Jurnal Manusia dan Lingkungan
Not a member yet
446 research outputs found
Sort by
ANALISIS MULTIKRITERIA DALAM PEMILIHAN SISTEM PEMROSESAN SAMPAH DI KABUPATEN KLUNGKUNG, PROVINSI BALI (Multicriteria Analysis for Selecting Waste Processing System in Klungkung Regency, Bali Province)
AbstrakBerbagai macam upaya dilakukan oleh pemerintah untuk menciptakan lingkungan suatu kota yang bersih, diantaranya melalui penyediaan fasilitas sistem pemrosesan sampah sebagai tahapan akhir dalam pengelolaan sampah. Saat ini, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali memiliki 3 alternatif sistem pemrosesan sampah yang dapat diaplikasikan, yaitu: menggunakan tempat pemrosesan akhir sampah (TPA) eksisting Regional Bangli, membangun TPA baru tersendiri untuk Klungkung, dan pemrosesan akhir di Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS). Penelitian ini bertujuan untuk memilih sistem pemrosesan sampah yang paling optimal dengan mempertimbangkan 4 kriteria, yaitu lingkungan, ekonomi, sosial dan teknis (analisis multikriteria) dengan menggunakan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP). Setiap kriteria memiliki beberapa sub kriteria yang dimintakan kepada 35 orang responden yang mewakili 5 institusi pemerintahan daerah terkait untuk dilakukan penilaian perbandingan berpasangan. Penilaian juga dilakukan untuk mengevaluasi setiap alternatif terhadap semua sub kriteria dan kriteria. Secara global, responden lebih memilih pencegahan pencemaran lingkungan (nilai bobot 0,16) sebagai sub kriteria terpenting dari total 13 sub kriteria yang tersedia. Urutan kriteria yang dianggap lebih penting adalah lingkungan (nilai bobot 0,543), sosial (0,181), ekonomi (0,146) dan teknis (0,130). Untuk alternatif pengolahan sampah di fasilitas TOSS dianggap yang paling optimal (total nilai 0,47) disusul TPA Regional Bangli (0,28), terakhir TPA baru (0,25). Suatu alternatif sistem pemrosesan sampah dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing harus dipilih yang paling dapat diterima oleh berbagai stakeholder terkait sehingga diharapkan dapat menjadi bagian dari suatu sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dari suatu kota.AbstractIn order to create a city clean, efforts are taken by government including provision of waste processing system facility as part of waste management system. Recently, Klungkung Regency, Bali Province has 3 alternatives of waste processing system to be applied, namely: utilizing the existing regional final disposal site (TPA) of Bangli, building a new TPA facility dedicated for Klungkung area only, and on-site waste processing facility (TOSS). The study aims to determine the most optimal of waste processing system by considering 4 criteria, namely environment, economic, social and technical (multicriteria analysis) with the help of Analytical Hierarchy Process (AHP). Each criterion having several sub criterions were assessed by 35 respondents representing 5 local government’s institutions by applying pair wise comparison. The asessement were also performed to evaluate the alternatives to the given criteria and sub criterion. In global, respondents preferred to put environmental pollution prevention (weight of 0.16) as the most important among total 13 sub criterions available. Among the criteria, environment (weight of 0.543) was more prioritized than social (0.181), economic (0.146) and technical (0.130) aspects. Other result showed that TOSS (total value of 0.47) was more preferred than existing TPA of Bangli (0.28), and new TPA of Klungkung (0.25). An alternative of waste processing with its advantages and disadvantages should be chosen and acceptable by the related stakeholders, thus the facility becomes part of sustainable waste management system in a city
PEMANFAATAN RUMPUT DAN KAYU BAKAR UNTUK KEBUTUHAN SUBSISTEN MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU (Utilization of Grass and Fuel Wood for Community Subsistence Needs in Gunung Merbabu National Park)
