Ilmiah SPIRIT
Not a member yet
361 research outputs found
Sort by
PEMBELAJARAN/LATIHAN FISIK BAGI ANAK USIA DINI/SEKOLAH DASAR (Guru/Pelatih sebagai Perancang Program)
Munculnya tulisan ini dilatarbelakangi oleh pengamatan di lapangan bahwa sebagian besar para guru pendidikan jasmani di sekolah dasar masih sangat terpaku dengan materi yang tersaji dalam kurikulum. Padahal dalam kurikulum tersebut hanya menyajikan pokok-pokoknya dan ada beberapa materi yang sulit diterapkan yang antara lain disebabkan oleh terbatasnya fasilitas dan sarana. Di samping itu, sebagian besar para pelatih pada anak usia dini, memandang anak sebagai “orang dewasa kecilâ€ÂÂ, sehingga sering terjadi kecenderungan memaksakan aktivitas tanpa mempertimbangkan aspek metodik dan perkembangan anak. Tulisan ini bertujuan memberikan alternatif pembelajaran dan latihan fisik bagi anak yang disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak
APLIKASI METODE PEMBELAJARAN BERMAIN DAN KONVENSIONAL MELALUI DESAIN ADDIE TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SPRINT 60 METER DALAM MENYONGSONG KURIKULUM 2013
Penjas merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan kepada siswa. Guru dalam memberikan materi pembelajaran penjas terhadap siswa haruslah memahami beberapa komponen pokok, salah satu diantaranya adalah substansi dalam pemberian materi terhadap siswa oleh pendidik. Dalam penerapan kurikulum 2013 yang mengedepankan standar proses, dimana pembelajaran yang bersifat tematik ini tidak mengakibatkan bosan oleh guru dan siswa. Guru Seringkali memberikan materi terhadap siswa pembelajaran yang sifatnya monoton dan tradisional bahkan mengarah pada pembelajaran yang membuat siswa sering merasa bosan. Sehingga dalam penelitian ini memberikan suatu solusi metode pembelajaran berbagai aplikasi bermain yang mengarah pada teknik 60 meter. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Perbedaan pengaruh latihan pembelajaran bermain dan konvensional terhadap kemampuan lari sprint 60 meter pada siswa putra kelas X SMA Miftahul Huda tahun pelajaran 2014/2015. (2) Pembelajaran yang lebih baik pengaruhnya antara pembelajaran bermain dan konvensional terhadap lari sprint 60 meter pada siswa putra kelas X SMA Miftahul Huda tahun pelajaran 2014/2015. Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan, Penelitian Eksperimen ini dilaksanakan dengan desain Pretest-Posttest. Penelitian ini diarahkan ke penelitian eksperimen yang menggunakan pendekatan Kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini putra kelas X SMA Miftahul Huda berjumlah 40 siswa Putra yang terbagi dalam empat kelas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Dipilih total sampling karena dalam penelitian dilaksanakan selama periode pembelajaran yang sudah terdapat dalam silabus SMA. Sampel diambil keseluruhan dari populasi tiap kelasnya, sehingga besarnya sampel yang digunakan sebanyak 40 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan tes dan pengukuran kemampuan sprint 60 meter. Teknik analisis data yang digunakan dengan uji t pada taraf signifikansi 5%
PROGRAM PEMBINAAN ATLETIK NOMOR LARI JARAK JAUH DI KLUB TIGER LOCOMOTIVE KOTA SALATIGA
Permasalahan penelitian ini adalah : Bagaimana perencanaan, rekrutmen atlet, pelatih, program latihan dan bagaimana dengan hasil pembinaan terhadap program pembinaan olahraga atletik, sosialisasi, dukungan pemerintah, masyarakat dan sumber daya manusia  di Klub “ Tiger Locomotive†Kota Salatiga. Penelitian ini merupakan studi fenomenologi, dengan menggunakan evaluasi program ini menggunakan model CIPP (context, Input, Proces, dan Product). Subyek penelitian meliputi pengurus, pelatih, atlet, orang tua atlet, dan masyarakat sekitar tempat latihan atletik. Teknik pengambilan data melalui 4 cara, yaitu dengan (1) wawancara (2) observasi (3) dokumentasi dan (4) kusioner. Sumber data yang diteliti adalah Klub Tiger Locomotive Kota salatiga. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif. Setelah meninggalnya Bapak Alwi Mugiyanto, banyak kendala yang terjadi terutama atlet-atlet potensial menjadi rebutan oleh banyak pihak, sumber pendanaan tidak ada, prestasi atlet tidak meningkat. Manajemen klub harus dibuat lebih profesional dengan menggandeng pihak-pihak lain yang berkompeten di bidangnya, misalnya bekerjasama dengan pemerintah daerah atau pihak swasta. ÂÂÂ
