Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
Not a member yet
    442 research outputs found

    Field Activited on Land Accumulation Property Right by Ethnic Buginese in Overseas

    Get PDF
    ABSTRACTThis study aims to observe the most dominant arena which more influential effect on the accumulation of land ownership from the Bugis ethnic actors in the Village of East Mamburungan. Based on post positivist paradigm and theoritical field by Pierre Bouerdieu, perocessing by mixed method approach. The Object of this research, is Bugis ethnic actors who consist by 50 respondents. The results indicate that the economic field is the most dominant used by the actor than social field. The economic field by the actor also using as a patron-client system, land leases and the land transaction as a part of land accumulation process in order to support their social activities and establish their settlements (ethnic-based) in the Village of East Mamburungan.Keywords: field, ethnicity, actor, Buginese, land property rightABSTRAKRiset ini bertujuan untuk mengobservasi pilihan arena aktor yang lebih dominan berpengaruh terhadap akumulasi kepemilikan lahan oleh aktor etnik Bugis di Kelurahan Mamburungan Timur. Pendekatan riset ini menggunakan teori arena Bourdieu dengan paradigma penelitian yaitu post positivis, dimana data data kualitatif sebagai pendukung data kuantitatif, dimana aktor etnik Bugis yang dinilai sebanyak 50 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan arena yang dominan berpengaruh yaitu arena ekonomi dibanding arena sosial terhadap akumulasi kepemilikan lahan. Arena ekonomi yang ditandai dengan sistem patron-klien, jual-beli lahan dan sewa lahan, sering digunakan untuk merebut pengaruh agar mempermudah aktor mengakumulasi kepemilikan lahan dalam mendukung aktivitas sosialnya dan membangun perkampungan berbasis etnik di Kelurahan Mamburungan Timur.Kata kunci: arena, etnisitas, aktor, Bugis, akumulasi kepemilikan laha

    Cohesivity Fisheries Community in the Face of Climate Change on the Coast of Western Java

    Get PDF
    ABTRACTThe conditions of fishermen is very dependent with nature. Climate change that happening makes nature more difficult to predict. That can make the living of fishermen more vulnerabel. Communities that have a strong cohesiveness will have a collective action to deal with climate change. The purpose of this study is to see the level of cohesiveness fisherman in the face of climate change. The method used is mix method using questionnaire, observation and in-depth interviews. The number of respondents was 100 people. The selection of respondents was done by simple random sampling technique, where the study population are members of “raskin” program from government. The results are fisheries community have a strong social capital, sense of community and community collective efficacy, which is produced strong cohesiveness. However, in reality what is perceived is not necessarily reflected in everyday life. Collective action found only in activities that support public facilities. However, collective action for the economic interests only occurs in certain interest groups. According the results can be argued that the level of fishing community cohesiveness is high, but only produce preparadness for climate change.Keywords: social cohesion, collective action, fisheries communityABSTRAKKehidupan nelayan sangat bergantung dengan alam. Perubahan iklim yang terjadi membuat alam semakin sulit untuk diprediksi. Kondisi tersebut membuat kehidupan nelayan semakin vulnerabel. Komunitas yang memiliki kohesivitas yang kuat akan memiliki aksi kolektif untuk menghadapi perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk melihat derajat kohesivitas komuitas nelayan dalam mengahadapi perubahan iklim. Metode yang digunakan adalah mix method dengan menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara mendalam. Jumlah responden adalah 100 orang. Pemilihan responden dilakukan dengan teknik simple random sampling, dimana populasi penelitian adalah anggota komunitas penerima program beras raskin dari pemerintah. Hasil penelitian adalah komunitas nelayan memiliki modal sosial, sense of community dan community collective efficacy yang kuat, yang akan menghasilkan kohesivitas yang kuat. Akan tetapi, apa yang dirasakan belum tentu tercerimin pada kehidupan sehari-hari. Aksi kolektif hanya terdapat pada kegiatan yang mendukung fasilitas umum. Akan tetapi aksi kolektif untuk kepentingan ekonomi hanya terjadi pada kelompok-kelompok kepentingan tertentu. Berdasarkan hasil dapat dikatakan bahwa tingkat kohesivitas komunitas nelayan tinggi, tetapi hanya menghasilkan kesiapan untuk menghadapi perubahan iklim.Kata kunci: kohesivitas, aksi kolektif, komunitas pesisi

