MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
MUTU MIKROBIOLOGIS BAKSO IKAN YANG DIRENDAM ASAP CAIR, DIKEMAS VAKUM, DIPASTEURISASI DAN DISIMPAN PADA SUHU DINGIN
Fish meatball is a processed fish product and quite popular for the public. The weakness of fish meatball is quickly decayed which is caused by the growth of spoilage bacteria and pathogens during the storage. Liquid smoke has a function as a barrier to the development of bacteria. Pasteurization, vacuum packaging and storage of cold temperatures could inhibit the growth of bacterium. The purpose of these study is to assessment the Total Plate Count, Total Coliform and Escherichia coli, and Total Salmonella for the microbiological quality of fish meatball soaked in liquid-smoked, vacuum packed, pasteurized and stored at cold temperatures. Fish meatball soaked in liquid smoke 0.8% for 30 minutes and pasteurized at temperature of ±88ºC for 30, 60 and 90 minutes, then vacuum packed and stored at cold temperatures. Based on the results of observations, Total Plate Count from fish meatball can last up for 10 days with the highest TPC value of 6.3 x 104 CFU / g according to ISO 7266: 2014. Total Salmonella until a 20th day had a negative value. Also, Total Coliform and E. coli growth does not found in the cold storage for 30 days. Value fish balls high water content and pH are good for bacterial growth. Immersion in liquid-smoked indicates that liquid-smoked is a good antibacterial preservative for use as an additive. Keyword: Fish Meatball, Liquid-Smoked, Pasteurization, Bacteria.  Bakso ikan merupakan produk olahan ikan yang cukup digemari masyarakat. Kelemahan dari bakso ikan yaitu cepat mengalami pembusukan yang diakibatkan oleh pertumbuhan bakteri pembusuk dan patogen selama masa simpan. Asap cair memiliki fungsi sebagai penghambat perkembangan bakteri. Pasteurisasi, Pengemasan secara vakum dan penyimpanan suhu dingin dilakukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung Angka Lempeng Total, Total Salmonella dan Total Koliform dan Escherichia coli terhadap mutu mikrobiologis bakso ikan yang direndam asap cair, dikemas vakum, dipasteurisasi dan disimpan pada suhu dingin. Bakso direndam pada asap cair 0.8% selama 30 menit dan dipasteurisasi pada suhu ±88ºC selama 30, 60 dan 90 menit, lalu dikemas vakum dan disimpan pada suhu dingin. Berdasarkan nilai hasil pengamatan Angka lempeng Total, bakso ikan dapat bertahan selama 10 hari dengan nilai ALT tertinggi 6.3 x 104 CFU/g dan masih dapat diterima SNI 7266:2014. Total Salmonella sp sampai pada hari ke 20 memiliki nilai negative dan Total Koliform dan E. coli tidak terdeteksi pertumbuhan sampai pada penyimpanan dingin selama 30 hari. Nilai kadar air bakso ikan tinggi dan pH yang baik untuk pertumbuhan bakteri. Perendaman dalam asap cair menunjukkan bahwa asap cair merupakan pengawet antibakteri yang baik untuk digunakan sebagai bahan tambahan. Kata Kunci: Bakso Ikan, Asap Cair, Pasteurisasi, Bakteri
KAJIAN MUTU KIMIAWI IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) ASAP (FUFU) SELAMA PENYIMPANAN SUHU RUANG DAN SUHU DINGIN
Fish as a functional food plays an important role for health and preventing diseases. The objective of the study was to difermined the quality of smoked Skipjack (Katsuwonus pelamis L.) found from the traditional market in Bahu Manado. The method of the study was to analyzet the TVB-N by using Conway, pH by using pH meters and water contents by using oven method. The product was storage at 40C and 27-280C ( refrigeratot and room temperature) for 4 days, data were analyzet using statistical test from the triplicate analyzet. The results obtained, the TVB-N value of smoked Skipjack (Katsuwonus pelamis L.) at 0 day storage in 27-280C (A1B1) and refrigerator 40C (A1B2) was 11,2 mg/100gr, 2 days storage 27-280C (A2B1) is 44,8 mg/100gr and 40C (A2B2) is 19,6 mg/100gr, and 4 days storage in 27-280C (A3B1) is 56 mg/100gr and 40C (A3B2) is 28 mg/100gr. The pH value storage at 40C was 5,7 and