Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
SEBARAN ASPEK KERUANGAN TIPE LONGSORAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI ALO PROVINSI GORONTALO (Spread of Spatial Aspect of Landslide Types at Alo Watershed in Gorontalo Province)
ABSTRAKSebaran aspek keruangan tipe longsoran di DAS Alo Provinsi Gorontalo telah dikaji dan dievaluasi menggunakan bentuk Peta Sebaran Tipe Longsoran Skala 1 : 50.000. Lokasi penelitian ini meliputi seluruh wilayah DAS Alo Provinsi Gorontalo dengan luas 7.588 Ha. Penentuan sampel penelitian dilakukan secara Accidental Sampling yaitu dengan melakukan penelusuran di seluruh wilayah yang rawan longsor di DAS Alo untuk menemukan titik-titik kejadian longsoran. Dalam pengkajian tipe dan sebaran longsoran, dilakukan pengamatan dan pengukuran terhadap kejadian longsoran yang terjadi pada seluruh wilayah DAS Alo yaitu sejumlah 15 (lima belas) titik kejadian longsoran. Tipe longsoran ditentukan melalui pengukuran dan pengamatan morfometri longsoran untuk menentukan indeks klasifikasi longsoran dan hasil analisis tersebut di plot ke dalam Peta Lokasi Sebaran Tipe Longsoran Skala 1 : 50.000 untuk mengetahui sebaran keruangan dari kejadian longsoran di DAS Alo Provinsi Gorontalo. Berdasarkan analisis morfometri dan indeks klasifikasi longsoran menunjukkan bahwa tipe longsoran yang terjadi adalah rotational slide, planar slide, slide flow dan rock block slide. Kejadian longsoran yang terjadi di DAS Alo Provinsi Gorontalo tersebar pada wilayah dengan kemiringan lereng curam dan sangat curam dengan bentuk permukaan lereng cembung dan cenderung lurus. Kejadian longsoran juga terjadi pada wilayah dengan tekstur tanah lempung dan lempung berlanau, serta jenis batuan vulkanik dan batuan beku yang mengandung silika tinggi dan telah mengalami pelapukan. Berdasarkan wilayah administrasi, kejadian longsoran tersebar di wilayah Kecamatan Tibawa, Kecamatan Pulubala dan Kecamatan Isimu Utara. ABSTRACTDistribution of spatial aspect of landslide at ALO Watershed of Gorontalo Province has been studied by providing it through form of spread landslide maps at scale of 1 : 50.000. Research site involved all areas of ALO Watershed in Gorontalo Province as having an area of 7,588 Ha. Research sampling was conducted through accidental sampling as exploring all areas across the region prone to landslides at ALO Watershed in order to invent potential spot of landslide occurence. Regarding to the discussion and spread landslide, it was conducted an observation and measurement toward landslide which was occured to all areas of ALO Watershed 15 number spots of landslide occurance. Type of landslide was determined by the measurement and observation of landslide morphometry toward classification index and analysis result. Then it was distributed into the map of spread landslide at scale of 1 : 50.000 in order to acknowledge the spatial spread of landslide occurence at ALO Watershed in Gorontalo Province. Based on the morphometry analysis and classification index of landslide, they showed that landslide types are rotational slide, planar slide, slide flow, and rock block slide. Landslide occurence of ALO Watershed in Gorontalo Province has been spread in areas with steep slope and very steep slopes by having convex surface shape and tend to be straight. It also occures to the area of clay texture and silted loam, and types of volcanic and igneous rocks which contained high silica and encountering weathering. Regarding to the administration area, landslide occurence is spread to the subdistrict of Tibawa, Pulubala, and Isimu Utara subdistricts
HUTAN DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT HATAM DI LINGKUNGAN CAGAR ALAM PEGUNUNGAN ARFAK (Forest In Hatam Community Live On Arfak Mountains Natural Reserve Environment)
