Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Gambaran Ultrasonografi Corpus Luteum Sapi Aceh Penderita Endometritis setelah Terapi Lugol dan Prostaglandin F2 Alfa (PGF2) secara Intra Uteri
ABSTRACT. Endometritis merupakan peradangan pada endometrium yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi ovarium. Biasanya sapi yang mengalami endometritis memiliki Corpus luteum (CL) di ovarium. Pemberian terapi yang sesuai dan efektif sangat penting dalam penanganan kasus endometritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan diameter CL pada sapi Aceh penderita endometritis setelah terapi lugol 2% dan PGF2 secara intra uteri menggunakan teknik ultrasonografi. Enam ekor sapi Aceh betina (n=6) yang telah didiagnosa menderita endometritis dengan kisaran umur 5-10 tahun, dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. Kelompok 1 (K1, n=3) diberi perlakuan dengan terapi larutan lugol 2% sebanyak 50 ml/ekor secara i.u. Kelompok 2 (K2, n=3) diberi perlakuan dengan terapi lugol 2% 50 ml ditambah PGF2 12,5 mg/ekor secara i.u. Pemeriksaan dilakukan setelah terapi selama 24 hari. Hasil analisis statistik penurunan diameter CL tidak terdapat perbedaan nyata pada kedua kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa terapi sapi-sapi Aceh endometritis menggunakan kombinasi lugol 2% dan PGF2 kurang efektif terhadap penyembuhan berdasarkan gambaran ultrasonografi CL pada ovarium sapi Aceh endometritis.(Ultrasonography of corpus luteum endometritis Aceh cows after intra uterine therapyof lugol and PGF2)ABSTRAK. Endometritis is an inflammation in the endometrium that can resulted from disturbance of normal ovarian function. Giving appropriate therapy and effective is very important in handling case endometritis. Usually cows that experience endometritis has Corpus luteum (CL) in the ovary. This research aim was to know the changes in diameter of CL at Aceh cows sufferer endometritis after therapy lugol 2% and PGF2 with intra-uterine infusion using ultrasound technique. Six Aceh cow females (n=6) who have been diagnosed suffer from endometritis with range age 5 to 10 years, divided in to 2 groups of treatment. Group 1 (K1, n=3) was given treatment with therapy solution lugol 2% as much as 50 ml/head in a manner i.u. Group 2 (K2, n=3) was given treatment with therapy lugol 2% 50 ml plus PGF2 12,5 mg/head in a manner i.u. Examination done after therapy for 24 days. The results of the statistical analysis showed no significant differences in the two treatment groups. Could be concluded that treatment endometritis Aceh cows use combination lugol 2% and PGF2 is lacking effective to healing based on picture ultrasonography CL on ovary endometritis Aceh cows
Genetic Evaluation and Selection Response of Birth Weight and Weaning Weight in Male Saburai Goats
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi parameter genetik (heritabilitas, korelasi genetik) dan nilai pemuliaan serta menggunakan parameter-parameter tersebut untuk mengestimasi respon seleksi dan respon seleksi sifat berkorelasi untuk bobot lahir dan bobot sapih kambing Saburai jantan. Data bobot lahir dan bobot sapih 90 cempe jantan kambing Saburai (data dari tahun 2017-2018) yang dihasilkan dari sembilan ekor pejantan dan 45 ekor induk digunakan dalam penelitian ini. Heritabilitas, korelasi genetik dan fenotipik diestimasi menggunakan data saudara tiri sebapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas estimasi untuk bobot lahir dan bobot sapih adalah termasuk kategori sedang (masing-masing 0,300,08 dan 0,220,07). Korelasi genetik antara bobot lahir dan bobot sapih dikategorikan sebagai positif tinggi (0,420,06), sedangkan korelasi fenotip antara kedua sifat ini adalah 0,10 (rendah) dan korelasi lingkungan 0,56 (tinggi). Respon seleksi meningkat dengan meningkatnya intensitas seleksi, berkisar antara 0,11 kg sampai 0,28 kg untuk bobot lahir dan antara 0,60 kg sampai 1,54 kg untuk bobot sapih, pada proporsi seleksi antara 50% sampai 5%. Respon seleksi sifat-sifat berkorelasi yang diharapkan terhadap seleksi bobot lahir secara langsung berdampak pada bobot sapih berkisar antara 0,29 kg hingga 0,75 kg pada proporsi seleksi 50% sampai 5%. Heritabilitas sedang dan korelasi genetik yang positif antara bobot lahir dan bobot sapih menunjukkan bahwa seleksi untuk salah satu dari dua sifat ini bisa berhasil dan peningkatan bobot lahir akan meningkatkan bobot sapih kambing Saburai jantan juga. Seleksi tidak langsung yaitu seleksi bobot lahir akan berdampak pada respon seleksi bobot sapih yang lebih rendah dibandingkan dengan seleksi langsung terhadap bobot sapih.