Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
SPECIFIC ALLOCATION FUND FOR ENERGY EFFICIENCY TO INCREASE QUALITY OF THE ENVIRONMENT IN INDONESIA (Mekanisme Dana Alokasi Khusus Efisiensi Energi dalam Mendukung Perbaikan Lingkungan di Indonesia)
ABSTRACTRelated to the climate change and economic development of environmentally friendly (green economy) issues, the President has committed to reducing emissions of greenhouse gases (GHG) by 26% on their own sources (BAU), and up to 41% with international support in 2020 through Presidential Decree No. 61 in 2011 about the National Action Plan for Greenhouse Gas Emission Reduction (RAN-GRK). In addition to regulating the sectors that are considered to be the largest contributor to GHG emissions, the regulation also establishes funding sources RAN-GRK either through the APBN, APBD, as well as a variety of other sources constituted under the legislation. The main research question are; Is specific allocation fund (DAK) can be used to fund energy efficiency?; if so, what procedure should be done? and how monitoring and evaluating of the energy efficiency of the use of DAK ? To answer those questions, researcher using qualitative library research, cross sectional collection of data for intensive analysis, interviews to some leading experts in the field and a number of Focused Group Discussions were also conducted to construct the policy analysis. Based on the analysis of the mechanism of transfer to the regions in Indonesia, it is possible to enlarge of DAK field for energy efficiency by asking Line Minister to proposed mechanism and send to the Ministry of Finance. This can be addressed to support the achievement of environmental friendly activities and reduce the burden of state budget subsidies. Some of things that must be done is to propose the allocation of DAK EE into government programs and to develop a variety of specificized and technical indicators related.ABSTRAKTerkait dengan komitmen dalam mengatasi dampak perubahan iklim serta isu pengembangan ekonomi rendah karbon, Pemerintah telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2011 tentang rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Nasional (RAN-GRK) tahun 2020 sebesar 26% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan pendanaan asing. Dalam Perpres tersebut telah diatur sektor-sektor apa saja yang dianggap menjadi sumber emiten terbesar termasuk sektor energi, sekaligus adanya kewajiban pendanaan APBN/APBD dalam mengatasinya. Di sisi lain, kegiatan efisiensi energi tercatat sebagai salah satu aksi penurunan emisi GRK yang cukup signifikan dalam sektor energi baik untuk bangunan maupun mesin. Sayangnya kegiatan tersebut membutuhkan investasi yang cukup besar. Akibatnya kegiatan efisiensi energy menjadi tidak menarik. Di sinilah peran pendanaan APBN/ APBD menjadi sangat krusial. Terkait dengan pengaturan pengalokasian pendanaan APBN/APBD inilah peran Kemenkeu menjadi sangat vital, khususnya dalam mekanisme pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) yang menjadi kewenangannya. Dari hasil analisis, mekanisme alokasi DAK ternyata memungkinkan untuk ditujukan bagi pendanaan kegiatan efisiensi energi. Namun demikian, mekanisme yang harus dijalankan lebih difokuskan kepada inisiatif Kementerian/Lembaga (K/L) yang berwenang dalam pengusulan alokasi DAK tersebut.ABSTRACTRelated to the climate change and economic development of environmentally friendly (green economy) issues, the President has committed to reducing emissions of greenhouse gases (GHG) by 26% on their own sources (BAU), and up to 41% with international support in 2020 through Presidential Decree No. 61 in 2011 about the National Action Plan for Greenhouse Gas Emission Reduction (RAN-GRK). In addition to regulating the sectors that are considered to be the largest contributor to GHG emissions, the regulation also establishes funding sources RAN-GRK either through the APBN, APBD, as well as a variety of other sources constituted under the legislation. The main research question are; Is specific allocation fund (DAK) can be used to fund energy efficiency?; if so, what procedure should be done? and how monitoring and evaluating of the energy efficiency of the use of DAK ? To answer those questions, researcher using qualitative library research, cross sectional collection of data for intensive analysis, interviews to some leading experts in the field and a number of Focused Group Discussions were also conducted to construct the policy