MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
Mutu Makaroni Tuna Saus Karbonara
During the Covid-19 pandemic, people are faced with adapting new habits, namely people are encouraged to maintain health and increase body immunity to avoid exposure to COVID-19. One of them is by consuming fish meat which has good nutritional value for the body, high protein and omega-3 in fish meat makes fish an excellent intake for consumption during the COVID-19 pandemic. The purpose of this study was to determine the quality of the diversified product of macaroni tuna carbonara. with parameters of water content, pH to determine the level of preference for macaroni tuna carbonara by organoleptic test and Total Plate Number (ALT). The results of testing the water content on macaroni tuna carbonara got the best value on 0 days of sample A1 which is boiling for 5 minutes, namely 40% as the lowest value and on observation for 4 days, sample A3 boiling for 15 minutes, which is 61.3% as the highest value. The results of the pH test on macaroni tuna carbonara obtained the best value in sample A2 (10 minutes) 0 days, namely 6.41 and at 4 days 6.9 as the lowest value in sample A3 (15 minutes) 0 days, namely 41 and at 4 days 61, 3 as the highest value. The results of the ALT test on 0 days of sample A1 boiling 5 minutes 1.2x103 as the lowest value of sample A3 boiling 15 minutes 2,3x103 as the highest value. Observation for 4 days of sample A2 boiling 10 minutes 2.7x103 as the lowest value of sample A3 boiling 15 minutes 1.3x105 as the highest value. The results of the organoleptic test observations obtained the highest average value in samples A1 boiling for 5 minutes and A1 boiling for 10 minutes, namely 8.Keywords:   tuna, karbonara, macaroni, Thunnus albacares. Masa pandemik Covid-19 masyarakat dihadapkan dengan adaptasi kebiasaan baru yaitu masyarakat dihimbau untuk tetap menjaga kesehatan serta meningkatkan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan covid-19. Salah satunya dengan mengkonsumsi daging ikan yang memiliki nilai gizi yang baik bagi tubuh, tingginya protein dan omega-3 pada daging ikan menjadikan ikan sebagai asupan yang sangat baik dikonsumsi di masa pandemik covid-19. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mutu dari produk diversifikasi makaroni tuna karbonara. dengan parameter kadar air, pH mengetahui tingkat kesukaan makaroni tuna karbonara dengan uji organoleptik dan Angka Lempeng Total (ALT). Hasil pengujian kadar air pada makaroni tuna karbonara didapatkan nilai terbaik pada 0 hari sampel A1 yaitu perebusan 5 menit yaitu 40% sebagai nilai terendah dan pada pengamatan 4 hari sampel A3 perebusan 15 menit yaitu 61,3% sebagai nilai tertinggi. Hasil pengujian pH pada makaroni tuna karbonara didapatkan nilai terbaik pada sampel A2 (10 menit) 0 hari yaitu 6,41 dan pada 4 hari 6,9 sebagai nilai terendah pada sampel A3 (15 menit) 0 hari yaitu 41 dan pada 4 hari 61,3 sebagai nilai tertinggi. Hasil pengujian ALT pada 0 hari sampel A1 perebusan 5 menit 1,2x103 sebagai nilai terendah sampel A3 perebusan 15 menit 2,3x103 sebagai nilai tertinggi. Pengamatan 4 hari sampel A2 perebusan 10 menit 2,7x103 sebagai nilai terendah sampel A3 perebusan 15 menit 1,3x105 sebagai nilai tertinggi. Hasil pengamatan uji organoleptik didapatkan nilai rata-rata nilai tertinggi pada sampel A1 perebusan 5 menit dan A1 perebusan 10 menit yaitu 8.Kata kunci: tuna, karbonara, macaroni, Thunnus albacares
