MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
Karakteristik Nata de Seaweed dengan Perbedaan Konsentrasi Rumput Laut Gracilaria sp.
Nata is a final product from the fermentation process that used Acetobacter xylinum bacteria which produces cellulose that has chewy texture, white color and resembles a gel. These bacteria can grow and thrive in media containing a carbon source. Seaweed contains carbohydrates that can be used as a carbon source for the growth of Acetobacter xylinum bacteria. The aimed of this study was to determine the optimum concentration of Gracilaria sp. and its effect on the characteristics of nata de seaweed product. The experimental design used in this study was completely randomized design with four treatments and two replications. The treatment level was various concentration of the filtrate of Gracilaria sp. namely PO (0% of Gracilaria and 3% of Kappaphycus alvarezii), PA (2% of Gracilaria sp.), PB (3% of Gracilaria sp.),and PC (4% of Gracilaria sp.). The chemical and physical data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) at 5% significance level and further analyze using the Least Significant Difference (LSD). Meanwhile, the hedonic test data was analyzed using Kruskal Wallis non-parametric statistical test. The present study suggested that the best concentration of nata de seaweed was found in PC treatment (4% of Gracilaria sp.) with 88.95% moisture content, 1.52% of total sugar, 0.47% of crude fiber, 38.67% yield, 6.75 mm of thickness, 1.25 mm of springiness, 5.30 of appearance score, 5.90 of texture score,  4.70 of aroma score and 5.07 of taste score.Keyword:    fermentation, Gracilaria sp., nata de seaweed, sensory, physicochemical Nata merupakan produk yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum yang menghasilkan selulosa dengan tekstur kenyal, berwarna putih dan menyerupai gel. Bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang apabila nutrisi yang dibutuhkan cukup, seperti karbon. Sumber karbon dapat diperoleh dari gula alami seperti sukrosa dan fruktosa. Media yang digunakan dalam pembuatan nata adalah media yang mengandung karbohidrat sebagai sumber nutrisi bakteri A. xylinum. Rumput laut mengandung karbohidrat yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbon bagi pertumbuhan bakteri tersebut. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktor tunggal perbedaan konsentrasi filtrat rumput laut Gracilaria sp. yang terdiri atas empat taraf yaitu PO (Penggunaan filtrat rumput laut Kappaphycus alvarezii 3%), PA (Penggunaan filtrat rumput laut Gracilaria sp. 2%), PB (Penggunaan filtrat rumput laut Gracilaria sp. 3%), dan PC (Penggunaan filtrat rumput laut Gracilaria sp. 4%) dengan masing-masing dilakukan dua kali ulangan. Data analisis kimia dan fisik yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik menggunakan analisis varian (ANOVA) dengan taraf uji 5% dan dilanjutkan menggunakan uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT). Sedangkan untuk data uji hedonik akan dianalisis menggunakan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis. Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah perlakuan PC (4% Gracilaria sp.) dengan nilai kadar air 88,95%, total gula 1,52%, serat kasar 0,47%, rendemen 38,67%, ketebalan 6,75 mm, kekenyalan 1,25 mm, kenampakan 5,40, tekstur 5,90, aroma 4,70 dan rasa 5,07.Kata kunci: fermentasi, Gracilaria sp., nata de seaweed, sensori, fisikokimi
Pengaruh Konsentrasi Asap Cair terhadap Karakteristik Kimia dan Organoleptik Ikan Baung (Mystus gulio) Asap
The use of liquid smoke in the processing of smoked fish is an alternative to improve the quality value and reduce air pollution caused by the traditional smoking process. This study aims to determine the effect of giving liquid smoke on the chemical characteristics of smoked fish and to find out the best concentration of liquid smoke on the level of acceptance of researchers be based on organoleptic tests. This study used a completely randomized design (CRD) with four treatment concentrations of liquid smoke immersion namely: 0%, 2%,4%, and 6% each treatment was repeated 3 times. The results showed that the concentration of liquid smoke had an effect (p<0.05) on chemical characteristics (water and fat content), but had no effect (p>0.05) on protein and ash content. Hedonic organoleptic test results and hedonic quality showed that the concentration of 6% liquid smoke was the best treatment, with specifications having a delicious and savory taste with a solid texture and shiny brown color. The value of appearance (7,10;7.33), smell (7.50;7.53), taste (7.57;8.53), texture (6.47;7.33), mold and slime (9 ,0)
