REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, dan Animasi
Not a member yet
198 research outputs found
Sort by
Auto Lip-Sync Pada Karakter Virtual 3 Dimensi Menggunakan Blendshape
Proses pembuatan karakter virtual 3D yang dapat berbicara seperti manusia merupakan tantangan tersendiri bagi animator. Problematika yang muncul adalah dibutuhkan waktu lama dalam proses pengerjaan serta kompleksitas dari berbagai macam fonem penyusun kalimat. Teknik auto lip-sync digunakan untuk melakukan pembentukan karakter virtual 3D yang dapat berbicara seperti manusia pada umumnya. Preston blair phoneme series dijadikan acuan sebagai pembentukan viseme dalam karakter. Proses pemecahan fonem dan sinkronisasi audio dalam software 3D menjadi tahapan akhir dalam proses pembentukan auto lip-sync dalam karakter virtual 3D. Auto Lip-Sync on 3D Virtual Character Using Blendshape. Process of making a 3D virtual character who can speak like humans is a challenge for the animators. The problem that arise is that it takes a long time in the process as well as the complexity of the various phonemes making up sentences. Auto lip-sync technique is used to make the formation of a 3D virtual character who can speak like humans in general. Preston Blair phoneme series used as the reference in forming viseme in character. The phonemes solving process and audio synchronization in 3D software becomes the final stage in the process of auto lip-sync in a 3D virtual character
Perancangan Web Series Film Dokumenter sebagai Media Revitalisasi Kopi Jawa di Ngawonggo, Kaliangkrik, Magelang, Jawa Tengah
ABSTRAKRevitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Dalam konteks ini, revitalisasi pertanian mengandung arti sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual, dalam arti menyegarkan kembali vitalitas, memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian dalam pembangunan dengan tanpa mengabaikan sektor lainnya. Pemerintah mewujudkan hal ini dengan mendorong sektor pertanian kopi sebagai salah satu penguat daya saing Indonesia di pasar internasional. Berbicara kopi di Indonesia tidak akan pernah bisa lepas dari sejarah kopi di Jawa. Kopi Jawa (java coffee) yang kemudian sering disebut ini merupakan salah satu cikal bakal dikenalnya Indonesia sebagai salah satu negara terbesar penghasil kopi di dunia. Berdasar uraian tersebut, web series dipilih sebagai media ungkap dalam upaya peran serta memajukan para petani kopi menuju kemandirian serta kedaulatan ekonomi menuju desa berdaya melalui potensi masyarakat desa. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam perancangan web series ini. Hal ini dilakukan guna mendapatkan data-data penting secara substantif dalam penyusunan unsur naratif (cerita) berkenaan dengan Kopi Kaliangkrik di Desa Ngawonggo, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Perancangan web series ini bertujuan mewujudkan film dokumenter sebagai salah satu media revitalisasi kopi, terutama kopi jawa. Hasil yang dicapai dalam perancangan web series ini adalah peran serta media sebagai salah satu sarana dalam upaya peningkatan nilai tambah (creating value add) produk pertanian kopi di Indonesia. Revitalization is the process, method, act of reviving or activating it. In this context, agricultural revitalization implies awareness to place proportional and contextual importance in the agricultural sector, in the sense of refreshing vitality, empowering capabilities and improving agricultural performance in development without ignoring other sectors. The government makes this happen by encouraging the coffee agriculture sector as one of the strengthens of Indonesia's competitiveness in the international market. Talking about coffee in Indonesia can never be separated from the history of coffee in Java. Java coffee (java coffee) which is then often referred to is one of the forerunners of the recognition of Indonesia as one of the largest coffee producing countries in the world. Based on this description, the web series was chosen as a media to express in an effort to participate in advancing coffee farmers towards independence and economic sovereignty towards empowered villages through the potential of rural communities. Qualitative descriptive methods are used in designing this web series. This was done in order to obtain important data substantively in the compilation of narrative elements (stories) regarding Kaliangkrik Coffee in Ngawonggo Village, Kaliangkrik District, Magelang Regency, Central Java Province. The web series design aims to realize documentary films as one of the coffee revitalization media, especially Java coffee. The results achieved in the design of this web series are the role of the media as one of the means in an effort to increase the added value (creating value add) of coffee agricultural products in Indonesia
