Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)
Not a member yet
    1299 research outputs found

    Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Pontianak

    No full text
    ABSTRAK Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 Pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Pontianak Akuntansi sangat penting untuk menujang pengelolaan keuangan suatu daerah untuk menunjang itu maka pemerintah daerah melakukan reformasi dan perbaikan pada penyajian laporan keuangan daerah dengan menerapkan akuntansi berbasis akrual. Hal ini juga dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah kota Pontianak pada penyajian laporan keuangannya karena perubahan basis akrual ini merupakan keharusan dalam pemda dan sudah diatur dalam undang-undang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi PP nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) berbasis akrual pada Dinas Pendapatan Daerah Kota Pontianak. Dan kendala dalam pengimplementasiannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dimana data yang dikumpulkan kemudian dianalisis  sehingga  dapat  ditarik  kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2015 Dispenda belum menyajikan laporan keuangan berbasis akrual secara sempurna, baru menerapkan laporan keuangan menuju akrual. Ini terkendala oleh SDM, sarana dan prasarana serta aturan yang berubah-ubah Kata kunci : standar akuntansi pemerintah, basis akrual, pemerintah daerah

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KONSERVATISME AKUNTANSI PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2013 – 2015

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi konservatisme akuntansi. Variabel independen yang digunakan adalah ukuran perusahaan, leverage dan intensitas modal. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sehubungan dengan adanya konsep konservatisme ini menghasilkan penemuan yang beragam. Oleh karena itu, penelitian semacam ini masih dibutuhkan untuk menjawab berbagai masalah yang berkaitan dengan faktor-faktor konservatisme. Sampel penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia  Jumlah perusahaan yang diambil sebagai sampel adalah 33 perusahaan pada tahun 2013-2015. Pengujian hipotesis dengan menggunakan metode analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil uji t diperoleh kesimpulan bahwa variabel ukuran perusahaan mempunyai pengaruh yang positif terhadap konservatisme akuntansi,hal ini ditunjukkan dengan nilai sig sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05. Variabel Leverage berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi dengan nilai sig sebesar 0,005 lebih besar dari 0.05. Variabel intensitas modal berpengaruh negatif terhadap konservatisme akuntansi dengan nilai sig sebesar 0,471 lebih besar dari 0,05. Hasil uji F di peroleh nilai probabilitas sebesar 0,000 lebih kecil daripada nilai alpha 0,05. Jadi ukuran perusahaan, leverage dan intensitas modal secara simultan berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi. Kata Kunci : Ukuran Perusahaan, Leverage, Intensitas Modal, Konservatisme Akuntans

    PENGARUH DEWAN KOMISARIS, UKURAN PERUSAHAAN, DAN PROFITABILITAS TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL PADA PERUSAHAAN SEKTOR KERTAS DAN PULP YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

    No full text
    This research aims to examine of commisioners, company size, and profitability on the disclosure of social responsibility of paper and pulp sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange (BEI). To determine the degree of effect of commisioners, it is assessed from the number of commisioners, while the size of company is based on the total assets of the company. Profitability ratios use are return on assets (ROA). The populations in this research were the paper and pulp sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2012, 2013, and 2014, with a sample of criteria, listed on Indonesia Stock Exchange from 2012to 2014, revealed the full annual report from 2012 to 2014, each year the companies revealed the social respomsibilty activies, and had data related to the variable used in this research. The sample in this research were as many as seven companies. The analys model used in this research was multiple linier regression model which performed with SPSS version 17. The result show that commisioners had a significant effect on the disclosure of coporate social responsibility, but the size company, and profitability had no significant effect. Meanwhile, the board of commisioners, company size and profitability simultaneously had an effect on the disclosure of corporate social responsibility. Keywords : Disclosure of Social Responsibilty, Board of Commisioners, Company Size, Profitabilit

    Analisis Perlakuan Akuntansi Pembiayaan Murabahah dengan PSAK No. 102 pada BMT Mujahidin Pontianak