Analisis Mutu Fillet Ikan Lele (Clarias sp.) pada Penyimpanan Suhu Chilling dan Digoreng
Fresh fish is food that is easily damaged by enzymes, bacteria, and chemical activity after the fish dies. Proper handling and storage at chilling temperatures are ways that can be done to inhibit the process of quality deterioration. The purpose of this study was to analyze the quality and changes of catfish fillets during chilling temperature storage and storage time at chilling temperature. The study consisted of 4 treatments with 2 replications. The treatment used in this study is the shelf life. Data analysis used analysis of variance (ANOVA). Treatments that gave significantly different effects during storage were continued with the Least Significant Difference (BNT) test. Based on the research results, the handling and processing of fish fillets is able to maintain the quality of fish fillets stored at chilling temperatures. The protein content of catfish fillet stored for 3 weeks was 17.07%, 16.64%, 16.22%, and 17.04%, respectively. The water content of catfish fillet stored for 3 weeks was 75.07%, 77.06%, 76.84% and 76.46%, respectively. The TVB of catfish fillet stored for 3 weeks had values of 13.31 mgN/100 g, 11.42 mgN/100 g, 11.55 mgN/100 g, and 13.47 mgN/100 g, respectively. The TPC of catfish fillets stored for 3 weeks were respectively 1.93×105 colonies/g, 3.01×105 colonies/g, 3.06×105 colonies/g, and 3.25×105 colonies/g. In accordance with the TVB and TPC values, catfish fillets stored at chilling temperature for 3 weeks still have a safe limit for consumption, but organoleptically, catfish fillets are no longer accepted.Ikan segar adalah bahan pangan yang mudah mengalami kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas enzim, bakteri dan kimiawi setelah ikan mati. Penanganan yang tepat dan penyimpanan pada suhu chilling menjadi cara yang dapat dilakukan untuk menghambat proses kemunduran mutu. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis mutu dan perubahan fillet ikan lele selama penyimpanan suhu chilling serta lama penyimpanan pada suhu chilling. Penelitian terdiri dari 4 perlakuan dengan 2 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan pada penelitian yaitu masa simpan. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam atau analysis of variance (ANOVA). Perlakuan yang memberikan pengaruh berbeda nyata selama penyimpanan, maka dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Berdasarkan hasil penelitian penanganan dan proses fillet ikan mampu mempertahankan mutu fillet ikan yang disimpan pada suhu chilling. Kadar protein fillet ikan lele yang disimpan selama 21 hari nilainya berturut-turut yaitu 17,07%, 16,64%, 16,22% dan 17,04%. Kadar air fillet ikan lele yang disimpan selama 21 hari nilainya berturut-turut yaitu 75,07%, 77,06%, 76,84% dan 76,46%. TVB fillet ikan lele yang disimpan selama 21 hari nilainya berturut-turut yaitu 13,31 mgN/100 g, 11,42 mgN/100 g, 11,55 mgN/100 g dan 13,47 mgN/100 g. TPC fillet ikan lele yang disimpan selama 21 hari nilainya berturut-turut 1,93×105 koloni/g, 3,01×105 koloni/g, 3,06×105 koloni/g dan 3,25×105 koloni/g. Sesuai dengan nilai TVB dan TPC, fillet ikan lele yang disimpan pada suhu chilling selama 21 hari masih memiliki batas aman untuk dikonsumsi, namun secara organoleptik fillet ikan lele sudah tidak diterima
Pengaruh Penambahan Tepung Wortel terhadap Daya Terima dan Kandungan Gizi Nugget Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)
