Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Not a member yet
442 research outputs found
Sort by
Socio-agrarian Conditions of Paddy Field in Sukabumi City
Paddy field, the paddy planted area, is a very important land since it produces staple food – rice. Nevertheless, the contradictory condition occurs when agricultural land converted into non-agricultural land. Agricultural land that is not protected is proned to the land conversion, especially in urban areas or the growing city. The study aimed to figure out the strategies for protecting paddy field by identifying the spatial pattern of social quality of paddy field farmers. the research methodology used mixed concurent method by using qualitative and quantitative data and it was analized by cluster analysis. The research analysis used cluster analyisis in order to show the farmer similarity characteristics of each sub-districts. T h e resu lts sh o wed , th e fa rm er s’s so cia l rela t io n s g rou p is fo rm ed o f six typ e s co m m u n ity, n a m ely : (1 ) th e farmer owners, (2) the farmers owner also tenant, (3) the farmer owners concurrent collector (middlemen), (4) peasant (5) peasant also farm laborer, and (6) a laborer. Labor, farmers regeneration, and land tenure fragmentation influenced to land use change. The strategies can be implemented to protect sawah in S u kab u m i, n a m ely: (1 ) b y in crea sin g th e fa r m er’s a g rib u sin ess ca p a c ity, (2) Formulating the action plan for regenerating young farmers, (3) by controlling the permission regarded to change of land use, (4) Sukabumi municipal buys the productive ricefields. For further, It seem should be conducted assessment on studying of the study on the Agropolis and Agroedutourism concept in Sukabumi. Keyword: farmer community, paddy field protection strategy, social quality, sosio-agrarian PENDAHULUAN Latar Belakang Pendekatan pembangunan selama ini mengedepankan pada pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dengan mengesampingkan faktor-faktor sosial dan hal yang mendasar. Wiradi (2000) menyatakan bahwa pembangunan a la Orde Baru menganut paradigma modernisasi. Paradigma modernisasi bertumpu pada pandangan bahwa secara global, pembangunan itu terdiri dari empat proses, yaitu: (1) penanaman modal untuk meningkatkan produktivitas, (2) proses alih teknologi dari negara maju ke negara berkembang dalam rangka penerapan iptek bagi kegiatan produksi dan jasa, (3) proses munculnya negara-negara, dan organisasiorganisasi politik dan ekonomi skala besar, dan (4) proses urbanisasi (Wiradi 2000)
Impact Tourism on off Farm Business and Employment Opportunities in Coastal Area
The tourism has a very significant role in national economic development. Social changes occured as a result of direct contacts from tourism in tourist areas. One of consequence from the tourism activities is emergence of businesses and employment opportunities which can encourage local economies. The purpose of this research was to identify business and employment opportunities as a result of tourism activities at Pramuka Island and also to identify characteristics of the community. Another purpose is to analyze level of income, linkages between agricultural sector and nonagriculture sector, and transfer of resources (land) that arise due to tourism activities. The research methods are qualitative method which supported by quantitative methods. The results showed that tourism activities in Pramuka island has created business and employment opportunities for local community. Opportunities are predominantly used by natives. Tourism businesses and employment tend to be main livelihood of local people although their income are still at low-income levels. Linkage between agriculture sector and nonagriculture sector in Pramuka Island is shown by the increasing demand in fisheries sector as raw material for some businesses. Transfer of resources tends to occur among natives and there is one policy that prohibits people to build a building around the island ring road. Keywords : impact, tourism, business and employment opportunities
Scheme of Community Forest (HKm) as a Collaborative Solution Conflict Resolution Management of Natural Resources in the Forest Sesaot, West Lombok
Ditetapkannya Hutan Sesaot menjadi kawasan Taman Hutan Rakyat (TAHURA) melalui SK Menteri KehutananNomor 244/Kpts-II/1999 dan Nomor 598/Menhut-II/2009 menimbulkan konflik di antara berbagai pihakyang berkepentingan. Penelitian dengan pendekatan kualitatif ini ingin (1) memetakan persoalan (dinamika)akses, properti, kekuasaan, dan kewenangan atas SDA di Hutan Sesaot sebelum dan sesudah penetapan; (2)menganalisis struktur dan tahapan konflik serta relasi (kumpulan dan jaring-jaring) kekuasaan para aktoryang terlibat; (3) merekomendasikanskema pengelolaan kolaboratif sebagaisolusi penyelesaian konflik.Hasil penelitian menemukan bahwa konflik pengelolaan sumber daya alam di hutan Sesaot bersumber dariperebutan akses dan hak pengelolaan antara Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan masyarakatlokal yang kemudian mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Dengan relasi,kumpulan, dan jaring kekuasaan yang dimilikinya, Pemprov NTB mendukung skema TAHURA, sedangkanPemkab Lombok Barat mendukung skema HKm (Hutan Kemasyarakatan). Pihak ketiga berhasil meredakankonflik dengan keputusan mengembalikan status fungsi hutan Sesaot dengan skema HKm dan memindahkanlokasi TAHURA ke wilayah lain di luar kawasan hutan Sesaot. Namun, tidak semua pihak puas dengankeputusan ini. Untuk menghindari konflik terjadi lagi di masa yang akan datang, penulis menyarankanmodifikasi skema HKm menjadi Hkm kolabaratif yang mampu menampung kepentingan semua pihak.Kata kunci: ekologi politik, hutan kemasyarakatan (HKm), hutan Sesaot, konflik, pengelolaan kolaborati
