Jurnal Agripet
Not a member yet
    462 research outputs found

    Analisis Kualitas Semen Ayam Lokal Indonesia Berdasarkan Galur dan Umur Dewasa Kelamin yang Berbeda

    Full text link
    ABSTRACT. Rumpun ayam lokal Indonesia sangat bervariasi dan berpotensi menghasilkan ternak dengan kualitas unggul. Evaluasi semen saat umur dewasa kelamin merupakan kriteria penting dalam menseleksi ayam pejantan untuk menghasilkan genetik yang unggul. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan galur dan umur terhadap karakteristik semen ayam lokal yang dipelihara di Kandang Riset Ayam Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor. Evaluasi semen dilakukan pada 36 ekor ayam, yang dibagi atas tiga kelompok (ayam Gaok, Sensi-1 Agrinak Abu, dan Sensi-1 Agrinak Pucak), masing-masing berjumlah 12 ekor. Koleksi semen dilakukan dengan teknik massage abdominal pada umur ke-24, 28, 32, dan 36 minggu dari ketiga galur. Parameter yang diamati dalam penelitian ini meliputi volume, pH, gerakan massa, motilitas, dan viabilitas spermatozoa. Data dianalisis menggunakan analisis general linear model univariat. Perbedaan umur menunjukkan pengaruh signifikan terhadap volume, motilitas, dan viabilitas spermatozoa ayam (p0,05). Volume, motilitas, dan viabilitas tertinggi pada umur 32 minggu sebesar 0,44 ml; 79,11%; dan 84,69%. Nilai pH signifikan terhadap tipe galur (p0,05) dengan pH tertinggi 7,91 pada ayam Gaok. Interaksi galur dengan umur tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas spermatozoa (p0,05). Perbedaan umur memengaruhi kualitas spermatozoa ayam, tetapi variasi galur tidak berpengaruh signifikan.(Analysis of male local chicken semen in Indonesia based on breed types and sexual mature age levels)ABSTRAK. Indonesian local chickens are very varied and have the potential to produce livestock of superior quality. Evaluation of semen at sexual maturity is an important criterion in selecting male hens to produce superior genetics. This study aims to determine the effect of differences in strain and age on the semen characteristics of local chickens reared in the Chicken Research Cage at the Livestock Research Institute, Ciawi-Bogor. Semen evaluation was carried out on 36 chickens, which were divided into three groups (Gaok chicken, Sensi-1 Agrinak Abu, and Sensi-1 Agrinak Pucak), and consisted of 12 chickens of each breed. Semen collection was performed using the abdominal massage technique at the ages of 24, 28, 32, and 36 weeks for the three strains. The parameters observed in this study include volume, pH, mass movement, motility, and viability of spermatozoa. The data were analyzed using general linear univariate model analysis. Differences in age showed a significant effect on the volume, motility, and viability of chicken spermatozoa (p0.05). The highest volumes, motility, and viability at 32 weeks of age were 0.44 ml, 79.11%, and 84.69%. The pH value was significant for the type of line (p0.05) on the highest pH of 7.91 in Gaok chickens. Line interaction with age did not significantly affect the quality of spermatozoa (p0.05). The difference in age affects the quality of chicken spermatozoa, but the variation in the strain does not have a significant effect

