Ilmiah SPIRIT
Not a member yet
361 research outputs found
Sort by
MAKNA PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Ketika penulis memutuskan untuk masuk sekolah pendidikan guru (baca PGA) yang tergambar dalam benak penulis pada waktu itu adalah menjadi guru itu gampang. Beban kerja tidak banyak. Paling-paling kerja kita hanya menghafalkan materi pelajaran yang akan diajarkan kepada murid dan sesekali memeriksa PR atau hasil ujian anak-anak. Waktu yang tersita untuk melakoni pekerjaan juga tidak begitu lama, ya… paling-paling 6 jam setiap harinya. Itu pun banyak waktu istirahatnya. Kalau anak-anak liburan, guru juga ikut libur. Namun, setelah beberapa bulan menjalani pendidikan di bangku sekolah guru tersebut. Penulis baru sadar ternyata menjadi guru bukanlah semudah yang Penulis bayangkan selama ini. Menjadi guru ternyata pekerjaan yang teramat sulit, rumit dan butuh pengorbanan, tidak hanya waktu, melainkan juga pengorbanan pikiran dan perasaan. Menjadi guru berarti memikul amanah yang begitu besar, yang mesti dipertanggungjawabkan, tidak hanya di hadapan manusia melainkan juga kepada Allah SWT. Kelak. Singkatnya, profesi guru ternyata harus dilakoni dengan sepenuh hati, melibatkan hampir segenap kemampuan jiwa dan raga, kemampuan intelektual, fisikal, emosional dan bahkan spiritual sekaligus. Pandangan konstruktivisme tentang pembelajaran, maka kehadiran guru dan murid di ruang kelas lebih dari sekadar mengajar (guru) dan belajar (murid) dalam pengertian yang dipahami selama ini. Menurut pandangan lama, “mengajar, berimplikasi dengan “belajarâ€ÂÂ, siswa belajar kalau guru mengajar: Artinya, dalam kegiatan belajar-mengajar guru lebih mengambil posisi sebagai produsen, karenanya bersifat aktif, sedangkan murid mengambil posisi sebagai konsumen karenanya bersifat pasif. Dalam pengertian ini, mengajar lebih dipandang sebagai, upaya untuk memberikan informasi atau upaya memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid
PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN DAN PERSEPSI KINESTETIK TERHADAP HASIL TEMBAKAN LAY UP BOLABASKET
The Difference Effect of Learning Approach and Kinestetik Perception Toward Lay Up Shoot Result of Basketball (Experimental Study of Massed Practice and Distributed Practice to Male of Sport and Health Education of Teaching and Learning Faculty of Surakarta Tunas Pembangunan University). Thesis. Surakarta. Postgraduate Program of Surakarta Sebelas Maret University, August 2010. This research aims to find out: (1) the difference between the effect of massed practice and distributed practice to the basketball lay up shoot result, (2) the difference of the basketball lay up shoot result between male students with high and low kinestetik perception, (3) the interaction effect between the learning approaches and kinestetik perception to the basketball lay up shoot result. This research employed an experimental method with 2 x 2 factorial design. The population of the research in the study were the male of Sport and Health Education of Teaching and Learning Faculty of Surakarta Tunas Pembangunan University, as many as 60 students. The sampling technique was purposive random sampling. ANOVA was used to analyzing data, the data analysis prerequisite test was done using the sample normality test (Lilliefors test with α = 0.05%) and variance homogeneity test (Bartlett test with α = 0.05%). Based on the result of the analysis, conclusions are drawn as follows: (1) There is a difference massed practice and distributed practice to the basketball lay up shoot result. The effect of learning approach distributed practice is better than that learning approach massed practice, (2) there is a difference to the basketball lay up shoot result between the male students with high and low kinestetik perception. The effect to the basketball lay up shoot result between the students with high kinestetik perception is better then the one with low kinestetik perception, (3) there is a effect of interaction between learning approach with kinestetik perception to the basketball lay up shoot result. The students with high kinestetik perception has according if it is learning approach distributed practice. While the students with low kinestetik perception has according if it is learning approach massed practice
PERBEDAAN PENGARUH METODE MASSED PRACTICE DENGAN DISTRIBUTED PRACTICE TERHADAP KEMAMPUAN PASS ATAS BOLA VOLI YUNIOR KLUB BOLA VOLI RINEX BOYOLALI