(Evaluasi genetik dan respon seleksi bobot lahir dan bobot sapih pada kambing Saburai jantan)ABSTRAK. This research aimed to estimate genetic parameters (heritability, genetic correlation) and breeding value and used these parameters to estimate selection responses and correlated response to selection of birth and weaning weight of male Saburai goats. Data of birth and weaning weight of ninety male Saburai kids (2017-2018) generated from nine bucks and 45 does were used in this study. Heritability, genetic and phenotypic correlation were estimated using paternal half-sib data. The results showed that heritability estimates for birth and weaning weight were moderate category (0.300.08 and 0.220.07, respectively). Genetic correlation between birth and weaning weight was categorized as a high positive value (0.420.06), while phenotype correlations between the two traits were 0.10 (low), and environmental correlations were 0.56 (high). Responses to selection increased with increasing selection intensity ranging from 0.11 kg to 0.28 kg and 0.60 kg to 1.54 kg for birth and weaning weight, respectively, at 50% to 5% selection proportion. The response of the selection of correlated traits expected to direct birth weight selection impacted on weaning weight ranged from 0.29 kg to 0.75 kg at a selection proportion of 50% to 5%. The moderate heritability and positive genetic correlation between birth and weaning weight suggested that selection for any of these two traits should be successful and improving birth weight will improve the weaning weight of male Saburai goats as well. However, indirect selection (birth weight selection) will impact on the lower response for weaning weight compared to direct selection for weaning weight
Respon Superovulasi Sapi Persilangan Belgian Blue dengan Metode yang Berbeda
ABSTRACT. Superovulasi merupakan suatu metode pemanfaatan induk betina unggul untuk menghasilkan embrio sebanyak-banyaknya untuk kegiatan transfer embrio. Tujuan penelitian ini membandingkan 2 teknik superovulasi yang berbeda pada sapi persilangan Belgian Blue. Penelitian dilakukan di Balai Embrio Ternak Cipelang Bogor dengan menggunakan 24 ekor sapi persilangan Belgian Blue dengan umur 2-3 tahun, masing-masing perlakuan 12 ekor. Penelitian dilakukan secara eksperimen dengan dua perlakuan, P1 = Superovulasi menggunakan penyuntikan FSH selama 3 hari pada pagi dan sore (metode konvensional) dengan dosis 400 mg FSH dalam 20 ml pelarut dan P2 = Superovulasi menggunakan penyuntikan tunggal (satu kali) FSH dengan dosis 400 mg FSH dalam 3 ml pelarut . Parameter pada penelitian ini adalah Jumlah Corpus luteum (CL), respon rate, perolehan embrio, kualitas embrio, recovery rate, dan tingkat fertilisasi. Data yang diperoleh diuji dengan uji T tidak berpasangan. Hasil analisa data menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P0,05) pada jumlah CL P1 : 8,42+3,06 dan P2 : 6,08+4,74; Respon rate P1 : 100% dan P2 : 75%; Total perolehan embrio P1 : 6,08+2,64 embrio dan P2 : 4,45+4,01 embrio; Embrio recovery rate P1 : 70,37+9,18% dan P2 : 61,33+12,12%; Embrio Layak Transfer P1 : 3,83+2,92 embrio dan P2 : 2,73+2,28 embrio; dan berbeda nyata (P0,05) pada rataan fertilisasi P1 : 79,10% dan P2 : 95,26%. Kesimpulan penelitian ini adalah teknik superovulasi penyuntikan tunggal FSH secara subkutan memberikan efek superovulasi dan menghasilkan embrio dengan jumlah dan kualitas yang tidak berbeda nyata dengan teknik superovulasi konvensional.