JURNAL PEMBANGUNAN EKONOMI DAN KEUANGAN DAERAH
Not a member yet
249 research outputs found
Sort by
ANALISIS PEMUNGUTAN PAJAK RESTORAN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH KABUPATEN MINAHASA
ABSTRAKPajak Restoran adalah pajak atas pelayanan restoran. Pemugutan Pajak Restoran di Indonesia saat ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang merupakan peubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pelaksanaan pemungutan pajak restoran di Kabupaten Minahasa dan mengetahui kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Minahasa. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif berupa data pajak Restoran di Dinas Pengelola Keuangan, Aset dan Pendapatan Daerah Kabupaten Minahasa. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskripsi. yaitu untuk menggambarkan menganalisis hasil dari penelitian yang telah dilakukan. Penelitian menunjukan bahwa prosedur pelaksanaan pemungutan pajak telah berjalan baik dan mudah untuk dipahami serta bukti potong pembayaran dapat diberikan kepada wajib pajak. Tetapi setiap terjadi perubahan peraturan, petugas pemungut pajak dalam hal ini pemerintah daerah terlambat dalam mensosialisaikannya kepada wajib pajak. Sehingga masih ada wajib pajak belum membayarkan pajaknya. Kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah dapat dikatakan cukup baik walaupun setiap tahunnya mengalami penurunan. Walaupun demikian secara keseluruhan sudah mencapai target yang sudah ditetapkan.Kata kunci : Pemungutan Pajak Restoran dan Pendapatan Asli Daerah.ABSTRAKRestaurant Tax is a tax on restaurant services. Restaurant Tax Collection in Indonesia at this time is based on Law No. 34 of 2000 which is the amendment to Law No. 18 Year 1997 on Regional Taxes and Levies and Government Regulation No. 65 of 2001 on Local Taxes. This study aims to determine the procedure for collection of the tax in Minahasa restaurant and know the tax contribution to earnings original local restaurant in Minahasa. The data used in this research is quantitative data in the form of tax data in the Office business Restaurants Finance, Asset and Revenue Minahasa District. The analytical method used is descriptive analysis. namely to describe analyze the results of the research that has been done. Research shows that the procedure of implementation of tax collection has been going well and easy to understand as well as pieces of evidence of payment can be given to the taxpayer. But any changes in regulations, tax collector officer in this case the local government late in mensosialisaikannya to the taxpayer. So there is still a taxpayer has not paid the tax. Restaurant tax contributions to local revenues can be quite good although each year has decreased. Nevertheless, on the whole has reached the targets set.Keywords: Tax Collection Restaurant and Local Revenue
ANALISIS EKSISTENSI SEKTOR DAN KOMODITI UNGGULAN DALAM MEMPERCEPAT PENANGGULANGAN KEMISKINAN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA
ABSTRAK Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses rangkaian kegiatan yang dilakukan  oleh  pemerintah  daerah  dan  juga  masyarakat  secara  besama-sama dalam mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang tesedia secara optimal serta membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan  suatu lapangan kerja baru dalam merangsang perkembangan   kegiatan ekonomi  di  daerah.  Kabupaten  Minahasa  Utara merupakan salah satu daerah yang ada di wilayah Propinsi Sulawesi Utara yang memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDA) serta keunggulan komparatif dan kompetitif yang kuat sebagai lokasi aktivitas ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor dan komoditi apa yang unggul serta potensial yang ada di Kabupaten Minahasa Utara, dan menganalisis sektor dan komoditi unggulan apa yang mempercepat penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Minahasa Utara. Data  yang  digunakan adalah  data  sekunder  yang di  ambil  dari  Badan  Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Utara  Tahun 2010-2015 dan data  primer  yang diperoleh langsung dari pelaku- pelaku usaha Industri Kecil dan Mikro yang ada di Kabupaten Minahasa Utara. Metode yang di gunakan adalah LQ (Location Quotient) dan Shift Share untuk mengidentifikasi sektor dan komoditi unggulan. Metode Analisis Regresi Berganda untuk melihat pengaruh dari UMKM sector unggulan terhadap percepatan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Minahasa Utara. Hasil penelitian Sektor Basis di kabupaten Minahasa Utara adalah Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan; Sektor pertambangan dan penggalian; Sektor industri pengolahan; Sektor pengadaan listrik dan gas; Sektor konstruksi; Sektor Real Estate dan Sektor Jasa Pendidikan. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara memberikan pengaruh positif terhadap perekonomian di Kabupaten Minahasa Utara. Perekonomian Kabupaten Minahasa Utara mengalami kemajuan dan mulai memiliki daya saing. Sektor yang memberi pengaruh terbesar dalam percepatan penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Minahasa Utara adalah sector industry pengolahan diikuti sector pertanian dan sektor konstruksi. Kata Kunci : Sektor Unggulan, UMKM dan Kemiskina
ANALISIS EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN MINAHASA TENGGARA
Abstrak Pengelolaan keuangan Daerah yang maksimal guna meningkatkan perekonomian dengan menggenjot sector-sektor potensial yang dimiliki serta membuat kebijakan yang benar-benar mengena kepada msyarakat merupakan semangat utama dalam otonomi daerah, yang mendesentralisasikan kewenangan dan keuangan dari pusat ke daerah. Selain itu pemerintah daerah juga dituntut untuk bisa meningkatkan sumber pendapatannya dan perlahan-lahan bisa berada di tahap kemandirian dan mengurangi ketergantungan terhadap dana alokasi dari pemerintah pusat. Kata kunci  : Efektivitas, Efisiensi, Pendapatan Asli daerah, Otonomi Abstract The financial management area is the maximum in order to boost the economy by boosting the potential sectors that are owned and create policies that really hit the msyarakat is the main spirit of regional autonomy, which is decentralizing authority and finance from the center to the regions. In addition, local governments are also required to be able to increase its revenue sources and slowly could be in the stage of self-sufficiency and reduce dependence on allocation of funds from the central government. Keywords : Effectiveness, Efficiency, Local Revenue, Autonom
ANALISIS PENGARUH BELANJA LANGSUNG DAN BELANJA TIDAK LANGSUNG TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI SEKTOR KEUANGAN, REAL ESTATE, DAN JASA PERUSAHAAN DI KOTA MANADO (2007-2013)
ANALISIS PENGARUH BELANJA LANGSUNG DAN BELANJA TIDAK LANGSUNG TERHADAP PENINGKATAN EKONOMI SEKTOR KEUANGAN, REAL ESTATE, DAN JASA PERUSAHAAN DI KOTA MANADO (2007-2013) Steffi Iksan, Rosalina A.M Koleangan, Een J. Walewangko. Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi [email protected]  Abstract Alokasi belanja pemerintah sangat erat kaitannya dengan pembangunan yang terjadi di pusat maupun di daerah salah satunya adalah pembangunan dalam bidang ekonomi, tentu selain baik alokasi anggaran yang dikeluarkan pemerintah melalui belanja langsung dan belanja tidak langsung untuk pembangunan sector ekonomi maka akan semakin baik pula peningkatan atau pertumbuhan yang terjadi pada sector ekonomi tersebut yang secara agregat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda untuk melihat seberap besar pengaruh belanja langsung dan belanja tidak mempengaruhi peningkatan sector keuangan, real estate dan jasa keuangan. Dan dari hasil penghitungan matematika didapatkan hasil bahwa belanja langsung tidak mempunyai korelasi positif dan signifikan terhadap peningkatan sector yang diteliti, begitu pun dengan alokasi belanja tidak langsung mempunyai korelasi positif namun tingkat signifikansinya masih kurang apabila dilihat secara parsial. Namun pada saat dilakukan penghitungan R square didapatkan angka 88,5 tingkat keterpengaruhan dua variable independent atau variable belanja belanja langsung dan tidak langsung terhadap variable dependent sector keuangan, real estate dan jasa perusahaan.  Kata kunci : Belanja Langsung, belanja tidak langsung, pertumbuhan ekonomi  Abstract The allocation of government spending is closely associated with the development that occurs in the central and local levels one of which is the development in the field of economics, of course in addition to better budget allocation by the government through direct expenditures and indirect expenditures for the construction sector of the economy, the better the increase or growth that occurred in the economic sector which in aggregate would increase economic growth.  In this study used multiple regression analysis to see the influence seberap direct expenditure and expenditure does not affect the increase in the financial sector, real estate and financial services. And the results of mathematical calculations showed that direct spending does not have a positive and significant correlation to increased sectors studied, as was the allocation of indirect expenditure has positive correlation but still less than the level of significance when seen partially. However, at the time of calculation of figures obtained  R  square 88.5 percent influence level two independent variables or variable direct  expenditure and indirect expenditure the dependent variable financial sector, real estate and business services.  Keywords: Direct expenditure, indirect expenditure, economic growt
