Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
KEARIFAN LOKAL PENGGUNAAN KAYU GELAM DALAM TANAH RAWA GAMBUT DI KALIMANTAN TENGAH (Local Wisdom of Utilization of Gelam Wood on Peatswamp Land of Central Kalimantan)
ABSTRAKMasyarakat di daerah rawa gambut memerlukan kayu sebagai cerucuk atau tiang pancang rumah. Kayu Gelam (Maleleuca sp) ditemukan melimpah di hutan rawa gambut di Kalimantan. Kayu Gelam termasuk kelas awet 3 yang berarti hanya dapat dipergunakan di bila berhubungan dengan tanah selama 3 tahun. Kenyataan yang ada kayu Gelam sebagai cerucuk /tiang pancang rumah dalam tanah rawa tetap kuat lebih selama lebih dari 30 tahun. Pemanfaatan kayu ini mendukung untuk konservasi hutan rawa gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melestarikan hutan di peatwamp melalui penghematan pemanfaatan kayu yaitu dengan mempelajari pengaruh lama penimbunan dan letak radial terhadap sifat fisika, mekanika dan kandungan silika kayu Gelam. Penelitian dilakukan pada kayu Gelam yang telah ditimbun dalam rawa gambut selama 10, 19, 31 dan 38 tahun. Sifat kayu yang dianalisis adalah sifat fisika mekanika mengikuti BS No 373. Uji silika dengan spektrometer. Analisis menggunakan rancangan acak lengkap dengan faktorial. Hasil menunjukkan bahwa lama penimbunan meningkatkan berat jenis kayu Gelam secara signifikan. Semakin lama penimbunan, semakin tinggi berat jenis (0,54-0,75). Persamaan yang diperoleh Y=0,449+0,063x1+0,01x2 (Y=BJ kering tanur, x1= lama penimbunan, x2= letak radial). Pengaruh lama penimbunan pada kekerasan sejalan dengan BJ. Kadar silika kayu Gelam meningkat dengan semakin lama penimbunan. Lama penimbunan (10-38 tahun) meningkatkan BJ kering tanur 28,13 %, kekerasan 12,83%; kandungan silika 1,25%. Penggunaan kayu Gelam merupakan kearifan lokal yang terbukti melestarikan lingkungan karena menghemat pemanfaatan kayu yang dinyatakan dengan kualitas kayu Gelam yang relatif tidak menurun dalam penimbunan.ABSTRACTLocal community on peatswamp area need woods as poles. Gelam (Maleleuca sp) wood is found abundantly in peatswamp forest area in Kalimantan. It is 3th durability class and expected to withstand up to three years of utilitation outdoor. However, gelam wood used for house poles in peatswamp could be still strong enough more than 30 years. Utilization this wood supports to conservation of peatswamp forest. The aim of this research is to study the effect of burying time and radial position to physical, mechanical properties and silica content of gelam The research was conducted by gelam wood which buried in peatswamp for several years namely 10, 19, 31 and 38 years. Wood properties that analyzed were physical and mechanical properties followed the British Standard No. 373. Silica testing by spectrometer. Analyze use factorial experimental of Completely Random Design. The result showed that wood specific gravity significantly increase with the lenght of burying time. The longer burying time, the higher wood specific gravity (0.54 to 0.75). Equation Y=0.449+0.063x1+0.01x2 (Y=oven dry SG, x1=burying time, x2=radial posision). The effect of burying time on hardness parallel with wood specific gravity. Burying time factor increase value of specific gravity 28.13 %, hardness 12.83%; silica content 1.25%. The use of gelam wood support to conserve the environment because it saves wood utilization expressed by gelam wood quality relatively undegradation in burial
STUDI KELAYAKAN LAHAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii di KECAMATAN BLUTO SUMENEP MADURA JAWA TIMUR (Feasibility Study of Eucheuma Cottonii Seaweed Farming in Bluto Subdistric of Sumenep Madura East Java)
ABSTRAKBudidaya rumput laut di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mempunyai kontribusi bagi perekonomian masyarakat pesisir, akan tetapi terdapat kegiatan perikanan seperti penangkapan dan pengolahan hasil laut yang berdampak pada degradasi kualitas air yang berpengaruh langsung kepada hasil produksi rumput laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lokasi baru pengembangan kegiatan budidaya rumput laut secara berkelanjutan yang terbebas dari kegiatan masyarakat dengan melihat faktor ekologis dan daya dukung perairan di Kecamatan Bluto. Metode yang digunakan mengukur kesesuaian ekologis meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, kondisi dasar perairan, salinitas, DO, nitrat, ortofosfat, pH, BOD, dan COD, serta estimasi hama dan penyakit rumput laut. Selanjutnya data diskoring untuk menentukan kelas kesesuaian dengan pendekatan SIG. Daya dukung perairan di analisis dengan menghitung 60% dari jumlah kawasan yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Bluto memiliki potensi lahan pengembangan rumput laut berdasarkan kelas S1 (sangat sesuai) dan S2 (sesuai bersyarat) seluas 770,19 ha, dan mampu menampung maksimal 42.788 unit rakit rumput laut. Hama dan penyakit yang teridentifikasi di perairan Bluto adalah ikan baronang (Siganus. sp), ice-ice, lumut (Chaetomorpha crassa), dan teritip (Chthamalus stellatus). ABSTRACTSeaweed farming in the subdistrict Bluto, District Sumenep, East Java, has significant contribution in the economy of coastal