Jurnal Pendidikan Geografi
Not a member yet
93 research outputs found
Sort by
Kedudukan Geografi Dalam Perencanaan Pengembangan Wilayah
Dalam rangka pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, perlu dilakukan penataan ruang serta pengembangan wilayah agar usaha-usaha ke arah perbaikan kehidupan nasional dapat tercapai. Penataan ruang adalah proses perencanaan, pemanfaatan ruang, dan pengendaliannya sesuai dengan peruntukannya dan wujudnya berupa pola pemanfaatan ruang wilayah nasional, ruang wilayah Daerah Tingkat I dan ruang wilayah Daerah Tingkat II yang mencakup kawasan perkotaan, kawasan pedesaan, dan kawasan tertentu. Tujuan dari penataan ruang yaitu terselenggaranya penataan ruang berwawasan lingkungan dan terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya, serta tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. Posisi seorang geograf dalam perencanaan wilayah meliputi penelitian dan survey lapangan serta pengumpulan data , kecuali itu geografer bersama-sama dengan disiplin lainnya mempunyai kedudukan dalam pelaksanaan perencanaan di lapangan dan evaluasi dari komponen perencanaan
Pekerja Anak di Kota dan Permasalahannya
Masalah pekerja anak merupakan masalah yang kompleks. Masalah yang dihadapi oleh pekerja anak adalah jam kerja yang panjang, upah kerja yang rendah dan pekerjaan yang berbahaya. Oleh karena itu pekerja anak perlu adanya perlindungan hukum dengan melaksanakan Peraturan MENAKER Nomer: Ol/MEN 1987 tentang pekerja anak dan Konvensi ILO No. 138/1973 tentang batasan usia pekerja anak
Pemetaan Potensi Sumber Daya Manusia Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kotamadya Malang
Pembangunan di suatu wilayah tidak dapat mengabaikan potensi yang dimiliki oleh wilayah yang menjadi sasaran pembangunan. Potensi wilayah dapat berupa sumber daya alam dan sumber daya manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan potensi sumber daya manusia di Kelurahan Sumbersari Kecamatan Lowokwaru Kotamadya Malang. Metode pemetaan yang diterapkan metode pemetaan koroplet dengan alasan bahwa data yang dipetakan berupa data penyebaran. Pengumpulan data primer dilakqkan dengan cara wawaneara terhadap pegawai kelurahan dan dengan mencatat data monografi desa. Sedangkan data prasarana fisik dilakukan dengan cara observasi untuk cheking lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 7 RW yang terdapat di Kelurahan Sumbersari memiliki perbedaan yang nyata. Secara sistematis perbedaan tersebut dapat dibaca secara cepat clan mudah setelah disajikan dalam bentuk peta potensi sumberdaya manusia
Tata Ruang dan Keserasian Ekologis Kota
Pesatnya perkembangan kota yang tak terkendali temyata telah menimbulkan berbagai masalah lingkugan. Tak dapat dipungkiri bahwa masalab tersebut sangat berkait dengan tata ruang kota, yang tidak mampu menampung tuntutan perkembangan kota. Saat ini setiap tata ruang kota selain harus dapat menampung berbagai dinamika penduduknya, juga dituntut dapat menciptakan dan menjaga keserasian ekologis kota. Untuk model tata ruang kota yang dikembangkan harus meletakkan masalah lingkungan sebagai isu sentral
Studi Tentang Upaya Pengentasan Keluarga Miskin dengan Bantuan Dana IDT di Wilayah Kelurahan Susunan Baru Kecamatan Tanjung Karang Barat Kotamadya Bandarlampung
