JURNAL KONVERSI
Not a member yet
137 research outputs found
Sort by
Eksplorasi Produksi Biohidrogen dari Fraksi Organik Sampah Rumah Tangga dengan Penambahan Zat Aditif N,P dan K
Fraksi organik sampah rumah tangga adalah salah satu potensi sumber energi terbarukan melalui konversi menjadi metana dan hidrogen. Dengan pengaturan pH yang tepat, proses anaerob dapat menghasilkan metana atau hidrogen. Penelitian ini bertujuan mempelajari peningkatan produksi biohidrogen dari fraksi organik sampah rumah tangga dengan penambahan zat aditif berupa pupuk NPK. Pupuk NPK berfungsi sebagai penyempurnaan nutrisi bagi mikroba anaerob. Ketersediaan bahan organik pada substrat untuk mikroba anaerob direpresentasikan dengan VS (volatile solid) dan inokulum yang digunakan berupa kotoran sapi. Pupuk NPK ditambahkan ke dalam 440 mL substrat dengan variasi dosis 5,840 g (R1); 7,280 g (R2); dan 8,745 g (R3). Penelitian ini dijalankan dalam reaktor batch selama 30 hari pada suhu ruangan. Analisis yang dilakukan mencakup analisis kandungan gas menggunakan GC (Gas Chromatography) serta analisis sampel campuran yang meliputi VS (volatile solid), TS (total solid), dan pH. Hasil penelitan menunjukkan bahwa penambahan zat aditif berupa pupuk NPK dengan jumlah terukur berpengaruh positif dalam meningkatkan produksi gas hidrogen dari sampah organik rumah tangga. Selain itu, nilai pH merupakan faktor yang penting dalam proses anaerob ini. Pada pH 4 produk gas yang dihasilkan didominasi oleh H2 dan CO2. Rasio C/N yang menghasikan gas terbanyak adalah 20:1
PENGARUH KOMPOSISI DAN WAKTU PRESS CAMPURAN DIOKTIL PTALAT (DOP), EPOKSI MINYAK DEDAK PADI DAN EPOKSI MINYAK KELAPA SAWIT TERHADAP SIFAT MEKANIK PLASTIK KEMASAN PVC
Bahan komposit pada umumnya terdiri dari dua unsur, yaitu serat (fiber) sebagai bahan pengisi dan bahan pengikat serat - serat tersebut yang disebut matriks Bila penggunaan komposit yang sulit didaur ulang dilakukan secara terus – menerus, hal ini akan memberikan dampak yang sangat berbahaya bagi kehidupan dan lingkungan karena sebagian besar komposit tersebut akan meninggalkan limbah yang tak terurai dan tidak dapat diproses sehingga akan mengendap di lingkungan dan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Dalam penelitian ini limbah sekam padi sebagai bahan baku pembuatan biokomposit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan abu silika berukuran nano (nano filler) yang berasal dari pengabuan sekam padi dengan variasi massa abu sekam padi (0, 3, 5, 7 dan 9%) dan mengetahui pengaruh perbandingan komposisi sekam padi dan abu nano sekam padi dengan resin epoxy dengan variasi komposisi (65%:35%,, 70%:30%, 75%:25%, 80%:20%, dan 85%:15%) dari total massa bahan biokomposit yaitu berupa sekam padi hasil delignifikasi dan resin epoksi, terhadap sifat mekanik biokomposit sebagai kampas rem. Hasil penelitian menunjukkan pada biokomposit dengan konsentrasi abu sekam padi 5% menunjukkan hasil keausan 1,20126E05 gr/mm2.detik dan kuat lentur 299,26 Kg/cm2 dan menjadikan hasil tersebut sebagai hasil terbaik pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan pada biokomposit dengan perbandingan komposisi 85%:15% menunjukan hasil uji kekerasan 51,29 Kgf (HR) dan menjadikan hasil tersebut sebagai hasil terbaik pada penelitian ini
PENGARUH VARIASI MASSA DAN LAMA KONTAK FITOREMEDIASI TUMBUHAN PARUPUK (PHRAGMITES KARKA) TERHADAP DERAJAT KEASAMAN (pH) DAN PENURUNAN KADAR MERKURI PADA PERAIRAN BEKAS PENAMBANGAN INTAN DAN EMAS KABUPATEN BANJAR
