Ilmiah SPIRIT
Not a member yet
    361 research outputs found

    TINDAKAN SOSIAL PELAKU OLAHRAGA DALAM MEMAKNAI KEMENANGAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF FENOMENOLOGIS

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kesadaran intersubyektif dalam dunia olahraga prestasi di KONI DIY dengan melihat dari segi: (1) tindakan sosial pelaku olahraga dalam memaknai kemenangan yang difokuskan pada pola pembinaan dan penanaman nilai, (2) latar belakang yang mempengaruhi tindakan sosial tersebut yang difokuskan pada kontribusi sistem nilai dan realitas globalisasi yang mempengaruhinya. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan dalam penelitian ini, sebagai teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, pengamatan terlibat dan analisis dokumen, kemudian data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis data tematik dari Colaizzi. Peneliti sebagai instrumen kunci  memilih dan menentukan informan kunci berdasarkan ketentuan dari Endraswara. Hasil penelitian menemukan bahwa:  (1) Sebagai Institutions KONI DIY telah melakukan pola pembinaan yang baik hal ini terlihat pada kesadaran intersubyektif pelaku olahraga dalam menerapkan program pembinaan di lapangan, sehingga target KONI DIY dalam PON Kaltim yaitu minimal mendapatkan 13 medali emas dapat tercapai. (2)  Penanaman nilai dalam upaya mencapai kemenangan telah gagal dilakukan oleh KONI DIY terbukti dengan terjadinya kasus yang utama di cabang balap motor dimana ditengarai ada aktor yang mempunyai peran ganda kecuali sebagai atlet DIY ternyata juga sebagai guru atlet Kaltim. (3) Kontribusi sistem nilai yang mempengaruhi tindakan sosial pelaku olahraga dalam memaknai kemenangan sangat lemah sehingga pelaku olahraga termasuk KONI DIY sendiri tidak begitu mengetahui lambang KONI, bendera KONI, dan lagu KONI yang begitu sarat makna nilai-nilai luhur yang bisa didapatkan via olahraga. (4) Dalam era globalisasi ini, dunia olahraga prestasi DIY telah terkontaminasi kapitalisme dimana pembina olahraga berperan sebagai kaum borjuis, pelatih sebagai kaum feodal dan atlet berperan sebagai kaum buruh yang berimbas pada pemenuhan kebutuhan sesaat dan pemikiran pragmati

    PEMROSESAN INFORMASI DALAM BELAJAR GERAK

    No full text
    Pada dasarnya belajar gerak merupakan suatu  proses belajar  yang bertujuan untuk mengembangkan berbagai keterampilan gerak secara efektif dan efisien.  Belajar gerak adalah belajar yang diwujudkan melalui respon-respon muscular yang diekspresikan dalam gerakan tubuh atau bagian tubuh, yang merupakan sarana untuk mencapai tujuan belajar. Perubahan keterampilan gerak dalam belajar gerak merupakan indikasi   terjadinya proses belajar gerak yang dilakukan oleh peserta didik.  Dengan demikian, keterampilan gerak yang diperoleh  bukan hanya dipengaruhi oleh faktor kematangan gerak melainkan juga oleh faktor proses belajar gerak. Proses penguasaan keterampilan gerak, tidak terlepas dari penguasaan dan pemrosesan informasi yang diterima  selama proses pembelajaran oleh peserta didik.  Informasi yang diterima selama pembelajaran gerak akan disimpan dalam  sistem penyimpanan informasi, yang terdiri dari memori sensori (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory). Untuk menghasilkan sebuah umpan balik atau respon dari sebuah stimulus (informasi) yang hadir dalam proses belajar gerak, diperlukan beberapa tahap pemrosesan informasi yang meliputi identifikasi stimulus, seleksi respon dan pemrograman respon sebagai aksi

    PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN BERBEBAN LINIER DAN NON LINIER TERHADAP PENINGKATAN POWER OTOT LENGAN DITINJAU DARI KEKUATAN OTOT LENGAN.