Pengaruh Konsentrasi Larutan Edible Coating Kitosan-Air Kelapa dan Lama Penyimpanan terhadap Fillet Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis total mikroba dan nilai sensori fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) yang dilapisi edible coating berbahan kitosan-air kelapa selama penyimpanan dingin. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri atas dua faktor perlakuan, yaitu A: variasi konsentrasi kitosan dan air kelapa sebagai larutan edible coating dengan 4 level, yakni A0 (kontrol, tanpa edible coating); A1 (90% kitosan+10% air kelapa); A2 (80% kitosan+20% air kelapa); A3 (70% kitosan+30% air kelapa) dan B: lama penyimpanan yang terdiri atas 4 level, yakni B0 (0 hari); B1 (3 hari); B2 (6 hari); B3 (9 hari). Sampel disimpan dalam ruang pendingin bersuhu ±5°C selama 9 hari. Setiap 3 hari dilakukan pengujian jumlah mikroba dan nilai sensori terhadap fillet ikan. Total mikroba dianalisis dengan ANOVA, sedangkan nilai sensori diuji dengan Kruskal Wallis. Perlakuan yang memberikan pengaruh nyata terhadap parameter, diuji lanjut dengan Uji Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan berpengaruh nyata terhadap total mikroba, namun tidak memberikan pengaruh terhadap nilai sensori. Hasil uji interaksi perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan A0 hingga A2 selama penyimpanan 0 hari hingga hari ke-6 berbeda tidak nyata, dengan nilai TPC 3,51 hingga 4,53 cfu/mg, namun mulai tampak perbedaan memasuki penyimpanan hari ke-9, fillet tanpa edible coating tidak memenuhi syarat SNI (2013). Sementara itu, nilai kenampakan dan tekstur pada semua taraf perlakuan A dapat diterima hingga hari ke-6 dan nilai bau hingga hari ke-9 dengan nilai sensori rata-rata
Aktivitas Antikanker Serviks Dari Rumput Laut Laurencia sp
Cervical cancer is a pathological condition that is one of the main causes of death in the world. There are various medical treatments such as chemotherapy and immunotherapy but the treatment causes dangerous side effects at very high costs. Marine algae are an excellent source of bioactive compounds that are proven to have biofunctional activities, such as antioxidants and anti-cancer. This review focuses on the cytotoxic activity of Laurencia sp. against HeLa cells. Recent discoveries have shown that Laurencia sp. has cytotoxic activity ranging from IC50 21.81–32.49 µg/mL to inhibit the development of HeLa cells. Polysaccharides from marine algae are also known to cause cell death by inducing apoptosis. Carrageenan also has shown anti-HPV efficiency in vitro. By looking at the activity and ability present in Laurencia sp. to act against HeLa cells, this seaweed can be a source for new natural products as anticancer and Indonesia has a large number of seaweed species that contain many bioactive compounds that are beneficial to the body and can be made into high-value health products.Keyword:    Laurencia sp, HeLa cells, cervical cancer, HPV, anti-cancer. Kanker serviks merupakan kondisi patologis yang menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Ada berbagai perawatan medis seperti kemoterapi dan imunoterapi tetapi percawatan tersebut menyebabkan efek samping yang berbahaya dengan biaya yang sangat tinggi. Alga laut merupakan sumber senyawa bioaktif yang sangat baik yang terbukti memiliki aktivitas biofungsional, seperti antioksidan dan anti kanker. Ulasan ini berfokus pada aktivitas sitotoksik Laurencia sp. terhadap sel HeLa. Penemuan baru-baru ini menunjukkan bahwa Laurencia sp. memiliki aktivitas sitotoksik mulai dari IC50 21,81–32,49µg/mL untuk menghambat perkembangan sel HeLa. Polisakarida dari alga laut juga diketahui menyebabkan kematian sel dengan menginduksi apoptosis. Karagenan juga telah menunjukkan efisiensi anti-HPV secara in vitro. Dengan melihat aktivitas dan kemampuan yang ada pada Laurencia sp. untuk bertindak melawan sel HeLa, rumput laut ini dapat menjadi sumber produk alami baru sebagai antikanker dan Indonesia memiliki banyak spesies rumput laut yang banyak mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh dan dapat menjadi produk kesehatan yang bernilai tinggi.Kata kunci: Laurencia sp, sel HeLa, kanker serviks, HPV, antikanker
