Ilmiah SPIRIT
Not a member yet
361 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN PENGARUH PENGGUNAAN BANTUAN PETI LOMPAT DAN ORANG TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN GERAK HEADSPRING DAN HANDSPRING DALAM LATIHAN SENAM ARTISTIK DITINJAU DARI FLEKSIBILITAS TOGOK
COMPARASION OF THE INFLUENCE OF THE USE AND THE JUMP TI INCREASED SKILL MOTION HEADSPRING AND HANDSPRING IN GYMNASTICS ARTTISTIC EXERCISE IN TERMS OF FLEXIBILITY TOGOK (Experimental Study On The Students Sports Son Coaching Education Faculty Oof Teacher Trainning And Educatuional Sciences Of The Tunas Pembangunan University Of Surakarta). Headspring and handspring is one type of movement on the number of floors (floor exercise) that have an element of movement is difficult and complex. That students have the ability and handspring owned headspring students well and properly, it must be done in a systematic and continuous training in the necessary training and exercise strategies. Use of aid is an important part in the implementation of skills training to improve skills including headspring and handspring. The use of such assistance in the implementation of the exercise as a media form that is appropriate use of assistance, including the use of aid in the form of tools (box jump) or use the help of people. On exercise and handspring headspring should be given proper training on the use of aid in a variety of exercises that can be useful to improve the motion headspring and handspring for students. The aims of the research to determine: (1a) The difference of effect between the use of jump box and person aids on the improvement of headspring movement in artistic gymnastic, (1b) The difference of headspring movement improvement result in artistic gymnastic practice between the students with high, medium, and low torso flexibility, (1c) The effect of interaction between the use of jump box and person aids, and the torso flexibility on the improvement of headspring movement in artistic gymnastic, (2a) The difference of effect between the use of jump box and person aids on the improvement of handspring movement in artistic gymnastic, (2b) The difference of handspring movement improvement result in artistic gymnastic practice between the students with high, medium, and low torso flexibility, (2c) The effect of interaction between the use of jump box and person aids, and the torso flexibility on the improvement of handspring movement in artistic gymnastic, (3a) The difference of effect between the use of jump box and person aids on the improvement of headspring-handspring movement in artistic gymnastic, (3b) The difference of headspring-handspring movement improvement result in artistic gymnastic practice between the students with high, medium, and low torso flexibility, (3c) The effect of interaction between the use of jump box and person aids, and the torso flexibility on the improvement of headspring-handspring movement in artistic gymnastic practice. This research used an experimental method with a 2 x 3 factorial design. The population of research was the third semester male students of Sport and Health Education Department of Teacher Training and Education Faculty of Surakarta Tunas Pembangunan University (UTP) who had attended Gymnastics I and II courses. The sampling technique used was purposive random sampling. The sample size was 36 students. Techniques of collecting data used were test and measurement. The data was collected included headspring, handspring, and headspring-handspring sequence movement scores with gymnastic referee assessment. The data of torso flexibility was collected using Bridge Step Test. Technique of analyzing data used in this research was variance analysis and Newman Keuls interval test at significance level of 5%. Based on the result of research conducted, the following conclusions could be drawn: (1a) there was a different effect between the use of jump box and person aids on the improvement of headspring movement in artistic gymnastic, Fstatistic = 11.15 > Ftable = 4.26. (1b) There was a difference of headspring movement improvement result in artistic gymnastic practice between the students with high, medium, and low torso flexibility, Fstatistic = 8.18 > Ftable = 3.40. (1c) There was no interaction between the use of jump box and person aids, and the torso flexibility on the improvement of headspring movement in artistic gymnastic, Fstatistic = 3.295 > Ftable = 3.40. (2a) there was a different effect between the use of jump box and person aids on the improvement of handspring movement in artistic gymnastic, Fstatistic = 9.295 > Ftable = 4.26. (2b) There was a difference of handspring movement improvement result in artistic gymnastic practice between the students with high, medium, and low torso flexibility, Fstatistic = 7.325 > Ftable = 3.40. (2c) There was no interaction between the use of jump box and person aids, and the torso flexibility on the improvement of handspring movement in artistic gymnastic, Fstatistic = 2.965 > Ftable = 3.40. (3a) There was a difference of effect between the use of jump box and person aids on the improvement of headspring-handspring movement in artistic gymnastic practice, Fstatistic = 13.375 > Ftable = 4.26. (3b) There was a difference of headspring-handspring movement improvement results in artistic gymnastic practice between the students with high, medium and low torso flexibility, Fstatistic = 11.28 > Ftable = 3.40. (3c) The was no interaction effect between the use of jump box and person aids uses and the torso flexibility on the improvement of headspring-handspring movement in artistic gymnastic practice, Fstatistic = 3.326 > Ftable = 3.40
IDENTIFIKASI FAKTOR FISIK ATLET CABANG BULUTANGKIS
Persoalan mendasar mengapa cabang olahraga bulutangkis nasional yang subur dengan prestasi justru beberapa tahun terakhir menurun. Legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata (2012) menilai ada dua masalah besar dalam pengembangan cabang bulutangkis nasional. Masalah pertama adalah setiap kepengurusan Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) selalu ingin mendapatkan “nama†diperiode kepengurusannya, sebagai contoh pemain-pemain senior yang dikirim mengikuti berbagai kejuaraan.“Itu menyebabkan atlet junior kurang mendapatkan kesempatan sehingga kurang adanya regenerasi,â€ÂÂSebaliknya, pemain junior Indonesia yang tidak pernah dikirim ke ajang bergengsi tidak mendapatkan lawan tanding yang bagus dimana mereka bisa menimba pengalaman. Masalah kedua adalah adanya kesenjangan yang besar antara bulutangkis Jawa dan luar Jawa. Ada anggapan kalau mau ingin sukses bulutangkis harus pergi ke Jawa dan  masuk klub-klub besar. Hal itulah yang menyebabkan perbedaan kemampuan,â€Â
PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR PASSING BAWAH DALAM PERMAINAN BOLAVOLI PADA MAHASISWA PUTRA SEMESTER I JPOK FKIP UTP SURAKARTA TAHUN 2013 (EKSPERIMEN PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN INTERVAL DAN KONTINYU)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Perbedaan pengaruh antara pembelajaran dengan menggunakan metode latihan interval dan menggunakan metode kontinyu terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada pada mahasiswa putra Semester I JPOK FKIP UTP Surakarta tahun 2013. (2) Pengaruh yang lebih baik antara pembelajaran dengan menggunakan Metode latihan interval dan pembelajaran dengan menggunakan metode kontinyu terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada pada mahasiswa putra Semester I JPOK FKIP UTP Surakarta tahun 2013. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian iui menggunakan metode eksperimen dengan pola M - S (Matched by Subject Designs) menggunakan ordinal pairing. Populasi dalam penelitian ini adalah pada mahasiswa putra Semester I JPOK FKIP UTP Surakarta tahun 2013, yang berjumlah 300 mahasiswa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan adalah random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan test dan pengukuran dalam olahraga yaitu ketrampilan passing bawah dalam permainan bolavoli (M. Yunus, 1977:3). Teknik analisis data yang digunakan uji t(t-test) pada taraf signifikansi 5%. Sebelum menguji dengan rumus t-test, terlebih dahulu dilakukan uji reliabilita dan uji persyaratan analisis data dengan melakukan uji normalitas dan homogenitas. Penelitian ini menghasilkan simpulan sebagai berikut; (1) ada perbedaan pengaruh pembelajaran dengan menggunakan Metode latihan interval dan menggunakan Metode kontinyu terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada mahasiswa putra Semester I JPOK FKIP UTP Surakarta tahun 2013 dengan thitung sebesar 9,479 1ebih besar dari ttabel, pada taraf signifkansi 5% sebesar 2,145. (2) Pembelajaran dengan menggunakan metode latihan interval lebih baik daripada pembelajaran dengan metode kontinyu, dengan prosentase peningkatan pembelajaran dengan menggunakan metode latihan interval sebesar 24,14% dan prosentase peningkatan pembelajaran dengan menggunakan metode kontinyu sebesar 14,81% terhadap hasil belajar passing bawah bolavoli pada mahasiswa putra Semester I JPOK FKIP UTP Surakarta tahun 2013
PERSPEKTIF FENOMENOLOGI DAN APLIKASINYA DALAM PENELITIAN SOSIOLOGI OLAHRAGA
