Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
KEBERADAAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DI KAWASAN TAILING TAMBANG EMAS TIMIKA SEBAGAI UPAYA REHABILITASI LAHAN RAMAH LINGKUNGAN (The Presence of Arbuscular Mycorrhizal Fungi in the Tailings of Mining Gold Timika as An Attempt of Environmentally Friendly)
ABSTRAKFungi mikoriza arbuskula (FMA) berperan penting dalam menunjang rehabilitasi lahan terdegradasi, termasuk lahan tailing. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan FMA lokal di lahan tailing tambang emas Timika – Papua, Indonesia. Metode yang digunakan adalah survei dengan mengisolasi FMA dari rhizosfer beberapa jenis tumbuhan dominan di kawasan daerah pengendapan pasir sisa tambang. Pengecatan akar untuk melihat infeksi oleh FMA dilakukan dengan trypane blue, sedangkan perhitungan persen infeksinya dilakukan dengan metode slide. Keberadaan spora FMA dilakukan dengan metode wet sieving. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat FMA di lahan tailing di kawasan pengendapan Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). Persentase infeksi tertinggi (>50%) diketahui pada jenis tumbuhan Ficus adenosperma (86,7%), Brachiaria sp (73,3%), Amomum sp (66,7%), Bidens pilosa (63,3%), dan Musaenda frondosa (56,7%), sedangkan beberapa jenis lain mempunyai persen infeksi yang lebih rendah. Jumlah spora pada rhizosfer tumbuhan Brachiaria sp., F. adenosperma, dan Amomum sp., merupakan yang tertinggi dibanding dengan tumbuhan lain yakni 17, 13, dan 11 spora per 10 g tanah. ABSTRACTArbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) has an important role in supporting the rehabilitation of degraded land such as tailings. The purpose of this research was to reveal the existence of indigenous AMF in tailing area of gold mine in Timika – Papua, Indonesia. The method was a survey by isolating some types of AMF from rhizosphere of dominant plant in the deposit area of mine sand residue. To define the AMF infected roots was conducted painting roots using trypane blue, where as the calculation of percent infection was carried out using slide methods. The presence of spores of AMF was done by wet sieving method. The results showed that AMF was found in tailings deposition on the Modified Ajkwa Deposition Area (ModADA). The highest percentage infections (>50%) was found under Ficus adenosperma (86.7%), Brachiaria sp (73,3%), Amomum sp (66,7%), Bidens pilosa (63,3%), and Musaenda frondosa (56,7%) rhizospheres, where as some other types of AMF have a lower infection percentage. The highest number of spores was found in rhizosphere of Brachiaria sp., F. adenosperma, and Amomum sp. which are 17, 13, and 11 spores per 10 g of soil respectively
METALLOTHIONEIN PADA HATI IKAN SEBAGAI BIOMARKER PENCEMARAN KADMIUM (Cd) DI PERAIRAN KALIGARANG SEMARANG (Metallothionein in The Fish Liver as Biomarker of Cadmium (Cd) Pollution in Kaligarang River Semarang)
ABSTRAKPenanda dini pencemaran kadmium di sungai Kaligarang perlu diketahui sebagai alat monitoring pencemaran logam berat, mengingat sungai Kaligarang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi masyarakat kota Semarang. Ikan yang hidup di Kaligarang diambil sampelnya secara random. Sampel diambil hatinya, untuk diperiksa ada tidaknya metallothionein pengikat Cd, menggunakan HPLC. Sebagai kontrol diambil sampel ikan secara random, dari perairan yang tidak tercemar yakni dari Balai Benih Ikan Air Tawar. Sampel dianalisis sama seperti sampel ikan dari sungai Kaligarang. Hasil analisis HPLC sampel dari Kaligarang dibandingkan dengan sampel ikan dari Balai Benih Ikan untuk menentukan ada tidaknya metallothionein pengikat Cd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hati ikan yang hidup di Kaligarang didapatkan metallothionein-Cd, sedangkan ikan yang hidup di Balai Benih Air Tawar tidak ditemukan metallothionein-Cd. Hal ini menunjukkan bahwa ikan dari balai Benih tidak mengakumulasikan Cd, sedang ikan dari Kaligarang mengkumulasikan Cd. Hasil penelitian ini diperkuat oleh hasil AAS sampel air sungai Kaligarang mengandung Cd dan sampel air Balai Benih ikan tidak mengandung Cd. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metallothionein-Cd merupakan Biomarker pencemaran Cd di Kaligarang. Biomarker metallothionein yang ditemukan dapat digunakan sebagai alat deteksi dini dalam monitoring pencemaran Cd di perairan. ABSTRACTEarly markers of cadmium pollution in the river Kaligarang need to know as heavy metal pollution monitoring tool, given the river Kaligarang used to meet the needs of drinking water for the city of Semarang. Fish lived in Kaligarang were collected randomly as sample. The liver of the fish were taken and examined for the presence of Cd-binding metallothionein, using HPLC. As the control, fish were collected randomly from unpolluted water, i.e. from Freshwater Fish Hatchery, Ungaran. These samples were analyzed using the same method with the samples taken from Kaligarang. HPLC result of Kaligarang samples was compared with HPLC result of unpolluted samples to determine the presence of Cd-binding metallothionein. The result is metallothionein-Cd was present in fish taken from Kaligarang, whereas fish from unpolluted waters did not contain metallothionein-Cd. This means that fish from Freshwater Fish Hatchery, Ungaran did not accumulated Cd, whereas fish from Kaligarang accumulated Cd. This was supported by the result from AAS; water samples from Kaligarang contained Cd and water samples from Freshwater Fish Hatchery, Ungaran did not contain Cd. It was concluded that the presence of Metallothionein-Cd may be considered as biomarker of Cd pollution in Kaligarang. Metallothionein biomarker found may be used as monitoring tool for Cd pollution in aquatic.
ISOLASI DAN PEMANFAATAN BAKTERI PROTEOLITIK UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS LIMBAH CAIR PENGOLAHAN BANDENG PRESTO (Isolation and Utilization of Proteolytic Bacteria to Improve The Quality of Milkfish Presto Processing Wastewate)
ABSTRAKIndustri pengolahan ikan menghasilkan limbah dengan kadar protein tinggi. Penambahan bakteri proteolitik diharapkan dapat membantu mendegradasi limbah berprotein tinggi. Pada penelitian ini, isolasi bakteri proteolitik dilakukan untuk mendapatkan isolat dengan aktivitas proteolitik tinggi. Isolat terbaik diuji kemampuan hidup dan aktivitasnya pada berbagai konsentrasi NaCl dan pH. Kemampuan isolat meningkatkan kualitas limbah juga diuji pada limbah pengolahan bandeng presto. Hasil penelitian diperoleh 36 isolat bakteri proteolitik dari limbah cair pencucian ikan Pasar Kranggan Yogyakarta. Dari ke-36 isolat tersebut, isolat D61 merupakan isolat dengan aktivitas proteolitik tertinggi dengan zone diameter 20,5 mm. Isolat tersebut mampu hidup pada NaCl 0-10% dan kisaran pH 5-10, namun aktivitas proteolitik tertingginya pada NaCl 0-2% dan kisaran pH 7-8 dan pH 10. Berdasarkan karakteristik morfologi dan biokimianya, isolate D61 memiliki kemiripan 93,93% dengan Bacillus soli. Hasil ujicoba pada limbah cair pengolahan bandeng presto ternyata isolat D61 tidak mampu memperbaiki kualitas limbah tersebut.ABSTRACTIn this research, isolation of proteolytic bacteria was performed to obtain isolates with high proteolytic activity based on their ability to degrade the protein. The best isolate was examined for their growth ability and proteolytic activity in different concentrations of NaCl and degree of acidity (pH). Furthermore, the isolate ability to improve wastewater quality was observed in milkfish presto processing wastewater. Thirty-six proteolytic bacteria were isolated from fish washing wastewater of Kranggan Market, Yogyakarta. Isolate D61 has the highest proteolytic activity with activity about 20,5 mm. Isolate D61 was able to grow at a concentration of 0-10% NaCl with the highest proteolytic activity at the concentration of 0-2% NaCl. Isolate D61 was also able to live at pH 5-10 with the highest proteolytic activity at pH 7-8 and pH 10. Based on morphology and biochemical characteristics, D61 has 93.93% similarity with Bacillus soli. However, isolate D61 was not able to improve the quality of milkfish presto processing wastewater