    Get PDF
    This research was aimed at knowing: 1) The effect difference of linier and non linier weight training on the arm muscle power, 2) The effect difference on the arm muscle power between the students having higher strength of arm muscle and the lower ones, 3) Interaction between the training method and strenght on the arm muscle power. The applied method in this research was an experimental method using     2 x 2 factorial designs.  The population of this research was the male students of Sport Extracuricular of SMP Negeri I Tulung, Klaten in Academic Year of 2009/2010) as many as 50 students. The sample of the research is 40 students taken using purposive Random Sampling. The variable of the research consists of three variables: independent is training method (linier and non linier weight training), attributive is strengthness of arm muscle, and dependent variable is arm muscle power. Entire needed data in this research was obtained through test and measurement on the arm muscle strength using arm dynamometer as well as the muscle power one using medicine ball test. The technique of analyzing data in this research is two-way Varian Analysis (ANAVA) followed by the Newman-Keul’s interval test at significance level of     α = 0.05. The result shows that 1) There is significant effect difference of linier and non linier weight training on arm muscle power. 2)  There is significant difference of arm muscle power between the students having higher strength and lower ones. 3)  There is a significant interaction between the training method and the muscle strength level with on the result of arm muscle power. The group of eleventh male students having higher strength of arm muscle is more suitable to be coached using the linier weight training, while the group of students having lower strength of arm muscle is better to be coached using non linier weight training

    PERBANDINGAN PENGARUH METODE LATIHAN ACCELERATION SPRINTS, HOLLOW SPRINTS ,DAN REPETITION SPRINTS TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI LARI 100 METER DITINJAU DARI KLASIFIKASI TINGGI-BERAT BADAN

    No full text
    The purposes of this study are investigating of : (1) the effect comparation among the acceleration sprints, hollow sprints, and repetition sprints training methods to the increasement of a hundred meters running acheivement, (2) anincreasement comparation of a hundred meters running achievement between a group who has the minus normal weight and the plus one, (3) the interaction effects between training methods and the body’s weight. The increasing of a hundred meters running achievement is computed by substracting the initial test score with the final one.The body’s weight classification was determined by considering   the weight of the body and the  height. This research used the experimental method with 3 X 2 factorial design. The sixty college students of The Tunas Pembangunan University as samples. They were divided into six experimental groups andwere drawn by random sampling technique. There wastwo independent variables and a dependent variable. Dependent variable was  as a response variable. It was an increasement of a hundred meters running acheivement. The first independent variable was training methods, with three levels. They were acceleration sprints, hollow sprints, and repetition sprints. The second was body’s weight, with two levels, the minus normal body’s weight and the plus one. This study was held in The Tunas Pembangunan University, Surakarta. The technique for gathering the data used test and measurement.They were a hundred meters running test, the body’s weight and body’s height measurements.Whereas for analyzing the data used The Two Ways Analysis of Variance. All statistical computation and analysis used Statistical Software Minitab 16. The results of this study show :to the  increasement of a hundred meters running acheivement: (1) There was a significant difference of the effect amongacceleration sprints, hollow sprints, and the repetition sprints training method. The effect of the second training method was the best one. Fobs = 3,36, p = 0,042. The average of a hundred meters running achievement with hollow sprints treatment was 0,361 secons(2)There was a significant difference a hundred meters running achievement between the minus normal body’s weight group and the plus one. Fobs = 16,73, p = 0,000. The minus normal body’s weight group’s achievement was better than the plus one. On the minus normal body’s weigh group, average score of achievement was 0,373, while the plus normal body’s weight group was 0,246. (3) There was interaction between the training methods and body’s weight. Fobs = 3,58, p = 0,035. The minus normal body’s weight group with acceleration sprints training method got the best achievement with average score 0,416, while the plus normal body’s weight group with acceleration sprints training method got the lowest, with average score 0,193

    PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN PRAKTIK DRILL DAN BERMAIN TERHADAP PENINGKATAN DRIBBLE SHOOTING SEPAKBOLA DITINJAU DARI KOORDINASI MATA-KAKI (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Pembinaan Prestasi Sepakbola Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Uni