communities, but there are fishing activities like catching up and marine product proccessing that have negative impact to the degradation of water quality and then directly affect the production of seaweed. The purpose of this study is find new location of the development of seaweed farming activities in a sustainable manner that is free from of community activities with a view of ecological factors and carrying capacity of the waters in the analies of the subdistrict Bluto. The method was used to analyze its ecological suitability includes temperature, transparency, depth, current velocity, bottom water condition, salinity, DO, Nitrite, ortophosphate, pH, BOD, and COD, also evaluation of the predators and diseases seaweed. Then, the data is scored to determine its suitability class with SIG approach. Environmental carrying capacity is analyzed by determining 60% of suitable sites. The result showed that Bluto territorial waters was potential for seaweed farming development as it was in Class S1(very suitable) and S2 (suitable with conditions) about 770.19 ha and able to contain maximum 42,788 units of seaweed floated bamboos. Predators and diseases identified in Bluto waters are rabbitfishes (Siganus. sp), ice-ice disease, green algae (Chaetomorpha crassa), and Poli’s stellate barnacle (Chthamalus stellatus)
KAJIAN PENGARUH PENGGUNAAN LUMPUR MINYAK TERHADAP KONSENTRASI TOTAL PARTIKULAT TERSUSPENSI (TSP) DAN SULFUR DIOKSIDA (SO2) DARI EMISI TANUR PUTAR INDUSTRI SEMEN (Assessment of Oil Sludge Utilization Influence on Total Suspended Particulate)
ABSTRAKIndustri semen merupakan industri padat energi dengan memanfaatkan bahan bakar fosil. Beberapa pabrik semen mencari sumber energi alternatif mengingat cadangan bahan bakar fosil terbatas dengan harga yang meningkat. Di sisi lain, pengelolaan limbah sangat dibutuhkan sebagai dampak dari aktivitas perindustrian. Co-processing merupakan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan memanfaatkan limbah industri sebagai sumber energi baru. Salah satu limbah yang dapat dimanfaatkan adalah lumpur minyak. Atas dasar deskripsi tersebut, tujuan penelitian ini untuk membandingkan konsentrasi Total Partikulat Tersuspensi (TSP) dan sulfur dioksida (SO2) yang diemisikan dari tanur industri semen saat menggunakan bahan bakar utama (batu bara) dan batu bara yang digabung dengan lumpur minyak, membandingkan konsentrasi setiap kondisi dengan nilai baku mutu yang berlaku, serta mengkaji karakteristik lumpur minyak sebagai bahan bakar alternatif. Pengambilan contoh uji dilakukan di salah satu industri semen yang telah memanfaatkan bahan bakar alternatif dengan mengacu pada standar internasional EN 13284-1 dan ISO 7934. Konsentrasi rata-rata TSP dan SO2 saat penggunaan batu bara masing-masing diperoleh sebesar 31,48 dan 19,67 mg/Nm3, sementara saat penggunaan batu bara dan lumpur minyak masing-masing adalah 19,60 dan 12,21 mg/Nm3. Kedua konsentrasi berada di bawah ambang batas baku mutu emisi masing-masing. Dari hasil beberapa penelitian, kandungan terbesar lumpur minyak berupa senyawa-senyawa organik terutama hidrokarbon. Kandungan abu dalam lumpur minyak berkisar 1,88-18,51% dan kandungan sulfur berkisar 2,06-2,26% dari total persen berat, sehingga emisi TSP dan SO2 yang dihasilkan relatif rendah.ABSTRACTCement industry needs lots of energy, which fulfilled by fossil fuel. Therefore, finding alternative energy should be encouraged. On the other side, there is a need to manage the waste as the result of industrial activities. One of the alternatives is co-processing, which is a process to recover the energy and waste for industrial production process. One of the waste that has been used is oil sludge. The purposes of this research were to compare the concentration of Total Suspended Particulate (TSP) and Sulfur dioxide (SO2) when they use coal only and coal which added by oil sludge, to compare the concentrations with the standard limit, also to characterize the oil sludge. Samples were taken at one of the cement industries that have used alternative fuel according to international standard EN 13284-1 and ISO 7934. The average concentration of TSP and SO2 which only used coal were 31.48 and 19.67 mg/Nm3 respectively, while the TSP and SO2 concentration that used coal and oil sludge were 19.6 and 12.21 mg/Nm3, respectively. The concentration of TSP and SO2 were below the standard limit. The major content of oil sludge are organic compounds, especially hydrocarbon. In the oil sludge, ash content ranged between 1.88-18.51% and sulfur content ranged between 2.06-2.26% of the total weight, so the TSP and SO2 emissions may be produced in low concentration
ISOLASI, SKRINING DAN IDENTIFIKASI JAMUR XILANOLITIK LOKAL YANG BERPOTENSI SEBAGAI AGENSIA PEMUTIH PULP YANG RAMAH LINGKUNGAN (Isolation, Screening and Identification Xylanolytic Local Fungi that Potentially as Pulp Bleaching Agents)