(Superovulation Responses of Belgian Blue Crossbreed Cattle Treated with Different Superovulation Methods) ABSTRAK. Superovulation is a technique for producing a large number of embryos for embryo transfer using a genetically superior female. The purpose of this research was to compare two alternative methods of superovulation in Belgian Blue crossbreed cattle. The study used 24 Belgian Blue crossbred cattle aged 2-3 years, including 12 cows per treatment, at the National Livestock Embryo Center of Cipelang in Bogor. The research was done in an experimental setting using two different treatments, P1 = Superovulation using twice daily FSH injections for three days at a dose of 400 mg FSH dissolved in 20 ml of saline, and P2 = Superovulation using FSH single injections at a dose of 400 mg FSH dissolved in 3 ml of saline. The parameters in this study were the number of corpus luteum (CL), response rate, total number of embryo/ova collection, embryo quality, recovery rate, and fertilization rate. The data obtained were tested by unpaired T test. The results of data analysis showed results that were not significantly different (P0.05) on the number of CL P1 : 8.42+3.06 and P2 : 6.08+4.74; Response rate P1 : 100% and P2 : 75%; Total number of embryos collection P1 : 6.08+2.64 embryos and P2 : 4.45+4.01 embryos; Embryo recovery rate P1 : 70.37+9.18% and P2 : 61.33+12.12%; Transferable Embryos P1 : 3.83+2.92 embryos and P2 : 2.73+2.28 embryos; and significantly different (P0.05) on fertilization rate P1 : 79.10% and P2 : 95.26%. The conclusion of this study show that the subcutaneous FSH single injection technique induces superovulation and produces embryos that are similar in number and quality to those produced by conventional superovulation techniques
Histologi, Histomorfometri, dan Histokimia Usus Ayam Buras (Gallus gallus domesticus) Selama Periode Sebelum dan Setelah Menetas
ABSTRACT. Usus adalah salah satu organ pencernaan yang berperan penting pada proses absorpsi nutrisi sebagai sumber energi. Penelitian ini bertujuan mengetahui histologi, histomorfometri dan histokimia sebaran glikogen pada usus ayam buras (Gallus gallus domesticus) sebelum dan setelah menetas menggunakan pewarnaan Haematoksilin-Eosin (HE) dan pewarnaan Periodic Acid Schiff (PAS). Sampel penelitian terdiri atas empat kelompok tingkat umur berbeda, setiap kelompok berjumlah enam usus ayam. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan nyata (P0,05) morfometri usus ayam buras secara makroskopis. Secara histologis pada setiap perkembangan sudah terlihat lapisan usus yang terdiri atas tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan serosa. Pada tunika mukosa, didapati tiga lamina yaitu lamina epitelia, propria, dan muskularis mukosa yang mulai teramati pada masa inkubasi hari ke-14. Lamina epitelia berupa sel epitel silindris selapis dengan mikrovili, lamina propria berupa jaringan ikat, dan lamina muskularis mukosa berupa berkas otot polos. Pada tunika mukosa dijumpai adanya sel Goblet dan kripta Liberkuhn yang teramati pada masa inkubasi hari ke-20 dan setelah menetas hari ke-7. Hasil histomorfometri ketebalan lapisan usus, panjang vili, lebar vili, dan diameter lumen usus ayam buras pada masa inkubasi dan setelah menetas menunjukkan perbedaan nyata (P0,05). Temuan reaksi positif kuat terhadap pewarnaan PAS dijumpai pada masa inkubasi hari ke-20 dan setelah menetas hari ke-7 dan positif lemah pada masa inkubasi hari ke-14. Dapat disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara perkembangan usus ayam secara makroskopis, histomorfometri ketebalan tunika dan vili, serta sebaran reaksi positif kuat terhadap pewarnaan PAS pada masa inkubasi hari ke-20 dan setelah menetas hari ke-7. (Histological, histomorphometrical, and histochemical of intestine on native chicken (Gallus gallus domesticus) during pre and posthatch period) ABSTRAK. The intestines are one of the digestive organ that play an important role in the nutrient absorption process as an energy source. The aim of this study was to determine the histomorphometric and histochemical of glycogen distribution in the intestines of native chickens pre and post