Jurnal Profesi Kependidikan
Not a member yet
197 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kreativitas Melalui Media Loose Parts Kelompok A TK ABA Moronyamplung
Kreativitas merupakan bidang pengembangan yang sangat penting diimplimentasikan pada anak usia dini. Media loose parts merupakan media yang dapat menciptakan kreasi tanpa batas dalam aktivitas pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah peningkatan kreativitas melalui media Loose Parts anak kelompok A TK ABA Moronyamplung tahun pelajaran 2020-2021. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas. Penelitian dilaksanakan selama tiga siklus, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media Loose Parts dapat meningktakan kreativitas, hal ini terbukti dari hasil pada penelitian yaitu: siklus I 33%, siklus II 67%. Sedangkan pada pelaksanaan pembelajaran siklus III menunjukkan persentase ketuntasan kelas sebesar 86%.Kata Kunci : Pengembangan Kreativitas, Media Loose Part
Meningkatkan Motorik Halus Anak Melalui Permainan Playdough Di Kelompok B TK. Dharma Buana
Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi kemampuan motorik halus anak yang belum berkembang dengan baik, anak masih kesulitan dalam melakukan kegiatan mengunting mengikuti pola/garis, bahkan ada anak yang kaku dalam menggerakkan gunting, terkadang anak menggunting diluar garis/pola. Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan motorik halus anak melalui permainan playdough kelompok B TK. Dharma Buana. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui permainan playdough anak kelompok B TK. Dharma Buana. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian yaitu sembilan orang anak. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi. Hasil peningkatan kemampuan motorik halus dianalisis secara deskriptif kuantitatif pada siklus I dan Siklus II. Siklus I dan II terdiri dari dua kegiatan yakni mencampur dan meremas adonan serta membuat kreasi bebas dari playdough. Hasil dari siklus I masih terdapat kegagalan dari kedua kegiatan tersebut, sedangkan pada siklus II dari kedua kegiatan tersebut mengalami peningkatan, mencapai kriteria penilaian diatas rata-rata. Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui permainan playdough.Kata Kunci : Motorik halus, Permainan Playdoug
Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menganyam pada Anak di Taman Kanak-Kanak Usia 5 – 6 Tahun
Metode menganyam digunakan untuk mengembangkan keterampilan motorik halus anak, karena metode menganyam memberikan banyak kesempatan kepada anak untuk mengkoordinasikan tangan dan matanya serta mengontrol gerakan tangan menggunakan otot jari. Masalah penelitian yang diteliti adalah bagaimana meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan menganyam pada anak kelompok B di TK Panritalopi Lembanna Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Tahun Pelajaran 2020-2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dan kuantitatif. dengan subjek penelitian adalah siswa kelompok B TK Panritalopi Lembanna semester II tahun ajaran 2020 – 2021 yang berjumlah 5 orang. Hasil penelitian klasik menunjukkan bahwa persentase keterampilan motorik halus anak yang diamati adalah koordinasi mata dan tangan serta dapat mengontrol gerakan tangan menggunakan otot jari. Hasil pra siklus 10% meningkat pada siklus I menjadi 20%, setelah perbaikan perencanaan pada siklus II meningkat 60% dan pada siklus III diperoleh 80%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kegiatan menganyam dapat meningkatkan motorik halus anak di TK Panritalopi Lembanna Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Peneliti menyarankan agar guru dapat mengoptimalkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media yang menarik dan menyenangkan dalam kegiatan menganyam.Kata Kunci : Motorik Halus, Aktivitas Menganyam, Media Daun Pisan
Penerapan Model Problem Basic Learning terhadap Keaktifan Belajar Peserta Didik di Kelas X Keperawatan SMK YPIB Majalengka Tahun 2021
