Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
    446 research outputs found

    KEMELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN ESTUARI PAYAU BONDAN CILACAP, JAWA TENGAH (The Abundance of Phytoplankton in the Brackish Estuary of Bondan, Cilacap, Central Java)

    Full text link
    AbstrakKajian kemelimpahan fitoplankton di perairan estuari payau Bondan Cilacap telah dipelajari. Perairan Bondan merupakan perairan hutan bakau rusak dan dikoloni oleh semak dan liana bakau, padahal daun pohon bakau adalah sumber input nutrien utama untuk komunitas fitoplankton yang merupakan mata rantai pertama dalam jejaring makanan perairan hutan bakau. Pengambilan sampel fitoplankton dilakukan dengan pencuplikan menggunakan modifikasi van Dorn 5 L dan merupakan komposit 20 L air dengan ulangan 5 kali. Kualitas perairan yang diukur meliputi kecepatan arus dan angin, suhu air dan udara, kelembaban udara, jeluk perairan dan jeluk Secchi, intensitas cahaya, turbiditas, salinitas, pH, NH4+, NO3-, PO43-, dan SO42-. Hasil menunjukkan bahwa cacah spesies dominan adalah fungsional grup diatom, akan tetapi cacah individunya sedikit. Sebaliknya, cacah individu algae koloni melimpah tetapi cacah spesiesnya sedikit, dan terjadi peledakan Aphanocapsa pulchra, 188.260 individu per 100 L. Peledakan ini karena perairan didominasi air tawar dan kerusakan hutan bakau. Peledakan A. pulchra mengindikasikan kualitas perairan hutan bakau Bondan buruk. AbstractThe abundance of phytoplankton in the brackish estuary of Bondan Cilacap have been studied. Bondan waters are setting in the disturbed mangrove ecosystem, which colonized by mangrove shrubs and lianas, whereas, the mangrove leaves are the main source of nutrient input for the phytoplankton community as the first link in the mangrove aquatic food web. Phytoplankton were sampled using a 5 L modification of van Dorn and a composite of 20 L of water with 5 replications. The water qualities measured include surface current, wind speed, water and air temperatures, air humidity, Secchi depth and water depth, light intensity, turbidity, salinity, pH, NH4+, NO3-, PO43-, dan SO42-. The results showed that the number of the dominant species was diatoms, but the number of the individuals was small. In contrast, the individual number of algae colony was abundant but the species number were few, and Aphanocapsa pulchra was blooming, 188,260 individuals per 100 L. This bloom was due to the waters were dominated by freshwater and the disturbed mangrove trees. The blooming of population of A. pulchra indicated that bad waters quality

    PERAN TUMBUHAN BAWAH DALAM KESUBURAN TANAH DI HUTAN PANGKUAN DESA PITU BKPH GETAS (The Role of Undergrowth Species for Soil Fertility in Hutan Pangkuan Desa Pitu BKPH Getas)