ANALISIS PENDAPATAN PAJAK DAN RETRIBUSI TERHADAP BELANJA MODAL DAM DAMPAKNYA PADA PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA MANADO 2007-2015
ANALISIS PENDAPATAN PAJAK DAN RETRIBUSI TERHADAP BELANJA MODAL DAM DAMPAKNYA PADA PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA MANADO 2007-2015 Nofianti. L Halim, Anderson G Kumenaung, Daisy S,M Engka Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Magister Ilmu Ekonomi Universitas Sam Ratulangi, Manado Abstrak Alokasi belanja pemerintah sangat erat kaitannya dengan pembangunan yang terjadi di pusat maupun di daerah salah satunya adalah pembangunan dalam bidang ekonomi, tentu selain baik alokasi anggaran yang dikeluarkan pemerintah melalui belanja langsung dan belanja tidak langsung untuk pembangunan sector ekonomi maka akan semakin baik pula peningkatan atau pertumbuhan yang terjadi pada sector ekonomi tersebut yang secara agregat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda untuk melihat seberap besar pengaruh belanja langsung dan belanja tidak mempengaruhi peningkatan sector keuangan, real estate dan jasa keuangan. Dan dari hasil penghitungan matematika didapatkan hasil bahwa belanja langsung tidak mempunyai korelasi positif dan signifikan terhadap peningkatan sector yang diteliti, begitu pun dengan alokasi belanja tidak langsung mempunyai korelasi positif namun tingkat signifikansinya masih kurang apabila dilihat secara parsial. Namun pada saat dilakukan penghitungan R square didapatkan angka positif tingkat keterpengaruhan dua variable independent atau variable belanja belanja langsung dan tidak langsung terhadap variable dependent pertumbuhan ekonomi.  Kata kunci : Pajak, retribusi belanja modal, pertumbuhan ekonomi  Abstract The allocation of government spending is closely associated with the development that occurs in the central and local levels one of which is the development in the field of economics, of course in addition to better budget allocation by the government through direct expenditures and indirect expenditures for the construction sector of the economy, the better the increase or growth that occurred in the economic sector which in aggregate would increase economic growth.  In this study used multiple regression analysis to see the influence seberap direct expenditure and expenditure does not affect the increase in the financial sector, real estate and financial services. And the results of mathematical calculations showed that direct spending does not have a positive and significant correlation to increased sectors studied, as was the allocation of indirect expenditure has positive correlation but still less than the level of significance when seen partially. However, at the time of calculation of figures obtained R square positively influence level two independent variables or variable direct expenditure and indirect expenditure the dependent variable economic growth.  Keywords: tax, levies, capital expenditure, economic growt
ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN PAJAK DAN RETRIBUSI TERHADAP BELANJA LANGSUNG DAN DAMPAKNYA PADA PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA BITUNG 2005-2014
ANALISIS PENGARUH PENDAPATAN PAJAK DAN RETRIBUSI TERHADAP BELANJA LANGSUNG DAN DAMPAKNYA PADA PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA BITUNG 2005-2014 Debora Christian Wola, D.P.E Saerang, Een N Walewangko Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Magister Ilmu Ekonomi Universitas Sam Ratulangi, Manado ABSTRAK Otonomi daerah sejatinya merupakan pelimpahan wewenang dari sentralisasi ke desentralisasi, artinya kewenangan dari pusat sudah dilimpahkan ke daerah begitu juga dengan pengelolaan anggaran rumah tangganya sendiri. Kemandirian ekonomi sebuah daerah juga dinilai dari tingkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dimiliki dibandingkan dengan dana transfer dari pemerintah pusat. Sumber-sumber PAD terbesar datang dari pajak, retribusi dan PAD lain yang sah. Dalam penelitian ini digunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk mengetahui seberapa besar sumber-sumber PAD yakni pendapatan pajak, pendapatan retribusi mempengaruhi belanja pembangunan/ belanja langsung kota Bitung. Dalam penelitian didapatkan hasil bahwa, pajak dan retribusi pengaruhnya secara partial terhadap belanja langsung masih amat kecil, hal yang hampir sama juga terjadi pada tingkat pengaruh secara simultan walaupun sedikit mengalami peningkatan namun tidak berpengaruh secara signifikan. Sedangkan untuk pengaruh alokasi belanja langsung terhadap pertumbuhan ekonomi amat signifikan baik secara partial maupun secara simultan.  