MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
Not a member yet
    208 research outputs found

    STUDI KEBERADAAN BAKTERI PATOGEN PADA IKAN KAYU (Katsuwobushi) YANG DIPROSES DENGAN ASAP CAIR

    Get PDF
    The problems in dried bonito flakes industry nowadays is the high contents of Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) which is can act as carcinogenic agent. The aim of this study was to observe and detect the presence of pathogenic bacteria that may contaminate the dried bonito flakes. The tested parameters include Total Plate Count (TPC) analysis, detection of Coliform, Escherichia coli, Staphylococcus, Salmonella. The results showed that the early drying period had 1,3x104 cfu/g and the final drying had 3x103 cfu/g. There is no evidence of the  presence of Escherichia coli, Staphylococcus, Salmonella

    UJI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BUAH MANGROVE Sonneratia alba DI DESA NUNUK KECAMATAN PINOLOSIAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW SELATAN SULAWESI UTARA

    Get PDF
    Sonneratia alba is one of the most common mangrove plants found in coastal countries in Asia an including Indonesia, Malaysia Philippines, India, and China. The fruit of this plant is widely used as a medicinal ingredient and is believed to have potential as a source of antioxidants. The purpose of this study is to study the antioxidant activity in S. alba fruit 2–3cm diameter which originated from coastal area of Desa Nunuk, Kecamatan. Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, North Sulawesi. Testing of antioxidant activity of mangrove fruit was done by phytochemical and DPPH (1,1-diphenyl-2-picrilhidrazil). The result of phytochemical analysis showed that S. alba fruit contain alkaloid, flavonoid, phenolic, tannin, and steroid compound. Additionally, the IC50 value was 296.54 ppm. Sonneratia alba salah satu tanaman mangrove yang banyak ditemukan di pesisir negara-negara di Asia antara lain di Indonesia, Malaysia Filipina, India, dan Cina. Buah dari tanaman ini banyak digunakan sebagai bahan obat dan diyakini memiliki potensi sebagai sumber antioksidan. Tujuan penelitian ini yakni untuk mempelajari aktivitas antioksidan pada buah S. alba yang berdiameter 2–3cm yang diambil di sekitar pesisir pantai Desa Nunuk, Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara. Pengujian aktivitas antioksidan buah mangrove dilakukan dengan uji fitokimia dan DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Hasil analisa fitokimia menunjukkan bahwa buah S. alba mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, tannin, dan steroid. Selain itu nilai IC50 adalah 296.54 ppm

    KANDUNGAN ANTIOKSIDAN PADA RUMPUT LAUT EUCHEUMA SPINOSUM YANG DIEKSTRAK DENGAN METANOL DAN ETANOL

    Get PDF
    The purpose of this study was to determine the antioxidant activity of seaweed Eucheuma spinosum through phytochemical and DPPH test (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl). This study utilized 2 solvents i.e. methanol and ethanol with 2 different concentrations (95% and 50%). The analysis included percentage of yields, phytochemical test, and IC50 value from each extract. The highest yield of extract was obtained on the sample extracted with 50% ethanol with the yield value of 1.8%. Phytochemical results showed that samples extracted with 95% methanol had 6 components of antioxidants namely alkaloids, steroids, saponins, terpenoids, polyphenols and flavonoids. The best IC50 value was presented by sample extracted with 95% ethanol (97,522 ppm). Overall, this study demonstrated the effectiveness of fresh Euchema spinosum samples as a source of natural antioxidants. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan rumput laut Eucheuma spinosum melalui uji fitokimia dan uji DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl). Untuk proses ekstraksi penelitian ini menggunakan 2 pelarut yaitu methanol dan etanol dengan 2 konsentrasi berbeda 95% dan 50%. Analisis yang dilakukan meliputi rendemen, uji fitokimia, dan perhitungan IC50 dari masing-masing ekstrak. Rendemen ekstrak tertinggi diperoleh pada sampel yang diekstrak dengan etanol 50% dengan nilai rendemen sebesar 1,8%. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa sampel yang diekstrak dengan methanol 95% memiliki 6 komponen antioksidan yang diuji secara kualitatif (alkaloid, steroid, saponin, terpenoid, polifenol dan flavonoid). Nilai IC50 paling baik diperlihatkan oleh sampel yang diekstrak dengan etanol 95% yaitu sebesar 97,522 ppm. Secara keseluruhan penelitian ini memperlihatkan efektivitas sampel Euchema spinosum segar sebagai sumber antioksidan alami.Â