    Full text link
    AbstrakKehadiran tumbuhan bawah pada hutan tanaman jati dapat memberikan dampak positif yaitu, menjadi sumber keragaman hayati, menciptakan iklim mikro di lantai hutan, menjaga tanah dari bahaya erosi, serta dapat memelihara kesuburan tanah. Namun keberadaannya seringkali dianggap sebagai kompetitor bagi tanaman yang dibudidayakan. Hutan Pangkuan Desa (HPD) Pitu telah dikelola secara intensif oleh masyarakat yang dilakukan baik di bawah maupun di luar tegakan sehingga diduga mempengaruhi kondisi ekosistem di kawasan tersebut baik terhadap kelimpahan tumbuhan bawah maupun kualitas kimia tanahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman jenis tumbuhan bawah dan kualitas kimia tanah pada berbagai tipe penutupan lahan di HPD Pitu, BKPH Getas. Pengamatan dilakukan dengan menempatkan petak kuadrat berukuran 1 m x 1 m sebanyak 5 petak pada setiap unit lahan secara random. Hasil penelitian menunjukkan pada 4 (empat) penutupan lahan yaitu hutan, semak, ladang, dan pemukiman didominasi oleh jenis yang berbeda tetapi komposisi komunitas pada hutan dan semak memiliki similaritas yang relatif tinggi. Kualitas kimia tanah pada berbagai penutupan lahan tidak berbeda secara signifikan. Aktivitas masyarakat yang tinggi pada berbagai penutupan lahan diduga menjadi penyebab rendahnya hara pada berbagai tipe penutupan. Kondisi keharaan yang miskin hara khususnya pada kawasan hutan tentu akan memengaruhi produktivitas tegakan jati yang merupakan tanaman pokok di kawasan tersebut. AbstractThe presence of undergrowth on teak plantations can have a positive impact i.e, a source of biodiversity, creating a microclimate on the forest floor, keeping the soil from the erosion, and can maintain soil fertility. On the other hand, its existence is often regarded as a competitor for cultivated plants. Hutan Pangkuan Desa (HPD) Pitu has been intensively managed by communities undertaken either below or outside the stand so that it is suspected to affect the ecosystem condition in the region both to the abundance of plants and quality of soil chemistry. The purpose of this study was to determine the diversity of undergrowth species and soil chemical qualities in various types of land cover in HPD Pitu, BKPH Getas. The observation was done by placing a 1 m x 1 m square plot of 5 plots on each unit of land. The results showed that 4 (four) land closures i.e forests, shrubs, dry farmland, and settlements were dominated by different species but the community composition in forests and shrubs had a relatively high similarity. The soil chemical quality at various land coverings did not differ significantly. High community activity in various land closures is thought to be the cause of low nutrients in various types of closure. The nutrient-poor condition of the forest, especially in the forest area, will affect the productivity of teak stands, which are the staple crops in the area

    ANALISIS WILLINGNESS TO PAY PELANGGAN AIR BERSIH PDAM DI KOTA KUPANG (Analysis of Willingness to Pay Clean Water Customers of PDAM in Kupang City)

    Full text link
    AbstrakPDAM Kabupaten Kupang dalam mengelola pelayanan air bersih kepada masyarakat Kota Kupang menghadapi tantangan dalam pelayanannya. Salah satu permasalahan yang dihadapi PDAM adalah menyangkut tarif air minum. PDAM dalam menetapkan tarif selalu mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku dengan pertimbangan tarif yang ada dapat memberikan keuntungan setelah biaya operasional dan pengembalian investasi. PDAM tidak pernah melakukan survey untuk mengetahui tingkat kesediaan konsumen dalam membayar tarif air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai Willingness To Pay (WTP) pelanggan air bersih golongan rumah tangga di Kota Kupang dan menganalisis faktor-faktor yang secara signifikan mempengaruhi WTP pelanggan air bersih golongan rumah tangga di Kota Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey deskriptif dan teknik pengambilan sampel menggunakan kombinasi antara Area Sampling dan Proportionate Random Samplingdengan 250 responden. Metode valuasi kontingensi digunakan untuk mengetahui nilai WTP pelanggan air bersih. Nilai WTP pelanggan (individu) per bulan dalam membayar air bersih sebesar Rp. 145.489,46 sedangkan nilai total WTP untuk seluruh pelanggan PDAM Kabupaten Kupang golongan rumah tangga A (Rp 20.846 konsumen) per tahun sebesar Rp 36.394.479.684,00. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan terhadap WTP adalah tingkat pendapatan dan jumlah pemakaian air.AbstractPDAM Kabupaten Kupang to manage clean water service always face challenges in its service. One of the problems that PDAM often faces is the tariff of drinking water. The PDAM in determining the tariff always refers to the prevailing law and regulation with the consideration of the existing tariff can give profit after the operational cost and the return of investment. PDAM has never conducted a survey to find out how much the willingness of consumers in paying drinking water rates. This study aims to estimate the value of Willingness To Pay (WTP) of household clean water subscribers in Kupang City and to analyze the factors that significantly affect the WTP of household clean water subscribers in Kupang City. The research method used is descriptive survey method and sampling technique using a combination of sampling area and proportionate random sampling with 250 respondents. Contingency valuation method is used to know the value of PAP of clean water customer. WTP value of customer (individual) per month in paying clean water Rp. 145,489.46 while the total value of WTP for all customers of PDAM Kabupaten Kupang household class A (20,846 consumers) per year amounted to 36.394.479.684,00. Factors that have significant effect on the PAP are the level of income and the amount of water consumption