Nugget sebagai produk makanan siap saji merupakan kebutuhan masyarakat yang memiliki aktivitas yang tinggi. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu sumber protein hewani yang kaya akan nutrisi. Tepung wortel dalam makanan adalah kreasi sederhana dari kandungan sayuran. Tujuan penelitian adalah menganalisis daya terima dan kandungan gizi nugget ikan kakap putih dengan variasi proporsi penambahan tepung wortel. Penelitian ini merupakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan 4 perlakuan 3 kali ulangan pada berbagai tingkat penambahan tepung wortel (10%, 20%, 30%, 40%). Parameter yang diamati adalah warna, rasa, aroma, tekstur sebagai aspek organoleptik dan kadar air, kadar abu, kadar lemak, protein. Jumlah responden sebanyak 50 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan nyata terhadap (p > 0,05) nilai gizi (kadar air, kadar abu, kadar lemak, protein) dan sifat organoleptik (warna, rasa, aroma, tekstur). Hasil perlakuan terbaik dari parameter yang diuji adalah jenis penambahan tepung wortel 20%. Dengan hasil analisis organoleptik atribut aroma, tekstur, warna dan rasa secara berturut – turut (3,33), (4,05), (4,03) and (4,02). Analisis kandungan gizi berupa kadar air sebesar 51,44%, kadar abu 1,16%, kadar lemak 15,63% dan 14,22% protein dan 19,62% karbohidrat
Komposisi Proksimat dan Profil Mineral Tulang dan Sisik Ikan Papuyu (Anabas testudineus)
Papuyu fish (Anabas testudineus) or also known as betok fish is a native Indonesian fish that is scattered in some area of freshwater such as in Kalimantan, Sumatra and Java. Information about the chemical characteristics of the bones and scales is currently limited. This study aims to determine the proximate composition and mineral profiles of the bones and scales of papuyu fish. The characteristics observed including the percentage of non edible portion, pH, proximate and minerals. Research data are presented in mean and standard deviation values as well as in table and histogram formats. Proximate analysis includes moisture content, ash, fat and protein, whereas analysis of mineral content including calcium, phosphorus, zinc, iron, potassium and sodium. The proportion of fish bone and scales are presented in percentage which have percentation of both bones of 1.67% and scale of 0.67%. The proximate values of papuyu fish bones in wet basis include the water content of 10.07%, ash content of 32.28%, fat 4.42% and protein content of 50.26%. The proximate values of papuyu fish scale in wet basis include the water content of 9.21%, ash content of 31.74%, fat of 3.49% and protein of 49.29%. The minerals profiles of the bone such as calcium, iron, potassium and sodium are higher than mineral from scale.Keyword:    Anabas testudineus, bone, scale, proximate, mineral profile. Ikan papuyu (Anabas testudineus) atau disebut juga ikan betok adalah jenis ikan asli Indonesia yang tersebar di beberapa perairan seperti Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Informasi tentang karakteristik kimia tulang dan sisik ikan papuyu saat ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisikokimia dan profil mineral tulang dan sisik ikan papuyu. Karakteristik yang diamati meliputi persentasi non edible portion, keasaman (pH), proksimat dan mineral. Data hasil penelitian disajikan dalam nilai rata-rata dan standar deviasi serta dalam format tabel dan histogram. Analisis proksimat meliputi kadar air, kadar abu, lemak dan protein, sedangkan analisis kandungan mineral meliputi kalsium, fosfor, seng, besi, kalium dan natrium. Nilai proporsi tulang ikan papuyu sebesar 1,67% dan sisik ikan papuyu sebesar 0,67%. Nilai proksimat tulang ikan dalam berat basah meliputi kadar air sebesar 10,07%, kadar abu 32,28%, lemak 4,42% dan kadar protein 50,26%. Nilai proksimat sisik ikan papuyu dalam berat basah meliputi kadar air 9,21%, kadar abu 31,74%, lemak 3,49% dan protein 49,29%. Kadar kalsium, besi, kalium dan natrium pada tulang ikan papayu lebih tinggi daripada bagian sisiknya.Kata kunci:      Anabas testudineus, tulang, sisik, proksimat, profil mineral
Studi In Silico Senyawa Aktif Daun Tagalolo (Ficus septica Burm F) sebagai Ligan Uji pada Enzim L-Histidin Decarboxylase
