Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Efektivitas Amoniasi, Fermentasi, dan Amoniasi Fermentasi dengan Trichoderma harzianum pada Jerami Sereh Wangi (Cymbopogon nardus)
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ransum yang mengandung azolla (Azolla microphylla) terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit telur ayam. Azolla merupakan tanaman paku air yang pertumbuhan cepat dan dapat dijadikan bahan pakan alternatif untuk ayam petelur. Penelitian menggunakan 48 ekor ayam petelur strain ISA Brown berumur 54 minggu di Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan (P0= ransum tanpa azolla; P1= ransum dengan 5% azolla; P2= ransum dengan 10% azolla; dan P3= ransum dengan 15% azolla) dan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum yang mengandung azolla berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap indeks putih telur, indeks kuning telur dan haugh unit telur. Penggunaan azolla sampai taraf 15% menghasilkan nilai yang sama terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit telur ayam.(Effectiveness ammoniation, fermentation and amoniated fermentation with Trichoderma harzianum in citronella straw (Cymbopogon nardus))ABSTRACT. The research was conducted to investigate effectiveness of ammoniation, fermentation and ammoniated fermentation with Trichoderma harzianum on citronella (Cymbopogon nardus) straw. The research used Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments: citronella straw with ammoniation treatment (P1), citronella straw with fermentation treatment (P2), and citronella straw with ammoniated fermentation treatment (P3). Each treatment was replicated five times. The parameters measured were an increase in crude protein content, an increase in Total Digestible Nutrient (TDN), a decrease in crude fiber, and a decrease in lignin. Variance analysis was conducted to determine treatment effect and followed by Multiple Range of Duncan to determine difference between treatment. The result showed that treatments give significant effect (P0.05) on increasing of crude protein, increasing of TDN, decreasing of crude fiber and decreasing of lignin. The best value processing of citronella straw was ammoniated fermentation with Trichoderma harzianum. It concluded that ammoniated fermentation with Trichoderma harzianum had the best effectiveness in processing of citronella straw
Bakso Ayam KUB Fortifikasi Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata Linn): Tinjauan Kandungan Protein, Daya Ikat Air, Organoleptik, dan Kandungan Antioksidan
ABSTRACT. Bakso ayam KUB fortifikasi ekstrak daun sirsak merupakan salah satu diversifikasi produk yang bersifat pangan fungsional. Kandungan Flavonoid pada daun sirsak dapat berfungsi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa pengaruh penambahan ekstrak daun sirsak dengan level yang berbeda terhadap kandungan protein, daya ikat air, organoleptik dan kandungan antioksidan bakso ayam KUB. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 4 perlakuan yaitu penambahan ekstrak daun sirsak 0% (P0), 2% (P1), 4% (P2) dan 6% (P3) terhadap total bahan bakso daging ayam. Parameter yang diukur antara lain kandungan protein, daya ikat air, kandungan antioksidan dan organoleptik. Kandungan Protein dan antioksidan tertinggi pada penambahan ekstrak daun sirsak 6% sebesar 18, 67 % dan 45,07%. Daya ikat air tertinggi yaitu 69,44% pada perlakuan kontrol. Penambahan ekstrak daun sirsak pada bakso ayam KUB memiliki hasil uji organoleptik yang lebih dominan pada penambahan ekstrak daun sirsak 6% dengan warna bakso hijau muda, cukup beraroma daun sirsak, tekstur tidak kenyal dengan rasa sedikit pahit. Uji hedonik dengan penilaian lebih dominan pada skala 3 yaitu penambahan ekstrak daun sirsak 2% baik dari warna, aroma, tekstur dan rasa.