PENGARUH OUTBOND TRAINING TERHADAP PENINGKATAN RASA PERCAYA DIRI KEPEMIMPINAN DAN KERJASAMA TIM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Pengaruh outbound training terhadap rasa percaya diri (2) Pengaruh outbound training terhadap kemampuan kepemimpinan (3) Pengaruh outbound training terhadap kemampuan kerjasama tim (4) Besarnya sumbangan outbond training terhadap peningkatan karakter rasa percaya diri, kepemimpinan dan kerjasama tim  Pada Mahasiswa Semester II Tahun Akademik 2009/2010 Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Treatment ( Perlakuan). Tehnik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Sampling. Dari jumlah 406 populasi diambil sebanyak 40 responden dengan cara purposive random sampling dengan menggunakan Rumus Slovin Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan teknik statistik dengan metode pengerjaan menggunakan program bantu SPSS sebagai alat penghitungnya, yang meliputi: Uji Normalitas, Uji Homogenitas dan Uji Beda ( Uji  t †“ test ) Dalam penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut : (1) Ada pengaruh hasil outbound training terhadap peningkatan karakter rasa percaya diri pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta dimana hasil uji t hitung 2,546 > t †“ tabel sebesar 2,021 dengan db = 19-1 taraf signifikansi 5% (2) Ada pengaruh hasil outbound training terhadap peningkatan karakter kepemimpinan pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta dimana hasil uji t hitung 2,429 > t †“ tabel sebesar 2,021 dengan db = 19-1 taraf signifikansi 5% (3) Ada pengaruh hasil outbound training terhadap peningkatan kerja sama tim pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta  dimana hasil uji t hitung 3,240 > t †“ tabel sebesar 2,021 dengan db = 19-1 taraf signifikansi 5% (4) Outbond training tidak memberikan sumbangan yang merata antara rasa percaya diri, kepemimpinan dan kerja sama tim. Dimana sumbangan terbesar yang paling besar dipengaruhi outbound training adalah rasa percaya diri, yaitu sebesar 7, 25 % ÂÂÂ
STUDY SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN JASMANI SEKOLAH DASAR (SD) SE-KECAMATAN SLOGOHIMO KABUPATEN WONOGIRI DALAM PELAKSANAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) TAHUN 2012.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sarana dan prasarana pendidikan jasmani sekolah dasar (SD) se-kecamatan Slogohimo kabupaten wonogiri dalam pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan  (KTSP) tahun  2012. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data  menggunakan survei dan angket (kuesioner), observasi. Teknik analisis data  menggunakan statistic deskriptif parametik dengan rumus alfa serta menggunakan program komputer SPSS, yaitu merupakan software powerfull yang digunakan untuk analisis statistik Populasi dalam penelitian ini adalah Sekolah Dasar Se-Kecamatan Slogohimo Sebanyak 33 Sekolah. Adapun teknik pengambilan sampelnya dengan menggunakan Total  sampling, Seluruh Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Slogohimo dijadikan sampel. Hasil penelitian menunjukkan sarana dan prasarana pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SD se-Kecamatan Slogohimo sebagai pembelajaran hanya alat atletik yang memadai, alat permainan dan senam tidak memadai. Sarana dan prasarana pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan belum sesuai kurikulum (KTSP), banyak guru olahraga yang memodifikasi sarana dalam pembelajaran. ÂÂÂ
PENGARUH LATIHAN INTERVAL ANAEROB DAN POWER LENGAN TERHADAP KECEPATAN RENANG 100 METER GAYA FRONT CRAWL (Studi Eksperimen Latihan Interval Anaerob Jarak Tempuh Renang 25 Meter, 50 Meter dan Kombinasi Jarak Tempuh Renang 25-50 Meter Pada Usia 8-12 Tahun P