analysis. Based on the analysis of the mechanism of transfer to the regions in Indonesia, it is possible to enlarge of DAK field for energy efficiency by asking Line Minister to proposed mechanism and send to the Ministry of Finance. This can be addressed to support the achievement of environmental friendly activities and reduce the burden of state budget subsidies. Some of things that must be done is to propose the allocation of DAK EE into government programs and to develop a variety of specificized and technical indicators related. ABSTRAKTerkait dengan komitmen dalam mengatasi dampak perubahan iklim serta isu pengembangan ekonomi rendah karbon, Pemerintah telah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2011 tentang rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Nasional (RAN-GRK) tahun 2020 sebesar 26% dengan usaha sendiri dan 41% dengan bantuan pendanaan asing. Dalam Perpres tersebut telah diatur sektor-sektor apa saja yang dianggap menjadi sumber emiten terbesar termasuk sektor energi, sekaligus adanya kewajiban pendanaan APBN/APBD dalam mengatasinya. Di sisi lain, kegiatan efisiensi energi tercatat sebagai salah satu aksi penurunan emisi GRK yang cukup signifikan dalam sektor energi baik untuk bangunan maupun mesin. Sayangnya kegiatan tersebut membutuhkan investasi yang cukup besar. Akibatnya kegiatan efisiensi energy menjadi tidak menarik. Di sinilah peran pendanaan APBN/ APBD menjadi sangat krusial. Terkait dengan pengaturan pengalokasian pendanaan APBN/APBD inilah peran Kemenkeu menjadi sangat vital, khususnya dalam mekanisme pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) yang menjadi kewenangannya. Dari hasil analisis, mekanisme alokasi DAK ternyata memungkinkan untuk ditujukan bagi pendanaan kegiatan efisiensi energi. Namun demikian, mekanisme yang harus dijalankan lebih difokuskan kepada inisiatif Kementerian/Lembaga (K/L) yang berwenang dalam pengusulan alokasi DAK tersebut
KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN PENGHASIL KAYU BAHAN BANGUNAN DI HUTAN LINDUNG TANJUNG TIGA, MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN (Composition and Structure of Tree that Produce Building Materials in The Tanjung Tiga Protected Forest, Muara Enim, South Sumatra)
ABSTRAKHutan Lindung Tanjung Tiga adalah hutan hujan tropis yang tersisa di Muara Enim berada pada ketinggian di atas 1300 m dpl. Keberadaan hutan ini sangat penting baik sebagai pengatur hidrologis maupun sebagai penghasil kayu. Pada umumnya bangunan rumah masyarakat di desa Tanjung Tiga masih menggunakan beragam kayu hutan, sementara keberadaan pohon penghasil kayu-kayu utama untuk bangunan ini sudah mulai berkurang. Penelitian mengenai kondisi hutan, khususnya komposisi dan struktur tegakan penghasil kayu bahan bangunan telah dilakukan pada bulan April 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang famili pohon-pohon penghasil kayu bangunan di Hutan Tanjung Tiga sebagai bahan acuan tindakan konservasi hutan baik bagi masyarakat maupun pemerintah setempat. Penelitian dilakukan dengan metode transek dan petak contoh kuadrat di tiga areal berbeda. Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga famili penting yaitu Myrtaceae, Fagaceae dan Lauraceae, namun baik jumlah maupun diameter batangnya sangat rendah sehingga perlu segera upaya pencegahan penebangan lebih lanjut dan tindakan konservasi yang menguntungkan semua pihak. ABSTRACTTanjung Tiga protected forest is a remnant of tropical rain forests, which are located at an altitude above 1300 m asl. The existence of this forest is very important both as a regulator of hydrological, as well as the timber resources. In general, rural residential buildings in the village still use a variety of forest timber. While the presence of trees producing the main timber for the building has begun to diminish in nature. Research on the condition of forests, in particular the composition and structure of the building material stands have been carried out in April 2013. This study aimed to obtain information on trees family that produce building material in forests as a reference for forest conservation efforts both for society and local authorities. The research was conducted with nested sampling plots in three different blocks. The results showed the presence of three important families are Myrtaceae, Fagaceae and Lauraceae, but both the number and diameter of the stem so low that it needs immediate effort to prevent further logging and conservation measures that benefit all parties.