(Fortified KUB Chicken Meatballs Soursop (Annona muricata Linn) Leaf Extract: Overview of Protein Content, Water Holding Capacity, Organoleptic, and Antioxidant Content)ABSTRAK. KUB chicken meatballs fortified with soursop leaf extract is one of the functional food product diversifications. Flavonoid content in soursop leaves can function as antioxidants. The purpose of this study was to analyze the effect of adding soursop leaf extract at different levels on protein content, water holding capacity, organoleptic and antioxidant content of KUB chicken meatballs. The experimental design used in this study was a completely randomized design (CRD), consisting of 4 treatments, namely the addition of soursop leaf extract 0% (P0), 2% (P1), 4% (P2) and 6% (P3) to the total meatball ingredients chicken meat. Parameters measured included protein content, water holding capacity, antioxidant and organoleptic content. The highest protein and antioxidant content in the addition of 6% soursop leaf extract was 18.67% and 45.07%. The highest water holding capacity was 69.44% in the control treatment. The addition of soursop leaf extract to KUB chicken meatballs had more dominant organoleptic test properties in the addition of 6% soursop leaf extract with light green meatball color, quite soursop leaf aroma, texture not chewy with a slightly bitter taste. The hedonic test with a more dominant assessment on a scale of 3, namely the addition of 2% soursop leaf extract in terms of color, aroma, texture and taste
Uji Sifat Fisik dan Organoleptik Biskuit Pakan Kelinci Berbasis Limbah Organik dengan Perekat yang Berbeda
ABSTRACT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisik biskuit pakan kelinci berbasis limbah organik dengan perekat yang berbeda. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah P1: Perekat molases 5%, P2: Perekat molases 10%, P3: Perekat tepung tapioka 5%, P4: Perekat tepung tapioka 10%, P5: Perekat tepung gaplek 5%, P6: Perekat tepung gaplek 10%. Variabel yang diamati meliputi organoleptik, daya serap air, kerapatan dan ketahanan terhadap benturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perekat molases P2 memperoleh skor warna (3,75) dan aroma (4,00) yang lebih tinggi (P0,05) dibanding perekat lain. Tepung tapioka sebagai perekat (P4) memiliki tekstur biskuit yang lebih kompak (4,50) dibandingkan perlakuan lain sedangkan kepadatan pada biskuit dengan berbagai perekat yang digunakan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05). Daya serap air berkisar antara 83,81% sampai dengan 114,92% juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P0,05). Kerapatan dan ketahanan biskuit terhadap benturan menunjukkan perbedaan yang nyata diantara perekat yang berbeda (P0,05). Kerapatan tertinggi terdapat pada P4 yaitu 0,44 g/cm3 sedangkan ketahanan benturan dimiliki oleh P6 dan P2 yaitu 94,56% dan 92,23% secara berurutan. Kesimpulan perekat molases memiliki skor organoleptik dan ketahanan benturan lebih baik dibandingkan perekat yang lain.(Physical test and organoleptic of rabbit feed biscuit based on organic waste with different binding agent)ABSTRAK. The purpose of this study was to determine the physical properties of organic waste-based rabbit feed biscuits with different binding agent. The method used is a lab experiment method with 6 treatments and 4 replications. Factor P = Binding agents, The treatments were P1: 5% molasses, P2: 10% molasses, P3: 5% tapioca flour, P4: 10% tapioca flour, P5: 5% cassava flour, P6: 10% cassava flour. Variables observed were organoleptic, water absorption, density and impact resistance. The results showed that the P2 obtained a higher color score (3.75) and aroma (4.00) (P0.05) than other as binding agents. Tapioca flour P4 performed more compact biscuit texture (4.50) than other treatments, while the density of all binders did not show a significant difference (P0.05). Water absorption ranged from 83.81% to 114.92% also did not show a significant difference (P0.05). The density and resistance of biscuits to impact showed significant differences between different binders (P0.05). The highest density is found in P4 which is 0.44 g/cm3 while the impact resistance is owned by P6 and P2 which is 94.56% and 92.23%, respectively. Based on results, it can be concluded molasses binder has better organoleptic score and impact resistance than other binders
Aktivitas Antioksidan dari Susu Pasteurisasi dengan Penambahan Ekstrak Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) sebagai Minuman Kesehatan