Teknologi yang bisa digunakan untuk mengurangi pencemaran merkuri di perairan bekas penambangan intan dan emas di desa Pumpung, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan adalah dengan teknik fitoremediasi. Teknik fitoremediasi didefinisikan sebagai teknologi pembersihan, penghilangan atau pengurangan zat pencemar dalam tanah maupun air dengan mediator tumbuhan berfotosintesis. Salah satu tumbuhan yang mampu menjadi media fitoremediasi adalah tumbuhan parupuk. Tanaman Parupuk adalah salah satu tumbuhan yang mempunyai kemampuan hiperakumulator, sehingga cocok untuk digunakan dalam proses fitoremediasi. Pada penelitian ini dilakukan fitoremediasi statis dengan variasi massa tanaman 0,5 kg, 1 kg dan 1,5 kg dengan lama perendaman 8 jam, 80 jam, 152 jam dan 224 jam. Dilakukan uji sampel dengan cara pengukuran pH dengan pH-meter dan dengan alat Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) dengan panjang gelombang 253,6 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kenaikan pH yang cukup signifikan pada variasi massa 1 kg dengan lama perendaman 80 jam, dengan nilai pH 7,8. Sedangkan, penurunan kadar merkuri didapatkan hasil terbaik pada variasi massa 1,5 kg dengan lama perendaman 152 jam sebesar 0,001679 mg/l
EKSTRAKSI OLEORESIN JAHE GAJAH (Zingiber officinale var. Officinarum) DENGAN METODE SOKLETASI
Oleoresin merupakan hasil ekstraksi rempah yang didalamnya terkandung komponen-komponen yang berupa zat-zat volatil dan non-volatil yang masing-masing berperan dalam menentukan aroma dan rasa. Salah satu metode ekstraksi yang dapat digunakan untuk memperoleh oleoresin yaitu ekstraksi sokletasi. Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi sokletasi dengan tiga faktor: pelarut etanol, suhu ekstraksi (70 dan 80°C), dan waktu ekstraksi (30, 60, 90, 120 dan 150 menit). Dari hasil penelitian diperoleh nilai rendemen oleoresin, kelarutan oleoresin dalam pelarut, dan densitas oleoresin tertinggi secara berurutan 2,62%; 0,1213; dan 0,8588 gr/mL pada perlakuan waktu ekstraksi 150 menit dengan suhu 80o C
PENGARUH WAKTU PEMANASAN TRANSESTERIFIKASI MINYAK EKSTRAK LUMUT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN BIODIESEL
Kebutuhan bahan bakar minyak dalam negeri meningkat seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi. Hal ini mendorong para peneliti senantiasa mencari solusi memecahkan masalah krisis bahan bakar di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan mengganti bahan bakar fosil dengan yang dapat diperbaharui. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif berbahan baku minyak nabati dan hewani yang memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bahan bakar minyak bumi. Lumut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Kadar asam lemak bebas (FFA) yang tinggi didalam minyak lumut dapat dikonversikan menjadi Fatty Acid Methyl Ester (biodiesel). Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan lumut sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Metoda yang dilakukan untuk pembuatan metil ester (biodiesel) dalam penelitian ini adalah esterifikasi dan dilanjutkan dengan proses transterifikasi. Untuk mendapatkan minyak lumut dilakukan dengan cara ekstraksi menggunakan soklet dengan perbandingan beberapa pelarut (heksana, benzena, dietil eter) dan waktu yang divariasikan (1, 1½, 2) jam. Selanjutnya pada proses esterifikasi bodiesel ditambahkan katalis asam (H2SO4), dan dilanjutkan dengan proses transesterifikasi dengan penambahan katalis NaOH dengan variabel waktu pemanasan (15, 30, 45, 60, 75, 90) menit. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk ekstraksi minyak lumut pelarut yang cocok adalah dietil eter dengan yield 31,0% dengan waktu eksraksi 1½. Dengan kadar FFA yaitu 13,91mg/g dan bilangan iod 11,26%. Sedangkan pada produk (biodiesel) didapatkan hasil maksimal pada pemanasan selama 60 menit dengan suhu 60oC yaitu dengan yield 78,79%. Dengan berat jenis 0,882 gr/ml, kadar FFA 1,13 mg/g dan kadar air 0,597
