Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Karakteristik Sensoris Daging Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) yang Diberi Tepung Daun Katuk (Sauropus androgynus) dalam Ransum
ABSTRACT. Ayam KUB merupakan unggas lokal hasil inovasi breeding yang dilakukan oleh Balitnak. Karakteristik daging ayam KUB menyerupai daging ayam lokal atau kampung pada umumnya yaitu agak alot. Faktor kealotan atau keempukan seperti halnya aroma dan warna sangat memengaruhi penerimaan di masyarakat. Daun katuk (Sauropus androgynus) mengandung PUFA, flavonoid dan vitamin C. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kualitas sensoris daging ayam kampung unggul balitnak (KUB) yang diberi tepung daun katuk (Sauropus androgynus) dalam ransum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu R0= 0% tepung daun katuk, R1= 1% tepung daun katuk, R2= 2% tepung daun katuk, R3= 3% tepung daun katuk. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah uji hedonik dan mutu hedonik yang terdiri dari aroma, keempukan, warna, rasa dan juiciness. Data dianalisis menggunakan perhitungan Kruskal Wallis. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwasanya tepung daun katuk yang diberikan sebagai feed additive dalam ransum tidak berbeda nyata (P0,05) terhadap aroma, keempukan, warna, rasa, dan juiciness. Kesimpulannya adalah ransum yang mengandung daun katuk hingga 3% tidak mengubah karakteristik sensoris daging ayam KUB.(Sensory quality of Kampung Unggul Balitnak (KUB) chicken fed on the katuk leaf meal (Sauropus androgynus) in ration)ABSTRAK. KUB chickens are local poultry resulting from breeding innovations carried out by Balitnak. The characteristics of KUB chicken meat resemble local or village chicken meat in general, which is a bit tough. Toughness or tenderness factors such as aroma and color greatly affect acceptance in society. Katuk leaves (Sauropus androgynus) contain PUFAs, flavonoids and vitamin C. This study aimed to test the sensory quality of superior-grade native chicken (KUB) meat fed with katuk leaf flour (Sauropus androgynus) in the diet. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of 4 treatments and 4 replications. The treatments in this study were R0 = 0% katuk leaf flour, R1 = 1% katuk leaf flour, R2 = 2% katuk leaf flour, R3 = 3% katuk leaf flour. The variables observed in this study were hedonic test and hedonic quality, which consisted of aroma, tenderness, color, taste, and juiciness. The data were analyzed using Kruskal Wallis calculations. The organoleptic test showed that katuk leaf flour given as a feed additive in the ration was not significantly different (P0.05) in aroma, tenderness, color, taste, and juiciness. The conclusion was that rations containing katuk leaves up to 3% did not change the sensory characteristics of KUB chicken meat
Evaluation The Success of Artificial Insemination Using Frozen Sexed Semen Based on Different Estrus Characters
ABSTRACT. Knowledge of farmers about estrus detection is one of the factors that affect fixed-time artificial insemination (AI). This study aims to evaluate the success rate of AI using Y sexing frozen semen based on the estrus character of cattle. Forty-five Limousin Crossed Cows involved in this research with a Body Condition Score of 3-5 (1-9 scale), 1.8-7 years old. Y sexing frozen semen is produced by the Singosari Center for Artificial Insemination using Percoll's Gradient Density Centrifugation method. Observation of estrus character was done before insemination with the deep insemination technique of AI. Artificial insemination was carried out using double doses at the 2nd and 8th hours after estrus. Rheinbio vitamins as BioATP+ are injected after AI. The results showed that the Conception Rate and Pregnancy Rate based on the estrus character was higher as indicated by the red colour of the vulva was 17.78% and 22.22%; very swollen vulva was 20% and 22.22%; abundant cervical mucus was 15.56% and 17.78%, and vaginal temperatures ranging from 38.0-38.5oC was 13.33% and 20%. In conclusion, the low percentage of pregnancy in this study was caused by various factors, mainly the genetic quality, early embryonic efficacy, maintenance management especially feed, and there were cows that experienced reproductive disorders.