ABSTRAKXilanase merupakan enzim yang berfungsi luas dalam bidang industri. Xilanase digunakan sebagai perlakuan awal proses pemutihan kertas di industri pulp dan kertas sehingga dapat mengurangi penggunaan senyawa klorin yang berbahaya bagi lingkungan. Xilanase yang cocok digunakan dalam industri pulp dan kertas seharusnya bebas dari aktivitas selulase. Jamur merupakan salah satu kelompok mikrobia yang mampu menghasilkan xilanase. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat jamur unggul lokal penghasil xilanase dari tanah yang diasumsikan memiliki kandungan xilan tinggi. Tanah di sekitar industri pulp dan kertas; hutan akasia di Kab. Muara Enim dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan; hutan Wanagama, Yogyakarta; penggergajian kayu di kota Palembang dan Yogyakarta serta TPA Palembang digunakan sebagai sumber isolat jamur. Berdasarkan skrining awal dalam media basal xilan agar diketahui bahwa dari 111 isolat jamur yang diperoleh, sebagian besar mempunyai potensi menghasilkan xilanase, akan tetapi hanya 12 isolat yang mempunyai kemampuan xilanolitik tinggi. Skrining selanjutnya dilakukan pada media basal xilan cair menunjukkan bahwa jamur yang diidentifikasi sebagai Chaetomium globosum, Penicillium simplicissimum, Aspergillus tamarii dan Monocillium sp. berpotensi unggul dalam menghasilkan xilanase dibandingkan isolat lainnya berdasarkan aktivitas enzim spesifiknya. Keempat jamur tersebut diketahui juga memiliki aktivitas lignolitik dan selulolitik. Oleh karena itu, xilanase yang diproduksi ke empat jamur tersebut berpotensi dikembangkan sebagai agen pemutih pulp.ABSTRACTXylanase has great potential for industry application. Application of xylanase can be done in pretreatment of pulp bleaching in the pulp and paper industry. Enzyme application can reduce the use of chlorine compounds that are harmful to the environment. Therefore, xylanase that used in pulp bleaching should be free of cellulase activity. Fungi are one of the groups of microbes that are able to produce xylanase. The aims of this study was to obtain local xylanase-producing fungal isolates from soil that assumed contain of xylan. The source of fungal isolates were the soil around the pulp and paper industry; Acacia forests in the district Ogan Ilir and Muara Enim, South Sumatra; Wanagama, Yogyakarta; sawmills in Palembang and Yogyakarta; and Palembang landfill. Based on the initial screening in the agar basal medium, 111 fungal isolates were obtained. Most of them were the xylanase-producing fungi, but only 12 fungal isolates that have high xylanolytic capabilities. Further screening was performed on xylan liquid basal medium. The results showed that the fungus identified as Chaetomium globosum, Penicillium simplicissimum, Aspergillus tamarii and Monocillium have higher xylanase specific activity than the other isolates. They were also have lignolytic and cellulolytic activities. Therefore, fungal xylanase potentially developed as a pulp bleaching agent
PENDEKATAN MULTI DIMENSIONAL SCALING UNTUK EVALUASI KEBERLANJUTAN WADUK CIRATA - PROPINSI JAWA BARAT (Multidimensional Scaling Approach to Evaluate Sustainability of Cirata Reservoir – West Java Province)
ABSTRAKWaduk Cirata merupakan salah satu waduk di Indonesia yang memiliki peran sangat besar bagi pembangunan ekonomi, sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Pertumbuhan Keramba Jaring Apung (KJA) dan perkembangan permukiman di sekitar waduk, serta perubahan tataruang di DAS Citarum untuk kegiatan permukiman, industri, pertanian, dan peternakan menyebabkan peningkatan sedimentasi dan penurunan kualitas air waduk, sehingga berpengaruh terhadap kinerja dan keberlajutan waduk. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberlanjutan waduk dengan menggunakan metode Multidimesional Scaling berdasarkan 5 dimensi yaitu ekologi dan tata ruang, ekonomi, sosial dan budaya, peraturan dan kelembagaan, dan infrastruktur dan teknologi. Hasil analisis MDS menunjukkan bahwa dimensi ekologi dan tataruang, dan peraturan dan kelembagaan kurang berlanjut dengan nilai indeks keberlanjutan masing-masing 45,76 dan 42,24. Sementara untuk dimensi ekonomi, sosial dan budaya, dan infrastruktur dan teknologi memiliki nilai indeks keberlanjutan masing-masing 63,12; 64,42 dan 68,64 yang berarti hanya masuk kategori cukup berlanjut. Atribut yang paling sensitif yang mempengaruhi indeks keberlanjutan ekologi dan tataruang adalah laju sedimentasi, jumlah KJA dan kualitas air waduk. Pada dimensi peraturan dan kelembagaan adalah lemahnya koordinasi, perijinan dan penegakan hukum. Untuk menjamin keberlanjutan kinerja Waduk Cirata perlu dilakukan pengendalian penggunaan lahan di DAS Citarum dan permukiman di sekitar waduk, pengetatan perijinan, dan penegakan hukum.ABSTRACTCirata reservoir is one of the reservoirs in Indonesia, that plays an important role for economic development as a Hydroelectric Power Plant. The development of settlement around the dam, and land use change of Citarum’s watershed for industrial activities, agriculture, and animal husbandry have increased the erosion, sedimentation and degradation water quality of reservoir. This paper will discuss the level of sustainability of the reservoir using Multidimesional Scaling (MDS) based on five dimensions: ecology and spatial, economics, social and culture, regulations and institutional, and infrastructure and technology. MDS analysis results showed that the dimension of ecological and spatial, institutional and the regulation are lack of sustainability due to the low index score of 45.76 and 42.24. While for economic, social and culture, and infrastructure and technology dimension score is 6312; 64,42 and 68,64 (only the sufficient sustainability). The most sensitive atributes that influence to sustainability index of ecological and spatial dimension are sedimentation rate, the amount of KJA, and water quality of reservoir. To ensure sustainability of cirata reservoir required to control land use change in upstream Citarum Watershed and settlement around the reservoir, tightening of licensing and law enforcement
KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN, TANAH DAN SUNGAI DI DESA SINGENGU, KECAMATAN KOTANOPAN KABUPATEN MANDAILING NATAL , SUMATERA UTARA (Environmental Wisdom on Management of Forest, Soil and River in Singengu Village, Kotanopan District)
ABSTRAKDesa Singengu adalah desa pertama yang dibangun oleh leluhur orang-orang marga Lubis pada saat turun gunung. Warga desa Singengu meyakini bahwa hutan, tanah dan sungai tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk beraktivitas mencari nafkah, tetapi juga memiliki nilai ias (suci). Area-area tertentu di dalam hutan dan sungai dianggap taboo (pantang) untuk dimasuki. Pelanggaran atas larangan tersebut diyakini akan mendapatkan kutukan dari roguk (penunggu). Penelitian ini terkait dengan dua realitas, yaitu tangible (nyata) dan intangible (tidak nyata) sehingga paradigma yang tepat untuk menggali makna dibalik fenomena dua realitas tersebut adalah fenomenologi. Metode fenomenologi yang digunakan adalah fenomenologi Husserlian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian hutan dan sungai dilakukan melalui dua cara, yaitu peraturan tertulis dalam bentuk uhum dohot ugari (aturan/ketentuan adat yang dibuat oleh leluhur) dan mitos tentang rarangan (larangan) dan roguk (penunggu) sehingga beberapa area tertentu menjadi ‘terlarang’ bagi aktifitas manusia. Warga desa Singengu mengelola, memanfaatkan dan melestarikan lingkungan hutan-sungai melalui konsep taboo (pantang) sebagai pangolat (pembatas) tempat, sehingga terbentuklah dua jenis tempat, yaitu tempat-tempat yang boleh dilakukan aktifitas di dalamnya dan tempat-tempat yang dilarang.ABSTRACTSingengu is the first village that was built by the ancestors of the Lubis clan people on the way down the mountain. Singengu people believe that forest, soil and river are not only used as a place to indulge for a living, but it also has ias (sacred) value. Specific areas within the forest and river is considered taboo (abstinence) to be entered. Violation of the ban is believed to be getting the curse of roguk (gatekeepers/guardian). Research on systems management, utilization and conservation of forest, soil and river is related with two realities, namely the tangible (real) and intangible (not-real) so that the appropriate paradigm to explore the meaning behind two reality phenomena is phenomenology method. Phenomeology method which is used is Husserlian phenomenology. The results showed that the system of management, utilization and conservation of forest and river done in two ways, namely in the form of written rules uhum dohot ugari (rules /regulations made by ancestral custom) and myths about rarangan (ban) and roguk (gatekeepers) so that certain areas be 'forbidden'/prohibited for human activities. Singengu people manage, utilize and conserve the forest, soil and river environments through concepts taboo (abstinence) as pangolat (barrier/delimiter) places, thus forming two types of places, places that may do the activities in it and forbidden places
STATUS BERKELANJUTAN KOTA TANGERANG SELATAN-BANTEN DENGAN MENGGUNAKAN KEY PERFORMANCE INDICATORS (Sustainable Status of South Tangerang City-Banten Using Key Performance Indicators)
ABSTRAKPembangunan kota yang tidak terkendali akan mengakibatkan tekanan terhadap lingkungan dan beban masyarakat meningkat, sebaliknya degradasi lingkungan akan mengakibatkan pembatasan pengembangan ekonomi dan penurunan kualitas hidup. Guna mencegah terjadinya dampak-dampak negatif, maka diperlukan prinsip-prinsip pembangunan kota yang berkelanjutan. Evaluasi terhadap pelaksanan pembangunan kota yang berkelanjutan perlu dilakukan untuk mengetahui apakah pembangunan suatu kota sudah atau belum/tidak berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun Key Performance Indicators (KPI) guna menilai status pembangunan kota berkelanjutan. Perumusan KPI ini dilakukan dengan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP). KPI yang dihasilkan terdiri dari 21 indikator dan 9 elemen dari 3 pilar pembangunan berkelanjutan (ekonomi, sosial, dan lingkungan). Implementasi KPI dilakukan untuk pengukuran status keberlanjutan Kota Tangerang Selatan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kota ini termasuk dalam tahap awal pembangunan berkelanjutan. Secara umum perkembangan ekonomi dan sosial relatif cukup baik, namun tidak demikian dengan kondisi lingkungannya.ABSTRACTUncontrolled urban development will result in pressure on the environment and the burden of the people. On