DAMPAK PERKEMBANGAN KAWASAN PENDIDIKAN DI TEMBALANG SEMARANG JAWA TENGAH (The Impact Development of Education Area in Tembalang Semarang Jawa Tengah)
ABSTRAKKawasan Tembalang merupakan salah satu wilayah pemekaran Kota Semarang Propinsi Jawa Tengah yang peruntukannya sebagai daerah pusat pengembangan pendidikan serta pertumbuhan perumahan dan permukiman. Pada tahap awal, perkembangan kampus (kawasan pendidikan) di wilayah ini masih berdampak positif, khususnya pada pertumbuhan/perbaikan infrastruktur. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata mulai timbul dampak negatif pada lingkungan di sekitar kawasan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tahapan dan bentuk perubahan yang terjadi di Kawasan Tembalang, serta mengkaji kondisi eksisting permukiman dan infrastruktur di wilayah ini. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive, teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa tahapan dan bentuk perubahan yang terjadi selama empat tahap mencakup aspek kependudukan, matapencaharian, kondisi sosial-ekonomi-budaya, suplai kebutuhan, tata guna lahan, kondisi infrastruktur, dan lingkungan. Nilai skoring terhadap infrastruktur eksisting bernilai baik untuk kondisi transportasi dan drainase, kondisi bangunan dinilai buruk, dan kondisi persampahan dinilai sedang. ABSTRACTTembalang region is one of expansion area in Semarang City that used for regional center of educational development and growth of housing and settlements. In the early stages, the development of the campus in the region still poses a positive impact, especially on the growth/improvement of infrastructure. Further developments, it began to be a negative impact on the environment around the campus area. The objectives of this research are to examine the changing phase and shape that occur in Tembalang region, and to assess the existing condition of settlements and infrastructure in the region. This research uses survey methods by combining the method of quantitative and qualitative. Sampling was conducted with a purposive technique, the data of the research were collected from questionnaires, in-depth interviews, and observation. The results showed that there are several changing stages and forms that occurred during the four decades of covering aspects of demography, livelihood, socio - economic - cultural, supply needs, land use, infrastructure, and environment. Scoring value to existing infrastructure is well worth for transportation and drainage conditions; condition of the building was considered poor, and the condition of the waste is considered moderate
AKUMULASI MERKURI PADA IKAN BAUNG (Mytus nemurus) DI SUNGAI KAHAYAN KALIMANTAN TENGAH (The Accumulation of Mercure on Baung Fish (Mytus nemurus) in The Kahayan Rice of Central Kalimantan, Indonesia)
ABSTRAKSungai Kahayan di Kalimantan Tengah mengalami tekanan lingkungan karena adanya limbah merkuri yang berasal dari aktivitas penambangan emas tradisional. Di tempat tersebut terdapat 10a4 tempat penambangan emas sepanjang sungai dari hulu sampai hilir. Merkuri dalam sedimen sungai secara berturut-turut mengalami metilasi (methylation) oleh reduksi sulfat bakteri. Riset ini merupakan studi akumulasi merkuri (FIg) dalam Mytus nemurus, sedimen dan air, dari hulu ke hilir di sungai Kahayan. Total jarak dari hulu sekitar 296 km. Data dikumpulkan dari 3 lokasi sepanjang sungai. Dalam tiap lokasi tapak sampling berada di dataran baniir (floodplain). Penelitian dilaksanakan selama musim hujan. lkan ditangkap menggunakan rengge (gillnet). Penentuan metil merkuri digunakan metode modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diantara sample yang diukur, akumulasi tertinggi masing-masing berada dalam sedimen sungai (0,336 mg.) dikutip dengan daging M. numerus (0,303 mg.g-1 + 0.342). dan air (0.058 mg-1). Merkuri