(Evaluasi keberhasilan inseminasi buatan menggunakan semen beku sexing berdasarkan karakter estrus yang berbeda)ABSTRAK. Pengetahuan peternak mengenai deteksi estrus merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ketepatan waktu inseminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan IB menggunakan semen sexing Y berdasarkan karakter estrus ternak. Akseptor yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 45 ekor Sapi Persilangan Limousin dengan BCS 3-5 dan umur berkisar antara 1,8-7 tahun. Semen beku sexing Y merupakan hasil produksi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari menggunakan metode Sentrifugasi Densitas Gradien Percoll (SGDP). Pengamatan karakter estrus dilakukan sebelum inseminasi. Inseminasi Buatan dilakukan dengan menggunakan double dosis pada jam ke-2 dan jam ke-8 dengan teknik deep insemination. Vitamin Rheinbio sebagai BioATP+ diinjeksikan setelah IB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kebuntingan ditinjau dari nilai conception rate (CR) dan pregnancy rate (PR) berdasarkan karakter estrus ternak lebih tinggi ditunjukkan pada kondisi warna vulva merah merata yaitu 17,78% dan 22,22%; vulva yang sangat bengkak yaitu 20% dan 22,22%; banyak mengeluarkan lendir servik yaitu 15,56% dan 17,78%, serta suhu vagina yang berkisar antara 38,0-38,5oC yaitu 13,33% dan 20%. Persentase kebuntingan yang rendah pada penelitian ini disebabkan oleh berbagai faktor, utamanya kualitas genetik ternak, kematian embrio dini, manajemen pemeliharaan khususnya pakan, dan terdapat ternak yang mengalami gangguan reproduksi
Kandungan Serat Kasar, Kecernaan Serat Kasar, dan Fermentabilitas Bonggol Singkong yang Difermentasi Menggunakan Aspergillus niger
ABSTRACT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh aras konsentrasi Aspergillus niger dan lama waktu pemeraman yang berbeda terhadap kandungan serat kasar, kecernaan serat kasar, dan fermentabilitas bonggol singkong secara in vitro. Percobaan didesain menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial (RALF) 3x3 dengan 3 ulangan. Fermentasi menggunakan kapang Aspergillus niger dengan 3 aras konsentrasi (A0: 0%, A1: 2,5% dan A2: 5%) dan 3 lama pemeraman (T0: 0 hari, T1: 2 hari dan T2:4 hari). Variabel yang dikaji adalah kandungan serat kasar, kecernaan serat kasar, asam lemak terbang/volatile fatty acid (VFA) parsial berupa asam asetat, propionat, butirat serta VFA total. Data dianalisis ragam kemudian dilanjutkan dengan uji wilayah berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh interaksi (p0,05) antara aras starter dan lama waktu pemeraman yang berbeda terhadap kandungan serat kasar, kecernaan serat kasar dan fermentabilitas secara in vitro bonggol singkong yang difermentasi dengan kapang Aspergillus niger. Pada kombinasi perlakuan A2T2 menghasilkan kadar serat kasar terendah (20,12%), peningkatan kecernaan serat kasar tertinggi (41,00%), peningkatan VFA parsial tertinggi meliputi asam asetat (58,40%), propionat (26,16%), butirat (12,73%) dan VFA total tertinggi (95,33%). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kombinasi perlakuan aras starter Aspergillus niger dan lama pemeraman dapat meningkatkan kecernaan serat kasar, produksi VFA parsial dan VFA total, serta menurunkan serat kasar bonggol singkong. Kecernaan serat kasar, produksi VFA parsial dan VFA total terbaik, serta kandungan serat kasar bonggol singkong terendah terjadi pada kombinasi perlakuan A2T2 dengan penggunaan aras Aspergillus niger 5% dan lama pemeraman 4 hari.