    No full text
    ABSTRAK Penelitian dilakukan demi mencapai tujuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai penerapan pembiayaan murabahah pada BMT Mujahidin Pontianak dan apakah penerapannya sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 102. Penelitian ini dilakukan dengan cara deskriptif komparatif, yaitu menggambarkan dan mendeskripsikan keadaan suatu objek dan membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan. Dalam hal ini penelitian dilakukan untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan pembiayaan murabahah BMT Mujahidin Pontianak dibandingkan dengan PSAK No. 102. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa BMT Mujahidin Pontianak belum sepenuhnya menerapkan PSAK 102 pada pembiayaan murabahah, yaitu dari 44 paragraf yang dibandingkan, sebanyak 34 paragraf atau sebesar 82,85% telah diterapkan sementara 10 paragraf lainnya atau sebesar 24,37% belum diterapkan oleh BMT Mujahidin Pontianak. Kata Kunci : Pembiayaan Murabahah, PSAK No. 102

    IMPLEMENTASI AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL PADA PENDAPATAN (STUDI KASUS PADA DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS)

    No full text
    Akuntansi  pendapatan berbasis akrual harus dilaksanakan pada tahun 2015. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui implementasi akuntansi berbasis akrual terkait pendapatan pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Sambas apakah sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang SAP. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Sambas dalam pelaksanaan akuntansi pendapatan sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang SAP. Hal ini terlihat dari kebijakan akuntansi pendapatan yang dilakukan, adanya peraturan bupati tentang kebijakan akuntansi dan sistem akuntansi pemerintah daerah yang isinya sesuai dengan PP Nomor 71 Tahun 2010. Dinas Pendapatan Daerah perlu diadakan pelatihan untuk SDM agar dapat meningkatkan kualitas dan lebih memahami basis akrual khususnya mengenai pendapatan. Kata kunci: basis akrual, akuntansi pendapata

    ANALISIS PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN KOPERASI BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (Studi Kasus Pada Koperasi Simpan Pinjam Sepakat Makmur Cabang Pemangkat Kabupaten Sambas)

    No full text
    IAI mengeluarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang dapat mengakomodir kebutuhan akuntansi untuk entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penyusunan dan penyajian laporan keuangan Koperasi Simpan Pinjam Sepakat Makmur berdasarkan SAK ETAP serta kendala dalam penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam laporan keuangan yang diterapkan oleh Koperasi Simpan Pinjam Sepakat Makmur masih belum sesuai dengan standar pelaporan keuangan SAK ETAP.   Kata Kunci : Koperasi, Laporan Keuangan, SAK ETA

    PENERAPAN PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN ENTITAS MIKRO KECIL DAN MENENGAH (SAK EMKM) PADA USAHA KECIL MENENGAH (UKM) STUDI KASUS PADA KONVEKSI GOODS PROJECT BANDUNG

    No full text
    Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. . Usaha kecil dan menengah (UKM) mempunyai peran penting dan strategis bagi pertumbuhan ekonomi negara,baik negara berkembang maupun negara maju. Upaya pemerintah dan perbankan untuk membantu UKM terus menerus dilakukan yaitu dengan memberikan dukungan fasilitas pembiayaan yaitu Program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi mengenai posisi keuangan perusahaan dan hasil usaha yang dicapai oleh suatu perusahaan. Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI telah ngesahkan exposure draft SAK EMKM pada tanggal 18 mei 2016 dan berlaku efektif 1 januari 2018. Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik agar menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman UKM Konveksi Goods Project dalam memahami SAK EMKM, Penerapan SAK EMKM dalam penyajian laporan keuangan pada UKM Konveksi Goods Project sebagai standar dalam menyajikan laporan keuangan, dan kendala UKM Konveksi Goods Project menyajikan laporan keuangan sesuai SAK EMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UKM Konveksi Goods Project masih belum menerapkan SAK EMKM hanya mencatat jurnal penerimaan kas dan pengeluaran kas. Kendala UKM Goods Project dalam menyajikan laporan keuangan adalah kurangnya pemahaman dan sosialisasi mengenai SAK EMKM. Kata kunci : UKM,Laporan Keuangan, SAK EMK