Pembelajaran (Problem Based Learning) adalah pendekatan pembelajaran yangmenggunakan masalah sebagai suatu konteks untuk belajar cara berfikir kritis danketerampilan pemecahan masalah. Hasil penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dalam (3) tiga siklus. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Oktober 2021 dan subyek penelitiannya adalah 16 peserta didik SMK YPIB Majalengka. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar Ceklist. Hal ini dapat dilihat dari keaktifan belajar peserta didik pada siklus I dari 16 peserta didik yang hadir, 2 peserta didik (12,5%) yang bertanya, 4 peserta didik (25,0%) mampu menjawab pertanyaan, 3 peserta didik (18,75%) mampu menyimpulkan materi dan 3 peserta didik (18,75%) mampu berargumen. Pada siklus II dari 15 peserta didik, terdapat 4 peserta didik (26,6%) yang bertanya, 7 peserta didik (46,66%) mampu menjawab pertanyaan, 4 peserta didik (26,6%) mampu menyimpulkan materi dan 6 peserta didik (40,0%) mampu berargumen. Pada siklus III dari 15 peserta didik, terdapat 7 peserta didik (46,66%) yang bertanya, 8 peserta didik (53,33%) mampu menjawab pertanyaan, 7 peserta didik (46,66%) mampu menyimpulkan materi dan 7 peserta didik (46,66%) mampu berargumen. Dari hasil penelitian ini adanya peningkatan yang signifikan terhadap keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Anatomi Fisiologi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model Problem Basic Learning dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik di SMK YPIB Majalengka.Kata kunci: Model Pembelajaran Problem Basic Learning, Keaktifan Belajar Pesertadidi
Meningkatkan Kemampuan Berfikir Logis Menggunakan Metode Exsperimen Anak Usia Dini 5-6 Tahun
Berfikir logis sangat penting bagi anak untuk dapat mengembangkan sikap ingin tahu, mencerminkan sikap kreatif, mengetahui cara memecahkan masalah, mengenal benda dan lingkungan sekitar, menjadikan anak sebagai penyidik cilik, dan mengembangkan seluruh panca inderanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui ada pengaruh metode eksperimen terhadap kemampuan berfikir logis anak usia 5-6 tahun. Jenis penelitian yang digunakan yaitu melalui pendekatan Penelitian Tindakan Kelas berjumlah 6 anak pada lembaga TK Kartini Sooko, Ponorogo, Jawa Timur. Kemampuan berfikir logis pada anak usia 5-6 tahun yaitu memiliki pola berfikir yang disebut dengan penalaran hubungan sebab-akibat, mengenal sebab-akibat akan memberikan kesempatan pada anak untuk memahami hasil dari suatu proses suatu objek peristiwa. Penelitian ini dibuat karena berdasarkan observasi ada 3 anak dari 6 anak yang kurang semangat mengikuti kegiatan belajar dengan sering menggunakan lembar tugas saja. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus , siklus 1 meningkat 50%, siklus 2 menunjuk 65 %, siklus 3 menunjuk 83 %.Metode exsperimen menunjukkan pembelajaran sesuai tuntutan karakteristik anak abad 21.Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode eksperimen dapat meningkatkan aspek kognitif kemampuan berfikir logis anak kelompok B usia 5-6 tahun.Kata Kunci: metode eksperimen, kemampuan berfikir logis, abad 21, Anak Usia Din
Upaya Peningkatan Keterampilan Motorik Halus dengan Media Permainan Pasir pada Anak Kelompok B di TKIT Wildani 2 Surabaya
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak melalui kegiatan bermain pasir pada anak kelompok B di TKIT WILDANI 2 Surabaya. Penelitian ini dilakukan karena terdapat permasalahan dalam keterampilan motorik halus di kelas B. Subjek penelitian ini adalah anak kelas B TKIT WILDANI 2 Surabaya, dengan jumlah siswa sebanyak 17 anak. Desain penelitian ini menggunakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan secara kolaboratif dalam dua siklus. Metode pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini adalah observasi, dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan motorik halus anak dapat ditingkatkan melalui kegiatan bermain pasir. Peningkatan keterampilan motorik halus terjadi pada setiap siklus dan meningkat dengan baik. Pada tahap pra tindakan persentase pencapaian keterampilan motorik halus anak sebanyak 23,52 % pada siklus I mencapai 52,95 % dan pada siklus II mencapai nilai persentase sebanyak 76,47 %Kata Kunci: keterampilan motorik halus, kegiatan Bemain Pasi
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMP Al-Karim Kota Bengkulu