(Crude fiber content, crude fiber digestibility and fermentability of fermented Cassava cobs using Aspergillus niger)ABSTRAK. The purpose of this study was to determine the effect of Aspergillus niger levels and fermentation duration on crude fiber content, crude fiber digestibility, and fermentability in vitro cassava cobs. This experiment used a completely randomized design with 3x3 factorial pattern and 3 replications. Fermentation used 3 Aspergillus niger levels (A0: 0%, A1: 2,5% dan A2: 5%) and 3 duration (T0: 0 days, T1: 2 days and T2: 4 days). Observed variables were crude fiber content, crude fiber digestibility, partial volatile fatty acid (VFA) involving acetate, propionate, and butyrate, and total VFA. Data were analyzed using the analysis of variance, then followed by Duncans Multiple Region Test. The results showed that there was an interaction (p0.05) between different starter levels and the fermentation duration on crude fiber content, crude fiber digestibility, and fermentability in vitro cassava cobs. The A2T2 treatment combination shows the lowest level of crude fiber content (20.12%), the highest level of crude fiber digestibility (41.00%), the highest level of acetate (58.40%), propionate (26.16%), and butyrate (12.73%), and the highest total VFA (95.33%). It can be concluded that the combination of A. niger levels and fermentation duration can increase crude fiber digestibility, partial VFA, and total VFA, as well as reducing crude fiber content of cassava cobs. The highest level of crude fiber digestibility, partial VFA, and total VFA, and the lowest crude fiber contents occurred in the combination of A2T2 treatment using 5% level of A. niger with 4 days of fermentation duration
Gayo Buffalo Maintenance Management Viewed from the Technical Aspect of Maintenance in Gayo Lues Regency
ABSTRACT. Gayo Lues Regency, Aceh Province is a very potential area for the development of buffalo. This study aims to determine the application of technical aspects of buffalo breeding in Gayo Lues which is expected to be a reference for local governments regarding genetic quality improvement of Gayo buffalo conservation programs to maintain population growth of one of the national germplasms. This research was conducted in Gayo Lues Regency covering two sub-districts, Blangkejeren and Dabun Gelang. This study uses a qualitative method by conducting a simple random sampling survey of 54 buffalo farmers. The number of samples was determined by the Slovin formula, the criteria for breeders to maintain at least 5 buffaloes. The research data is processed by calculating the percentage and then compared with the standard by Minister of Agriculture Regulation (2006). The results showed that the score of the application of the technical aspects of keeping buffaloes obtained in Gayo Lues was 55.96% including the application of the technical aspects of breeding and reproduction 62.39%, food 41.47%, maintenance management 57.20%, health 61, 71% and housing 73.40%. It can be concluded that the implementation of technical aspects of buffalo maintenance in Gayo Lues Regency is still not good enough.(Manajemen pemeliharaan kerbau Gayo ditinjau dari aspek teknis pemeliharaan di Kabupaten Gayo Lues)ABSTRAK. Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh merupakan wilayah yang sangat potensial untuk pengembangan ternak kerbau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan aspek teknis pemeliharaan ternak kerbau di Kabupaten Gayo Lues yang diharapkan bisa menjadi acuan pemerintah daerah mengenai peningkatan mutu genetik dan pengembangan program pelestarian kerbau Gayo secara berkelanjutan untuk menjaga keberlangsungan pertumbuhan populasi salah satu plasma nutfah nasional. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Gayo Lues meliputi dua kecamatan yaitu Blangkejeren dan Dabun Gelang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan survei secara simple random sampling terhadap 54 peternak kerbau. Jumlah sampel ditentukan dengan rumus Slovin dan kriteria peternak memelihara minimal 5 ekor ternak kerbau. Data hasil penelitian diolah dengan menghitung persentase lalu dibandingkan dengan standar yang ditetapkan Peraturan Menteri Pertanian (2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor penerapan aspek teknis pemeliharaan ternak kerbau yang diperoleh di Kabupaten Gayo Lues adalah 55,96% diantaranya penerapan aspek teknis pemuliaan dan reproduksi 62,39%, makanan 41,47%, tatalaksana pemeliharaan 57,20%, kesehatan 61,71%, dan kandang dan peralatan 73,40%. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan aspek teknis pemeliharaan kerbau di Kabupaten Gayo Lues masih belum cukup baik