Kata kunci : PAD, Pendapatan Pajak (PP), Retribusi, Belanja Langsung (BL), Pertumbuhan Ekonomi.  ABSTRACT Regional autonomy is actually the delegation of authority from centralization to decentralization, meaning that the authority of the center has been delegated to the regions as well as the management of their own household budget. Economic independence of a region are also assessed on the level of revenue (PAD) owned compared to the transfer of funds from the central government. The PAD sources come from taxes, fees and other legitimate PAD. In this study used Ordinary Least Square (OLS) to determine how much revenue sources namely income tax, income levy affects development expenditure / direct expenditure Bitung town. In the study showed that, taxes and charges are partial influence on direct spending is still very small, almost the same thing happened at the level of influence simultaneously, although slightly increased, but not significantly. As for the effect of the allocation of direct spending on economic growth is very significant for both partially and simultaneously.  Keywords: Local Own-Source Revenue, Income Taxes, Levy, Direct Expenditure, Economic Growth
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DALAM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH TAHUN 2007-2013 DI KABUPATEN BANGGAI PROVINSI SULAWESI TENGAH
ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN EFEKTIFITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH TAHUN 2007 - 2013 DI KABUPATEN BANGGAI Yofandi Himran, Rosalina A.M Koleangan, George Kawung Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Magister Ilmu Ekonomi Universitas Sam Ratulangi, Manado ABSTRAK Pendapatan asli daerah (PAD) dan dana perimbangan merupakan sumber penerimaan daerah dan bila semakin besar penerimaan PAD maka semakin kecil ketergantungan pada pemerintah pusat, sebab PAD merupakan sumber penerimaan dari dalam daerah sendiri yang di pungut berdasarkan ketentuan undang-undang yang berlaku. Penelitian ini bertujuan mengetahui besar kecilnya tingkat kemandirian, ketergantungan dan desentralisasi selama kurun waktu 2007-2013, di kabupaten banggai dan dari hasil analisis dapat di lihat rata-rata kinerja keuangan daerah menggambarkan kinerja keuangan yang belum optimal dalam menjalankan atau melaksanakan otonomi daerah, hal itu dapat di lihat dari hasil PAD yang di capai masih sangat kecil dan dapat di tunjukan dengan indikator-indikator kinerja keuangan daerah: Pertama analisis rata-rata kemandirian keuangan daerah tahun 2007-2013 adalah 23,86% sehingga di klasifikasi menurut kriteria penilaian bahwa rasio kemandirian bersifat cukup artinya belum sepenuhnya mandiri masih ketergantungan bantuan dana pada pemerintah pusat, kedua bahwa rata-rata ketergantungan keuangan daerah tahun 2007-2013, adalah 30,73% sehingga diklasifikasikan menurut kriteria penilaian bahwa rasio ketergantungan bersifat cukup artinya belum spenuhnya mandiri masih ketergantungan dengan pemerintah pusat. Ketiga analisis rasa-rasa rasio desentralisasi keuangan daerah tahun 2007-2013 adalah 25,52% sehingga di klasifikasikan menurut kriteria penilaian bersifat sedang, hal ini mengandung makna bahwa kontribusi PAD dalam menopang pendapatan daerah cenderung masih sangat rendah. Keempat berdasarkan hasil analisis bahwa efektifitas pengelolaan keuangan daerah sebesar 109,86% hal ini menunjukan bahwa diatas 100% merupakan sangat efektif. Kata Kunci : Evaluasi Kinerja Keuangan, Penerimaan Daerah, Efektifitas Keuangan ABSTRACT Local revenue and the balance funds are a source of local revenue, and when the greater acceptance of the local revenue, the smaller dependence on the central government, because Local revenue is a source of revenue from the region itself, which collected under the provisions of the applicable laws. This study aims to determine the size of the level of independence, dependence and decentralization during the period 2007-2013, in Banggai and analysis results can be viewed on average describe the financial