ABSTRAKPemanfaatan rumput dan kayu bakar oleh masyarakat sekitar pada Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) tidak sejalan dengan zonasi taman nasional. Pada penelitian ini telah dilakukan berupa kajian intensitas pemanfaatan rumput dan kayu bakar dari kawasan TNGMb melalui identifikasi pengaruh antar faktor pada aktivitas pemanfaatan rumput dan kayu bakar oleh masyarakat serta identifikasi unsur pembentuk akses masyarakat dalam pemanfaatan rumput dan kayu bakar yang berasal dari kawasan TNGMb. Penelitian dilakukan di wilayah TNGMb dengan mengambil lokasi sampel di Dusun Godang, Guwolelo, Batur, dan Sembungan. Tipe penelitian yang digunakan adalah metode kombinasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner, wawancara, dan penelusuran dokumen. Metode kuantitatif disajikan dalam bentuk statistik diskriptif (peta, distribusi frekuensi) dan analisis jalur. Metode kualitatif menggunakan analisis akses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pemanfaatan rumput dan kayu bakar di TNGMb di lokasi sampel tergolong sedang cenderung tinggi (63 kali per hari untuk rumput dan 41 kali per minggu untuk kayu bakar). Dalam kaitannya terhadap faktor pengelolaan lahan maka faktor budaya berpengaruh sebesar 91%, faktor ekonomi berpengaruh sebesar 17,8 %. Faktor ekonomi menjadi faktor mediasi antara faktor budaya dan faktor pengelolaan lahan, serta terukur secara bersama-sama berpengaruh terhadap faktor pengelolaan lahan sebesar 49,2%. Unsur pembentuk akses masyarakat sekitar kawasan dalam pemanfaatan rumput dan kayu bakar bersifat sederhana atau konvensional.ABSTRACTGrass and fuel wood utilization by community around Gunung Merbabu National Park (GMNP) was inconsistent with national park zoning. This research have been done by evaluating of the intensity of grass and fuel wood derived from GMNP, according to identify the effect between factors at grass and fuel wood utilization by community and determining of the community access pattern in grass and fuel wood utilization. The research study was implemented in GMNP area, which sample locations were Gondang, Guwolelo, Batur, and Sembungan villages. The method used for the research was a combined research method. Data collection was conducted by field observation, interview, questionnaires and document analysis. Quantitative method was presented in descriptive statistic (map, frequency distribution) and path analysis results. Qualitative method was conducted by access analysis. The results showed that intensity grass and fuel wood utilization in GMNP in sample location was in the middle to high trend categories (63 times per day for grass and 41 times per week for fuel wood). Affect to the land management factor, it has been known that the contribution of the cultural factor was in 91% and the economic factor in 17.8 %. Economic factor become intervening factor between cultural factor and land management factor and it was evaluated in 49.2%. Community access structure in grass and fuel wood utilization was simple or conventional
KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS DI KAWASAN PENAMBANGAN PASIR DI SUNGAI PROGO (Macrozoobenthos Community in Sand Mining Area of Progo River)
AbstrakSungai memiliki peranan penting bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, di antaranya adalah sebagai habitat bagi komunitas makrozoobentos dan pemanfaatan material berupa pasir dan batu sebagai bahan bangunan. Sungai Progo merupakan salah satu sungai yang hampir di sepanjang sungainya terdapat aktivitas penambangan pasir. Jika aktivitas ini dilakukan terus menerus dalam jumlah banyak dan tanpa pengawasan yang baik dapat menyebabkan terjadinya erosi dan degradasi serta sedimentasi pada bagian-bagian tertentu sungai. Maka dari itu dilakukan penelitian ini untuk mempelajari pengaruh aktivitas penambangan pasir terhadap distribusi dan kemelimpahan komunitas makrozoobentos di Sungai Progo, serta Functional Feeding Group (FFG) yang paling melimpah dan parameter fisiko-kimia yang memengaruhinya. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu mencuplik dan preparasi sampel makrozoobentos, identifikasi sampel, dan pengukuran parameter fisiko-kimia. Aktivitas penambangan pasir di Sungai Progo berpengaruh secara tidak langsung terhadap makrozoobentos, yaitu dengan menyebabkan adanya erosi dan degradasi di kawasan penambangan pasir serta sedimentasi di bagian hilir. FFG makrozoobentos di Sungai Progo yang paling melimpah adalah tipe scraper dan collector. Berdasarkan analisis regresi dan korelasi Pearson didapatkan hasil bahwa fosfat berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian hulu Sungai Progo, intensitas cahaya berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian tengah Sungai Progo, dan kecepatan arus berkorelasi positif terhadap densitas makrozoobentos di bagian hilir Sungai Progo. AbstractRiver has an important role for human and other organisms, among them are as habitat of macrozoobenthos community and the utilization of the material, such as river sand and gravel for building material. Progo River is one of rivers which have sand mining activities almost all along the river. If this activity being done continuously, in a big amount and without a good supervision, it could lead to erosion, degradation and sedimentation in some specific parts. Therefore, this research has an aim to study the effects of sand mining activity towards the distribution and the abundance of macrozoobenthos community in Progo River, and also to study which Functional Feeding Group (FFG) is the most abundant and the physic-chimic parameter that affecting them. This research was conducted in three steps, sampling and preparation of macrozoobenthos’s sample, sample’s identification, and the measurement physicochemical parameter. Sand mining activity in Progo River effect indirectly towards macrozoobenthos by causing erosion and degradation in sand mining area as well as sedimentation in downstream. The most abundant FFG of macrozobenthos in sand mining area of Progo River are scraper and collector. Based on regression and Pearson correlation analysis the results show that phosphate correlated positively against the density of macrozoobenthos in the headwaters of Progo River, light intensity correlated positively against the density of macrozoobenthos in the midstream of the Progo River, and current velocity correlated positively against the density of macrozoobenthos in the downstream of the Progo River
PENGELOLAAN AIR LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN DI RPH X, KOTA BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT (Wastewater Management of Slaughterhouse in Slaughterhouse X, Bogor City, West Java Province)
ABSTRAKAir limbah Rumah Potong Hewan (RPH) yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah lingkungan dan gangguan pada masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar RPH. Sejak RPH X beroperasi pada tahun 2009, pengelolaan air limbah RPH X masih belum berjalan optimal. Hal ini dikarenakan air limbah RPH X masih dilihat sebagai materi yang tidak berguna dan dibuang. Saat ini, praktik pengelolaan air limbah RPH X dilakukan dengan menggabungkan semua air limbah kemudian air limbah tersebut diolah dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Riset ini mencoba menganalisis praktik pemotongan sapi, fasilitas RPH, pengelolaan air limbah RPH, kualitas air limbah RPH, dan dampak limbah RPH pada masyarakat. Riset ini menggunakan pendekatan metode kuantitatif dan kualitatif, melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan uji laboratorium. Hasil riset menunjukkan bahwa praktik pemotongan sapi di RPH X termasuk kategori baik, fasilitas RPH X termasuk kategori kurang sesuai dengan persyaratan, pengelolaan air limbah RPH X belum berjalan optimal, kualitas air outlet IPAL telah memenuhi baku mutu, dan dampak limbah RPH X pada masyarakat berupa gangguan bau yang dirasakan oleh 100% responden dan gangguan kesehatan berupa mual yang dirasakan oleh 41% responden. Alternatif peningkatan dalam pengelolaan air limbah RPH yang dapat dilakukan adalah minimisasi air limbah melalui segregasi dan pemanfaatan air limbah RPH.Kata kunci: Rumah Potong Hewan, praktik pemotongan sapi, fasilitas RPH, pengelolaan air limbah RPH, kualitas air limbah RPH, dampak limbah RPH, minimisasiABSTRACTWastewater of slaughterhouse is not managed optimally can cause environmental problems and disruption to communities living around the slaughterhouse. Since slaughterhouse X operates in 2009, wastewater management of the slaughterhouse X is not managed optimally. This is because the wastewater of the slaughterhouse X is seen as useless and discarded material. Currently, the wastewater management of the slaughterhouse X is carried out by mixing all of the wastewater and then the