Produksi Kultural Film Indie Ke-“Tionghoa”-An di Indonesia*
Produksi kultural film indie ke-“tionghoa”-an berada pada struktur ruang yang membangunrelasi antarposisi dengan produksi karya lainnya. Keberadaan masyarakat Tionghoa yangsenantiasa dipermasalahkan menyebabkan agen-agen sosial berupaya membuka ruangkemungkinan melalui produksi karya. Metode yang dipergunakan adalah konstruktivismesosial yang melibatkan agen melalui production activity sehingga agen akan terlibat dalamdunianya sendiri. Dalam hal ini, upaya yang dilakukan dalam struktur ruang tersebut adalahberusaha mencapai legitimasi dalam suatu struktur kuasa. Hal tersebutdiupayakan oleh agenpemroduksi film indie ke-“tionghoa”-an yang kapital modalnya lebih rendah bila dibandingkandengan produksi film komersial atau layar lebar. Strategi yang dipergunakan untuk memperolehlegitimasi film indie ke-“tionghoa-“an adalah dengan mengikuti festival film di luar negerisebagai tataran legitimasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan legitimasi yang terbangundi Indonesia melalui habitus. Dengan menempatkan Indonesia sebagai bagian dari masyarakatdunia, dominasi struktur kuasa akan mengecil. Melalui karya film indie tersebut dibanguneksistensi dan prestise melalui ekspresi karya sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkanpengakuan dan kepercayaan masyarakat dunia mengenai ke-“tionghoa”-an di Indonesia. Cultural Production of Indie Movies With Chineseness Theme in Indonesia. Culturalproduction in indie movies telling story about chineseness exists within a space structure thatestablishes a relation between the position and the production of other movies. The existenceof Chinese society that always inflicts polemic drives the social agents to try to open roomsof possibility by producing opuses. The method employed is social constructivism involvingagents through production activities so that those agents will get involved in their own world.In this case, the effort carried out is struggling to gain legitimation in a power structure. It ispracticed by indie movie producer agents who have lower production budget compared to thecommercial movie producers. In doing this, the strategy employed is joining movie festivalsabroad, considered as a higher level of legitimation, legitimation built in Indonesia via habitus.By posing Indonesian society as a part of the international society, the domination of powerstructure will lessen. Acknowledged through indie movies, existence and prestige are built bythe expression of their works in the form of movies as an opportunity to get recognition andtrust from the world society regarding the chineseness in Indonesia
Cross Culture Generasi Milenial dalam Film “My Generation”
This research aims to explore the signs that represent the millennial generation cross culture in the film My Generation (2017) by Upi Avianto. This film, shows the dynamics of life for generations of millennials in the era of technological development. Unlike teen films in general, this film dares to portray the reality of a teenager's life from the results of two years of director research through social media. So that the film portrays the cross-culture of the millennial generation with what is positive and negative. With Roland Barthes's semiotic analysis method and qualitative descriptive approach and constructivist paradigm. The theory used by researchers is the Representation theory of Stuart Hall. From this research shows the millennial cross culture is represented by various scenes that describe habits and characters that are different from the previous generation. Millennial generation's cross culture is shown in differences in social norms which do not care about politeness values, millennial generation stereotypes, differences in life perspectives that tend to be free or liberal, broader, open and courageous to show differences, and a strong and optimistic mindset
Estetika Formalis Film Pohon Penghujan Sutradara Andra Fembriarto
Penelitian berjudul Estetika Formalis Film Pohon Penghujan Sutradara Andra Fembriarto menggunakan metode penelitian kualitatif, pendekatan estetika formalis Sergei Eisenstein dan teori estetika formalis Sergei Eisenstein. Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui estetika formalis dari film Pohon Penghujan sehingga dapat diketahui makna dibalik film Pohon Penghujan. Permasalahan yang muncul dalam penelitian adalah estetika formalis dalam film Pohon Penghujan Sutradara Andra Fembriarto. Analisis yang dilakukan adalah analisis interpretasi pendekatan estetika formalis Sergei Eisenstein, yaitu mise-en-scene, sinematografi, montase dan suara. Hasil yang didapatkan dalam penelitian adalah terpilihnya empat adegan berdasarkan tingkat dramatik film dan makna dibalik keempat adegan tersebut.The research of Formalist Aesthetics of Rainy Tree Film directed by Andra Fembriarto uses method of qualitative research, formalist aesthetics approach and Sergei Eisenstein formalist aesthetics theory. The aim of this research is the truth of formalist aesthetics Pohon Penghujan film so that it can be seen artistic message of Pohon Penghujan film. The main problems that arise in this research is formalist aesthetics of Rainy Tree Film directed by Andra Fembriarto. Analysis for this research is Sergei Eisenstein formalist aesthetics approach: mise-en-scene, cinematography, montage dan sound. The results of this research is artistic message of Pohon Penghujan film as formalist aesthetics