    Structural Analysis of Food Choice Practices for Children under Five Years Old at Rural Communities West Java

    Get PDF
    ABSTRACTThe surge in malnutrition prevalence of underweight children under five from 17.9% to 19.6% in the 2007-2013 period, indicates that Indonesia is facing problems in terms of public health. Previous studies showed that the nutritional status and the health of children are concerned with the social practices of their food choices. The purpose of this study is to identify the forms of social structure and analyze the structures that play a role as inhibitors or activators social practices of food choice for children. This study involved 200 people of the main organizer of family food from the two communities in West Java province. Communities chosen have characterized the local community of highland and lowland agriculture. The results show that the structures that play a role as inhibitors or activators social practices of food choice in the highland community are the selection of food supplied from outside the community (structure of domination), income (structure of domination), and access to means of transportation (structure of domination). Meanwhile , at the community of lowland , structural inhibitors and activators social practices of food choice were identified as the food regulation for children who suffer from pain (structure of legitimacy), norms of parenting (structure of legitimacy ), a selection of food supplied from outside the community (structure of domination) and family support (structure of domination).Keywords: social practices, food choices, structureABSTRAKMelonjaknya prevalensi gizi underweight anak balita dari 17.9% menjadi 19.6% pada tahun 2007-2013 menandai Indonesia sedang menghadapi masalah dalam hal kesehatan masyarakat. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa status gizi dan kesehatan anak mempunyai kaitan dengan praktik sosial pilihan pangan. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk struktur sosial dan menganalisis struktur sosial yang berperan menghambat dan mengaktifkan praktik sosial pilihan pangan untuk anak. Kajian ini melibatkan 200 individu pengelola utama pangan keluarga dari dua komunitas di propinsi Jawa Barat. Komunitas yang dipilih mencirikan komunitas lokal pertanian dataran tinggi dan komunitas lokal pertanian dataran rendah. Hasil penelitian menemukan bahwa struktur yang berperan sebagai penghambat atau pengaktif praktik sosial pilihan pangan pada komunitas dataran tinggi adalah pilihan pangan yang disediakan dari luar komunitas (struktur dominasi), biaya/penghasilan (sumberdaya alokatif-struktur dominasi), dan akses sarana transportasi (sumberdaya alokatif-struktur dominasi). Sementara itu, pada komunitas dataran rendah, struktur penghambat dan pengaktif praktik sosial pilihan pangan yang teridentifikasi adalah aturan pangan untuk anak yang menderita sakit (aturan-struktur legitimasi), norma pengasuhan anak (aturan-struktur legitimasi), pilihan pangan yang disediakan dari luar komunitas (struktur dominasi) dan dukungan keluarga (struktur dominasi).Kata kunci: praktik sosial, pilihan pangan, struktu

    Socio Economic Characteristics and Patterns of Decision Making Women’s Fishermen in the City Bengkulu

    Get PDF
    ABSTRACTThe role of women in the household is a very complex fishermen from productive activity, domestic, and social. Decisions taken fisherman’s wife to engage in such activities is largely determined by socio - economic characteristics of households of fishermen. These characteristics will determine the pattern of decisions taken. How big is women involvement in fishermen decision making.The analytical method used was descriptive analyses. This study indicated social characteristics are age, ethnics, education, number of family members. Economic characteristics, including the distance to the workplace, length of stay, the allocation of working time and the wife revenue contribution to total household income of fishermen. Those characteristics have to consider among household decision making. Currently, their role in the decision making were equal.Current decision-making patterns have an incentive to reduce the dominance of the head of household to monopolize decisions in the household.Keywords: decision making pattern, woman, social – economic characteristicsABSTRAKKeterlibatan wanita pada kegiatan produktif didorong oleh keinginan mereka untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Keputusan wanita nelayan terlibat pada aktifitas produktif, domestik dan sosial sangat ditentukan oleh karakteristik sosial ekonomi wanita nelayan. Apa saja karakteristik wanita nelayan dan seberapa besar perannya dalam pengambilan keputusan rumah tangga di Kota Bengkulu. Peran wanita nelayan pada ketiga aktifitas dianalisis dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian mengindikasikan karakteristik sosial antara lain umur, etnis, pendidikan,jumlah anggota keluarga. Karakteristik ekonomi antara lain lama usaha, jarak ke tempat kerja, lama bermukim, alokasi waktu serta kontribusi pendapatan wanita terhadap pendapatan rumah tangga. Secara umum, peran isteri setara dengan peran suami pada pengambilan keputusan rumah tangga nelayan di Kota Bengkulu.Model pengambilan keputusan akan mendorong untuk mengurangi dominasi suami atau pihak tertentu untuk memonopoli keputusan dalam rumah tangga.Kata kunci: model pengambilan keputusan, wanita, karakteristik sosial-ekonom

