Jurnal Pendidikan Geografi
Not a member yet
93 research outputs found
Sort by
Persepsi Petani Tentang Pemanfaatan Lahan Pekarangan Sebagai Tambahan Pendapatan Keluarga di Dusun Dermo Kecamatan Dau Kabupaten Malang
Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui: (1) Tingkat pemanfaatan lahan pekarangan sebagai tambahan pendapatan keluarga; (2) Seberapa besar tingkat pendapatan keluarga berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan lahan pekarangan sebagai tambahan pendapatan keluarga; (3) Seberapa besar tingkat persepsi kepala keluarga tentang pemanfaatan lahan pekarangan berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan lahan pekarangan sebagai tambahan pendapatan keluarga; dan (4) Seberapa besar luas lahan pekarangan yang dimiliki berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatannya sebagai altematif tambahan pendapatan keluarga. Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah semua kepala keluarga yang memiliki mata pencaharian sebagai petani yang bertempat tinggal di Dusun Dermo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Besamya sampel yang diambil ditetapkan sebanyak 100 kepala keluarga. Penentuan sampel responden dilakukan dengan teknik "Random Sampling". Sesuai dengan tujuan dan hipotesis, maka analisis data yang digunakan adalah Statistik Deskriptif untuk masing-masing ubahan, analisis Korelasi, dan Koefisien Determinasi.Tingkat pemanfaatan lahan pekarangan sebagai altematif tambahan pendapatan keluarga masih relatif rendah yaitu hanya 7 responden. (7 %) dari 100 responden yang tergolong tinggi, 55 responden (55 %)tergolong sedang, dan sebanyak 38 responden (38 %) tergolong rendah. Antara tingkat pendapatan keluarga dengan tingkat pemanfaatan lahan pekarangan sebagai altematif tambahan pendapatan keluarga tidak memiliki hubungan yang signifikan yaitu rh = 0,1545 rt = 0,195.Terdapat hubungan yang signiflkan antara tingkat persepsi kepala keluarga tentang pemanfaatan lahan pekarangan dengan tingkat pemanfaatan lahan pekarangan, pada taraf signifikansi 0,05 didapatkan rh = rt = 0,195. Nilai koefisien korelasi antara luas pemilikan lahan pekarangan dengan tingkat pemanfaatan lahan pekarangan sebesar rh = -0,2620 rt = 0, I 95, berarti terdapat hubungan yang signifikan. Kontribusi yang terbesar untuk tercapainya tingkat pemanfaatan lahan pekarangan yang tinggi diberikan oleh variabel luas pemilikan lahan pekarangan, yaitu sebesar 0,068644, kontribusi kedua adalah variabel tingkat persepsi kepala keluarga terhadap pemanfaatan lahanan pekarangan sebesar 0,04605316, dan kontribusi terkecil adalah variabel tingkat pendapatan keluarga yaitu sebesar 0,02387025
Hubungan Antara Sarana Transportasi Dan Pola Perjalanan Wisatawan Dengan Pencemaran Lingkungan Daerah Wisata Pantai Malang Selatan
Pantai Malang selatan merupakan salah satu kawasan wisata bahari yang sedang dikembangkan oleh pemerintah daerah kabupaten Malang. Salah satu dampak negatif dari kegiatan pariwisata adalah pencemaran lingkungan fisik berupa sampah. Sampah dihasilkan dalam kegiatan wisata terutama dari kemasan makanan dan minuman. Pembangunan sektor pariwisata "peka" terhadap pencemaran lingkungan; tetapi kegiatan pariwisata merupakan pencemar yang cukup tinggi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara jenis sarana transportasi dan pola perjalanan wisatawan dengan pencemaran lingkungan daerah tujuan wisata. Berdasarkan data yang dikumpulkan diperoleb hasil: terdapat hubungan yang signiflkan antara jenis sarana transportasi dan pola perjalanan dengan pencemaran daerah wisata
Kualitas Lingkungan Permukiman Penduduk Miskin Daerah Pedesaan di Kabupaten Tulungagung
Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi kualitas permukiman penduduk miskin di daerah pedesaan di Kabupaten Tulungangung dan kaitan kualitas lingkungan permukiman tersebut dengan kondisi sosial ekonomi penduduknya. Populasi penelitian adalah seluruh wilayah dan penduduk miskin di daerah pedesaan di Kabupaten Tulungagung. Sampel wilayah ditetapkan secara sengaja (pourposife sampling) dan terpilih desa Kiping mewakili daerah belum berkembang dan desa Tanggung mewakili daerah yang sudah berkembang. Sampel responden dipilih secara random dengan responden 100 kk. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi lapangan, dengan instrumen daftar pertanyaan dan label kriteria kualitas lingkungan permukiman. Penetapan kualitas lingkungan rumah dan permukiman di kerjakan dengan cara pemberian skor (scoring) menggunakan model Risyanto (modifikasi model Departemen Pekerjaan Umum). Korelasi kualitas lingkungan permukiman dengan kondisi sosial ekonomi penduduk dianalisis dengan label silang dan regresi ganda. Penelitian ini memperoleh basil: (1) kualitas lingkungan rumah dan lingkungan permukiman penduduk miskin di Kabupaten Tulungagung masih tergolong kurang baik hingga buruk; hal ini menunjukkan bahwa faktor kemiskinan masih menjadi kendala bagi upaya pemeliharaan pemeliharaan rumah dan lingkungan permukiman; (2) kualitas lingkungan rumah dan lingkungan permukiman di daerah pedesaan miskin di Tulungagung sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi penduduknya, dan faktor yang menonjol adalah jumlah anggota keluarga dan tingkat pendapatan
Pencemaran Udara 1 Kota dan Efeknya pada Efek Kesehatan Manusia
Meningkatnya aktivitas menusia di kola yang ditunjang dengan sarana transportasi modern ternyata telah menimbulkan masalah pencemaran udara, yang pada akhimya justru mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Bahan polutan buangan kendaraan bermotor yang tertumpah secara tak terkendali di atas atmosfer kota, dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh manusia baik secara inhalasi, ingesti, maupun penetrasi kulit, dan jelas efeknya dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia. Repotnya,.aktivitas manusia tersebut kian hari justru kian meningkat saja
Upaya Pembinaan Terhadap Para Pengrajin Batu Mulia
Suatu penelitian kualitatif telah dilakukan terhadap para pengrajin batu mulia di Sukodono mengenai efektivitas pembinaan yang telah diberikan oleh Unit Bina Industri Batu Mulia (UBIBAM), suatu unit dari PT. Pabrik Pupuk Sriwijaya di Palembang, selaku bapak-asuh bagi industri rumah tangga para pengrajin tersebut. Hasil penelitian itu menunjukkan, bahwa langkah-Iangkah pembinaan yang oleh UBIBAN tersebut cukup kuat untuk memprediksi keefektifan hasilnya. Karena itu pembinaan yang telah dilakukan selama ini masih perlu dilanjutkan dan disempurnakan lagi. Di sisi lain para pengrajin batu mulia tersebut merasakan dapat memperoleh kemajuan bagi usahanya sendiri, maupun manfaat-manfaat lain bagi pembangunan masyarakat desa pada umumnya. Dengan demikian upaya pembinanan tersebut dapat dikatakan sebagai upaya mengangkat rakyat dari kemiskinan dan kebodohan melalui upaya-upaya pendidikan secara konkrit. Pengolahan data dilakukan dengan pertolongan komputer pada Pusat Komputer IKIP MALANG berdasarkan analisis regresi ganda, yang rangkumannya letters pada halaman 11 dan 12 makalah ini (melalui program SPSS dan Sutrisnohadi)
Pemimpin Masyarakat dan Program Aksi di Pedesaan
Membahas dan mengungkap tentang kepemimpinan yang ada dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, lebih khusus petani (peasant society) sangat perlu, karena berkaitan dengan strategi dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat atau pembangunan pedesaan. Pengetahuan tentang struktur kekuatan dan pimpinan sosial dalam kehidupan masyarakat, secara garis besar berkait dengan personal yang peduli terhadap program-program pembangunan clan pengembangan yang ada di dalam kehidupan masyarakat itu sendiri. Pemimpin masyarakat mempunyai legitimasi terhadap program-program pembangunan. Tanpa bantuan mereka sangat sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan penggerakan masyarakat. Dalam konsep kekuatan sosial, pemimpin masyarakat merupakan dimensi yang sangat penting