    Rekayasa Model Pengembangan Klaster Agribisnis Sapi Aceh di Kabupaten Aceh Besar

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan memodelkan interaksi antar pelaku yang terlibat serta menentukan komponen utama pembentuk sistem dalam pengembangan klaster agribisnis sapi Aceh. Metode yang diaplikasikan untuk mencapai tujuan tersebut adalah metodologi dinamika sistem. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Aceh Besar yang merupakan sentra produksi sapi di Provinsi Aceh. Identifikasi kebutuhan untuk model klaster dilakukan melalui studi pustaka dan wawancara dengan pakar dari pemangku kepentingan, yaitu praktisi dan pengambil kebijakan yang terlibat dalam prosedur penyediaan input, produksi, serta pemasaran output sapi Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi antar pelaku yang terlibat (multi-stakeholder) belum berjalan dengan baik, sehingga pelayanan yang diberikan oleh pihak terkait belum optimal. Selanjutnya, terdapat tujuh komponen utama dalam model pengembangan klaster agribisnis sapi Aceh, yaitu: pasar, keuangan, konsentrasi geografis, pembelajaran inovasi dan teknologi, peternak anggota klaster baru, input produksi, serta kelembagaan klaster. Interaksi antara variabel-variabel yang terkait unsur pasar serta pembelajaran inovasi dan teknologi mengarah pada keseimbangan sehingga mengurangi fluktuasi harga. Di lain pihak, interaksi antara variabel yang terkait dengan unsur keuangan, konsentrasi geografis, peternak anggota klaster baru, dan input pakan, menimbulkan pertumbuhan dalam pengembangan sapi Aceh. Sementara itu, interaksi antara variabel yang terkait dengan kelembagaan klaster mengarah kepada keseimbangan untuk mengurangi penjualan betina produktif. Diantara semua variabel yang terdapat dalam sistem, layanan stakeholder dan kapasitas produksi sapi Aceh peternak anggota klaster merupakan leverage points dalam sistem manajemen klaster.(Engineering of Aceh Cattle Agribusiness Cluster Development Model in Aceh Besar Regency)ABSTRAK. This study aimed to understand and model the interactions between the actors involved and determine the main components forming the system in the development of Aceh cattle agribusiness clusters. This study uses system dynamics methodology. This research was conducted in Aceh Besar Regency which is the center of cattle production in Aceh Province. Identification of the need for cluster model done through literature and interviews with experts from stakeholders, namely practitioners and policy makers involved in the procedure of input supply, production, and marketing of Aceh cattle output. The results of the study indicate that the coordination between the actors involved (multi-stakeholder) has not been going well, so the services provided by the related parties have not been optimal. Furthermore, there are seven main components to create the Aceh cattle agribusiness cluster development model in Aceh Besar Regency, namely: market, finance, geographic concentration, learning innovation and technology, new cluster member breeders, production inputs, and cluster institutions. The interaction between variables related to market elements and learning innovation and technology leads to a balance so as to reduce price fluctuations. On the other hand, the interaction between variables related to financial elements, geographic concentration, breeders of new cluster members, and feed inputs, led to growth in Aceh cattle development. Meanwhile, the interaction between variables related to cluster institutions leads to a balance to reduce the sale of productive females. Among all the variables contained in the system, stakeholder services and the production capacity of Aceh cattle breeders who are members of the cluster are leverage points in the cluster management system

    Pengaruh Penambahan Tepung Ceker Ayam pada Ransum terhadap Produktivitas Kambing Peranakan Etawa

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung ceker ayam dengan persentase berbeda pada ransum terhadap produktivitas kambing Peranakan Etawa. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 3 kelompok kambing yang dikelompokkan berdasarkan berat badan. Perlakuan terdiri dari R0 (kontrol tanpa penambahan tepung ceker ayam), R1(penambahan tepung ceker ayam sebanyak 2,5%), R2 (penambahan tepung ceker ayam sebanyak 5%), R3 (penambahan tepung ceker ayam sebanyak 7,5%) dan R4 (penambahan tepung ceker ayam sebanyak 10%). Parameter pada penelitian ini meliputi produksi susu, pertambahan bobot badan, volume ambing, dan konsumsi pakan. Tahapan penelitian dimulai dari tahap persiapan, tahap pemeliharaan, dan tahap pengambilan data. Data yang telah diperoleh di analisis dengan metode analisis sidik ragam (Anova). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penambahan tepung ceker ayam pada perlakuan R2(5%) meningkatkan konsumsi pakan dan berpengaruh terhadap produksi susu dan juga kelompok dari pertambahan berat badan, tetapi tidak berpengaruh terhadap volume ambing.(Effect of addition chicken claw flour with different percentage on rations to productivity of PE goats)ABSTRAK. This research was conducted to examine the effect of adding chicken claw flour with different proportions on the productivity of Etawa crossbreed goats. The research used in this study was a randomized block design consisting of 5 treatments and 3 groups of design based on body weight. The treatments consisted of R0 (control without adding chicken claw flour), R1 (addition of chicken claw flour as much as 2.5%), R2 (addition of chicken claw flour as much as 5%), R3 (addition of chicken claw flour as much as 7.5 %) and R4 (addition of chicken claw flour by 10%). Parameters in this study include milk production, body weight gain, udder volume, and feed consumption. The research stages start from the preparation stage, the maintenance stage, and the data collection stage. The data that has been obtained were analyzed using the method of analysis of variance (Anova). The results showed that the addition of chicken claw flour in treatment R2 (5%) increased consumption and affected milk production and also the group of weight gain, but had no effect on udder volume