ABSTRAKPegunungan Arfak adalah suatu wilayah dengan keunikan tersendiri di wilayah Propinsi Papua Barat. Wilayah ini didominasi oleh gunung-gunung yang tinggi dan ekosistemnya adalah ekosistem daerah pegunungan dan alpin, serta mengingat keunikan flora, fauna dan lingkungannya, maka wilayah ini ditetapkan sebagai Cagar AlamPegunungan Arfak. Wilayah Pegunungan Arfak ditempati oleh suku besar Arfak yang salah satu sub sukunya adalah sub suku Hatam. Hutan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Hatam. Terbentuknya kabupaten-kabupaten pemekaran secara tidak langsung akan berakibat terhadap kelestarian jenis yang ada di cagar alam. Analisis SWOT yang digunakan dalam studi ini dimaksudkan untuk merumuskan strategi-strategi yang memungkinkan untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat dan menjaga kelestarian cagar alam. Penelitian dilaksanakan di kampung Anggra dan Apui di Distrik Minyambouw pada bulan Juni 2013. Hasil studi menunjukkan bahwa hutan sangat berperan dalam kehidupan masyarakat terutama dalam mengaplikasi nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Strategi yang tepat untuk menjaga kelestarian hutan dan mengakomodasi kepentingan masyarakat diharapkan agar didasarkan pada kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hutan.ABSTRACTArfak Mountains is a region with its own uniqueness in the Province of West Papua. This region is dominated by high mountains with particularities of flora and fauna in ecosystems of mountain and alpine. Therefore, it is designated as a Natural Reservation of Arfak Mountains. Arfak Mountains region is occupied by a large tribe of Arfak which is Hatam is one of its sub-tribe. Forests are part of Hatam people's lives. Establishment of districts expansion will indirectly result in the preservation of species in natural reservation. SWOT analysis used in this study is intended to look at the potential strategies in accomodating people interest and preserving the natural reservation. The study was conducted in villages of Anggra and Apui in the sub district of Minyambouw in June 2013. The study showed that forests play an important role in people's lives, especially in applying cultural values in public life. Appropriate strategies to preserve forests and to accommodate the interests of society are expected to be based on the wisdom of the community in forest use
PERSEPSI DAN PERILAKU,NELAYAN DALAM MEMANFAATKAN SUMBER DAYA LAUT DI PULAU KODINGARENG, SULAWESI SELATAN (Fisherman Perception and Behavior of Marine Resources Exploitation in Kodingareng Island, South Sulawesi)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi nelayan tentang pentingnya ekosistem terumbu karang, serta perilaku nelayan dalam memanfaatkan sumber daya alam laut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan kuesioner (sebagai alat bantu untuk mengukur tingkat pengetahuan dan persepsi nelayan), kemudian dilakukan pengkategorian dengan menggunakan indeks komposit. Untuk menggambarkan perilaku nelayan yang terkait dengan sistem spasial digunakan metode pemetaan perilaku, dengan peta dasar sebagai alat bantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan terumbu karang yang signifikan karena penggunaan bom oleh nelayan. Penelitian juga menemukan bahwa tingkat persepsi nelayan yang melakukan penangkapan non destruktif untuk kategori "sedang" sebanyak 21% dan kategori "baik" sebanyak 79%, sedang yang melakukan penangkapan destruktif untuk kategori "sedang" sebanyak 85% dan kategori "baik" sebanyak 15%. Penelitian ini menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara persepsi dan perilaku. Perilaku nelayan, khususnya yang destruktip lebih disebabkan karena faktor tekanan ekonomi serta longgarnya sistem kontrol sosial yang ada. Diperlukan upaya-upaya untuk memperkuat kontrol sosial untuk mencegah kerusakan lingkungan yang semakin parah, khususnya penggunaan bom oleh nelayan untuk menangkap ikan. ABSTRACTThis research aims to explore fishermen perception and their attitude toward