 HERI PENDIANTO. A.120908011. The Effect of Anaerobic Interval Training and Arm Power On The Front Crawl Style of 100 Meter-Swimming Speed. Thesis. Surakarta. Postgraduate Program of Surakarta Sebelas Maret University, September 2009.  This research aims to find out (1) the effect difference of 25 meters and 50 meters distances anaerobic interval training on the Front Crawl style of 100-meter swimming speed increase, (2) the effect difference of 25 meters distance anaerobic interval training and the combination of 25-50 meters distance on the Front Crawl style of 100-meter swimming speed increase, (3) the effect difference of 50 meters distance anaerobic interval training and the combination of 25-50 meters distance on the Front Crawl style of 100-meter swimming speed increase, (4) the difference of Front Crawl style of 100-meter swimming speed between the swimmer with high arm power and the one with low arm power, and (5) the effect of interaction between the anaerobic interval training and the arm power on the Front Crawl style of 100-meter swimming speed.  This research employed an experimental method. The research design employed was a 3 x 2 factorial design. The subjects employed in the study were the male swimmers of Tirta Dharma and Almagari Surakarta swimmer association, as many as 36 swimmers. The sampling technique employed was purposive random sampling. Technique of analyzing data employed was ANAVA. Before running the 3 x 2 design ANAVA, the data analysis prerequisite test was done using the sample normality test (Lilliefors test with α = 0.05%) and variance homogeneity test (Bartlett test with α = 0.05%).  The conclusions of research are as follows: (1) There is a significant difference 25 meters and 50 meters distances anaerobic interval training in increasing the Front Crawl style of 100-meter swimming speed, (F0 = 11.4248 > Ft = 3.32). The effect of 25 meters distance anaerobic interval training is better then that of 50 meters distance anaerobic interval training, (2) There is a significant difference 25 meters and combination of 25-50 meters distances anaerobic interval training in increasing the Front Crawl style of 100-meter swimming speed, (F0 = 11.4248 > Ft = 3.32). The effect of 25 meters distance anaerobic interval training is better then that combination of 25-50 meters distance anaerobic interval training. (3) There is a significant difference 50 meters and combination of 25-50 meters distances anaerobic interval training in increasing the Front Crawl style of 100-meter swimming speed, (F0 = 11.4248 > Ft = 3.32). The effect of 50 meters distance anaerobic interval training is better then that combination of 25-50 meters distance anaerobic interval training. (4) there is a significant difference of Front Crawl style of 100-meter swimming speed between the swimmer with high arm power and the one with low arm power, (F0 = 5.1962 > Ft = 4.17). The effect of swimmer with high arm power is better then the one with low arm power, and (5) there is a significant the effect of interaction between the anaerobic interval learning and the arm power on the Front Crawl style of 100-meter swimming speed increase, (F0 = 7.0338 > Ft = 3.32)
PERBEDAAN PENGARUH METODE LATIHAN PLYOMETRIC DAN BERBEBAN TERHADAP PENINGKATAN SMASH FOREHAND BULUTANGKIS DITINJAU DARI MOTOR ABILITY
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan pengaruh antara metode latihan plyometric dan berbeban terhadap peningkatan smash forehand bulutangkis, (2) Perbedaan peningkatan smash forehand bulutangkis antara mahasiswa yang memiliki motor ability baik, sedang dan kurang, (3) Pengaruh interaksi antara metode latihan dan motor ability terhadap peningkatan smash forehand bulutangkis. Penelitian ini menggunakan metode ekperimen dengan rancangan faktorial 2 x 3. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa putra Pembinaan Prestasi Bulutangkis Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive random sampling, besarnya sampel yang diambil yaitu sebanyak 60 mahasiswa. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan ANAVA. Sebelum diuji dengan ANAVA, terlebih dulu menggunakan uji prasyarat analisis data dengan uji normalitas sampel (Uji Lilliefors dengan α = 0,05 %) dan Uji homogenitas varians (Uji Bartlett dengan α = 0,05 %). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) ada perbedaan pengaruh antara metode latihan plyometric dan berbeban terhadap peningkatan smash forehand bulutangkis. Pengaruh metode latihan plyometric lebih baik dari pada metode latihan berbeban, (2) ada perbedaan peningkatan smash forehand bulutangkis antara mahasiswa yang memiliki motor ability baik, sedang dan kurang. Peningkatan smash forehand bulutangkis pada mahasiswa yang memiliki motor ability baik lebih baik dari pada mahasiswa yang memiliki motor ability sedang, mahasiswa yang memiliki motor ability sedang lebih baik dari pada mahasiswa yang memiliki motor ability kurang, (3) terdapat pengaruh interaksi antara metode latihan dan motor ability terhadap peningkatan smash forehand bulutangkis. Mahasiswa yang memiliki motor ability baik lebih cocok jika diberikan metode latihan plyometric. Mahasiswa yang memiliki motor ability sedang lebih cocok jika diberikan metode latihan berbeban. Sedangkan mahasiswa yang memiliki motor ability kurang lebih cocok jika diberikan metode latihan plyometric. ÂÂÂ
Konsep Happenstance Learning Untuk Pemecahan Masalah Bimbingan Karir di Sekolah
Permasalahan pendidikan dinegara kita mulai dari kerusakan gedung sanpai pada mutu pendidikan kita yag tidak layak sampai dengan kualitas pendidikan yang kurang juga terutama dirisaukan dengan masalah tenaga kerja yang tidak tertampung oleh lapangan pekerjaan yang memadai. Pemerintah merasa perlu menggalakkan SMK untuk menjadikan generasi muda lebih kretif menciptakan lapangan kerja bukan mencari lapangan kerja untuk mengatasi pangangguran yang sulit terpecahkan selama ini. Salah satu cara adalah sistem permagangan yang disebut sistem ganda. Sistem ini bertujuan menjawab tuntunan agar terwujud kesesuaian antara keluaran dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Pelaksanaan gagasan ini bukan tanpa kendala masih adanya faktor budaya dan kesiapan sistem dalam praktek didunia industry. Tantangan bagi peseta didik secara akademis dan intelektusl perlu dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja. Teori Happenstance Learning ( teori belajar kebetulan ) dapat menjawab kebutuhan siswa akan bimbingan karir. Happenstance learning percaya bahwa hal-hal yang terjadi dalam hidup individu seperti peristiwa-peristiwa yang tidak dapat diramalkan bisa menjadi sebuah keuntugan apabila individu mampu bereaksi secara positif dengan mengembangkan keterampilan kritis, dan konselor dapat mengarahkan kien untuk mengubah pengalaman-pengalaman masa lalu menjadi peluang untuk belajar eksplorasi. Ada lima komponen konseling dalam menggunakan Happentance Learning : (1)  Orientasi harapan konseli, (2) Mengidentifikasi harapan klien sebagai permulaan (3) Gunakan pengalaman sukses klien di masa lalu dengan peristiwa yang tidak direncanakan sebagai dasar untuk tindakan saat ini, (4) Menyadarkan klien untuk mengenali peluang potensial, (5) mengatasi Blok to Action (mengatasi keyakinan disfungsional yang menghalangi tindakan yang konstruktif)
Konsep Happenstance Learning Untuk Pemecahan Masalah Bimbingan Karir di Sekolah
Dunia pendidikan kita pernah mengenal Kurikulum 1968 yang dikenal dengan sebutan “Subject Centered curriculum“ Pendidikannya bersifat berat sebelah karena mengutamakan salah satu aspek kognitif saja. Oleh karena itu pendidikannya dicap sebagai pendidikan yang bersifat intelektualistis. Kurikulum 1968 diganti dengan kurikulum 1975, yaitu kurikulum yang bersifat “Goal Centered Curriculum “ kurikulum yang bertujuan pada tujuan instruksional. Kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984.  Kurikulum yang  sarat muatan, banyak mata pelajaran dan materi yang harus dipelajari oleh peserta didik. Banyaknya mata pelajaran  belum menunjukkan hubungan antara yang satu dengan yang lain.  