Ilmiah SPIRIT
Not a member yet
361 research outputs found
Sort by
PRAKTEK LAYANAN INFORMASI DAN ORIENTASI SECARA KLASIKAL
Permasalahan pendidikan dinegara kita mulai dari kerusakan gedung sanpai pada mutu pendidikan kita yag tidak layak sampai dengan kualitas pendidikan yang kurang juga terutama dirisaukan dengan masalah tenaga kerja yang tidak tertampung oleh lapangan pekerjaan yang memadai. Pemerintah merasa perlu menggalakkan SMK untuk menjadikan generasi muda lebih kretif menciptakan lapangan kerja bukan mencari lapangan kerja untuk mengatasi pangangguran yang sulit terpecahkan selama ini. Salah satu cara adalah system permagangan yang disebut system ganda. System ini bertujuan menjawab tuntunan agar terwujud kesesuaian antara keluaran dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Pelaksanaan gagasan ini bukan tanpa kendala masih adanya factor budaya dan kesiapan system dalam praktek didunia industry. Tantangan bagi peseta didik secara akademis dan intelektusl perlu dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja. Teori Happenstance Learning ( teori belajar kebetulan ) dapat menjawab kebutuhan siswa akan bimbingan karir. Happenstance learning percaya bahwa hal-hal yang terjadi dalam hidup individu seperti peristiwa-peristiwa yang tidak dapat diramalkan bisa menjadi sebuah keuntugan apabila individu mampu bereaksi secara positif dengan mengembangkan keterampilan kritis, dan konselor dapat mengarahkan kien untuk mengubah pengalaman-pengalaman masa lalu menjadi peluang untuk belajar eksplorasi. Ada lima komponen konseling dalam menggunakan Happentance Learning : (1)              Orientasi harapan konseli, (2) Mengidentifikasi harapan klien sebagai permulaan (3) Gunakan pengalaman sukses klien di masa lalu dengan peristiwa yang tidak direncanakan sebagai  dasar untuk tindakan saat ini, (4) Menyadarkan klien untuk mengenali peluang potensial, (5) mengatasi Blok to Action (mengatasi keyakinan disfungsional yang menghalangi tindakan yang konstruktif)
PERAN MEDIA MASSA DALAM OLAHRAGA
Perkembangan olahraga dewasa ini tidak bisa terlepas dari media massa. Media massa akan bisa memberikan corak terhadap salah satu cabang olahraga tertentu, sehingga olahraga tersebut akan menjadi terkenal. Namun demikian media masa juga bisa membuat olahraga menjadi tidak maju, manakala pemberitaan yang disampaikan tidak sejalan dengan norma dan nilai-nilai yang ada dalam olahraga. Oleh karenanya, memang antara olahraga dan media massa harus berjalan secara sinerkis. Ini tidak lain dalam upaya untuk meluruskan tujuan utama olahraga, melalui pemberitaan yang benar. Sebaiknya media massa bersikap netral dalam pemberitaan olahraga, dan memberikan kontribusi yang menguntungkan bagi olahraga dan pelakunya, dalam budaya olahraga fungsi media massa bisa sebagai pengawasan, penghubungan, hiburan dan juga pencerahan
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS DAN MINAT MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MAHASISWA BIMBINGAN DAN KONSELING FKIP UTP SURAKARTA TAHUN 2012-2013
Penelitian ini bertujuan: 1) Meningatkan keterampilan menulis melalui penerapan pendekatakan kontekstual pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP-UTP Surakarta. 2) Meningkatkan minat menulis melalui pendekatakan kontekstual pada mahasiswa Bimbingan dan Konseling FKIP-UTP Surakarta. Penelitian dilaksanakan pada semester II Progdi BK FKIP UTP Surakarta dengan mengggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Subjek penelitian seluruh mahasiswa Progdi BK FKIP Surakarta semester II yang berjumlah 48 mahasiswa.Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi, dan tes. Teknik analisis data yang digunakan analisis secara deskriptif, yakni membandingkan: minat belajar mahasiswa dan nilai tes keterampilan menulis antarsiklus. Analisis nilai tes dilakukan sebelum dan setelah melalui pendekatan kontekstual/CTLsebanyak tiga siklus. Kemudian, data berupa skor minat belajar mahasiswa, serta nilai keterampilan menulis antar siklus dibandingkan hingga hasilnya mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Penerapan pendekatan CTL dapat meningkatkan keterampilan menulis karya ilmiah pada mahasiswa semester II Progdi BK FKIP UTP Surakarta. Peningkatan keterampilan menulis dapat diketahui dari data awal nilai rata-rata keterampilan menulis 66,25 ketuntasan secara klasikal 47,92%. Nilai rata-rata keterampilan menulis siklus I sebesar 69,38 ketuntasan secara klasikal telah mencapai 62,50%. Nilai rata-rata keterampilan menulis siklus II sebesar 72,92 ketuntasan secara klasikal telah mencapai 77,08%. Nilai rata-rata keterampilan menulis siklus III sebesar 77,50 ketuntasan secara klasikal sebesar 91,67%. Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa nilai rata-rata maupun ketuntasan kelasikal yang dicapai mahasiswa telah memenuhi indikator kinerja. 2) Melalui pendekatan CTL dapat meningkatkan minat belajar keterampilan menulis mahasiswa semester II Progdi BK FKIP UTP Surakarta. Peningkatan minat belajar menulis diketahui dari meningkatnya minat belajar selama mengikuti pembelajaran melalui lembar pengamatan. Minat belajar keterampilan menulis siklus I ketuntasan klasikal sebesar 61,46%, siklus ke II meningkat menjadi 67,50%, dan siklus III meningkat menjadi 76,46%. Hasil tindakan melalui pendekatan CTL diketahui jumlah mahasiswa mendapat skor 70 ke atas mencapai 76,46% sehingga diasumsikan bahwa sebagian besar mahasiswa telah menuntaskan minat belajar keterampilan menulis karya ilmiah
PERBEDAAN PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN PRAKTIK DRILL DAN BERMAIN TERHADAP HASIL TEMBAKAN BEBAS BOLABASKET
This research aims to find out: (1) the difference effect of drill practice and games to the basketball free throw result, (2) the interaction effect between drill practice and games to the basketball free throw result.  This research employed an experimental method with pretest-posttest design. The population of the research in the study were the male of Sport and Health Education of Teaching and Learning Faculty of Surakarta Tunas Pembangunan University, as many as 60 students. The sampling technique was purposive random sampling. The data analysis prerequisite test was done using the sample normality test (Lilliefors test with α = 0.05%) and variance homogeneity test (Bartlett test with α = 0.05%).  Based on the result of the analysis, conclusions are drawn as follows: (1) There is a significant difference drill practice and games to the basketball free throw result. (2) The effect of drill practice is better than that games practice to the basketball free throw result
Menghitung Validitas Dan Reliabilitas Tes Ketepatan Tusukan Dalam Permainan Anggar
Penelitian ini bertujuan (1). Untuk mengetahui validitas tes ketepatan tusukan dalam permainan Anggar. (2). Untuk mengetahui reliabilitas tes ketepatan tusukan dalam permainan Anggar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penyusunan tes dari Strand and Wilson 2011. Langkah-langkahnya sebagai berikut : (1) review the criteria of good tests, (2) analyzesport to be tested, (3) preview literature, (4) select test items, (5) Establish procedures, (6) peer review, (7) pilot study, (8) determine validity reliability Objectivity, (9) develop norms, (10) construct a test manual. Populasi yang digunakan adalah atlet UTP Fencing club, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 22 atlet, teknik pengambilan sampel menggunakan Purpousive sampling. Teknik analisis data dengan statistik korelasi product moment dari K. Pearson. Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian disimpulkan (1). Validitas tes ketepatan tusukan Anggar adalah 0.62, hasil korelasi antara ketepatan tusukan Anggar dengan hasil kompetisi bermain Anggar, bila dikonsultasikan dengan tabel validitas dari Bookwalter termasuk dalam katagori cukup dan dapat diterima. (2). Reliabilitas tes ketepatan tusukan adalah 0,87, hasil korelasi antara tes dengan retes, bila dikonsultasikan dengan tabel reliabilitas dari Bookwalter termasuk dalam katagori tinggi dan dapat diterima. Dengan demikian berarti tes ketepatan tusukan Anggar tersebut telah memenuhi kriteria alat ukur yang valid dan reliabel
UPAYA PENEMUAN DAN PENGEMBANGAN OLAHRAGA BARU “PANCOAIR†SEBAGAI OLAHRAGA REKREASI DALAM RANGKA MENINGKATKAN DAYA TARIK WISATA AIR
In order to increase innovative and creative work as a lecturer, I try to create a real work that is hoped able to give positive benefit in the development. As a lecturer of entrepreneurship subject for the students of Health and Education of Teacher Training and Education Faculty of UTP, so I try to engineer a kind of new sport that I name “Panco Airâ€ÂÂ. Inspiration of “Panco Air†came from smashing game that I had done since I was in grade 5 together with my friends in my age. The play site was on a pathway bridge over a river 5 meter wide and 1,2 meters deep located in Srikaton village, Tugumulyo subdistrict, Musi Rawas Regency, South Sumatra. Since I have been teaching in Teacher Training and Education Faculty, Health and Sport Education UTP, I invite my fellow sport lecturers to discuss smashing game to become a sport. Besides that, because since 