hatching periods using Haematoxylin-Eosin (HE) staining and Periodic Acid Schiff (PAS) staining. The samples of this study was consisted of four different age groups, each group consisting of six chicken intestines. The results showed a significant difference (P0.05) on macroscopic morphometry of the native chickens intestine. Histologically in each group has been found the intestines consisting of mucosa, submucous, muscularis, and serous tunic. In the mucosal tunic, there were three layers; ephitelial, propria, and muscularial mucous can be observed during the 14th day of incubation period. Ephitelial layer in the form of cylindrical epithelial cells with microvilli, proprial layer in the form of connective tissue, and layer of the muscularis mucosa form smooth muscle thread. In the mucosal tunic, there was Goblet cells and Liberkuhn crypts that can be observed during the 20th day incubation period and 7th day post hatch. Histomorphometry results of intestinal lining thickness, villi length, villi width, and lumen diameter of native chicken intestine during incubation and post hatching showed significant differences (P0.05). The findings of a strong positive reaction to the staining of PAS were found on the incubation period of the 20th day and post hatching the 7th day and positively weak on the incubation period of the 14th day. It can be concluded that there is a correlation between macroscopic development of chicken intestine, histomorphometric of tunica and villous thickness, as well as the distribution of strong positive reactions to the staining of PAS during the incubation period of the 20th day and post hatching the 7th day
Pengaruh Pemberian Konsentrat Fermentasi dan Silase Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Berat Badan, dan Kimia Darah Domba Ekor Tipis
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian konsentrat fermentasi dan silase eceng gondok (Eichhornia crassipes) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, dan kimia darah pada domba ekor tipis. Sebanyak 16 ekor domba ekor tipis digunakan dalam penelitian ini. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap pola faktorial terdiri dari 2 faktor yaitu: faktor pakan yang terdiri atas P0 (pakan basal 100%), P1 (pakan basal 80% dan konsentrat fermentasi 20%), P2 (pakan basal 70%, konsentrat fermentasi 10%, dan silase eceng gondok 20%), P3 (pakan basal 60%, konsentrat fermentasi, 10%, dan silase eceng gondok 30%) dan faktor jenis kelamin (jantan dan betina). Parameter penelitian yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan berat badan, kadar protein, glukosa, dan kolesterol dalam darah. Data yang diperoleh dianalisa dengan analisis sidik ragam, jika diperoleh hasil yang berbeda akan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan jenis kelamin berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan, dan kadar kolesterol darah domba ekor tipis. Perlakuan pakan berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap pertambahan berat badan, tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap kimia darah. Kesimpulannya penggunaan silase eceng gondok sebagai substitusi pakan basal dengan imbangan yang berbeda mampu meningkatkan konsumsi pakan, berat badan harian domba ekor tipis, dan tidak memengaruhi kesehatan ternak jika ditinjau dari komponen kimia darah yang terdiri atas dan kadar glukosa, protein, dan kolesterol darah. (Effect of fermentation concentrate and water hyacinth (Eichhornia crassipes) silage on feed consumption, weight gain, and blood chemistry of thin-tailed sheep) ABSTRAK. This study aimed to determine the effect of fermented concentrate and water hyacinth silage (Eichhornia crassipes) on feed consumption, weight gain, and blood chemistry of thin-tailed sheep. A total of 16 thin tailed-sheep were used in this study. The research design used was a completely randomized design with a factorial pattern consisting of 2 factors, namely: feed factor consisting of P0 (100% basal feed), P1 (80% basal feed and 20% fermented concentrate), P2 (70% basal feed, 10% concentrate