Karakteristik dari studi ilmu keolahragaan adalah fenomena manusia dalam konteks keolahragaan menjadi amat kompleks karena mengandung muatan aspek biologis, psikologis, budaya dan antropologis. Sosiologi mempelajari tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat, tidak sebagai individu yang terlepas dari kehidupan masyarakat. Fokus bahasan sosiologi adalah interaksi manusia, yaitu pada pengaruh timbal balik di antara dua orang atau lebih dalam perasaan, sikap, dan tindakan. Sosiologi olahraga mula-mula tumbuh dengan meminjam konsep sosiologi. Cangkokan konsep dari disiplin induknya itu kemudian berkembang dengan memanfaatkan ‘bahan mentah’ dari pengalaman secara empirik mengenai aktivitas olahraga yang dipandang sebagai sebuah fenomena sosial. Perspektif fenomenologis untuk rumpun ilmu social-behavioral dalam hal ini sosiologi olahraga (sport sociology) digunakan sebagai pendekatan untuk memperoleh pengetahuan dan dikaji dalam tulisan ini
PERBEDAAN PENGARUH LATIHAN PLYOMETRICS DAN BERAT BADAN TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI LOMPAT JAUH
Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Perbedaan Pengaruh latihan plyometrics double leg bound dan plyometrics alternate leg bound terhadap peningkatan prestasi lompat jauh.(2) Perbedaan peningkatan prestasi lompat jauh antara berat badan ideal normal (+) dan berat badan ideal normal (-). (3) Pengaruh interaksi antara latihan plyometrics dan berat badan badan terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan faktorial 2x2. Sampel penelitian adalah siswa putra kelas VIII MTsN Plupuh Sragen yang memiliki berat badan ideal normal (+) dan berat badan ideal normal (-). Besarnya sampel yang diambil untuk penelitian adalah 40 yang terdiri dari 2 kelompok latihan. Sampel dibagi atas 20 siswa dengan berat badan ideal normal (+) dan 20 siswa dengan berat badan ideal normal (-). Pengujian hipotesis dilakukan dengan taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara latihan plyometrics double leg bound dan plyometrics alternate leg bound terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Dari analisis data diperoleh Fhitung = 5.778 > Ftabel = 4.11. Pengaruh latihan plyometrics alternate leg bound lebih baik dari pada plyometrics double leg bound, rata-rata peningkatannya masing-masing adalah 0.326 dan 0.404. (2) Ada perbedaan hasil lompat jauh yang signifikan antara siswa yang memiliki berat badan ideal normal (+) dengan berat badan ideal normal (-). Dari analisis data diperoleh Fhitung = 4.254 > Ftabel = 4.11. Peningkatan prestasi lompat jauh pada siswa yang memiliki berat badan ideal normal (+) lebih baik dari pada yang memiliki berat badan ideal normal (-), rata-rata peningkatannya masing-masing adalah 0.332 dan 0.398.(3) Terdapat pengaruh interaksi yang signifikan antara latihan plyometrics dan berat badan terhadap peningkatan prestasi lompat jauh. Dari analisis data diperoleh Fhitung = 8.591 > Ftabel = 4.11. a) Siswa yang memiliki berat badan ideal normal (-) lebih cocok jika diberikan latihan plyometrics alternate leg bound. b) Siswa yang memilki berat badan ideal normal (+) lebih c
PIJAT PADA EKTREMITAS BAWAH SEBELUM LATIHAN
Tujuan artikel ini untuk memeriksa pengaruh pijat pada performa ekstremitas bawah sebelum latihan. Setiap subjek melakukan hal sebagai berikut secara berurutan, yaitu: pijat, peregangan, dan istirahat. Setelah pemijatan dan peregangan, istirahat dapat dapat mengurangi ketegangan otot dan rasa sakit dari kontraksi otot pada kaki. Dengan melakukan pijat Swedia 10 menit pada tungkai bawah bagian posterior dan 5 menit pada tungkai bawah bagian anterior mengurangi rasa sakit pada kaki terhadap latihan, sehingga dapat meningkatkan performa otot pada saat latihan
PERBEDAAN PENGARUH METODE PEMBELAJARAN MASSED PRACTICE DAN DISTRIBUTED PRACTICE TERHADAP KEMAMPUAN LOB BULUTANGKIS DITINJAU DARI POWER OTOT LENGAN ( Studi Eksperimen Pada Pemain Putra Tingkat Pemula Persatuan Bulutangkis Purnama Surakarta)