Type Repong Damar and Correlation with Gender Analysis among Repong Damar Farmer Households (Case in Pemangku 3 hamlet, Pekon Penengahan, West Lampung)
Dengan menggunakan gender dan konsep pengembangan, teori dan pendekatan, dan dengan mengacu pada studi empiris tentang gender dan pembangunan dan repong damar, penelitian ini mengkaji analisis gender di antara repong damar rumah tangga petani di Pemangku 3, Pekon Penengahan, Lampung Barat. Penelitian ini menemukan bahwa sistem patricarchy di tanah kepemilikan pengaruh akses, kontrol, partisipasi dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan repong damar. Dalam hal akses, perempuan menyumbang sekitar: sepertiga di setiap darak dan kebun Tanaman tahap muda, salah satu sebagainya dari kebun ketidak campuran, seperlima di damar muda dan sekitar sepersepuluh di produktif repong. Karena relatif kuat dari pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin pada kegiatan repong damar menyebabkan pola pengambilan keputusan yang dilakukan oleh suami sangat dominan, kecuali pada beberapa kegiatan budidaya padi dan hortikultura. Kecuali untuk program reproduksi domain (PKK dan Posyandu), secara umum, tidak ada lakilaki dan perempuan yang berpartisipasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Manfaat tertinggi atau pendapatan yang diperoleh oleh petani repong damar berasal dari kebun Tanaman muda (sekitar Rp. 27,5 juta) dan pendapatan terendah berasal dari darak (sekitar Rp. 9,9 juta).Berdasarkan jenis kelamin, manfaat tertinggi yang diterima oleh perempuan berasal dari repong muda, sedangkan terendah berasal dari darak. Situasi ini sama dengan yang relatif tinggi pada rata-rata anggota rumah tangga (enam orang per rumah tangga) dapat menyebabkan kesejahteraan petani akan menurun di masa depan. Karena ketidakadilan gender dan ketidaksetaraan di repong damar kegiatan tidak tercapai lagi, adalah penting untuk melakukan pelatihan kesadaran gender dengan melibatkan semua stake holder, seperti desa, pemimpin adat (adat) institusi, pemerintah daerah serta organisasi non-pemerintah . Kata kunci: analisis gender, fase produktif repong, jenis tanah repong, patriarki
Agrarian Structure Change and Its Implications for Rural Farmers Movement (Character Analysis Jasinga Farmers Association Forum Post PPAN)
Masyarakat Curug dan Tegal Wangi memiliki masalah yang berkaitan dengan pendudukan lahan. Dua aspek yang berubah setelah penurunan pendudukan lahan adalah penurunan kepemilikan lahan dan tingkat pendapatan. Munculnya Forum Paguyuban Petani Jasinga merupakan bagian dari strategi mereka untuk menanggulangi masalah di atas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh agraria terhadap perubahan struktur karakter organisasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada pengaruh perubahan status sosial ekonomi dengan dimensi gerakan petani. Di sisi lain, dimensi gerakan petani memiliki pengaruh dalam karakter petani gerakan. Kata kunci: perubahan struktur agraria, pergerakan petani, Petani paguyuba
The Role of Paguyuban in Rural Development
Balikpapan merupakan daerah dengan masyarakat yang multietnik. Konsekuensi dari masyarakat beragam tersebut tentunya berdampak pada cukup banyak muculnya paguyuban etnis. Masingmasing paguyuban etnis ini memiliki norma dan nilai yang mempengaruhi individu dalam berprilaku dan mengambil keputusan. Oleh sebab itu penting untuk melihat bagaimana pengaruh paguyuban etnis dalam mendorong terbentuknya pilarisasi masyarakat dan dampaknya pada pembangunan desa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Dengan demikian penelitian ini merupakan penelitian dekriptif dan eksplorasi. Kehadiran paguyuban pada dasarnya memperkuat identitas etnik dan mendorong terjadinya pilarisasi masyarakat. Selain itu paguyuban etnis juga mendorong pembangunan kawasan desa melalui elit-elit yang tergabung di paguyuban tersebut untuk kepentingan etnisnya dan menjadi sarana pengaman bagi masyarakat miskin yang tidak bisa menerima manfaat langsung dari pembangunan kawasan tersebut. Keywords: Ethnic Community, Pillarization Society, Rural Developmen
The Role of Child Labour in Small Industry of Sandals for Their Household Income and Children’s Welfare
Pekerja anak merupakan salah satu fenomena sosial yang ada bahkan menjadi kompleks. Pekerja anak merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan di negara berkembang termasuk di dalamnya Indonesia. Anak-anak yang bekerja berperan dalam menyumbang pendapatan keluarga, baik secara langsung maupun tidak langsung. Terlibatnya anak-anak dalam dunia kerja juga memiliki dampak terhadap kesejahteraan anak. Permasalahan ini terjadi di Desa Parakan, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong munculnya pekerja anak dan peranan dari anak yang bekerja terhadap pendapatan rumahtangganya serta kesejahteraan anak tersebut. Kata kunci : kesejahteraan anak, pekerja anak, pendapatan rumahtangg