wastewater is treated by Wastewater Treatment Plant (WWTP). This study analyzes practice of cattle slaughtering, slaughterhouse facilities, wastewater management, wastewater quality, impact of slaughterhouse waste. This study exercises quantitative and qualitative methods, through observations, interviews, questionnaires, and laboratory test. The results showed that the practice of cattle slaughtering was categorized into good, the slaughterhouse X facilities were categorized into less suitable, the wastewater management of slaughterhouse X is still not managed optimally, the wastewater quality of WWTP outlet is comply with water quality standards, and the impact of slaughterhouse waste to the communities living around the slaughterhouse is odor disruption felt by 100% of respondents and health issue are nauseous felt by 41% of respondents. An alternative to improving wastewater management of slaughterhouse is minimization through segregation and utilization of slaughterhouse wastewater
PERENCANAAN INFRASTRUKTUR PERSAMPAHAN TERKAIT MASIFIKASI INDUSTRI KREATIF DAN INDUSTRI DAUR ULANG SKALA KOTA DI KECAMATAN SEBERANG ULU 2, PALEMBANG (Planning Assessment of Waste Infrastructure About Massification of Creative and Recycle Industry on City Scale in Seberang Ulu 2 District, Palembang)
AbstrakData-data spider web per kawasan kumuh dalam dokumen Slum Improvement Action Plan (SIAP) 2015-2019 Kota Palembang menunjukkan bahwa permasalahan persampahan merupakan masalah yang hampir dominan dibandingkan 6 indikator lainnya. Untuk itu diperlukan upaya penanganan sampah secara lebih strategis dan masif supaya bermanfaat bagi banyak pihak. Penelitian ini bertujuan mengkaji perencanaan infrastruktur persampahan perkotaan yang terbaik untuk masyarakat dan lingkungan. Analisis tata guna lahan berguna memetakan perkiraan lahan yang masih dapat digunakan untuk membuat bank sampah, pusat daur ulang, sekaligus pusat industri kreatif. Analisis statistik untuk mengetahui respon masyarakat tentang pengelolaan sampah dengan pemilahan dari sumbernya dengan menggunakan sampel sebanyak 377 responden berdasarkan pada tabel Krejcie, dan analisis deskriptif induktif dengan menggunakan data wawancara in depth terhadap stakeholder terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bank sampah unggul daripada PLTSa karena dapat mendukung circular economy, cenderung menggunakan teknologi bersih, dan dapat membuka lapangan kerja jauh lebih banyak. Manajemen pengelolaan sampah yang terbaik menurut semua perwakilan pemerintah lokal juga adalah bank sampah, daur ulang, dan pengomposan. Terdapat potensi 3 pasar tradisional di Kecamatan Seberang Ulu 2 Palembang yang apabila direnovasi lantai atasnya dapat dimanfaatkan untuk bank sampah. Jumlah TPS ada 3 (berpotensi untuk direvitalisasi menjadi bank sampah). Hal ini penting untuk menjaga estetika kota. Terdapat 41,1% warga yang menyebutkan bahwa kesulitan memilah sampah adalah kurangnya sarana. Masyarakat mendukung bank sampah di lingkungan mereka, 64,5% setuju; 35,5% cukup setuju, 0% tidak setuju. Masyarakat juga seluruhnya setuju memilah sampah apabila ada bank sampah yang terjangkau dari rumah.AbstractWebspider data per slum area in Slum Improvement Action Plan (SIAP) 2015-2019 Kota Palembang document shows that waste is a dominant problem compared to 6 other indicators. Therefore, waste management efforts are needed in a more strategic and massive way. This study aims to examine the best urban waste infrastructure planning for communities and the environment. The land-use analysis is useful in mapping the estimated land that can still be used to create garbage banks, recycling centers, as well as creative industrial centers. SPSS analysis to find out public response about waste management by sorting from source using 377 respondents as samples based on Table Krejcie, and inductive descriptive analysis using interview in depth data to relevant stakeholder. This research showed that waste banks better than PLTSa because it tend to use clean technology and can open up more jobs. The best waste management according to all local government representatives is waste bank, recycling, and composting. There are 3 potential traditional markets in Seberang Ulu 2 District Palembang which if the upstairs being renovated can be used for garbage bank. The number of TPS (potentially to be revitalized into waste bank) are 3, this is important because to maintain the aesthetics of the city. There are 41.1% of residents said that the difficulty of sorting waste is lack of facilities. Communities support waste banks in their neighborhood, 64.5% agree; 35.5% quite agree, 0% disagree. Communities entirely agreed to sort out garbage if there is an affordable waste bank from house