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS KEMAMPUAN LAHAN DI TUBAN, JAWA TIMUR (Land Capability Based Environmental Carrying Capacity in Tuban, East Java)
ABSTRAKEvaluasi daya dukung lingkungan merupakan bagian dari upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Salah satu metoda evaluasi daya dukung lingkungan adalah evaluasi berbasis kemampuan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi daya dukung lingkungan berbasis kemampuan lahan di Tuban, Jawa Timur. Evaluasi dilakukan dengan mengkaji kesesuaian antara kemampuan lahan dengan penggunaan lahan aktual dan alokasi Pola Ruang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten. Kemampuan lahan dievaluasi pada setiap Satuan Peta Lahan yang diperoleh dari survai lapangan tahun 2014. Penggunaan lahan aktual dianalisis menggunakan citra Landsat 8 OLI tahun peliputan 2013. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan lahan di wilayah penelitian berkisar dari kemampuan lahan kelas II sampai kelas VIII. Wilayah dengan kemampuan lahan yang memungkinkan untuk pengusahaan budidaya (kelas II-IV) mencakup 78,6% wilayah studi, sementara wilayah yang tidak memungkinkan untuk budidaya (kelas V-VIII) mencakup 21,4% wilayah studi. Faktor pembatas kemampuan lahan terdiri dari tekstur tanah, kedalaman efektif, drainase, lereng dan genangan/banjir. Saat ini, 32% wilayah di Kabupaten Tuban penggunaan lahannya sesuai dengan kemampuan lahannya, 66,4% wilayah digunakan melebihi kemampuan lahannya. Dalam hal alokasi lahan pada pola ruang, 67,3% wilayah dialokasikan penggunaan lahannya sesuai dengan kemampuan lahannya, sedangkan 31% dialokasikan melebihi kemampuan lahannya. Temuan ini dapat digunakan untuk mengontrol penggunaan lahan di Kabupaten Tuban dan menjadi bahan revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten agar penggunaan lahan dialokasikan sesuai dengan kemampuan lahannya.ABSTRACTEvaluation of the environmental carrying capacity should be done as part of sustainable land use planning. One of the method to evaluate carrying capacity is land capability based evaluation. This study aims to evaluate the land capability based carrying capacity of Tuban Regency, East Java Province. Evaluation is done by assessing the conformity between the land capability with current land utilization and land allocation of the Official Spatial Planning of the Regency. Land capability was evaluated for each land unit, which was obtained from soil survey, done in 2014. The current land use is analyzed using LANDSAT 8 OLI imagery of 2013. The results showed that the land capability in research areas was ranged from class III to class VIII. Area with land capability which support the agricultural uses (class I-IV) is 78.6% of total area, while the area which should not be used for agricultural cultivation (class V-VIII) was 21,4% of the total area. Factors limiting the land cability include soil texture, effective depth, drainage, slope, and flood. The area covering 32% of Tuban Regency is used in accordance with land capability, 66.4% is used exceeding land capability. There are 31% of the area that has been allocated in Official Spatial Planning of the Regency exceeds the land capabilities, while 67.3% has been allocated in accordance with land capability. The research result can be used as input to control land utilization in Tuban Regency as well as input for Official Land Use Planning revision
EMISI CO2 TANAH AKIBAT ALIH FUNGSI LAHAN HUTAN RAWA GAMBUT DI KALIMANTAN BARAT (Soil Emissions of CO2 Due to Land Use Change of Peat Swamp Forest at West Kalimantan)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis alih fungsi lahan gambut yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah pada hutan rawa gambut primer (HP), hutan gambut sekunder (HS), semak belukar (SB), kebun sawit (KS), dan kebun jagung (KJ) dan menganalisis pengaruh suhu dan jeluk muka air tanah (water-table depth) terhadap emisi CO2 tanah. Sampel dari tiap tipe lahan diambil sebanyak lima ulangan, total sampel 25. Saat pengukuran respirasi CO2 tanah gambut dilakukan pengukuran suhu tanah dan muka air tanah. Pengukuran di lapangan dilaksanakan dua kali yaitu awal musim kemarau dan musim hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa emisi CO2 tanah tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut adalah pada tipe lahan KJ (6,512 ton ha-1 th-1) dan SB (1,698 ton ha-1 th-1) serta pada tipe lahan KS (6,701 ton ha-1 th-1) dan SB (3,169 ton ha-1 th-1) berturut-turut. Suhu tanah gambut tertinggi dan terendah pada dua waktu pengukuran tersebut berturut-turut adalah pada tipe lahan SB (27,78 oC) dan HP (22,78 oC), dan pada tipe lahan KS (29,08 oC) dan HP (26,56 oC) serta jeluk muka air tanah gambut berturut-turut pada tipe lahan KJ (56,2 cm) dan SB (32,1 cm). Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan emisi CO2 tanah gambut adalah suhu tanah, jeluk muka air tanah dan pengelolaan lahan yang menyebabkan perubahan sifat tanah gambut, seperti ketersediaan C-organik (jumlah dan kualitas bahan organik), pH tanah dan kematangan gambut.ABSTRACTThis study aims to analyze peatland use change that caused changes soil emissions of CO2 at primary peat swamp forest (HP), secondary peat forest (HS), shrub (SB), oil palm plantations (KS) and corn field (KJ), and to analyze the influence of temperature and water-table depth to soil emission of CO2. Soil samples were taken from each five replications that accunt for 25 samples. Simultaneously with measurement of soil respiration measuremnts soil temperature. Field measurement is carried out twice at the beginning of dry season and the rainy season. The research shows that the highest and lowest soil emissions of CO2 at the two measurements are at KJ (6.512 ton ha-1 yr-1) and SB (1.698 ton ha-1 yr-1), and at KS (6.701 ton ha-1 yr-1) and SB (3.169 ton ha-1 yr-1), respectively. The highest and lowest temperature of peat soil the two measurements are at SB (27.78 oC) and HP (22.78 oC), and at KS (29.08 oC) dan HP (26.56 oC). Also the highest and lowest water-table depth of peat soil are at KJ (56.2 cm) and SB (32.1 cm). The factors caused to differences of CO2 emissions are soil temperature, water-table depth and land cultivation which caused changing of peat-soil properties such as organic-C stock, soil pH and peat maturity
PERANAN PETANI TERHADAP STRATEGI PEMBANGUNAN HUTAN RAKYAT DI BAGIAN HULU SUB DAS LOGAWA DI KABUPATEN BANYUMAS, JAWA TENGAH (Roles of Farmers on Development Strategies of Community Forests at Upstream Areas of Logawa Sub River Stream Regions in Banyumas)
ABSTRAKPendekatan strategi pembangunan hutan rakyat sebagai bagian pemanfaatan lahan sangat relevan seiring dengan semakin lajunya degradasi dan deforestasi Sumber Daya Alam (SDA) di Sub DAS Logawa di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah.Tujuan penelitian untuk menggali potensi dan problematika hutan rakyat dari aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial serta menemukan rumusan strategi pembangunan hutan rakyat untuk keberlanjutan pengelolaan di bagian hulu Sub DAS Logawa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai dan analisis deskriptif, yaitu suatu metode penelitian yang memusatkan perhatian pada pemecahan masalah yang terjadi pada masa sekarang, sedangkan masalah yang dipecahkan adalah masalah yang faktual. Pendekatan partisipasi petani dilakukan melalui kegiatan PRA dengan metode FGD dan dilanjutkan analisis hirarki menggunakan analisis hirarki proses (AHP). Hasil penyusunan hirarki dengan pembobotan tertinggi atau penentuan skala kepentingan terhadap kriteria penilai dengan uji konsisten menunjukan bahwa kriteria aspek sosial; sub kriteria pada meningkatkan partisipasi; alternatif pada faktor harga merupakan prioritas yang tertinggi yang paling penting untuk diperhatikan. Hasil rumusan merupakan strategi atau cara yang di implementasikan dalam agenda besar atau merupakan arahan program yang akan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat, baik secara lingkungan, ekonomi dan sosial. Arahan rumusan strategi pembangunan hutan rakyat di bagian hulu Sub DAS Logawadi Kabupaten Banyumas Jawa Tengah, adalah dengan penguatan kelompok tani hutan rakyat, melalui model pendampingan, penyuluhan, pelatihan dan kemitraan untuk meningkatkan kemampuan petani sampai bisa mandiri, sehingga petani memiliki kemampuan menghilangkan hambatan yang terjadi secara seri bertahap dan lengkap mulai dari yang paling penting, terutama bagaimana