Ilmiah SPIRIT
Not a member yet
    361 research outputs found

    PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBEBAN UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN

    Get PDF
    Sambungan…. 6.  Dosis Pelatihan Berbeban Pelatihan berbeban merupakan pelatihan fisik dengan beban dalam maupun beban luar. Menyusun program pelatihan fisik, khususnya program pelatihan berbeban bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Dalam menyusun program pelatihan harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap hasil pelatihan. Suatu hal yang sangat penting dan sangat menentukan terhadap hasil yang akan dicapai dalam pelatihan adalah penentuan dosis (takaran) beban yang tepat. Dngan pemberian pelatihan dengan dosis yang tepat maka peningkatan kemampuan kondisi tidak akan dapat dicapai

    PENGEMBANGAN MODEL MODIFIKASI PERMAINAN SEPAKBOLA UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan suatu model modifikasi permainan sepakbola yang efektif dan dapat diterima untuk pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan untuk Siswa Sekolah Dasar (SD). Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan model modifikasi permainan sepakbola untuk siswa SD. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan: 1) mendesain draf produk awal, 2) validasi ahli, 3) uji coba skala kecil, 4) revisi tahap I, 5) uji coba skala luas dan 6) revisi tahap II (revis terakhir). Subjek penelitian adalah siswa kelas V (lima) SD Negeri  3 Branti Raya 29 siswa, SD Negeri 3 Candimas 32 siswa, dan SD Negeri 2 Branti Raya 44 siswa. Subjek penelitian adalah 105 siswa. Validasi ahli dilakukan oleh 1 (Satu) orang ahli Pendidikan Jasmani dan 3 (tiga) orang guru pendidikan jasmani di SD. Uji coba skala kecil dilakukan terhadap 26 siswa dan uji coba skala luas dilakukan terhadap 105 siswa. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner, observasi dan pengukuran. Data berupa penilaian mengenai kualitas produk, saran untuk produk, dan hasil perhitungan denyut nadi siswa. Teknis analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif persentasi untuk mengungkapkan asek psikomotor, afektif dan kognitif, serta persentasi rata-rata kenaikan peningkatan denyut nadi. Hasil penelitian ini adalah berupa: 1) permainan sepakbola gawang holahop. 2) Hasil uji efektivitas produk di SD Negeri 3 Branti, SD Negeri 2 Branti, dan SD Negeri 3 Candimas didapatkan hasil rata-rata kenaikan denyut nadi berkisar 50,25 %. 3) Hasil uji keterterimaan produk pada aspek psikomotor, afektif dan kognitif mendapatkan rata-rata 87,62%. Disimpulkan bahwa Pengembangan model modifikasi permainan sepakbola untuk SD menghasilkan suatu produk modifikasi permainan sepakbola gawang holahop yang efektif dan dapat diterima dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di sekolah dasar. Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan maka disarankan bagi guru penjas di sekolah dasar dapat menggunakan produk model modifikasi sepakbola gawang holahop, dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, olahraga dan Kesehatan. Karena permainan sepakbola gawang holahop dapat mengefektifkan proses pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan

    PENATALAKSANAAN PEMBELAJARAN/LATIHAN FISIK BAGI ANAK USIA DINI/SEKOLAH DASAR (Guru/Pelatih sebagai Perancang Program)

    No full text
    Pada dasarnya tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran dan latihan fisik bagi yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam menyusun program pembelajaran/pelatihan fisik harus mempertimbangkan komponen-komponen (1) tujuan, (2) tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak, (3) komponen fisik, dan (4) metode (disesuaikan dengan dunia anak). Guru/pelatih sebagai perencana program pembelajaran/pelatihan harus mempersiapkan strategi belajar yang tepat. Strategi pembelajaran gerak merupakan semua daya upaya dan siasat yang dilakukan oleh guru agar tujuan pembelajaran gerak bisa dicapai secara maksimal. Strategi yang dilakukanoleh guru harus mempertimbangkan (1) urutan materi pengajaran, (2) waktu latihan, (3) lingkungan belajar, dan (4) metode latihan

    PERBEDAAN PENGARUH RASIO KERJA ISTIRAHAT LATIHAN INTERVAL ANAEROB DAN KAPASITAS AEROB TERHADAP KECEPATAN LARI 100 METER PUTRA