Tujuan penelitian ini adalah : (1). Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara latihan passing atas secara terus menerus (massed practice) dan latihan diselingi istirahat (distributed practice) terhadap kemampuan passing atas permainan bola voli yunior klub bola voli Rinex Boyolali. (2). Untuk mengetahui manakah yang lebih baik antara latihan passing atas secara terus menerus dan latihan diselingi istirahat terhadap kemampuan passing atas permainan bola voli yunior klub bola voli Rinex Boyolali. maka penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan randomized control group pretest-posstest design. Pembagian kelompok ke dalam 2 kelompok dengan cara †pairing of subjectâ€ÂÂ. Subyek dalam penelitian ini adalah pemain yunior klub bola voli rinex boyolali yang berjumlah 30 pemain. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tes dan pengukuran yaitu tes Face Wall Volley Test dari AAHPER dalam M Yunus (1992 : 202). Teknik analisis data dilakukan dengan analisis statistik menggunakan uji t dengan taraf signifikansi 5 %. Penelitian ini menghasilkan simpulan sebagai berikut : (1). Ada perbedaaan pengaruh antara latihan Massed Practice dan Distribetud Practice terhadap kemampuan pass atas. Dari uji t yang telah dilakukan di peroleh n9lai t sebesar 4,090 yang ternyata lebih besar dari t tabel 5 % sebesar 1,76. (2). Latihan Distributed Practice lebih baik dari pada latihan Massed Practice terhadap kemampuan pass atas bola voli pada pemain Yunior Klub Bola Voli Rinex Boyolali. Dari perbedaan hasil prosentase kelompok 2 ( latihan Distributed Practice ) sebesar 33,33% lebih baik dari hasil prosentase kelompok 1 (latihan Massed Practice) sebesar 24,468%. ÂÂÂ
PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN SISTEM TERPUSAT DAN ACAK TERHADAP KEMAMPUAN BERMAIN TENIS LAPANGAN DITINJAU DARI KELINCAHAN
The purposes of this study are investigating of : (1) the effect differencebetween the teaching approach with block and random systems to the increasement of tennis ability, (2) increasement difference of the tennis abilityamong group who has the good, medium, and lack levels of agility,3) the interaction effects between teaching approach and the level of agility. The increasement of tennis abilityt is computed by substracting the final test score with the initial one.The agility classification was determined by measuring the level of agility by dodging run test. This research used the experimental method with 2 X 3 factorial design. The sixty college students of The Tunas Pembangunan University as samples. They were divided into six experimental groups andwere drawn by random sampling technique. There wastwo independent variables and a dependent variable. Dependent variable was as a response variable. It was an increasement of tennis ability. The first independent variable was teaching approach, with two levels. They were teaching approach with block andrandom system. The second was agility, with three levels, good, medium, and lack levels. This study was held in The Tunas Pembangunan University, Surakarta. The technique for gathering the data used test and measurement.They were Hewitt’s tennis acheivement test anddodge run test.Whereas for analyzing the data used The Two Ways Analysis of Variance. All statistical computation and analysis used Statistical Software Minitab 16 and Spreadsheed Software (Microsoft Excel 2010). The results of this study show :to the increasement of the tennis ability: (1) There was a significant difference of the effect betweenteaching approach with block and random systems. The effect of the second teaching approach was better than the other. Fobs = 5,13, p (= 0,28) < 0,05. The average of tennis ability increasementwith block system treatment was 37,50. (2) There was a significant difference of the tennis ability increasementamonggroups who has the good, medium, and lack levels of agility. Fobs = 23,33, p (= 0,000) < 0,05. The agility good level group’sability increasement wasthe best one with average of increasement 40,90, the medium level group reachedincreasement average 35,15, while the lack level was 33,20. (3) There was interaction between the teaching approach and the agility level. Fobs = 29,60, p (= 0,035) < 0,05. The good level of agilitygroup with the teaching approach by random system got the best increasement with average score 45,50, while the lack level group with the teaching approach by random system got the lowest, with average score 29,20
ISU, TANTANGAN DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
Pada bagian pertama dipaparkan tentang isu Pendidikan Jasmani dan Olahraga secara global dari beberapa kawasan dunia. Keterlaksanaan kurikulum dibelahan dunia bagian Selatan begitu rendah bila dibandingkan dengan belahan dunia bagian Utara. Selain itu sumber daya financial mengalami pemotongan hingga 40% - 50% dari dana yang dialokasikan, kelengkapan infrastruktur cukuplah rendah disamping kualitas tenaga pengajar yang tidak memenuhi standar kompetensi. Ini menjadi tantangan bagi kita semua. Pada bagian kedua ini dipaparkan tentang perbandingan pendidikan jasmani dari beberapa Negara. Dengan harapan dapat digunakan sebagai acuan dalam menyusun kurikulum bagi guru pemdidikan jasmani, Semoga bermanfaat. ÂÂÂ
OBSERVASIONAL LEARNING : METODE PSIKOLOGIS YANG DILUPAKAN DALAM PSIKOLOGIS OLAHRAGA