    No full text
    Perbedaan Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Praktik Drill dan Bermain Terhadap Peningkatan Dribble Shooting Sepakbola Ditinjau Dari Koordinasi Mata-Kaki (Studi Eksperimen pada Mahasiswa Pembinaan Prestasi Sepakbola Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta). Tesis. Surakarta. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta, April 2012. Pembimbing I: Prof. Dr. Sugiyanto. Pembimbing II: Prof. Dr. Siswandari, M.Stats. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan pengaruh antara praktik drill dan praktik bermain terhadap peningkatan dribble shooting sepakbola, (2) Perbedaan peningkatan dribble shooting sepakbola antara mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki baik, sedang dan kurang, (3) Pengaruh interaksi antara pendekatan pembelajaran dan koordinasi mata-kaki terhadap peningkatan dribble shooting sepakbola. Penelitian ini menggunakan metode ekperimen dengan rancangan faktorial 2 x 3. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Pembinaan Prestasi Sepakbola Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive random sampling, besarnya sampel yang diambil yaitu sebanyak 60 mahasiswa. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan ANAVA. Sebelum diuji dengan ANAVA, terlebih dulu menggunakan uji prasyarat analisis data dengan uji normalitas sampel (Uji Lilliefors dengan α = 0,05 %) dan Uji homogenitas varians (Uji Bartlett dengan α = 0,05 %). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) ada perbedaan pengaruh antara praktik drill dan bermain terhadap peningkatan dribble shooting sepakbola. Pengaruh praktik drill lebih baik dari pada praktik bermain, (2) ada perbedaan peningkatan dribble shooting sepakbola antara mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki baik, sedang dan kurang. Peningkatan dribble shooting sepakbola pada mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki baik lebih baik dari pada mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki sedang, mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki sedang lebih baik dari pada mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki kurang, (3) terdapat pengaruh interaksi antara pendekatan pembelajaran dan koordinasi mata-kaki terhadap peningkatan dribble shooting sepakbola. Mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki baik lebih cocok jika diberikan praktik drill. Mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki sedang lebih cocok jika diberikan praktik bermain. Sedangkan mahasiswa yang memiliki koordinasi mata-kaki kurang lebih cocok jika diberikan praktik drill. ÂÂÂ

    MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK MELALUI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA

    No full text
    Gejala hedonisme pada masyarakat kita semakin meluas, aksi demo , tawuran, dan berbagai tindak kekerasan, serta degradasi moral, kita dengar, kita baca, kita lihar hampir setiap hari. Tidak hanya terjadi pada para buruh pabrik saja, tetapi menjalar pada para siswa, SMP, SMA, mahasiswa, dan terjadi juga pada para politisi. Keprihatinan terhadap fenomena degradasi moral dan karakter bangsa makin terasa akut dari hari ke hari. Di kalangan masyarakat makin mewabah patologi sosial dan penyalahartikan praktik kehidupan demokrasi dengan kebebasan tanpa aturan. Selain itu juga ada perkembangan sentimen kedaerahan dan isu-kebangsaan yang makin melunturkan semangat nasionalisme, maraknya kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia, terhadinya degradasi lingkungan, radikalisme atas nama pluralitanisme dan  agama. Maraknya aksi unjuk rasa yang menghancurkan simbol-simbol negara  berimplikasi pada hilangnya wibawa kekuasaan yang ada di tangan pemerintah. Menurut para ahli, hal ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi  kehidupan bangsa

    GIZI ATLET LARI CEPAT 100 METER PELAJAR PUTRA INDONESIA

    No full text
    Sprint one event of althletic sport competition that held for each championship. To reach the maximal effort, someone treck 100 m is so popular if to compare with the other sprint event In programe exercisemust ellowed by menu suitable, of coursefor balancing condition dan the main aim it’s to known the balancing menu for sprinted in 100 m distance. We can to known how much needing by carbohydrate, protein, vitamane and mineral in each day. The understanding by expert of nutrition that balancing menu have to content ; carbohydrate 55 †“ 67%, fat 20 †“ 30%, protein 13 -15%. The calory needed by atlet depend of age, body, weight, sex, physical activity, weather and season. Basa Metabolic Rate (BMR) is output energy by main activityat heart, respiratory and contractionof muscular. Specific Dynamic Action (SDA) the result that needed in processing digestion food at body. The specific Dynamic Action using about 10% from Basal Metabolic Rate. The sprinter 100 m distance using 3910.3 cal and including carbohydrate, fat and protein. Example :60% of carbohydrate (2346.2 cal), fat 25% (9776,0%) and protein 15% (586,5 cal), mineral and water are using too for stability maximal activity

    Bentuk-bentuk latihan kebugaran bagi atlet

    No full text
    Ada banyak bentuk-bentuk latihan kebugaran yang dapat dipilih oleh seorang atlet. Bantuk-bentuk latihan diperlukan untuk menjaga kondisi fisiknya. Latihan yang dapat dipilih diantaranya : Jogging 5 sampai 8 Km dalam waktu 30 sampai 40 menit, circuit training, interval training dan latihan tahanan. Latihan yang dipilih tentunya disesuaikan dengan kebutuhan atlet, untuk latihan dengan tahanan terutama adalah untuk meningkatkan kekuatan otot. Disini juga dibahas bentuk-bentuk latihan pemanasan untuk otot-otot ekstremitas bagian atas, otot-otot pada togok, dan juga otot-otot pada ekstremitas bagian bawah. Latihan circuit training dengan peralatan yang minimal bisa menjadi pilihan. Latihan ini disederhanakan peralatannya, tapi mudah dalam pelaksanaannya