Pengaruh Penggunaan Bungkil Inti Sawit Taraf 40% dalam Ransum terhadap Bobot Potong, Karkas, Potongan Komersil Karkas dan Kualitas Daging Ayam SenSi-1 Agrinak
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh optimalisasi penggunaan Bungkil Inti Sawit/Bungkil Inti Sawit Fermentasi dalam ransum terhadap bobot potong, karkas, persentase karkas, bobot lemak abdominal, potongan dan persentase komersil karkas serta kualitas daging ayam SenSi-1 Agrinak umur 10 minggu. Penelitian menggunakan RAL: 6 perlakuan 5 ulangan, ulangan: 3 ekor ayam SenSi-1 Agrinak. Perlakuan pakan penelitian: P0 (kontrol), P1 = BIS 40% , P2 = BIS 30% + BISF 10%, P3 = BIS 20% + BISF 20%, P4 = BIS 10% + BISF 30%, P5 = BISF 40%. Pakan perlakuan diberikan pada ayam umur 10 hari sampai 10 minggu, kemudian dilakukan penyembelihan untuk pengamatan bobot potong, bobot karkas, potongan komersil dan persentase karkas (dada, sayap, punggung, paha atas, paha bawah) serta kualitas daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan BISF 30% + BIS 10% dalam pakan mampu meningkatkan bobot potong, bobot karkas, bobot dada, bobot paha bawah, bobot saya dan menurunkan lemak abdominal, namun tidak menunjukkan hasil yang berbeda terhadap persentase karkas, punggung, dada, paha, dan sayap pada ayam SenSi-1 Agrinak. Penggunaan 40% BISF dalam ransum mampu meningkatkan kandungan protein daging namun tidak menunjukkan hasil yang berbeda terhadap pH, daya ikat air, susut masak, kadar air dan lemak kasar pada ayam SenSi-1 Agrinak. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian 30% BISF + 10% BIS dan pemberian 40% BISF layak digunakan dalam ransum ayam SenSi-1 Agrinak.(The effect of use of palm kernel oil at the level of 40% in the ration on slaughter weight, carcass commercial cuts and meat quality SenSi-1 Agrinak chicken)ABSTRAK. The study was conducted to determine the effect of optimizing the use of PKM/PKMF in the ration on carcass, carcass components, carcass percentage, meat physical, and chemical quality of SenSi-1 Agrinak chicken. The research feed treatments were: P0 (control), P1 = PKM 40%, P2 = PKM 30% + PKMF 10%, P3 = PKM 20% + PKMF 20%, P4 = PKM 10% + PKMF 30%, P5 = PKMF 40%. The treatment feed was given to chickens aged 10 days to 10 weeks, then slaughtered for observation of slaughter weight, carcass weight, carcass commercial cuts and carcass percentage (breast, wings, back, upper thigh, lower thigh) and meat quality. The results showed that the use of PKMF 30% + PKM 10% in feed was able to increase slaughter weight, carcass weight, chest weight, lower thigh weight, my weight and reduce abdominal fat, but did not show different results on the percentage of carcass, back, chest, thighs, and wings on Sensi-1 Agrinak chicken. The use of 40% PKMF in the ration was able to increase the protein content of meat but did not show different results on pH, water holding capacity, cooking loss, water content and crude fat in Sensi-1 Agrinak chicken. This shows that the provision of PKMF 30% + PKM 10% and the provision of PKMF 40% are suitable for use in the ration of SenSi-1 Agrinak chickens
Pengaruh Pemberian Pelet Mengandung Tepung Daun Indigofera terhadap Produktivitas Kambing Boerka Periode Bunting dan Laktasi