    Women and Livelihood Resilience of Household: Analysis of Oil Palm Expansion Impact in Jambi

    Get PDF
    ABSTRACTIndonesia is the greatest producer of oil palm in the world. Despite providing economic benefits, oil palm plantations cause significant environmental and social impacts. Environmental impacts such as deforestation, loss of biodiversity, forest fires and drought. The social impact of oil palm expansion changes women works in livelihood resilience. The purpose of this study are to analyze the influence of oil palm plantations to the livelihood structure and working changes in women and men at smallholder household in Jambi. The method used is mix method using questionnaire and in-depth interviews. The results are the expansion of oil palm plantations cause structural changes such as the shift subsistence living from rubber plantations into oil palm plantation and on lower household changes women from domestic work into the public work as oil palm labours. This is done to increase income of the household in order to remain economically resilient when a crisis situation. However, the environment is very vulnerable, causing drought and exacerbated by forest firesKeywords: oil palm, livelihood, women, resilience, householdABSTRAKIndonesia merupakan negara produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Meskipun memberikan manfaat ekonomi, perkebunan kelapa sawit menimbulkan dampak lingkungan dan sosial yang signifikan. Dampak lingkungan seperti deforestasi, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga bencana kebakaran hutan dan kekeringan. Dampak sosial perkebunan kelapa sawit yaitu mengubah pekerjaan perempuan dalam resiliensi nafkah. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis sejauh mana ekspansi perkebunan kelapa sawit mempengaruhi struktur nafkah dan kerja nafkah laki-laki dan perempuan pada rumahtangga petani di Provinsi Jambi. Metode yang digunakan yaitu metode campuran dengan menggunakan kuesioner dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini yaitu ekspansi perkebunan kelapa sawit menyebabkan perubahan struktur nafkah berupa pergeseran sumber nafkah dari perkebunan karet menjadi perkebunan kelapa sawit. Selain itu, pada rumahtangga lapisan bawah terjadi perubahan kerja perempuan dari domestic menjadi ke ranah publik yaitu sebagai buruh kelapa sawit. Hal tersebut dilakukan untuk menambah penerimaan rumahtangga agar tetap resilien secara ekonomi ketika terjadi krisis. Namun, lingkungan menjadi sangat rentan sehingga menimbulkan kekeringan dan diperparah dengan kebakaran hutan.Kata kunci: kelapa sawit, nafkah, perempuan, resiliensi, rumahtangg

    Extraction of Natural Resources and Community Livelihoods Systems Change Region of the Cycloop Nature Reserve in Jayapura Papua