fermentation, and 20% water hyacinth silage), P3 (60% basal feed, 10% fermented concentrate, and 30% water hyacinth silage) and sex factors (male and female). The research parameters observed were feed consumption, weight gain, protein, glucose, and cholesterol levels in the blood. The data obtained were analyzed by analysis of variance and continued with Duncan's Multiple Range Test. The results showed that sex differences had a very significant effect (P0.01) on feed consumption, weight gain, and blood cholesterol levels of thin-tailed sheep. Feed treatment had a very significant effect (P0.01) on weight gain but did not affect blood chemistry. In conclusion, the use of water hyacinth silage as a substitute for basal feed was able to increase feed consumption, a daily body weight of thin-tailed sheep, and did not affect livestock health when viewed from the blood chemistry components consisting of glucose, protein, and cholesterol levels
Produksi Susu dan Komposisi Susu Sapi Friesian Holstein yang Mendapat Suplemen Tepung Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb)
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji produksi susu dan komposisi susu sapi Friesian Holstein (FH) yang mendapat suplemen tepung temulawak (Curcuma Xanthorriza Roxb). Materi penelitian menggunakan sapi FH berjumlah 12 ekor. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 2 perlakuan dan 6 kelompok. Perlakuannya adalah T0 = pakan basal (kontrol), T1 = pakan basal + suplemen temulawak (1% kebutuhan BK). Parameter yang diamati yaitu konsumsi bahan kering, produksi susu dan komposisi susu. Data yang diperoleh di analisis menggunakan sidik ragam, untuk data komposisi susu dilakukan uji lanjut dengan Paired T test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen temulawak tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi BK, produksi susu dan komposisi susu (laktosa, lemak dan protein). Konsumsi BK T0 sebesar 18,06 kgBK, T1 sebesar 18,15 kgBK, rataan produksi susu T0 sebesar 6,49 liter/hari, T1 sebesar 6,30 liter/hari dan komposisi susu T0 dan T1 secara berturut pada laktosa sebesar 4,58 dan 4,56, kandungan lemak secara berurutan 3,65 dan 3,78 serta kandungan protein secara berurutan sebesar 3,16 dan 3,16. Disimpulkan bahwa pemberian suplemen temulawak 1% kebutuhan BK belum mampu meningkatkan konsumsi bahan kering, produksi dan komposisi susu sapi perah laktasi.(Milk production and milk composition of friesian holstein cows fed with temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) supplement) ABSTRACT. This study aims to examine the milk production and milk composition of friesian holstein cows that fed with temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) supplement. The material of research using 12 FH cows. The study used a randomized block design with 2 treatments and 6 groups. The treatments were T0 = basal feed (control), T1 = basal feed + Curcuma supplement (1% dry matter (DM)). The parameters observed were DM consumption, milk production and milk composition. Data obtained were analyzed using ANOVA, for milk composition data were analyzed using Paired T test. The results showed that the administration of temulawak supplement was not proven significantly towards the dry matter intake, milk production and milk composition (lactose, fat and protein). Dry matter intake T0 group was 18,06 kg, dry matter intake T1 group was 18,15 kg, the average milk production T0 group was 6,49 liters / day, milk production T1 group was 6,30 liters / day. Lactose concentration of group T0 and T1 was 4, 58% and 4,56%, fat concentration of group T0 and T1 was 3,65% and 3,78% and protein concentration of group T0 and T1 was 3,16% and 3,16%. In conclusion, supplements of curcumma 1% DM were not alter dry matter intake, milk production and milk composition
Analisis Spasial Kesesuaian Lahan Sapi Aceh dan Padang Penggembalaan di Kabupaten Aceh Besar