    PENGGUNAAN ASAP CAIR CANGKANG PALA (Myristica fragrans) SEBAGAI BAHAN PENGAWET PADA PENGOLAHAN IKAN TONGKOL (Euthinnus affinis) ASAP

    Get PDF
    The purpose of this research is to determine the quality of the smoked mackerel tuna (Euthynnus affinis) processed with liquid smoke from nutmeg shell at various concentration (6, 8 or 10%) by drying for 6 hours or 8 hours. The tested parameters tested were moisture content, pH, organoleptic and texture. The lowest water content (36.25) and pH value (5.5) was obtained from a smoked fish that was dried for 8 hours using 10% liquid smoke. The organoleptic results of taste and smell indicated that the panelists preferred smoked fish which was made with 6% concentration of liquid smoke and dried for 6 hours. Keyword: Mackerel tuna, liquid smoke, nutmeg shell.   Ikan tonggkol (Euthynnus affinis) adalah salah satu jenis ikan yang banyak terdapat di perairan Indonesia terlebih khusus di daerah Sulawesi Utara. Pengolahan ikan menggunakan asap cair memiliki beberapa kelebihan antara lain, mudah diterapkan dan praktis penggunaannya polusi ke lingkungan dapat diperkecil dan yang paling penting senyawa karsinogen yang terbentuk dapat dieliminasi. Asap cair cangkang Pala dapat dijadikan solusi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui penggunaan asap cair cangkang Pala dengan konsentrasi 6, 8, 10% terhadap mutu ikan tongkol (Euthynnus affinis) asap. Manfaat yang di peroleh dari penelitian ini ialah mengetahui penggunaan asap cair dari cangkang pala yang direndam pada ikan tongkol dengan konsentrasi berbeda-beda, dengan perlakuan perendaman pada konsentrasi 6, 8, 10% dengan pengeringan selama 6 jam dan pengeringan selama 8 jam. Dengan parameter uji Kadar air, pH, Organoleptik dan Tekstur. Hasil yang diperoleh dari ikan tongkol asap cair cangkang pala konsentrasi 6, 8, 10%. Kadar air dengan pengeringan selama 6 jam memiliki kadar air tertinggi kosentrasi 6%, 44,75%. 8%, 38,75%. 10%, 36,25%. Dan pengeringan selama 8 jam memiliki kadar air terendah. Hasil pH dari ikan tongkol asap cair cangkang Pala dengan konsentrasi 6%, 8%, 10%. Dengan pengeringan selama 6 jam memiliki nilai tertinggi yaitu konsentrasi 6%, 5,76. 8%, 5,65. 10%, 5,61. dan pengeringan selama 8 jam memiliki nilai terendah. Organoleptik kenampakan setelah dari uji direngking diperoleh konsentrasi 10% yang dikeringkan 6 jam memiliki nilai tertinggi yaitu 66,5 Untuk organoleptik bau setelah di uji rengking konsentrasi 6% dikeringkan selama 6 jam memiliki nilai tertinggi yaitu 59,5. Organoleptik rasa setelah dari uji rengking dengan konsentrasi 6% dengan lama pengeringan 6 jam memiliki nilai tertinggi 75,5. Dan untuk tekstur dimana konsentrasi 10 % dengan pengeringan 8 jam memiliki nilai terendah 0,28 dari konsentrasi lainnya. Kata Kunci: Ikan tongkol, asap cair, cangkang pala

    KARAKTERISTIK SURIMI YANG DIBUAT DARI HASIL PENCUCIAN DAGING IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis L) DENGAN AIR DINGIN (± 4ºC)

    Get PDF
    This research intended to study the effect of washing period of skipjack (Katsuwonus pelamis L) meat with cold water to the chemical and physical properties of surimi. The functional properties of surimi was tested either by  physical or chemical analysis. In this study we measured folding test, texture and fat content. A complete randomized design were designated for this study with washing period as a treatment ( 0, 1, 2, 3, or 4 min). The average value of folding test were 2.2, 2.6, 3.0, 3.8 and 4.6, respectively. There is an increment of folding test value as the washing period increased. The average value of the texture analysis were 3.0, 3.8, 4.4, 5.1 and 5.9. Likewise, the longer the washing time, the firmer the texture. However, as the washing period increased, the fat content of surimi tend to decrease

    MUTU KARAGINAN DAN KEKUATAAN GEL DARI RUMPUT LAUT MERAH Kappaphycus alvarezii

    Get PDF
    The study aim to determine the quality and gel strength of carrageenan produced by red algae Kappaphycus alvarezii. The carrageenan was produced using various concentration, cooking time and water ratio that is 0.05, 0.1 and 0.15% potassium hydroxide; 1, 1.15, 1.25, 1.5, 3 and 4.5%, potassium chloride (KCl); cooking time 2h or 3h; and carrageenan and water ratio, 1:20L or 1:30L The results showed that the best treatment produced the highest gel strength (188.53 g/cm2) with 17.7% moisture content and 19.9% ash content. This condition was achived by mixing 0.15% KOH and 1.25% KCl, cooked for 2h with 1:20 carrageenan to water ratio.Keyword: Carageenan, Kappaphycus alvarezii, seaweed. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan mutu akhir karaginan dari rumput laut merah Kappaphycus alvarezii yang dibuat dengan 5 perlakuan berbeda. Perlakuan variasi konsentrasi pelarut KOH dan KCl, lama pemasakan, dan perbandingan air yang berbeda. Proses ekstraksi karaginan menggunakan pelarut KOH dengan konsentrasi 0,05%, 0,1 %, dan 0,15% sedangkan pelarut KCl dengan konsentrasi 1%, 1.15%, 1.25%, 1,5%, 3%, dan 4,5%, lama permasakan 2 dan 3 jam, dan perbandingan air 1:20 L dan 1:30 L. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuaan F dengan konsentrasi  KOH 0,15 + KCl 1,25 % dan lama pemasakan 2 jam,dan perbandingan karaginan dan air 1: 20 Liter menghasilkan  kekuataan gel 188,53 g/cm2, dengan pH 8.04, kadar air 17.75, dan kadar abu 19,99%.Kata Kunci: Karaginan, Kappaphycus alvarezii, rumput laut

    KOMPOSISI KIMIA, SENYAWA BIOAKTIF DAN ANKGA LEMPENG TOTAL PADA RUMPUT LAUT Gracillaria edulis

    Get PDF
    This study was conducted to determine the proximate composition, bioactive compound and total plate count (TPC) in Gracilaria edulis seaweed. This research used descriptive explorative method. The results showed the average value of moisture content (77.7%); protein content (39.4%); fat content (8.1%); carbohydrates by difference (71.7%); ash content (20.7%) and very low bacterial count. Phytochemical test results show this seaweed contains alkaloids, saponins, flavonoids, and triterpenoids compounds. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi proksimat, senyawa bioaktif dan angka lempeng total (ALT) pada rumput laut Gracilaria edulis. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif eksploratif. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kadar air (77,7%); protein (39,4%); kadar lemak (8,1%); karbohidrat (71,7%); kadar abu (20,7%) dan jumlah bakteri yang sangat rendah. Hasil uji fitokimia menunjukkan rumput laut ini mengandung  senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, dan triterpenoid

    KUALITAS RUMPUT LAUT MERAH (Kappaphycus alvarezii) DENGAN METODE PENGERINGAN SINAR MATAHARI DAN CABINET DRYER, SERTA RENDEMEN SEMI-REFINED CARRAGEENAN (SRC)