    Get PDF
    ABSTRACTThis study aims to analyze the pattern of community life of the Cycloop Nature Reserve based livelihoods.In  addition, this  study also analyzes the perception  of  the issues contained in the Cycloop  Mountains, nature  reserve, and analyze the management policy Cycloop Nature Reserve area. The results of the study noted that the pattern of use of forest resources  in  Cycloop Nature Reserve area in the form of social interaction of economic relations of society to meet the needs of everyday life, such as harvest forest products such as food, firewood, building materials and home, fodder, medicinal plantsand services and the results of other forest types. Perception noted there are four the most frequently encountered problems and facing communities, namely floods, forest fires and land (agriculture and illegal plantations), logging (illegal logging), as well as a decrease in the value of biodiversity in the area Cycloop Nature Reserve. The policy needs to be taken is the need for the empowerment of indigenous peoples through indigenous knowledge on the management of natural resources in the nature reserve. Additionally still conducted socialization activities for the community, then the pattern of routine patrols and security operations with indigenous peoples.Affirmation for customary land which is in the nature reserve area Cycloop Nature Reserveso that each of indigenous peoples supervise the activities of the society.Keywords: community interaction, perception, empowerment, indigenous knowledgeABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis aktivitas kehidupan masyarakat di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop berdasarkan mata pencaharian. Selain itu penelitian ini juga menganalisis persepsi mengenaiberbagai permasalahan di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan menganalisis kebijakan pengelolaan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop.Metode yang digunakan pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisis SWOT yang mengarahkan untuk kebijakan pengelolaan kawasan cagar alam. Hasil penelitian mencatat bahwa pola pemanfaatan sumberdaya hasil hutan pada kawasan Pegunungan Cycloops berupa hubungan interaksi sosial ekonomi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti kegiatan pemungutan hasil hutan berupa bahan pangan, kayu bakar, bahan rumah dan bangunan, pakan ternak, tanaman obat dan hasil jenis jasa hutan lainnya. Persepsi mencatat ada empat persoalan yang paling sering dijumpai dan dihadapi masyarakat, yakni banjir, kebakaran hutan dan lahan (pertanian dan perkebunan ilegal), pencurian kayu (illegal logging), serta penurunan nilai keanekaragaman hayati di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Kebijakan yang perlu diambil adalah perlu adanya pemberdayaan masyarakat adat melalui pengetahuan adat tentang pengelolaan sumberdaya alam di kawasan cagar alam. Selain itu tetap dilakukan kegiatan sosialisasi bagi masyarakat, kemudian pola pengamanan patroli rutin dan operasi secara bersama masyarakat adat. Penegasan bagi tanah adat yang berada di kawasan cagar alam Pegunungan Cycloops sehingga setiap masyarakat adat tetap mengawasi kegiatan masyarakatnya.Kata kunci: interaksi komunitas, persepsi, pemberdyaan, kearifan loka

    Agricultural Productivity and Farmers Welfare Involution (Case Study in Meunasah Pinto Aceh Utara)

    Get PDF
    ABSTRACTAbundant rice productivity as a result of the success of the modernization of the system, pattern of production and use of seeds are carried by the Indonesian government in agriculture was not automatically change the level of farmers welfare. Based on studies in meunasah Pinto North Aceh District, this article is going to show that the issue of farmers’ welfare is a complex issue strands. At the empirical level narrow land ownership, capital dependence on the elite village economy, changes in the production system of reciprocity into a wage complex obstacles to change farmers’ welfare.In fact, this modernization not only exposes farmers to the issue of involution wellbeing but also directly contribute to the flourishing of social segregation in society as in Meunasah Pinto, North Aceh. As a result, the social insurance obtained by citizens when agricultural production systems is reciprocity now after changing the wage system of social insurance is gone. The high individuality as a new mode of social life also requires farmers to adapt to the problems of their lives increasingly problematic in the midst of well-being that low.Keywords: Farmers, Welfare, modernization of production systems, Meunasah Pinto, North AcehABSTRAKProduksi pertanian yang melimpah sebagai konsekuensi dari keberhasilan modernisasi sistim, pola produksi dan penggunaan bibit unggul tidak secara otomatis dapat mengubah tingkat kesejahteraan petani. Berdasarkan studi di Meunasah Pinto Kabupaten Aceh Utara. Artikel ini hendak menunjukkan kompleksitas persoalan kesejahteraan petani. Dalam tataran empiris, sempitnya lahan,, ketergantungan modal pada elite ekonomi desa dan pergeseran sistim reprositas dalam sistim produksi sebagai akibat dari modernisasi sistim pertanian merupakan hambatan-hambatan mendasar terhadap perubahan kesejahteraan petani. Realitasnya, modernisasi sistim pertanian tidak hanya berakhir pada terjadinya involusi kesejahteraan petani tetapi juga berkontribusi langsung pada terjadinya segregasi sosial pada masyarakat petani Meunasah Pinto, Aceh Utara. Implikasinya, asuransi sosial yang terjalin melalui sistim reprositas pada pelbagai aspek kehidupan termasuk pada sistim produksi pertanian kini hilang. Modernisasi yang diikuti dengan rasionalisasi dalam pola hubungan produksi menyebabkan pola hubungan produksi tradisional yang bersifat komunal dan reprositas berubah menjadi serba upah dan individual. Gaya hidup individual ini menghadapkan para petani pada pelbagai persoalan dalam kehidupan mereka.Kata kunci: Kesejahteraan petani, modernisasi sistim produksi, Meunasah Pinto, Aceh Utar