their surrounding environment, particularly the important of coral reef ecosystem and marine resources exploitation. This research was conducted by survey method with questionnaire to explore fishermen perception. These data were then analyzed and categorized by composite index. The behavior mapping was conducted to explore that fishermen behavior in exploiting marine resources (fish) in the area.The results found that the using of bomb for fish coaching has caused environmental damaged, particularly the coal reef. The research also found that the perception of non-destructive fishermen for “fair” category is 21% and for “good” category is 79%. While for destructive fishermen for “fail” category is 85% and for “good” category is 15%. The research found that there is no significant relation between fishermen perception and behavior. The fishermen behavior is influences more by external factors particularly economic pressure and social control. The research recommends that efforts to strengthen social controllare crucial to minimized environmental destruction in the area caused by un-friendly behavior of the fishermen, particularly the using of bomb for caching fish
PERENCANAAN SISTEM PENYALURAN AIR LIMBAH DOMESTIK KOTA BOGOR MENGGUNAKAN AIR HUJAN UNTUK DEBIT PENGGELONTORAN (Planning of Domestic Wastewater Sewerage in Bogor City Using Rainwater for Flushing Flowrate)
ABSTRAKSistem penyaluran air limbah merupakan bagian penting dalam sistem prasarana perkotaan. Tujuan penelitian ini merancang konfigurasi sistem penyaluran air limbah domestik dan memodifikasi sistem drainase skala mikro di Kota Bogor untuk memenuhi debit penggelontoran. Data penelitian berupa data sekunder dari instansi terkait, studi pustaka, dan hasil beberapa penelitian terdahulu. Perkiraan jumlah penduduk setiap kelurahan pada tahun perencanaan 2035 menggunakan metode geometrik. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dibangun pada dua lokasi yaitu IPAL 1 di Kelurahan Bantarjati dan IPAL 2 di Kelurahan Mekarwangi. Perencanaan blok pelayanan sebanyak 254 buah dan jumlah manhole sebanyak 334 buah. Perhitungan kebutuhan air bersih menghasilkan nilai debit jam puncak air limbah (Qjp) rata-rata sebesar 5,75 L/detik. Debit air bersih menghasilkan perkiraan sebesar 80% air limbah. Nilai Qp pada inlet IPAL 1 sebesar 0,59 m3/detik dengan diameter 900 mm, sedangkan nilai Qp pada inlet IPAL 2 sebesar 1,42 m3/detik dengan diameter 1000 mm. Pengaliran air limbah diusahakan secara gravitasi dengan kedalaman galian maksimum sebesar 6 m. Sistem drainase skala mikro dirancang untuk memenuhi debit penggelontoran. Perhitungan intensitas hujan terpilih menggunakan Metode Sherman. Titik penggelontoran sebanyak 53 titik dengan debit penggelontoran rata-rata sebesar 0,03 m3/detik. Debit saluran drainase rata-rata sebesar 0,25 m3/detik.ABSTRACTSewerage system is an important part of the urban infrastructure. The research objectives were to design a system configuration domestic wastewater sewerage and modify drainage systems in Bogor City for flushing discharge. The research used secondary data from relevant institutions, literature, and the results of previous researches. Estimated of the population of each village in 2035 used geometric method. Wastewater Treatment Plant (WWTP) would be constructed in two locations in Bantarjati and Mekarwangi Village. Planning of services area included 254 blocks and the number of manholes were 334. Clean water which produced peak hours flowrate (Qph) was 5.75 L/sec. Water flowrate produced an estimated of 80% wastewater flowrate. Q peak at the inlet of the WWTP 1 was 0.59 m3/sec with diameter of 900 mm, while Q peak at the inlet of the WWTP 2 was 1.42 m3/sec with diameter of 1000 mm. The stream of wastewater carried out by gravity with the maximum digging depth of 6 m. The system of micro-scale drainage was designed to supply flushing flowrate. Rainfall intensity calculation is done using the Sherman Method with period of 20 years rain repetition. Flushing points were 53 with flowrate average of 0.03 m3/sec. Drainage flowrate average was 0.25 m3/sec. Micro-scale drainage was designed rectangular. Result of the width and height average dimension were 0.43 m and 0.42 m, respectively
