Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Not a member yet
442 research outputs found
Sort by
Konflik-Konflik Sumberdaya Alam di Kalangan Nelayan di Indonesia
Belakangan ini kaum nelayan di Indonesia sering terlibat dalam konflik sosial yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam (konflik sumberdaya). Diperkirakan konflik sumberdaya di kalangan kaum nelayan akan semakin sering terjadi di masa yang akan datang, karena potensi sumberdaya perikanan tangkap di Indonesia cenderung berkurang atau semakin langka. Dalam artikel ini akan diuraikan beberapa contoh konflik sumberdaya yang terjadi di kalangan kaum nelayan di Indonesia, dengan mengambil kasus di Balikpapan (Kalimantan Timur). Dijelaskan bahwa dominasi yang bersumber pada perbedaan tingkat teknologi penangkapan merupakan pemicu konflik sumberdaya tersebu
Contestation and Conflict in the Seizure of Gold in Poboya
Terjadinya konflik yang melibatkan antara masyarakat dengan pemerintah dan perusahaan disebabkan oleh perspektif yang berbeda dalam memandang sumber daya alam. Sebagai konsekuensinya, hal ini akan membawa pada perbedaan manajemen dan pemanfaatan sumber daya alam, sehingga hal itu akan berakhir dengan perbedaan pandangan dalam pengelolaan sumber daya alam antara pemerintah dan masyarakat setempat. Dalam tingkat makro, studi ini sebenarnya akan membahas diferensiasi makna yang berakhir dengan konflik sumber daya alam di Poboya, aktor yang terlibat dan representasi masyarakat adat dan kelompok-kelompok LSM konservasi sumber daya alam dari ekspansi kapitalis. Dengan menggunakan perspektif ekologi politik, studi ini menunjukkan bahwa ada banyak pihak yang terlibat dalam Poboya, seperti pemerintah pusat, para elit politik lokal, masyarakat adat, kepolisian daerah, CPM, dan masyarakat setempat. Penelitian ini juga mengidentifikasi bahwa asal usul konflik Poboya ini terjadi antara pemerintah, perusahaan (CPM) dan masyarakat adat adalah dalam hal kontestasi sumber daya alam. Sementara itu, konflik antara perusahaan, pemerintah dan LSM menjadi suatu diskursus. Representasi masyarakat adat diwujudkan dalam bentuk pengendalian kegiatan pertambangan, sedangkan LSM yang diberikan penguatan dan berdiri di belakang tindakan masyarakat di Poboya.Kata Kunci: kontestasi kekuasaan, masyarakat adat, penambangan
Production Orientation within Poverty Reduction in Indonesian
Diskursus kemiskinan terbesar saat ini diletakkan di atas metafora proses produksi. Diskursus terbangun dari pemikiran dikotomis, yaitu dikotomi kaya-miskin, produktif-tidak produktif, organisasi lokal-global.Diskursus ini dibangun oleh lembaga global, dan diimplementasikan pada tingkat nasional, daerah, hingga desa.Diskursus tersebut dibangun melalui standardisasi, normalisasi, dan pendisiplinan.Formalisasi diskursus dilaksanakan melalui pelatihan dan penyusunan dokumen-dokumen formal.Arena diskursus berisikan orang miskin, keluarga mereka, pemanfaat, pengusaha mikro, dan orang desa.Dengan konstruksi demikian, program pengurangan kemiskinan seharusnya menentukan secara khusus pemanfaatnya adalah orang miskin dan keluarganya. Kata kunci: diskursus, dikotomi, habitus kemiskinan, arena pengurangan kemiskinan
Local Capitalism of Bajo
Transformasi ekonomi pedesaan tidak terkecuali juga dialami oleh komunitas nelayan suku Bajo. Transformasi yang dialami masyarakat Bajo saat ini juga merujuk pada perubahan masyarakat pedesaan berbasis pada pertumbuhan dan mekanisme kapitalis pasar. Mola adalah gambaran unik komunitas nelayan Bajo yang telah mengalami transformasi sosial dalam bentuk modernisasi. Kenyataan ini jauh berbeda Mantigola. Perubahan masyarakat Bajo kearah kapitalisme ditengarai oleh peran dari pertukaran ekonomi, dan penetrasi nilai-nilai yang dibawa oleh An Tje. Perubahan orientasi ekonomi ke arah kapitalisme juga disebabkan oleh peran besar dari orang Mandati yang adalah para kapitalis, yang memberikan iklim yang kondusif dalam berusaha. Sebaliknya, Bagi Bajo Mantigola, kemandekan ekonomi disebabkan adaptasi terhadap diskriminasi yang dilakukan oleh orang Kaledupa, pembatasan terhadap ruang nafkah oleh taman nasional, pelarangan untuk menangkap di perairan Australia, dan ketergantungan dari orang-orang Mola. Kemudian, agama juga menjadi faktor pendorong terjadinya kapitalisme di Mola. Kapitalisme lokal suku Bajo juga berkembang melalui etika, namun etika yang dianut oleh masyarakat Bajo Mola yang kapitalis lokal tidak seperti etika yang dianut oleh para kapitalis penuh ala masyarakat Barat yang sangat individualisme. Maka dengan melihat ranah sejarah tersebut, teori Weber lebih bisa menjelaskan sejarah munculnya kapitalisme di aras individu. Sementara teori Marx digunakan untuk memahami bentuk eksploitasi yang dilakukan oleh orang-orang Mola terhadap saudaranya, namun bukan seperti eksploitasi yang sangat serakah seperti yang diungkapkan oleh Marx, karena masih bercokolnya nilai-nilai tertentu yang mengatur kehidupan berekonomi ala suku Baj
Nikah Siri in Demographic Overview