    Gender Relation in Tea Plucking Workers: A Case Study of Gender Division of Labour and Gender Relation in Gambung Tea Plantation, West Java

    Get PDF
    ABSTRACTMen and women’s participation in tea plucking have been divided based on gender and strongly patriarchy-influenced. This division of labor cause a gender relation describes specific case of their relations in tea plantation. This study aims to describe the gender relation among the tea plucking workers at Gambung Tea Plantation, analyzed by qualitative approach, particularly treated as a case study. Data collected by in-depth interviews, observation, focus group discussion, and documentation. It was triangulated and analyzed using Harvard Analytical Framework and Gender Balance Tree in Gender Action Learning System approaches. The result shows that both men and women have equal access employment in plucking tea but their participation divided based on gender and patriarchy-influenced. Women have large participation in manual job description while men dominates on mechanic. Manual labor requires longer working-hour. It cause women have longer on working-hour than men. It is also enhance their burdern, eventhough generally they have double roles. As the consequences, women must work harder on their both roles. However, women’s participation in productive works enable women to generate income that makes them gaining better position within the household, such as a decision maker. It makes them able to access skill capacity.Keywords: gender relation, tea pluckeig worker, tea plantation, Harvard Analytical Framework, Gender Action Learning SystemABSTRAKPartisipasi laki-laki dan perempuan dalam pemetikan teh dibagi berdasarkan gender dan dipengaruhi kuat oleh patriarki. Pembagian kerja ini menimbulkan relasi gender yang menggambarkan kasus tertentu hubungan laki-laki dan perempuan di perkebunan teh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan relasi gender pada kegiatan pemetikan teh di Perkebunan Teh Gambung, dengan pendekatan kualitatif, dalam studi kasus tertentu. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam, observasi, diskusi grup terpusat, dan dokumentasi. Data ditriangulasi dan dianalisis menggunakan Harvard Analytical Framework dan Gender Balance Tree dalam Gender Action Learning System. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik laki-laki dan perempuan mempunyai akses yang sama dalam pemetikan tetapi partisipasi mereka dibagi berdasarkan gender dan dipengaruhi patriarki. Perempuan mempunyai partisipasi besar dalam pemetikan manual sedangkan laki-laki mendominasi mekanisasi mesin petik. Manual membutuhkan waktu yang tinggi yang menyebabkan perempuan mempunyai waktu kerja yang lebih banyak dari laki-laki dan hal ini menambah beban perempuan yang secara general mempunyai beban ganda. Sebagai konsekuensinya, perempuan harus bekerja lebih keras. Namun, partisipasi perempuan dalam pekerjaan produktif memungkinkan perempuan untuk menghasilkan pendapatan yang memberikan perempuan posisi yang lebih baik dalam rumah tangga, seperti kekuasaan dalam pengambilan keputusan dan posisi tawar dalam mengakses peningkatan kapasitas keterampilan.Kata kunci: relasi gender, pemetik teh, perkebunan teh, Harvard Analytical Framework, Gender Action Learning Syste

    Indonesia`s Palm Oil Industrialization: The Resistance of Tanjung Pusaka Villagers, Central Kalimantan Against Palm Oil Industry