NILAI EKONOMI KARBON HUTAN RAWA GAMBUT MERANG KEPAYANG, PROVINSI SUMATERA SELATAN (Economic Value of Carbon of Merang Kepayang Peat Swamp Forest, South Sumatera Province)
ABSTRAKHutan rawa gambut menyimpan cadangan karbon baik di tanah maupun di atas tanah. Hutan Rawa Gambut Merang Kepayang (HRGMK) merupakan kawasan hutan yang berada di kubah gambut terbesar di Sumatera Selatan, yaitu Kubah Gambut Merang (KGM), yang didalamnya terdapat gambut dengan ketebalan lebih dari 3 meter. Meskipun menurut aturan KGM seharusnya dikonservasi, pada kenyataannya kawasan HRGMK dihadapkan pada konversi. Konversi HRGMK diduga akan mengakibatkan terganggunya fungsi hutan rawa gambut sebagai cadangan karbon dunia sehingga akan menyebabkan terjadinya emisi karbon ke atmosfer dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi kawasan HRGMK sebagai penyimpan cadangan karbon. Hasil penelitian diharapkan menjadi acuan pelestarian HRGMK sebagai stabilisator iklim dunia. Nilai ekonomi karbon HRGMK ditaksir dengan menggunakan harga bayangan. Harga karbon yang digunakan untuk menaksir nilai ekonomi karbon diperoleh dengan metode benefit transfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total karbon HRGMK adalah US 1,591,878,378.00 or Rp. 14,002,162,211,645.00. This value is largely derived from belowground carbon
KONDISI HABITAT DAN EKOSISTEM MANGROVE KECAMATAN SIMPANG PESAK, BELITUNG TIMUR UNTUK PENGEMBANGAN TAMBAK UDANG (Habitat Conditions and Mangrove Ecosystem in Simpang Pesak District, East Belitung for Development of Shrimp Pond)
ABSTRAKKondisi habitat dan eksosistem mangrove menjadi aspek penting dalam pengembangan usaha perikanan budidaya di wilayah pesisir. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kondisi habitat dan ekosistem mangrove berdasarkan kualitas perairan, tanah, dan vegetasi mangrove serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Penelitian dilakukan di empat desa Kecamatan Simpang Pesak Kabupaten Belitung Timur pada bulan April – November 2013. Hasil penelitian menunjukkan kualitas air seperti salinitas 28–30, suhu 27–36 oC, pH 7–7,5, kecerahan 50–70, TSS 11–85 mg/L dan kekeruhan 0,91–46,00 NTU, yang rata-rata tidak melebihi ambang batas baku mutu untuk tambak udang dan biota laut, sedangkan kualitas tanah yaitu tekstur tanah (liat berpasir), pH tanah 4,8–6,8 dan bahan organik tanah 9–13% juga menunjukkan nilai yang tidak lebih dari ambang batas yang ditentukan. Kajian lainnya yaitu kondisi mangrove dengan kisaran indeks nilai penting 0–300 menunjukkan mangrove yang berperan dalam ekosistem tersebut dan dalam status mutu baik yang didukung dengan kerapatan 460 pohon/hektar. Oleh karena itu, nilai kerapatan yang tinggi dapat mendukung kegiatan pengembangan tambak udang yaitu dengan konsep ramah lingkungan (silvofisheries). Selain secara ekologi, secara sosial masyarakat juga mendukung pengembangan budidaya tambak udang (wawancara) dengan menyediakan (sewa) lahan dan tidak mengabaikan kerusakan lingkungan yaitu tetap mempertahankan mangrove.ABSTRACTThis research discusses about conditions of habitats and mangrove ecosystems which become an important aspect to develop a good aquaculture in coastal areas. This study aims to analyze the condition of the habitat and mangrove ecosystem based on the quality of water, soil, vegetation of mangroves, and socio-economic conditions of the social community. The study was conducted in four villages in Simpang Pesak, East Belitung Regency from April to November 2013. The results showed the indicator for water quality such as salinity 28-30, temperature 