ABSTRAK. Analisis kesesuaian lahan terutama bagi ternak ruminansia erat kaitannya dengan penetapan kawasan penyebaran dan pengembangan peternakan. Kabupaten Aceh Besar memiliki salah satu komoditi unggulan yaitu plasma nutfah sapi Aceh sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan dengan cara mempertahankan populasi ternak hidup. Tujuan penelitian ini adalah menilai kesesuaian fisik lingkungan untuk pengembangan peternakan sapi Aceh yang digembalakan di padang penggembalaan. Penelitian ini telah dilaksanakan di wilayah Kabupaten Aceh Besar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan penerapan sistem informasi geografis (SIG). Pengolahan data menggunakan aplikasi QGIS 3.10.14 dan analisis data geospasial yang disusun sesuai dengan standar kesesuaian lahan FAO berdasarkan parameter kesesuaian jenis tanah, ketinggian, kemiringan, iklim, curah hujan, suhu dan ph tanah yang dapat diamati dan diukur berdasarkan kebutuhan fisik lingkungan sapi Aceh pada padang penggembalaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua wilayah 95,26% dari total luas wilayah kajian sesuai untuk kawasan peternakan sapi Aceh pada padang penggembalaan, dan hanya 4,74% lahan yang tidak sesuai untuk kawasan peternakan sapi Aceh pada padang penggembalaan. (Spatial analysis of land and pasture suitability for Aceh cattle in Aceh Besar district) ABSTRACT. Analysis of land suitability for livestock is strongly related to distribution and livestock development Aceh Besar District has one of the leading commodities, namely Aceh cow germplasm as a wealth of genetic resources of Indonesian local livestock that need to be protected and preserved by keeping the number of livestock population the objective of this study is to assess the physical suitability of the environment for the development of Aceh Cows that are grazed in pastures. This research was conducted in the Aceh Besar District area. The method applied in this study was description analysis methods by evaluating the area topography to determine the land suitability for cattle and pasture and its potency as a tool to determine land suitability for livestock production. The focus of the study was based on application of a GIS geographic information system in handling spatial data on soil types, altitude, slope, climate, rainfall, temperature, and soil pH in accordance with FAO land suitability standards. All data were analyzed by using QGIS 3.10.14 software. The results showed that almost all areas of 95.26% of the total area of the study area were suitable for the Aceh cattle breeding area in grazing areas, and only 4.74% of the land was unsuitable for the Aceh cattle breeding area in pastures
Evaluasi Ukuran-Ukuran Tubuh pada Sapi Belgian Blue, Peranakan Ongole dan Silangannya
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan menganalisis ukuran-ukuran tubuh pada sapi Belgian Blue, Peranakan Ongole dan silangannya. Sapi yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 30 ekor terdiri atas 7 ekor sapi Belgian Blue (BB), 8 ekor sapi Peranakan Ongole (PO) dan 15 ekor silangannya (BBxPO) yang dipelihara di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang Bogor, Indonesia. Peubah ukuran-ukuran tubuh yang diamati adalah panjang badan, tinggi pundak, dalam dada, lebar dada, lingkar dada, tinggi pinggul dan lebar pinggul, sedangkan indeksasi yang dihitung adalah weight, height slope, length index 1, length index 2, width slope, depth index dan foreleg length. Data ukuran-ukuran tubuh pada setiap bangsa sapi dikoreksi berdasarkan umur dan jenis kelamin. Selanjutnya data ukuran-ukuran tubuh dan nilai indeksasi dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan program SAS 9.4. Analisis Komponen Utama (AKU) dengan pendekatan biplot dianalisis menggunakan program XLSTAT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran-ukuran tubuh dan indeksasi pada setiap bangsa sapi berbeda (P0.05). Hasil analisis komponen utama memperlihatkan bahwa ketiga bangsa sapi yang dianalisis secara jelas terpisah baik sapi BB, PO dan silangannya. Bangsa sapi BB dan silangannya (BBPO) memiliki karakter peubah spesifik dan menjadi penciri pada setiap bangsa sapi. Dengan demikian arah seleksi dapat mengacu pada karakter yang diinginkan sebagai sapi