pada 3 jenis tanaman famili Brassicaceae yaitu sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis ), sawi putih (Brassica rapa var. Pekinensis) dan kailan (Brassica oleracea var. Alboglabra) pada tanah gambut yang dikontaminasi kadmium (Cd) dengan tujuan mempelajari bioakumulasi Cd pada akar dan pucuk dari ketiga jenis tanaman tersebut dan menentukan jenis yang lebih potensial untuk fitoremediasi. Kontaminan Cd dicampurkan pada tanah dengan tingkatan dosis yang berbeda yaitu tanpa kontaminan, 2 mgkg-1 Cd, 4 mgkg-1 Cd, 8 mgkg-1 Cd, 16 mgkg-1 Cd dan 32 mgkg-1 Cd, dan tanah tersebut digunakan sebagai media tumbuh tanaman (5kg/polibag). Hasil penelitian menunjukkan kandungan Cd pada organ akar sawi hijau, sawi putih dan kailan lebih besar dari pucuk. Ketiga tanaman termasuk tanaman akumulator Cd. Kailan mempunyai kemampuan akumulasi Cd (BCF) yang lebih besar dari sawi hijau dan sawi putih, tetapi mempunyai kemampuan transfer Cd ke pucuk (TF) paling kecil. Sawi hijau dan sawi putih dengan biomassa yang besar dan mempunyai kemampuan transfer Cd ke pucuk yang jauh lebih besar dari kailan, lebih potensial digunakan untuk fitoremediasi tanah yang tercemar Cd.ABSTRACTPlant efficiency for phytoremediation depend on total amount of metal content in the harvestable tissues of plant biomass. Cadmium accumulation in the organs of various plant species showed varying responses. Field experiment was carried out with 3 crops of family Brassicaceae, i.e. Brassica rapa var. parachinensis, Brassica rapa var. Pekinensis and Brassica oleracea var. Alboglabra on Cd-contaminated peat soil. Contaminant Cd and soil were mixed in different dosages i.e. 2 mgkg-1 Cd, 4 mgkg-1 Cd, 8 mgkg-1 Cd, 16 mgkg-1 Cd and 32 mgkg-1 Cd and used to fill growth pot (5kg/pot).  The results showed that Cd accumulation in root of three crops tested greater than that in shoot. All of the three plants tested were characterized as Cd accumulator plant. Brassica oleracea var. Alboglabra was characterized by the highest Cd bioconcentration factor (BCF) and the lowest Cd shoot-root translocation factor (TF).  Brassica rapa var. Parachinensis showed highest biomass (>2 times biomass of Brassica oleracea var. Alboglabra) and highest Cd translocation factor may be suitable used for phytoremediation Cd contaminated soil

    KLASIFIKASI KELIMPAHAN TUMBUHAN DI KECAMATAN KINTAMANI BALI: STUDI KASUS USAHA KONSERVASI (Abundance Classification of Plants in Kintamani Bali:Case Study for Conservation Efforts)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melestarikan jenis-jenis tumbuhan yang sudah jarang kelimpahannya di alam, yang nantinya akan dibudidayakan di Kebun Raya Bali untuk mendapatkan bibit optimal yang nantinya akan dikembalikan lagi ke habitat semula. Wilayah penelitian berada di KRPH Penelokan Kintamani yang sudah cukup kritis kondisinya (4000 Ha). Dari hasil penelitian didapatkan beberapa jenis tumbuhan yang banyak ditanam, yakni ampupu (Eucalyptus urophylla S.T. Blake), cemara geseng (Casuarina junghuhniana Miq.), gmelina (Gmelina arborea Roxb.), puspa (Schima wallichii (DC.) Korth.), mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.), pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.), bambu tali (Gigantochloa apus (J.A.& J.H.Schultes) Kurz) dan bambu petung (Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne). Jenis tumbuhan yang kelimpahannya sudah cukup jarang, antara lain cemara pandak (Podocarpus imbricatus Bl.), cendana (Santalum album L.), blebu (Ehretia javanica Bl.), rijasa (Elaeocarpus grandiflorus J.E. Smith) dan majagau (Dysoxylum caulostachyum Miq.). Jenis tumbuhan yang hanya ada di beberapa kawasan saja diantaranya seming (Engelhardia spicata Lesch.ex Blume), tulak (Schefflera elliptica  (Bl.) Harms.) dan mindi/jempini (Melia azedarach L.). ABSTRACTThis study aimed to conserve the plant species that have been rare in the wild habitat, and then cultivate those species in Bali Botanic Garden to obtain optimum seedlings. The optimum seedlings will be returned to their native habitat. Study area was in KRPH Penelokan Kintamani which is a bare land (4000 ha). The study results revealed some plant species widely planted, such as ampupu (Eucalyptus urophylla S.T. Blake), cemara geseng (Casuarina junghuhniana Miq.), gmelina (Gmelina arborea Roxb.), puspa (Schima wallichii (DC.) Korth.), mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.), pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.), tali bamboo (Gigantochloa apus (J.A.& J.H.Schultes) Kurz) and petung bamboo (Dendrocalamus asper (Schult.) Backer ex Heyne), whilst plant species which is quite rare were cemara pandak (Podocarpus imbricatus Bl.), sandalwood (Santalum album L.), blebu (Ehretia javanica Bl.), rijasa (Elaeocarpus grandiflorus J.E. Smith) and majagau (Dysoxylum caulostachyum Miq.). Plant species which is only exists in some areas were seming (Engelhardia spicata Lesch.ex Blume), tulak (Schefflera elliptica  (Bl.) Harms.) and mindi/jempini (Melia azedarach L.)