27-36 oC, pH 7-7.5, visibility 50-70, TSS 11-85 mg/L and turbidity 0.91-46.00 NTU, are on average rate so it does not exceed the threshold quality standards for shrimp and marine life. Besides, the quality of the soil, which is indicated by the soil texture (sandy clay), soil pH 4.8-6.8 and soil organic matter 9-13% also showed that it was not exceed a specified threshold too. Advance studies represent mangrove condition with important value index range from 28.30-69.94 showed that mangrove hold an important role in these ecosystem and in good quality supported by the density of 460 trees/ha. Therefore, the value of high density can support the development of shrimp farming that have an environmentally friendly concepts (silvofisheries). Social community can also supports the development of aquaculture shrimp. Interview results showed community provides (lease) of land and try to preserve the mangrove condition to protect it from the environmental damage
KONSEP PENATAAN LANSKAP UNTUK WISATA ALAM DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM SORONG (Landscape Arrangement Concept for Natural Tourism at Sorong Natural Tourism Park)
ABSTRAKTaman Wisata Alam Sorong (TWAS) merupakan suatu kawasan hutan yang memiliki potensi sumberdaya lanskap dan potensi wisata yang baik, seperti: keragaman topografi, hidrologi, flora dan fauna, pemandangan alam serta aksesibilitas yang mudah. Saat ini TWAS belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga perlu pemanfaatan sumberdaya dan ruang yang ada. Pengembangan zonasi pemanfaatan wisata dibuat berdasarkan hasil analisis kesesuaian potensi biofisik lahan dan potensi obyek dan atraksi wisata alam yang ada di TWAS. Penataan lanskapnya mengacu pada konsep dasar taman wisata alam sesuai UU No. 5 Tahun 1990 sebagai suatu kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk tujuan pariwisata alam (wisata alam) dan disesuaikan dengan kondisi biofisik kawasan dan keragaman obyek dan atraksi wisata alam. Zona yang dapat dikembangkan di TWAS ialah zona intensif, zona semi intensif dan zona ekstensif. Ruang yang dapat dikembangkan ialah ruang penerimaan dan pelayanan, ruang wisata inti, ruang wisata penunjang dan ruang konservasi.ABSTRACTSorong Natural Tourism Park (SNTP) is a potentiall resource forest area which consists of potenstial landscape and it attractive objects such as topographical diversity, hydrology, highly abundant of flora fauna as well as natural view sublimity. Currently, seems that SNTP has not optimally managed yet so as it needs further management and space in the SNTP. Expansion activities in SNTP directed towards nature tourism action and adapted to both condition and function of the area. Landscape arrangement plan is refer to the basic concept of natural tourism park as a region for developed tourism in the form of regional spatial and divided by specific biophysical potency and tourism. Circulation path system is developed as a liaison between zone and attraction. Zone planned in SNTP are intensive, semi intensive and extensive while space planned are receptions and services, core tourism area, supporting area and conservation
STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN DAN KONSERVASI LAHAN DI KAWASAN SEGARA ANAKAN, JAWA TENGAH (Agriculture and Land Conservation Development Strategy in Segara Anakan Region, Central Java, Indonesia)