    No full text
    The study is aimed at find out: (1) The difference of effect on anaerobic interval practice with break rasio of 1:10, 1:15 and 1:20 to the speed of 100 meter sprint, (2) The difference of effect on the amount of aerobic capacity during practice to the speed of 100 meter sprint, (3) The interaction between the rasio difference of practice-break in anaerobic interval practice and aerobic capacity to the speed of 100 meter sprint. The study uses an experimental method which contains three variabels, i.e. manipulative free variabel (practice method), attributive variabel (aerobic capacity), and bound variabel (the speed of 100 meter sprint). The design of the study is the factorial 3x3. The sample used in this study is all 100 meter sprint male athletes in SMP Kabupaten Temanggung year 2011, as many as 40. The sample collection was conducted by purposive random sampling. The data of aerobic capacity was obtained by a Multistage Fitness Test, while the 100 meter sprint speed was measured by a 100 meter sprint test. The data was analyzed using ANAVA technique. Prior to using ANAVA test, a sample normality test (Lilliefors test with α = 0.05) and a variance homogeneity test (Bartlet test with α = 0.05) was conducted. The results of the study show that: (1) There are many differences about anaerob interval exercise by rasio 1:10, 1:15 and 1:20 to increase the result the fast running 100 m. F (count) = 7.88 > F (table) = 4.15. The effect of anaerob interval exercise 1:15 more better than 1:20 and 1:10, the value is 1.20, for low aerobic capacity more better use rasio 1:20. (2) There are many differences effect between the higher aerob capacity, medium aerobic capacity for the result the fast running 100 m. F (count) = 6.56 > F (table) = 4.15. The increasing product the fast running 100 m, the higher aerob capcity are more better than the sample who have medium or lower aerob capacity. (3) There are many interaction between rasio difference of practice-   break in anaerobic interval practice and aerobic capacity to the speed of 100 meter sprint. F (count) = 3.30 > F (table) = 4.15

    FASILITAS DALAM BELAJAR GERAK

    No full text
    oai:ojs.ejournal.utp.ac.id:article/11Untuk merancang suatu rencana instruksi yang efektif, praktisi harus tahu tentang latar belakang, kemampuan, dan pengalaman peserta didik, mekanisme yang mendasari kinerja manusia, tujuan pembelajaran dan konteks sasaran, serta pentingnya prinsip organisasi praktek, struktur, dan umpan balik. Tujuannya adalah untuk menyarankan dan menunjukkan bagaimana meng­gunakan materi yang telah dipelajari untuk mendapatkan solusi yang efektif untuk berbagai tantangan instruksional. Pertama, strategi kerja yang menggabungkan model konseptual kinerja manusia dengan berbagai prinsip keterampilan belajar. Kemudian, menyajikan beberapa studi kasus yang menggambarkan bagaimana para praktisi bisa menggunakan strategi untuk merancang pengalaman belajar yang bermanfaat untuk berbagai jenis   peserta didik. ÂÂÂ

    ISU, TANTANGAN DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

    No full text
    Dari survey yang dilakukan oleh Pusat Kesegaran jasmani Depdiknas, diperoleh  informasi bahwa hasil pembelajaran Penjas di sekolah  secara  umum  hanya  mampu  memberikan  efek  kebugaran  jasmani  terhadap kurang lebih 15 persen dari keseluruhan populasi siswa. Sedangkan dalam penelusuran sederhana  lewat  test  Sport  Search  dalam  aspek  yang  berkaitan  dengan  kebugaran jasmani  siswa  SMU,  siswa  Indonesia  rata-rata  hanya  mencapai  kategori  "Rendah" (Ditjora, 2002). Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian kepada kita, bahwa mutu kebugaran jasmani siswa sekolah dari seluruh jenjang pendidikan di Indonesia  masih tergolong sangat rendah. Rendahnya mutu hasil pembelajaran pendidikan  jasmani pun dapat disimpulkan dari keluhan masyarakat olahraga yang mengindikasikan bahwa mutu bibit olahragawan usia dini dari  sekolah-sekolah  kita  sangat  rendah. Keluhan  ini dapat dikaitkan  dengan dua  hal.  Pertama,  para  calon  atlet  kita  rata-rata  mengandung  kelemahan  dalam  hal kemampuan motoriknya,  dari mulai  kecepatan,  kelincahan,  koordinasi,  keseimbangan, dan  kesadaran  ruangnya;  kedua,  para  calon  atlet  kita  pun  sekaligus  memiliki kekurangan dalam hal kemampuan  fisik (kebugaran  jasmani),  terutama dalam hal daya tahan umum, kekuatan, kelentukan, power, dan daya tahan otot lokal. Ukuran  keberhasilan kinerja  atau  efektivitas PBM Penjas  tersebut  dinilai  dari aspek lain yang seharusnya terintegrasi dalam Penjas. Sebagai contoh kualitas proses yang seharusnya dapat  terlihat dari Penjas  yang baik,  bagaimana guru menerapkan model pengembangan disiplin, pengajaran yang bernuansa DAP (Developmentally Appropriate Practice), kesadaran guru dalam mengembangkan bukan hanya aspek fisik dan motorik, tetapi aspek kognitif dan mental sosial serta moral anak, yang dipercayai oleh para ahli dapat mengembangkan nilai-nilai dan karakter positif pada diri anak. Yang  menjadi  pertanyaan adalah,  mengapa  mutu  hasil  pembelajaran  penjas  di Indonesia  bisa  sedemikian  rendah.  Apakah  karena  faktor  guru  yang  juga  kualitasnya rendah,  ataukah  disebabkan  faktor  lain  seperti  sarana  dan  prasarana  yang  tidak memadai? Ataukah semua kelemahan ini harus dialamatkan pada kurikulum yang tidak relevan,  serta  kurangnya  dukungan  dari  pemerintah  dan  masyarakat  dalam  hal pentingnya pendidikan jasmani? Untuk menjawab  pertanyaan tersebut  tidaklah  mudah.  Diperlukan penelusuran  cermat  yang  melibatkan  berbagai  alat  telaah  multidisipliner,  baik  yang melibatkan  tinjauan  dari  aspek  filosofis,  sosiologis,  psikologis,  budaya,  ekonomi  serta politik.  Dalam  wilayah  akademik,  kita  dapat  mendekati  permasalahan  ini  dalam hubungannya  dengan  kemampuan  guru  dan  kurikulum  yang  diberlakukan  dalam program  Penjas  di  Indonesia.  Kemampuan  guru  harus  ditelusuri  dari  segi  nilai  acuan (value  orientation)  (Jewet  and  Bain,  1995)  mereka  terhadap  program  yang  menjadi tanggung  jawabnya  selama  ini,  sedangkan  masalah  kurikulum  dapat  dikaji  dalam kaitannya  dengan  kemampuan  sebuah  kurikulum  sebagai  sebuah  dokumen  dalam memberikan  keleluasaan  kepada  guru  untuk  melakukan  interpretasi  dalam  hal pelaksanaannya

    STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

    No full text
    Tujuan pendidikan jasmani mencakup domain kognitif, afektif, psikomotorik dan fisik. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu strategi yang tepat. Ketepatan dalam memilih strategi mengajar akan berpengaruh kepada tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan mengajar. Pelaksanaan pembelajran pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan pengambilan keputusan. Pola-pola keputusan disebut gaya mengajar (teaching style), sedangkan kerangka gaya mengajar disebut spectrum gaya mengajar. Struktur spectrum gaya mengajar terdiri dari : (1) aksioma, (2) anatomi gaya mengajar (pra pertemuan, pertemuan, pasca pertemuan), (3) pembuat keputusan, (4) spektrum gaya mengajar, (5) kluster, (6) efek pengembangan. Sedangkan gaya mengajar terdiri dari 11 macam , yaitu : (1) gaya komando-A , (2) gaya latihan-B, (3) gaya resiprokal-C, (4) gaya periksa sendiri-D, (5) gaya inklusi-E, (6) gaya diskaveri terbimbing-F, (7) gaya diskaveri konvergen, (8) gaya pruduksi divergen-G, (9) gaya program individual rancangan siswa-I, (10) gaya inisiatif siswa-J, (11) gaya mengajar sendiri-K

    Pengembangan Profesionalisme Guru dan Dosen Melalui Sertifikasi Prof. Dr. Ret. Nat. H. Sajidan, M.Si. (Pembantu Dekan I FKIP UNS)

    No full text
    Pengembangan profesionalisme guru dan dosen guna menunjang penyelenggaraan pendidikan bermutu tidak hanya bergantung pada kualitas tempat pendidikan yang pernah ditempuhnya. Pengembangan  profesionalisme guru dan dosen sesungguhnya terletak pada kemauan dan kemampuan guru untuk mengembangkan dirinya ketika mereka sudah menduduki jabatan guru dan dosen. Undang-undang guru dan dosen nomor 14 tahun 2005 pasal 8 mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat (pasal 9) dan masih 1.456.491 guru atau 63% yang harus ditingkatkan kualifikasinya (Ditjen Dikti, 2010), untuk dosen minimal berkualifikasi S2 (PP 19 tahun 2005), sedangkan kompetensi yang wajib dimiliki guru dan dosen adalah kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional (khusus dosen wajib dipadukan dengan aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi)