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pelet mengandung tepung daun Indigofera terhadap produktivitas kambing Boerka periode bunting dan laktasi. Ternak yang digunakan adalah kambing Boerka bunting bulan keempat sebanyak 60 ekor dengan variasi paritas ke 2 dan 3 dan rataan bobot badan saat dikawinkan adalah 32,635,29 kg. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan pakan dengan 20 kali ulangan: rumput lapang + Pelet komersil (R1); rumput lapang + pelet Indigofera 10% (R2); rumput lapang + pelet Indigofera 20% (R3). Parameter yang diukur adalah bobot badan anak lahir dan bobot badan anak prasapih (umur 3 bulan). Data dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA ) satu arah dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa pemberian tepung daun Indigofera 10% memberikan pengaruh nyata terhadap bobot lahir anak kambing betina dan tidak berbeda nyata terhadap parameter lainnya namun cenderung menurun pada pemberian tepung daun Indigofera 20%. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung daun Indigofera dalam pelet sampai 20% memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap produktivitas kambing Boerka periode bunting dan laktasi.(Effect of dietary pellet containing indigofera leaf meal on productivity of Boerka goat at pregnancy and lactating period)ABSTRAK. The research was aimed to investigate effect of dietary pellet containing Indigofera leaf meal on productivity of Boerka goat at pregnancy and lactating period. A total of 60 heads of Boerka goat who were pregnant at 4th, parity of 2nd and 3rd and average of body weight when mated were 32,635,29 kg. Research used randomized block design with 3 feed treatments and 20 replicated: native grass + commercial pellet (R1); native grass + Indigoferas pellet 10% (R2); native grass + Indigoferas pellet 20%. The parameter measured were body weight of lamb born and body weight of lamb at pre-weaning (3 month aged). Data were analyzed used Analysis of Variance (ANOVA) one way dan continued with Multiples Range Test of Duncan. The result of statistical analysis showed that dietary Indigofera leaf meal 10% gave significant effect on birth weight of female lamb and non significant effect on other parameters but tends to decreased in dietary Indigofera leaf meal 20%. It could be conclude that utilization of Indigofera leaf meal until 20% in pellet gave not significant effect on productivity of Boerka goat at pregnancy and lactating period
Kandungan Mikrobiologis Litter Broiler pada Lama Fermentasi yang Berbeda
ABSTRACT. Tujuan penelitian adalah mengkaji pengaruh lama fermentasi yang berbeda terhadap bakteri asam laktat, bakteri gram positif/negatif, Salmonella dan Escherichia coli litter broiler. Materi penelitian adalah litter broiler 1 kg, mineral mix, starter mix culture, garam, urea, molases masing-masing 60 gram, NaCl fisiologis 0,85%, alkohol 96%, media MRS, SSA, EMBA, aquades, kristal violet, iodine, dan safranin. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, dengan perlakuan litter broiler lama fermentasi yang berbeda T0 (0 hari), T1 (21 hari), T2 (42 hari) dan T3 (63 hari). Parameter penelitian yaitu total bakteri asam laktat (BAL), bakteri gram positif dan negatif, Salmonella, dan Escherichia coli (E. coli). Analisis data menggunakan uji ANOVA, dan jika terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji DMRT, dengan taraf signifikasi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi yang berbeda memengaruhi total bakteri asam laktat (BAL) litter broiler fermentasi. Semakin lama durasi fermentasi, semakin tinggi total BAL litter broiler. Lama fermentasi yang berbeda tidak memengaruhi skor bakteri gram positif dan negatif litter broiler. Bakteri yang tumbuh pada litter broiler fermentasi berasal dari famili Staphylococcaceae (13,95%), Bacillaceae (32,57%), Streptococcaceae (23,26%), Saccharomycetaceae (6,98%), dan Pseudomonadaceae (23,26%). Bakteri gram positif litter broiler fermentasi berbentuk batang, tidak berspora, soliter, duplococcus, sedangkan bakteri gram negatif berbentuk batang dan soliter. Tidak ditemukan bakteri Salmonella sp. dan E. coli pada litter broiler fermentasi. Lama fermentasi yang berbeda mampu meningkatkan kualitas litter broiler, ditinjau dari total BAL. Litter broiler fermentasi berpotensi dijadikan sebagai alternatif bahan pakan, mengandung 13 gram positif dan 0 - 1 gram negatif, serta tidak ditemukan bakteri Salmonella sp. dan E. coli. Perlakuan yang direkomendasikan yaitu litter broiler dengan lama fermentasi 42 hari, dengan jumlah bakteri asam laktat sebanyak 2,4 log CFU/g.