    ISOLASI BAKTERI RESISTENSI MERKURI DARI LIMBAH PENAMBANGAN EMAS KABUPATEN BURU, MALUKU (Isolation of Mercury Resistance Bacteria from Gold Mining Waste in Buru District, Maluku)

    Full text link
    AbstrakPulau Buru merupakan salah satu pulau penambangan emas dan banyak dilakukan secara illegal dengan melibatkan penggunaan merkuri untuk alat bantu dalam proses ekstraksi emas melalui proses amalgamasi. Merkuri merupakan bahan kimia yang berbahaya dan bersifat toksik bagi manusia dan juga lingkungan, dan dampak dari penggunaan merkuri ini telah dirasakan oleh masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri yang resisten terhadap merkuri sehingga dapat digunakan dalam proses bioremediasi. Penelitian ini merupakan penelitian skala laboratorium dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu dari kedua lokasi pengambilan sampel diperoleh 17 isolat dengan morfologi yang berbeda-beda serta dari ke-17 isolat tersebut resisten terhadap merkuri.AbstractBuru Island is one of the gold mining islands and much of them are illegally that used mercury in gold extraction using uses mercury. Mercury is a chemical that is harmful and toxic to humans as well as the environment, and recently the impact of mercury use has been found by the local community. This study aims to obtain bacteria that are resistant to mercury so that it can be used in the bioremediation process. This research is a laboratory scale research and analyzed descriptively. The results of this study, namely from the two sampling locations obtained 17 isolates with different morphologies and from the 17 isolates were resistant to mercury

    DESAIN LANSKAP SEMPADAN SUNGAI BERBASIS PREFERENSI MASYARAKAT DI SEGMEN JALAN RADAR AURI, JAKARTA TIMUR (Preferenced-based Riparian Landscape Design of Cipinang River in The Radar Auri Street Segment, East Jakarta)

    Full text link
    AbstrakJakarta Timur adalah kota administrasi terluas di provinsi DKI Jakarta. Laju pembangunan kota yang semakin meningkat menyebabkan daya tampung dan daya dukung lingkungan kota semakin menurun sehingga memicu timbulnya permasalahan sosial, ekosistem lingkungan daratan maupun akuatik. Lanskap sempadan Sungai merupakan aspek penting dari konstruksi lanskap perkotaan. Lanskap sempadan Sungai Cipinang memiliki fungsi ekologis, estetika dan sosial. Masyarakat merupakan kunci bagi terciptanya kehidupan sosial yang berkelanjutan dalam sebuah taman lingkungan. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di taman lingkungan perlu adanya keterlibatan masyarakat sekitar dengan mempelajari preferensi masyarakat sekitar terhadap taman. Oleh karena itu, dibutuhkan desain taman lingkungan berdasarkan preferensi masyarakat sekitar untuk menciptakan sebuah taman lingkungan yang fungsional, estetis, ekologis, dan berkelanjutan. Proses desain lanskap sempadan Sungai Cipinang dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu: tahap pengumpulan data, tahap analisis dan sintesiskonsep, dan desain. Konsep yang digunakan dalam taman lingkungan ini adalah Taman Olahraga dan Olah jiwa dengan memilih tanaman kangkung air sebagai konsep desain. Konsep ini dipilih untuk menjaga dan memelihara lingkungan sempadan sungai serta memberikan ruang olahraga, area rekreasi dan meningkatkan interaksi antar masyarakat sekitar. Setelah dilakukan proses desain, dihasilkan 3 model pilihan desain dan satu diantaranya menjadi sebuah siteplan yang digunakan sebagai gambar acuan dalam proses pembuatan gambar kerja. Siteplan dilengkapi dengan gambar tampak potongan, perspektif, detail desain, dan rencana penanaman.AbstractEast Jakarta is the largest administrative city in the province of DKI Jakarta. The increasing space of urban development causes the capacity and the carrying capacity of the urban environment to decrease, thus triggering the emergence of social problems, ecosystems of the land, and aquatic environment. The riparian landscape is an important aspect of the urban landscape. The riparian landscape of Cipinang River has ecological, aesthetic, and social functions. Community is the key to create sustainable social life in the community park. To know the needs of people in a community park is important as well as in a park design process, it could be grasped through the study of people preferences. Therefore, it is important too to study the community park design based on user preference to create a community park that is functional, aesthetic, ecological, and sustainable. The design process will be carried out through several stages, namely: stage of data collection, analysis and synthesis phase, concepts, and  design. The concept is “Olah Raga dan Olah Jiwa” which Water Spinach’s form as a design concept. It was chosen in addition to preserving and maintaining the riparian landscape environment, also to provide sports spaces, recreation areas. After the design process is carried out, there will be three models of design choices and one of them will be a siteplan that is used as a reference image in the process of making work drawings. A siteplan will be equipped with section plan, perspective, design details, and planting plan

    PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DI KECAMATAN PADANG CERMIN KABUPATEN PESAWARAN PROVINSI LAMPUNG (Marine Ecotourism Development in Padang Cermin, Pesawaran, Lampung)

    Full text link
    ABSTRAKKajian pengembangan ekowisata bahari di Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung telah dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi potensi atraksi wisata bahari yang ada, mengetahui persepsi wisatawan dan partisipasi masyarakat terhadap pengembangan ekowisata dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan, serta merumuskan strategi pengembangan ekowisata bahari yang sesuai dengan potensi atraksi wisata bahari dan potensi pasar yang dimilikinya. Sebagai responden dipilih sejumlah 100 orang wisatawan dan 100 orang masyarakat dipilih dari empat objek yaitu Pantai Mutun, Pantai Klara, Pantai Sari Ringgung dan Pulau Pahawang. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara dan observasi. Analisis potensi dan daya tarik wisata alam menggunakan pedoman Analisis Daerah Operasi–Objek dan Daya tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA). Analisis SWOT digunakan untuk menentukan strategi pengembangan ekowisata dan AHP untuk menentukan tingkat priorotas strategi pengembangan ekowisata. Hasil penelitian adalah bahwa Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran memiliki potensi yang sangat sesuai untuk pengembangan ekowisata bahari dan disetujui masyarakat setempat. Persepsi wisatawan terhadap potensi objek ekowisata bahari dari aspek ketersediaan fasilitas dan sarana prasarana penunjang masih rendah. Beberapa prioritas strategi pengembangan ekowisata bahari telah dibahas pada aspek ekologi sosial, dan ekonomi. ABSTRACTStudy of marine ecotourism development in Padang Cermin, Pesawaran District, Lampung Province has been carried out. The research objectives are to identify the potential of existing marine tourism attractions, finding out the perceptions of tourists and public participation in the development of ecotourism from social, economic and environmental aspects, and to formulate a marine ecotourism development strategy that is in accordance with the potential of marine tourism attractions and its market potential. As respondents, 100 tourists were selected and 100 people were selected from four objects, namely Mutun Beach, Klara Beach, Sari Rutut Beach and Pahawang Island. Data collecting was conducted using interview and observation. Data was collected by interview and observation. Analysis potential and attractive ecotourism used the orientation of operation area analysis object and motivation ecotourism. SWOT analysis was used to determine development strategy of ecotourism and AHP is used to determine the priority level of ecotourism development strategy. The result showed that Padang Cermin District, Pesawaran Regency, has a very suitable potential for the development of marine ecotourism and has been approved by the local community. The perception of tourists about the potential objects of marine ecotourism from the aspect of the availability of supporting facilities and infrastructure is still low. Several priority strategies for developing marine ecotourism have been discussed in the aspects of social and economic ecology

    DISTRIBUSI POLA AEROSOL DI WILAYAH INDUSTRI BALONGAN DAN SURALAYA (Aerosol Distribution in The Industry Areas of Balongan and Suralaya)