the contrary, environmental degradation will lead to restricted economic development and decreased quality of life. In order to prevent negative impacts, it is necessary to implement the principles of sustainable city development. Evaluation of the implementation of sustainable city development is needed to determine whether the development of a city is sustainable or not. This study aimed to develop Key Performance Indicators (KPI) to assess the status of sustainable city development. The formulation of KPI is done with Analytic Hierarchy Process (AHP). KPI generated consists of 21 indicators and 9 elements of the 3 pillars of sustainable development (economic, social, and environmental). Implementation of KPI conducted to measure the sustainable status of South Tangerang City. The results show that the city is in the early stages of sustainable development. In general, economic and social development is relatively good, but not so good with the environmental conditions
MULTIOBJECTIVES ANALYSIS OF WASTEWATER MANAGEMENT SYSTEM IN TAPIOCA STARCH INDUSTRY: CASE STUDY - CIAMIS DISTRICT, WEST JAVA (Analisis Multiobyektif sistem Pengelolaan Air Limbah Industri Tapioka: Studi Kasus Kabupaten Ciamis, Jawa Barat)
ABSTRACTCiamis district is one of the industrial centers of tapioca starch in West Java. Industry has been utilizing solid waste into by-products, fertilizers and animal feeds, but the wastewater which consist a lot of organic substances still discharged directly into the water that potentially cause water pollution. This study aims to determine the wastewater treatment system that can be applied in tapioca starch industry based on five scenarios proposed by using fuzzy goal programming approach. The first objective is the achievement of stream standard (DO-dissolved oxygen and BOD-biochemical oxygen demand) and wastewater quality standards. The second objective is to minimize the cost of wastewater treatment. Wastewater treatment system that proposed, consists of a primary, secondary and collective treatment that shared by some of the industries in one segment with 20% efficiency of BOD removal for primary, 60% for secondary and 85% for collective treatment. The results show that scenario five, which consists of primary, secondary and collective wastewater treatment is chosen for all industries by considering economic and environmental aspects. There was some improvement of water quality for the Cijolang middle-stream segment with DO 7.35 mg/L and BOD 3.68 mg/L; Citanduy middle-stream segment with DO 6.24 mg/L and BOD 2.37 mg/L, and also for Citanduy down-stream segment with DO 6.11 mg/L and BOD 5.52 mg/L. The fulfillment of BOD pollutant load limits obtained with achieving BOD concentration of 6.32 to 27.89 mg/L of each industry with total cost incurred is IDR 62,689 per day. Fuzzy goal programming approach provides a solution in achievement and as useful information for decision-makers to improve the quality of the environment, especially in the district of Ciamis.ABSTRAKKabupaten Ciamis merupakan salah satu sentra industri tapioka di Jawa Barat. Industri tapioka menghasilkan limbah cair dan limbah padat. Pelaku industri sudah memanfaatkan limbah padat menjadi produk samping, pupuk dan makanan ternak, namun limbah cair belum diolah dengan baik dan masih dibuang langsung ke badan air yang berpotensi menimbulkan pencemaran air sungai. Penelitian ini mengkaji sistem pengolahan air limbah yang dapat diterapkan di industri tapioka berdasarkan atas lima skenario yang diusulkan melalui pendekatan fuzzy goal programming dengan sasaran untuk memenuhi baku mutu DO (dissolved oxygen) dan BOD (biochemical oxygen demand) air sungai, baku mutu limbah yang telah ditetapkan dan minimalisasi biaya pengolahan. Tiga sistem pengolahan air limbah terdiri atas pengolahan air limbah tingkat I, tingkat II dan pengolahan kolektif yang dipakai bersama dalam satu segmen sungai dengan efisiensi penyisihan BOD 20% untuk pengolahan tingkat I, 60% untuk tingkat II dan 85% untuk pengolahan kolektif. Dari hasil penelitian, skenario kelima yang merupakan rangkaian dari pengolahan primer, sekunder dan kolektif memberikan hasil yang paling baik dengan perbaikan kualitas perairan untuk segmen Sungai Cijolang tengah dengan DO 7,35 mg/L dan BOD 3,68 mg/L; untuk segmen Sungai Citanduy tengah dengan DO 6,24 mg/L dan BOD 2,37 mg/L; dan untuk segmen Sungai Citanduy Hilir dengan DO 6,11 mg/L dan BOD 5,52 mg/L. Pemenuhan batas beban pencemar BOD diperoleh dengan pencapaian konsentrasi BOD sebesar 6,32 – 27,89 mg/L dari setiap industri. Dan biaya minimal yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 62.689 per hari. Pendekatan fuzzy goal programming dapat memberikan suatu solusi dalam pencapaian sasaran dan merupakan sebuah informasi yang bermanfaat bagi pengambil keputusan untuk meningkatkan kualitas lingkungan khususnya di Kabupaten Ciamis.ABSTRACTCiamis district is one of the industrial centers of tapioca starch in West Java. Industry has been utilizing solid waste into by-products, fertilizers and animal feeds, but the wastewater which consist a lot of organic substances still discharged directly into the