penghasil tipe pedaging. Evaluation of the Body Measurements on Belgian Blue, Peranakan Ongole and Its Crossbreed Cattle ABSTRACT. This study was aimed to evaluate and analyze body measurements in Belgian Blue (BB), Ongole Breed (PO) and its crossbreed (BBPO) cattle. The number of cattle used in the study were 30 heads, with 7 heads of Belgian Blue cattle, 8 heads of Ongole breed cattle, and 15 heads of its crossbreed cattle were kept in the Animal Embryo Centre (BET) Cipelang Bogor. The variables observed were body length, withers height, chest depth, chest width, girth depth, rump height, and hip-width and the calculated indexations were weight, height slope, length index 1, length index 2, width slope, depth index, and foreleg length. The body measurement data on each breed of cattle was corrected by age and sex. Furthermore, analysis of body measurement and indexing was using Analysis of variance (ANOVA) with SAS program 9.4. As for Principal Component Analysis (PCA) with a biplot approach analyzed using XLStat program. The result showed that body measurement and indexing on each breed of cattle was different (P0.05). The result of principal component analysis (PCA) suggested that the three breeds analyzed to separate the BB, PO, and it's a crossbreed. The BB and its crossbreed had specific character and became an identifying mark in every breed of cattle. Thus, the direction of the selection can refer to the qualities desired as producing beef cattle type
Identifikasi Sifat Kuantitatif dan Sifat Kualitatif pada Sapi Aceh Dalam Rangka Pelestarian Sumber Daya Genetik Ternak Lokal
ABSTRACT. Sapi Aceh merupakan sumber daya genetik ternak lokal dan merupakan rumpun sapi lokal Indonesia yang tersebar di Provinsi Aceh, dan telah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian nomor: 2907/Kpts/OT.140/6/2011 pada 17 Juni 2011. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keragaman sapi Aceh di Kabupaten Aceh Besar saat ini dengan SNI 7651.3:2013. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari April 2020. Jumlah sampel sapi Aceh jantan berumur 24-36 bulan sebanyak 62 ekor dan 106 ekor sapi Aceh betina berumur 15-18 bulan. Peubah yang diamati (1) tinggi pundak (TP), (2), panjang badan (PB). dan (3) lingkar dada (LD). Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian, nilai sifat kuantitatif sapi Aceh jantan dan betina masing-masing memiliki tinggi pundak (TP) 108,083,59 cm dan 89,534,26 cm, panjang badan (PB) 110,264,92 cm dan 88,776,52 cm dan lingkar dada (LD) 141,027,34 cm dan 107,228,92 cm. Sebanyak 48,39 % sapi Aceh jantan termasuk kategori kelas III dan 30,19 % sapi Aceh betina termasuk kategori kelas II berdasarkan SNI 7651.3:2013. Sifat kualitatif bentuk muka sapi Aceh jantan dan betina secara keseluruhan berbentuk cekung dengan persentase 80,65 % dan 90,57 %. Sementara tanduk pada sapi Aceh jantan berbentuk ke samping melengkung ke atas dengan rataan persentase 51,61 % dan sapi Aceh betina secara umum hanya membentuk lingkaran tanduk pendek dengan rataan persentase sebesar 67,92 %. Bentuk garis punggung sapi Aceh jantan dan betina berbentuk cekung dengan persentase sebesar 72,58 % dan 79,25 %. ((Identification of quantitative traits and qualitative traits in Aceh cattle in the context of preserving animal genetic resources) ABSTRAK. Aceh cattle are a genetic resource for local livestock and are a clump of local Indonesian cattle spread across Aceh Province, and have been determined based on the Decree of the Minister of Agriculture number: 2907 / Kpts / OT.140 / 6/2011 on 17 June 2011. This study aims to compare the diversity of Aceh cattle in Aceh Besar district currently with SNI 7651.3: 2013. This research was conducted in January - April 2020. The total samples of male Aceh cattle aged 24-36 months were 62 cows and 106 female Aceh cattle aged 15-18 months. The variables observed were (1) shoulder height (TP), (2), body length (PB). and (3) chest circumference (LD). Determination of the sample using purposive sampling method. Based on the results of the study, the quantitative traits of