    PEMBINAAN KLUB OLAHRAGA SOFBOL BISBOL DI KOTA SEMARANG

    No full text
    Meraih prestasi yang optimal dalam suatu cabang olahraga diperlukan suatu proses pembinaan berjenjang yang memerlukan perencanaan dan penanganan secara sistematis, terarah dan konsisten serta dilaksanakan sejak usia dini, melalui klub olahraga. Penelitian ini menggunakan ancangan kualitatif, metode pengumpulan data yang digunakan meliputi : observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian dipaparkan secara analitik naratif dan disajikan melalui uraian-uraian verbal, dengan teknik deskriftif informal. Hasil penelitian yang dilaksanakan pada klub-klub sofbol kota Semarang sebagai berikut : (1) program pembinaan klub olahraga sofbol di klub-klub kota Semarang yaitu pemassalan, pembibitan dan pemanduan bakat, belum sesuai yang diharapkan. (2) program latihan di klub-klub sofbol kota Semarang tidak terdokumentasi atau tidak tertulis serta tidak ada informasi kepada pemain. Pemain tidak tahu program latihan yang harus dilaksanakan. (3) pelatih, sangat berperan dalam meningkatkan prestasi sofbol di klub, tapi sayangnya para pelatih tidak memiliki sertifikat pelatih baik tingkat daerah maupun nasional, mereka hanya pernah mendapatkan materi kuliah sofbol dan juga mantan atlet. (4) sarana dan prasarana di klub-klub sofboll di kota semarang semua klub belum memiliki sarana dan prasarana yang memadai, terutama pada catcher set dan pemukul. (5) prestasi pemain klub sofbol kota Semarang cukup baik, terutama akhir-akhir ini klub Comos kota Semarang hampir rata-rata pemain bisa mewakili team kota Semarang dalam kejuaraan daerah. Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan simpulan di atas maka saran penulis yang dapat disampaikan kepada pengurus klub, pelatih klub, pengkot Perbasasi kota Semarang. Sebagai berikut : (1) Program pembinaan klub-klub yang dicanangkan pada prinsipnya harus mengacu pada pengcab Perbasasi kota Semarang dan program pembinaan diPengprov dan PB Perbasasi, Sehingga dalam pembinaannya bisa terarah jelas pada sasaran, (2) Pengurus klub-klub olahraga sofbol kota Semarang hendaknya membuat program kerja secara tertulis sehingga dapat dijadikan sebagai alat kontrol dan evaluasi perjalanan klub, (3) Program latihan klub-klub yang dilaksanakan dilapangan baseball Akpol agar terjadwal sesuai dengan klub masing-masing. Sehingga pelaksanaan latihan bisa berjalan dengan maksimal, (4) Perlunya ditingkatkan kemampuan pelatih klub-klub olahraga sofbol dengan melalui penataran pelatih baik tingkat daerah maupun tingkat nasional, (5) Perlu dukungan Pengcab Perbasasi kota Semarang, dalam hal dana serta sarana dan prasarana yang di miliki oleh klub-klub sofbol di kota Semarang. ÂÂÂ

    OBSERVASIONAL LEARNING : METODE PSIKOLOGIS YANG DILUPAKAN DALAM PSIKOLOGIS OLAHRAGA

    No full text
    Didalam dunia olahraga, banyak sekali penelitian telah dilakukan oleh para ahli termasuk didalamnya adalah penelitian psikologi olahraga. Mengapa atlet mau berlatih keras, pendekatan apa yang dilakukan pelatih supaya atletnya mau berlatih, faktor-faktor psikis apa saja yang meyebabkan atlet dapat berprestasi optimal, dan masih banyak lagi yang lainnya. Hanya saja masih terdapat kajian secara psikilogis yang jarang disentuh atau mungkin dilupakan oleh para ahli psikologi olahraga yaitu observasional learning. Dengan adanya kenyataan tersebut, yang menguatkan Penny Mc Cullagh dan Maureen R. Weiss (2002:131) untuk menulis mengenai obsevasional learning ini, dengan maksud supaya pendekatan atau teori psikologis olahraga yang mendukungnya dapat lebih dikenal dan masyarakat olahraga tertarik untuk menggunakannya/mempraktikkannya. Olahraga/pendidikan jasmani tidak seperti bidang pendidikan yang lain yang cukup dilakukan dengan belajar teori, yang apabila atlet/siswa ingin menguasai suatu teknik gerakan menjadi terampil, dia harus rajin berlatih/belajar dalam artian gerak-gerak teknik yang sudah dimengerti secara teori harus dipraktikkan. Dan oleh karena adanya suatu syarat untuk menjadi terampil harus mempraktikkan. Gerakan inilah maka kajian tentang observasional learning menjadi lebih bermakna/penting. Mengapa demikian? yang pertama tentu saja karena didalam praktik pelatihan/pembelajaran gerak olahraga para atlet/siswa terutama kelas pemula memerlukan apa yang namanya contoh model gerakan yang betul ditinjau dari sudut fisiologis, biomekanis dan kinesiologis. Yang kedua tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pelaksanaan gerakan agar supaya menjadi terampil tersebut, dimungkinkan para atlet/siswa akan mengalami cidera. Dalam keadaan cedera inilah atlet/siswa sangat membutuhkan perhatian yang kadang-kadang hal ini diabaikan oleh pelatih/guru olahraganya

    281

    full texts

    361

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Ilmiah SPIRIT
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