water that potentially cause water pollution. This study aims to determine the wastewater treatment system that can be applied in tapioca starch industry based on five scenarios proposed by using fuzzy goal programming approach. The first objective is the achievement of stream standard (DO-dissolved oxygen and BOD-biochemical oxygen demand) and wastewater quality standards. The second objective is to minimize the cost of wastewater treatment. Wastewater treatment system that proposed, consists of a primary, secondary and collective treatment that shared by some of the industries in one segment with 20% efficiency of BOD removal for primary, 60% for secondary and 85% for collective treatment. The results show that scenario five, which consists of primary, secondary and collective wastewater treatment is chosen for all industries by considering economic and environmental aspects. There was some improvement of water quality for the Cijolang middle-stream segment with DO 7.35 mg/L and BOD 3.68 mg/L; Citanduy middle-stream segment with DO 6.24 mg/L and BOD 2.37 mg/L, and also for Citanduy down-stream segment with DO 6.11 mg/L and BOD 5.52 mg/L. The fulfillment of BOD pollutant load limits obtained with achieving BOD concentration of 6.32 to 27.89 mg/L of each industry with total cost incurred is IDR 62,689 per day. Fuzzy goal programming approach provides a solution in achievement and as useful information for decision-makers to improve the quality of the environment, especially in the district of Ciamis.ABSTRAKKabupaten Ciamis merupakan salah satu sentra industri tapioka di Jawa Barat. Industri tapioka menghasilkan limbah cair dan limbah padat. Pelaku industri sudah memanfaatkan limbah padat menjadi produk samping, pupuk dan makanan ternak, namun limbah cair belum diolah dengan baik dan masih dibuang langsung ke badan air yang berpotensi menimbulkan pencemaran air sungai. Penelitian ini mengkaji sistem pengolahan air limbah yang dapat diterapkan di industri tapioka berdasarkan atas lima skenario yang diusulkan melalui pendekatan fuzzy goal programming dengan sasaran untuk memenuhi baku mutu DO (dissolved oxygen) dan BOD (biochemical oxygen demand) air sungai, baku mutu limbah yang telah ditetapkan dan minimalisasi biaya pengolahan. Tiga sistem pengolahan air limbah terdiri atas pengolahan air limbah tingkat I, tingkat II dan pengolahan kolektif yang dipakai bersama dalam satu segmen sungai dengan efisiensi penyisihan BOD 20% untuk pengolahan tingkat I, 60% untuk tingkat II dan 85% untuk pengolahan kolektif. Dari hasil penelitian, skenario kelima yang merupakan rangkaian dari pengolahan primer, sekunder dan kolektif memberikan hasil yang paling baik dengan perbaikan kualitas perairan untuk segmen Sungai Cijolang tengah dengan DO 7,35 mg/L dan BOD 3,68 mg/L; untuk segmen Sungai Citanduy tengah dengan DO 6,24 mg/L dan BOD 2,37 mg/L; dan untuk segmen Sungai Citanduy Hilir dengan DO 6,11 mg/L dan BOD 5,52 mg/L. Pemenuhan batas beban pencemar BOD diperoleh dengan pencapaian konsentrasi BOD sebesar 6,32 – 27,89 mg/L dari setiap industri. Dan biaya minimal yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 62.689 per hari. Pendekatan fuzzy goal programming dapat memberikan suatu solusi dalam pencapaian sasaran dan merupakan sebuah informasi yang bermanfaat bagi pengambil keputusan untuk meningkatkan kualitas lingkungan khususnya di Kabupaten Ciamis
PEMANFAATAN SAMPAH UNTUK MENDUKUNG USAHA TANAMAN OBAT KELUARGA (TOGA) DAN AGROEKOSISTEM DI DESA BENTENG, KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR (Waste Utilisation to Support Herbal Medicine Family Enterprise and Agroecosystem in Benteng Village, Ciampea)
ABSTRAKVolume sampah yang semakin meningkat merupakan isu yang ditemui di kota dan desa seiring meningkatnya populasi dan aktivitas manusia. Sampah perlu dikelola dengan baik agar tidak berakibat buruk bagi kehidupan manusia. Penanganan sampah memerlukan keterampilan khusus, dan penelitian ini mengkaji upaya penanganan sampah oleh perempuan tani di Desa Benteng, Kabupaten Bogor. Tujuan penelitian meliputi mengetahui persepsi masyarakat tentang lingkungan, menganalisis pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk organik, dan menganalisis tingkat kepedulian masyarakat tentang lingkungan demi kelestariannya. Penelitian dilaksanakan dengan teknik penilaian tentang sampah dan lingkungan oleh 30 responden wanita tani tanaman obat keluarga (toga), dilanjutkan dengan kaji tindak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga tani di Desa Benteng mempunyai persepsi yang positif tentang lingkungan dan mendukung pemeliharaan alam, namun persepsi tersebut belum diikuti oleh tindakan nyata. Aksi bersama berupa praktik bersama mengolah sampah menjadi pupuk organik (kompos) merupakan salah satu forum mendorong masyarakat mengelola sampah. Sampah yang diolah menjadi pupuk organik dimanfaatkan perempuan tani memupuk tanaman obat keluarga (Toga) yang ditekuni oleh wanita tani. Aksi bersama tersebut perlu disertai penyuluhan tentang pengolahan kompos untuk usaha toga. Hal ini dapat memantapkan difusi-adopsi dalam pertanian berwawasan lingkungan. ABSTRACTThe volume of garbage