memiliki tendensi meninggi menuju hilir. Hal ini disebabkan oleh tekstur sedimen yang didominasi oleh silt. Kondisi ini berpotensi untuk metilasi. Turbiditas, arus, dan pH menyumbangkan kenaikan tingkat merkuri di hilir. Asupan merkuri mingguan yang dapat ditoleransi menurut WHO adalah 171,42 mg adalah sama dengan 24,4 mg sehari jika seseorang mengkonsumsi 100 g daging M. numerus sehari. dimungkinkan bahwa akan ada 30,3 mg.g-1 yang masuk ke tubuh. Hal ini berarti bahwa merkuri disepanjang sungai Kahayan mengancam penduduk yang mengkonsumsi ikan dari sungai tersebut. ABSTRACTThe Kahayan River of Central Kalimantan had environmental stress due to mercury waste. This waste came from the traditional gold mining activities. There were 1014 gold mining sites along the river from upstream to downstream. Mercury in river sediment was subsequently methylated by sulfated reduction bacteria. This research were study the accumulation of mercury (Hg) on Mytus nemurus, sediment and water, from upstream to downstream in the Kahayan River. Total from up to downstream site was approximately 296 km. Data was collected from 3 location along the river. Within each location, sampling sites were at floodplain. Research was carried out during wet season. Fish were caught using rengge (gillnet). The determination of methylmercury was using modified CV-AAS (cold vapor atomic absorption spectrophotometry) methods. The results showed that among samples being measure, the accumulation was highest in river sediment (0,336 µg.g1), followed by the meat of M. numerous (0,303µg.g1 ± 0,342), and the water (0.058 mg1) respectively. Mercury had tendency higher toward downstream. This was due to sediment texture which was dominated by silt. Such condition was potential for methylation. Turbidity, water current and pH contributed to the increasing level of mercury in the downstream WHO permittable tolerarable weekly intake for mercury is 171,42 µg was equal to 24,4 µg daily if one person consume 100g M. numerous meat daily, it is possible that will be 30,3 up/g-1 enter the body. This means that mercury along the Kahayan River threaten the people who eat fish up from this river
EFISIENSI PEMANFAATAN LAHAN PERKOTAAN MELALUI PENGEMBANGAN PENGISIAN DI YOGYAKARTA (Urban Land Use Efficiency through Infill Housing Development in Yogyakarta)
ABSTRAKPerkembangan perkotaan di lndonesia pada umumnya dicirikan dengan pengembangan perumahan di wilayah pinggiran kota yang berpola sprawl yang menciptakan efek negative antara lain: menjauhkan penduduk dari tempat kerja. polusi. dan konversi lahan pertanian di pinggiran. Pola pengembangan yang baru sangat diperlukan untuk mengarahkan perkembangan kota yang lebih efisien termasuk juga melalui cara infill development. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengevaluasi pembangunan perumahan melalui model pengisian di Kota Yogyakarta, khususnya menyangkut pola perkembangannya. motivasi pengembangannya. dan pengaruhnya pada perkembangan kota. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infill development di Yogyakarta mempunyai karakteristik sebagai berikut (1) merupakan perumahan untuk kelas menengah dan mewah. (2) umumnya merupakan rumah dengan 1-2 lantai, (3) berkepadatan sedang.(4) sebagian besar lahan yang dipakai adalah lahan kosong. Penelitian ini menengarai bahwa pemerintah kota tidak secara sadar mendukung model pengembangan ini karena tidak mengetahui manfaatnya. Dengan kata lain, infill development, yang terjadi di lapangan merupakan respon pasar terhadap kebutuhan rurnah. Model ini membawa beberapa manfaat positip antara lain (1) effisiensi lahan. (2) perkembangan kota yang lebih kompak. (3) meningkatkan suplai perumahan, dan (4) meningkatkan aktivitas ekonomi pada wilayah tersebut. ABSTRACTUrban growth in Indonesia is generally characterized by suburban housing development in a sprawling pattern creating negative impacts such as: inefficient use of land, land speculation, conversation of agricultural land, inefficient