Penelitian ini bertujuan mengkaji upaya pengentasan keluarga miskin dengan bantuan IDT di wilayah Kelurahan Susunan Baru Kotamadya Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan populasi 204 KK miskin yang diambil sampel sebanyak 25 % atau 51 KK. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara clan dokumentasi dengan instrumen berupa kuesioner. Analisis data dilakukan dengan tabulasi frekuensi sebagai dasar deskripsi hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ada perbedaan penerimaan bantuan dana IDT, karena keterbatasan dan rencana tiap kelompok, (2) bantuan dana digunakan untuk usaha dagang, ternak kambing, dan usaha tani sayuran, (3) total hasil usaha sebanyak Rp.16.015.000,00/tahun, berarti pendapatan tiap kepala keluarga Rp.314.020,00/tahun atau Rp.62.804 per kapita/tahun, (4) hasil tes tersebut menyumbangkan 21,16 % terhadap total pendapatan pokok yaitu dari Rp.75.700.000,OO/tahun menjadi Rp. 91.715.000,OO/tahun. Pendapatan perkapita meningkat dari Rp.296.863,OO/tahun menjadi Rp.359.667,OOI tahun belum dapat memenuhi kebutuhan perkapita minimamya sebanyak Rp.1.079.600,00/tahun, dan adanya bantuan dana IDT belum dapat mengentaskan kemiskinan keluarga, (5) usaha yang harus dikembangkan oleh keluarga miskin agar segera menghasilkan adalah bertani sayuran, dagangan, dan usaha ternak ayam potong
Geografi Pariwisata Sebagai Materi Program Muatan Lokal Pada SMU di Wilayah Daerah Tujuan Wisata: Suatu Gagasan Pengembangan Kurikulum SMU
Salah satu tujuan pengajaran Geografi adalah mengembangkan kemampuan berfikir analisis geografi dalam memahami gejala geosfir. Keindahan alam dan keberadaan budaya daerah di beberapa wilayah negeri kita merupakan salah satu wujud gejala geosfir yang akhir-akhir ini menjadi dambaan bagi pendapatan daerah dan devisa negara. Oleh karena itu semua pihak yang berada di sekitar wilayah daerah tujuan wisata perlu memahami gejala geosfir tersebut dan mampu mengantisipasi baik dalam mempertahankan kelestariannya maupun upaya memperoleh manfaat dari keadaan tersebut. Untuk itu anggota masyarakat lewat para siswa SMU diharapkan dapat memperoleh gambaran/informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan kepariwisataan. Penambahan materi program muatan lokal tentang Geografi Pariwisata diharapkan dapat membekali para siswa guna menyampaikan informasi kepada masyarakat sekitarnya dan berguna bagi para siswa sendiri untuk memanfaatkan peluang dalam mendapatkan/menciptakan lapangan kerja. Dapat juga menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan dalam menentukan studi lanjut setelah tamat SMU
Pertumbuhan Permukiman Baru di Kotamadya Malang Dilihat dari Lokasinya Terhadap Jalan Kolektor, Pusat Kota, dan Kemiringan Lahan
Sebagai akibat dari pembangunan, saat ini pertumbuhan pemukiman baru di Kotamadya Malang banyak mengubah lahan subur menjadi kawasan pemukiman sehingga lahan di sekitar jalur jalan raya (arteri) umumnya menjadi incaran para investor untuk dikembangkan menjadi kawasan permukiman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kemiringan lahan dan jalur jalan kolektor serta jalan arteri terhadap pertumbuhan permukiman baru di Kotamadya Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah membandingkan peta kelas kemiringan lereng, peta jaringan jalan, dan peta penyebaran permukiman baru di Kotamadya Malang pada skala yang sama. Sampel penelitian adalah permukiman baru yang ada di Kotamadya Malang dan penentuannya dilakukan secara area sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permukiman baru di Kotamadya Malang yang menempati kawasan topografi miring (lereng kelas ll) seluas 150,14 hektar atau sekitar 55,75 %; lereng berbukit (lereng kelas N) seluas 32,81 hektar atau 12.18 %, paling sempit di antara kelas lereng yang ada. Jarak terjauh permukiman baru terhadap jalan kolektor adalah 1,5 kilometer, sedangkan jarak terdekat adalah 0,1 kilometer, yaitu permukiman Bukit Hijau Permai. Adapun jarak rata-rata permukiman baru terhadap jalan kolektor terdekat ialah 0,57 kilometer. Dari analisis peta diketahui bahwa kawasan yang kepadatan jalannya rendah jarang dijumpai permukiman baru, tetapi tersedianya jalan, walaupun kondisinya jelek akan mendorong dibangun permukiman