Penelitian ini dilakukan dalam tiga kegiatan belajar dengan materi usaha dan pesawat sederhana, selama 31 hari efektif yang telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Juli 2021. Sampel penelitian adalah kelas VIII dengan jumlah peserta 15 siswa dengan alat pengumpul data berupa lembar test akhir setiap kegiatan belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kegiatan belajar I, persentase ketuntusan belajar yang diperoleh adalah 60%, pada kegiatan belajar II, persentase ketuntasan belajar yang diperoleh adalah 73% dan pada siklus III, persentase ketuntusan belajar yang diperoleh adalah 86,67%. Dari hasil analisa data diketahui bahwa pembelajaran menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya peniingkatan persentase hasil belajar dari kegiatan belajar I ke kegiatan belajar II hingga kegiatan belajar III.Kata Kunci : Hasil Belajar, Problem Based Learnin
Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik Melalui Penerapan Model Problem Based Learning
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XII Asisten Keperawatan Sekolah Menengah Kejuruan Harapan Bangsa Sidenreng Rappang pada mata pelajaran Kebutuhan Dasar Manusia melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus atau tiga pertemuan. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XII Asisten Keperawatan yang terdiri dari 10 orang peserta didik. Teknik utama dalam pengumpulan data dilakukan dengan cara tes dan observasi, sementara teknik pendukung dengan menggunakan wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas XII Asisten Keperawatan mulai dari siklus satu, siklus dua, dan siklus tiga, yaitu 76 pada siklus I meningkat menjadi 81 pada siklus II dan kembali meningkat menjadi 85 pada siklus III. Simpulan penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Kebutuhan Dasar Manusia Kelas XII Asisten Keperawatan Sekolah Menengah Kejuruan Harapan Bangsa SidrapKata Kunci : Penelitian Tindakan Kelas, Problem Based Learning, Hasil Belajar
Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Metode Praktik Langsung Melalui Kegiatan Menggunting Dengan Media Bervariasi Kelompok A TKIT AR-RAHMAN
Meningkatkan kemampuan motorik halus dengan metode praktik langsung melalui kegiatan menggunting dengan berbagai media variasi pada anak usia dini di kelompok A TK IT Ar Rahman kota Bogor dengan jumlah anak 18, 7 laki-laki, 11 perempuan. Kemampuan motorik halus adalah kemampuan pada anak yang membutuhkan kecermatan tinggi, ketekunan, dan berkoordinasi antara mata dan otot kecil. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan menggunting dengan berbagai media bervariasi. Dalam proses pembelajaran penelitian dibantu oleh teman sejawat, penelitian tahapan, persiapan tindakan, pelaksanaan observasi, analisis, dan refleksi hasil penelitian menunjukkan dari pra siklus anak berkembang sesuai harapan 20%, Kegiatan siklus I menunjukkan 50% berkembang sesuai harapan, pada kegiatan siklus II mengalami peningkatan 90% sudah berkembang sesuai harapan. Kesimpulan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan berbagai media bervariasi dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak terutama dlam menggunting. Disarankan kepada guru menggunakan berbagai macam media yang menarik agar anak tertarik dan antusias.Kata kunci: Pengembangan fisik, motorik halus, mengguntin
Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Menggunting di TKIT Ihyaussunnah Bontang
Kemampuan motorik halus anak kelompok B TKIT Ihyaussunnah, dalam menggunting masih rendah dan belum sesuai tahapan perkembangannya, dikarenakan perasaan takut/kurang berani dalam menggunakan gunting. Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi dan pemberian tugas. Penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas dengan guru sebagai peneliti, menggunakan sistem spiral refleksi dini sebanyak dua putaran. Dari hasil analisis didapatkan bahwa melalui kegiatan menggunting, dapat meningkatkan kemampuan motorik halus peserta didik, yaitu pada siklus I sebesar 27%, dan pada siklus II menjadi 87%. Simpulannya bahwa melalui kegiatan menggunting dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak dikelompok B TKIT Ihyaussunnah.Kata Kunci : kemampuan motorik halus, menggunting, metode demonstrasi, pemberian tuga