    Evaluasi Nilai Pemuliaan Pejantan Sapi Madura berdasarkan Bobot Badan dan Ukuran Tubuh Keturunannya pada Umur Satu Tahun

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pejatan sapi Madura dengan menggunakan metode pendugaan nilai pemuliaan berdasarkan bobot badan dan ukuran tubuh. Pengambilan sampel dilakukan secara Purposive sampling dengan menggunakan data recording keturunan 7 pejantan sapi (684, Adikara/160726, 685, Kelesap/160725, Muntahai/16011001, Banteng/934, 386) untuk bobot badan (BB), tinggi badan (TB), panjang badan (PB) dan lingkar dada (LD) kelahiran tahun 2014-2020. Analisis data dengan koreksi umur 1 tahun ke 365 hari, nilai heritabilitas, nilai pemuliaan, dan korelasi rangking nilai pemuliaan. Hasil analisis nilai heritabilitas bobot badan dan ukuran tubuh sapi Madura umur 1 tahun tergolong kategori sedang hingga tinggi yaitu 0,57 (BB), 0,48 (TB), 0,83 (PB), dan 0,61 (LD). Sebanyak 42,85% bobot badan dan panjang badan pejantan sapi memiliki nilai pemuliaan positif, sedangkan pada tinggi badan dan lingkar dada memiliki nilai pemuliaan positif sebesar 28,57%. Korelasi rangking nilai pemuliaan bobot badan dengan ukuran tubuh sapi Madura umur 1 tahun tergolong kategori tinggi yaitu 0,86 (BB-TB), 0,68 (BB-PB) dan 0,86 (BB- LD). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pejantan sapi di UPT Pembibitan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Timur yang memiliki nilai pemuliaan positif pada bobot badan dan ukuran tubuh adalah pejantan Ke lesap/160725 dan Adikara/160726 sehingga pejantan tersebut dapat digunakan sebagai tetua dalam program seleksi untuk meningkatkan mutu genetik dan menghasilkan sapi unggul.(Evaluation of sire breeding values on Madura cattle based on body weight and body measurement of their offspring at one-year-age)ABSTRAK. This study aimed to evaluate Madura cattle by using the method of estimating breeding value based on body weight and body measurement. The sampling was carried out by Purposive sampling using data recording offspring the 7 cattle (684, Adikara/160726, 685, Kelesap/160725, Muntahai/16011001, Banteng/934, 386) for Body Weight (BW), Withers Height (WH), Body Length (BL), and Chest Girth (CG) of born in 2014-2020. The data were analyzed by correction of 1 year to 365 days of age, heritability value, breeding value, and correlation ranking of breeding values. The results of the analysis of heritability values of body weight and body measurement of Madura cattle at 1 year of age rating on medium to high category were 0,57 (BW), 0,48 (WH), 0,83 (BL), and 0,61 (CG). A total of 42,85% body weight and body length of cattle at 1 year age have a positive value, while the body height and chest girth has a positive breeding value of 28,57%. The correlation between body weight and body measurement at 1-year-age Madura cattle classified as high category was 0,86 (BW-WH), 0,68 (BW-BL) and 0,86 (BW-CG). The conclusion this study the cattle at the UPT Breeding and Animal Health of East Java Province which has positive values on body weight and body measurement are the Ke lesap/160725 and Adikara/160726 males, while sires can be used as elders in the selection program to improve genetic quality and to produce superior cattle

    Kajian Fenotip Kambing Senduro sebagai Kekayaan Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Indonesia