Histamine is one of the parameters in the tuna export trade that needs to be considered so that the product can be well received in the United States (USA), European Union (EU), and Japan. Histamine is used as a quality indicator for food safety of tuna products, because high histamine can cause toxic effects in humans. The leaves of the tagalolo/awar-awar plant (Ficus septica Burm. F) contain active compounds that function to cure several types of diseases such as ulcers, itching, wounds, diarrhea, dysentery and drugs to reduce fever and are used as inflammatory drugs. This study aims to determine the types of active compounds in tagalolo/awar-awar leaves from the literature search and their potential to react with the enzyme L-histidine decarboxylase through non-empirical research in silico. The compounds obtained from the literature search are Genistin, ß-amyrin, Pyrrolidine and Phenanthroindollizidine. These compounds were then tested In Silico with molecular docking. The results of the in silico study showed that the compounds Genistin, ß-amyrin, Pyrrolidine and Phenanthroindollizidine could not react with the L-histidine decarboxylase enzyme because all the tested ligands did not react or bind to the receptor.Keyword:    Tagalolo plant, Histamine, In Silico, Molecular Docking. Histamin merupakan salah satu parameter dalam perdagangan ekspor tuna yang perlu diperhatikan agar produk dapat diterima dengan baik di Amerika Serikat (USA), Uni Eropa (UE), maupun Jepang. Histamin dijadikan indikator mutu untuk keamanan pangan produk tuna, karena histamin yang tinggi dapat menyebabkan efek keracunan pada manusia. Daun tanaman tagalolo/awar-awar (Ficus septica Burm. F) mengandung senyawa aktif yang berfungsi menyembuhkan beberapa jenis penyakit seperti obat bisul, gatal-gatal, luka, diare, disentri dan obat untuk menurunkan demam serta digunakan sebagai obat radang atau inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis senyawa aktif daun tagalolo/awar-awar hasil penelusuran pustaka dan potensinya untuk bereaksinya dengan enzim L-histidin dekarboksilase melalui riset non-empirik secara in silico. Senyawa yang didapatkan dari penelusuran pustaka yaitu Genistin, β- amyrin, Pyrrolidine dan Phenanthroindollizidine. Senyawa-senyawa tersebut kemudian diuji secara In Silico dengan penambatan molekul (molecular docking). Hasil studi secara in silico menunjukkan bahwa senyawa Genistin, β- amyrin, Pyrrolidine dan Phenanthroindollizidine tidak dapat bereaksi dengan enzim L-histidin dekarbokasilase karena semua ligan uji tidak bereaksi atau terikat dengan reseptor.Kata kunci: Tanaman Tagalolo, Histamin, In Silico, Molecular Docking
Pemanfaatan Labu Kuning (Cucurbita moschata) sebagai Subtitusi Tepung Terigu pada Naget Ikan Lele (Clarias gariepinus)
Squash (Cucurbita moschata) has the potential as a substitute for wheat flour in the manufacture of fish nugget. This study aims to determine the proximate content and consumer acceptance of catfish nugget with the addition of squash flour as a substitute for wheat flour. The percentages of squash flour as a substitute for wheat flour in making catfish nugget in this study were 0%, 35%, 50% and 65%. The proximate composition of catfish nugget obtained was a decrease in the moisture, ash, fat, and protein content with increasing squash flour added, however, the contrary an increase in carbohydrate and crude fiber content. The catfish nugget which was added with squash flour as a substitute for wheat flour turned out to be more preferred by consumers with a balanced proportion of use.Keywords:   Fish nugget, pumpkin, squash flour, consumer acceptance, catfish. Labu kuning (Cucurbita moschata) berpotensi sebagai bahan substitusi tepung terigu dalam pembuatan naget ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan proksimat dan penerimaan konsumen pada naget ikan lele dengan penambahan tepung labu kuning sebagai bahan substitusi tepung terigu. Persentase tepung labu kuning sebagai bahan substitusi tepung terigu dalam pembuatan naget ikan lele dalam penelitian ini adalah 0%, 35%, 50% dan 65%. Komposisi proksimat naget ikan lele yang diperoleh adalah terjadi penurunan kadar air, abu, lemak, dan protein dengan makin meningkatnya tepung labu kuning yang ditambahkan, namun sebaliknya terjadi peningkatan pada kadar karbohidratnya dan serat kasarnya. Naget ikan lele yang ditambahkan tepung labu kuning sebagai bahan substitusi tepung terigu ternyata lebih disukai konsumen dengan proporsi penggunaan yang seimbang.Kata kunci: Naget ikan, labu, tepung labu kuning, penerimaan konsumen, lele dumbo