TINGKAT EROSI DAN RANCANGAN TEKNIK KONSERVASI TANAH DAN AIR DI SUB DAS WAEWOKI, DAS AESESA KABUPATEN NGADA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR (Erosion Level and Soil and Water Conservation Engineering Plan in Waewoki Sub Watershed, Aesesa Watershed, Ngada Regency, East Nusa Tenggara Province)
AbstrakKajian tingkat erosi dan rancangan Konservasi Tanah-Air (KTA) telah dilakukan di Sub DAS Waewoki DAS Aesesa Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi tingkat erosi di Sub DAS Waewoki dan menentukan teknik KTA di Sub DAS Waewoki. Untuk memprediksi erosi, diterapkan model SWAT, dengan tahapan deliniasi DAS, pembentukan peta unit lahan, input data iklim serta data pendukung yang dibutuhkan, dan running SWAT. Dari 51 unit lahan di wilayah kajian diambil sampel tanah pada 13 titik lokasi berdasarkan GPS. Untuk merancang teknik KTA digunakan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat erosi yang terjadi pada enam tahun terakhir sangat bervariasi, dari tingkat erosi sangat ringan sebesar 0,11 %, kelas ringan sebesar 1,38 % dan kelas sedang sebesar 1 %. Berdasarkan model regresi ditunjukkan bahwa faktor erosi yang paling berpengaruh di lokasi penelitian adalah kelerengan, yang signifikan terhadap kriteria probabilitas yaitu 0.05. Rancangan teknik KTA dirancang pada jarak tandan terkecil dengan jumlah kelompok klaster sebayak 5 yang memiliki klasifikasi unit lahan yang berbeda-beda. Pengklasteran unit lahan menunjukkan bahwa faktor kelerengan, penggunaan lahan dan jenis tanah merupakan faktor yang paling dominan untuk terbentuknya kelompok klaster I dan V, sedangkan untuk kelompok klaster II, III, dan IV faktor yang paling dominan adalah penggunaan lahan dan jenis tanah. Model KTA yang diterapkan pada setiap kelompok klaster adalah model vegetatif dan mekanik sesuai dengan klasifikasi yang terbentuk.AbstractThe study erosion level and Soil-Water Conservation (SWC) engineering plan was conducted in Waewoki Sub watershed, Aesesa Watershed, Ngada Regency, East Nusa Tenggara Province. This study was aimed at predicting the erosion level in Waewoki Sub watershed and determining Soil and Water Conservation engineering in Waewoki Sub watershed. To predict erosion, SWAT model was applied, with model analysis phases including watershed delineation, land unit map creation, climate data input and supporting data needed, and running SWAT. From the 51 units of land in the study area, the soil samples were collected at 13 locations using GPS. Cluster analysis was used to plan SWC engineering. The results showed that the erosion level occurred in the last six years varied widely, ranging from very mild erosion level of 0.11%, mild level of 1.38%, and medium level of 1%. The statistical test with regression model approach showed that the most influential factor of erosion in the study site was slope, which was significant to the probability criterion, i.e. 0.05. SWC engineering plan was planned in the smallest cluster distance by 5 cluster groups with different land unit classification. Land unit clustering showed that the factors of slope, land use and soil type were the most dominant factors for the formation of the cluster groups I and V, while the most dominant factors for cluster groups II, III, and IV were land use and soil type. The SWC models applied to each cluster group were vegetative and mechanical models, in accordance with the classification formed
INTERVENSI MANUSIA TERHADAP KOMUNITAS RHIZOSFIR: REVIEW (Human Disturbance on Rhizosphere Communities: Review)