infrastructures, and travel cost. New pattern of urban growth is needed to direct urban development in a more sustainable ways. In the West, infill development is considered as an alternative for a more efficient urban development which in turn facilitate sustainable city. This paper documents and evaluates infill housing development pattern in Yogyakarta, focuses on spatial aspects. The paper shows that infill development in Yogyakarta is characterized by (1) luxurious and good housing, (2) mostly 1-2 floor, (3) medium density housing, and (4) most of the site are vacant land. It argues that the government did not recognize this pattern in a supportive way. In other words, infill development happened in the city more as a respond to the housing market. However, this infill pattern brings several positive impacts including (1) more efficient use of land, (2) more compact urban growth, (3) increasing housing supply, (4) more efficient of urban infrastructures, and (5) increasing economic activity in the area
PERAN SIKAP DALAM MEMEDIASI PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU MINIMISASI SAMPAH PADA MASYARAKAT TERBAN, YOGYAKARTA (The Role of Attitude to Mediate The Effect of Knowledge on People’s Waste Minimization Behaviour in Terban, Yogyakarta)
ABSTRAKKondisi lingkungan hidup di Indonesia saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan. Sebagian besar masalah lingkungan ini diakibatkan oleh perilaku manusia. Salah satu cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang lingkungan yang kemudian akan diteruskan menjadi perilaku peduli lingkungan. Akan tetapi, hasil survey menunjukkan bahwa pengetahuan yang sudah baik tidak sejalan dengan perilaku peduli lingkungan. Sikap memegang peran penting dalam meningkatkan perilaku peduli lingkungan. Penelitian ini fokus pada salah satu perilaku peduli lingkungan yakni perilaku minimisasi sampah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku minimisasi. Penelitian dilakukan di Kelurahan Terban, RW 02 dan RW 11 selama bulan Januari sampai Februari 2014 dengan jumlah subjek sebanyak 105. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, dengan menggunakan tiga skala, yakni skala perilaku minimisasi sampah, skala sikap terhadap minimisasi sampah, dan skala pengetahuan tentang minimisasi sampah. Analisis data menggunakan analisis regresi model analisis jalur, sedangkan uji pengaruh mediasi menggunakan Sobel Test. Analisis efek tidak langsung menunjukkan nilai efek tidak langsung sebesar 0,742 dengan z=3,42 dan p<0,01. Hal ini menunjukkan adanya efek tidak langsung pengetahuan terhadap perilaku minimisasi sampah melalui sikap terhadap minimisasi sampah. Dengan demikian dapat disimpulkan sikap terhadap minimisasi sampah memediasi pengaruh pengetahuan terhadap perilaku minimisasi sampah.ABSTRACTEnvironmental quality in Indonesia today is in poor condition. Many of these problems root in human behaviour. One way to solve this problem is by increasing people’s environmental knowledge which is translated into pro-environmental behaviour. However, empirical evidence showed that high level of environmental knowledge is not always followed by high level of environmental behaviour. Attitude toward behaviour plays a significant role in behavioural change. This research will focus on one kind of pro-environmental behaviour namely waste minimisastion behaviour. The purpose of this research is to find out the relationship between waste minimization knowledge, attitude, and behaviour. This research was conducted in Kelurahan Terban, RW 02 and RW 11, Yogyakarta in January until February 2014. Total of the subjects are 105. Data were collected using three scales that is: waste minimization behaviour scale, waste minimization attitude scale, and waste minimization knowledge scale. Data were analysed using regression analysis with path analysis model. Sobel Test was used to estimate the mediation effect. Indirect effect analysis showed the indirect effect coeficient was 0,742 with z=3,42 and p <0,01. It is showed that there was an indirect effect of waste minimization knowledge to waste minimization behaviour through waste minimization attitude. Thus, we can conclude that waste minimization attitude mediates the relationship between waste minimization knowledge and waste minimization behaviour