1996, I have taught entrepreneurship subject, so I make a creation to invent “Panco Air†Sport. And I make it to become a lecture material. Through some discussions with my fellow lecturers and students, I succeded to find “Panco Air†game in the year 2000. In 2001 we got Uberhaki Program for making patent for “Panco Air†support device. In 2002 we got MURI Award number 802/R.MURI/X/2002 as the firstinisiator of “Panco Air†Sport in Indonesia. In 2002 we got program Student Alternative Work from General Directorate of High Education with Project Number 37/P4M/DPPM/WUB/IV/2002. Through Students Alternative Program we have done socialitation for “Panco Air†Sport in some swimming pools in Regencies surrounding Surakarta ( Manahan Solo, Kopassus Kartasura, Pengging Boyolali, Jambeyan Klaten and Jati Diri Sport Arena Semarang). On March 2003, we presented “Panco Air†Sport in an International Seminar, that was “International Conference on Sport Sciences and Physical Education Profession, Development in Facing Global Challenges, in Indonesian University of Education, Bandungâ€ÂÂ. In 2010, we made a unit of “Panco Air†Sport support with a little improvement. For the next, finding and development of “Panco Air†has always become parts of lecture materials, for semester six students. In the entrepreneurship lecture in 2012, that was followed by 300 students from 5 classes, it had been done seminar and exhibition of “Panco Air†Sport as well, where all students were asked to give feedback to study and develop “Panco Air†Sport
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN SENAM AEROBIK HIGH IMPACT DAN LOW IMPACT TERHADAP PENURUNAN PERSENTASE LEMAK TUBUH DITINJAU DARI BODY MASS INDEX (Studi Eksperimen pada Anggota Sanggar Senam Vira Watukelir Weru Sukoharjo)
This research aims to find out: (1) the difference effect between of training aerobic gymnastics high impact and low impact on decrease in body fat percentage, (2) the difference of decrease in body fat percentage between the members of the shrine gymnastic with Body Mass Index (BMI) ≥ 25 and Body Mass Index (BMI) < 25, (3) the interaction effect between training aerobic gymnastics with Body Mass Index on decrease in body fat percentage.  This research employed an experimental method with 2 x 2 factorial design. The population of the research in the members of a shrine gymnastic Vira Watukelir Weru Sukoharjo. The sampling technique was purposive random sampling, the size of the samples taken are as much as 60 members of a shrine gymnastic. ANOVA was used to analyzing data, the data analysis prerequisite test was done using the sample normality test (Lilliefors test with α = 0.05%) and variance homogeneity test (Bartlett test with α = 0.05%).  Based on the result of the analysis, conclusions are drawn as follows: (1) There was difference between the effect of training aerobic gymnastics high impact and low impact on decrease in body fat percentage. The effect of training aerobic gymnastics high impact is higher than the training aerobic gymnastics low impact, (2) there was difference of decrease in body fat percentage between the members of the shrine gymnastic with Body Mass Index (BMI) ≥ 25 and Body Mass Index (BMI) < 25. The effect of decrease in body fat percentage between the members of the shrine gymnastic with Body Mass Index (BMI) ≥ 25 this higher than the one with Body Mass Index (BMI) < 25, (3) there was interaction effect between training aerobic gymnastics with Body Mass Index on decrease in body fat percentage. The members of the shrine gymnastic with Body Mass Index (BMI) ≥ 25 has according if it is training aerobic gymnastics high impact. While the members of the shrine gymnastic with Body Mass Index (BMI) < 25 has according if it is training aerobic gymnastics low impact. ÂÂÂ
PENGARUH PERMAINAN BEREGU DAN JENIS KELAMIN TERHADAP PENINGKATAN KESEGARAN AEROBIK
The purpose of this study is to determine: (a) Effect of team games to increase aerobic fitness student sons and daughters of grade IV and V SD Muhammadiyah 1 Surakarta academic year 2004/2005. (2) The difference of the influence of team games to increase aerobic fitness between boys and girls grade IV and V SD Muhammadiyah 1 Surakarta academic year 2004/2005. To achieve the above objectives used the experimental method, namely to investigate whether there is any treatment effect is tested. The experiment was conducted in an SD Muhammadiyah 1 Surakarta. Total sample of 30 children from a population of 249 students grouped by gender. Treatment was given 3 times a week seelama six weeks and carried