AbstrakWalaupun tersembunyi di dalam tanah komunitas rhizosfir merupakan penentu kehidupan di muka bumi dan berperan penting pada pelestarian alam. Rhizosfir merupakan daerah di sekitar perakaran tanaman yang dihuni oleh berbagai mikrobia tanah yang berperan dalam menentukan pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Struktur dan komposisi komunitas mikrobia sangat dipengaruhi oleh macam, konsentrasi dan komposisi eksudat akar. Perubahan yang terjadi pada tanaman (umumnya sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia) mempengaruhi komunitas rhizosfir, sebaliknya komunitas rhizosfir akan menentukan struktur tumbuhan dan fungsi ekosistem. Review ini membahas pengaruh aktivitas manusia yang mempengaruhi kualitas lingkungan terhadap komunitas mikrobia di rhizosfir, yang merupakan hasil kajian dari berbagai sumber terbaru yang dianalisis secara induktif. Aktivitas manusia yang dikaji meliputi praktek pertanian intensif, deforestasi hutan menjadi perkebunan serta perubahan iklim. Hasil kajian menunjukkan bahwa praktek monokulturisasi telah menurunkan biodiversitas mikrobia rhizosfir, menurunkan kinerja enzim tanah dan menurunkan keragaman dan konsentrasi senyawa glukosinolat untuk melawan patogen. Pengolahan tanah, pemupukan anorganik dan penggunaan pestisida telah menurunkan biodiversitas mikrobia rhizosfir. Sebaliknya pemupukan organik tidak berpengaruh terhadap biodiversitas mikrobia tanah. Perubahan fungsi hutan menjadi kebun intensif telah merubah dominansi kelompok mikrobia serta kemampuan mikrobia sesuai fungsinya di ekosistem. Perubahan iklim berdampak pada peningkatan suhu tanah, hal ini telah mengubah komposisi mikrobia rhizosfir. Perubahan komposisi, dominansi dan kemampuan mikrobia di rhizosfir tersebut dapat merubah komposisi populasi tumbuhan di atasnya. Hal ini dapat mengubah keseimbangan dan fungsi ekosistem yang berakibat pada berubahnya kesejahteraan manusia.AbstractEven though it is hidden underground, rhizosphere communities define the life in this earth planet and has an important role on nature preservation. Rhizosphere is the zone of soil adjacent immediately to plant roots which inhabited by varies species of beneficial soil microbes for facilitating plants growth and health. Human activities are strongly influence on plant performance. Alteration on plant growth and health statues determine rhizosphere communities that will define the vegetation structures and ultimately ecosystem functions. This paper discuss the negative influences of human activities (anthropogenic factors) on the environment to the rhizosphere communities. Especially the impacts of intensive farming, deforestation and climate changes. It is sourced from current referrences in inductive analysis. One of intensive farming management is monoculture that is not only drastically depleted microbes diversity in the rhizosphere hence decresed soil enzimes activities, but also reduced glucocynolates production, a crucial compound against pathogen. Whereas, tillage, fertilizers and pesticide application significantly diminished microbe biodiversity. Organic fertilizers, on the other hand, did not give crucial impacts this biodiversity. Modify forest into estate have changed domination of groups and lessened capability of phosphate solubilizers. While climate changes, that enhance soil temperature escalation, have altered rhizosphere microbes composition and structure. Replacement of composition, domination, abundance and capability of rhizosphere communities will modify composition and structure of vegetation aboveground. Eventually, will alter the ballance and functions of the ecosystem, which determine the wealth of human population in the earth
ANALISIS KUALITAS AIR TANAH AKIBAT PENGARUH SUNGAI KLAMPOK YANG TERCEMAR LIMBAH INDUSTRI DI KECAMATAN BERGAS SEMARANG JAWA TENGAH (Analysis of Groundwater Quality Due to Effect Klampok River that was Contaminated Industrial Waste in Bergas Semarang Central Java)