    KAJIAN FILOSOFIS TERHADAP PEMIKIRAN HUMAN- EKOLOGI DALAM PEMANFAATAN SUMBERDAYA ALAM (Philosophical Studies of Human Ecology Thinking on Natual Resource Use)

    Get PDF
    ABSTRAKPenelitian inibertujuan untuk memberikan alternatif solusi terhadap upaya mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat ekploitasi sumberdaya alam yang dilakukan manusia melalui proses pembangunan dengan pendekatan filosofi apakah hakikat dan esensi dari manusiadan bagaimana kedudukannya di alam semesta ini? Apa yang harus dilakukan manusia untuk menjaga dan mengembangkan kehidupan diri dan lingkungannya?Penelitian merupakan penelitian kepustakaan yang bersifat kualitatif. Metoda yang digunakan adalah  verstehen,interpretasi,  hermeneutika dan heuristik. Hasil  penelitian menunjukkan bahwaproses pembangunan dan upaya manusia dalam melakukan eksploitasi sumberdaya alam yang tidak rasional dan hanya mementingkan “syahwat” keserakahan dan kenikmatan (hedonisme) telah memberi andil yang cukup penting dalam membentuk selera konsumtifisme. Eksploitasi sumberdaya alam berdasarkan pandangan yang individualistik-materialistik, telah menyebabkan timbulnya konflik-konflik yang berakibat pada korban manusia dan kerusakan lingkungan serta menciptakan jurang pemisah antara kesejahteraan dan kemiskinan. Oleh karena itu, dalam pembangunan diperlukan kerangka pemikiran yang bersifat antro-ekologis-filsafati (human ecology). Karena dengan kerangka pemikiran atau paradigma tersebut berbagai dimensi dapat terangkum di dalameksistensi manusia dan eksistensi lain menurut ukuran kemanusiandi dalam dirinya. Dengan demikian,apa yang dikatakan pembangunan yang berwajah insani dan lestari lingkungannya dalam pertimbangan dimensi waktu, manusia, alam serta dimensi religius dapat terbawa. Analisa dampak lingkungan dalam perencanaan pembangunan tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan aspek teknis seperti analisa kerusakan, pencemaran dan kelestarian lingkungan, akan tetapi aspek non-teknis, yakni nilai etis yang didasarkan pada kearifan manusia dan kearifan lokal juga penting diperhatikan,agar tidak terjadi penolakan-penolakan dan konflik antarunsur ekologi dalam suatu ekosistem,sehingga terjadi interaksi yang harmoni dan seimbang antara pemanfaatan dan pemeliharaan sumberdaya alam dalam pembangunan. ABSTRACTThis research aims to give alternative solution in reducing environmental damage as the result of human exploitation on natural resource in development process. The approach in use is philosophical approach to understand the fact and essence of human role in the universe. What human must do to maintenance and keep himself and his environment? This research is a qualitative bibliographical research. The method in use is versetehen, interpretation, hermeneutic and heuristic. The result shows the development process and human effort in exploiting natural resource is irrational and full of greediness and also hedonism. This result has important role to create consumptiveness. Natural resource base on individualistic-materialistic perspective has created various conflicts with human toll and environmental damage. It also created segregation between wealth and poverty. Therefore, development need critical framework with anthro-ecology-philosophy (human ecology). This critical framework or paradigm could resume various dimensions in human existence or another existence with human measurement. Thus, humanist development and environmental maintenance with time dimension, human, nature and religious dimension measurement are included. Environmental effect analysis in development planning not only base on technical aspect such as damage analysis, pollution and environmental maintenance but also non-technical aspects, namely ethical values base on human and local wisdom. Those attentive aspects are mentioned to avoid rejections and conflicts between ecological elements in an ecosystem to create harmonic interaction and balance between use and natural resource maintenance in development