    Full text link
    ABSTRACT. Galur kambing Senduro ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1055/Kpts/SR.120/10/2014. Kambing Senduro sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia memiliki fenotip yang dapat diukur berdasarkan sifat kuantitatifnya. Penelitian pertama bertujuan untuk mengkaji fenotip kambing Senduro betina berdasarkan pada tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, bobot badan, dan panjang telinga. Penelitian kedua bertujuan menghubungkan sifat kuantitatif dengan umur ternak. Penelitian pertama menggunakan metode observasi, sedangkan penelitian kedua menggunakan metode korelasi. Data penelitian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan analisis korelasi dengan menggunakan Microsoft Excel 2010 dan SPSS 26.0. Pengamatan dilakukan pada 102 ekor kambing Senduro betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing Senduro betina memiliki tinggi pundak 70-80 cm (55,88%), panjang badan 70-80 cm (53,92%), lingkar dada 80-90 cm (59,80%), bobot badan 50-60 kg (32,35%), dan panjang telinga 30-40 cm (69,61%). Panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan memiliki korelasi positif yang sangat kuat dengan umur ternak. Penelitian ini merekomendasikan bahwa perlu adanya upaya pembaharuan data dan informasi terkait fenotip kambing Senduro yang berkaitan dengan sifat kuantitatif ternak yang mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1055/Kpts/SR.120/10/2014.(Phenotype study of Senduro goats as wealth of Indonesian local livestock genetic resources)ABSTRAK. The Senduro goat breed was determined through the Decree of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia Number 1055/Kpts/SR.120/10/2014. The Senduro goat as a wealth of genetic resources for local Indonesian livestock has a phenotype that can be measured based on its quantitative characteristics. The first study aimed to examine the phenotype of female Senduro goats based on shoulder height, body length, chest circumference, body weight, and ear length. The second study aimed to evaluate quantitative characteristics with the age of Senduro goat. The first research uses the observation method, while the second research uses the correlation method. Observations were made on 102 female Senduro goats. The results showed that female Senduro goats had a shoulder height of 70-80 cm (55.88%), body length 70-80 cm (53.92%), chest circumference 80-90 cm (59.80%), body weight 50 -60 kg (32.35%), and ear length 30-40 cm (69.61%). Body length, chest circumference, and body weight have a very strong positive correlation with the age of Senduro goat. This study recommends that efforts to update data and information related to the phenotype of the Senduro goat related to the quantitative characteristics of Senduro goat are needed which refers to the Decree of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia Number 1055/Kpts/SR.120/10/2014

    Karakteristik Mikroorganisme, pH dan Unsur Hara Urin Sapi Perah di Daerah Bogor, Jawa Barat

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik mikroorganisme, pH, dan unsur hara pada urin sapi perah sebagai bahan dasar pembuatan biourin di daerah Bogor, Jawa Barat. Sampel penelitian ini adalah urin sapi perah hasil pengambilan urin pada waktu pagi dan sore. Umur sapi perah yang menjadi sampel penelitian adalah 3-4 tahun. Variabel dalam penelitian ini adalah mikroba, bakteri asam laktat (BAL), khamir, bakteri nitrifikasi, pH, NH4, kadar carbon (C), kadar phosfor (P), kadar nitrogen (N), kadar kalium (K), kadar besi (Fe) dam kadar tembaga (Cu). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengambilan urin sapi pada pagi dan sore tidak pengaruh nyata terhadap total mikroba, total bakteri asam laktat, total kapang khamir, total bakteri nitrifikasi, pH, NH4, kadar phosfor (P), kadar nitrogen (N), kadar kalium (K), kadar besi (Fe) dam kadar tembaga (Cu). Kesimpulan penelitian ini adalah waktu pengambilan urin sapi pada pagi dan sore hari memberikan pengaruh nyata terhadap kadar C namun tidak berpengaruh nyata terhadap kadar K, kadar N, kadar Fe dan kadar Cu. Urin dengan waktu pengambilan pagi hari mengandung kadar C yang lebih tinggi dibandingkan dengan urin pengambilan sore. Hal ini menunjukkan bahwa urin sapi pagi dan sore atau gabungan urin pagi dan sore dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biourin sebagai pupuk organic cair.(Characteristics of microorganisme, macro and micro nutrients of dairy cattle urine at Bogor, West Java)ABSTRAK. This study aimed to analyze the characteristics of microorganisme pH and nutrients in the urine of dairy cows as the basic ingredients for making biourin in the Bogor area, West Java. The sample of this research is dairy cow urine with urine collection in the morning and evening. The age of the dairy cows in the research sample was 3-4 years. The parameters in this study were microbes, lactic acid bacteria (LAB), yeasts, nitrifying bacteria, pH, NH4, levels of carbon (C), levels of phosphorus (P), levels of nitrogen (N), levels of potassium (K), levels of iron ( Fe) and copper content (Cu). The results showed that the collection of cow urine in the morning and evening did not have a significant effect on total microbes, total lactic acid bacteria, total yeast molds, total nitrifying bacteria, pH, NH4, , phosphorus (P), levels of nitrogen (N), potassium content (K), iron content (Fe) and copper content (Cu). The conclusion of this study is that the time of taking cow urine in the in the morning and evening has a significant effect on K levels, N levels, Fe levels and Cu levels, urine taken in the morning contains higher levels of C than Urine taken in the afternoon. This shows that morning and evening cow urine or a combination of morning and evening urine can be used as the basic material for making biourine as liquid organic fertilizer