no differents among the sample, in contrast at 27-280C value varied from 5,7 to 6,3 and 6,6. The water contents storage at 27-280C were at 0 day (A1B1) is 62,5%, 2 days (A2B1) is 62,8% and 4 days (A3B1) is 63,8% and storage 40C were 0 day (A1B2) is 59%, 2 days (A2B2) is 61,1% and 4 days (A3B2) is 62,7%. Based on the results of the TVB-N value, pH and water contents of smiked Skipjack (Katsuwonus pelamis L.) found from the traditional market at Bahu Manado were acceptable until 4 days storage. While the smoked Skipjack (Katsuwonus pelamis L.) storage at 27-280C (room temperature) acceptable until 2 days storage. Â Keywords: Skipjack (Katsuwonus pelamis L.), Smoke, Study Quality, Chemical, TVB-N, pH, Moisture
STUDI PENGERINGAN IKAN LAYANG (Decapterus sp) ASIN DENGAN PENGGUNAAN ALAT PENGERING SURYA
Proses pembusukan ikan dapat disebabkan oleh aktivitas enzim dalam tubuh ikan, aktivitas mikroorganisme, atau proses oksidasi lemak oleh oksigen dari udara. Oleh karena itu pentingnya tindakan proses pengolahan dan pengawetan ikan. Pengawetan ikan secara tradisional maupun semi modern berupa pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan, sehingga tidak memberikan kesempatan bagi bakteri untuk berkembang biak. Berkurangnya kadar air juga akan terjadi selama proses pengeringan, sehingga makin memperpanjang daya awet ikan asin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ikan layang yang dikeringkan dengan cara pengeringan yang berbeda yaitu yang digantung dan yang direbahkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode eksperimen. Metode eksperimen merupakan bagian dari metode kuantitatif yang dilaksanakan di Laboratorium. Adapun perlakuan yang dilakukan yaitu Rak 1, 2, 3 dan 4 dengan posisi ikan layang di gantung dan Rak 1, 2, 3 dan 4 dengan posisi ikan di rebahkan. Di ketahui bahwa Ikan layang asin yang dikeringkan selama 8 jam dalam alat pengering surya dengan perlakuan pada rak bagian atas dengan posisi ikan di gantung memiliki nilai rata- rata kadar air terendah, sedangkan nilai rata –rata organoleptik secara umum pada rak bagian terngah memiliki nilai terendah. Perubahan suhu dalam alat pengering sangat ditentukan oleh suhu lingkungan di luar dalam hal ini pengaruh sinar matahari yang menembus alat pengering surya yang digunakan. Suhu tertinggi pada siang hari yaitu pada jam 14:00 Wita atau jam 2 sore hari.  Kata kunci: Layang (Decapterus sp), ikan asin, pengeringan matahari
ANALISA KADAR AIR, pH, ORGANOLEPTIK, DAN KAPANG PADA PRODUK IKAN TUNA (Thunnus Sp) ASAP, DI KELURAHAN GIRIAN BAWAH, KOTA BITUNG, SULAWESI UTARA
Fish is a source of food that is needed by humans because it contains a lot of protein. Protein and high water, fish including highly perishable commodity. Therefore, it is necessary to inhibit the process of decay by means of preservation and processing. Fumigation is a way of processing or preservation by utilizing a combination of drying treatment and the provision of chemical compounds from the combustion of natural fuel. This study aims to determine the water content, pH, Appearance and Kapang on products tuna (Thunnus sp) smoke drawn from industry Girian households in villages under the city of Bitung, North Sulawesi. 0 day, 2 days and 4 days of storage at room temperature. The research is descriptive exploratory method, which collects data fact that has been available in the field via the recording and systematic observation in detail and then analyzed the data based on qualitative and quantitative data. The parameters used in the study is testing Water content, pH Test, Test Organoleptik and Fungus. The results obtained from the four test parameters, the value of the highest water content (52.3%), the lowest (29%); The highest pH value of 6.23, the lowest was 5.92; organoleptic value (the appearance of) the highest (7.06), the lowest (2.73); organoleptic values (smell) the highest (7.6); Lowest (1); value organoleptic (taste) the highest (7.66); Lowest (1); organoleptic value (texture) teringgi (6.93); the lowest (2.6); the total value of mold colonies (CFU/g) is the highest (1620); the lowest (40).Keyword: Tuna (Thunnus sp) Smoke, Analysis of Moisture, pH, Appearance, Kapang. Â Ikan merupakan salah satu sumber makanan yang sangat dibutuhkan olehmanusia karena banyak mengandung protein. Kandungan protein dan air yang cukup tinggi, ikan termasuk komoditi yang sangat mudah busuk. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menghambat proses pembusukan dengan cara pengawetan dan pengolahan. Pengasapan merupakan suatu cara pengolahan atau pengawetan dengan memanfaatkan kombinasi perlakuan pengeringan dan pemberian senyawa kimia dari hasil pembakaran bahan bakar alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kadar air, pH, Organoleptik dan Kapang pada produk ikan tuna (Thunnus sp) asap yang diambil dari industri rumah tangga di kelurahan girian bawah Kota Bitung Sulawesi Utara. Selama 0 hari, 2 hari, dan 4 hari, penyimpanan pada suhu ruang. Penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif deskriptif, yaitu mengumpulkan data fakta yang telah tersedia dilapangan melalui pencatatan dan pengamatan secara terperinci dan sistematik kemudian dilakukan analisa data berdasarkan data kualitatif dan kuantitatif. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah Uji Kadar Air, Uji pH, Uji Organoleptik dan Kapang. Hasil penelitian yang diperoleh dari 4 parameter uji, diperoleh nilai kadar air tertinggi (52,3%), yang terendah (29,%); nilai pH tertinggi 6,23, terendah 5,92; nilai organoleptik (kenampakan) tertinggi (7,06), terendah (2,73); nilai organoleptik (bau) tertinggi (7,6); terendah (1); nilai organoleptik (rasa) tertinggi (7,66); terendah (1); nilai organoleptik (tekstur) teringgi (6,93); terendah (2,6); nilai total koloni kapang (CFU/gr) tertinggi (1620); terendah (40).Kata Kunci: Ikan Tuna (Thunnus sp) Asap, Analisa Kadar Air, pH, Organoleptik, Kapang
KAJIAN MUTU IKAN CAKALANG (Katsuwonus Pelamis L.) ASAP UTUH YANG DIKEMAS VAKUM DAN NON VAKAUM SELAMA PROSES PENYIMPANAN PADA SUHU RUANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemunduran mutu kimiawi dan tingkat kesukaan konsumen ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L.) asap utuh yang dikemas vakum dan non vakum selama 0 hari, dan 2 hari, dengan penyimpanan pada suhu ruang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Eksploratif deskriptif, yaitu mengumpulkan data fakta yang telah tersedia dilapangan melalui pencatatan dan pengamatan secara terperinci kemudian dilakukan analisa data berdasarkan data kualitatif dan data kuantitatif. Parameter yang di uji adalah kadar Air, pH, TVB-N, TPC dan Organoleptik.Hasil penelitian ini menujukkan bahwa Nilai kadar air ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L.) asap utuh yang dikemas vakum pada penyimpanan 0 hari memiliki nilai tertinggi yaitu 68.1% dan non vakum 63.3% sedangkan pada penyimpanan 2 hari mengalami penurunan untuk ikan yang divakum memiliki nilai 65.6% dan untuk ikan yang dikemas non vakum yaitu 63.3%.Nilai pH ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap utuh yang disimpan dengan pengemas vakum dan non vakum untuk 0 hari masi baik untuk vakum yaitu 5.68 ,dan non vakum 5.85Â Â sedangkan untuk nilai pH pada hari ke 2 vakum 6.12 dan untuk non vakum adalah 6.08. Nilai TVB-N ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap utuh yang disimpan dengan pengemas vakum dan non vakum untuk 0 hari yaitu, vakum 39.9 mg N/100 gr dan non vakum 35.7 mg N/100 gr sedangkan untuk penyimpanan pada 2 hari mengalami kenaikan yaitu, vakum 85.3 mg N/100 gr dan non vakum 58 mg N/100 gr. Nilai TPC ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L) asap utuh yang disimpan dengan pengemas vakum dan non vakum untuk 0 yaitu vakum 49,5X101 dan non vakum 74,5X103. sedangkan untuk nilai TPC pada hari ke 2 yaitu, vakum 145X101 dan non vakum 246,5X101 . Berdasarkan hasil uji organoleptik ikan cakalang (katsuwonus pelamis L) asap utuh yang dikemas vakum dan non vakum di uji dari segi kenampakan, rasa, dan bau, ikan cakalang asap yang dikemas vakum dan non vakum pada penyimpanan 0 hari memiliki nilai yang baik, sedangkan untuk pengujian hari ke 2 memiliki penurunan nilai. Penyimpanan ikan dengan menggunakan plastik vakum memiliki nilai lebih baik dari ikan yang tidak divakum ini terbukti adanya hasil yang diperoleh selama proses pengamatan