performance of financial performance is not optimal in running or implementing regional autonomy, it can be seen from the results achieved Local revenue is still very small and can be shown by indicators of financial performance areas: First analysis of the average local financial independence in 2007-2013 was 23.86%, so in a classification according to the assessment criteria that independence ratio are not fully self sufficient means they dependency on central government funding, the second that the average area of ​​the 2007-2013 financial dependence, is 30.73% that are classified according to the assessment criteria that the dependency ratio is sufficiently independent spenuhnya means yet still dependence with government center. Third analysis flavors of local financial decentralization ratio in 2007-2013 was 25.52% thus classified according to the assessment criteria are being, this implies that the contribution of Local revenue in the region tends to sustain income is still very low. The fourth is based on the analysis that the effectiveness of financial management amounted to 109.86%, this shows that it is above 100% is very effective. Keywords: Evaluation of Financial Performance, Local Revenue, Financial Effectivenes
STRATEGI PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH
ABSTRAK            Kajian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerah dalam rangka meningkatkan kapasitas pembangunan ekonomi yang ada disetiap daerah. Secara teoritis ada 3 strategi petumbuhan dan pembangunan ekonomi yakni: strategi upaya minimum kritis, strategi pembangunan seimbang dan strategi pembangunan tak seimbang. Sedangkan strategi pembangunan ekonomi daerah terdapat 4 strategi yakni: strategi pengembangan fisik/lokalitas, strategi pengembangan dunia usaha, strategi pengembangan sumberdaya manusia dan strategi pengembangan ekonomi masyarakat. Kata kunci: Strategi pertumbuhan, pembangunan ekonomi,                   pembangunan ekonomi Daerah
ANALISIS PENDAPATAN DAN POLA KONSUMSI MASYARAKAT NELAYAN DESA ARAKAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN
ANALISIS PENDAPATAN DAN POLA KONSUMSI MASYARAKAT NELAYAN DESA ARAKAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN Jacline I. Sumual, Wensy F.I.Rompas, Steeva Y.L.Tumangkeng Ekonomi Pembangunan-Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Email : [email protected] ABSTRAK Tingkat pendapatan usaha penangkapan ikan secara tradisional relatif rendah . Rendahnya tingkat produksi tersebut disebabkan jangkauan daerah penangkapan ikan secara tradisional masih tergantung pada musim, maka pada saat-saat tertentu mengalami masa menganggur terutama pada musim hujan yang disertai dengan angin. Hal ini berarti jika pendapatan kurang akan membawa kemiskinan. Sampai saat ini belum dapat diidentifikasikan kegiatan nelayan pada musim tersebut, kalau tidak melaut berarti sejauh mana kemungkinan penciptaan kesempatan kerja yang sesuai agar nelayan dapat memperoleh pendapatan dimusim tidak kelaut. Tujuan yang akan di capai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana pendapatan nelayan di Desa Arakan Kabupaten Minahasa Selatan , Apakah usaha nelayan (menangkap ikan) mendapatkan keuntungan dan Bagaimana Pendapatan dan  pola konsumsi masyarakat nelayan di Desa Arakan serta Pengaruh pendapatan terhadap Pola Konsumsi. Hal ini dimaksudkan untuk melihat dan mengevaluasi kebijakan dan bantuan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan yang sampai sekarang di kategorikan masyarakat miskin . Kata Kunci : Nelayan, Pendapatan, Konsumsi  ABSTRACT The income level of fishing effort has traditionally been relatively low. The low level of production is due to the reach of traditional fishing areas still depend on the season, then at certain moments experienced spells of unemployment, especially in the rainy season, along with the wind. This means that if the income is less will bring poverty. Until now there has been an identifiable fishing activities on the season, if not to fish means the extent to which the possibility of the creation of appropriate employment opportunities so that fishermen can earn season is not the sea. Arakan villages with a population largely ethnic Bajo livelihood from fishing or fishing. However, some members of the public as well as farmers as a side job. The objective will be achieved in this research is to know how the income of fishermen in the village of Arakan South Minahasa regency Is fishing effort (fishing) benefit and How to consumption patterns in the fishing village of Arakan. It is intended to look at and evaluate policies and help the government to improve the welfare of fishermen that until now categorized poor. Keywords: Fisherman, Income, Consumptio