(Microbiological content of broiler litter at different times fermentation)ABSTRAK. The aim of the study was to examine the effect of different fermentation times on lactic acid bacteria, gram positive/negative bacteria, Salmonella and Escherichia coli litter broilers. The research material is broiler litter 1 kg, mineral mix, starter mix culture, salt, urea, molasses 60 grams each, 0.85% physiological NaCl, 96% alcohol, MRS media, SSA, EMBA, aquades, crystal violet, iodine , and safranin. The study design used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 4 replications, with broiler litter treatments with different fermentation times T0 (0 days), T1 (21 days), T2 (42 days) and T3 (63 days). The research parameters were total lactic acid bacteria (LAB), gram positive and negative bacteria, Salmonella, and Escherichia coli (E. coli). Data analysis used the ANOVA test, and if there were differences, it was continued with the DMRT test, with a significance level of 5%. The results showed that different fermentation time affected the total lactic acid bacteria (LAB) in fermented broiler litter. The longer the duration of fermentation, the higher the total LAB of broiler litter. Different fermentation time did not affect the score of gram positive and negative bacteria in broiler litter. The bacteria growing in fermented broiler litter came from the family Staphylococcaceae (13.95%), Bacillaceae (32.57%), Streptococcaceae (23.26%), Saccharomycetaceae (6.98%), and Pseudomonadaceae (23.26%). Gram-positive bacteria fermented broiler litter are rod-shaped, non-sporing, solitary, duplococcus, while gram-negative bacteria are rod-shaped and solitary. No bacteria Salmonella sp and E. coli were found in fermented broiler litter. Different fermentation time can improve broiler litter quality, in terms of total LAB. Fermented broiler litter has the potential to be used as an alternative feed ingredient, containing 1-3 grams positive and 0-1 gram negative, and no Salmonella sp. and E. coli. The recommended treatment is broiler litter with a fermentation time of 42 days, with the number of lactic acid bacteria as much as 2.4 log CFU/g
Pengaruh Perbedaan Bahan Perekat dan Sumber Filtrat terhadap Fraksi Serat dan Kualitas Fisik Wafer Ransum Komplit
ABSTRACT. Pelepah sawit dapat diolah dengan penambahan filtrat abu sekam padi (FASP) dan filtrat abu tandan kosong (FATK) selanjutnya digunakan sebagai bahan pembuatan wafer. Perbedaan sumber filtrat dan bahan perekat dalam pembuatan wafer memengaruhi fraksi serat dan kualitas fisik. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh sumber filtrat dalam pengolahan pelepah sawit dan bahan perekat berbeda dalam pembuatan wafer terhadap fraksi serat dan kualitas fisik. Rancangan acak lengkap berfaktor 2 x 3 dengan 3 ulangan digunakan dalam penelitian. Faktor F : sumber filtrat : F1= FATK dan F2 = FASP. Faktor L: bahan perekat, L1 = molases; L2. onggok; L3. tepung tapioka. Parameter yang diukur adalah kualitas fisik (kerapatan partikel dan daya serap air) serta fraksi serat (serat detergen asam/acid detergent fiber (ADF), hemiselulosa, selulosa, lignin dan serat detergen netral/neutral detergent fiber (NDF). Data dianalisis dengan analisis variansi selanjutnya analisis ragam dengan uji jarak berganda Duncan/Duncan Multiple Range Test (DMRT). Pelepah sawit yang diolah dengan sumber filtrat berbeda tidak memengaruhi kualitas fisik (daya serap air dan kerapatan partikel) serta kandungan selulosa dan hemiselulosa, tapi memengaruhi (P0,05) kandungan ADF, lignin dan NDF. Penggunaan bahan perekat berbeda dalam pembuatan wafer tidak memengaruhi kerapatan partikel tapi memengaruhi (P0,05) daya serap air dan fraksi serat (ADF, lignin, hemiselulosa, NDF, dan selulosa). Interaksi sumber filtrat dalam pengolahan pelepah sawit dengan bahan perekat dalam pembuatan wafer memengaruhi (P0,05) fraksi serat dan kualitas fisik. Pelepah sawit yang diolah dengan FASP selanjutnya dibuat wafer berbahan perekat molases menghasilkan fraksi serat terbaik (NDF 43,03%; ADF 40,29%; lignin 12,62%; selulosa 24,63%; hemiselulosa 2,74%) dan pelepah sawit yang diolah dengan FATK selanjutnya dibuat wafer berbahan perekat tepung tapioka menghasilkan kualitas fisik terbaik.(The effect of differences of adhesive and filtrates sources on fiber fraction and physical quality of complete ration wafer)ABSTRAK. Palm fronds can be processed with the addition of rice husk ash filtrate (RHAF) and empty bunches ash filtrate (EBHF) and then used as an ingredient in making wafers. Difference source of the filtrate and adhesive material in wafer making affect the fiber fraction and physical quality. The study aimed to determine the effect of the filtrate source in the processing of palm fronds and different adhesives in wafer making on the fiber fraction and physical quality. A completely randomized design with a factorial pattern, 2 x 3 with 3 replications was used in the study. Factor F : filtrate source : F1 = RHAF and F2 = EBHF. Factor L : adhesive material, L1 = molasses; L2 = tapioca by product ; L3 = tapioca flour. The measured parameters are physical quality (particle density and water absorption) and fiber fraction (ADF, hemicellulose, lignin, cellulose, and NDF). Data were analyzed by analysis of variance and the differences were analyzed by DMRT test. Palm fronds treated with different filtrate sources did not affect the physical quality (water absorption and particle density) and cellulose and hemicellulose content, but affected (P0.05) the content of ADF, lignin and NDF. The use of different adhesives in wafer making did not affect particle density but affected (P0.05) water absorption and fiber fraction (ADF, lignin, hemicellulose, NDF, and cellulose). The interaction of the filtrate source in the processing of palm fronds with the adhesive in wafer making affected (P0.05) the fiber fraction and physical quality. Palm fronds which were processed with RHAF then formed wafers with molasses as an adhesive, producing the best fiber fraction (NDF 43.03%; ADF 40.29%; lignin 12.62%; cellulose 24.63%; hemicellulose 2.74%) and palm fronds which were processed with EBAF then formed wafers with tapioca flour adhesive, resulting in the best physical quality
Efek Probio_FM dan Larutan Kunyit terhadap Performa dan Penurunan Jumlah Campylobacter pada Itik Lokal Kerinci
ABSTRACT. Campylobacter merupakan salah satu bakteri yang terdapat dalam usus halus itik, yang dapat menurunkan performa dan menyebabkan penyakit yang bersifat zoonosis. Penularan kebanyakan terjadi melalui daging, tetapi belum ada yang memastikan bagaimana bakteri ini dapat berada pada daging, sehingga berbagai biokontrol diupayakan dalam menekan dan mencegah penularan Campylobacter. Tujuan penelitian ini untuk melihat efektivitas pemberian probiotik bakteri asam laktat, kunyit, dan gabungan keduanya dalam menekan keberadaan Campylobacter dalam usus halus, serta pengaruh pemberiannya terhadap performa itik lokal kerinci. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan materi 100 ekor itik lokal kerinci jantan, yang mendapat perlakuan kontrol (P0); pemberian Probio_FM (P1); pemberian larutan kunyit (P2), dan gabungan Probio_FM dan larutan kunyit (P3) dalam pakan, dengan masing-masing 5 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap performa, pH, jumlah bakteri asam laktat, dan jumlah Campylobacter pada jejunum dan ileum itik kerinci. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberian Probi_FM, larutan kunyit, dan gabungan keduanya belum mampu menekan keberadaan Campylobacter dalam usus halus itik kerinci.