Regionalisasi dan Pola Penyebaran Tumbuhan Berdaun Lebar Hijau Sepanjang Tahun di Muka Bumi
Dunia tumbuhan selalu mengalami proses perubahan, perkembangan dan penyebaran. Perubahan, perkembangan dan penyebaran tumbuhan di muka bumi ini "seirama" dengan perubahan dan perkembangan faktor intern dan ekstern. Faktor-faktor biologik sebagai faktor dalam (intern) meliputi perkawinan silang, mutasi, dan modiftkasi genetika dari tumbuhan tersebut Faktor geograftk sebagai faktor loaf (ekstern) meliputi perubahan iklim, tanah, aktivitas vulkan, dan kerak bumi. Secara garis besar penyebaran tumbuhan di muka bumi ini dapat digoloogkan menjadi 8 kelompok yaitu berdaun lebar hijau sepanjang tahun, berdaun lebar disertai masa gugur daun, berdaun jarum hijau sepanjang tahun, rerumputan, bangsa lumut, campuran tumbuhan berdaun lebar dan jarum hijau sepanjang tahun. berdaun jarum mengalami musim gugur, dan campuran tumbuhan berdaun lebar hijau sepanjang tahun dan masa gugur daun
Sikap Penduduk Bertahan di Zona Bencana Alam Merapi: Perpektif Sosio-Kultural
Gunung Merapi yang terletak di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengah merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang tergolong sangat aktif. Rata-rata setiap 7-12 tahun gunung Merapi meletus dan menimbulkan bencana alam yang menelan korban baik jiwa maupun harta benda penduduk yang bertempat tinggal di sekitar khususnya di Zone Bencana Alam Merapi. Meskipun mereka sering dilanda bencana tetapi mereka enggan meninggalkan tempat tinggaInya. Faktor-faktor sosio-kultural yang mempengaruhi, antara lain hubungan kekeluargaan, sifat gotong royong warga, kecintaan daerah asal, kepercayaan terhadap penghuni gunung Merapi, dan penyuluhan program transmigrasi kurang tepat
Kualitas Air Tanah di Kabupaten Purworejo Selatan
Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik kualitas air tanah pada daerah kipas aluvial dan dataran aluvial. Teknik pengumpulan data sumur maupun sampel air tanah dilakukan secara acak, sehingga dapat mewakili kondisi daerah penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada daerah bentuklahan kipas aluvial memiliki Daya Hantar Listrik, pH, CI, DO, dan BOD lebih baik dibanding dataran aluvial, sedangkan parameter lain seperti N03, Fe, NH3, 804, pada dataran aluvial kualitasnya lebih baik. Curah hujan, kerapatan irigasi, tebal efektif tanah, permeabilitas tanah, gradien hidrolik, tinggi tempat, dan kontur air tanah berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kandungan ion. pada beberapa parameter kualitas air tanah. Proses penguraian bahan organik tidak meyebabkan perubahan kualitas air tanah yang berarti karena proses penguraian terjadi pada situasi aerobik
Rehabilitasi Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah yang Potensial untuk Bahan Baku Industri
Gambut adalah sumber daya fosil yang terbentuk jutaan tahun lalu tapi belum sarnpai pada stadium baru. Di Indonesia garnbut banyak tersebar di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sumatera bagian Timur. Gambut mempunyai banyak fungsi yaitu sebagai bahan energi, tanah pertanian, tanah kehutanan, penyangga ekologi , dan bahan baku industri. Pembukaan lahan gambut untuk pertanian seperti yang dilakukan di Kalimantan Tengah, sebetulnya memanfaatkan fungsi garnbut untuk pertanian, tetapi karena tidak mengikuti pengolaban sesuai karakteristik gambut sehingga mengalami kegagalan. Oleh sebab itu "Proyek Laban Garnbut Sejuta Hektar di Kalteng" yang mengalarni kegagalan harus segera direhabilitasi supaya potensi untuk industri dan potensi perlindungan hayati alam tidak ikut rusak