    Tingkah Laku Makan dan Kecernaan Nutrien Berbagai Bangsa Sapi Lokal yang Diberi Pakan Jerami Padi dan Konsentrat

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh bangsa sapi yang berbeda terhadap tingkah laku makan dan kecernaan nutrien pada pemberian pakan jerami padi dan konsentrat. Penelitian dilaksanakan selama empat (4) bulan di UD. Sapi Amanah, Desa Karanggintung, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Materi yang digunakan adalah 40 ekor sapi lokal jantan dari bangsa sapi Madura (M), Sumba Ongole (SO), Bali (B), dan Bali Timor (BT) masing-masing 10 ekor. Rerata bobot hidup awal masing-masing bangsa sapi berturut-turut adalah 236,904,527 kg, 283,508,873 kg, 224,404,814 kg, dan 282,107,802 kg untuk M, SO, B, dan BT. Sapi tersebut diberi pakan konsentrat 2,5% (BK=86,53%) dari bobot hidup dan jerami padi disediakan secara ad libitum. Penelitian dirancang menurut rancangan acak lengkap dengan empat (4) bangsa sapi sebagai perlakuan. Peubah yang diamati adalah tingkah laku makan dan kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangsa sapi berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kecepatan makan sore hari; lama waktu makan siang, malam dan sehari penuh, KcBK dan KcBO. Akan tetapi, tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kecepatan makan pagi hari; frekuensi makan dan ruminasi siang, malam dan sehari penuh; lama waktu ruminasi siang, malam dan sehari penuh. Kesimpulannya adalah terdapat persamaan dan perbedaan tingkah laku makan, kecernaan bahan kering dan bahan organik pada bangsa sapi lokal dan kecernaan BK dan BO pada sapi SO lebih rendah dibandingkan dengan sapi lainnya.(Feeding behavior and nutrient digestibility of various local cattle breeds fed with rice straw and concentrates)ABSTRAK. This study aimed to determine the effect of different breeds of local cattle on feeding behavior and nutrient digestibility of rice straw and concentrate diet. The research was conducted for four (4) months at UD. Sapi Amanah, Karanggintung Village, Sumbang District, Banyumas Regency. The materials used were 40 local bulls from Madura (M), Sumba Ongole (SO), Bali (B), and Bali Timor (BT) and each of the breeds was ten (10) cattle. The initial body weights of each breed were 236,904,527 kg, 283,508,873 kg, 224,404,814 kg and 282,107,802 kg for M, SO, B and BT, respectively. They were fed with 2.5% concentrate (dry matter/DM=86.53%) from body weight and rice straw which was provided ad libitum. The study was designed according to Randomized Complete Design with four (4) local cattle breeds as treatments. Variables measured were feeding behavior and digestibility of DM and organic matter (OM). The results showed that cattle breed had a significant effect (P0.05) on eating rate in the afternoon, duration of daytime, nighttime and one-day meals, DM and OM digestibility. However, there was no significant effect (P0.05) on eating rate in the morning; frequency of daytime, nighttime, and one-day meals and rumination; spent time of daytime, nighttime, and one-day rumination. In conclusion, there are similarities and differences in feeding behavior, DM and OM digestibility among local cattle breeds, and digestibility of dry matter and organic matter of SO was lower than other cattles

    Aktivitas Antibakteri Bakteri Asam Laktat (BAL) yang Diisolasi dari Saluran Pencernaan Itik Lokal Asal Aceh terhadap Salmonella pullorum dan Escherichia coli