AbstrakSungai Klampok mengalir melalui Kecamatan Bergas dan sekelilingnya terdapat beberapa industri sehingga mengakibatkan sungai tersebut tercemar karena menjadi badan penerima air limbah. Akibat penurunan kualitas air Sungai Klampok akan berimbas pada penurunan kualitas air tanah yang digunakan oleh penduduk sekitar sungai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air tanah yang berada di sekitar Sungai Klampok sebagai akibat adanya pengaruh beban pencemaran oleh air limbah industri berdasarkan Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang persyaratan kualitas air bersih. Lokasi pengambilan sampel air sungai dibagi menjadi 3 stasiun (LK1, LK2 dan LK3) sedangkan untuk sampel airtanah dari rumah-rumah penduduk dilakukan pada 6 titik yaitu 3 titik di daerah utara dari Sungai Klampok (U1,U2, U3) dan 3 titik di daerah selatan dari Sungai Klampok (S1,S2, S3). Pengambilan sampel dilakukan pada musim kemarau. Dari hasil uji kualitas air sungai, pencemaran yang terjadi pada air sungai Klampok masuk dalam kategori tercemar ringan-sedang. Sedangkan hasil uji kualitas air tanah masih berada di bawah baku mutu yang disyaratkan oleh Permenkes No. 416/MENKES/PER/IX/1990, sehingga penurunan kualitas air sungai Klampok tidak mempengaruhi kualitas air tanah di sekitar sungai tersebut. AbstractThe Klampok River flows through the Bergas Subdistrict and there are a number of industries around it, causing the river to become polluted because it becomes the body of the recipient of wastewater. As a result of the decline in the quality of the water in the Klampok River, it will impact on the quality of groundwater used by residents around the river. This study aims to determine the quality of groundwater around the Klampok River as a result of the influence of pollution load by industrial wastewater based on Permenkes No. 416 / MENKES / PER / IX / 1990 concerning requirements for clean water quality. The location of river water sampling is divided into 3 stations (LK1, LK2, and LK3) while for groundwater samples from residential houses is carried out at 6 points, namely 3 points in the northern area of Klampok River (U1, U2, U3) and 3 points in the area south of the Klampok River (S1, S2, S3). Sampling is done in the dry season. From the results of the test of river water quality, pollution that occurs in Klampok river water is categorized as mild-moderate polluted. While the results of groundwater quality testing are still below the quality standards required by Permenkes No. 416 / MENKES / PER / IX / 1990 so that the decline in the water quality of the Klampok river does not affect the quality of groundwater around the river
HUBUNGAN KERAPATAN PENDUDUK DENGAN KEANEKARAGAMAN TANAMAN BUAH PEKARANGAN DI KECAMATAN GODEAN, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA (Relationship between Population Density and Diversity of Yard Fruit Plants in Godean Sub-District, Sleman District, Yogyakarta)
AbstrakTanaman buah sangat besar manfaatnya bagi manusia dan lingkungan hidup antara lain berperan untuk menjaga kawasan hijau di kawasan hunian, namun keberadaannya di pekarangan saat ini teracam karena meningkatnya alih fungsi lahan dari pekarangan menjadi lahan terbangun untuk tempat tinggal seiring dengan pertambahan jumlah manusia. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis persebaran kerapatan penduduk, keanekaragaman tanaman buah, hubungan kerapatan penduduk dengan keanekaragaman tanaman buah, adaptasi masyarakat dalam melestarikan tanaman buah dan pekarangan dan menyusun usulan pelestarian tanaman buah dan pekarangan di Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman. Metode yang digunakan adalah observasi dan memanfaatkan data sekunder dengan periode waktu penelitian selama sepuluh bulan. Hasil yang diperoleh adalah kerapatan penduduk di Kecamatan Godean semakin ke bagian timur (mendekati Kota Yogyakarta) memiliki angka semakin tinggi. Semakin rapat penduduk maka semakin rendah indeks keanekaragaman dan kemerataan, semakin tinggi indeks dominansi, semakin sedikit jumlah jenis tanaman buah yang ditemukan, dan semakin sedikit kawasan hijau di kawasan hunian. Lokasi dengan kerapatan penduduk semakin tinggi terjadi adaptasi pelestarian tanaman buah dan pekarangan yang mendukung konsep lanskap produktif. Usulan pelestarian tanaman buah dan pekarangan disusun dengan mempertahankan usaha pemerintah dan warga yang dirasa efektif, memperbaiki atau menghilangkan yang kurang efektif dan menyusun usulan baru dengan harapan agar tetap dapat menjaga lingkungan hidup dengan menjaga kawasan hijau di kawasan hunian berdasarkan permasalahan yang ditemukan di lapangan.AbstractFruit plants are very beneficial for human and environment, including their role is protecting green areas in residential areas, but their presence in