Gender Analysis Of Village Agribusiness Development Program (Case Dry-Area Farming Village Agribusiness Development Program Participants in Cikarawang Village, District Dramaga, Bogor Regency, West Java)
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan strategi untuk mengatasi kemiskinan dan membuat usahatani di desa, mengurangi kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, serta kesenjangan di antara sub-sektor. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui tingkat akses, kontrol dan manfaat yang dinikmati peserta program dari komponen program pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) (permodalan, pelatihan dan pendampingan), (2) menganalisis tingkat kesetaraan gender dalam hal akses, kontrol manfaat yang dinikmati dari komponen program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) (permodalan, pelatihan dan pendampingan), dan (3) menganalisis hubungan antara karakteristik individu dan rumah tangga peserta dengan tingkat akses, kontrol dan manfaat yang dinikmati dari komponen program pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) (permodalan, pelatihan dan pendampingan). Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dalam bentuk survei dan didukung dengan data kualitatif. Analisis gender adalah upaya untuk mengidentifikasi dan memahami pola pembagian kerja, distribusi otoritas (keputusan mengambil pola) antara laki-laki dan perempuan, baik pola hubungan sosial, dan pengaruh atau manfaat dari kegiatan pembangunan untuk pria dan wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik rumah tangga (luas lahan kering yang dikuasai) berhubungan nyata/signifikan (secara negatif) dengan tingkat akses dari komponen program PUAP. Hal ini berarti bahwa semakin sempit lahan kering yang dikuasai maka akan semakin akses terhadap program PUAP. Karakteristik rumah tangga (status ekonomi rumah tangga) berhubungan nyata/signifikan (secara positif) dengan tingkat kontrol dari komponen program PUAP. Hal ini berarti bahwa semakin kaya (tidak miskin) maka semakin kontrol terhadap program PUAP. Individual karakteristik (tingkat pendidikan formal dan luas lahan kering yang dikuasai) tidak memiliki korelasi yang nyata/signifikan dengan tingkat akses, kontrol, dan manfaat menikmati komponen program dari PUAP. Karakteristik rumah tangga (luas lahan kering yang dikuasai) tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat kontrol dan menikmati manfaat dari komponen program PUAP. Selain itu, karakteristik rumah tangga (status ekonomi rumah tangga) tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat akses dan menikmati manfaat dari komponen program PUAP. Kata kunci: Analisis Gender, Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaa
Gender Role in Fisheries’s Household in Tanjung Pasir Village, Teluknaga Subdistrict, Tangerang District
Tanjung Pasir adalah salah satu daerah pantai di kecamatan Tangerang dimana mayoritas masyarakatnya bekerja di bidang perikanan. Terdapat tiga aktivitas yang dilakukan oleh nelayan di Tanjung Pasir yaitu melaut, pengolahan, dan pembenihan oleh wanita dan laki-laki. Bermacam-macam program telah dilakukan, tetapi masalah gender dalam rumah tangga masih belum terselesaikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui peran gender dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga perikanan. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam dengan anggota rumah tangga perikanan. Faktorfaktor karakteristik rumah tangga dan kondisi sosial ekonomi memiliki hubungan dengan peran gender dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga perikanan. Kata Kunci: pengambilan keputusan, karakteristik rumah tangga, kondisi sosial ekonom
The Relationship between Role of the Stakeholders and Community participation in Agropolitan Program in Karacak Village, Leuwiliang Subdistrict, Bogor District
Agropolitan merupakan suatu program yang bertujuan untuk mengurangi perbedaan antara perkotaan dan pedesaan. Program ini diterapkan melalui pengembangan sumberdaya manusia, pengembangan pertanian, pengembangan modal dan peningkatan faislitas infrastruktur. Terdapat tiga tujuan pada peneltian ini yaitu, untuk menganalisis tingkat dan bentuk partisipasi masyarakat dalam program agropolitan, untuk menganalisis peran stakeholders dalam program agropolitan di Desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, dan untuk menganalisis hubungan antara peraturan pengambil kebijakan dengan tingkat partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekata metode kuantitatif dan kualitatif dengan alat bantu kuesioner dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa tingkat partisipasi masyarakat secara keseluruhan program agropolitan berada pada tahap tokenisme yang memiliki kesempatan untuk berpendapat. Hasil dari pengujian klarifikasi hipotesis menunjukkan terdapat hubungan antara peran stakeholders dengan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan program agropolitan. Sehingga, semakin tinggi tingkat peran stakeholders akan semakin tinggi pula tingkat partisipasi masyarakat. Kata kunci : agropolitan, partisipasi, stakelolder