untuk mendapatkan posisi tawar baik dari hasil kayu maupun non kayu yang berkualitas, kemudahan memperoleh modal, akses pasar dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.ABSTRACTStrategy approach in the development of community forests as portion for land utilization is mostly relevant in connection with quicker degradation and deforestation of natural resources at the Logawa Sub River Drainage Area Stream Regionsin Banyumas Regency in Central Java. Aims of the research were to exploite potency and problem community forestsfrom the environmental, social and economic aspects, and to formulate strategies to develop community forests to sustain management at the upstream areas of the Logawa Sub River Stream Regions. It used survey method and a descriptive analysis, i.e. a research method focusing on attention at problem solving occurring in current period, whereas the problem solved was the factual problem. Through RPA activities and by using FGD method and continued by using AHP. Testresultsof the preparation of the hierarchy with the highest weighting orscalingconsistencycriteria ofinterestto theassessorsaidconsistentlyshowsthatsocialcriteria; sub-criteriatoincreaseparticipation; alternativeto thepricefactoristhehighestpriorityis most important tonote. Results of the formulation become a grand strategy that is implemented in a great agenda or become a directed program, so it will give optimal benefits for the society by environmental, economical, and socialapproaches. The strategic formulation directed for development of small holder forests at the Logawa Sub River Stream Regions is by strengthening farmer groups of the small holder forests, through models of counseling, extension, training, and collaboration to enhance farmers’ capabilities until being self service, so they have capability to eliminate obstacles happened serially step by step and to be completed starting from the most important thing, particularly how to achieve bargaining position either obtained from qualified wood or non-wood product, easiness to get capital and market access by staying to keep environmental everlasting
APLIKASI SIG UNTUK PEMETAAN INDEKS KEPEKAAN LINGKUNGAN: STUDI KASUS DI PESISIR CILACAP DAN SEGARA ANAKAN (GIS Application for Environmental Sensitivity Index Mapping Case Study in Cilacap Coastal Area and Segara Anakan)
ABSTRAKSumberdaya pesisir dapat menerima dampak dari kecelakaan tumpahan minyak. Polusi minyak dapat terjadi dalam berbagai situasi lingkungan. Dalam hal ini, inventarisasi pesisir secara detil dikombinasikan dengan indeks sensitivitas memungkinkan ketersediaan informasi pada tingkat yang lebih baik bagi perencana pengelolaan tumpahan minyak. Sistem Informasi Geografis (SIG=Geographic Information System dapat meningkatkan penggunaan data yang dibutuhkan dalam menanggapi adanya tumpahan minyak tersebut serta perencanaan darurat. Studi ini dilakukan untuk mempelajari sensitivitas lingkungan dan mengkombinasikannya untuk membentuk prototipe sistem informasi sensitivitas lingkungan. Dengan menggunakan SIG di daerah pesisir Segara Anakan dan Cilacap. Salah satu strategi yang penting di dalam perencanaan darurat adanya tumpahan minyak adalah memprioritaskan respons tumpahan. Lingkungan pesisir dapat dikuantitatifkan dengan menetapkan skema klasifikasi indeks sensitivitas lingkungan (ISE=Environmemntal Sensitivity Index: ESI). Sensitivitas lingkungan mencerminkan derajad reaksi dari wilayah pesisir untuk bertatran dan pulih ketika terjadi bencana tumpahan minyak. Metode untuk menetapkan ISE adalah dengan mengkombinasikan factor-faktor yang terkait dari suatu sensitivitas lingkungan, antara lain (a) paparan terhadap energi gelombang dan pasut, (b) pelerengan garis pantai, (c) jenis substrata, dan (d) produktivitas biologi. Studi ini menekankan kemampuan SIG untuk memvisualisasikan dan memodernkan faktor-faktor sensitivitas lingkungan secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi SIG untuk mengelola memanipulasi dan menayangkan data pesisir yang relevan dapat dilaksanakan dan dapat dicatat keunggulannya di dalam upaya pemetaan sensitivitas lingkungan. Dalam penelitian ini wilayah pesisir Cilacap memiliki sensitivitas medium, karena daerah tersebut