    ANALISIS PENGENDALIAN INTERN ATAS PENJUALAN AIR, DAN PIUTANG DAGANG PADA PDAM TIRTA KHATULISTIWA KOTA PONTIANAK

    No full text
    Municipal Water Company Thirta Khatulistiwa Pontianak is the only Drinking Water Company in Pontianak City owned by the government of Pontianak City, where within the Municipal Water Company of Pontianak City. Sales is one of the efforts to achieve company goals, which become an indication of the problem in this research is Internal control system should be set in all aspects, both in terms of management and systems and procedures because the internal control system serves as a grip in achieving company goals, as a tool to maintain Company property, check employees' accuracy, improve efficiency and encourage compliance with management policies. The results showed that the internal control of sales systems and accounts receivable system is good enough. This is because the company has applied the principles of adequate internal control such as the strict separation of duties and the use of appropriate forms of company rules.Keywords : Internal Control of Water Sales and Accounts Receivable

    ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMBERIAN KREDIT USAHA RAKYAT PADA PT. BANK BRI (PERSERO) TBK UNIT SUNGAI KUNYIT

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pengendalian intern atas Pemberian Kredit Usaha Rakyat Mikro pada PT. Bank BRI (Persero) Tbk Unit Sungai Kunyit sudah berjalan dengan efektif atau belum. Dalam menganalisis sistem pemberian kredit pada Bank BRI Unit Sungai Kunyit penulis melakukan penelitian dengan mengamati dan membandingkan teori yang ada dengan sistem yang digunakan oleh perusahaan. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Bank BRI (Persero) Tbk Unit Sungai Kunyit. Metode penelitian ini adalah penelitian kulitatif dengan pendekatan deskriptif. Analisis yang digunakan adalah analisis struktur organisasi, analisis flowchart yamg memaparkan alur prosedur pemberian kredit usaha rakyat mikro, analisis internal control questionaire daftar pertanyaan yang disusun untuk mengetahui sistem pengendalian internal dalam pelaksanaan pemberian kredit, dan analisis tes ketaatan (compliance test) untuk membuktikan tingkat kepatuhan terhadap sistem dan prosedur yang terdiri dari: keberadaan, kelengkapan, akurasi, otorisasi, klasifikasi, dan pisah batas. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian intern pemberian kredit usaha rakyat mikro pada PT. Bank BRI (Persero) Tbk Unit Sungai Kunyit sudah efektif dan sesuai dengan prosedur yang ada. Hal ini dapat dilihat dari hasil analisis struktur organisasi, analisis flowchart, analisis internal control questionnaire yang mendapatkan penilaian efektifitas sebesar 85%, dan analisis compliance test 92,5%. Kredit – kredit bermasalah tersebut terjadi dikarenakan kurang cermatnya Mantri dalam menganalisa kredit yang akan diberikan, sehingga tidak sesuai dengan kemampuan nasabah untuk mengembalikan kredit tersebut. Selain itu tidak adanya keterbukaan dalam pemberian informasi oleh nasabah kepada Mantri, sehingga kredit yang diberikan tidak digunakan sesuai kebutuhan yang utama.     Kata kunci: sistem pengendalian intern, pemberian kredit usaha rakyat mikro

    ANALISIS PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, IFRS, DAN OPINI AUDIT TERHADAP KECENDERUNGAN TERJADINYA KETERLAMBATAN AUDIT