the yard today is threatened because the increasing conversion of land functions from yard to building for shelter along with the increase in the number of people. The purpose of this study is to analyze the distribution of population density, the relationship between population density and diversity of fruit plants, community adaptation to conserve fruit plants and yard, and to give the recommendation for fruit plants and yard conservation in Godean Sub-District, Sleman District. The methods used are observation and utilizing secondary data with a research period of ten months. The study found that the population density in eastern part of Godean District (approaching the City of Yogyakarta) had higher numbers. The higher population density is, the lower diversity and evenness index, the higher the dominance index, the fewer the number of fruit plants found, and the less green areas in residential areas. Locations with higher population densities are adapted to conserve the fruit plants and yard. These findings support the concept of productive landscapes. Recommendation for fruit plants and yard conservation was compiled by maintaining goverment and citizen efforts that are felt to be effective, repairing or eliminating ones that are less effective and making new recommendation with the hope that it can protect the environment by protecting green areas in residential areas based on problems found in the field
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN TAMAN WISATA ALAM LAUT (TWAL) PULAU WEH BERDASARKAN HUKOM ADAT LAOT (Sustainability Analysis of the Marine Recreational Park (MRP) Management in Weh Island Based on Local Customary Law of the Sea (Hukom Adat Laot)
AbstrakTaman Wisata Alam Laut (TWAL) Pulau Weh merupakan kawasan konservasi yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banda Aceh. TWA Laut Pulau Weh terletak di Desa Iboih dan masuk ke dalam Wilayah Hukom Adat Panglima Laot Lhok Iboih. Keberadaan Hukom Adat Laot memberikan dampak secara ekologi, sosial ekonomi, dan tata kelola TWA Laut Pulau Weh. Selain itu, sistem pengelolaan berdasarkan hukum adat dapat dijadikan rujukan dalam menyusun kebijakan atau strategi pengeloaan TWA Laut Pulau Weh ke depan. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung dan mengestimasi tingkat keberlanjutan pengelolaan TWA Laut Pulau Weh berdasarkan Hukom Adat Laot Lhok Iboih. Metode yang digunakan adalah multi dimensional scalling (MDS) berdasarkan tiga dimensi yaitu ekologi, sosial ekonomi dan tata kelola. Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi tata kelola dan sosial ekonomi berada pada kategori cukup keberlanjutan dengan indeks 59,98 dan 56,75, sedangkan dimensi ekologi berada pada kategori kurang berkelanjutan dengan indeks 46,94. Indeks dan status keberlanjutan menunjukkan bahwa, sistem pengelolaan berdasarkan Hukom Adat Laot Lhok Iboih pada dimensi tata kelola dan sosial ekonomi cukup memberikan dampak terhadap keberlanjutan pengelolaan TWA Laut Pulau Weh.AbstractMarine Recreational Park (MRP) Weh Island is a conservation area managed by Natural Resources Conservation Agency Banda Aceh. The MRP is located at Iboih village and it is also inside the area of local customary Law of the Sea Lhok Iboih. The existence of customary Law of the Sea affects the management of MRP in terms of ecology and social economy. Apart from that, the local customary management system could be used as a reference in finalizing the policy and strategy of the management of MRP Weh Island in the future. The purpose of this research is to calculate and to estimate the sustainability level of the MRP Weh Island management based on customary Law of the Sea Lhok Iboih. The method used is multi dimensional scaling (MDS) that is based on 3 dimensions i.e. ecology, social economy, and management. The analysis result indicates that the dimension of management and social economy are arguably sustainable with index 59.98 and 56.75, while the dimension of ecology falls into less sustainable level with index 46.94. The index and sustainability status indicate that the management system based on customary Law of the Sea Lhok Iboih specifically on the dimension of management and social economy influence the sustainability of MRP Weh Island management