dibatasi oleh garis pantai ESI 5 (dengan panjang 11,6 km), dan dengan ESI 6 Sungai Donan (12,3 km), sementara wilayah Segara Anakan dianggap sensitif terhadap polusi minyak mengingat 112 km2 (45% ) dari 249 Km2 daerah Segara Anakan. Segara Anakan memiliki ranking sensitivitas tertinggi (ESl 8, 9, 10). ABSTRACTCoastal resources can be impacted during an oil spill incident. Given that oil pollution can occur under a wide variety of circumstances, the use of both detailed coastal inventories in conjunction with established sensitivity indexes and approaches allows for a greater level of information and options available to spill planners. a Geographic Information System (GIS) can greatly enhance and improve upon the use and development of data required for oil spill response and contingency planning. This study is determined to examine environmental sensitivities and to combine them into prototype of environmental sensitivity information systems with the aid of GIS in the lagoon of Segara Anakan and Cilacap coastal region. One of the most important strategies in oil spill contingency planning is prioritizing the spill response. Coastal environments would be prioritized and qualitatively queried by establishing Environmental Sensitivity Index (ESI) classification schema. Environmental sensitivity reflects the degree of reaction of coastal region to withstand and to recover when oil spill hazard was occurred. The method to establish an ESI is by combining related factors of an environmental sensitivity. i.e: (a) the exposure to wave and tidal energy, (b) the shoreline slope, (c) the substrate type, and (d) its biological productivity. This study emphasizes the ability of Geographic Information system (GIS) to visualize and to model environmental sensitivity factors spatially. the result shows that the application of a GIS to manage, manipulate, and display relevant coastal databases was possible to be done and had notable advantages in sensitivity mapping efforts, Cilacap coastal region has medium sensitivity, since the area is bordered by ESI 5 shoreline (with length of 11.6 km) and by ESI 6 Donan river (12.3 km), while Segara Anakan region is considered sensitive to oil pollution given that 112 km2 (45%) of the 249 km2. Segara Anakan study area is comprised of the highest sensitivity rankings (ESI 8, 9, 10)
KAJIAN KARAKTERISTIK MUARA CILIWUNG DENGAN MODEL BUDGET NITROGEN (Assessment of Ciliwung Estuary Characteristic with Nitrogen Budget Model)
ABSTRAKPerairan muara merupakan perairan yang mempunyai karakteristik yang khas karena dipengaruhi oleh faktor hidrodinamika dan pola musim, yaitu musim timur dan musim barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan metode perhitungan biogeokimia berdasarkan pendekatan LOICZ pada perairan muara Ciliwung dan memperoleh informasi tentang karakteristik nitrogen pada perairan muara Ciliwung. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa pada musim timur dan musim barat perairan muara Ciliwung berperan sebagai nitrogen. Pada musim timur perairan muara Ciliwung bersifat autotrofik, sedangkan pada musim barat perairan tersebut bersifat heterotrofik. Hal ini dicirikan melalui siklus nitrogen dengan laju fiksasi lebih besar daripada laju respirasi pada musim timur, sedangkan pada musim barat yang terjadi adalah sebaliknya, laju respirasi lebih besar dibandingkan dengan laju fiksasinya, sebesar 21,14 mg/hari. ABSTRACTEstuarine ecosystem was an unique ecosystem because of the hydrodynamic factor and seasonal pattern i.e. east season and west season, that influence the characteristic of the estuarine. The purpose of this study was to apply the LOICZ biogeochemical budgeting approach to Ciliwung estuary and to get the information about nitrogen budget in Ciliwung estuary. Based on the analysis the function of the estuary was as source of nitrogen on west season and east season. Nitrogen budget of the Ciliwung estuary obtained that the system was autotrophic while in east season, and tend to heterotrophic in west season. This condition was indicated that in the east season the fixation rate was more than respiration rate, but in west season the respiration rate was more than fixation rate with the respiration rate is 21.14 mg/day.