ABSTRAKSegara Anakan merupakan suatu kesatuan kawasan laguna yang mempunyai keunikan, tidak sebagaimana umumnya lahan pantai pasang surut di Indonesia. Beberapa keadaan dan proses yang khas terjadi di kawasan ini, antara lain adanya pasang surut yang bergantian secara musiman antara air asin dan tawar, sedimentasi sungai sangat cepat sehingga terbentuk “tanah timbul”, penyempitan kawasan perairan, pembentukan dan perubahan alur sungai, serta penciutan hutan mangrove. Keadaan ini menyebabkan perubahan yang drastis terhadap mata pencaharian penduduk yang tadinya nelayan menjadi petambak dan petani. Untuk itu diperlukan masukan strategi pengembangan pertanian yang sesuai dengan karakteristik lahan yang khas tersebut. Sesuai dengan karakteristik lahannya, daerah ini dapat dikelompokkan menjadi zona pengembangan tambak, pengembangan lahan basah, lahan kering, tanaman tahunan, dan areal konservasi. Dari segi konservasi diperlukan tindakan pengendalian sedimen dan mempertahankan keberadaan areal sempadan pantai dan hutan mangrove. ABSTRACTSegara Anakan is a lagoon which has unique characteristics different from other swamp lands in Indonesia. Its characteristics include seasonal fluctuation of fresh water river and sea water, rapid river sedimentation, narrowing water area, forming and changing river channels, and decreasing forest area. These phenomena have drastically changed people occupation. They, who were previously fishermen, have changed to be farmers. These conditions require an agriculture development strategy suitable for that area. Based on its characteristics, the area can be categorized into development zones for fishpond, wetland, dry land, annual crop, and conservation. This area requires actions to control the sedimentation process for maintaining its coastal belt and mangrove forest
KARAKTERISTIK KUALITAS AIR DAN ESTIMASI RESIKO EKOBIOLOGI HERBISIDA DI PERAIRAN RAWA BANJIRAN LUBUK LAMPAM, SUMATERA SELATAN (Water Quality Characteristics and Estimation of Ecobiological Risk of Herbicide in Lubuk Lampam Floodplain, South Sumatera)
ABSTRAKPerairan rawa banjiran Lubuk Lampam (RBLL) merupakan ekosistem khas yang mempunyai arti penting terutama secara ekologi sebagai habitat ikan khas rawa banjiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kualitas air di RBLL terkait dengan perubahan muka air dan adanya masukan bahan antropogenik terutama dari kegiatan perkebunan kelapa sawit yang berada di dalam dan sekitar area RBLL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi perubahan muka air di RBLL. Fluktuasi muka air yang tidak ekstrim sebagai akibat dari curah hujan yang relatif merata sepanjang tahun menyebabkan karakteristik kualitas air antar periode musim menjadi cenderung sama. Secara umum, karakteristik kualitas air RBLL dicirikan dengan pH cenderung asam, kandungan oksigen rendah, kekeruhan tinggi serta konsentrasi total nitrogen dan total fosfor yang tinggi. Bahan antropogenik berupa herbisida dari jenis paraquat dan glyfosat ditemukan dalam konsentrasi relatif kecil (rataan 0,004 mg/L dan 0,003 mg/L), sehingga berdasarkan nilai resiko (Risk Quotient, RQ) kedua jenis herbisida ini memiliki resiko ekobiologi rendah (<0,01) sampai dengan sedang (0,01<RQ≤0,1).ABSTRACTLubuk Lampam floodplain is one of unique ecosystems that has important ecologycal value as floodplain fishes habitat. The objective of this study was to identify the water quality characteristics in Lubuk Lampam related to the water level fluctuation and anthropogenic substance especially from oil palm plantation activities that was develop in Lubuk Lampam area. The results study showed that water level fluctuation affected mainly by local rainfall. The pattern of local rainfall was not significantly different seasonally causing water quality characteristic simillar year-around. The general water quality characterisctis of Lubuk Lampam floodplain were acid waters, low dissolved oxygen, turbid, and high total nitrogen dan total phosphorus concentrations. Anthropogenic substance, i.e. from herbiside paraquat and glyphosate, found in study area with low concentration (mean values 0.004 mg/L and 0.003 mg/L, respectively). Hence, based on Risk Quotient (RQ) the ecobiological risk of two kinds of herbicides were low (<0.01) and moderate (0.01<RQ≤0.1)
PENGARUH UMUR POHON, BONITA DAN POSISI AKSIAL BATANG TERHADAP STRUKTUR MAKROSKOPIS DAN KUALITAS KAYU JATI SEBAGAI BAHAN FURNITUR (Effect of Tree Age, Site Quality Index and Trunk Axial Position on Macroscopic Structure and Quality of Teak Wood)