Konsepsi dan pemaknaan nikah siri tetap eksis dari waktu ke waktu dan pada dasarnya bertujuan untuk "merahasiakan" pernikahan agar ada pihak-pihak tertentu yang tidak mengetahui terjadinya pernikahan tersebut. Pemaknaan nikah siri dari sisi konsep ajaran Islam, merupakan bentuk pernikahan yang secara substantif di dalamnya terdapat indikasi kekurangan syarat dan rukun perkawinan walaupun secara formal terpenuhi, sementara dari sisi terminologi sosiologis masyarakat Indonesia dalam kerangka normatif perundang-undangan perkawinan, dimaknai pada setiap pernikahan yang tidak dicatatkan oleh lembaga yang berwenang mengurusi pernikahan. Dinamakan siri karena dilangsungkan secara diam-diam, tertutup, rahasia atau sembunyi-sembunyi tanpa adanya publikasi. Munculnya fenomena nikah siri yang semakin marak dilakukan, dengan alasan tertentu tanpa wali perempuan, bahkan terkadang juga tanpa saksi dan tanpa sepengetahuan orang tua pihak perempuan. Pernikahan seperti ini tidak sah secara agama dan apalagi secara hukum Negara, walaupun pelaku nikah sebagian masyarakat menganggap bahwa pernikahan model seperti ini sudah sah berdasarkan pemahaman agama yang diyakini tanpa memikirkan segala resiko dan dampak yang ditimbulkan oleh nikah siri terutama bagi perempuan dan anak yang dihasilkan dari pernikahan siri. Kata kunci: nikah siri, hukum Islam, hukum Negara, kependudukan
Coprorate Image Analysis on The Implementation of Community Relations Programs by PLN
A company will be able to survive if it has a good corporate image in the public. Public relations in every company is important to have the right strategies. To maintain coporate sustainibility, required relations between company with the community as an external public through community relations. PLN as a state company in charge of providing the power supply to all regions in Indonesia, run a community relations with the community in an area that has not received the power supply with Micro-hydro Power Plant (PLTMH) Programs. One of the PLTMH program is made in Lebak Picung. This study aims to determine the implementation of the community relations programs by PLN in Lebak Picung, as well as analyzing the relationship of community relations program with the process of corporate image building, and analyze the process of corporate image with PLN’s corporate image formed on community that received PLTMH program in Lebak Picung. Data is collected by census at all household and the respondents are the head of family or member who can represent of all members in the house. Data obtained thorough observation, in depth interviews and interviews using a questionnaire. The overall question in the quesionnaire using an ordinal scale then continued on correlations test. The results show the influence of respondent in the brand image building process is the judgementto the benefits. Respondent’s involvement in the program was not shown to have influence in corporate image process. In addition, there is a positive relationship between the process of corporate image that forms on the respondent. The more respondent rated PLTMH program provides positive benefits, the level of exposure, attentions and comprehensive of the responden are also tends to be high. Companies need to consider that the empowerment program should consider the needs of the targets, so the programs can be mutually beneficial. The company has a very positive image in the public so it maintain continuity of businessand community needs as program beneficiaries are met
Mangrove Forest Conservation and The Role of Local Community in Mangrove Ecosytems Rehabilitations
Mangrove ecosystem has many benefits both ecological and economic terms because of the mangrove ecosystem is one that has an important role in efforts to make use of sustainable coastal and marine resources. Various alternatives can be made to the management of mangrove forests in accordance with the necessities of life, their ability and their views or perceptions of mangrove forests. But there are still errors in the use of mangrove ecosystems, such as exploiting the mangrove forest and convert it into ponds, residential, agricultural land, and so forth. Various activities are causing widespread decline in mangrove forests and also resulted in decreased function and mangrove benefits for residents and the surrounding environment. To restore function of damaged mangrove and benefits, it is necessary to the management efforts through the rehabilitation and conservation of mangroves. This study aims: (1) Reviewing the chronology of mangrove conversion into ponds that occur in the Village Karangsong, Indramayu District, Indramayu District, (2) Knowing the actors and their respective roles in the conversion process and the actors in the rehabilitation and conservation of mangroves, (3) Analyze perceptions of local residents towards the rehabilitation and conservation of mangroves and to know the perspective of rehabilitation and conservation activities in the conversion of existing conditions, (4) Knowing the shape and development of resident participation in mangrove rehabilitation efforts. The results showed that the conversion of mangrove was originally introduced by settlers from the Losari District, Cirebon. Over time, indirectly Karangsong Village residents to observe and study the fish farming in ponds, and