Karakteristik Fisikokimia dan Penerimaan Konsumen terhadap Pempek Ikan Lele dengan Penambahan Puree Wortel
The addition of carrot puree in catfish pempek is one of the diversification of pempek products and to increase the nutritional value contained in pempek. This study aims to determine the proximate composition (protein content, fat content, ash content, moisture content, and carbohydrates), color, and consumer acceptance of catfish pempek with the addition of carrot puree. This study used a completely randomized design (CRD) with four treatments of concentration of catfish meat and carrot puree, namely: A0 (70% fish meat and 0% carrot puree), A1 (60% fish meat and 10% carrot puree), A2 (fish meat and 10% carrot puree), 50% and carrot puree 20%), and A3 (40% fish meat and 30% carrot puree) and each treatment was repeated 3 times. The results of this study showed that the addition of carrot puree had a significant effect (p<0.05) on the moisture content, ash content, fat content, protein content, and carbohydrate content of catfish pempek. The hedonic test showed that 40% catfish meat and 30% carrot puree (A3) were the best treatments for the appearance and texture specifications of pempek with values of 5.42 and 5.38 (somewhat like). The best treatment for the taste and odor parameters of pempek was obtained from the addition of 50% fish meat and 20% carrot puree (A2) with values of 5.98 and 5.40, respectively (slightly like to like)..Keywords:   Catfish, carrot puree, pempek, proximate, hedonic. Penambahan puree wortel dalam pengolahan pempek ikan lele merupakan salah satu diversifikasi produk pempek dan untuk menambah nilai gizi yang terkandung dalam pempek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi proksimat (kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar air, dan karbohidrat), warna, dan penerimaan konsumen terhadap pempek ikan lele dengan penambahan puree wortel. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan konsentrasi daging lele dan  puree wortel yaitu: A0 (daging ikan 70% dan  puree wortel 0%), A1 (daging ikan 60% dan  puree wortel 10%), A2 (daging ikan 50% dan  puree wortel 20%), dan A3 (daging ikan 40% dan  puree wortel 30%) serta setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan  puree wortel berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, dan kadar karbohidrat pempek ikan lele. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa daging ikan lele 40% dan  puree wortel 30% (A3) merupakan perlakuan terbaik untuk spesifikasi kenampakan dan tekstur pempek dengan nilai masing-masing 5,42 dan 5,38 (agak suka). Perlakuan terbaik untuk parameter rasa dan bau pempek diperoleh dari penambahan daging ikan 50% dan  puree wortel 20% (A2) dengan nilai masing-masing 5,98 dan 5,40 (agak suka sampai suka).Kata kunci: Ikan Lele, puree wortel, pempek, proksimat, hedonik
Karakteristik Kimiawi dan Total Bakteri Asam Laktat (BAL) Kecap Ikan Tandipang (Dussumieria sp.) dengan Penambahan Ekstrak Buah Nanas
The purpose of this study was to obtain a formula of rainbow fish sauce with pineapple extract and to determine the effect of adding pineapple extract on the fermentation process and total lactic acid bacteria. With the addition of 0%, 5%, 10%, 15%, and pineapple extract treatment and fermented for 7, 14, 21 days in an incubator with a temperature of 40–50ºC. The test parameters are Sensory Analysis which includes appearance, aroma, and viscosity (SNI 01-2346-2006), pH (AOAC, 2005), total lactic acid bacteria. The results of the sensory test research for the appearance of the 5% sample, 15% aroma, 10% viscosity with a fermentation time of 21 days were the most preferred by panelists with an average value of 6.8, 6.4, 7. The average pH value on day 7 ranged from 6.77 to 6.67, day 14 ranges from 6.67 to 6.59, day 21 ranges from 6.40 to 6.35. The test results of the highest colony Lactic Acid Bacteria in the sample with the addition of pineapple extract as much as 15% fermentation on the 21st day with a total colony number of 1.46 × 10³ CFU / ml.Keywords:   fish sauce, lactic acid bacteria, pineapple extract, rainbow fish. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan formula kecap ikan tandipang dengan ekstrak buah nanas dan mengetahui pengaruh penambahan ekstrak buah nanas terhadap proses fermentasi dan total BAL. Dengan perlakuan penambahan ekstrak buah nanas 0%, 5%, 10%, 15% dan di fermentasi selama 7, 14, 21 hari dalam incubator dengan suhu 40–50ºC. Parameter pengujian yaitu Analisa Sensori yang meliputi kenampakan, aroma dan kekentalan (SNI 01-2346-2006), pH (AOAC, 2005), total bakteri asam laktat. Hasil penelitian uji sensori untuk kenampakan pada sampel 5%, aroma 15%, kekentalan 10% dengan waktu fermentasi 21 hari yang paling disukai panelis dengan nilai rata-rata 6.8, 6.4, 7. Nilai rataan pH hari ke 7 berkisar 6,77 sampai 6,67, hari ke 14 berkisar 6,67 sampai 6,59, hari ke 21 berkisar 6,40 sampai 6,35. Hasil pengujian BAL koloni tertinggi pada sampel dengan penambahan ekstrak buah nanas sebanyak 15% fermentasi hari ke 21 dengan jumlah total koloni 1,46×10³ CFU/ml.Kata kunci: bakteri asam laktat, ekstrak buah nanas, ikan tandipang, kecap ikan
Pengujian Kandungan Histamin dan Mutu Organoleptik Bahan Baku Ikan Kaleng
Fishery products are products that are prone to spoilage, so a careful and accurate handling method is needed to maintain the quality of fishery products. The purpose of this research is to see if the raw materials used by PT. Sinar Pure Foods International for the manufacture of canned fish has a good quality. The test parameters used in this study were the temperature of the fish spine, organoleptic (appearance) according to SNI 2729:2013 and histamine levels. The results of the spine temperature showed that all of the 7 samples has temperature not more than 4°C. The results of organoleptic testing of raw materials (appearance) of 7 samples had an average value higher than a score of 7 and for processed fish products from 7 samples have a value of lower than 50 ppm..Keyword:    Histamine, organoleptic, canned fish, Tuna Hasil Perikanan adalah produk yang mudah mengalami kebusukan sehingga diperlukan cara penanganan yang cermat dan akurat untuk mempertahankan mutu produk hasil perikanan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah bahan baku yang digunakan PT. Sinar Pure Foods International untuk pembuatan produk ikan kaleng bermutu baik atau tidak. Parameter uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah suhu tulang belakang ikan, organoleptik (kenampakan) sesuai SNI 2729:2013 dan kadar histamin. Hasil pengecekan suhu tulang belakang memperlihatkan bahwa dari 7 sampel suhu tulang belakangnya tidak lebih dari 4°C. Hasil pengujian bahan baku secara organoleptik (kenampakan) dari 7 sampel memiliki nilai rata-yang tidak lebih rendah dari skor 7. Hasil pengujian kadar histamin pada bahan baku menunjukkan bahwa kadar histamin pada bahan baku dari 7 sampel memiliki nilai yang tidak lebih dari 30 ppm dan untuk produk olahan ikan kaleng dari 7 sampel memiliki nilai yang tidak lebih dari 50 ppm.Kata kunci: Histamin, organoleptik, ikan kaleng, Tun
Kajian Mutu Ikan Tuna Kaleng Selama Proses Sterilisasi Di PT. Sinar Pure Foods International