THEDIFFERENT INFLUENCE OF LEARNING METHOD MASSED PRACTICE AND DITRIBUTED PRACTICE FOR ABILITY OF BADMINTON LOB OBSERVATION OF ARM MUSCLE(Surakarta Purnama Association Badminton Study Experiment for Man Player Level Beginner). Purpose of observation to knowing (1) Different influence of  learning method with massed practice and distributed practice for badminton lob abilityfor man player level beginner. (2) Different badminton lob abilitybetween who have good the arm power muscle, medium arm muscle power and less arm muscle power for man player badminton level beginner. (3) There are or not influence interaction between learning method and arm muscle power for badminton lob ability for man player badminton level beginner. This research use experiment method composed three variable, there are free variable manipulation (learning method massed practice and distributed practice), attributive variable (arm muscle power) and bunch variable (lob blow). Plan of research is 2x3 factorial. Sample used in this research is badminton athlete level beginner Surakarta Purnama Badminton Association with 59 of child sample total. Sample interpretation use purposive random sampling. Data of power arm muscle got with throw softball ball test (Distance Throw Test), and than ability of lob measured with ability lob blow test. Technique data analysis use ANAVA. Before examine with ANAVA, beforehand use sample normalitas test (Lillifors test with α=0.05) and homogenitas varians test (Barlet test with α=0.05). Building on research result show that : (1) there are different the clear influence between massed practice learning and distributed practice learning, Fhitung =7.554 > Ftabel = 4.04. Distributed practice learning have better progress than at massed practice learning. (2) There are different of influence that significan between group who have good power arm muscle, medium, and less, Fhitung= 4.881> Ftabel= 3.18. The player having good power arm muscle who have progress ability badminton lob better than player who have medium power arm muscle or less. (3) Get on interaction between massed practice learning, distributed practice learning and power arm muscle, FHitung= 11.409 > FTabel = 3.19
HASIL BELAJAR KETERAMPILAN BULUTANGKIS DITINJAU DARI KEMAMPUAN MOTORIK, KOORDINASI MATA-TANGAN, DAN PERSEPSI KINESTETIK PADA MAHASISWA PUTRA PENKEPOR SEMESTER IV JPOK FKIP UNS TAHUN AKADEMIK 2013/2014
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan kemampuan motorik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis pada mahasiswa putra Penkepor semester IV JPOK FKIP UNS Surakarta. (2) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan koordinasi mata-tangan dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis pada mahasiswa Putra Penkepor Semester IV JPOK FKIP UNS Surakarta. (3) Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan persepsi kinestetik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis pada mahasiswa putra penkepor semester IV JPOK FKIP UNS Surakarta dan bila ada seberapa besar hubungan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan studi korelasional. Populasi penelitian ini adalah Mahasiswa Penkepor semester IV JPOK FKIP UNS surakarta yang mengikuti perkuliahan bulutangkis pada tahun akademik 2013/2014. Penetapan sampel yang digunakan adalah purposive sampling berjumlah 58 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan dengan tes dan pengkuran yang terdiri dari empat variabel yaitu kemampuan motorik, koordinasi mata-tangan, persepsi kinestetik dan hasil belajar keterampilan bulutangkis. Untuk mengukur kemampuan motorik dengan tes medicine ball, standing broad jump dan dogging run. untuk mengukur koordinasi mata-tangan dengan lempar tangkap bola tenis. Untuk mengukur persepsi kinestetik dengan vertical dan horizontal linear space test. Dan tes keterampilan bulutangkis. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment dan analisis regresi tiga prediktor dengan taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan : (1) Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan motorik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis, rhitung = 0,461 > rtabel = 0,260 dan memberikan sumbangan sebesar 19,40%.  (2) Ada hubungan yang signifikan antara koordinasi mata-tangan dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis, rhitung = 0,341 > rtabel = 0,260 dan memberikan sumbangan sebesar 8,85%. (3) Ada hubungan yang signifikan antara persepsi kinestetik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis, rhitung = 0,367 > rtabel = 0,260 dan memberikan sumbangan sebesar 12,48%. (4) Ada hubungan yang signifikan antara kemampuan motorik, koordinasi mata-tangan, persepsi kinestetik dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis. Nilai Fhitung 12,371 > Ftabel 2,78 dan memberikan sumbangan sebesar 40,73%. Besarnya R² antara kemampuan motorik (X1), koordinasi mata-tangan (X2), persepsi kinestetik (X3) dengan hasil belajar keterampilan bulutangkis (Y) adalah 0,407
PENGARUH MODEL MENGAJAR DAN KELOMPOK USIA ANAK BESAR TERHADAP HASIL BELAJAR LOMPAT JAUH GAYA JONGKOK PADA MATA PELAJARAN ATLETIK (Studi Eksperimen Latihan dan Komando pada Siswa Putra di SDN 1 Jatisrono Wonogiri )