ABSTRAKPenggunaan kayu jati muda merupakan solusi alternatif terhadap terbatasnya ketersediaan bahan baku yang dihadapi oleh industri mebel. Kayu muda cenderung memiliki kayu berkualitas rendah. Salah satu pengukur kualitas kayu adalah sifat struktur makroskopik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur pohon, bonita dan posisi aksial batang terhadap struktur makroskopis kayu dan kualitas kayu. Tiga puluh enam pohon jati muda ditebang dari kawasan hutan KPH Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Tiga cakram berketebalan 3 cm diambil dari masing-masing posisi aksial batang, yaitu bagian pangkal, tengah dan ujung. Pengukuran proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun dilakukan berdasarkan perbedaan warna alami dan dengan menggunakan lembaran plastik transparan bergambar pola milimeter. Data dianalisis dengan analisis varians dalam rancangan acak lengkap berblok yang disusun secara faktorial. Pengujian lanjutan dilakukan dengan uji HSD Duncan. Kualitas kayu ditentukan dengan analisis determinan berdasarkan kurva normal Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi tiga faktor tidak berpengaruh terhadap proporsi kayu teras, dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi kelas umur dan bonita pengaruh nyata terhadap proporsi kayu teras dan dimensi lingkarah tahun. Posisi aksial batang berpengaruh secara nyata terhadap proporsi kayu teras dan berpengaruh sangat nyata terhadap dimensi lingkaran tahun. Semakin mendekat pada posisi pangkal batang, semakin tinggi proporsi kayu teras dan dimensi lingkaran tahun. Interaksi tiga faktor yaitu kelas umur V, bonita 4 dan posisi tengah batang menghasilkan kualitas kayu tertinggi, yaitu kelas 2, dan interaksi kelas umur V, bonita 3 dan bagian ujung batang menghasilkan kualitas terendah, yaitu kelas 4. Penggunaan kayu berbasis kualitas akan memaksimalkan nilai guna dan meningkatkan umur pakai produk, sehingga mengurangi intensitas penebangan hutan dan lebih ramah lingkungan hidup.ABSTRACTYoung teak utilization is an alternative solution of limited raw materials faced by furniture industry. Young wood tends to have a low-quality wood. One element for measuring wood quality is wood macroscopic structure properties. This study was aimed to determine the effect of tree age, site quality index and axial stem position on wood structures and wood quality. Thirty-six young teak trees were harvested on forest areas of Kendal Forest District, Central Java Province. Three disks were taken from each trunk, namely from the butt, middle and upper parts. Heartwood proportion and annual ring dimensions were measured based on natural color difference by using millimeter grid apparatus. Data were analyzed by using variance analysis arranged in blocked factorial and further testing were performed by using HSD Duncan. Wood quality was analyzed using determinant method which elaborated based on Z norm curve. Results showed that interaction of three factors did not affect on heart-wood proportion and growth ring dimensions. Interaction of age classes and site quality index influence significantly on heart-wood proportion and growth ring dimensions. Stem axial position significantly affects on heart-wood proportion and very significantly effect on growth ring dimensions. The lower wood position, the higher heart-wood proportion and the wider growth ring dimensions. Interaction of three factors namely class age V, site quality index 4 and middle trunk position has a highest wood quality, namely class 2, but interaction of age class V, site quality index 3 and top trunk has the lowest one, namely class 4. The use of wood-based quality will maximize the value and increase the product lifespan, thereby reducing the intensity of logging and become more environmental friendly