PENGARUH PENGENDALIAN pH TERHADAP PEMBENTUKAN ETANOL DAN PERGESERAN PRODUK ASIDOGENESA DARI FERMENTASI LIMBAH CAIR INDUSTRI MINYAK SAWIT (The Influence of pH Control on Ethanol and Switch of Acidogenic Products Formation from Palm Oil Mill Effluent)
ABSTRAKLimbah cair industri minyak sawit memiliki potensi sebagai substrat pembentukan etanol. Pemanfaatan kultur campuran dalam pembentukan etanol memiliki keuntungan karena tidak memerlukan sterilisasi substrat, namun akan dihasilkan berbagai produk samping dan sebaliknya pada Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pengaturan pH terhadap pembentukan etanol dan produk asidogenesa. Rancangan penelitian terdiri dari reaktor bakteri anaerob dan ragi dengan perlakuan pengendalian pH pada rentang 6-6,5 dan tanpa pengendalian pH dengan pH awal fermentasi 6-6,5. Hasil penelitian menunjukkan Degree Acidification (DA), Total Asam Volatil (TAV) dan etanol tertinggi berurutan sebesar 0,32; 808,03 mg/L dan 24,03 mg/L pada reaktor bakteri dengan pengendalian pH; 0,23; 522,43 mg/L dan 23,12 mg/L pada reaktor tanpa pengendalian pH; 0,25; 775,78 mg/L dan 34,11 mg/L pada reaktor ragi dengan pengendalian pH dan 0,32; 866,71 mg/L dan 29,17 mg/L pada reaktor ragi tanpa pengendalian pH. Pengendalian pH fermentasi meningkatkan pembentukan produk asetil-KoA dari 4,35% menjadi 7,34% pada reaktor bakteri dan dari 17,92% menjadi 18,78% pada reaktor ragi dan tidak berpengaruh terhadap pembentukan etanol. ABSTRACTPalm oil mill effluent has potention for substrate to ethanol formation. Utilization of anaerobic mixed culture bacteria to form ethanol has advantages i.e not requiring sterilization of the substrate and vice versa in Saccharomyces cerevisiae, but resulting side products. The aims of this research are to study effect of controlling pH on ethanol formation and acidogenic products. Design experiment consisted of anaerobic bacteria and yeast reactor with the pH control in the range of pH 6 - 6.5 and initial pH 6-6.5 for without pH control treatment. The results showed the highest Degree Acidification (DA), Total Volatile Fatty Acid (TVFA) and ethanol are 0.32; 808.03 mg/L and 24.03 mg/L for bacteria reactor with pH control; 0.23; 522.43 mg/L and 23.12 mg/L for bacteria reactor without pH control; 0.25; 775.78 mg/L and 34.11 mg/L for yeast reactor with pH control and 0.32; 866.71 mg/L and 29.17 mg/L for yeast reactor without pH control. Controlling pH increasing acetyl-CoA product formation from 4.35% to 7.34% for bacteria reactor and from 17.92% to 18.78% for yeast one and not affect to rising ethanol formation
KAJIAN LINGKUNGAN RENCANA RELOKASI KWPLH BERUANG MADU DI KOTA BALIKPAPAN-PROVINSI KALIMANTAN TIMUR (Environmental Study of Sun Bear KWPLH Relocation Plan in Balikpapan-East Kalimantan)
ABSTRAKKawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) beruang madu (Helarctos malayanus) Balikpapan merupakan pusat pendidikan lingkungan yang dianggap sangat profesional, bersih dan dikelola dengan baik. Permasalahannya muncul pada tahun 2013 dengan adanya usulan relokasi beruang madu (dan enklosur) ke Km 10 (Arboretum Wana Wisata Inhutani), karena lokasi yang lama akan dialihfungsikan menjadi bumi perkemahan. Relokasi beruang madu ke habitat baru memerlukan kajian lingkungan yang mendalam untuk menentukan kelayakan lokasi baru sebagai habitat beruang madu. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian lingkungan rencana relokasi beruang madu di Balikpapan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei langsung dengan pengamatan dan pengukuran kondisi lingkungan (fisik/abiotik, biotik). Kuesioner dan pedoman wawancara digunakan untuk mengkaji aspek sosial-budaya di lokasi KWPLH beruang madu (Km 23) dan rencana relokasi di Km 10. Berdasarkan hasil pengukuran, observasi, dan analisis ketiga aspek lingkungan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Km 10 dapat digunakan untuk relokasi beruang madu. Namun untuk meminimalisir dampak sosial, direkomendasikan agar beruang madu di Km 23 tidak direlokasi, dan dibuat lagi enklosur beruang madu di Km 10 untuk merawat beruang madu hasil sitaan yang lain. ABSTRACT“Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup” (KWPLH) of sun bear (Helarctos malayanus) Balikpapan is an environmental education center which is considered to be very professional, clean and well managed. The problem appeared in 2013 with the proposal of sun bear relocation (and enclosure) to Km 10 (Arboretum Wana Wisata Inhutani) because the old location will be converted into a camping ground . Sun bear relocation to a new habitat needs depth environmental study to determine the feasibility of the new location as sun bear habitat. This study aims to conduct an environmental study of sun bear relocation plan in Balikpapan. Research method used in this study is a direct survey method with observation and measurement of environmental conditions ( physical / abiotic, biotic, and socio-cultural) on the location KWPLH sun bear (Km 23) and relocation plan at Km 10, complemented by interviews and document analysis. Based on the results of measurement, observation, and analysis of those three environmental aspects , it can be concluded that the Km 10 can be used to relocate bears. However, to minimize the social impact, it is recommended that sun bears at Km 23 are not relocated, and another sun bear enclosure is made at Km 10 to treat the other of confiscated bears
KONSENSUS SEBAGAI PILAR UTAMA GOOD GOVERNANCE DALAM PENGELOLAAN TANAH ULAYAT DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI PROVINSI RIAU (Consensus as the Main Pillar of Good Governance in Managing Tanah Ulayat in the Regency of Kuantan Singingi Riau Province)
ABSTRAKSalah satu persoalan penting pembangunan di Kabupaten Kuantan Singingi adalah konflik dalam pengelolaan tanah ulayat. Terjadi paling tidak 15 kasus konflik yang melibatkan masyarakat lokal dan perusahaan di kabupaten ini. Berdasarkan hasil penyelesaian konflik terdapat 3 katagori penyelesaian yakni: penyelesaian kasus yang penuh, penyelesaian semu, dan tanpa penyelesaian. Penelitian ini bertujuan mengkaji mekanisme penyelesaian konflik tanah ulayat. Melalui teori good governance penelitian ini mengkaji mekanisme penyelesaian konflik prinsip-prinsip good governance dicobakaitkan dengan nilai-nilai lokal. Penelitian ini menemukan bahwa apabila prinsip-prinsip good governance diterapkan dengan mempertimbangkan nilai-nilai budaya lokal, maka konflik-konflik tersebut dapat diselesaikan. ABSTRACTOne of the most well-known and crucial problems in the Regency of Kuantan Singingi development is the conflict in managing tanah ulayat. There are fifteen cases in which conflicts may take place among the local community and the private companies running the land in the Regency. These cases have been categorized into three. There are no consensus cases artificial consensus cases, and truly consensus case. In the analysis process, the researcher has applied theories and the concepts of Local Good Governance. The Good Governance, which can be applied universally, was convergent and applied in a way suitable with the local community traditions in the Kuantan Singingi. This research has proven that the determinant factor of problem solving is the cooperation between the involved polities (the Local Government, Private Companies, and Local Community) in the interaction of tanah ulayat management. The consensus can be achieved when the Local Government is able to establish to Good Governance, the private companies is operating Good Corporate Governance paradigm, which arises through the process of crafting the local community’s culture, based on the local customs heritages