keep increase and needs waste management to prevent human life from hazard. The issue of increasing volume of garbage has also found in Kampung Gunung Leutik, Benteng Village, in Ciampea, District of Bogor. Kampung Gunung Leutik has been known as Kampung Toga (herbal village). The women group run Toga expect that the village can exist as eco-village with characterised by ability to conserve the ecosystem through processing organic waste into compost. The research objectives are to know community perception about environment, to analyse ability of the members of women Toga group to process waste into organic fertilizer (compost), and to analyse the community awareness to the environment conservation for the sustainabilty. A number of 30 respondents were interviewed for their perception to the environment and to manage the waste. Assessment was followed by concrete action in composting conducted at the research site. The research results showed that perception of the community to the environment is positive and care to the environment, but this perception has not followed by concrete action. The women farmer’s group felt the needs to make organic fertilizer (compost) from waste, then they involved in a co-learning through a training to make compost. The compost was used to fertilize the medicinal plants that cultivated by the women. Further extension on composting is needed to enhance community willingness to support diffusion-adoption in waste management by making compost as organic fertilizer to support their agribusiness in herbal family medicine.ABSTRAKVolume sampah yang semakin meningkat merupakan isu yang ditemui di kota dan desa seiring meningkatnya populasi dan aktivitas manusia. Sampah perlu dikelola dengan baik agar tidak berakibat buruk bagi kehidupan manusia. Penanganan sampah memerlukan keterampilan khusus, dan penelitian ini mengkaji upaya penanganan sampah oleh perempuan tani di Desa Benteng, Kabupaten Bogor. Tujuan penelitian meliputi mengetahui persepsi masyarakat tentang lingkungan, menganalisis pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah menjadi pupuk organik, dan menganalisis tingkat kepedulian masyarakat tentang lingkungan demi kelestariannya. Penelitian dilaksanakan dengan teknik penilaian tentang sampah dan lingkungan oleh 30 responden wanita tani tanaman obat keluarga (toga), dilanjutkan dengan kaji tindak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga tani di Desa Benteng mempunyai persepsi yang positif tentang lingkungan dan mendukung pemeliharaan alam, namun persepsi tersebut belum diikuti oleh tindakan nyata. Aksi bersama berupa praktik bersama mengolah sampah menjadi pupuk organik (kompos) merupakan salah satu forum mendorong masyarakat mengelola sampah. Sampah yang diolah menjadi pupuk organik dimanfaatkan perempuan tani memupuk tanaman obat keluarga (Toga) yang ditekuni oleh wanita tani. Aksi bersama tersebut perlu disertai penyuluhan tentang pengolahan kompos untuk usaha toga. Hal ini dapat memantapkan difusi-adopsi dalam pertanian berwawasan lingkungan. ABSTRACTThe volume of garbage keep increase and needs waste management to prevent human life from hazard. The issue of increasing volume of garbage has also found in Kampung Gunung Leutik, Benteng Village, in Ciampea, District of Bogor. Kampung Gunung Leutik has been known as Kampung Toga (herbal village). The women group run Toga expect that the village can exist as eco-village with characterised by ability to conserve the ecosystem through processing organic waste into compost. The research objectives are to know community perception about environment, to analyse ability of the members of women Toga group to process waste into organic fertilizer (compost), and to analyse the community awareness to the environment conservation for the sustainabilty. A number of 30 respondents were interviewed for their perception to the environment and to manage the waste. Assessment was followed by concrete action in composting conducted at the research site. The research results showed that perception of the community to the environment is positive and care to the environment, but this perception has not followed by concrete action. The women farmer’s group felt the needs to make organic fertilizer (compost) from waste, then they involved in a co-learning through a training to make compost. The compost was used to fertilize the medicinal plants that cultivated by the women. Further extension on composting is needed to enhance community willingness to support diffusion-adoption in waste management by making compost as organic fertilizer to support their agribusiness in herbal family medicine
MIGRASI DAN INVOLUSI DI KOTA SEMARANG (Migration and Involution in Semarang City)