    Full text link
    AbstrakKajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi aerosol yang aktual dan dominan dari kegiatan yang melepaskan emisi polutan, khususnya di sekitar wilayah industri Pertamina-Balongan dan PLTU-Suralaya. Parameter distribusi aerosol, planetary boundary layer dan angin didapatkan dari alat Lidar. Pengukuran pada kedua lokasi menunjukkan tren kenaikan aktivitas polutan setelah pukul 08.00 WIB, distribusi aerosol pekat Pertamina-Balongan berada pada kisaran 800–1400 mdpl, sedangkan wilayah PLTU-Suralaya bervariasi pada kisaran 500-6500 mdpl. Sebaran partikel aerosol disimulasikan menggunakan model dispersi untuk mengetahui pola arah sebaran.AbstractThis study aims to identify distribution of the aerosol as the pollutants emissions affected by the selected industrial activity i.e. Pertamina-Balongan and PLTU-Suralaya. Distribution of aerosols parameter, planetary boundary layer, and wind were measured by Lidar. The measurement at both locations showed an increasing trend in pollutant emission at morning local times after 8 AM. The dispersion of aerosol in Pertamina-Balongan dominate at the altitudes of 800-1400 masl, while in PLTU-Suralaya area varies at the range 500-6500 masl. Dispersion of the aerosols was simulated using a dispersion model to determine the direction of the dispersion

    STATUS KEBERLANJUTAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI CADANGAN KARBON DI KOTA PEKANBARU (The Sustainability Status of Green Open Space as Carbon Stock in Pekanbaru City)

    Full text link
    AbstrakRuang Terbuka Hijau (RTH) merupakan ruang dengan vegetasi yang berfungsi sebagai penyerap gas karbondioksida (CO2) dalam bentuk karbon tersimpan sehingga dapat tercapai suatu kualitas lingkungan udara kota yang bersih dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberlanjutan RTH publik sebagai cadangan karbon di Kota Pekanbaru. Data diperoleh melalui metode survey, pengamatan dan wawancara dianalisis menggunakan Multi Dimensional Scaling (MDS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan RTH publik Kota Pekanbaru termasuk kurang berkelanjutan (49,57). Dimensi sosial (52,24) dinilai cukup berkelanjutan. Sementara dimensi ekologi (46,23), ekonomi (49,91), dan kelembagaan (49,93) tergolong kurang berkelanjutan. Secara umum disimpulkan bahwa pengelolaan RTH Kota Pekanbaru tergolong kurang berkelanjutan. Peningkatan indeks dan status keberlanjutan pengelolaan RTH Kota Pekanbaru perlu diupayakan dalam perspektif pembangunan kota berkelanjutan. AbstractGreen Open Space (GOS) is a space with vegetation that serves as an absorber of carbondioxide gas (CO2) in the form of carbon is stored so that a good quality of clean and comfortable city air environment could be achieved. This study aimed to analyze the status and the factors that affect the level of sustainability of public green space as a reserve of carbon in Pekanbaru. Data obtained through the survey, observation, and interviews method were analyzed using Multi Dimensional Scaling (MDS). The results showed that the management of public green space was less sustainable (49.57). The social dimension (52.24) is considered quite sustainable. While the dimensions of the ecological (46.23), economic (49.91), and institutional (49,93) relatively less sustainable. In general the management of Pekanbaru City GOS relatively less sustainable. Improving index and sustainability status RTH Pekanbaru City management needs to be pursued in the perspective of sustainable urban development

    PENGARUH AIR LINDI PADA TERHADAP pH DAN ZAT ORGANIK PADA AIR TANAH DI TEMPAT PENAMPUNGAN SEMENTARA KELURAHAN PAHANDUT KOTA PALANGKARAYA (Effect of Leachate to pH and Organic Substances of Ground Water in The Waste Transfer Station in Kelurahan Pahandut Kota Palangka Raya)