    Get PDF
    Red seaweed (Kappaphycus alvarezii) is one type of algae that produced carrageenan. Carrageenan can be used as a stabilizer, thickening agent, gelling agent, emulsifier, coagulant agents, colloid protective agents, and crystallization-preventing agents. This property is widely used in the food industry, pharmaceuticals, cosmetics, textiles, paint, toothpaste and other industries. This research aims to determine the yield of semi-refined carrageenan (SRC) and to compare the quality of red seaweed (Kappaphycus alvarezii) prepared by two difference methods i.e. sun drying and artificial drying with various drying time (12h, 24h, or 40h). The results showed that the yield of semi-refined carrageenan (SRC) dried with artificial dryer (56%) was not within the required of Indonesian national standard for carrageenan. Also, results indicated that the lowest fat content 0.2% was achieved after 12h drying period with cabinet dryer whilst the lowest moisture content was prepared by drying seaweed for 40h under the sun. Keyword: red seaweed, semi-refined carrageenan, cabinet dryer.   Rumput laut merah (Kappaphycus alvarezii) merupakan salah satu jenis rumput laut penghasil karaginan, Karaginan sangat penting peranannya sebagai stabilisator (pengatur keseimbangan), thickener (bahan pengental), pembentuk gel, pengemulsi, koloid pelindung, penggumpal dan pencegah kristalisasi. Sifat ini sangat dimanfaatkan dalam industri makanan, obat-obatan, kosmetik, tekstil, cat, pasta gigi dan industri lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari serta mengetahui perbedaan kualitas dari rumput laut merah yang dikeringkan dengan menggunakan dua metode yaitu pengeringan dengan sinar matahari dan pengeringan dengan alat pengering buatan (cabinet dryer), serta rendemen semi refined-carrageenan (SRC). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas karaginan yang terbaik yang dikeringkan pada perlakuan B1 (cabinet dryer) selama 12 jam dimana kadar lemak yaitu 0,2 %, serat kasar tertinggi yaitu 6.5 % pada perlakuan A1 (sinar matahari) selama 24 jam (08.00–12.00), karbohidrat tertinggi yaitu 14,72%, pada perlakuan A1(sinar matahari) selama 24 jam (08.00–12.00), kadar air terendah pada perlakuan A1 (sinar matahari) selama 40 jam (12.00–16.00) yaitu 10,75%, kadar lemak terendah terdapat pada perlakuan B1 (cabinet dryer) selama 24 jam yaitu 0,22%. Rendemen SRC yang dikeringkan dengan alat pengering buatan cabinet dryer yaitu 56%. Kata Kunci: Rumput laut merah, semi-refined carrageenan, cabinet dryer

    ANALISA TOTAL BAKTERI, KADAR AIR DAN pH PADA RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) DENGAN DUA METODE PENGERINGAN

    Get PDF
    Rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor merupakan sumber devisa bagi Negara dan budidayanya merupakan sumber pendapatan nelayan, dapat menyerap tenaga kerja, serta mampu memanfaatkan lahan perairan pantai di kepulauan Indonesia yang sangat potensial. Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung jumlah koloni bakteri, dan menentukan jumlah kadar air dan pH pada rumput laut (Kappaphycus alvarezii) dengan dua metode pengeringan. Penelitian ini menerapkan metode desktriptif yaitu metode analisa yang memberikan gambaran secermat mungkin tentang suatu individu, keadaan gejala atau kelompok tertentu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada rumput laut (Kappaphycus alvarezii) rata-rata menunjukan hasil yang tidak jauh berbeda, rumput laut yang dikeringkan dengan menggunakan sinar matahari dari pukul 08.00-12.00 selama 40 jam adalah 5,45 x 105 CFU/gr, dan untuk pukul 12.00-16.00 selama 40 jam 5,13 x 105 CFU/gr. Sedangkan, untuk pengeringan menggunakan cabinet dryer untuk pengeringan selama 12 jam adalah 5,39 x 105 CFU/gr dan pengeringan selama 24 jam adalah 5,48 x 105 CFU/gr. Untuk kadar air nilai tertinggi yaitu 17,25% pada pengeringan menggunakan cabinet dryer selama 12 jam. Dan nilai rata-rata terendah yaitu 10,75% pada pengeringan sinar matahari selama 40 jam. Dan untuk nilai pH, nilai tertinggi yaitu 5,58 pada pengeringan menggunakan sinar matahari pada pukul 08.00-12.00 selama 40 jam dan untuk nilai terendah yaitu 4,93 pada pengeringan menggunakan cabinet dryer selama 24 jam