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Ukuran Perusahaan, IFRS, dan Opini Audit terhadap audit delay. Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2013 sampai dengan 2015. Variabel independen yang digunakan adalah ukuran perusahaan, IFRS, dan opini audit. Variabel dependen yang digunakan adalah audit delay. Jumlah perusahaan perbankan yang dijadikan sample penelitian ini sebanyak 20 perusahaan dengan periode pengamatan selama 3 tahun. Berdasarkan metode penelitian purposive sampling, total sampel penelitian adalah 60 laporan keuangan. Pengujian hipotesis menggunakan teknik regresi logistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap audit delay. Sedangkan IFRS, dan opini audit tidak berpengaruh signifikan terhadap audit delay. Kata kunci : Ukuran Perusahaan, IFRS, Opini Audit, Audit Delay. ABSTRACT This research purposes to check the effects of firm size, IFRS, and audit opinion on The Audit delay. This research used sample of banking industry which is listed in Indonesian Stock Exchange during 2013 to 2015 period. Independent variables were used firm size, IFRS, and audit opinion. Dependent variable was used audit delay. The number of banking industries that were became in his study were 20 companies with 3 year observation. Based on method purposive sampling, research sample total is 60 financial statements. Hypothesis in this research are tested by logistic regression. Result of this research indicates that firm size influences significantly on the audit delay. On the other hand, IFRS, and audit opinion don’t influence significantly audit delays. Keywords : firm Size, IFRS, audit opinion on The Audit delay. LATAR BELAKANG Perkembangan kegiatan di Bursa Efek Indonesia kini berkembang pesat. Perkembangan tersebut ditandai dengan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang go public, maka hal ini  akan berdampak pada peningkatan permintaan akan audit laporan keuangan yang efektif dan efisien. Laporan keuangan ini digunakan untuk kepentingan manajemen perusahaan dan juga digunakan oleh pemilik untuk menilai pengelolaan dana yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, selain itu juga para investor, kreditor, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain juga membutuhkan laporan keuangan ini sebagai dasar pengambilan suatu keputusan. Setiap perusahaan go public diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang telah diaudit oleh akuntan public yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Sebagimana yang dinyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK: 2009), tentang Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, bahwa laporan keuangan harus memenuhi empat karakteristik kualitas yang membuat informasi laporan keuangan bermanfaat bagi sejumlah besar penggunanya. Keempat karakteristik tersebut antara lain dapat dipahami, relevan, keandalan dan dapat dibandingkan. Karakteristik informasi yang relevan harus mempunyai nilai predikif dan tepat waktu. Setiap perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan pada periode tertentu selalu dinantikan oleh berbagai pihak. Laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan go public tersebut waktu pelaporannya tidak boleh melebihi dari ketentuan yang dikeluarkan oleh BAPEPAM yaitu 90 hari atau pada akhir bulan ketiga setelah penutupan tahun buku. Hal ini sesuai dengan keputusan BAPEPAM No. 36/PM/2003 tentang kewajiban laporan berkala yang menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim harus disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan keuangan. Sebelumnya ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan telah diatur dalam pasar modal yaitu dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang “Peraturan Pasar Modal” menyatakan bahwa semua perusahaan yang terdaftar dalam pasar modal wajib menyampaikan laporan keuangan secara berkala kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat. Apabila perusahaan-perusahaan tersebut terlambat menyampaikan laporan sesuai dengan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bapepam, maka dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Peraturan mengenai penyampaian laporan keuangan ini telah diperbaharui oleh Bapepam pada tahun 1996, lampiran keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-80/PM/1996 dan mulai berlaku pada tanggal 17 Januari 1996. Dalam pertauran baru ini disebutkan bahwa perusahaan wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit selambat-lambatnya 120 hari terhitung sejak tanggal tutup buku perusahaan. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI: 2001) khususnya tentang standar pekerjaan lapangan mengatur prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan seperti perlunya pencatatan atas aktivitas yang akan dilakukan, pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern dan pengumpulan bukti-bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pemenuhan standar audit yang tidak sempurna oleh auditor berdampak pada lamnya penyelesaian laporan audit, namun di sisi lain juga dapat meningkatkan kualitas hasil auditnya. Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan dapat berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Karena laporan keuangan yang sudah diaudit yang di dalamnya memuat informasi laba yang dihasilkan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Artinya informasi laba dari laporan keuangan yang dipublikasikan akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham. GAAS (Generally Accepted Auditing Standars) khususnya pada bagian standar umum ketiga menyatakan bahwa audit harus dilaksanakan dengan penuh kecermatan dan ketelitian. Seiring dengan hal tersebut, standar pekerjaan lapangan juga harus dilaksankan dengan perencanaan yang matang dan mengumpulkan alat-alat bukti yang memadai. Adakalanya, dalam melaksanakan standar-standar tersebut ditemukan adanya penyimpangan. Penyimpangan inilah yang kadang menyebabkan lamanya suatu proses pengauditan dilakukan karena adanya unsur verifikasi yang digunakan untuk mengusut indikasi penyimpangan yang terjadi. Proses ini memungkinkan publikasi laporan keuangan yang diharapkan secepat mungkin menjadi terlambat. Oleh karena pentingnya publikasi laporan keuangan audit sebagai informasi yang sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis, rentang waktu penyelesaian audit laporan keuangan yang turut mempengaruhi manfaat informasi laporan keuangan audit yang dipublikasikan. Karena masih belum ada konsistensi dari penelitian terdahulu terhadap beberapa variabel yang mempengaruhi keterlambatan audit, maka “Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, IFRS, dan Opini Audit Terhadap Kecenderungan Terjadinya Keterlambatan Audit”, menjadi judul dalam skripsi ini. LANDASAN TEORI 1. Keterlambatan Audit (Audit Delay) Keterlambatan Audit (Audit Delay) merupakan rentang waktu penyelesaian pelaksaan audit laporan keuangan tahunan berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan audit independen atas audit laporan keuangan tahunan perusahaan. Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan bisa perbengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Manfaat dari laporan keuangan suatu perusahaan tergantung pada keakuratannya dan ketepatan waktunya. Informasi yang relevan akan bermanfaat bagi para pemakai apabila tersedia tepat waktu sebelum pemakai kehilangan kesempatan atau kemampuan untuk mempengaruhi keputusan yang diambil. Keterlambatan dalam informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Informasi laba yang dihasilkan perusahaan dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Proses dalam mencapai ketepatan waktu terutama dalam penyajian laporan auditor independen menjadi semakin tidak mudah mengingat semakin meningkatnya perkembangan perusahaan go public yang ada di Indonesia. Hambatan ini juga terlihat dalam Standar Pemeriksaan Akuntan Publik pada standar ketiga yang menyatkan bahwa audit harus dilaksankan dengan penuh kecermatan dan ketelitian serta pengumpulan alat bukti yang cukup memadai. Perusahaan yang sudah go public harus menyerahkan laporan keuangan tahunan disertai dengan opini auditor kepada Bapepam. Peraturan Bapepam tersebut diatur dalam undang-undang No.8 tahun 1995 tentang publikasi laporan keuangan tahunan auditan yang bersifat wajib dengan batas waktu 120 hari dari akhir tahun fiskal sampai tanggal diserahkannya laporan keuangan yang telah diaudit ke BAPEPAM. Namun, sejak 30 September 2003, peraturan ini diganti dengan peraturan baru dengan Nomor X.K.2 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan ke BAPEPAM menjadi 90 hari.   2. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan diartikan sebagai skala menentukan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditentukan berdasarkan ukuran seperti, jumlah kekayaan dan total penjualan perusahaan dalam satu periode penjualan, jumlah kepemilikan aset suatu perusahaan, dan lain-lain. Pada penelitian ini akan menggunakan total aset yang dimiliki oleh perusahaan sebagai suatu skala menentukan ukuran perusahaan. Keputusan dari ketua Bapepam No. KEP.11/PM/1997 menyatakan bahwa perusahaan kecil dan menengah berdasarkan asset atau kekayaan adalah badan hukum yang memiliki total asset tidak lebih dari seratus milyar, sedangkan perusahaan besar adalah badan hukum yang memiliki total asset diatas seratus milyar. Ukuran perusahaan terbagi menjadi tiga kategori, yaitu sebagai berikut: Perusahaan besar atau large firm. Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih besar dari Rp 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan lebih dari Rp 50 Milyar per tahun. Perusahaan menengah atau medium firm. Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih Rp 1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki hasil penjualan lebih besar Rp 1 Milyar dan kurang dari Rp 50 Milyar per tahun. Perusahaan kecil atau small firm. Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan memiliki hasil penjualan minimal Rp 1 Milyar per tahun.   3. Penerapan IFRS Globalisasi membawa pengaruh mendasar pada pergerakan informasi dan perpindahan modal. Dengan suatu gelombang globalisasi yang menggelora yang mengejutkan dunia, maka bisnis lintas belahan dunia terpengaruh oleh bagaimana kerasnya perusahaan berusaha. Secara pribahasa “akuntansi adalah bahasa bisnis”, selanjutnya entitas bisnis seluruh tidak akan dapat berbicara di dalam bahasa yang berbeda antara yang satu dengan lainnya pada saat menukar atau membagi hasil keuangan dari aktivitas bisnis internasionalnya dan juga pelaporan hasil bisnis. Secara historis, Negara di dunia telah memiliki standar akuntansi nasionalnya sendiri. Namun, dengan suatu dorongan untuk menjadi bagian dari pergerakan globalisasi, di mana bisnis lintas batas Negara menyadari kelihaian strategi bisnis untuk merangkul dunia sebagai tempat kerja dan pasarnya, dengan memiliki aturan (standar) akuntansi yang berbeda untuk tujuan pelaporan keuangan, hal ini tdak akan membantu mereka sama sekali. (Ankarath, dkk,2012) IFRS (International Financial Reporting Standards) menjawab tantangan bagaimana pelaporan keuangan harus dilakukan. Arus besar dunia sekarang ini sedang menuju kedalam satu standar pelaporan (Prihadi:2012). Standar pelaporan keuangan internasional (IFRS) merupakan seperangkat standar yang disebarluaskan oleh dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB), yaitu suatu badan penentu standar internasional di London. (Ankarath, dkk,2012) IFRS digunakan lebih dari 100 negara. Sebuah angka signifikan dari majalah Fortune bahwa 500 perusahaan telah menggunakan IFRS dan jumlah ini diharapkan meningkat dengan konversi lebih lanjut kepada IFRS oleh pemain global (seperti brazil, kanada dan india) dan konvergensi subtansial dari Prinsip Akuntansi yang Diterima Umum local di Cina dan Jepang kepada IFRS. Di Amerika Serikat, sejak 2002 , usaha yang sedang berlangsung untuk melakukan konvergensi IFRS dan US GAAP. (Ankarath, 2012).   4. Opini Audit Auditor sebagai pihak yang independen di dalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan, akan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diauditnya. Ada lima kemungkinan pernyataan pendapat auditor independen (Mulyadi, 2002) yaitu : a. Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion) Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia jika memenuhi kondisi berikut ini : Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia digunakan untuk menyusun laporan keuangan.Perubahan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. b. Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan (Unqualified Opinion Report With Explanatory Language) Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien, auditor dapat menambahkan laporan hasil auditnya dengan bahasa penjelas. Berbagai penyebab paling penting adanya tambahan bahasa penjelasan: Adanya ketidakpastian yang material.Adanya keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan.Auditor setuju dengan penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. c. Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion) Pendapat wajar dengan pengecualian akan diberikan oleh auditor jika dijumpai hal-hal sebagai berikut : Lingkup audit dibatasi oleh klien.Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien maupun auditor.Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten. d. Pendapat tidak wajar (Disclaimer Opinion) Auditor akan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi untuk pengambilan keputusan. e. Pernyataan tidak memberikan pendapat (Adverse Opinion) Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit, maka laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat adalah: 1.    Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit. 2. Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya. Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan pendapat karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit. Hipotesis Menurut Sugiyono (2009) hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru berdasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empiris. Berdasarkan uraian dan hasil temuan penelitian terdahulu, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H1 :      Ukuran Perusahaan mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2015. H2 :      IFRS mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2015. H3 :      Opini Audit mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun  2013-2015. H4 :      Ukuran Perusahaan, IFRS, dan Opini Auditor secara bersama-sama mempunyai pengaruh terhadap Audit Delay pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013-2015. METODE PENELITIAN 1. Bentuk Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat pengaruh kuantitatif yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan serta pengaruh antara dua atau lebih gejala atau variabel. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variable independen, yaitu ukuran perusahaan, IFRS, dan opini audit terhadap variabel dependen, yaitu audit delay. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI dengan periode 2013-2015. 2. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, penulis melakukan pengumpulan data penelitian yaitu dengan metode dokumenter yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasi dan menganalisis data sekunder berupa laporan auditor independen, laporan keuangan tahunan. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan yaitu dengan membaca, mempelajari literature dan  informasi lainnya yang terkait dengan lingkup pembahasan penelitian ini. Metode sampel yang diterapkan adalah metode purposive sampling yaitu pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian. 3. Variabel Independen (X): a. Ukuran Perusahaan Ukuran perusahaan dapat dinilai dari beberapa segi. Besar kecilnya ukuran perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aset, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar nilai item-item tersebut maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu. Pada penelitian ini, ukuran perusahaan diproksikan dengan menggunakan Ln total asset. Penggunaan natural log (Ln) dalam penelitian ini dimaksudkan untuk mengurangi fluktuasi data yang berlebih. Jika nilai total asset langsung dipakai begitu saja maka nilai variabel akan sangat besar, miliar bahkan triliun. Dengan menggunakan natural log, nilai miliar bahkan triliun tersebut disederhanakan, tanpa mengubah proporsi dari nilai asal yang sebenarnya. b. Penerapan IFRS Penerapan IFRS dalam penelitian ini ditentukan dengan ada tidaknya penyesuaian yang disebabkan oleh adanya revisi terhadap PSAK yang sudah diterapkan dan berpengaruh pada penerapan IFRS. Pengukurannya menggunakan variabel dummy. Di mana kategori 1 untuk perusahaan yang memiliki penerapan IFRS dan kategori 0 untuk perusahaan yang tidak memiliki penerapan IFRS. c. Opini Audit Opini audit yaitu opini yang terdapat dalam laporan audit yang merupakan pernyataan pendapat auditor terhadap kewajaran laporan keuangan berdasarkan atas audit yang dilaksanakan dengan menggunakan standar auditing dan atas temuan-temuannya Petronila (2007) dalam Dewi (2012). Ada empat jenis opini yang diberikan oleh auditor kepada perusahaan. Dalam penelitian ini opini auditor dibagi menjadi dua, yaitu opini selain wajar tanpa pengecualian (selain unqualified opinion) dan opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion). Variabel ini diukur dengan dummy yaitu untuk opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) diberi kode dummy 1 dan untuk opini selain wajar tanpa pengecualian (selain unqualified opinion) diberi kode 0. 4. Variabel Dependen (Y): Audit Delay Variabel dependen yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam penelitian ini akan menggunakan variabel dependen audit delay. Audit delay merupakan rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuanagn tahunan berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor independen atas laporan audit laporan keuangan tahunan perusahaan. Audit delay dihitung dari tanggal penutupan buku sampai tanggal auditor mengeluarkan laporan audit atas laporan keuangan. Hasil dan Pembahasan 1. Hasil Uji Simultan (Uji-F) Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Signifikansi model regresi pada penelitian ini diuji dengan melihat nilai signifikansi (sig.) yang ada di tabel 6. Selengkapnya mengenai hasil uji F penelitian dapat diihat sebagai berikut: Tabel 4.6 Hasil Uji Statistik F ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 7678,004 3 2559,335 8,547 ,000b Residual 16769,396 56 299,453     Total 24447,400 59       a. Dependent Variable: AuditDelay b. Predictors: (Constant), OA, IFRS, SIZE Sumber : Data olahan   Pada tabel 6 dapat diketahui bahwa variabel independen yaitu Ukuran Perusahaan (SIZE), IFRS, dan Opini Audit (OA) secara simultan atau bersama-sama mampu menjelaskan perubahan pada variabel dependen yaitu Audit Delay. Hal ini dapat dilihat dari nilai F hitung (8,547) dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05 (α = 0,05). Maka dapat disimpulkan bahwa adanya pengaruh simultan yang signifikan antara SIZE, IF

    54

    full texts

    1,299

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