SEBUAH DILEMA PERTANIAN ORGANIK TERKAIT EMISI METAN (A Dilemma on Organic Farming in Relation to Methane Emission)
ABSTRAKGas metana (CH4) adalah salah satu gas rumah kaca yang cukup berperan setelah CO2. Peningkatan metana di atmosfer pada belakangan ini perlu diantisipasi mengingat daya pemanasan global yang ditimbulkannya per satu molekul gas metana di troposfer 21 kali lebih tinggi daripada daya pemanasan satu molekul CO2. Tanah sawah adalah salah satu kontributor gas metana sekitar 10-15%. Metana diproduksi sebagai hasil akhir dari proses dekomposisi mikrobial bahan organik secara anaerobik oleh bakteri metanogen. Emisi gas metana ditentukan oleh pengelolaan air, pengolahan tanah, varietas, dan iklim. Seiring dengan kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat, serta ramah lingkungan, maka permintaan akan beras organik meningkat, sehingga perlu diupayakan dengan giat intensifikasi maupun ekstensifikasi budidaya padi organik. Namun, budidaya padi organik menghadapi dilema yaitu peningkatan produksi gas metana lebih tinggi daripada budidaya padi konvensional.ABSTRACTMethane (CH4) is the second main type of gas after CO2 in contributing global warning. The increasing of methane in our atmosphere should be anticipated because its effect of single molecule of methane to the warning up our trophosphere is 21 times higher than single molecule of CO2 . Paddy field soils as one of contributors produce 10-15 % of methane in our atmosphere. The methane is produced as results of microbial processes on aerobic organic matters decomposition by metanogene bacteria. The amount of methane production is determined by soil water management, crop species, and climate. In line with the community awarness in healthy and environmental friendly product of food, the demand of organic rice has increased. However, the organic farming has trade off situation due to its methane production higher than the conventional farming
DAMPAK KEGIATAN PELEDAKAN PERTAMBANGAN ANDESIT TERHADAP LINGKUNGAN PEMUKIMAN DI GUNUNG SUDAMANIK KECAMATAN CIGUDEG KABUPATEN BOGOR (The Impact of Blasting Activities for Andesite Mining to Residential Environment at Mount Sudamanik Cigudeg Bogor)
ABSTRAKAspek lingkungan hidup kemungkinan terganggu akibat kegiatan eksploitasi sumber daya alam. Mineral dan batuan sebagai salah satu sumber daya alam pada umumnya tersebar di daerah terpencil yang masih memerlukan pengembangan. Pada sisi ini, kehadiran perusahaan pertambangan sangat penting peranannya bagi kemajuan dan pembangunan serta meretas keterisolasian suatu daerah. Wilayah sekitar Gunung Sudamanik, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor tumbuh dan berkembang karena pertambangan andesit. Gunung Sudamanik telah dan masih dieksploitasi lima perusahaan tambang andesit yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) dengan luas total Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) seluas 113 hektar. Pada tahun 2012, total produksi batuan kelima perusahaan adalah 3.984.785 ton atau rata-rata 332.065,4 ton per bulan. Produksi batuan tersebut dihasilkan dari peledakan yang dapat mencapai lima kali peledakan atau lebih setiap hari. Getaran dan bunyi ledakan yang disebabkan peledakan ini kemungkinan berdampak terhadap lingkungan hidup, terutama pada konstruksi rumah dan kenyamanan masyarakat yang bermukim di sekitar kaki Gunung Sudamanik. Pemukiman penduduk yang paling dekat lokasi peledakan andesit berada pada tiga kampung/dusun yaitu Kampung Kadaung, Lebakwangi Lapangan dan Lebakwangi Girang. Ketiga kampung tersebut secara administratif berada dalam Desa Rengasjajar. Rumah warga pada pemukiman yang paling dekat ke lokasi peledakan batuan andesit berjarak sekitar 337 – 616 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian 90,5 kg bahan peledak delay yang sama pada jarak 148 m mengakibatkan tingkat getaran tanah maksimum 7,71 mm/s yang telah melewati baku mutu kelas 3 SNI 7571 : 2010. Dan pemakaian bahan peledak mulai dari 77,4 kg sampai 1310,4 kg setiap peledakan tidak menimbulkan dampak kebisingan pada pemukiman warga.ABSTRACTLiving environment aspects are possibility disrupted by the exploitation of natural resources. Minerals and rocks as one of the natural resources in general are scattered in remote areas that still need development. On this side, the presence of mining companies is important for the progress and development as well as rip off the isolation area. The region around Mount Sudamanik, Cigudeg District, Bogor Regency grows due to the mining of andesite rock. Mount Sudamanik has been and is being mined out by five companies that have mining business license (IUP) covering an area of 113 hectares of region mining business permit (WIUP). In 2012, total andesite production of the all company reached 3,984,785 tons, or an average of 332,065.4 tons per month. Production of these andesite generated from blasting that can reach five times the blasting or more every day. Ground vibrations and air blast caused by blasting probably effect to the living environment, mainly to the house construction and comfort communities who resides around the foot of Mount Sudamanik. Three villages are situated at the nearest the andesite mining inculuding Kampung Kadaung, Lebakwangi Lapangan and Lebakwangi Girang. Residential homes on the nearest location to the andesite blasting is about 337- 616 meters. The results showed that the use of 90.5 kg of explosives same delay at distance 148 resulted in maximum ground vibration levels of 7.71 m/s that have full filled the quality standard of the third grade SNI 7571: 2010. And the use of explosives ranging from 77.4 kg to 1310.4 kg blasting did not cause any noise impact on residential areas.