MUTU IKAN ROA (Hemirhamphus sp.) ASAP YANG ADA DI PASAR TRADISIONAL DI KOTA MANADO YANG DISIMPAN PADA SUHU RUANG
Fish is a source of food that is needed by humans because it contains a lot of protein. Protein and water contained in fish is quite high, so the fish including perishable commodities. Therefore, it is necessary to inhibit the process of decay by means of preservation and processing. Fumigation is one of the ways of fish processing that works to preserve and provide aroma with a distinctive flavor. Curing fish intended to have lasting power and gives a distinctive aroma. Roa fish or halfbeak (Hemiramphus sp.) Smoke (traditional name is Galavea) is one of the processed fish products consumed by the people who processed traditionally done by generations in North Sulawesi. Roa smoked fish processing business is done today is done with a simple technique using wood as fuel. This study aims to determine the quality of fish roa Fumes that are sold in traditional markets in the city of Manado through a test moisture content, Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N), Total Plate Count (TPC), pH and Organoleptik during 0, 7, 14 and 21 days of storage at room temperature. The method used is descriptive exploratory method which collects data fact that has been available in the field through the records and observations in detail and then systematically analyzed data based on quantitative and qualitative data. The parameters used in this study is a test moisture content, pH, TVB-N, TPC and Appearance. With the results obtained from the analysis of the highest water content (14.4), the lowest (12.1); The highest pH test (6.75), the lowest (5.87); TVB-N test the highest (63), the lowest (41.58); The highest TPC test (39.5×103), the lowest (13×102); organoleptic highest appearance (7.4), the lowest (5.3); The highest odor organoleptic (7.9), the lowest (6.5); organoleptic taste of the highest (7.9), the lowest (6.9); organoleptic texture highest (7.5), the lowest (7.1). Keyword: Fish halfbeak (Hemiramphus sp.), Quality of Fish, Water content, pH, TVB-N, TPC, Appearance.  Ikan merupakan salah satu sumber makanan yang sangat dibutuhkan oleh manusia karena banyak mengandung protein. Kandungan protein dan air yang terdapat pada ikan cukup tinggi, sehingga ikan termasuk komoditi yang mudah busuk. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menghambat proses pembusukan dengan cara pengawetan dan pengolahan. Pengasapan adalah salah satu cara pengolahan ikan yang berfungsi untuk mengawetkan serta memberi aroma dengan cita rasa yang khas. Pengasapan ikan ditujukan untuk mendapatkan daya awet dan memberi aroma yang khas. Ikan Roa atau Julung-julung (Hemirhamphus sp.) asap (nama tradisionalnya adalah Galavea) adalah salah satu produk ikan olahan yang dikonsumsi oleh masyarakat yang diolah secara tradisional yang dilakukan secara turun-temurun di Sulawesi Utara. Usaha pengolahan ikan roa asap yang dilakukan saat ini masih dilakukan dengan teknik yang sederhana dengan menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu ikan roa asap yang di jual di pasar tradisional di kota Manado melalui uji Kadar air, Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N), Total Plate Count (TPC), pH dan Organoleptik selama 0 hari, 7 hari, 14 hari dan 21 hari penyimpanan pada suhu ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif deskriptif yaitu mengumpulkan data fakta yang telah tersedia dilapangan melalui pancatatan dan pengamatan secara terperinci dan sitematik kemudian dilakukan analisa data berdasarkan data kualitatif dan data kuantitatif. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Kadar air, pH, TVB-N, TPC dan Organoleptik. Dengan hasil yang diperoleh dari analisa kadar air tertinggi (14,4), terendah (12,1); uji pH tertinggi (6,0), terendah (5,87); uji TVB-N tertinggi (60.9), terendah (43,26); uji TPC tertinggi (39,5×103), terendah (13×102); organoleptik kenampakan tertinggi (7,4), terendah (5,3); organoleptik bau tertinggi (7,9), terendah (6,5); organoleptik rasa tertinggi (7,6), terendah (6,9); organoleptik tekstur tertinggi (7,5), terendah (7,1). Kata Kunci: Ikan Julung-julung (Hemirhamphus sp.), Kadar Air, pH, TVB-N, TPC, Organoleptik
TINGKAT KESUKAAN PADA STEAK IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L.) YANG DIRENDAM DALAM ASAP CAIR
Fogging is one way of preserving fish processing functions as well as providing odor as well as a simple way and has weaknesses. To over come these weaknesses, it can be attempted use of liquid smoke. The purpose of this study was to determine the level of preference of panelists and sticks pH value tuna mariheted in luquit smoke and followed by drying in an oven, the level of consumer preference were examined induced, appearance, odor, taste and consistency. The results were obtained of the average value pH sticks tuna were soaked in liquit smoke concentrations of 40% (A1), 5,52 and a concentrations of 50% (A2), 5,54 where as the concentrations of 60% (A3) is 5,31. Organoleptic appearance obtained average value is the concentration of 40% is 5,76, whereas the concentration of 50% 6,39, 60%, 6,7. Organoleptic odor obtained an average value of 40%, was 5,19, the concentration of 50%, 5,93, whereas the concentrations of 60%, 5,86. Organoleptic taste obtained average concentrations value of 40%, 5,63, concentration 50% 7,23 and the concentrations of 60% is 7,10. Concistency test gained an average of 40%, 5,76 concentrations of 50%, 6,83 whereas concentrations of 60%, 6,36. Based on research results pH value test and organolptic test at level a tuna fish sticks, are soaked in liquit smoke has a low pH value, organoleptic, odor,appearance, consistencyhas an average value below 6, while the value of the taste test average value above 7,found in concentrations of 50% 7,23 and concentrations 60% values of 7,10. Keywords: Tuna (Katsuwonus pelamis L.). liquid smoke, pH and appearance quality.   Pengasapan merupakan salah satu cara pengolahan ikan yang berfungsi mengawetkan serta memberikan aroma dengan cita rasa yang khas. Produk olahan ini masih bersifat tradisional karena masih menggunakan cara sederhana dan memiliki kelemahan-kelemahan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, maka dapat di upayakan penggunaan Asap Cair.      Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis dan nilai pH steak cakalang yang direndam dalam asap cair dan dilanjutkan dengan pengeringan dalam oven, tingkat kesukaan konsumen yang diteliti meliputi : kenampakan, Bau, Rasa dan Konsistensi. Hasil penelitian diperoleh untuk nilai rata-rata pH steak Ikan Cakalang yang direndam Dalam Asap Cair konsentrasi 40% (A1), 5,52 dan konsentrasi 50% (A2), 5,54 sedangkan konsentrasi 60% (A3), adalah 5,31. Uji Organoleptik kenampakan diperoleh nilai rata-rata yaitu konsentrasi 40%, adalah 5,76, konsentrasi 50%, 6,39 sedangkan 60%, 6,7. Uji Organoleptik Bau diperoleh nilai rata-rata konsentrasi 40%, 5,19, konsentrasi 50%, 5,93 sedangkan kosentrasi 60%, 5,86. Uji Organoleptik Rasa diperoleh nilai rata-rata kosentrasi 40%, 5,63 konsentrasi 50%, 7,23 dan konsentrasi 60%, 7,10. Uji Organoleptik Kosistensi diperoleh nilai rata-rata 40%, 5,76, kosentrasi 50%, 6,83 sedangkan kosentrasi 60%, 6,36. Berdasarkan hasil penelitian Uji nilai pH dan Uji Organoleptik Tingkat Kesukaan pada Steak Cakalang yang direndam dalam Asap Cair memiliki nilai pH yang rendah, Uji Organoleptik Bau. Kenampakan, Kosnsistensi memiliki Nilai rata-rata di bawah 6, sedangkan untuk Nilai Uji Rasa Nilai rata-rata di atas 7, terdapat pada Konsentrasi 50% dengan Nilai 7,23 dan Konsentrasi 60% Nilai 7,10. Kata kunci: Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L.), asap cair, uji mutu pH dan organoleptik