also facilitates the Village Government Karangsong arise in the mangrove area of ??land to be used by residents as fishponds. The continued development of aquaculture fish and shrimp in the pond, the conversion of mangrove area also do so causes a decrease in mangrove forest area and also resulted in decreased function and mangrove benefits for residents and the surrounding environment. Growing mangrove destruction, making some local residents are aware and take the initiative to form a group that deal with rehabilitation of mangrove on the basis of consciousness that is one of the mangrove ecosystem plays an important role in the ongoing effort to make use of coastal resources, the sea and the surrounding residents. Most of the perceptions of respondents in the category of "Medium" is the perception by the number of scores obtained from scoring high in doubt of the existence of mangrove rehabilitation in conversion of the existing conditions in the Karangsong Village. It can affect their initiative to participate in rehabilitation activities. Village regulations regarding the management of mangrove protection areas are not so clearly known to the respondent. Of the 34 respondents interviewed, nearly all do not know what the Village Regulation
Potato Farmers Household Income Systems in Dieng Plateau (Case Karangtengah Village, District Batur, Banjarnegara Regency, Central Java Province)
Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan strategi mata pencaharian rumah tangga petani kentang di Desa Karangtengah, Dataran Tinggi Dieng yang berhubungan dengan sejarah pertanian kentang di desa tersebut. Selain itu, untuk mengetahui seberapa jauh pertanian kentang dapat membangun sistem mata pencaharian yang berkelanjutan bagi rumah tangga petani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran kuesioner pada 31 rumah tangga petani yang menjadi responden dalam penelitian ini, sedangkan pendekatan kualitatif dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan pencarian literatur pada data yang terkait. Pada dasarnya, pertanian telah menjadi sumber pendapatan utama bagi rumah tangga petani kentang di Desa Karangtengah. Hal ini disebabkan pertanian yang telah diwariskan ke dalam identitas mereka dari generasi ke generasi. Namun, keterbatasan sumber daya, terutama lahan sebagai tempat produksi menyebabkan sembilan responden dalam penelitian ini menerapkan mata pencaharian ganda yaitu strategi pertanian dan non-pertanian. Dalam perkembangannya sumber daya pertanian kentang semakin berkurang. Meskipun masih menjadi sektor utama, ancaman terjadi secara bertahap misalnya degradasi lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas pertanian yang mengutamakan pada produksi yang tinggi karena penggunaan zat kimia berlebihan.Kata Kunci: sistem mata pencaharian, rumah tangga petani kentang, pertanian berkelanjutan, Dataran Tinggi Dieng
The Influence of Family, School, and Community Surrounding toward Gender Perception of Male and Female Student
The goals of this research are to analyze family, school, and society area that influence of student gender perception and then to know the different influence factors from it. This research has done in STEI TAZKIA. Generally, even though have the high education but the gender perception is still low. This reality has different with what happened in STEI TAZKIA. STEI TAZKIA students have the high gender perception. Those facts are the good reason to do research in STEI TAZKIA. The results of this research are student gender perceptions do not come from the family area, but student gender perception come from school and society area and there are different results from boy and girl students. The results of this research proofed that the influence boy students gender perception come from school area (from their teacher) and society area (from their friends), different with the girl students that the influence gender perception come from family area (from their mother)
DAMPAK SOSIO-EKONOMIS DAN SOSIO-EKOLOGIS KONVERSI LAHAN
Conversion of agricultural land is one of the phenomena of change the agricultural land designated into non agricultural designated. The purposes of this study are 1) to know the types of land conversion at Desa Tugu Utara, 2) to know the social-economic impact of land conversion at Desa Tugu Utara, and 3) to know the social-ecological impact of land conversion at Desa Tugu Utara. This study uses a quantitative approach supported by the use of qualitative approach. The result of the study showed that the type of land conversion in the village (2000-2010) consists of three types of land conversion: 1) land conversion type by location (open/closed), 2) land conversion type by the speed of change of land utilization (fast/slow), and 3) land conversion type by the actors involved in the land conversion (local residents/non-local resident). In general, land conversion gives a negative impact on social-economics conditions of household in the region, either in the agricultural sector or in the non- agricultural sector and also brings a negative impact on social-ecological system because it causes many environmental degradation