(The effect of Probio FM and turmeric solution on performance and reducing Campylobacter in Kerinci local duck)ABSTRAK. Campylobacter is one of the bacteria found in the small intestine of ducks, which can reduce performance and cause zoonotic diseases. Transmission mostly occurs through meat, but no one has confirmed how this bacteria can be in the meat, so various biocontrols are treated to suppress and prevent Campylobacter transmission. This study intended to evaluate the effectiveness of lactic acid bacteria probiotics, turmeric, and their combination administrations in suppressing the presence of Campylobacter in the small intestine, as well as the effect of their administration on the performance of local kerinci ducks. The experiment used a completely randomized design (CRD) with 100 male local kerinci ducks, received control treatment (P0); administration of Probio_FM (P1); administration of turmeric solution (P2), and a combination of Probio_FM and turmeric solution (P3) in duck feed, with 5 replications respectively. The results showed that all treatments had no significant effect (P0.05) on the performance, pH, the number of lactic acid bacteria, and Campylobacter in the jejunum and ileum of kerinci ducks. It could be concluded that the administration of Probio_FM, turmeric solution, and their combination had not been able to suppress the presence of Campylobacter in the small intestine of kerinci ducks
Penggunaan Tepung Kunyit (Curcuma domestica) dalam Ransum yang Mengandung Black Garlic terhadap Performa Ayam Broiler
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung kunyit (Curcuma domestica) dalam ransum yang mengandung black garlic terhadap performa ayam broiler. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler umur sehari (DOC) sebanyak 200 ekor dari strain New Lohman MB 202, tepung black garlic, tepung kunyit, ransum komersial nonantibiotic produksi Japfa Comfeed serta 20 unit kandang beserta perlengkapannya. Ayam broiler dibagi dalam 5 perlakuan dengan 4 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 10 ekor. Perlakuan yang diberikan adalah P0= 100% ransum komersial tanpa antibiotik, P1= P0+3% black garlic, P2=P1+0.5% tepung kunyit, P3=P1+1.0 tepung kunyit dan P4= P1+1.5% tepung kunyit sedangkan untuk periode akhir semua ayam pada perlakuan P1, P2, P3 dan P4 hanya diberikan ransum komersil yang mengandung black garlic. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, bobot karkas dan morfometrik usus halus. Pengaruh yang nyata perlakuan terhadap peubah yang diamati dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung kunyit dalam ransum yang mengandung black garlic berpengaruh tidak nyata (P0.05) terhadap semua peubah yang diamati. Disimpulkan bahwa penambahan tepung kunyit sampai 1.5% dalam ransum yang mengandung black garlic pada fase awal tidak dapat digunakan untuk meningkatkan performa ayam broiler.(The use of turmeric flour (Curcuma domestica) in rations containing black garlic on broiler chicken performance)ABSTRAK. This study aims to determine the effect of using turmeric flour (Curcuma domestica) in rations containing black garlic on broiler performance. The material used was 200 DOC broilers, which were divided into 5 treatments with 4 replications where each replication consisted of 10 chickens. Treatment consisted of P0 = 100% commercial ration without antibiotics, P1=P0+3% black garlic, P2=P1+0.5% turmeric flour, P3=P1+1.0 turmeric flour, and P4= P1+1.5% turmeric flour. These treatments were offered during the starter phase. During the finishing period, all chickens groups P1, P2, P3 and P4 were fed rations containing 100% commercial feed and 3% of black garlic. This study was designed using a completely randomized design (CRD), if there is an effect on the treatment, it will be further tested with Duncan's test. The observed variables were ration consumption, body weight gain, ration conversion, carcass weight, and small intestine morphometrics. The results of the analysis of variance showed that the use of turmeric flour in rations containing black garlic had no significant effect (P0.05) on all observed variables. It is concluded that the addition of turmeric flour up to 1.5% in the ration containing black garlic during the starter phase had not been able to improve the performance of broiler chickens