    Get PDF
    ABSTRACTIndonesia`s Palm oil industry is the greatest export commodity in the world. Palm oil industry has been developed since Soeharto`s administration with World Bank`s initiative. Indonesia`s development pattern is modernization which is fully supported by global capitalist agent. Furthermore, the government of Indonesia has issued policies to support this industry and the ease of accessibilty for investor to build in Indonesia. Most of the policies focus on economic interest with lack of attention to social and environmental issues. The paper applies qualitative method to analyze through literature studies and depth interview. As a result, the writer attempt to discuss the relationship of various concepts and theories regards to Resistency, Modernization and The Modern World-System theory. In fact, Indonesia as palm oil producer do not have bargaining power to determine the price due to global politic has structured to limit profit. Meanwhile, Central Kalimantan has the negative impact of environment and society that caused by palm oil industry. Tanjung Pusaka villagers refuse their region to be transform as palm plantation because they believe that their life is better now that being part of plantation. The purpose of this paper is to explain how villagers have capability of resistance for the sake of social life and environmental preservation.Keywords: Palm, Indonesia, industry, policies, Central KalimantanABSTRAKIndustri minyak sawit Indonesia merupakan komoditas ekspor terbesar di dunia saat ini. Industri minyak sawit telah dibangun sejak kepemimpinan Soeharto yang didukung oleh Bank Dunia. Pola pembangunan Indonesia adalah modernisasi yang disokong oleh agen kapitalis global. Lebih lanjut, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan untuk mendukung industri minyak sawit dan memberikan kemudahan bagi investor untuk berinvestasi di sektor ini. Kebijakan-kebijakan tersebut hanya fokus terhadap kepentingan ekonomi dan minimnya perhatian terhadap isu sosial dan lingkungan hidup. Tulisan ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisa melalui studi literatur dan wawancara mendalam. Hasilnya, penulis berusaha mendiskusikan hubungan antara beragam konsep dan teori mengenai Resistensi, Modernisasi dan Teori Sistem Dunia. Faktanya, Indonesia sebagai produsen minyak sawit tidak memiliki kekuatan untuk menentukan harga karena politik global yang telah dibentuk untuk membatasi keuntungan yang didapatkan. Sementara itu, provinsi Kalimantan Tengah mengalami dampak negatif terhadap lingkungan hidup dan sosial yang disebabkan oleh industri minyak sawit. Warga Dusun Tanjung Pusaka menolak wilayahnya dijadikan perkebunan sawit karena mereka yakin hidupnya akan lebih baik dibandingkan menjadi bagian dari perkebunan sawit. Tujuan penulisan ini paper ini untuk menjelaskan bagaimana masyarakat desa mampu melakukan upaya resistensi demi kepentingan sosial dan pelestarian lingkungan hidup.Kata kunci: Sawit, Indonesia, industri, kebijakan, Kalimantan Tenga

    The Role of Local Institutions on Strengthening Gambir Agricultural Market

    Get PDF
    ABSTRACTAgricultural market gambir is often injurious farmers so important strengthening through the role of institutions local. Local institutions so far have power and proximity to the community, storing knowledge and skills and sensitive with needs of the society where exchange happened. This research uses the method the qualitative study. This research in Lubuak Alai Village, Kapur IX, Lima Puluh Kota District the Province of West Sumatra. Lubuak Alai Village is agricultural gambir centers. Local institutions involved in the market gambir is institutional farmers, gatherers, Kerapatan Adat Nagari (KAN) and village administration. The role and the existence of local institutions involved in the market gambir, is important to process the transaction as well as strengthen and sustain agricultural markets gambir in Lubuak Alai Village.Keywords: local institutions, market, GambirABSTRAKPasar pertanian gambir sering merugikan petani sehingga penting dilakukan penguatan melalui peran kelembagaan lokal. Kelembagaan lokal yang berkembang di masyarakan selama ini mempunyai kemampuan, kedekatan, pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalah masyarakat dimana kelembagaan lokal tersebut berada. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan sanakan di Desa/nagari Lubuak Alai Kec. Kapur IX Kab. Lima Puluh Kota. Lubuak Alai adalah nagari sentra pertanian gambir. Kelembagaan-kelembagaan lokal yang terlibat pada pasar gambir adalah kelembagaan petani, pengumpul, lembaga adat (KAN) dan pemerintahan nagari. Peran dan keberadaan kelembagaan-kelembagaan lokal yang terlibat pada pasar gambir penting untuk proses transaksi serta memperkuat dan menjaga keberlangsungan pasar pertanian gambir di Nagari Lubuak Alai.Kata kunci: kelembagaan lokal, pasar, Gambi

    400

    full texts

    442

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