ABSTRAKMigrasi masuk ke Kota Semarang telah membawa akibat samping berupa terjadinya involusi perkotaan yakni ketidakseimbangan antara migrasi masuk para pekerja tidak terampil dan pertumbuhan ekonomi kotanya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mempelajari dinamika migrasi masuk dan involusi perkotaan di Kota Semarang, menjelaskan dan mengidentifikasi determinan dan kaitan migrasi masuk dan involusi perkotaan, dan menjelaskan dan mengidentifikasi kaitan migrasi dan dampaknya. Metode penelitian ini adalah menggunakan data dari BPS (Biro Pusat Statistik), wawancara, Focus Group Discussion dan observasi lapangan. Penelitian menyimpulkan bahwa di kota Semarang mengalami peningkatan yang pesat jumlah sektor informal dan pekerja tidak terampil lainnya. Di wilayah sekitar Kota Semarang telah terjadi kecenderungan urbanisasi dengan pola menyebar yang ditandai pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi. Determinan utama migrasi masuk ke Kota Semarang adalah gabungan simultan antara tekanan perdesaan dan daya tarik kota yang dipandang selalu dapat menyediakan lapangan kerja. Dampak migrasi di Kota Semarang adalah involusi perkotaan dan degradasi lingkungan. Saran yang disampaikan adalah daerah di sekitar Kota Semarang perlu mengusahakan keterkaitan antara lokalitas dengan sistem produksi dan ekonomi global di wilayah tersebut untuk menyejahterakan penduduk dan mencegah arus migrasi ke Semarang dan kota-kota besar. ABSTRACTThe migration to Semarang City has resulted in the bad impact of city involution, that is, the imbalance between the migration of underemployment/unskilled labor and the city economic growth. The objectives of this research are to explain and to examine the dynamics of migration and city involution process in Semarang City, to identify and explain determinants of migration and city involution in Semarang City, and to identify and explain migration and its impact. The data of the research were collected from the data of BPS (Central Bureau of Statistics), in depth interview, Focus Group Discussion, and observation. The results of research show that in Semarang city, there is a sharp increase of informal sector economic activities and unskilled labors. Urbanization tends to occur with a spreading pattern characterized by the high rate of population in urban areas in regencies surrounding Semarang. The main determinants of migration consist of rural pressure and pull factor from Semarang City. The impact of the migration in Semarang is the city involution and environment degradation. It is suggested that the regencies in the hinterland need to manage the relationship between locality and production system and global economy, to improve the peoples’ welfare and to prevent people from migrating to Semarang and other big cities. ABSTRAKMigrasi masuk ke Kota Semarang telah membawa akibat samping berupa terjadinya involusi perkotaan yakni ketidakseimbangan antara migrasi masuk para pekerja tidak terampil dan pertumbuhan ekonomi kotanya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan mempelajari dinamika migrasi masuk dan involusi perkotaan di Kota Semarang, menjelaskan dan mengidentifikasi determinan dan kaitan migrasi masuk dan involusi perkotaan, dan menjelaskan dan mengidentifikasi kaitan migrasi dan dampaknya. Metode penelitian ini adalah menggunakan data dari BPS (Biro Pusat Statistik), wawancara, Focus Group Discussion dan observasi lapangan. Penelitian menyimpulkan bahwa di kota Semarang mengalami peningkatan yang pesat jumlah sektor informal dan pekerja tidak terampil lainnya. Di wilayah sekitar Kota Semarang telah terjadi kecenderungan urbanisasi dengan pola menyebar yang ditandai pertumbuhan penduduk perkotaan yang tinggi. Determinan utama migrasi masuk ke Kota Semarang adalah gabungan simultan antara tekanan perdesaan dan daya tarik kota yang dipandang selalu dapat menyediakan lapangan kerja. Dampak migrasi di Kota Semarang adalah involusi perkotaan dan degradasi lingkungan. Saran yang disampaikan adalah daerah di sekitar Kota Semarang perlu mengusahakan keterkaitan antara lokalitas dengan sistem produksi dan ekonomi global di wilayah tersebut untuk menyejahterakan penduduk dan mencegah arus migrasi ke Semarang dan kota-kota besar. ABSTRACTThe migration to Semarang City has resulted in the bad impact of city involution, that is, the imbalance between the migration of underemployment/unskilled labor and the city economic growth. The objectives of this research are to explain and to examine the dynamics of migration and city involution process in Semarang City, to identify and explain determinants of migration and city involution in Semarang City, and to identify and explain migration and its impact. The data of the research were collected from the data of BPS (Central Bureau of Statistics), in depth interview, Focus Group Discussion, and observation. The results of research show that in Semarang city, there is a sharp increase of informal sector economic activities and unskilled labors. Urbanization tends to occur with a spreading pattern characterized by the high rate of population in urban areas in regencies surrounding Semarang. The main determinants of migration consist of rural pressure and pull factor from Semarang City. The impact of the migration in Semarang is the city involution and environment degradation. It is suggested that the regencies in the hinterland need to manage the relationship between locality and production system and global economy, to improve the peoples’ welfare and to prevent people from migrating to Semarang and other big cities.