Analisis Organoleptik Terhadap Granula Bumbu Penyedap Rasa Ikan Lemuru (Sardinella sp)
The purpose of this study is to analyze the organoleptic to the condiment granula. Fermenting with long, fermentation, 8 days, 10 days, 12 days, and 14 days are used in this study. The result of this study using Kruskal-Wallis analysis data. Kruskal-Wallis statistical value on taste, which is 7.068 less than chi-square’s critical value, that is, 7.815 and H0 is declined and H1 is accepted. Kruskal-Wallis statistical value, which is 4.288 lower than the critical value of chi-square, which is 7.815, and H0 is declined and H1 is accepted. Kruskal-Wallis statistical value, which is 4.534 of chi-square’s critical value, which is 7.815, and H0 is declined and H1 is accepted. Kruskal-Wallis statistical value on the texture aspect, namely 3.106 less than the critical value of chi-square, which is 7.815 and H0 declined and H1 was accepted. A sample takes the time to dissolve which is 28 seconds, sample b takes the time to dissolve which is 30 seconds, sample c takes the time to dissolve that is 27 seconds, and for sample d it takes 32 seconds to dissolve.Keywords:   Seasonings, granules, organoleptic. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis organoleptik terhadap granula bumbu penyedap. Pada penelitian ini digunakan ikan lemuru yang difermentasikan dengan lama fermentasi 8 hari, 10 hari, 12 hari, dan 14 hari. Hasil penelitian ini menggunakan data analisis Kruskal-Wallis. Nilai statistik Kruskal-Wallis pada aspek rasa, yakni 7,068 lebih kecil dari nilai kritis chi-square, yakni 7,815 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Nilai statistik Kruskal-Wallis pada aspek bau, yakni 4,288 lebih kecil dari nilai kritis chi-square, yakni 7,815 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Nilai statistik Kruskal-Wallis pada aspek warna, yakni 4,534 lebih kecil dari nilai kritis chi-square, yakni 7,815 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Nilai statistik Kruskal-Wallis pada aspek tekstur, yakni 3,106 lebih kecil dari nilai kritis chi-square, yakni 7,815 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Sampel A dibutuhkan waktu untuk larut yaitu 28 detik, sampel B dibutuhkan waktu untuk larut yaitu 30 detik, sampel C dibutuhkan waktu untuk larut yaitu 27 detik, dan untuk sampel D dibutuhkan waktu untuk larut yaitu 32 detik.Kata kunci: Bumbu penyedap, granula, organoleptik
Identifikasi Kapang Pada Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Asap Yang Proses Pengolahannya Mengalami Perendaman Dalam Fermentasi Larutan Nira Dan Kulit Kayu Pamuli
The processing of smoked skipjack in North Sulawesi aims to improve the quality and shelf life of the fish. This smoked skipjack processed product still has a relatively short shelf life, only around 2-3 days when stored at room temperature. In the processing process, many manufacturers add chemical preservatives which are hazardous materials because they can have a negative impact on human health. The purpose of this study was to determine the effect of immersion in fermented nira solution and pamuli bark on the value of molds. The concentration of the solution that produces the smallest amount of mold can be used as a preservative and natural dye. The study used 4 concentrations of immersion solution, namely 0% concentration (2000 mL of juice), 5% concentration (100 g of bark in 2000 mL of sap), 10% concentration (200 g of bark in 2000 mL of sap) and 15% concentration (300 g bark in 2000 mL sap) and with a storage time of 0.3,6,9 days at room temperature. The research stages included: 1. Fermentation of bark and sap water solution for 4 days, 2. Soaking skipjack tuna in a fermentation solution, 3. Smoking skipjack tuna, 4. Storage at room temperature for 0.3, 6, 9 days. The method used in this research is descriptive exploratory. Parameters analyzed were: Total colony of molds and identification of molds. The results showed