This study aims to analyze the salt content, histamine levels, and organoleptic values of canned tuna fish products. The samples used in this study were samples SA1.1 (Solid In Oil Chili (YSO) Sirena, SA1.2 Solid In Brine (SB) Sirena, SB1.1 Solid In Oil, SB1.2 Solid In Brine, SA2 ( Solid In Oil Chili (YSO) Sirena) and SB2 (Solid In Brine).The results showed that samples SA1.1 and SA1.2, as well as samples SB1.1 and SB1.2 met the export standard of salt content which is 1.20%.  For sample SA2 and sample SB2, it does not meet the export standard for salt content which is higher than 1.20%. The histamine value of samples SA1.1 and SA1.2, and samples SB1.1 and SB1.2 is 50 ppm, while for sample SA2 and the sample SB2 is 60 ppm which does not meet the histamine standard for export, which is 50 ppm, but they still meet the Indonesian National Standard (SNI 8223:2006) which is a maximum of 100 ppm. The results of the organoleptic test on samples SB1 and SA1 did not show any deterioration in quality and in accordance with existing standards. For organoleptic results on samples SA1.1 to SB1.2 already meet the organoleptic criteria for export and meets the Indonesian National Standard (SNI 8223:2016) regarding sensory criteria for tuna cans. Meanwhile, the organoleptic results for the SA2 and SB2 samples did not meet the standard for sensory requirements, which could be seen from the appearance, smell, color, taste and texture. The results showed that samples of canned tuna that were physically damaged (sample SA2 and SB2) did not meet export standards and good canned packaging.Keyword:    canned tuna, salt content, histamine value, sensory results. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kadar garam, kadar histamin, dan nilai organoleptik produk ikan tuna kaleng. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel SA1.1 (Solid In Oil Chili (YSO) Sirena , SA1.2 yaitu Solid In Brine (SB) Sirena, SB1.1 yaitu Solid In oil, SB1.2 Solid In Brine, SA2 (Solid In Oil Chili (YSO) Sirena) dan SB2 (Solid In Brine). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel SA1.1 dan SA1.2, serta sampel SB1.1 dan SB1.2 memenuhi standar ekspor uji kadar garam yaitu 1,20%. Untuk sampel SA2 dan sampel SB2 tidak memenuhi standar ekspor uji kadar garam yaitu 1,20%. Nilai kadar histamin dari sampel SA1.1 dan SA1.2, serta sampel SB1.1 dan SB1.2 adalah 50 ppm, sedangkan untuk sampel SA2 dan sampel SB2 adalah 60 ppm yang tidak memenuhi standar uji kadar histamin untuk ekspor yaitu 50 ppm, namun masih memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 8223:2006) yaitu maksimal 100 ppm. Hasil dari uji organoleptik pada sampel SB1 dan SA1 tidak menunjukkan adanya kemunduran mutu dan sesuai dengan standar yang ada. Untuk hasil organoleptik pada sampel SA1.1 sampai SB1.2 sudah memenuhi kriteria organoleptik untuk ekspor dan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 8223:2016) tentang kriteria sensori pada ikan tuna dalam kemasan kaleng. Sedangkan hasil organoleptik untuk sampel SA2 dan sampel SB2 yang tidak memenuhi standar persyaratan sensori yang dapat dilihat dari kenampakan, bau, warna, rasa dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel dari ikan tuna kaleng yang mengalami kerusakan fisik (sampel SA2 dan SB2) tidak memenuhi standar ekspor dan kemasan kaleng yang baik.Kata kunci: ikan tuna kaleng, kadar garam, nilai histamin, hasil sensori
Pengaruh Penambahan Karagenan terhadap Tingkat Penerimaan Sediaan Krim Wajah
Carrageenan is a hydrocolloid compound extracted from red seaweed (Sargassum sp.). The content of phenolic compounds in carrageenan can counteract free radicals, so it has the potency as antioxidants when applied as face creams. Vanishing cream is a semi-solid preparation containing less than 60% water. The advantage of vanishing cream is easy to wash with water and not sticky. The aim of this study was to determine the effect of adding carrageenan to face cream, the optimal formulation accepted by consumers and the quality of facial cream products with the addition of