PEMBERIAN KONSENTRASI ASAM ASETAT PADA MUTU GELATIN KULIT IKAN TUNA
Ikan Tuna (Thunnus albacore) merupakan ikan pelagis besar dan bernilai ekonomis tinggi dan tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Ikan tuna mengandung protein antara 22,6–26,2 g/100 g daging. Lemak antara 0,2–2,7 g/100 g daging. Menurut Mukhtar (2011) pemanfaatan limbah perikanan berupa kepala ikan, sirip, tulang, kulit dan daging merah telah digunakan dalam beberapa hal, yaitu seperti bakso, sosis, nugget, tepung, isolate protein ikan, juga digunakan dalam pemanfaatan silase dan gelatin. Gelatin merupakan suatu jenis protein yang diekstraksi dari jaringan kolagen hewan, (Tourtellote P, 1980).Gelatin merupakan salah satu jenis protein yang diperoleh dari kolagen alami yang terdapat dalam kulit dan tulang (Yi et al., 2006). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mutu dari pemberian konsentrasi asam asetat terhadap total bakteri, rendemen dan kadar air gelatin dari kulit ikan tuna. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbedaan konsentrasi asam asetat (0, 3, 6, dan 9%). Untuk penggunaan bahan baku dalam penelitian ini, berat sampel yang digunakan yaitu sebanyak 4kg kulit basah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan empat kali pengambilan sampel. Hasil dari penelitian ini nilai rendemen yang paling tinggi ada terdapat pada konsentrasi 9% (13,93%) dan yang paling rendah terdapat pada konsentrasi 0% (9,6 %). Sedangkan untuk kadar air, kandungan yang paling tinggi terdapat pada konsentrasi 6% (10,75%) dang yang paling rendah pada konsentrasi 3% (9,1%), nilai kandungan kadar air pada penelitian ini masih memenuhi standar mutu SNI tentang gelatin (1995) yaitu kadar air maksimal sebesar 16%. Sedangkan untuk total bakteri , nilai total bakteri pada gelatin ini memenuhi standar minimal yang dipersyaratkan yaitu minimal 1000 (1x103) atau 0,1x104 CFU/gr. Nilai yang paling rendah untuk analisa total bakteri pada penelitian ini adalah terdapat pada konsentrasi 0% dengan nilai7.8x102 CFU/gr, sedangkan yang paling tinggi terdapat pada konsentrasi 3% dengan nilai 5.4 x104 CFU/gr. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian konsentrasi asam asetat yang berbeda dapat memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan untuk gelatin kulit ikan tuna. Kata kunci: Kulit Ikan Tuna, Gelatin, Asam Asetat
KAJIAN MUTU IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis, L.) ASAP DARI TEMPAT PENGASAPAN DESA GIRIAN ATAS YANG DIKEMAS VAKUM DAN NON VAKUM SELAMA PENYIMPANAN DINGIN
Sub sector of fishery is constitute primary mainstay which source of food and nutrition for Indonesian society. Fish is a source of protein also recognized as “function food†which has significant important for health because it contains unsaturated fatty acid chain length (especially those classified as Omega-3 fatty acid), vitamins, as well as macro minerals. One way of processing and preserving fish is by fogging. Fogging is a way of processing or preservation by utilizing a combination of drying treatment and giving the natural chemical compound from the results combustion of natural fuel. One right way to maintain durable power of cakalang (Katsuwonus pelamis, L.) is by the vacuum packed fish. The main principles of the vacuum packed is expenditure especially air from the product so that extend the self life. And next modified with the cold storage to obtain good results. This research aims to observe the setback chemical quality of cakalang. Fogging for 0 day, 7 day, and 21st day. Storage temperatures (5°C) at vacuum and non vacuum packed with testing of the quality water content, pH, Total Plate Count (TPC), Total Volatile Base Nitrogen (TVBN), and Organoleptik. The Method Experiment Explorative which reveal facts based on the exciting problems by hypothesis. Parameter used in this research is testing water content, pH, TPC, TVB, and Organoleptik. The results of this research from 5 parameter obtained: The Value of highest water level (53.95%), lowest (20.14%). The Value of highest pH (5.9), lowest (5.8). The Value of highest TVB (43.36mg N/100gr), lowest (21.84mg N/100gr). The Value of highest TPC (TBUD), lowest (<30). The Organoleptic value of flavor (6.3–8.2), appearance (4.3–7.5), aroma (4.3–8.9) and texture (4.9–7.9). Keyword: Skipjack (Katsuwonus pelamis L), Smoke, Study Quality, Chemical, TVB-N, pH, Moisture, TPC, Organoleptik.  