    TOTAL Escherichia coli PADA SOSIS IKAN YANG DI-COATING DENGAN MIOFIBRIL ASAP CAIR SELAMA PENYIMPANAN

    Get PDF
    Fish sausages are prepared foods that have a high nutritional value, but that is the weakness of this commodity is rapidly decaying nature. Bacterial pathogens that must be avoided include Escherichia coli. These bacteria are gram-negative, rod-shaped and motile spores are not. The purpose of this study is to calculate the total coliforms and E. coli in fish sausage coating of fish protein myofibrils Black Marlin (Makaira indica) during storage at room temperature (28–29°C), and refrigerator temperature (10–13°C). The method used is descriptive method, which is a study conducted to analyze an individual, the state, or the symptoms of a particular group. The results showed that the total coliform in fish sausage in coating with liquid smoke is stored at room temperature, the lowest value is 7 MPN/g, the highest of 120 MPN/g, while the lowest value refrigerator temperature is 7 MPN/g, the highest 93 MPN/g. Total coliform in fish sausage in smokeless liquid coating stored at room temperature with the lowest value is 7 MPN/g, the highest 210 MPN/g, while the lowest value refrigerator temperature is 7 MPN/g, and the highest is 120 MPN/g. Total coliform in fish sausages are not in the coating deposited at room temperature with the lowest value is 7 MPN/g, the highest of 240 MPN/g, at refrigerator temperature the lowest value is 7 MPN/g, and the highest is 150 MPN/g. Total E. coli showed that the fish sausage in coating with liquid smoke is stored at room temperature, the lowest value is 1 MPN/g, and the highest is 4 MPN/g, while the lowest value refrigerator temperature is <3 MPN/g, and The highest is 3 MPN/g. Total E. coli in fish sausage in smokeless coating liquid stored at room temperature, the lowest value is 2 MPN/g, and the highest is 4 MPN/g, while the temperature of the refrigerator lowest value is 1 MPN/g, and a high of 3 MPN/g. Total E. coli in sausages are not in the coating deposited at room temperature, the lowest value is 2 MPN/g, and the highest is 5 MPN/g, and the refrigerator temperature is the lowest rating 2 MPN/g, the highest is 4 MPN/g during storage .Keywords: fish sausage, coating, myofibril, Eschericia coli.  Sosis ikan merupakan makanan siap saji yang mempunyai nilai gizi tinggi, namun yang menjadi kelemahan dari komoniti ini adalah sifatnya yang cepat membusuk. Bakteri patogen yang harus dihindari antara lain Escherichia coli.  Bakteri ini bersifat gram negatif, berbentuk batang tidak spora dan bersifat motil. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menghitung total koliform dan E. coli pada sosis ikan yang dicoating dari miofibril protein ikan Black Marlin (Makaira indica) selama penyimpanan suhu ruang (28–29°C), dan suhu kulkas (10–13°C). Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk menganalisa suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total koliform pada sosis ikan yang dicoating dengan asap cair disimpan pada suhu ruang, nilai terendah yaitu 7 MPN/g, tertinggi 120 MPN/g, sedangkan pada suhu kulkas nilai yang terendah yaitu 7 MPN/g, tertinggi 93 MPN/g. Total koliform pada sosis ikan yang dicoating tanpa asap cair disimpan pada suhu ruang dengan nilai terendah yaitu 7 MPN/g, tertinggi 210 MPN/g, sedangkan pada suhu kulkas nilai yang terendah yaitu 7 MPN/g, dan tertinggi 120 MPN/g. Total koliform pada sosis ikan tidak dicoating disimpan pada suhu ruang dengan nilai terendah yaitu 7 MPN/g, tertinggi 240 MPN/g , pada suhu kulkas nilai terendah yaitu 7 MPN/g , dan tertinggi 150 MPN/g. Total E. coli menunjukkan bahwa pada sosis ikan yang dicoating dengan asap cair disimpan pada suhu ruang, yaitu nilai terendah 3 MPN/g, dan tertinggi 4 MPN/g, sedangkan pada suhu kulkas nilai terendah yaitu <3 MPN/g, dan tertinggi 3 MPN/g. Total E. coli pada sosis ikan yang dicoating tanpa asap cair disimpan pada suhu ruang, yaitu nilai terendah 3 MPN/g, dan tertinggi 4 MPN/g, sedangkan pada suhu kulkas nilai terendah yaitu <3 MPN/g , dan tertinggi 3 MPN/g. Total E. coli pada sosis tidak dicoatingdisimpan pada suhu ruang, yaitu nilai terendah 4 MPN/g, dan tertinggi 7 MPN/g, dan pada suhu kulkas yaitu nilai terendah 3 MPN/g, tertinggi 4 MPN/g selama penyimpanan.Kata kunci: sosis ikan, coating, myofibril, Eschericia coli

    186

    full texts

    208

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MEDIA TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