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri dari bakteri asam laktat (BAL) yang sudah diisolasi dari saluran pencernaan itik lokal asal Aceh. Berdasarkan hasil identifikasi gen 16S rRNA menggunakan metode PCR dan Sekuensing diperoleh lima BAL yaitu Lactobacillus plantarum strain C1; Pediococcus acidilactici strain V2; Lactobacillus fermentum Strain D3; Lactobacillus fermentum Strain I1; Lactobacillus fermentum Strain S4. Penelitian ini mengukur kemampuan aktivitas lima BAL terhadap Salmonella pullorum dan Escherichia coli yang dilakukan dengan difusi (teknik sumuran). Uji ketahanan terhadap kondisi asam (pH 2) dan ketahanan terhadap garam empedu (bile salt) dilakukan dengan metode Total Plate Count (TPC) menggunakan medium agar MRS metode pour plate. Hasil penelitian diperoleh bahwa Pediococcus acidilactici strain V2 memiliki aktivitas antimikroba terbaik terhadap bakteri Salmonella pullorum dan Escherichia coli. Pediococcus acidilactici strain V2 juga memberikan hasil terbaik pada ketahanan terhadap pH 2 dan garam empedu 1%.(Antibacterial activity of LAB isolated from the digestive tract of a native Aceh duck of Salmonella Pullorum and Escherichia coli)ABSTRAK. This study aimed to examine the antibacterial activity of lactic acid bacteria isolated from digestive tract of Local ducks from Aceh. Identification of the 16S rRNA gene using PCR and sequencing methods were obtained five LAB is Lactobacillus plantarum strain C1; Pediococcus acidilactici strain V2; Lactobacillus fermentum Strain D3; Lactobacillus fermentum Strain I1; and Lactobacillus fermentum Strain S4. This study measure the ability five BAL activity test against Salmonella pullorum and Escherichia coli by diffusion (well technique). Test of resistance to acid conditions (pH2) and to bile salt were using the Total Plate Count (TPC) method with MRS Agar medium by pour plate. The results showed that Pediococcus acidilactici strain V2 had the best antimicrobial activity against Salmonella pullorum and Escherichia coli. Pediococcus acidilactici strain V2 also gave the best results on resistance to pH 2 and 1% bile salt

    Evaluasi Good Dairy Farming Practice (GDFP) di Peternakan Sapi Perah Rakyat Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera Cijeruk Bogor

    Full text link
    ABSTRACT. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan kualitas susu dengan meningkatkan kapasitas SDM peternak dengan melakukan pendampingan untuk penerapan Good Dairy Farming Practices (GDFP). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan GDFP peternakan rakyat dataran tinggi pada Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera Cijeruk Bogor. Metode yang digunakan yaitu metode survey dengan wawancara langsung kepada seluruh peternak sapi perah di Peternakan Mandiri Sejahtera sebanyak 22 orang, dengan menggunakan kuisioner yang mengacu kepada Ditjennak (1983) dan FAO (2011) yang dimodifikasi Andriyadi (2012). Berdasarkan karakteristik peternak nilai GDFP paling tinggi terdapat pada peternak dengan umur produktif 21-35 tahun (3.13), tingkat pendidikan D4/S1 (3.2) dan dengan pengalaman beternak 9-15 tahun (3.16). Berdasarkan faktor GDFP, nilai aspek GDFP tertinggi terdapat pada aspek manajemen pakan dan air minum (3.3) dan terendah pada aspek kandang dan peralatan (2.1). Penerapan GDFP pada Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera tergolong cukup baik dengan nilai rataan 2.9. Peternak perlu melakukan perbaikan tata laksana pemeliharaan terutama pada aspek cara seleksi, pencatatan usaha, tata letak kandang dan penanganan limbah.(Evaluation of good dairy farming practice (GDFP) in smallholder dairy farms kelompok ternak mandiri sejahtera Cijeruk Bogor)ABSTRAK. Efforts that can be made to increase milk production and quality is by increasing the capacity of the breeders' human resources through providing assistance for the implementation of Good Dairy Farming Practices (GDFP). This study aim is to evaluate the implementation of GDFP on upland people's farms in the Kelompok Ternak Mandiri Sejahtera Cijeruk Bogor. The method used is a survey method with direct interviews to 22 dairy farmers in Mandiri Sejahtera Farms, using a questionnaire that refers to the Ditjennak (1983) and FAO (2011) which is modified Andriyadi (2012). Based on the characteristics of the farmer, the highest GDFP value is found in farmers with productive age of 21-35 years (3.3), education level of Diploma/Bachelor (3.2) and with 9-15 years of livestock experience (3.16). Based on the GDFP factor, the highest GDFP value was found in the feed and drinking water management aspect (3.3) and the lowest was in the cage and equipment (2.1). The implementing of GDFP in the Independent Prosperous Livestock Group is classified good with an average value of 3.0. Farmers need to improve maintenance management, especially in terms of selection, business records, cage layout and waste management