Sub sektor perikanan merupakan andalan utama sumber pangan dan gizi bagi masyarakat Indonesia. Ikan merupakan sumber protein, juga diakui sebagai functional food yang mempunyai arti penting bagi kesehatan karena mengandung asam lemak tak jenuh berantai panjang (terutama yang tergolong asam lemak omega-3), vitamin serta makro dan mikro mineral. Salah Satu cara pengolahan dan pengawetan ikan adalah dengan cara pengasapan. Pengasapan merupakan cara pengolahan atau pengawetan dengan memanfaatkan kombinasi perlakuan pengeringan dan pemberian senyawa kimia alami dari hasil pembakaran bahan bakar alami. Salah satu cara yang tepat untuk mempertahankan daya awet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L.) asap yaitu dengan dikemas vakum. Prinsip utama dari pengemasan vakum adalah pengeluaran khususnya 02 dari produk sehingga dapat memperpanjang masa simpan. Selanjutnya dimodifikasi dengan penyimpanan dingin untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kemunduran mutu kimiawi ikan Cakalang asap selama 0 hari, 7 hari, dan 21 hari, penyimpanan pada suhu dingin (±5 ºC ) yang dikemas vakum dan non vakum dengan pengujian mutu meliputi Kadar air, pH, Total Plate Count (TPC), Total Volatile Base Nitrogen (TVB-N), dan Organoleptik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen eksploratif yaitu mengungkapkan fakta-fakta berdasarkan permasalahan yang ada melalui hipotesa. Parameter yang digunakan dalam penelitian adalah uji Kadar Air, uji pH, uji TPC, uji TVB-N, dan uji Organoleptik. Hasil penelitian yang diperoleh dari 5 parameter uji, diperoleh nilai kadar air tertinggi (53,95%), terendah (20,14%); nilai pH tertinggi 5,9, terendah 5,8; nilai TVB tertinggi (45,36mg N/100gr), terendah (21,84mg N/100g); nilai TPC tertinggi (TBUD), terendah (<30); nilai Organoleptik (Rasa) tertinggi (8,2), terendah (6,3); nilai Organoleptik (Kenampakan) tertinggi (7,5), terendah (4,3); Nilai Organoleptik (Bau) tertinggi (8,9), terendah (4,3); nilai Organoleptik (Tekstur) tertinggi (7,9), terendah (4,9). Kata Kunci: Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L.), asap, Kajian Mutu, TVB-N, pH, Kadar Air,TPC, Organoleptik
Perubahan Komposisi Zat Gizi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) Selama Proses Pengolahan Ikan Kayu
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan komposisi zat gizi (protein, lemak, dan kadar air) ikan cakalang (Katsuwonus pelamis. L) selama proses pengolahan ikan kayu. Dalam penelitian ini dilakukan analisa kadar air, protein dan lemak total serta uji organoleptik terhadap tingkat kesukaan. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap pengambilan sampel yaitu: pengambilan sampel ikan segar, pengambilan sampel ikan setelah proses perebusan, dan pengambilan sampel produk akhir. Dalam menganalisa data digunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dari penelitian ini dapat dilihat terjadi perubahan komposisi zat gizi pada pengolahan ikan kayu. Hal ini dapat didukung dengan perubahan peningkatan komposisi kadar protein dan kadar lemak serta perubahan penurunan komposisi kadar air. Sehingga ikan kayu baik untuk dikonsumsi karena mengandung kadar protein dan lemak yang tinggi khususnya ikan cakalang. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa panelis lebih menyukai ikan yang diserut dari pada ikan yang dihaluskan. Tetapi dalam analisis sidik ragam uji organoleptik tingkat kesukaan tidak memberikan pengaruh yang nyata