carrageenan. Face cream preparations is done by mixing the oil phase and the water phase. Carrageenan is soluble in the aqueous phase. The results of the sensitivity test of the preparation showed that there was no irritation on the panelists' skin. The hedonic test showed a significant effect on 4 parameters and the most accepted formulation was formulation 3 with the addition of 1% carrageenan. The results of the homogeneity test showed that the three formulations were homogeneous mixtures. The pH test showed the same results for F1 and F3 pH 7 or neutral and F2 pH 6 or weak acid. The TPC result at F3 was <2.5x102 CFU/g which showed it still meets the quality requirements of facial cream.Keyword:       Antioxidants, Carageenan, Facial Cream, TPC, Sargassum sp. Karagenan merupakan senyawa hidrokoloid yang diekstrak dari rumput laut merah (Sargassum sp.). Kandungan senyawa fenol dalam karagenan dapat menangkal radikal bebas, sehingga berpotensi untuk diaplikasikan ke dalam krim wajah sebagai antioksidan. Vanishing cream adalah suatu sediaan setengah padat yang mengandung air kurang dari 60%. Kelebihan dari vanishing cream ini ialah mudah dicuci dengan air dan tidak lengket. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan karagenan pada sediaan krim wajah, serta formulasi yang paling diterima oleh konsumen dan mutu produk krim wajah dengan penambahan karagenan. Pembuatan sediaan krim wajah dilakukan dengan mencampurkan fase minyak dan fase air. Karagenan dicampurkan dalam fase air. Hasil uji sensitifitas sediaan menunjukkan bahwa tidak ada iritasi pada kulit panelis. Uji hedonik menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap 4 parameter dan formulasi yang paling diterima ialah formulasi 3 dengan penambahan karagenan 1%. Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa ketiga formulasi merupakan campuran homogen. Uji pH menunjukkan hasil yang sama untuk F1 dan F3 pH 7 atau netral dan F2 pH 6 atau asam lemah. Adapun uji ALT yang mendapatkan hasil pada F3 yaitu <2,5x102 yang artinya masih memenuhi syarat mutu sediaan krim wajah.Kata kunci:   Antioksidan, Karagenan, Sediaan Krim Wajah, ALT, Sargassum sp
Mutu Selai Rumput Laut Eucheuma denticulatum dengan Perlakuan Konsentrasi Gula dan Pewarna Alami Yang Berbeda
Alga merah mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan, antibakteri terhadap bakteri patogen maupun non patogen. Eucheuma denticulatum adalah salah satu jenis alga merah yang mengandung karbohidrat sebesar 13,38%, lemak sebesar 0,13%, serta mengandung serat kasar sebesar 1,39%. Oleh karena itu, alga ini dapat dimanfaatkan melalui suatu upaya sebagai produk diversifikasi yang memberikan nilai tambah. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengolahan selai rumput laut merah Eucheuma denticulatum dengan perlakuan konsentrasi gula dan pewarna alami yang berbeda, serta melihat nilai viskositas, angka lempeng total, dan serat kasar yang terkandung di dalam selai. Hasil yang diperoleh untuk nilai viskositas tertinggi pada formulasi A1B1 (gula 100 g, pewarna alami 0 ml) yaitu 77,41 sedangkan yang terendah pada formulasi A2B3 (gula 150 g, pewarna alami 10 ml) yaitu 59,71. Angka lempeng total selai menunjukkan bahwa angka lempeng total terendah yaitu 0,9 x 102 formulasi A1B1 (gula 100 g, pewarna alami 0 ml) dan jumlah tertinggi terlihat pada formulasi A2B3 (gula 150 g, pewarna alami 10 ml) yaitu 1,6 x 102. Hasil ini berada di bawah baku mutu SNI 01-3746-1995 tentang selai buah yaitu maksimal 5 x 102 koloni/g. Sedangkan untuk nilai kandungan serat kasar selai E. denticulatum memiliki rata-rata 0,10 %. Produksi selai rumput laut dari E. denticulatum telah berhasil dibuat dan dapat diterima oleh masyarakat. Di mana nilai viskositas, angka lempeng total, dan serat kasar berada dalam batas baku mutu