Mata pelajaran yang satu terpisah dengan mata pelajaran yang lain, dengan kata lain masih menjadi pengkotak-kotakan pengetahuan. Pengorganisasian kurikulum semacam ini terkenal dengan sebutan “separated Subject Curriculum “,akibat yang terjadi dari kurikulum ini adalah menimbulkan kecenderungan pengajar diburu target materi. Tahun 2004 lahir Kurikulum berbasis kompetensi, yang kemudian disempurnakan 2006 dengan Kurikulun Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap kurikulum selama ini. Memasuki tahun 2013 Mendikbud atas nama pemerintah akan memberlakukan kurikulum baru 2013 mulai tahun ajaran baru 2013/2014. Orientasi Kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan antara kompetensi sikap (attitude), keterampilan (skill) dan pengetahuan (knowledge). Salah satu alasan diberlakukannya Kurikulum 2013 adalah  Perubahan proses pembelajaran dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu dan proses penilaian dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output . Beberapa hal yang perlu diantisipasi pada kurikulum 2013 ini, terutama mengenai istilah kompetensi inti dan kompetensi dasar. istilah SK-KD ini akan digantikan menjadi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Kompetensi Inti merupakan operasionalisasi SKL dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills. Kompetensi Inti dirancang dalam empat kelompok yang saling terkait yaitu berkenaan dengan: (kompetensi inti 1 Sikap keagamaan), (kompetensi 2Sikap sosial), (kompetensi inti 3 Pengetahuan), (kompetensi 4 Penerapan pengetahuan). Keempat kelompok itu menjadi acuan dari Kompetensi Dasar dan harus dikembangkan dalam setiap peristiwa pembelajaran secara integratif. Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan sosial dikembangkan secara tidak langsung (indirect teaching) yaitu pada waktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (kompetensi kelompok 3) dan penerapan pengetahuan (kompetensi Inti kelompok 4).Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti. Kompetensi Dasar adalah konten atau kompetensi yang terdiri atas sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang bersumber pada kompetensi inti yang harus dikuasai peserta didik. Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran ÂÂÂ
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLAIOMETRIK MEDICINE BALL BACK THROW DAN MEDICINE BALL THROW TERHADAP KEMAMPUAN BERMAIN TENIS LAPANGAN DITINJAU DARI KEKUATAN OTOT LENGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan pengaruh antara latihan plaiometrik medicine ball back throw dan medicine ball throw terhadap kemampuan bermain tenis lapangan, (2) Perbedaan kemampuan bermain tenis lapangan antara mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan tinggi, sedang dan rendah, (3) Pengaruh interaksi antara latihan plaiometrik dan kekuatan otot lengan terhadap kemampuan bermain tenis lapangan. Penelitian ini menggunakan metode ekperimen dengan rancangan faktorial 2 x 3. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa putra Jurusan Pendidikan Olahraga Kepelatihan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive random sampling, besarnya sampel yang diambil yaitu sebanyak 60 mahasiswa. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan ANAVA. Sebelum diuji dengan ANAVA, terlebih dulu menggunakan uji prasyarat analisis data dengan uji normalitas sampel (Uji Lilliefors dengan α = 0,05 %) dan Uji homogenitas varians (Uji Bartlett dengan α = 0,05 %). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) ada perbedaan pengaruh antara latihan plaiometrik medicine ball back throw dan medicine ball throw terhadap kemampuan bermain tenis lapangan. Pengaruh latihan plaiometrik medicine ball back throw lebih baik dari pada latihan plaiometrik medicine ball throw, (2) ada perbedaan kemampuan bermain tenis lapangan antara mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan tinggi, sedang dan rendah. Kemampuan bermain tenis lapangan pada mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan tinggi lebih baik dari pada mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan sedang, mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan sedang lebih baik dari pada mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan rendah, (3) terdapat pengaruh interaksi antara latihan plaiometrik dan kekuatan otot lengan terhadap kemampuan bermain tenis lapangan. Mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan tinggi lebih cocok jika diberikan latihan plaiometrik medicine ball back throw. Mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan sedang lebih cocok jika diberikan latihan plaiometrik medicine ball throw. Sedangkan mahasiswa yang memiliki kekuatan otot lengan rendah lebih cocok jika diberikan latihan plaiometrik medicine ball back throw