Didalam dunia olahraga, banyak sekali penelitian telah dilakukan oleh para ahli termasuk didalamnya adalah penelitian psikologi olahraga. Mengapa atlet mau berlatih keras, pendekatan apa yang dilakukan pelatih supaya atletnya mau berlatih, faktor-faktor psikis apa saja yang meyebabkan atlet dapat berprestasi optimal, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya saja masih terdapat kajian secara psikilogis yang jarang disentuh atau mungkin dilupakan oleh para ahli psikologi olahraga yaitu observasional learning. Dengan adanya kenyataan tersebut, yang menguatkan Penny Mc Cullagh dan Maureen R. Weiss (2002:131) untuk menulis mengenai obsevasional learning ini, dengan maksud supaya pendekatan atau teori psikologis olahraga yang mendukungnya dapat lebih dikenal dan masyarakat olahraga tertarik untuk menggunakannya/mempraktikkannya. Olahraga/pendidikan jasmani tidak seperti bidang pendidikan yang lain yang cukup dilakukan dengan belajar teori, yang apabila atlet/siswa ingin menguasai suatu teknik gerakan menjadi terampil, dia harus rajin berlatih/belajar dalam artian gerak-gerak teknik yang sudah dimengerti secara teori harus dipraktikkan. Dan oleh karena adanya suatu syarat untuk menjadi terampil harus mempraktikkan. Gerakan inilah maka kajian tentang observasional learning menjadi lebih bermakna/penting. Mengapa demikian? yang pertama tentu saja karena didalam praktik pelatihan/pembelajaran gerak olahraga para atlet/siswa terutama kelas pemula memerlukan apa yang namanya contoh model gerakan yang betul ditinjau dari sudut fisiologis, biomekanis dan kinesiologis. Yang kedua tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pelaksanaan gerakan agar supaya menjadi terampil tersebut, dimungkinkan para atlet/siswa akan mengalami cidera. Dalam keadaan cedera inilah atlet/siswa sangat membutuhkan perhatian yang kadang-kadang hal ini diabaikan oleh pelatih/guru olahraganya
PENGEMBANGAN MODEL MODIFIKASI PERMAINAN BOLA TANGAN DAN BASKET UNTUK PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan model modifikasi permainan Bola tangan dan bola basket yang efektif dan dapat diterima untuk pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan untuk Siswa Sekolah Menengah Kejuruan. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan. Pengembangan produk model modifikasi materi permainan Bola tangan dan bola basket dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan untuk Siswa Sekolah menengah Kejuruan dilakukan dengan beberapa tahapan: mendesain draf produk awal, validasi ahli, uji coba skala kecil, revisi tahap I, uji coba skala luas, dan revisi tahap II (revisi terakhir). Subjek penelitian adalah siswa kelas XI (sebelas) Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Metro, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Metro, dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Metro. Subjek penelitian adalah 77 siswa. Validasi ahli dilakukan oleh 1 (satu) orang ahli Pendidikan Jasmani dan 3 (tiga) orang guru.Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Kejuruan. Uji coba skala kecil dilakukan terhadap 16 siswa dan uji coba skala luas dilakukan terhadap 77 siswa. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi dan pengukuran. Data berupa penilaian mengenai kualitas keterterimaan produk, saran untuk produk, dan hasil perhitungan denyut nadi siswa. Teknis analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif persentasi untuk mengugkapkan aspek psikomotor, afektif dan kognitif, serta analisis statistic uji-t dengan taraf signifikan 0,01, untuk mengetahui pengaruh atau perbedaan denyut nadi siswa sebelum dan setelah menggunakan produk. Hasil penelitian ini menghasilkan produk permainan botabas untuk pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Hal ini dapat dilihat dengan efektifitasnya peningkatan denyut nadi rata-rata 54,48% siswa SMK Negeri 1 Metro, SMK Negeri 2 Metro dan SMK Negeri 3 Metro. Dilihat dari keterterimaan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor maka rata-rata pada aspek tersebut berkisar 82,07%. Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan maka disarankan bagi guru Pendidikan Jasmani di Sekolah Menengah Kejuruan dapat menggunakan produk model modifikasi permainan botabas ini, dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, olahraga dan Kesehatan. Karena permainan botabas dapat mengefektifkan proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan
PERSEPSI TERHADAP KESEGARAN JASMANI ORANG USIA LANJUT DI PANTI WREDHA â€ÂÂWENING WARDOYO†UNGARAN TAHUN 2008
Masalah penelitian ini adalah bagaimana persepsi terhadap kesegaran jasmani menurut orang usia lanjut di Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran tahun 2008. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana persepsi terhadap kesegaran jasmani menurut orang usia lanjut di Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran tahun 2008. Dalam penelitian ini metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan teknik angket sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden. Angket yang digunakan adalah angket langsung tipe pilihan yang disampaikan langsung kepada orang yang dimintai informasi tentang dirinya sendiri dengan cara memilih salah satu jawaban yang sudah tersedia. Populasi dalam penelitian ini adalah orang usia lanjut di Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran yang berjumlah 90 orang usia lanjut yang mempunyai sifat sama untuk mendapatkan bimbingan kesegaran jasmani dan sama-sama orang usia lanjut. Sampel yang digunakan adalah orang usia lanjut di Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran yang berjumlah 36 orang usia lanjut dengan mengambil 40% dari populasi. Teknik pengambilan sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive random sampling, yaitu cara pengambilan sampel tanpa pandang bulu dengan pemilihan kelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu untuk dijadikan sampel penelitian adalah orang usia lanjut yang bisa diajak bicara, yang bisa diajak komunikasi, yang tidak pikun dan yang pendengarannya masih baik. Variabel dalam penelitian ini adalah persepsi terhadap kesegaran jasmani yang akan dijadikan sasaran penelitian. Hasil penelitian dan pembahasan penelitian ini adalah persepsi terhadap kesegaran jasmani orang usia lanjut di Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran ditemukan kurang mengerti tentang kesegaran jasmani. Selanjutnya Penulis menyarankan kepada pihak Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran untuk lebih meningkatkan aktivitas olahraga bagi orang usia lanjut agar kesegaran jasmaninya meningkat dan dapat membuat program untuk peningkatan kesegaran jasmani. Kepada pihak Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang pada umumnya dan pihak Jurusan Ilmu Keolahragaan Univesitas Negeri Semarang pada khususnya dapat berkerjasama dan memberikan bantuan seperti pembuatan program untuk meningkatkan kesegaran jasmani bagi orang usia lanjut dan pelatihan olahraga bagi instruktur di Panti Wredha “Wening Wardoyo†Ungaran. ÂÂÂ
PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRICS DAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI TERHADAP PENINGKATAN KETEPATAN TEMBAKAN SEPAKBOLA
This research aims to find out: (1) the difference between the effect of plyometrics knee tuck jump training and plyometrics squat jump training on increased football kicking accuracy, (2) the difference of increased football kicking accuracy between students with high and low leg muscle strength, (3) the interaction effect between the plyometrics training method and leg muscle strength on increased football kicking accuracy.  This research employed an experimental method with 2 x 2 factorial design. The population of the research in the students achievement coaching football of Teaching and Learning Faculty of Surakarta Tunas Pembangunan University, as many as 60 students. The sampling technique was purposive random sampling. ANOVA was used to analyzing data, the data analysis prerequisite test was done using the sample normality test (Lilliefors test with α = 0.05%) and variance homogeneity test (Bartlett test with α = 0.05%).  Based on the result of the analysis, conclusions are drawn as follows: (1) There is a difference plyometrics knee tuck jump training and plyometrics squat jump training on increased football kicking accuracy. The effect of plyometrics squat jump training is better than that plyometrics knee tuck jump training, (2) there is a difference on increased football kicking accuracy between the students with high and low leg muscle strength. The effect to on increased football kicking accuracy between the students with high leg muscle strength is better then the one with low leg muscle strength, (3) there is a effect of interaction between plyometrics training method with leg muscle strength on increased football kicking accuracy. The students with high leg muscle strength has according if it is plyometrics knee tuck jump training. While the students with low leg muscle strength has according if it is plyometrics squat jump training. ÂÂÂ
Instrument Development for Talent Scouting Fencing Athlete Achievement Towards 2022.
Nuruddin Priya Budi Santoso 2012. Instrument Development for talent scouting Fencing Athlete Achievement Towards 2022. This study aimed (1) to determine the indicators that can be used in the development of sports talent scouting instrument towards the achievement of fencing athlete 2022, (2) to determine the validity and reliability of the instrument talent scouting the sport of fencing to the achievements of 2022, (3) to determine the effectiveness of the instrument fencing sport talent scouting achievements towards 2022. This study is a research approach to research and development, the steps are as follows: (1) review the criteria of good tests, (2) analyzesport to be tested, (3) preview literature, (4) select test items, (5) Establish procedures, (6) peer review, (7) pilot study, (8) determine validity reliability Objectivity, (9) develop norms, (10) construct a test manual. From the results of theoretical analysis, the instrument can be chosen sport fencing talent scouting, includes: (1) test coordination / throwing a tennis ball catch, (2) arm muscle power tests / throw a basketball, (3) test the leg muscle power / jump upright, (4) test the agility / running back and forth, (5) test the speed / run 40 m, (6) tests the reaction time, (7) kinestetict perception tests, (8) flexibility tests, (9) test accuracy, (10) multi-stage test