Colour Splash untuk Model Perempuan dalam Fotografi Ekspresi
AbstrakPenciptaan karya fotografi ini berjudul “Colour Splash untuk Model Perempuan dalam Fotografi Ekspresi”. Tujuan penciptaan karya fotografi ini untuk: (1) mendeskripsikan visualisasi respons colour splash dengan percikan air dan ledakan holi powder untuk objek model perempuan dalam karya fotografi ekspresi; (2) menjelaskan faktor yang mendukung sehingga karya colour splash dan objek perempuan menarik jika divisualisasikan menjadi karya fotografi ekspresi; dan (3) menjelaskan alasan colour splash dengan percikan air dan ledakan holi powder untuk objek perempuan menjadi daya tarik apabila dijadikan karya fotografi ekspresi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi, dengan cara pengumpulan data, yaitu mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu objek dalam suatu periode tertentu dan dengan merekam hal-hal tertentu yang diamati. Metode ini dilakukan dengan menjabarkan apa yang ingin disampaikan disertai dengan eksplorasi dan eksperimen terhadap objek, lokasi, alat, dan teknik yang akan dipakai dalam fotografi colour splash. Hasil dari penciptaan karya fotografi ini adalah penulis secara detail menjadi tahu tentang proses kreatif penciptaan karya fotografi seni. Bahwa ledakan warna dan percikan air yang berwarna bisa didukung oleh objek perempuan yang mampu menghasilkan foto yang bernilai artistik sekaligus menjadi pengalaman seni yang baru. AbstractColor Splash for Female Models in Fine Art Photography. This creation of photography is entitled “Color Splash for Female Models in Fine Art Photography”. The aims of this creation are (1) describing visual response towards color splash with water splash and holi powder explosion on the female models in the context of fine art photography; (2) explaining supportive factors which are able to make the female objects and the color splash look interesting visually in fine art photography; and (3) explaining the reasons why color splash with water splash and holi powder on the female objects become attractive in fine art photography. The method used in this research was the observatory method by means of collecting data, which were conducting direct observation of an object in a certain period of time and recording them. This method was conducted by describing everything which was needed to be delivered along with the exploration and experiment towards the objects, location, tools, and techniques used in color splash photography. This study resulting a deep knowledge of the creative process in fine art photography creation, that the color explosion and the colorful water splash could support the female photographic objects in order to create artistic photographs and whole new artistic experience
Teknik Cetak Foto Chlorophyll Print
Sejarah mengatakan Thomas Wedgewood memulai kegiatan merekam objek pada sebuah media dua dimensi semenjak tahun 1800-an. Kegiatan merekam ini terus berulang hingga perkembangannya memengaruhi banyak aspek dalam dunia fotografi. Teknologi fotografi era digital memang menawarkan kemudahan dan kenyamanan penggunanya. Proses cetak fotografi pada era digital memungkinkan sebuah foto dicetak di banyak ragam material, seperti kaca, kain, dan kayu. Artinya teknik cetak cukup mengundang daya tarik karena memiliki nilai-nilai visual, seperti bentuk, kontras, dan tekstur. Seniman fotografi berusaha mewujudkan imaji penciptaan karya seninya melalui pertimbangan ide kreatif dan pencapaian estetis. Penggabungan teknikal dengan memanfaatkan pengolahan komputer dan pengolahan analog saat ini cukup diidolakan untuk menampilkan ciri khas seorang fotografer, seperti teknik chlorophyll print yang mengandalkan daun serta proses penyinaran untuk pembentukan image dari proses fotosintesis.Photo Print Technique the Chlorophyll Print. In 1800 Thomas Wedgwood began to capture the object on a two dimensional media with photographic materials. This repetitive activity affects many aspects of photography. As in the era of digital photography offers many facilities, convenience, and comfort for the user. Photo printing process in the digital age allows a photograph printed in a wide variety of materials, such as glass, fabric, and wood. It means printing technique is quite inviting appeal because it has a visual values, such as shape, contrast and texture. Many photographic artists try to create an image by considering the creation of creative ideas and aesthetics. Utilizing computer processing and analog processing is the idea of chlorophyll printing technique to form an image by photosynthesis process