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi tentang pengaruh model mengajar periksa diri dan model mengajar komando terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan faktorial 2 x 2. Populasi penelitian sebesar 60 siswa berasal dari siswa kelas IV dan V SDN 1 Jatisrono Kabupaten Wonogiri. Sampel penelitian berjumlah 40 siswa dengan teknik purposive random sampling. Teknik pengumpulan data dengan survei data kelompok usia anak besar dan tes lompat jauh. Teknik analisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf siqnifikansi α = 0,05. Hasil penelitian adalah 1). Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara model mengajar terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada mata pelajaran atletik dengan nilai sig = 0,000 lebih kecil dari 0,050, 2). Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara kelompok usia 9-10 tahun dan kelompok usia 11-12 tahun terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok dengan nilai sig = 0,034 lebih kecil dari 0,050, 3). Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara model mengajar dan kelompok usia terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok dengan nilai sig = 0,003 lebih kecil dari 0,050. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa (1) Model mengajar komando memiliki pengaruh yang lebih baik dalam pencapaian hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada mata pelajaran atletik, sehingga para guru atau pelatih disarankan lebih memilih model mengajar periksa diri dan komando dalam penyusunan program pembelajaran. Hal ini sangat membantu jika diterapkan dalam pembelajaran yang relatif singkat. (2) Siswa kelompok usia 11-12 tahun terbukti memiliki hasil lebih baik daripada siswa kelompok usia 9-10 tahun terhadap capaian hasil belajar lompat jauh gaya jongkok pada mata pelajaran atletik. Untuk itu para guru atau pelatih dalam membuat program pembelajaran agar selalu memperhatikan perbedaan kelompok usia siswa dan melakukan pengelompokan kelompok belajar sehingga jalannya kegiatan belajar lebih efektif dan hasil belajar lompat jauh gaya jongkok akan lebih cepat tercapai. (3) Terdapat interaksi antara model mengajar dan kelompok usia terhadap hasil belajar lompat jauh gaya jongkok, dan hasil analisis statistik menunjukan bahwa model mengajar periksa diri memiliki hasil yang lebih baik digunakan untuk anak kelompok usia 11-12 tahun dan model mengajar komando memiliki hasil yang lebih baik jika digunakan untuk anak kelompok usia 9-10 tahun. ÂÂÂ
PENGARUH LATIHAN PLYOMETRIC DROP PUSH UPS DAN PUSH UPWITH CLAP TERHADAP PENINGKATAN POWER OTOT LENGAN PADA MAHASISWA PUTRA PEMBINAAN PRESTASI PENCAK SILAT JPOK FKIP UNS TAHUN 2014
Tujuan penelitian untuk mengetahui : (1) Perbedaan pengaruh latihan Drop Push Ups dan Push Up With Clap terhadap power otot lengan pada pesilat putra pembinaan prestasi pencak silat JPOK FKIP UNS tahun 2014; (2)Latihan manakah yang lebih baik pengaruhnya antara latihan Drop Push Ups dan Push Up With Clap terhadap peningkatan power otot lengan pada mahasiswa putra pembinaan prestasi pencak silat JPOK FKIP UNS tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa putra pembinaan prestasi pencak silat JPOK FKIP UNS 2014 dengan jumlah 50 orang. Teknik sampel yang digunakan adalah random sampling dengan sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.Teknik Pengumpulan data yang digunakan adalah tes (Medicine Ball).Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji perbedaan (uji †“ t) dengan melalui uji persyaratan terlebih dahulu seperti uji reliabilitas, uji normalitas, dan uji homogenitas. Setelah melakukan penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut: (1) Ada perbedaan pengaruh latihan drop pus ups dan push up with clap terhadap peningkatan power otot lengan pada mahasiswa pembinaan prestasi JPOK FKIP UNS tahun 2014, dengan t hitung = 3,1777> tabel = 2,145; (2) Latihan push up with clap memiliki pengaruh yang lebih baik dari pada metode latihan drop push ups terhadap peningkatan power otot lengan pada mahasiswa putra pembinaan prestasi JPOK FKIP UNS tahun 2014, dengan peningkatan Metode latihan push up with clap= 10,093% > latihan drop push ups = 4,179%.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1)ada perbedaan pengaruh antara latihan drop push up dan push up with clap terhadap peningkatan power otot lengan pada mahasiswa putra pembinaan prestasi JPOK FKIP UNS 2014); (2) latihan push up with clap memiliki pengaruh yg lebih baik dari pada latihan drop push upsdalam meningkatkan kemampuan power otot lengan pada mahasiswa putra pembinaan prestasi pencak silat JPOK FKIP UNS 2014. ÂÂÂ