    Full text link
    AbstrakTumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) maupun Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang menghasilkan air lindi perlu dilakukan pemantauan untuk mengetahui air lindi sebelum dibuang guna mencegah terjadinya pencemaran air tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dari kualitas air lindi terhadap air tanah warga di sekitar lokasi TPS di Kelurahan Pahandut, Kota Palangka Raya. Penelitian dilakukan dengan melakukan pemeriksaan parameter air lindi, seperti Total Suspended Solid (TSS), Dissolved Oxygen (DO), kandungan minyak dan lemak. Selain itu, parameter kualitas air tanah juga diperiksa, seperti pH dan kadar zat organik pada 2 titik lokasi dengan jarak masing-masing 50 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar TSS air lindi di sekitar TPS melebihi baku mutu yaitu 130 ppm dan berpotensi sebagai penyebab tercemarnya air tanah di lokasi sekitar TPS tersebut. Kadar zat organik air tanah pada titik 1 dan 2 melebihi baku mutu yaitu sebesar 17 dan 15,1 ppm dari baku mutu yang diharapkan 10 ppm serta pH yang di bawah rentang pH yang diizinkan yaitu 6,5-9.AbstractPiles of domestic waste in Temporary waste transfer station (TPS) and Final Processing Station (TPA) that produce leachate need to be monitored to find out the leachate before disposal to prevent contamination of groundwater. This study aims to determine the effect of leachate water quality on groundwater of residents around the TPS location in Pahandut Village, Palangka Raya City. The study was conducted by examining the leachate quality parameters, such as Total Suspended Solid (TSS), Dissolved Oxygen (DO), oil and fat content, and also examining the groundwater quality parameters, such as pH and organic matter at two water samples from two locations of sampling site with a distance of 50 meters. The results showed that the TSS value of leachate was 130 ppm, which exceeded the permitted quality standard. It can lead groundwater pollution in area around the TPS. The organic substance levels of two site of groundwater exceeded the groundwater quality standards, 17 and 15.1 ppm respectively. The pH of two site of groundwater was 6.5-9, which was below the groundwater quality standards.

    KONSEP PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH KELURAHAN KOTABARU KOTA SERANG (Concept of Slum Handling in Kotabaru Serang City)

    Full text link
    AbstrakSalah satu dampak semakin tingginya jumlah penduduk di perkotaan adalah munculnya permukiman kumuh, termasuk yang terjadi di Kelurahan Kotabaru, kota Serang. Berbagai upaya penanganan permukiman kumuh telah lama dilakukan, namun kenyataannya secara keseluruhan program penanganan permukiman kumuh yang telah dilaksanakan hasilnya belum menunjukkan perubahan yang berarti dalam membantu penataan dan perbaikan permukiman kumuh. Untuk mengetahui penanganan permukiman kumuh yang sesuai maka perlu dilakukan analisis tingkat kekumuhan berdasarkan karakteristik lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakatnya dan menyusun konsep penanganan permukiman kumuh yang sesuai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode campuran untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa strata kekumuhan di permukiman Kotabaru terdiri dari kumuh sedang (RW 1 dan RW 2) dan kumuh berat (RW 3 dan RW 5). Tingkat kekumuhan yang berbeda membutuhkan penanganan yang berbeda pula, untuk wilayah kumuh sedang, penanganan dilakukan melalui peremajaan dengan land sharing. Untuk wilayah kumuh berat penanganan melalui pembangunan rumah susun. AbstractThe increase in the urban population has led to various impacts, and it also occurs in Sub Kotabaru city of Serang. One consequence is the increasing demand for appropriate housing, but this increase is not offset by an increase in the amount of land in the city. Limitations of land in the city resulted in land prices high and not affordable by low-income people. They occupied the land with the designation not to settlements such as riverbanks, railroad tracks and lead to slums in urban areas. Various efforts to address the slum has long been done, but in fact the overall program management of slums that have been implemented the results have not shown significant changes in assisting the structuring and slum upgrading. To determine the proper handling of slums it is necessary to identify the level of squalor by environmental characteristics, economic, and social communities; and draft handling of slums. This study used a qualitative approach with a mix of methods to collect qualitative and quantitative data. The results of the study explained that the strata level of slum in Kotabaru consists of medium slum (RW 1 and RW 2) and heavy slum (RW 3 and RW 5). Squalor different level requires different handling, anyway, to the slums being, handling through rejuvenation with land sharing. To the slums of heavy handling through the construction of flats

    343

    full texts

    446

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manusia dan Lingkungan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