METODE EKSTRAKSI UNTUK PEROLEHAN KANDUNGAN FLAVONOID TERTINGGI DARI EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa oleifera Lam)
ABSTRAK. Kelor (Moringa oliefera) merupakan tanaman perdu yang mengandung senyawa antioksidan flavonoid, saponin, sitokinin, asam-caffeolylquinat dan mengandung asam lemak tak jenuh seperti linoleat (omega 6) dan alfalinolenat (omega 3). Tujuan penelitian yaitu menentukan kandungan total fenolik dari ekstrak daun kelor Moringa oliefera. Metode ekstraksi yang dilakukan antara lain maserasi, perkolasi, sokletasi, rebusan, dan ekstraksi ultrasonik. Ekstrak kasar yang diperoleh kemudian diuapkan menggunakan evaporator vakum putar. Uji fitokimia dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengetahui kandungan flavonoid total dalam ekstrak daun kelor. Kandungan total flavonoid terbesar diperoleh dari metode rebusan sebesar 245,771 mg/kg
A STUDY ON THE EFFECTIVENESS OF ANTIFUNGAL AGENTS ON COTTON FABRICS COLORED BY GAMBIR NATURAL DYES (UNCARIA GAMBIR)
The increasing interest in the use of natural dyes is not accompanied by sufficient information and method for the application due to broad natural dyes resources existence. Gambir (Uncaria gambir), one of promising favorable natural dyes, has been used as batik coloring for decades. However, the application of gambir extract as a textile colorant faces a severe problem to be encountered which is the microbial growth such as fungi, mold, and bacteria. This study proposed several antifungal agents to suppress the growth of the fungus such as chitosan, aloe vera, and formaldehyde. To conduct the fungus inhibition concentration of every antifungal agent, Aspergillus niger was introduced on the colored cloth medium with the addition of Potato Dextrose Broth (PDB) growth media. Three methods of antifungal addition during the coloring process were investigated namely pre-coloring, post-coloring, and mix coloring process. The growth of Aspergillus niger was observed and measured the diameter and thickness of the colony. One-way ANOVA was used to analyze the treatment significantly. The result showed that all concentration of chitosan and formaldehyde addition, significantly, could suppress the fungus growth. However, formaldehyde is a toxic ingredient and harmful to the environment which becomes a limitation in the application. Meanwhile, from the significance level, Aloe vera could not inhibit the Aspergillus niger growth with the addition of 2 and 5 g/L, but it could suppress the Aspergillus niger growth with the addition of 8 g/L. Furthermore, the optimum condition was observed on the addition of 5 g/L chitosan at post-coloring method because of the minimum growth area of the Aspergillus niger
PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GLISEROL DARI MINYAK JELANTAH TERHADAP NILAI UJI TARIK BIOPLASTIK DARI PEMANFAATAN LIMBAH KULIT ARI KACANG KEDELAI