    PENYUSUNAN PROGRAM PELATIHAN BERBEBAN UNTUK MENINGKATKAN KEKUATAN

    Get PDF
    Untuk meningkatkan suatu prestasi olahraga, perlu memperhatikan beberapa aspek, aspek-aspek tersebut adalah aspek fisik, aspek tehnik, aspek taktik dan aspek psikis ( mental ). Dari     ke empat aspek tersebut aspek kondisi fisik merupakan aspek yang paling mendasar. Faktor   kondisi fisik merupakan faktor yang menjadi tuntutan di setiap cabang olahraga. Kualitas fisik yang baik  akan menopang secara langsung terhadap kualitas gerak yang bisa ditampilkan. Hal ini sesuai      dengan pendapat Sajoto M ( 1995 : 8 ) bahwa “Kondisi fisik adalah satu prasarat yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet bahwa dapat dikatakan sebagai keperluan dasar  yang tidak dapat ditunda atau ditawar lagi. Unsur-unsur yang ada dalam kondisi fisik banyak macamnya, menurut Sajoto M ( 1995 : 8)  Unsur-unsur tersebut meliputi : Kekuatan, Daya tahan, Daya ledak, Kecepatan, Daya lentur, Kelincahan, Koordinasi, Kesimbangan, Ketepatan, Reaksi Kekuatan merupakan salah satu unsur dasar dalam prestasi berbagai cabang olahraga. Hampir semua cabang olahraga memerlukan kemampuan kekuatan Sajoto (1995 : 8 ) berpendapat bahwa : “kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerjaâ€ÂÂ. Kekuatan otot merupakan unsur kondisi   fisik yang paling mendasar yang sangat diperlukan untuk mencapai  prestasi olahraga. Salah satu bentuk pelatihan untuk meningkatkan kekuatan otot dapat dilakukan dengan program pelatihan berbeban. Dalam hal ini Sajoto M ( 1995 : 30 ) menyatakan bahwa, “program pelatihan peningkatan kekuatan otot yang paling efektif adalah program pelatihan dengan memakai beban atau weight training programâ€ÂÂ

    PEMBERIAN UMPAN BALIK DALAM BELAJAR GERAK

    No full text
    Pada dasarnya belajar gerak (motor learning)  merupakan suatu proses belajar  yang memiliki tujuan untuk mengembangkan berbagai keterampilan gerak yang optimal secara efisien dan efektif. Seiring dengan itu, Schmidt (1989: 34) menegaskan bahwa belajar gerak merupakan suatu rangkaian asosiasi latihan atau pengalaman yang dapat mengubah kemampuan gerak ke arah kinerja keterampilan gerak tertentu. Umpan balik dalam proses pembelajaran gerak sangatlah penting, karena dengan umpan balik dapat diukur sejauh mana siswa dapat melakukan gerakan yang telah diajarkan/dilatih dengan baik dan benar. Selama ini siswa saat melakukan tugas gerak, karena keterbatasan waktu yang dipunyai guru kurang mendapat kesempatan umpan balik dari guru. Keterbatasan ini menyebabkan hasil belajar gerak yang dicapai siswa kurang maksimal. Umpan balik adalah perilaku guru untuk membantu setiap siswa yang mengalami kesulitan belajar secara individu dengan cara menanggapi hasil belajar siswa sehingga lebih menguasai materi yang diberikan dan telah disampaikan oleh guru. Sementara itu umpan balik digunakan untuk membantu pelajar dalam mengatasi kesulitan baik secara klasikal maupun secara individual disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik. Dengan umpan balik maka guru dapat membantu setiap siswa yang mengalami kesulitan belajar secara individual dengan cara memberikan pujian, kritikan dan arahan serta tanggapan terhadap hasil pekerjaan pelajar selama proses belajar mengajar berlangsung. Seorang guru hendaknya menempatkan diri berdampingan dengan pelajar sebagai senior yang selalu siap menjadi nara sumber atau konsultan. Umpan balik ditandai sebagai informasi sensorik yang mengindikasikan  gerakan seseorang yang sebenarnya. Seseorang membandingkan antara umpan balik yang diperoleh  dengan hasil kinerja yang seharusnya, untuk mengkontruksi jumlah kesalahan dalam gerakan mereka. Selama ada kesalahan, siswa berusaha untuk mengubah gerakan untuk memperbaiki atau menghilangkan kesalahan, yaitu perbedaan antara keadaan yang nyata dan tujuan yang diharapkan. ÂÂÂ

    281

    full texts

    361

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Ilmiah SPIRIT
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