out gradually sesuuai with treatment programs that have been determined. Data collected by the test and measurement techniques Modified Harvard Step Test. Engineering data analysis techniques with statistical analysis using t test at 5% level of significance. Based on the results of data analysis concluded the following things: (1) There is the influence of team games to increase aerobic fitness in students the children of class IV and V SD Muhammadiyah Surakarta year 2004/2005, with t count equal = 8.269134473 and t table value 1701. (2) There are differences in the effect of team games to increase aerobic fitness in boys and girls grade IV and V SD Muhammadiyah 1 Surakarta year 2004/2005, with t count equal = 0.086716172 and t tables for 1701. So the t count equal <t table
TINDAKAN SOSIAL PELAKU OLAHRAGA DALAM MEMAKNAI KEMENANGAN DITINJAU DARI PERSPEKTIF FENOMENOLOGIS
Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan kesadaran intersubyektif dalam dunia olahraga prestasi di KONI DIY dengan melihat dari segi: (1) tindakan sosial pelaku olahraga dalam memaknai kemenangan yang difokuskan pada pola pembinaan dan penanaman nilai, (2) latar belakang yang mempengaruhi tindakan sosial tersebut yang difokuskan pada kontribusi sistem nilai dan realitas globalisasi yang mempengaruhinya. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan dalam penelitian ini, sebagai teknik pengumpulan data adalah wawancara mendalam, pengamatan terlibat dan analisis dokumen, kemudian data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis data tematik dari Colaizzi. Peneliti sebagai instrumen kunci memilih dan menentukan informan kunci berdasarkan ketentuan dari Endraswara. Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) Sebagai Institutions KONI DIY telah melakukan pola pembinaan yang baik hal ini terlihat pada kesadaran intersubyektif pelaku olahraga dalam menerapkan program pembinaan di lapangan, sehingga target KONI DIY dalam PON Kaltim yaitu minimal mendapatkan 13 medali emas dapat tercapai. (2) Penanaman nilai dalam upaya mencapai kemenangan telah gagal dilakukan oleh KONI DIY terbukti dengan terjadinya kasus yang utama di cabang balap motor dimana ditengarai ada aktor yang mempunyai peran ganda kecuali sebagai atlet DIY ternyata juga sebagai guru atlet Kaltim. (3) Kontribusi sistem nilai yang mempengaruhi tindakan sosial pelaku olahraga dalam memaknai kemenangan sangat lemah sehingga pelaku olahraga termasuk KONI DIY sendiri tidak begitu mengetahui lambang KONI, bendera KONI, dan lagu KONI yang begitu sarat makna nilai-nilai luhur yang bisa didapatkan via olahraga. (4) Dalam era globalisasi ini, dunia olahraga prestasi DIY telah terkontaminasi kapitalisme dimana pembina olahraga berperan sebagai kaum borjuis, pelatih sebagai kaum feodal dan atlet berperan sebagai kaum buruh yang berimbas pada pemenuhan kebutuhan sesaat dan pemikiran pragmati
IMPLEMENTASI MATA PELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN PADA KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) 2006
Luasnya materi mata pelejaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di tingkat satuan pendidikan dan sedikitnya alokasi waktu yang tersedia, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan menjadi hambatan dalam  mencapai standat kompetensi. Standar kompetensi kemudian dijabarkan dalam kompetensi dasar-kompetensi dasar. Dimana peserta didik disamping harus mempraktikkan berbagai teknik dasar permainan, dan olahraga, dituntut juga mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya berupa dampak pengiring, atau karakter,( soft skill). Sementara indikator karakter tidak nampak didalam setiap rencana maupun pelaksanaan pembalajaran. Kurikulum KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah yang efektif, produktif, dan berprestasi. Dalam KTSP, pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta Komite sekolah dan Dewan Pendidikan. Dalam pelaksanaanya tentu akan menyita tenaga, waktu dan guru disibukkan dengan bergabai administrasi dengan menyusun silabi dan rencana pembelajaran sehingga tugas mengajar dan mengevaluasi menjadi berkurang. Dalam pelaksanaannya kurikulum 2006 masih mengalami berbagai permasalahan diantaranya: (1) Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (2) Kompetensi belum menggambarkan secara menyeluruh antara  domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan; (3) Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum; (4) Kurikulum 2006 dirasa belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala  (7) Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir