MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
ANALISA KADAR AIR DAN UJI ORGANOLEPTIK PADA IKAN MUJAIR (Oreochcromis mossambicus) DI PASAR BRESEHATI
Ikan mujair (Oreochromis mossambicus) termasuk jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan biasanya dipasarkan dalam bentuk segar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kadar air dan uji organoleptik ikan Mujair segar yang dipasarkan di pasar Bersehati Kota Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen, yang dilakukan di Laboratorium Penanganan dan Pengolahan Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai Rata-rata kadar air ikan Mujair pada jam 09:00 76,45% dan pada jam 15:00 beratnya konstan menjadi 76,86% sehingga pada jam 21:00 WITA terjadi peningkatan kadar air ikan Mujair 77,88%. Dan nilai Rata-rata kadar air pada jam 09:00, 0,29 % dan pada jam 15:00 WITA terjadi peningkatan 1,02% sedangkan pada jam 21:00 terjadi peningkatan kadar air ikan Mujair 1,31 %. Hasil uji organoleptik Ikan Mujair pada kriteria Mata, Insang, Daging dan perut, Bau, Tekstur. Menunjukkan bahwa pada jam 09:00 WITA kedua jenis ikan Mujair masih dalam keadaan segar, dan pada jam 15:00 WITA terjadinya perubahan suhu yang kurang baik. Sehingga pada jam 21:00 WITA terjadinya penurunan tingkat kesegaran ikan yang sangat signifikan. Berdasarkan hasil analisa kadar air dan uji organoleptik ikan Mujair yang dipasarkan di Pasar Bersehati Kota Manado menunjukkan jenis ikan ini dalam keadaan yang masih baik (segar).Kata kunci: Ikan Mujair, Oreochcromis mossambicus, kadar air, uji organoleptik, pasar tradisional
EKSTRAKSI GELATIN KULIT IKAN TUNA DENGAN PROSES BASA (NaOH)
Tuna fish skin is an untapped waste properly and it contains collagen that can be made of gelatin manufacture of gelatin from fish skin tuna using alkaline process (NaOH) , with the object of knowing the yield of fish skin gelatin tuna (Thunnus albacares) were processed using alkaline (NaOH) .Tuna fish skin gelatin extraction soaking in an alkaline solution (NaOH) at a concentration of 0.3% and 0.6% for 48 hours, then the fish skin is washed with running water till a neutral pH (6–7) and extracted with distilled water at 60ºC.degree for 3 hours. gelatin extract is filtered by the filter cloth and dried in an oven at 60ºC for 2 days in order to obtain a sheet of gelatin. The extraction of gelatin is then tested the water content and pH, the results of analysis by immersion base solution at a concentration of 0.3% for 3 hours and extracted at a temperature of 60ºC to produce gelatin at a concentration of 5.96% and 4.14% 0.6 produces gelatin. For analysis of the water content at a concentration of 0.3% (5.67%) and a concentration of 0.6% (5.17%), the pH value obtained in tuna fish skin gelatin treated with alkali (NaOH) 0.3% (5,98) while for the 0.6% concentration obtained pH value 6.81. results gelatin by extraction using an alkaline solution (NaOH) 0.3% more to produce higher yields. Keyword: Gelatin extract (NaOH).  kulit ikan tuna merupakan limbah yang belum dimanfaatkan dengan baik dan didalamnya mengandung kolagen sehingga dapat dibuat gelatin. pembuatan gelatin dari kulit ikan tuna dengan menggunakan proses basa (NaOH), dengan tujuan penelitian mengetahui rendemen gelatin kulit ikan tuna (Thunnus albacares) yang diproses menggunakan basa (NaOH). Ekstraksi gelatin kulit ikan tuna dilakukan perendaman dalam larutan basa (NaOH) dengan konsentrasi 0,3% dan 0,6% selama 48 jam, kemudian kulit ikan dicuci dengan air mengalir sampai pH netral (6–7) dan diekstraksi dengan akuades pada suhu 60ºC selama 3 jam. ekstrak gelatin disaring dengan kain saring dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60ºC selama 2 hari sehingga diperoleh lembaran gelatin. hasil ekstraksi gelatin ini kemudian diuji kadar air dan pHnya, hasil analisis dengan perendaman larutan basa pada konsentrasi 0,3% selama 3 jam dan diekstraksi pada suhu 60ºC menghasilkan gelatin 5,96% dan pada konsentrasi 0,6 menghasilkan gelatin 4,14%. Untuk analisa kadar air pada konsentrasi 0,3% (5,67%) dan konsentrasi 0,6% (5,17%), nilai pH yang diperoleh pada gelatin kulit ikan tuna dengan perlakuan basa (NaOH) 0,3% (5,98) sedangkan untuk konsentrasi 0,6% nilai pH yang diperoleh (6,81). Hasil gelatin dengan ekstraksi menggunakan larutan basa (NaOH) 0,3% lebih menghasilkan rendemen yang lebih tinggi. Kata Kunci: Ekstraksi Gelatin (NaOH)
ANALISA TOTAL BAKTERI PADA IKAN JAPUH (Dussumieria acuta C.V.) ASAP KERING YANG ADA DI PASAR TRADISIONAL TIMINTING MANADO
Ikan Japuh (Dussumieria acuta C.V) asap kering dan termasuk jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan biasanya dipasarkan dalam bentuk ikan Kering, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Kadar air, pH dan TPC dan untuk mengetahui total bakteri yang terdapat pada produk ikan Japuh asap kering, yang dipasarkan di pasar Tradisional Tuminting Kota Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Japuh asap kering kadar air berkisar 9,5–11%. pH 6,03–6,18, jumlah bakteri maksimum 1,0x105 sedangkan pengujian TPC ini relatif tinggi jumlah koloninya dibandingkan dengan SNI, sehingga dapat disimpulkan bahwa ikan Japuh asap kering tidak layak dikonsumsi apabila dilakukan pemanasan atau pemasakan terlebih dahulu. Ini kemungkinan oleh aspek lingkungan dimana ikan asap kering ini dibuat bahkan dalam proses pengolahan.Kata kunci: Ikan Japuh, Dussumieria acuta C.V, asap kering, kadar air, uji organoleptik, pasar tradisional
KAJIAN PERUBAHAN MUTU KESEGARAN IKAN TONGKOL (Euthynnus Affinis) YANG DIRENDAM DALAM EKSTRAK RUMPUT LAUT (Eucheuma spinosum) DAN EKSTRAK BUAH BAKAU (Sonneratia alba)
The research has been done to know the influence of seaweed extract (Eucheuma spinosum) and mangrove fruit extract (Sonneratia alba) as antibacterial in preserving tongkol fish. Seaweed (Eucheuma spinosum) and mangrove fruit (Sonneratia alba) were refined, filtered, and dissolved into sterile aquades. Fresh tongkol fish soaked in that extract added ice to maintain the temperature not more than 5 celsius degree. Observation was done to chemistry characteristic (pH), there was microbe pollution (ALT) and sensory characteristic and hedonic of tongkol fish produced by using score test. The result of observation to the sensory value and hedonic of tongkol fish which soaked in each extract give very real influence. On the other side, treatment of soak in extract did not give real influence to pH and microbe pollution (ALT).Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh dari ekstrak rumput laut Eucheuma spinosum dan ekstrak buah bakau Sonneratia alba sebagai antibakteri dalam mengawetkan ikan tongkol. Rumput laut Eucheuma spinosum dan buah bakau Sonneratia alba dihaluskan, disaring dan dilarutkan ke dalam aquades steril. Ikan tongkol segar direndam dalam ekstrak tersebut sambil diberi es dengan mempertahankan suhu agar tidak lebih dari 5ºC. Pengamatan dilakukan terhadap sifat kimia (pH), adanya cemaran mikroba (ALT) dan sifat sensori dan hedonik ikan tongkol yang dihasilkan dengan menggunakan uji skor. Hasil pengamatan terhadap nilai sensori dan hedonik ikan tongkol yang direndam dalam masing-masing ekstrak memberikan pengaruh yang sangat nyata. Sebaliknya perlakuan perendaman dalam ekstrak tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pH dan cemaran mikroba (ALT)
KAJIAN MUTU IKAN SUNGLIR (Elagatis bipinnulatus) SEGAR DI PASAR TUMINTING MANADO
Ikan Sunglir (Elagatis bipinnulatus) adalah salah satu jenis ikan yang dijual di Pasar Tuminting, ikan ini digemari karena mempunyai rasa yang enak, selain itu harganya juga dapat dijangkau oleh masyarakat. Seperti ikan segar lainnya, ikan Sunglir juga mudah mengalami penurunan mutu yang mengarah kepada pembusukan, sehingga harus dilakukan penanganan yang baik selama berada dalam rantai pemasaran sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang kajian mutu ikan Sunglir yang diambil pada waktu yang berbeda di pasar Tuminting.Penelitian ini bertujuan mempelajari tingkat kesegaran ikan Sunglir yang dijual di pasar Tuminting. Berdasarkan Penelitian menunjukkan nilai rata-rata TVB-N ikan Sunglir segar yang dijual di pasar Tuminting tertinggi ditemukan pada ikan yang diambil siang hari pada pedagang 1 (23,76 mg-N/100g sampel), sedangkan nilai TVB-N terendah ditemukan pada ikan sunglir yang diambil sore hari pada pedagang 2 (18,55 mg-N/100g sampel). Namun demikian data rata-rata nilai TVB-N untuk interaksi waktu pengambilan sampel dan pedagang masih berada dibawah 30 mg-N/100g sampel yang artinya ikan masih aman untuk dikonsumsi. Nilai pH ikan sunglir yang dijual di pasar Tuminting untuk waktu pengampilan sampel dan pedagang yang berbeda masih diketegorikan ikan segar karena mempunyai nilai pH rata-rata berada diantara 5,8–5,95. Nilai organoleptik yaitu mata, insang, lendir permukaan badan, daging (warna dan kenampakan), dan tekstur terdapat korelasi positif yaitu nilai tertinggi pada ketiga pedagang terdapat pada pengambilan sampel pagi hari, selanjutnya menurun pada pengambilan sampel siang hari dan sore hari, walaupun demikian nilai organoleptik ini masih masuk kategori ikan bermutu segar dan agak segar yaitu >6.Kata kunci: Ikan Sunglir ((Elagatis bipinnulatus), kajian mutu, pH, TVB-N, Organoleptik
KEBERADAAN MIKROBA PADA BAKSO IKAN ASAP CAIR, YANG DIKEMAS DALAM RETORTABLE POUCH, DIPASTEURISASI DAN DISIMPAN PADA TEMPERATUR RUANG
A research has been done to assess the presence of microbes and the shelf life of fish balls dipped in liquid smoke, packed in retortable pouch, pasteurized, and stored at room temperature. The method used in this research is an experimental method that revealed the facts based on existing problems through hypothesis testing. Parameters assessed are Total Plate Count (TPC), total Salmonella, total coliforms and E. coli, total vibrio, water content, and pH. Fish balls were pasteurized in 85ºC and stored in room temperature for 0, 3, 6, and 9 days, and were pasteurized at 100°C and storage in room temperature for 0, 9, 18, and 27 days. The results shown that all pathogen were negative, but based on Indonesian standard (SNI 01-7266-1-2006) especially TPC value, fish balls were packaged in retortable pouch and without pasteurized is no longer acceptable for consumption after 3 days of storage, and fish balls were packaged in retortable pouch and pasteurized at 85ºC no longer acceptable for consumed after 6 days of storage. While the fish balls are packaged in retortable pouch and pasteurized at 100°C is no longer acceptable for consumed after 18 days of storage.Keyword: Retortable Pouch, Pasteurization, Pathogens.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan mikroba dan daya awet bakso ikan yang direndam dalam asap cair dan dikemas dalam Retortable pouch, dipasteurisasi, dan disimpan pada temperatur ruang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk menguji hipotesa. Parameter yang diamati yaitu Angka Lempeng Total (ALT), Salmonella, total koliform dan E.coli, total vibrio, analisa kadar air, dan nilai pH. Bakso ikan asap cair yang dipasteurisasi pada 85ºC, disimpan pada temperatur ruang selama 0, 3, 6, dan 9 hari, dan yang dipasteurisasi pada 100ºC, disimpan pada temperatur ruang selama 0,9,18, dan 27 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakso ikan yang dikemas dalam Retortable pouch, tanpa dipasteurisasi sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi setelah penyimpanan 3 hari, dan bakso ikan yang dikemas dalam Retortable pouch dan dipasteurisasi pada 85ºC sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi setelah penyimpanan 6 hari. Bakso ikan yang dikemas dalam Retortable pouch, dan dipasteurisasi pada 100ºC nanti tidak layak lagi dikonsumsi setelah penyimpanan 18 hari.Kata Kunci: Kemasan Retortable Pouch, Pasteurisasi, Patogen
BAKTERI Escherichia coli PADA AIR PENCUCI IKAN DI PASAR BAHU MANADO
Air merupakan media pelarut yang penting dalam pencucian ikan, sebab dengan pencucian ikan dapat mengurangi sampai menghilangkan bahan kimia ataupun mikro organisme berbahaya. Dengan mengetahui kualitas air yang digunakan dapat mencegah kontaminasi bakteri patogen berasal dari air terhadap produk oleh konsumen.Penelitian bertujuan untuk mengenal keberadaan bakteri pada E. coli pada air pencuci ikan di Pasar Tradisional Bahu Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan untuk mengungkapkan keterangan suatu fakta tertentu suatu terperinci dan sistematik. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah masalah mikrobiologi meliputi bakteri dan total E. coli pada air pencuci ikan. Perlakuan yang diberikan adalah air pencuci ikan dan air pencuci ikan diberi khlorin10% total bakteri tertinggi terdapat pada air pencuci ikan tanpa khlorin sebesar 2400. Dan terendah pada air pencuci ikan dengan khlorin 10 % ppm.Kata kunci: Escherichia coli, kualitas air, kontaminasi, pasar tradisional
Analisa Kadar Air dan Uji Organoleptik Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) dan Ikan Layang (Decapterus sp.) segar yang Dijual di Pasar Pinasungkulan Manado
Ikan Kakap Merah (Lutjanus sp) dikenal dengan nama Ikan Merah dan ikan Layang (Decapterus sp) yang dikenal dengan nama Malalugis di Sulawesi Utara termasuk jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi dan biasanya dipasarkan dalam bentuk segar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kadar air dan uji organoleptik ikan Kakap Merah dan ikan Layang segar yang dipasarkan di pasar Pinasungkulan Manado. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui atau mengungkapkan keterangan suatu fakta secara terperinci dan sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air ikan Kakap Merah adalah 73,70%, sedangkan kadar air ikan Layang adalah 73,15%. Hasil uji organoleptik pada beberapa komponen seperti mata ikan Kakap Merah adalah 8,10, mata ikan Layang 7,77. Pada insang ikan Kakap Merah 7,69 dan insang ikan Layang 8,00. Pada daging dan perut ikan Kakap Merah 7,70, pada daging dan perut ikan Layang 7,85. Nilai bau ikan Kakap Merah yaitu 8,12 dan nilai bau ikan Layang yaitu 8,07. Nilai tekstur ikan Kakap Merah adalah 7,70 dan nilai tekstur ikan Layang yaitu 7,80. Berdasarkan hasil analisa kadar air dan uji organoleptik ikan Kakap Merah dan ikan Layang yang dijual di pasar Pinasungkulan Manado menunjukkan dalam keadaan yang masih baik yaitu tergolong segar. Kata kunci: Kakap Merah (Lutjanus sp), Layang (Decapterus sp), kadar air, organoleptik
KAJIAN MUTU IKAN TONGKOL (Euthynnus Affinis) ASAP UTUH YANG DIKEMAS VAKUM DAN NON VAKUM SELAMA 2 HARI PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR
Ikan merupakan sumber protein, juga diakui sebagai functional food yang mempunyai arti penting bagi kesehatan karena mengandung asam lemak tak jenuh berantai panjang (terutama yang tergolong asam lemak omega-3), vitamin serta makro dan mikro mineral. Ikan asap merupakan salah satu produk olahan yang digemari konsumen baik di Indonesia maupun di mancanegara karena rasanya yang khas dan aroma yang sedap spesifik. Namun demikian proses pengasapan ikan di Indonesia masih dilakukan secara tradisional menggunakan peralatan yang sederhana, selain itu kurang memperhatikan aspek sanitasi dan higienis sehingga dapat memberikan dampak bagi kesehatan dan lingkungan. Kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan oleh pengasapan tradisional antara lain kenampakan kurang menarik (hangus sebagian), kontrol suhu sulit dilakukan dan terjadi polusi udara. Salah satu cara yang tepat untuk mempertahankan daya awet ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap yaitu dengan dikemas vakum. Prinsip utama dari pengemasan vakum adalah pengeluaran khususnya O2 dari produk sehingga dapat memperpanjang masa simpan. Selanjutnya dimodifikasi dengan penyimpanan dingin untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kemunduran mutu kimiawi ikan tongkol asap selama 0 hari dan 2 hari, penyimpanan pada suhu kamar yang dikemas vakum dan non vakum dengan pengujian mutu meliputi Kadar air, pH, Total Plate Count (TPC), Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N), dan Organoleptik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen eksploratif yaitu mengungkapkan fakta-fakta berdasarkan permasalahan yang ada melalui hipotesa. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah uji Kadar Air, uji pH, uji TPC, uji TVB-N, dan uji Organoleptik. Hasil penelitian yang diperoleh dari 5 parameter uji, diperoleh nilai kadar air tertinggi (63,4%), terendah (63,85%); nilai pH tertinggi 6,31, terendah 5,87; nilai TVB tertinggi (89,46mg N/100g), terendah (36,54mg N/100g); nilai TPC tertinggi (186,5x102), terendah (<30); nilai Organoleptik (Rasa) tertinggi (7,6), terendah (1.3); nilai Organoleptik (Kenampakan) tertinggi (7,5), terendah (5,0); Nilai Organoleptik (Bau) tertinggi (7,3), terendah (1,5); nilai Organoleptik (Tekstur) tertinggi (7,2), terendah (3,9)
KARAKTERISTIK ORGANIOLEPTIK OTAK-OTAK IKAN YANG DIBERI EDIBLE COATING KARAGINAN DENGAN PENAMBAHAN ASAP CAIR
Edible coating is a new type of packaging made of biopolymer. The advantages of edible coating is enable to protect the food product, the original appearance of the product can be maintained and the product can be eaten as well as environmentally friendly. The study aim was to look at the organoleptic characteristics of fish cake coated with edible coating of carrageenan were given a liquid smoke. The treatments given were variation of carrageenan concentration i,e. 0%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3%. The experiment was designed using a Completely Randomized Design (CRD). To determine the effect of treatments, the data were tested using organoleptical tests consists of hedonic and texture.The results shown that hedonic test of the appearance and color of the raw sample have significant effect (p>0,05), while the other test showed no significant effect (p>0,05). However, the organoleptical score for taste, smell and texture shown a tendency that the fish cake coated, have higher score than without coated. Keywords: Edible coating, Carrageenan, Fish cake, Liquid smoke