that no mold growth on day 0 for all tested concentration. On the 3rd day there was mold growth for 0%, 5% and 10% concentrations. As for the concentration of 15%, mold growth occurred on the 6th day. After being identified based on morphological characteristics, the type of fungus that grows on this smoked skipjack is Fusarium sp.Kata kunci: Skipjack, Smoked Fish, Nira, Pamuli Wood, Fungi. Pengolahan ikan cakalang asap di Sulawesi Utara bertujuan untuk meningkatkan mutu dan daya awet ikan. Produk olahan cakalang asap ini masih memiliki daya awet yang relatif pendek hanya berkisar antara 2-3 hari apabila disimpan pada suhu ruang. Dalam proses pengolahannya banyak produsen yang menambahkan bahan pengawet kimiawi yang merupakan bahan berbahaya karena dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perendaman dalam fermentasi larutan nira dan kulit kayu pamuli terhadap nilai kapang. Konsentrasi larutan yang menghasilkan jumlah kapang terkecil dapat digunakan sebagai pengawet dan pewarna alami. Penelitian menggunakan 4 konsentrasi larutan perendaman yaitu konsentrasi 0% (2000 mL air nira), konsentrasi 5% (100 gr kulit kayu dalam 2000 mL nira), konsentrasi 10% (200 g kulit kayu dalam 2000 mL nira) dan konsentrasi 15% (300 g kulit kayu dalam 2000 mL nira) dan dengan lama penyimpanan 0,3,6,9 hari pada suhu ruang. Tahapan penelitian meliputi: 1. Fermentasi kulit kayu dan larutan air nira selama 4 hari, 2. Perendaman ikan cakalang dalam larutan fermentasi, 3. Pengasapan ikan cakalang, 4. Penyimpanan dalam suhu ruang selama 0,3,6,9 hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksploratif. Parameter yang dianalisa yaitu: Total koloni kapang dan identifikasi kapang. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah: konsentrasi 0%, 5%, 10% dan 15% pada hari ke-0 tidak ada pertumbuhan kapang. Pada hari ke-3 sudah ada pertumbuhan kapang untuk konsentrasi 0%, 5% dan 10%. Sedangkan untuk konsentrasi 15% terjadi pertumbuhan kapang pada hari ke-6. Setelah diidentifikasi berdasarkan ciri morfologi maka jenis jamur yang tumbuh pada cakalang asap ini adalah Fusarium sp.Kata kunci: Cakalang, Ikan Asap, Nira, Kayu Pamuli, Kapang
Karakteristik Fisik dan Kimia Ikan Lele Asap Menggunakan Bahan Baku Asap dari Limbah Kelapa dan Kayu Jengkol
Smoked catfish is an Indonesian traditional food that has several advantages such as durability and good sensory properties. The aim of this study is to determined characteristic of physics and chemical, and the catfish smoked using different smoke material that coconut shell (Treatment A) and jengkol tree (Treatment B). The physical characteristics observed included storage periode with organoleptic testing (scoresheet) and yield. The chemical characteristics observed were water content and fat content .The results of the study are that the shelf life of sample A is one day longer than sample B and the calculation of the yield of sample A is 50%, water content is 37.29%, fat 16.81%. While the calculation of the yield of sample B 40%, water content 31.70%, fat content 17.88%. The results of the organoleptic test showed that sample A (coconut waste) was preferred over sample B (jengkol tree).Keywords:   Catfish, Clarias batrachus, physicochemical, Smoked fish. Ikan lele asap merupakan produk tradisional yang memiliki beberapa keunggulan seperti tahan lama dan memiliki sifat sensori yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimia ikan lele asap yang menggunakan bahan baku asap dari bahan yang berbeda yakni limbah kelapa (Perlakuan A) dan kayu jengkol (Perlakuan B). Karakteristik fisik yang diamati diantaranya yaitu Masa simpan dengan pengujian organoleptik (scoresheet) dan rendemen . Karakteristik kimia yang diamati adalah kadar air dan kadar lemak. Hasil penelitian yaitu masa simpan sampel A lebih lama satu hari dari sampel B dan perhitungan rendemen sampel A 50%, kadar air 37,29 %, kadar lemak 16,81 %. Sedangkan perhitungan rendemen sampel B 40%, kadar air 31,70%, kadar lemak 17,88%. Dari hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa sampel A (limbah kelapa) lebih disukai dari sampel B (kayu jengkol).Kata kunci: Clarias batrachus, fisik-kimia, Ikan asap, Ikan lele