male and female Aceh cattle each had shoulder height (TP) 108.08 3.59 cm and 89.53 4.26 cm, body length (PB) 110.26 4, 92 cm and 88.77 6.52 cm and chest circumference (LD) 141.02 7.34 cm and 107.22 8.92 cm. A total of 48.39% of Aceh male cattle are in class III category and 30.19% of female Aceh cattle are categorized as class II based on SNI 7651.3: 2013. The qualitative characteristics of the face shape of male and female Aceh cattle are overall concave with a percentage of 80.65% and 90.57%. While the horns on male Aceh cattle are curved sideways upward with an average percentage of 51.61% and female Aceh cattle in general only form a short horn circle with an average percentage of 67.92%. The form of the back line of male and female Aceh cattle is concave with a percentage of 72.58% and 79.25%
Effect of Sauropus androgynus Leaf Extract and Fish Oil Plus Vitamin E on Performance, Carcass Quality, and Meat Amino Acid Composition in Broiler Chickens
ABSTRACT. This study aimed to evaluate the effect of Sauropus androgynus leaf extract (SALE), lemuru fish oil and vitamin E supplementation on performance, carcass quality, and amino acid composition of broiler meat. One hundred and ninety-five broilers aged 21 days were distributed into 13 groups as follows: broilers were fed diet with 0.5% commercial supplement feed (P0), 10 g/kg SALE plus 1% lemuru fish oil (LFO) (P1), 10 g SALE/kg and LFO 1% plus 60 mg vitamin E (P2), 10 g SALE/kg and LFO 2% (P3), 10 g SALE/kg and LFO 2% plus 60 mg vitamin E (P4), 10 g SALE/kg and LFO 3% (P5), 10 g SALE/kg and LFO 3% plus 60 mg vitamin E (P6), 18 g SALE/kg and LFO 1% (P7), 18 SALE g/kg and LFO 1 % plus 60 mg vitamin E (P8), 18 g SALE/kg and FLO 2% (P9), 18 SALE g/kg and FLO 2% plus vitamin E (P10), 18 g SALE/kg and LFO 3% (P11 ), and 18 g SALE/kg and LFO 3% plus 60 mg vitamin E. The variables measured were performance, carcass quality, organoleptic properties, protein and amino acid composition of meats. The experimental results showed that the treatment had no significant effect (P 0.05) on body weight, feed consumption, feed conversion ratio, carcass weight, meat color, meat odor, meat taste, and cooking losses. However, the treatment had a significant effect (P 0.05) on carcass color, spleen weight, and protein content. In addition, the treatment also changes the amino acid composition of the meat. In conclusion, supplementation of 18 g SALE/kg diet, 3% LFO plus vitamin E resulted in meat with the highest protein and amino acid content. (Pengaruh ekstrak daun katuk, minyak ikan plus vitamin E terhadap performa, kualitas karkas, dan komposisi asam amino pada broiler) ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi ekstrak daun katuk (EDK), minyak ikan lemuru, dan vitamin E terhadap performa, kualitas karkas, dan komposisi asam amino daging broiler. Seratus sembilan puluh lima ekor broiler umur 21 hari didistribusikan ke dalam 13 kelompok sebagai berikut: broiler diberi pakan mengandung 0,5% pakan imbuhan komersial (P0), 10 g/kg EDK plus 1% minyak lemuru (MIL) (P1), EDK 10 g/kg dan MIL 1% plus 60 mg vitamin E (P2), EDK 10 g/kg dan MIL 2% (P3), EDK 10 g/kg dan MIL 2% plus 60 mg vitamin E (P4), EDK 10 g/kg dan MIL 3% (P5), EDK 10 g/kg dan MIL 3% plus 60 mg vitamin E (P6), EDK 18 g/kg dan MIL 1% (P7), EDK 18 g/kg dan MIL 1% plus 60 mg vitamin E (P8), EDK 18 g/kg dan MIL 2% (P9), EDK 18 g/kg dan MIL 2% plus vitamin E (P10), EDK 18 g/kg dan MIL 3% (P11), dan EDK 18 g/kg dan MIL 3% plus 60 mg vitamin E. Variabel yang diukur adalah performa, kualitas karkas, dan sifat organoleptik, protein dan komposisi asam amino daging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap berat badan, konsumsi pakan, konversi pakan, berat karkas, warna daging, bau daging, rasa daging, dan susut masak. Akan tetapi perlakuan berpengaruh nyata (P0,05) terhadap warna karkas, berat limfa, kadar protein. Selain itu, perlakuan juga mengubah komposisi asam amino daging. Kesimpulannya, suplementasi 18 g EDK/kg pakan, 3% MIL plus vitamin E menghasilkan daging dengan kandungan protein dan asam amino tertinggi