Profesionalisasi Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Jabatan Guru
Di dalam menghadapi gelombang perubahan yang dibawa oleb revolusi industri dan revolusi informasi, maka peran sumber daya manusia menjadi semakin penting. Untuk dapat beranjak pada terbentuknya manusia Indonesia masa depan yang memiliki kepekaan, kemandirian, dan tanggung jawab. Sumber daya manusia harus benar-benar dipersiapkan sebagai tenaga profesional yang mampu mengatisipasi setiap perubahan yang terjadi. Perlu disadari bahwa pendidikan adalah unsur yang sangat berperan membentuk kepribadian manusia yang tidak hanya terbatas pada masalah fisik saja, tetapi dalam sikap dan tindak kerjanya. Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, lembaga pendidikan mempunyai andil yang sangat besar untuk mempersiapkan anak didik yang nantinya akan mengelola negara. Oleh karena itu berhasil tidaknya mereka, akan sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan para guru dalam mendidiknya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya upaya untuk memprofesionalisasikan jabatan guru. Untuk dapat mencetak guru yang profesional antara lain diperlukan adanya program pre-service yang benar-benar mapan. Harus disadarai bahwa tanggung jawab dosen sebagai tenaga pendidik di LPTK cukup besar, yang akan membawa dampak terhadap pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Para dosen di LPTK harus dapat mencetak calon-calon guru yang tangguh dan mempunyai kemampuan profesional sebagai awal yang dipersyaratkan. Untuk dapat mencetak guru yang profesional diperlukan pula dosen-dosen yang profesional
Mengantisipasi Perkembangan Perkotaan di Indonesia
Pesatnya penumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi telah mendorong berkembangnya kota-kota di Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan kota tersebut, selain berdampak positif berupa meningkatnya kesejahteraan, temyata juga menimbulkan dampak negatif yang sangat kompleks. Untuk mengantisipasi masalah ini maka polarisasi dan segmentasi perkotaan yang merupakan dampak dari restrukturisasi tekno ekonomi semacam ini perlu dicermati; tidak hanya dalam kaitannya dengan manisfestasi spatial, stroktur atau bentuk fisik kota melainkan juga menyangkut disparitas kesejahteraan penduduknya
Dana Inpres Desa Tertinggal - IDT dan Perannya Dalam Peningkatan Pendapatan Keluarga Miskin di Desa Fajar Baru Lampung Selatan
Penelitian ini bertujuan mengkaji dana IDT dan perannya dalam peningkatan pendapatan keluarga miskin di desa Fajar Baru Lampung Selatan. Titik tekan kajian pada besarnya dana IDT dan cara pengembaliannya, jenis usaha dan besarnya pendapatan, kendala atas usahanya, dan perannya dalam pemenuhan kebutuhan pokok keluarga.Metodologi penelitian ini adalah metode deskriptif. Populasinya berjumlah 286 KK miskin penerima dana IDT. Karena keterbatasan peneliti dan homogenitas populasi, maka diambil sampel 10 % (29 KK). Pengumpulan data dikerjakan dengan teknik observasi dan wawancara, dan instrumennya berupa kuesioner. Data disajikan dalam bentuk tabulasi frekuensi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) sebanyak 68,96 % KK menerima dana IDT sebesar Rp. 165.000,00 dan sebanyak 31,04 % KK menerima dana IDT sebesar Rp. 250.000,00. Pengembaliannya secara bergilir dan diperuntukkan bagi keluarga miskin yang belum mendapat dana IDT; (2) jenis usaha ternak kambing sebanyak 82,76 % KK dengan basil Rp. 33.542,00/KKJtahun, sedangkan 17,24 % KK untuk usaha dagang hasilnya Rp. 236.000,00/KKJtahun; (3) kendala usaha ternak kambing yaitu anaknya sering mati dan hasilnya lama, dan pada usaha dagang berupa terbatasnya modal; (4) dana IDT di desa Fajar Baru belum dapat mengentaskan kemiskinan karena hanya dapat memenuhi kebutuhan pokok minimal antara 25,20 % - 24,81 %