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PADI SAWAH DI KECAMATAN DUMOGA
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI PADI SAWAH DI KECAMATAN DUMOGA Rika I.K.A Mantiri, Debby Ch. Rotinsulu, Sri Murni [email protected] Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi  ABSTRAK  Dumoga merupakan salah satu daerah di Kabupaten Bolaang Mongondow, yang menjadi kawasan andalan di Provinsi Sulawesi Utara sebagai sentra penghasil beras. Dumoga sampai saat ini masih merupakan daerah penghasil beras utama di kawasan Bolaang Mongondow Raya dan Provinsi Sulawesi Utara, sehingga memiliki peran yang penting dalam upaya pemenuhan pangan masyarakat, terutama dengan hasil pertanian berupa beras yang dapat diunggulkan. Upaya untuk mempertahankan Dumoga sebagai sentra produksi padi di Provinsi Sulawesi Utara memiliki peran strategis terutama dalam pembangunan nasional, termasuk di wilayah Kawasan Timur Indonesia. Pengembangan potensi pertanian sangat penting, termasuk pengembangan potensi para petani di Dumoga yang menjadi daerah utama penghasil beras di Bolaang Mongondow Raya. Adapun tujuan penelitian ini adalah 1). Melakukan kajian tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi Padi Sawah. 2). Mencari solusi terhadap permasalahan yang menjadi temuan, terhadap faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi padi sawah dan pembangunan perekonomian. Penelitian ini menggunakan jenis data kualitatif dan kuantitatif. Penetapan informan menggunakan teknik pourposive sampling yaitu penentuan yang bertujan berdasarkan kreteria tertentu sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian Informasi diperoleh peneliti, melalui wawancara mendalam, pengamatan dan observasi partisipan terhadap berbagai aktivitas dunia empirik terutama terhadap unit analisis. Hasil penelitian ditemukan bahwa Permasalahan pertanian dan ekonomi a). Secara umum potensi sumber daya manusia masih relative rendah. b). Produktifitas agri bisnis masih rendah, karena penguasaan teknologi dan kemampuan sumber daya manusia rendah. c).Keterbatasan modal usaha, sehingga peningkatan kualitas dan kuantitas produksi tahunan rendah. d). Pemasaran produk pertanian masih melalui pasar-pasar tradisional, ketersediaan pasar/terminal agri bisnis belum memadai, sehingga menjadi penyebab kurangnya promosi produk agribisnis yang dihasilkan.  Keyword :Analisis, Faktor Produksi, Padi, Dumoga ABSTRACT  Dumoga is one area in Bolaang Mongondow, which became a key region in the province of North Sulawesi as rice production centers. Dumoga is still a major rice-producing areas in the region Bolaang Mongondow and North Sulawesi province, so it has an important role in the effort to fulfill the people's food, especially with agricultural products such as rice that can be seeded. Efforts to maintain Dumoga as a center of rice production in North Sulawesi province has a strategic role especially in national development, including in the area of ​​eastern Indonesia. The potential development of agriculture is crucial, including the potential development of farmers in Dumoga the major rice producing areas in Bolaang Mongondow. The purpose of this research is 1).Conduct studies on factors affecting Rice Production. 2).Finding solutions to the problems of the findings, the factors that affect the production of rice production and economic development. This research uses qualitative and quantitative data. Determination of informants using sampling techniques purposive determination based on certain criteria appropriate to the problem and research objectives researchers obtained information, through in-depth interviews, observation and participant observation of the various activities of the empirical world, especially to the unit of analysis. Results of the study found that the problems of agriculture and the economy a). In general, human resource potential is still relatively low. b). Agriculture business productivity is low, because the mastery of technology and human resource capacity is low. c) .lack venture capital, thus improving the quality and quantity of annual production is low. d). Marketing of agricultural products is still through traditional markets, the availability of market / business inadequate agriculture terminal, thus becoming the cause of a lack of promotion of agribusiness products are produced.  Keyword: Analysis, Production Factors, Rice, Dumog