DAMPAK PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI Acacia crassicarpa DI LAHAN GAMBUT TERHADAP TINGKAT KEMATANGAN DAN LAJU PENURUNAN PERMUKAAN TANAH (The Impact of Development of Industrial Plantation Forest Acacia crassicarpa in Peatland Towards the Maturity)
ABSTRAKPembangunan hutan tanaman di lahan gambut tidak terlepas dari sorotan isu negatif lingkungan terkait dengan penurunan kedalaman muka air tanah, sehingga terjadi perubahan ekosistem asli. Kegiatan reklamasi lahan untuk HTI Acacia crassicarpa dalam jangka panjang disinyalir akan menimbulkan dampak negatif terhadap perubahan karakteristik tanah gambutnya seperti tingkat kematangan dan laju penurunan permukaan tanah gambut (subsiden). Kajian mengenai dampak pembangunan HTI di lahan gambut terhadap tingkat kematangan dan laju subsiden perlu dilakukan untuk memberikan informasi mengenai kondisi exsisting daya dukung lahannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematangan gambut baik secara vertikal (berdasarkan kedalaman gambut) maupun secara horizontal (berdasarkan jarak dari bibir kanal) dan mengetahui laju subsiden sebagai dampak dari reklamasi lahan gambut menjadi HTI A. crassicarpa. Penelitian dilakukan di PT AA, Distrik Rasau Kuning, Kabupaten Siak, Riau. Plot penelitian ditempatkan dalam satu transek sepanjang 100 m yang dibuat tegak lurus dengan kanal tersier, terdapat 12 plot dan dalam satu transek terdapat 3 titik pengamatan sehingga total titik pengamatan adalah 36 titik. Parameter yang diamati adalah dinamika kedalaman muka air tanah, nilai kadar serat tanah gambut dan laju subsiden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perubahan kedalaman muka air tanah gambut di lokasi penelitian hanya mempengaruhi tingkat kematangan gambut pada kedalaman kurang dari 2 m, sedangkan jarak kanal tersier sebesar 125 m tidak berpengaruh secara nyata terhadap tingkat kematangan gambut. Pada kedalaman kurang dari 2 m tingkat kematangan gambut lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Pembangunan HTI A. crassicarpa di lokasi penelitian menyebabkan laju subsiden sebesar rata-rata 5,5 cm/tahun. ABSTRACTThe establishment of forest on peat areas is insepatable from the glare of the negative environmental issues associated with a decrease in the depth of water table which then result in a change of the original ecosystem. Long-term land reclamation activities for HTI Acacia crassicarpa is supposed to give a negative impact on changes in the peat soil characteristics such as level of maturity and the rate of decrease in surface peat soil (subsidence). Studies on the impact of HTI development in peat areas particularly on the level of maturity and rate of subsidence need to be done in order to provide information regarding the carrying capacity of the land exsisting condition. This study aims at evaluating the maturity level of the peat either vertically (based on the depth of peat) or horizontally (based on the distance from the lips of the canal) and determining the rate of subsidence as a result of reclamation of peatlands into plantations A. crassicarpa. The study was conducted in PT. AA, Rasau Kuning District, Siak, Riau. Research plots were placed in a 100 m long transects that were perpendicular to the tertiary canal. There are 12 plots and, transects consist of 3 observation points, so the total observation point is 36 points. Parameters measured were the dynamics of groundwater depth, the value of peat fiber content and the rate of subsidence. The results show that the impact of changes in the water table depth of peat soil in the study area only affects the level of maturity of peat at depths less than 2 m, whereas the tertiary canals distance of 125 m did not significantly affect the level of maturity of peat. At a depth of less than 2 m of peat maturity level is higher than the layer below it. A. crassicarpa plantation development in the study area leads to subsidence rate by an average of 5.5 cm / year