    Pengaruh Substitusi Hijauan dan Konsentrat dengan Silase Daun dan Hay Ubi Kayu terhadap Produksi dan Kualitas Susu Sapi Perah Friesian Holstein

    Full text link
    ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi hijauan dengan silase daun ubi kayu (SDUK) dan konsentrat dengan hay ubi kayu difermentasi ragi (Habira) terhadap produksi susu, kualitas susu, dan efisiensi ekonomi sapi perah. Materi yang digunakan adalah lima (5) ekor sapi Friesian Holstein (FH) periode laktasi kedua (6611 hari) dengan bobot badan 387,66,8 kg diberi perlakuan pakan dalam Rancangan Bujur Sangkar Latin 5 x 5. Perlakuannya adalah T0 (hijauan 60% + 20% konsentrat + 20% ampas tahu), T1 (hijauan 40% + 20% SDUK + 20% konsentrat + 20% ampas tahu), T2 (hijauan 40% + 20% SDUK + 15%. konsentrat + 20% ampas tahu + 5% Habira), T3 (40% hijauan + 20% SDUK + 15% konsentrat + 20% ampas tahu + 10% Habira) dan T4 (60% hijauan + 10% konsentrat + 20% limbah tahu + 10% Habira). Variabel yang diukur adalah indeks suhu kelembapan (THI), konsumsi pakan, produksi susu, kualitas susu, hubungan konsumsi protein dan total nutrien tercerna/total digestible nutrient (TDN) dengan produksi susu serta efisiensi pakan dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai THI yang diperoleh mengindikasikan sapi perah mengalami cekaman panas. Perlakuan T1, T2, T3 dan T4 berbeda nyata (P0,05) dengan T0 dalam konsumsi nutrisi dan produksi susu, sedangkan komposisi susu tidak berbeda nyata antar perlakuan. Konsumsi protein dan TDN pakan memiliki hubungan linier dengan produksi susu (P0,05). Tidak ada perbedaan signifikan (P0,05) dalam efisiensi pakan dan ekonomis. Dapat disimpulkan SDUK dan Habira merupakan pengganti hijauan dan konsentrat yang baik untuk sapi perah laktasi.(Effect of forage and concentrate substitution with cassava leaves silage and cassava hay on milk production and milk composition of Friesian Holstein dairy cows)ABSTRAK. This study aimed to evaluate the effect of forage replacement by cassava leaves silage (CLS) and commercial concentrate by yeast fermented cassava hay (Yefecah) on the production and quality of milk and economic evaluation. Five, early on the second lactation cycle (6611 day in milk) Holstein Friesian cows were randomly assigned to a 5 (treatments) x 5 (replications). Treatments were T0 (60% forage + 20% concentrate + 20% tofu waste), T1 (40% forage + 20% CLS + 20 % concentrate + 20% tofu waste), T2 (40% forage + 20 % CLS + 15% concentrate + 20% tofu waste + 5% Yefecah), T3 (40% forage + 20 % CLS + 15% concentrate + 20% tofu waste + 10% Yefecah) and T4 (60% forage + 10% concentrate + 20% tofu waste + 10% Yefecah). Variables measured were temperature-humidity index (THI), feed intake, milk production, milk composition, interrelationship crude protein (CP) and total digestible nutrient (TDN) supply to milk production, and economic factors. The Result shows that T1, T2, T3, and T4 were significantly (P0.05) from T0 on nutrients intake and milk production. Whilst, the treatments were not significant (P0.05) affect to 4% fat corrected milk (FCM) and milk quality with T2 and T3 obtained the best value. The variables of CP and TDN intake have a positive relationship to milk production (P0.05). There were no significant differences in (P0.05) in feed and economical efficiency. It could be concluded that cassava foliage silage and yefecah were the good replacement of forage and concentrate for dairy cows

    409

    full texts

    462

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agripet
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