Kebutuhan kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tempe dan tahu yang merupakan makanan pokok sehari-hari masyarakat Indonesia sangatlah besar sehingga menyebabkan limbah yang dihasilkan yaitu kulit ari kedelai menjadi berlimpah. Kulit ari kacang kedelai mengandung selulosa, hemilosa dan lignin yang dapat dibuat sebagai bahan bioplastik..Tujuan penelitian ini adalah pembuatan bioplastik yang berasal dari limbah kulit ari kacang kedelai melalui uji tarik dan analisa waktu pemanasan untuk mendapatkan titik optimal kekuatan bioplastik sebagai alternatif pengganti plastik sintetis. Penelitian ini menggunakan metode polimerisasi. Metode ini dilakukan dengan menggunakan gliserol yang berasal dari minyak jelantah sebagai plasticizer dan selulosa dari limbah kulit ari kacang kedelai sebagai sumber polimer sehingga saat kedua zat tersebut berinteraksi pada suhu 70-80oC akan terbentuk gelatin yang kemudian dipanaskan untuk menghasilkan bioplastik. Variasi konsentrasi gliserol sebesar 10; 12,5; 15; 17,5; dan 20 (v/v) yang masing-masing dilakukan dalam jangka waktu pemanasan 1 hari dengan suhu 45oC. Nilai kuat tarik tertinggi berada pada penambahan konsentrasi gliserol 10 (v/v) sebesar 7,3 N/cm2 dalam persamaan regresi y = -0,076x + 8,08 dengan nilai R² = 0,9704. Uji ketahanan air (% swelling) dilakukan pada suhu ± 600C dinyatakan dengan persamaan y = - 1.196x + 51.96 dan nilai R² = 0,9706 memiliki nilai terkecil sebesar 27,1 % pada saat penambahan konsentrasi gliserol 20 (v/v). Uji biodegradable dilakukan dengan soil burial test dimana pada minggu ke-1 bioplastik telah terurai sekitar 30%, pada minggu ke-2 hampir 50% terurai, lalu pada minggu ke-3 hampir 70% terurai dan pada minggu ke-4 bioplastik terurai sepenuhnya
PENGARUH WAKTU ADSORPSI ASAM LEMAK BEBAS DALAM MINYAK KELAPA SAWIT MENTAH PADA PEMBUATAN BIOADSORBEN LIMBAH BATANG PISANG
Minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO) merupakan bahan baku utama untuk pembuatan minyak goreng. Proses pembuatan minyak goreng melibatkan adsorbent untuk mengikat pengotor, memucatkan warna dan menurunkan kadar Free Fatty Acid (FFA) minyak. Adsorbent yang digunakan dalam proses pemurnian CPO umumnya adalah bleaching earth. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat adsorbent alami yang berasal dari pelepah pisang. Pemilihan pelepah pisang sebagai bioadsorbent didasarkan pada banyaknya kandungan selulosa pada batang pisang sehingga memungkinkan untuk terjadinya reaksi adsorpsi.Pembuatan bioadsorbent dilakukan dengan mengaktivasi selulosa pada pelepah pisang menggunakan senyawa H2SO4 dengan konsentrasi 0,4 N. Pelepah pisang yang sudah diaktivasi kemudian dikeringkan dan diaplikasikan untuk menurunkan kadar Free Fatty Acid (FFA) pada CPO. Hasil kadar FFA pada CPO yang sudah diaktivasi dihitung, kemudian ditentukan pola adsorpsi isothermalnya dengan menggunakan persamaan Langmuir dan Freundlich. Dari penelitian ini didapatkan bahwa waktu optimum untuk adsorpsi adalah 90 menit dengan persentase kadar FFA yang terserap sebesar 38,08%. Proses penyerapan Kadar FFA dapat mengikuti persamaan Langmuir maupun freundlich dengan R2 ± 0.9 sampai dengan 1
ANALISIS KEEKONOMIAN PENGAMBILAN SULFUR SECARA BIOLOGI DENGAN PROSES THIOPAQ DI LAPANGAN GAS ALAM XY
Penelitian ini menggunakan pendekatan dari sisi profitabilitas karena menyangkut keuntungan yang langsung dapat diterima secara financial. Dengan menggunakan proses Thiopaq, apabila harga sulfur sebesar 500 USD/ton maka didapatkan IRR sebesar 33%, harga NPV sebesar USD 53.237.964 dan PBP selama 2,35 tahun. Semakin tinggi harga sulfur maka revenue akan semakin meningkat dan mengakibatkan naiknya nilai NPV dan IRR sedangkan nilai PBP semakin rendah yang berarti bahwa waktu yang diperlukan untuk mencapai angka nol (titik balik modal) akan semakin cepat. Dan analisis sensitivitas menunjukan bahwa harga sulfur yang paling berpengaruh terhadap terjadinya perubahan NPV dan IRR.