Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Indonesian River Buffalo Molecular Phylogeny Compared to Other Mammals Based on STAT1 Sequence
ABSTRACT. Genes differ in sequence, size, and functional domains among species. According to studies, STAT1 provides information on the rate of evolution that correlates with its function in the immune system. STAT1 is also considered a genetic marker for economic traits in mammals. Studying sequence comparison is an important issue in bioinformatic study and can explain phylogenetic. Therefore, this study aimed to identify the molecular phylogeny of river buffalo (Bubalus bubalis) and other mammals based on STAT1 gene sequences. This study used 7 STAT1 sequences from Ensembl (Bos grunniens, Bos indicus, Bos Mutus, Capra hircus, Cervus hanglu yarkandensis, Moschus moschiferus) and previous studies (Bubalus bubalis). The sequences were analyzed using the MEGA X 10.2.6 software to observe the nucleotide composition and the phylogeny (based on UPGMA). The adegenet package in the R 4.0.0 software is used to observe the STAT1 sequence dimensionally among mammals. The STAT1 sequence has almost similar diversity among the livestock of the same genus. Based on the STAT1 sequence, Bubalus bubalis has closer genetic proximity to the genus Bos than to another genus. In conclusion, we found STAT1 is more dynamic in evolution and more conserved and found in the similar related genus.(Filogeni kerbau Indonesia dibandingkan mamalia lain berdasarkan runutan nukleotida gen STAT1)ABSTRAK. Gen berbeda dalam urutan, ukuran, dan domain fungsional di antara spesies. Menurut penelitian sebelumnya, STAT1 memberikan informasi tentang laju evolusi yang berkorelasi dengan fungsinya dalam sistem kekebalan. STAT1 juga dianggap sebagai penanda genetik untuk sifat bernilai ekonomi pada mamalia. Studi perbandingan urutan merupakan isu penting dalam studi bioinformatika dan dapat menjelaskan filogenetik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi filogeni molekuler kerbau sungai (Bubalus bubalis) dan spesies mamalia lain berdasarkan sekuens gen STAT1. Penelitian ini menggunakan 7 sekuen STAT1 yang diambil dari Ensembl (Bos grunniens, Bos indicus, Bos mutus, Capra hircus, Cervus hanglu yarkandensis, Moschus moschiferus) dan penelitian sebelumnya (Bubalus bubalis). Sekuen dianalisis menggunakan program MEGA X 10.2.6 untuk melihat komposisi nukleotida dan filogeni (berdasarkan UPGMA). Adegenet package dalam program R 4.0.0 digunakan untuk mengamati urutan STAT1 secara dimensional diantara mamalia. Sekuen STAT1 memiliki keragaman yang hampir sama di antara ternak dari genus yang sama. Berdasarkan sekuen STAT1, Bubalus bubalis memiliki jarak genetik yang lebih dekat dengan genus Bos dibandingkan dengan genus lainnya. Sebagai kesimpulan, kami menemukan STAT1 lebih dinamis dalam evolusi dan lebih terkonservasi serta ditemukan dalam genus terkait yang serupa
Aplikasi Minyak Atsiri Pala (Myristica fragrans Houtt) dan Komponennya (-pinene dan sabinene) sebagai Bioaditif pada Daging Sapi
ABSTRACT. Minyak pala (Myristica fragrans Houtt) telah diketahui memiliki kemampuan antimikroba. Komponen dominan di dalam minyak pala adalah -pinene dan sabinene. Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan yang mudah rusak dan mudah terkontaminasi bakteri patogen. Oleh karena itu, bioaditif seperti minyak pala diperlukan agar daging sapi tidak mudah rusak dan terhindar dari cemaran bakteri patogen. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan antimikroba minyak pala (Myristica fragrans Houtt) dan komponen dominan (memiliki persentase tinggi) di dalam minyak pala (-pinene dan sabinene) terhadap kualitas daging sapi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 (dua) faktor yaitu jenis bioaditif (minyak pala, -pinene, sabinene, dan campuran -pinene + sabinene) dan lama penyimpanan (1 hari dan 7 hari). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabinene memiliki nilai TPC lebih tinggi yaitu 4,19 Log CFU/g pada lama penyimpanan 7 hari, dibandingkan dengan daging sapi yang direndam dengan -pinene memiliki nilai TPC 3,19 Log CFU/g dan 3,55 Log CFU/g untuk minyak pala. Daging sapi yang direndam dengan menggunakan -pinene dan minyak pala serta disimpan selama 7 hari, dapat menekan pertumbuhan Salmonella sp menjadi negatif, namun belum bisa menekan pertumbuhan bakteri patogen Coliform, Escherichia coli dan Staphylococcus aureus di bawah jumlah yang telah ditetapkan SNI 3932:2008. Secara organoleptik, daging sapi yang direndam menggunakan -pinene memiliki aroma khas daging dan masih dapat mempertahankan warna kemerahan daging sapi. Bioaditif -pinene dan minyak pala berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioaditif alami pada daging sapi.(Application of nutmeg essential oil (Myristica fragrans Houtt) and its major components (-pinene and sabinene) as Bio-additives in Beef)ABSTRAK. Nutmeg essential oil (Myristica fragrans Houtt) has been known to have antimicrobial properties. The major components in nutmeg oil are -pinene and sabinene. The addition of nutmeg oil in beef could protect beef from bacterial contamination. This study aims to determine the antimicrobial properties of nutmeg oil (Myristica fragrans Houtt) and its major components (-pinene and sabinene) on beef quality. This study used a factorial Randomized Block Design consisting of two factors namely the types of bio-additives (nutmeg oil, -pinene, sabinene, and a mixture of -pinene and sabinene) and storage time (1 day and 7 days). The data was analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) and the Duncan Multiple Range Test (DMRT). The results showed that sabinene had a higher TPC value of 4.19 Log CFU/g at 7 days of storage than -pinene having TPC value of 3.19 Log CFU/g and 3.55 Log CFU/g for nutmeg oil. In addition, beef soaked using -pinene and nutmeg oil and stored for 7 days, can suppress the growth of Salmonella sp to negative, but has not been able to suppress the growth of pathogenic bacteria Coliform, Escherichia coli and Staphylococcus aureus below the amount set by SNI. 3932:2008. Based on the results of organoleptic test, beef marinated using -pinene has a more distinctive aroma of meat and could maintain the reddish color of the beef. Overall, -pinene and nutmeg oil are potential to be developed as natural bio-additives in beef
Reduce Heat Stress on Broilers During Transport by Supplying Drinking Water
ABSTRACT. The transportation process causes heat stress in broilers. This research aims to test the effectiveness of the drinking water supply system for broilers during transport to reduce the effects of heat stress caused by the transportation process. Broilers are grouped into four treatments: morning transport with water (T1), morning transport without water (T2), afternoon transport with water (T3), and afternoon transport without water (T4). Results show that broilers consume more water (317.26 ml/bird/hour) during morning than during afternoon transport (61.53 ml/ bird/hour). However, these numbers are estimated to be lower, with water spillage contributing to the high consumption, especially during morning transport. Rectal temperature for birds is lower in T1 and T3 broilers compared to T2 and T4 broilers, although still within normal range. A decrease in hematocrit and blood glucose levels while still at normal levels is observed for all treatment groups. An increase in the ratio of heterophile and lymphocyte (HL ratio) is observed within the normal range except for T1. Percentage of body weight loss is lower on broilers with access to water: T1 (3.5%) and P3 (4.4%) compared to broilers without access to water: T2 (4.0%) and T4 (5.0%) in the same time of transport although not statistically significant (P0.05). Based on weight loss percentage, it can be concluded that water intake during transport has some effectiveness in reducing heat stress with the best results shown on broilers transported in the morning with drinking water..(Mengurangi cekaman panas pada ayam broiler saat transportasi melalui pemberian air minum)ABSTRAK. Proses transportasi menyebabkan ayam mengalami cekaman panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas pemberian air minum selama transportasi dalam upaya mengurangi dampak cekaman panas dan meningkatkan kesejahteraan hewan dengan cara mengurangi dehidrasi dan cekaman yang disebabkan proses transportasi pada ayam broiler. Ayam dikelompokkan menjadi empat perlakuan: transportasi pagi dengan air minum (T1), transportasi pagi tanpa air minum (T2), transportasi siang dengan air minum (T3), dan transportasi pagi tanpa air minum (T4). Hasil menunjukkan ayam lebih banyak mengonsumsi air (317,26 ml/ekor/jam) pada transportasi pagi daripada transportasi siang (61,53 ml/ekor/jam). Namun, nilai ini diestimasi lebih rendah dari yang didapatkan, dengan air yang tumpah berkontribusi terhadap tingginya konsumsi air, terutama pada transportasi pagi hari. Suhu rektal lebih rendah pada broiler T1 dan T3 dibandingkan T2 and T4 namun berada dalam rentang normal. Penurunan kadar glukosa darah dan hematokrit terjadi pada seluruh perlakuan. Peningkatan rasio HL terjadi pada seluruh perlakuan kecuali T1. Persentase penurunan bobot badan lebih rendah pada ayam yang diberi air minum T1 (3,5%) dan T3 (4,4%) dibandingkan dengan ayam yang tidak diberi air minum T2 (4,0%) dan T4 (5,0%) pada waktu transportasi yang sama meskipun secara statistik tidak signifikan (P0,05). Berdasarkan perbedaan persentase penurunan bobot badan, dapat disimpulkan bahwa konsumsi air mengurangi dampak cekaman panas yang dialami ayam broiler selama transportasi dengan hasil terbaik didapatkan pada transportasi pagi dengan air minum
Kecepatan Pertumbuhan Spesifik Bakteri Asam Laktat dengan Ekstrak Kacang Merah (Phaseolus vulgaris L.) sebagai Studi Awal Produksi Flavored Yogurt
ABSTRACT. Bakteri asam laktat merupakan bakteri yang memfermentasi bahan pangan melalui fermentasi karbohidrat menghasilkan sejumlah besar asam laktat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan pertumbuhan spesifik dari bakteri asam laktat (Streptococcus thermophilus FNCC 0040 (ST), Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 (LB), Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 (LA), Lactobacillus casei ALG.2.12 (LC ALG 2.12), Bifidobacterium ATCC 12746 (BF) sebagai studi awal pembuatan flavored yogurt. Dari hasil pengujian, diperoleh penambahan ekstrak kacang merah meningkatkan kecepatan pertumbuhan spesifik isolat bakteri asam laktat dan menurunkan pH medium sehingga, penggunaan ekstrak kacang merah dapat digunakan sebagai prebiotik yang dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat. Kecepatan pertumbuhan spesifik paling tinggi adalah isolat Bifidobacterium dalam medium MRS Broth dengan ekstrak kacang merah.(Specific growth rate of lactic acid bacteria with red bean extract (Phaseolus vulgaris L.) as a preliminary study of flavored yogurt production)ABSTRAK. Lactic acid bacteria are group of bacteria which ferment food carbohydrates and produce lactic acid as the main product of fermentation. This study aimed to determine the specific growth rate of lactic acid bacteria (Streptococcus thermophilus FNCC 0040 (ST), Lactobacillus bulgaricus FNCC 0041 (LB), Lactobacillus acidophilus FNCC 0051 (LA), Lactobacillus casei ALG.2.12 (LC ALG 2.12), Bifidobacterium ATCC 12746 (BF) as a preliminary study for the production of flavored yogurt. In this study, lactic acid bacteria was culture in two different medium, deMan Rogosa Sharpe (MRS) Broth and deMan Rogosa Sharpe (MRS) Broth with red bean extract. Optical density, lactic acid biomass and pH was measured during fermentation processed. The results showed that the addition of red bean extract increased the specific growth rate of lactic acid bacterial isolates and lowering the pH of the medium so that the use of red bean extract can be used as a prebiotic which can increase the growth of lactic acid bacteria. The highest specific growth rate was Bifidobacterium in MRS Broth medium with red bean extract
Daya Tampung Ternak Ruminansia di Daerah Pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan
ABSTRACT. Penelitian bertujuan untuk mengkaji potensi hijauan pakan ternak asal limbah panen pertanian terhadap daya tampung ternak ruminansia di daerah pertanian Kabupaten Tapanuli Selatan. Penelitian dilaksanakan secara eksploratif dengan menggunakan data sekunder. Model analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pakan hijauan di Kabupaten Tapanuli Selatan yaitu 324.834,11 ton BK/tahun dengan jerami padi sebesar 92.735,83 ton BK/tahun, jerami jagung sebesar 20.713,50 ton BK/tahun, jerami kacang kacangan sebesar 706,50 ton BK/tahun, dan limbah daun umbi-umbian sebesar 179,70 ton BK/tahun. Kapasitas tampung hijauan pakan terhadap populasi ternak ruminansia di kabupaten Tapanuli Selatan yaitu sebesar 324.834,11 ST dan memiliki indeks daya dukung (IDD) ternak masuk kategori aman untuk penyediaan pakan ternak. Kesimpulan dari penelitian adalah Kabupaten Tapanuli Selatan dengan hasil limbah panen pertanian dapat mengembangkan populasi ternak ruminansia sampai 321.137,62 ST.(Carrying capacity for ruminant livestock in agriculture area of South Tapanuli district)ABSTRAK. The study aimed to evaluate the potential of carrying capacity of forage in agriculture area of South Tapanuli District for ruminant livestock. Descriptive analyze and secondary data were used for method analyze. The result of this study showed that forages production are 324,834.11 ton DM/year, consist of 20,713.50 ton DM of rice straw, 20,713.50 ton DM of corn stover, 706.50 ton DM of nuts straw and 179,70 ton DM of rhizomes residues. Carrying capacity of ruminant population in South Tapanuli district was 324,834.11 AU. The land carrying capacity index for ruminant development was in safe category. In conclusion, South Tapanuli district was could to develop ruminant population up to 321,137.62 AU with the support of crop by product
Penggunaan Pelepah Kelapa Sawit yang Difermentasi dengan Trichoderma viride sebagai Pakan Basal Kambing Boerka Sedang Tumbuh
ABSTRACT. Pelepah kelapa sawit merupakan limbah padat yang berasal dari perkebunan kelapa sawit memiliki potensi untuk digunakan sebagai pakan basal ternak kambing. Teknologi fermentasi dengan kapang Trichoderma viride dapat menurunkan kandungan serat dan meningkatkan protein juga palatabilitas suatu bahan pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan pelepah kelapa sawit yang difermentasi dengan kapang Trichoderma viride sebagai pakan basal terhadap pertumbuhan kambing Boerka. Digunakan 20 ekor kambing jantan Boerka fase pertumbuhan (rataan bobot badan awal 13,16 kg 1,32) untuk mempelajari pengaruh pemanfaatan pelepah kelapa sawit yang difermentasi dengan kapang Trichoderma viride pakan basal terhadap pertumbuhannya. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas 4 perlakuan pakan dan 5 ulangan. Ternak secara acak dialokasikan ke dalam perlakuan pakan yaitu R0, konsentrat 60% + rumput 40%; R1, konsentrat 60% + rumput 30% + pelepah kelapa sawit hasil fermentasi kapang Trichoderma viride 10%; R2, konsentrat 60% + rumput 20% + pelepah kelapa sawit hasil fermentasi kapang Trichoderma viride 20% dan R3, konsentrat 60% + rumput 10% + pelepah kelapa sawit hasil fermentasi kapang Trichoderma viride 30%. Semua perlakuan pakan memiliki kandungan protein kasar 12% dan energi kasar 4.100 Kkal/kg. Pemberian pakan dilakukan selama 10 minggu sebanyak 3,8% dari bobot badan berdasarkan bahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan konsumsi bahan kering pakan, kecernaan bahan kering, bahan organik, neutral detergent fiber (NDF) dan acid detergent fiber (ADF), pertambahan bobot hidup, efisiensi penggunaan pakan dan retensi nitrogen tidak nyata (P0,05) dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pelepah kelapa sawit hasil fermentasi kapang Trichoderma viride dapat menggantikan komponen rumput sebagai pakan basal hingga 75% pada kambing Boerka sedang tumbuh.(Utilization of oil palm frond that fermented with Trichoderma viride as basal diet for boerka goats in growth phase)ABSTRAK. Oil palm frond is one of oil palm by-products from palm plantations that can be used as a goat basal diet. Fermentation technology with Trichoderma viride can reduce fiber content and increase the protein and palatability of a feedstuff. The aim of this research was to study the effect of using fermented palm fronds with Trichoderma viride as basal feed on the growth of Boerka goats. Twenty male Boerka goats in the growth phase (average initial body weight 13.16 1.32 kg) were used to study the effect of using fermented palm fronds with Trichoderma viride as basal feed for their growth. The experiment was arranged in a completely randomized design consisting of four diet treatments and five replications for each treatment. Goats were randomly allocated into diet treatments, they were: concentrate 60% + grass 40%, concentrate 60% + grass 30% + fermented palm fronds with Trichoderma viride 10%, concentrate 60% + grass 20% + fermented palm fronds with Trichoderma viride 20%, concentrate 60% + grass 10% + fermented palm fronds with Trichoderma viride 30% respectively as R0, R1, R2 and R3. All treatment diets contained 12% crude protein and 4,100 Kcal/kg gross energy. The ration of feed was offered during ten weeks at 3.8% of body weight based on dry matter. This experiment showed that diet treatments did not affect dry matter intake, dry matter (DM), organic matter (OM), neutral detergent fiber (NDF), and acid detergent fiber (ADF) digestibility, average daily gain, feed efficiency, and nitrogen retention (P0.05). It concluded that fermented palm fronds with Trichoderma viride were can replace the grass component as basal feed for up to 75% of growing Boerka goats
Effect of Replacing Rice Bran with Aloe vera and Sunflower in Fermented Feed on Carcass, Internal Organs, and Abdominal Fat of Broiler Chickens
ABSTRACT. The purpose of this study was to examine replacement rice bran (RB) with the mixture of Aloe vera flour (AVF) + sunflower seed flour (SFS) within the fermented feed of which with the addition of other feed ingredients used to replace 25% of the commercial diet on carcass yields, internal organs, and abdominal fat of broilers. The study was conducted at the Field Laboratory of Animal Husbandry, the Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University. The study used 100 chicks strain Cobb applied in a Completely Randomized Design with sub-samplings consisting of 5 treatments, 4 replicates, and 2 sub-samples. The treatments were 100% CP511 (control+) and 4 FF-based diets: FF3% RB (control-), FF3% AVF, FF3% SFS, and FF3% AVF + 3% SFS. The results of this study showed that replacing rice bran with AVS and SFS either exclusively or in combination in equal amount 3% each did not significantly affect (P0.05) the percentages of the carcass, cut-ups, internal organs, and abdominal fat of broilers. In conclusion, either Aloe vera or sunflower seed flour could be incorporated 3% each in a single source or in combination to replace rice bran within the fermented feed. without adverse effects on carcass yields and internal organs as well as abdominal fats of broilers.(Pengaruh penggantian dedak dengan tepung lidah buaya dan biji bunga matahari dalam bahan pakan fermentasi terhadap berat karkas, organ dalam dan lemak abdomen ayam broiler)ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh penggantian dedak padi (DP) dengan campuran tepung lidah buaya (TLB) dan biji bunga matahari (TBM) dalam bahan pakan fermentasi yang tersusun dan beberapa bahan pakan lain yang digunakan untuk menggantikan 25% ransum komersil terhadap berat dan persentase karkas, organ dalam, dan lemak abdomen ayam broiler. Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP), Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Penelitian menggunakan 100 ekor anak ayam broiler strain Cobb. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap sub sampel terdiri dari 5 perlakuan, 4 ulangan, dan 2 sub sampel. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan TLB yang dicampur dengan TBM masing-masing sebanyak 3% tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap berat dan persentase karkas, organ dalam, dan lemak abdomen ayam broiler. Kesimpulannya, TLB dan TBM masing-masing 3% ataupun campurannya 6% dapat digunakan untuk menggantikan dedak padi dalam bahan pakan fermentasi
Perbedaan Keberhasilan Inseminasi Buatan Menggunakan Metode Dosis Tunggal dan Ganda pada Sapi Madura
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi keberhasilan IB menggunakan metode dosis tunggal dan ganda pada sapi Madura. Penelitian menggunakan 25 ekor dengan metode IB dosis tunggal dan 25 ekor dengan metode IB dosis ganda. IB menggunakan semen beku sapi Madura yang diproduksi oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang. Teknik deposisi semen adalah 4+ (deep insemination) yaitu pada posisi cornua uteri selanjutnya dilakukan IB dosis tunggal (jam ke-8 setelah menunjukkan tanda-tanda berahi) dan IB dosis ganda (jam ke-2 dan ke-8 setelah menunjukkan tanda-tanda berahi). Akseptor diinjeksi dengan Bio ATP+ merek Rheinbio 10 ml per ekor dan pemberian pakan konsentrat merek Novo NC62 1 kg per ekor per hari selama tujuh hari setelah IB. Variabel penelitian meliputi Non Return Rate (NRR), Conception Rate (CR), dan Service Per Conception (S/C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IB dosis tunggal menghasilkan nilai NRR 1 sebesar 92%, NRR 2 sebesar 80%, CR sebesar 60%, dan S/C sebesar 1,71. Sedangkan pada IB dosis ganda menghasilkan nilai NRR 1 sebesar 92%, NRR 2 sebesar 84%, CR sebesar 68%, dan S/C sebesar 1,53. Kesimpulan penelitian adalah nilai NRR, CR, dan S/C pada sapi Madura dengan IB dosis ganda lebih baik daripada dengan IB dosis tunggal, dan IB dosis ganda dapat meningkatkan conception rate pada sapi Madura.(The success different of artificial insemination using single and double dosage methodof Madura cows)ABSTRAK. This study aims to evaluate the success of AI using methods single and double dosage plus in Madura cows. The study used 25 Madura cow using the AI method single dosage and 25 Madura cow using the AI method double dosage. AI uses frozen semen from Madura cows produced by the Singosari Center for Artificial Insemination. The semen deposition technique is 4+ (deep insemination) in the cornua uteri position then AI implemented with a single dosage (8th hours after showing signs of estrus) and double dosage (2nd and 8th hours after showing signs of estrus). The acceptors were injected with 10 ml of "Rheinbio'' brand Bio ATP+ per cow and 1 kg of concentrate "Novo NC62" brand per cow per day was given for seven days after IB. Research variables include Non Return Rate (NRR), Conception Rate (CR), and Service Per Conception (S/C). The results showed that AI of single dosage had value NRR 1 of 92%, NRR 2 of 80%, CR of 60%, and S/C of 1.71. While AI of double dosage had value NRR 1 of 92%, NRR 2 of 84%, CR of 68%, and S/C of 1.53. In conclusion, the value of NRR, CR, and S/C in Madura cows with AI double dosage was better than AI single dosage, and AI double dosage could increase the conception rate in Madura cows
Konsentrasi Superoxydase Dismutase (SOD) dan Malondialdehyda (MDA) Semen Cair Kambing Boer selama Pendinginan Menggunakan Pengencer Air Kelapa
ABSTRACT. Lama simpan semen cair yang berbahan dasar pengencer air kelapa muda varietas kelapa hijau (C.Viridis) hanya mampu bertahan selama 3 hari pada suhu 50C akibat peroksidasi lipid yang menyebabkan kerusakan membran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan pengencer air kelapa terhadap konsentrasi Superoxydase Dismutase (SOD) dan kadar Malondialdehyda (MDA) semen cair kambing Boer selama penyimpanan dingin. Durasi penelitian satu bulan bertempat di Laboratorium Fakultas Kedokteran dan Laboratorium Reproduksi Ternak, Unit Sumber Sekar, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang. Metode penelitian yaitu eksperimen. Dikoleksi dari semen 3 pejantan Boer umur 3-5 tahun interval 1 minggu 1 kali menggunakan Vagina Buatan. Air kelapa muda varietas viridis umur 5-7 bulan serta tris aminomethane sebagai kontrol. Rancangan penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 perlakuan yaitu P0 (tris aminomethane + 10% Kuning Telur) dan P1 (air kelapa muda varietas viridis + 10% Kuning Telur) masing-masing diulang 3 kali. Data dianalisis dengan analisis Ragam (Anova) dengan software Genstat 18. Variabelnya yaitu konsentrasi SOD dan MDA. Hasil penelitian diperoleh untuk SOD P0 H1= 35,842 1,82 ; H3= 33,342 3,50 dan H8= 23,729 9,02 dalam ng/100 ug. Untuk P1 diperoleh rerata H1 =36,6762,19 ; H3= 36,5272,20 ; H8= 24,830 8,93 dalam ng/100ug. Kadar MDA P0 H1= 1,0720,2 ; H3= 1,218 0,4 dan H8= 1,439 0,3 dalam ng/100ug. Hasil P1 H1= 0,941 0,0 ; H3= 1,160 0,4 dan H8= 1,370 0,3. Hasil Anova Perlakuan tidak berpengaruh Nyata (P0,05) disemua hari simpan, tetapi konsentrasi SOD terbaik di P1 dibandingkan P0. Kesimpulan 1. Penggunaan air kelapa sebagai pengencer semen cair kambing Boer selama pendinginan tidak berdampak pada konsentrasi SOD dan MDA. 2. Peningkatan konsentrasi MDA dan Penurunan konsentrasi SOD disebabkan karena, rendahnya antioksidant flavonoid dan vitamin C.(Concentration of Superoxydase Dismutase (SOD) and Malondialdehyda (MDA) Goat BoerLiquid Semen during Cooling using Coconut Water Diluent)ABSTRAK. The shelf life of young coconut water thinner viridis for liquid semen quality Boer goat is only up to 3 days, because there is damage due to lipid peroxidation which causes damage to the spermatozoa membrane. This study aims to analyze the effect of using coconut water thinner on the concentration of Superoxydase Dismutase (SOD) and levels of Malondialdehyda in Boer goat liquid semen during cold storage. The duration of the research is one month at the Laboratory of the Faculty of Medicine and the Laboratory of Animal Reproduction, Sumber Sekar Unit, Faculty of Animal Husbandry, Brawijaya University, Malang. The research method is experimental. Collected from the semen of 3 Boer males aged 3-5 years 1 week interval using Artificial Vagina. Young viridis coconut water aged 5-7 months and tris aminomethane as a control. The research design was designed using a Randomized Block Design (RBD) with 2 treatments, namely T0 (tris aminomethane + 10% EY) and T1 (viridis young coconut water + 10% EY) each repeated 3 times. Data were analyzed by analysis of variance (Anova) with Genstat 18 software. The variables were SOD and MDA concentrations. The results obtained for SOD T0 D1 = 35.842 1.82; D3 = 33.342 3.50 and D8 = 23.729 9.02 in ng / 100 ug. For T1, the mean D1 = 36.676 2.19; D3 = 36,527 2.20; D8 = 24,830 8.93 in ng / 100ug. MDA levels T0 D1 = 1.072 0.2; D3 = 1.218 0.4 and D8 = 1.439 0.3 in ng / 100ug. Result of T1 H1 = 0.941 0.0; D3 = 1.160 0.4 and D8 = 1.370 0.3. The results of the ANOVA treatment had no significant effect (P 0.05) on all storage days, but the best SOD concentration was in T1 compared to T0. The conclusion is that 1. The use of coconut water as a liquid Boer goat semen thinner during cooling has no impact on the SOD and MDA concentrations. 2. Increased MDA concentrations and decreased SOD concentrations were due to low flavonoid and vitamin C antioxidants
Study of Synbiotic Yoghurt Fortification with Red Dragon Fruit Peel Extract (Hylocereus polyrhizus) and Stevia Against Emulsion Properties and Color
ABSTRACT. The research aimed to study the emulsion properties of the fortified synbiotic yoghurt fortification red dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and stevia as sweeteners. The research material is probiotic yoghurt, synbiotic fortified with red dragon fruit skin extract (Hylocereus polyrhizus) 20% made from 10% skim milk and yoghurt starter containing Lactobacillus bulgaricus and Streptococcus thermophilus (1:1), and the addition of 0.5% stevia to synbiotic. The research method was an experimental completely randomized design with treatment T1 = probiotic yoghurt, T2 = synbiotic yoghurt fortified red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) peel extract 20% and T3 = T2 + 0.5% stevia, with 3 replications (v/v). . The variables observed were emulsion activity, emulsion stability, turbidity, whiteness index (WI) and yellowness index (YI). The results showed that fortification of evaporated red dragon fruit peel extract (Hylocereus polyrhizus) and stevia sweetener gave a significant difference (P0.05) to the average emulsion activity, a very significant difference to the average of whiteness index and yellowish index (P0.01) and did not give a significant difference (P0.05) on the average of emulsion stability and turbidity of synbiotic yoghurt. It was concluded that 20% fortification of red dragon fruit skin (Hylocereus polyrhizus) and 0.5% stevia sweetener could improve the emulsion properties of synbiotic yoghurt.(Kajian yoghurt sinbiotik fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan stevia terhadap sifat emulsi dan warna)ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah mempelajari profil emulsi dan warna yoghurt sinbiotik fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan bahan pemanis stevia. Materi penelitian adalah yoghurt probiotik, sinbiotik yang difortifikasi dengan ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) 20 % yang dibuat dari susu skim 10% dan starter yoghurt yang mengandung Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus (1:1), serta penambahan stevia 0,5% pada yoghurt sinbiotik. Metode penelitian adalah percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan T1= yoghurt probiotik, T2= yoghurt sinbiotik fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) 20% dan T3 = T2 + 0,5% stevia, dengan 3 ulangan (v/v). Variabel yang diamati diantaranya aktivitas emulsi, stabilitas emulsi, turbiditas, serta warna ditinjau dari indeks keputihan (WI) dan indeks kekuningan (YI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fortifikasi ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) evaporasi dan bahan pemanis stevia memberikan perbedaan yang nyata (P0,05) terhadap rata-rata aktivitas emulsi, perbedaan yang sangat nyata terhadap rata-rata indeks keputihan dan indeks kekuningan (P0,01) dan tidak memberikan perbedaan nyata (P0,05) terhadap rata-rata stabilitas emulsi dan turbiditas yoghurt sinbiotik. Disimpulkan bahwa fortifikasi kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) 20% dan bahan pemanis stevia 0,5% dapat memperbaiki sifat emulsi yoghurt sinbiotik