Sejarah Singkat Studio Fotografi Potret di Yogyakarta 1945-1975: Sumber Daya Manusia, Teknologi, dan Kreasi Artistiknya
Penulisan sejarah fotografi di Indonesia pascakemerdekaan boleh dikatakan masih belum banyak dilakukan. Catatan sejarah yang ada lebih mengarah pada perjalanan fotografi dalam merekam momen pra dan pascakemerdekaan, yang sebagian besar bersumber pada foto-foto dokumen milik IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). Ini berarti, masih dibutuhkan penelusuran lebih lanjut guna merekonstruksi sejarah fotografi Indonesia dalam bidang yang lain, studio misalnya. Tulisan ini membahas perkembangan studio foto di Yogyakarta pascakemerdekaan. Hal yang dijadikan fokus utama ialah sumber daya manusia, teknologi, dan upaya-upaya artistik yang dilakukan dalam praktik studio foto masa itu. Penelusuran sejarah dilakukan dengan metode wawancara kepada pemilik studio, praktisi fotografi yang merupakan pelaku dan saksi sejarah studio fotografi pascakemerdekaan. Observasi juga dilakukan guna mengetahui lebih detail tentang upaya-kreatif yang dilakukan pihak studio foto dalam mewujudkan karyanya. Dapat disimpulkan bahwa aspek teknologi memberi pengaruh besar dalam proses perwujudan karya foto studio. Dapat terlihat bagaimana para pelaku usaha studio foto mengatasi keterbatasan teknologi.A Brief History of Portrait Photography Studio in Yogyakarta 1945-1975: Human Resources, Technology and Artistic It’s Creation.Writing the history of photography in the post-independence Indonesia arguably still not been done. The historical record that there are more leads on a photography trip in the pre and post-independence record the moments, which are largely sourced on the photographs of documents belonging IPPHOS (Indonesian Press Photo Service). This means, still needed further investigation in order to reconstruct the history of photography Indonesia in other fields, for example studio. This paper discusses the development of a photo studio in Yogyakarta post-independence. It is used as the primary focus is human resources, technology, and the efforts made in the artistic practices of the past photo studio. Search history conducted by interview to the owner of the studio, photography practitioner who is the perpetrator and witnesses photography studio post-independence history. Observations were also conducted to determine more details about the creative efforts that made the photo studio in realizing his work. It can be concluded that the technological aspects of great influence in the process embodiment studio photographs. It is noticeable how the photo studio business operators overcome the limitations of technology
Animasi Kartun Bertema Falsafah Jawa sebagai Pendidikan Karakter Bagi Anak Usia Dini
Latar belakang dari penelitian ini adalah adanya berbagai kasus yang bertentangan dengan nilai-nilai moral seperti korupsi yang menunjukkan rendahnya karakter dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan karakter merupakan aspek yang sangat penting dalam memperbaiki nilai moral masyarakat Indonesia. Pendekatan kebudayaan khususnya falsafah Jawa akan dijadikan landasan pendidikan karakter pada anak usia dini. Hal ini karena dalam budaya Jawa sarat akan pendidikan nilai yang merupakan substansi utama dari pendidikan karakter. Dalam budaya Jawa terkandung tata nilai kehidupan Jawa, seperti norma, keyakinan, kebiasaan, konsepsi, dan simbol-simbol yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Jawa.Pendidikan karakter yang digali dari substansi budaya Jawa dapat menjadi pilar pendidikan budi pekerti bangsa. Budaya Jawa memiliki pandangan hidup (yang sering disebut sebagai falsafah hidup) yang merupakan kesatuan pola pikir orang Jawa dalam menempuh kehidupan. Falsafah hidup Jawa adalah saripati perjalanan hidup orang Jawa menjadi “Jawa”. Di dalam falsafah ajaran hidup Jawa, terdapat ajaran keutamaan hidup yang diistilahkan dalam bahasa Jawa sebagai piwulang (wewarah)kautaman. Pendidikan karakter pada anak usia dini menjadi fondasi dasar dalam mengembangkan keterampilan sosial di masa yang akan datang. Pendidikan karakter yang kuat dan kokoh merupakan hal yang penting dan harus ditanamkan sejak dini agar anak bangsa menjadi pribadi yang unggul seperti yang diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional dan dapat memperkokoh bangsa dari pengaruh negative seperti korupsi. Penelitian ini merupakan penelitian deskpritif kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus (case study). Lokasi penelitian adalah dua puluh Taman Kanak-Kanak terpilih di Purwokerto. Pengumpulan data menggunakan teknik in depth interview danfocus group discussion pada informan yang terpilih.Informan dipilih dengan metode purposive sample. Analisis data dilakukan dengan model analisis perbandingan dan interpretasi data. Keabsahan data akan diuji dengan triangulasi sumber dan triangulasi metode. Dalam penelitian ini, temuan yang ditargetkan adalah pembuatan model pendidikan karakter berlandaskan falsafah Jawa.Untuk membantu para guru Taman Kanak-Kanak dalam mengaplikasikan model pendidikan karakter berlandaskan falsafah Jawa, disusun modul pendidikan karakter yang berlandaskan falsafah Jawa yang berbentuk animasi kartun. The backgroud of this study are about cases which are againts moral values, such as, corruption that shows the lowness of character in the society. Because of that, character education is very important to improve Indonesian moral value. Thus, cultural approach especially Javanese philosophy is used as the foundation of character education for early childhood. This is because Javanese culture is rich on education values, so those make it become the main substance of character education. Moreover, Javanese culture contains the social order of society, for example, norms, believes, customs, ideas, and symbols which live and develop in Javanese society. Therefore, character education that is from Javanese culture can be a pillar of nation’s character building. Javanese culture that has philosophies can be the guidance of life. The philosophies are the essence of Javanese to do journey to be Javanese. Furthermore, in Javanese philosophies, there are main teaching which in Java it is called by piwulang (wewarah).The important of character education in the early childhood is the education which can be the foundation to develop social skills in the future. This makes a sturdy and strong character education be necessary to be given since the early childhood, so in the future our generation can be strong characters that are excellent as what it has been hoped in the purpose of national education; and it can make the nation stronger to avoid negative influences like corruption. This study is descriptive qualitative research with case study. The locations of the research are in twenty kindergarthens in Purwokerto that have been selected. Data collection technique is done through indepth interview and focus group discussionon selected informants. Those selected informants are chosen using purposive sample method. Data analysis is done using comparative analysis and data interpretation. Finally, the validity is examined with resource triangualtion and method triangulation. In this research, the result is a model on character education based on Javanese philosophy. To help kidergarthen teachers to apply the model, a modul in the form of animation cartoon is created
Penciptaan Fotografi Surealisme Human and Time
AbstrakWaktu adalah sebuah konsep yang sepenuhnya tergantung pada persepsi manusia. Waktuadalah sebuah konsep yang tergantung pada kejadian-kejadian yang dapat diperbandingkandengan apa yang dialami. Seseorang, bahkan setiap manusia tidak bisa terlepas dari entitaswaktu ini. Sekuat apa pun ingin melepaskan diri, manusia tidak akan pernah lepas dari“sang” waktu, bahkan saat mati pun masih dilingkupi oleh waktu. Berlandaskan pada konseptentang waktu, maka terbesit sebuah ide mengenai penciptaan fotografi dengan tema waktuyang bergaya surealis. Karakteristik karya fotografi ini lebih menekankan pemotretan subjekmanusia dibalut dengan kain putih sebagai representasi waktu. Unsur pencahayaan menjadihal yang sangat diperhatikan agar ekpresi dari subjek dapat terekam dengan baik. Sementaraitu, sifat momen, pilihan arah cahaya, dan eksplorasi dengan menggunakan teknik multipleexposure, menjadi bagian yang juga ditekankan pada karya ini. AbstractThe Creation of Surrealism Photography: Human and Time. Time is a concept that isentirely dependent on human perception. Time is a concept that depends on events that canbe compared with what happened. Someone, even every man cannot be separated from theentity of time. No matter how someone wants to get away, he would never be separated from“his” time, even death is still surrounded by time. Based on the concept of time, then an ideaabout the creation of photography with the theme of time and surrealist styles popped up. Thecharacteristis of this photography project emphasizes on shooting human subjects wrappedin a white cloth as a representation of time. Lighting element is very highly considered toshow the expressions of the subject that it could be recorded properly. In the meanwhile, themoment, the choice of light direction, and exploration using multiple exposure technique, areessential parts of this work