    PEMANFAATAN SENYAWA POLI-MONOALILOKSI-KALIK[6]ARENA SEBAGAI ANTIDOTUM KERACUNAN KADMIUM PADA MENCIT (The Utilization of Poly-monoallyloxy-calix[6]arene as Antidote on Cadmium Intoxication in Mice)

    Get PDF
    ABSTRAKPada penelitian ini dipelajari kemampuan dari senyawa poli-monoaliloksi-kaliks[6]arena (PMK[6]H) sebagai antidotum keracunan Cd pada mencit. Penelitian ini mengikuti rancangan acak lengkap dengan menggunakan mencit jantan, galur Balb/C, sehat, umur 2-3 bulan dan mempunyai bobot badan yang seragam. Subjek uji sebanyak 30 ekor dikelompokkan menjadi 6 kelompok. Kelompok 1 adalah kelompok mencit yang diberi pakan normal dan larutan CMC 0,5%. Kelompok 2 (kontrol negatif ) diberi pakan normal dan dicekok larutan CdCl2 (3,15 mg selama 14 hari pada setiap pagi). Kelompok 3 adalah kelompok kontrol positif (kontrol antidotum) dan kelompok 4-6 adalah kelompok eksperimen. Kelompok 3-6 diberi pakan normal dan dicekok larutan CdCl2 selama 14 hari pada setiap pagi dan sore harinya diobati dengan dimerkaprol (0,65 mg/Kg BB) untuk kelompok 3 dan PMK[6]H untuk kelompok eksperimen dengan dosis masing-masing 0,22; 0,65; dan 1,95 mg/Kg BB dalam CMC 0,5%. Pengamatan gejala toksik dilakukan selama 14 hari. Pada akhir masa uji, mencit dikorbankan untuk selanjutnya diambil ginjal dan hatinya untuk diukur kadar Cd dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS) dan untuk pengamatan histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar Cd dalam ginjal mencit pada kelompok 3-6 yaitu berturut-turut sebesar 14,98; 15,22; 30,92; dan 45,61 %. sedangkan kadar Cd dalam hati mengalami penurunan masing-masing sebesar 23,37; 25,79; 31,82; dan 35,66 %. Berdasarkan data tersebut, maka PMK[6]H dapat menurunkan kadar Cd dalam ginjal dan hati mencit yang telah diracuni dengan CdCl2 bahkan pada tingkat dosis yang sama, PMK[6]H memberikan penurunan kadar Cd yang lebih besar dari dimerkaprol.ABSTRACTThe efficacy of poly-monoallyloxycalix[6]arene (PMK[6]H) as antidote in the Cd intoxication was studied in mice.  This research used completely randomized design. The animal test was Balb/C male mice, healthy, age 2-3 months with uniform body weight. Thirty mice were grouped into 6 groups. Group 1was normal group were fed with normal mice chow and administration of 0.5 % CMC. Group 2 was negative control group were fed with normal mice chow and administration of CdCl2 (3.15 mg for 14 days on each morning). Group 3 was positive control group (antidote control) and group 4-6 were experimental groups.  Group 3-6 were fed with normal mice chow and administration of CdCl2 (3.15 mg for 14 days on each morning and late afternoon treatment with dimercaprol (0.65 mg/Kg BW) for groups 3 and PMK[6]H for the experimental groups. The dosage of PMK[6]H were 0.22; 0.65; and 1.95 mg/Kg BW in 0.5 % CMC, respectively.  Evaluation of the toxic symptoms was done for 14 days. In the end of the evaluation, all mice were killed to take the kidneys and livers for histopathologic examination and the Cd levels were measured using atomic absorption spectrophotometer (AAS). The results showed a decline in levels of Cd in the kidneys of mice in group 3-6 were 14.98; 15.22; 30.92; and 45.61 %, respectively, while the Cd levels in livers decreased by 23.37; 25.79; 31.82; and 35.66 %, respectively.  Based on the data, it showed that PMK[6]H can reduce the Cd toxicity in mice and at the same dosage,  PMK[6]H can provide a reduction in Cd levels greater than dimercaprol.

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