ABSTRACT. Proses pasteurisasi membuat susu hanya dapat disimpan hingga 5 hari, sehingga diperlukan teknik pengawetan dan pengolahan lainnya untuk memperpanjang masa simpan susu pasteurisasi. Tujuan penelitian ini adalah memperpanjang masa simpan dari susu sapi pasteurisasi dengan penambahan bahan alam berupa ekstrak kayu manis dilihat dari aktivitas antioxidant. Ekstrak kayu manis yang ditambahkan pada susu pasteurisasi sebanyak 1 %. Ekstrak kayu manis diperoleh dengan metode maserasi dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan penyimpanan (0 hari, 5 hari, 7 hari, 9 hari, dan 11 hari), setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Parameter yang dihitung meliputi uji storch, Total Plate Count nilai pH, dan nilai antioksidan (IC50). Hasil pengamatan menunjukkan nilai storch pada susu pasteurisasi yang mengindikasikan kesempurnaan susu pasteurisasi dengan hasil pemanasan yang sempurna, nilai TPC masih dalam standar normal pertumbuhan mikroba sampai dengan hari ke 7, nilai pH normal sampai dengan hari ke 7 dan nilai antioksidan mengindikasikan bahwa penambahan 1% ekstrak kayu manis mampu mempertahankan nilai antioksidan dengan kategori sangat kuat. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian susu pasteurisasi dengan penambahan 1% ekstrak kayu manis memiliki daya antioksidan yang kuat dan memperpanjang masa simpan susu pasteurisasi hingga hari ke 7.(The antioxidant activity of pasteurized milk with the addition cinnamon (Cinnamomum burmannii) as healthy drink)ABSTRAK. The pasteurization process makes milk only be stored for 5 days, so preservation and other processing techniques are needed to extend the shelf life of pasteurized milk. The purpose of this research was to extend the shelf life as antioxidant activity. of pasteurized cow's milk with the addition of natural ingredients in the form of cinnamon extract. The cinnamon extract added to pasteurized milk as much as 1%. The cinnamon extract was obtained by maceration method and concentrated using a rotary evaporator. This study used a completely randomized design (CRD) consisting of 5 storage treatments (0 day, 5 days, 7 days, 9 days and 11 days), each treatment was repeated 4 times. The calculated parameters include Storch test, Total Plate Count pH value, and antioxidant value (IC50). The results showed that the storch value in pasteurized milk indicated the perfection of pasteurized milk with perfect heating results, the TPC value was still within the normal standard for microbial growth up to day 7, normal pH value up to day 7 , and antioxidant value indicated that the addition of 1% extract cinnamon is able to maintain antioxidant value with a very strong category. The conclusions obtained from research on pasteurized milk with the addition of 1% cinnamon extract has strong antioxidant power and extends the shelf life of pasteurized milk up to the 7th day
Pengaruh Lama Penyimpanan dan Jenis Kemasan terhadap Kadar Air dan Kualitas Sifat Fisik Dedak Padi
ABSTRACT. Dedak padi merupakan salah satu bahan pakan yang digunakan untuk pakan ternak, namun terdapat kendala dalam penggunaannya, salah satunya adalah rendahnya daya simpan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh waktu penyimpanan dan jenis kemasan terhadap perubahan kadar air dan kualitas sifat fisik dedak padi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 3 x 4 dan 4 ulangan. Faktor-faktor yang diteliti terdiri dari A: waktu simpan (0, 30, 60 hari) dan B: jenis kemasan (karung plastik polipropena, karung goni, karung plastik polietilena, dan karung hermetik). Parameter yang diamati adalah perubahan kadar air (KA), kerapatan tumpukan (KT), kerapatan pemadatan tumpukan (KPT) dan berat jenis (BJ). Data dianalisis dengan uji sidik ragam dan bila terjadi perbedaan (p0,05) dilanjutkan dengan uji Tukey. Jumlah serangga yang tumbuh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan semua perlakuan berpengaruh nyata (p0,05) dengan interaksi nyata (p0,05) terhadap semua peubah. Waktu simpan nyata (p0,05) menaikkan kadar air dan nyata (p0,05) menurunkan nilai KT, KPT dan BJ dedak padi. Jenis karung hermetik seiring waktu penyimpanan nyata (p0,05) merupakan karung terbaik dan karung polipropena merupakan karung terburuk dalam hal mempertahankan kualitas dedak padi. Jumlah serangga semakin meningkat seiring waktu simpan dengan jumlah paling sedikit ditemukan pada karung hermetik. Dapat disimpulkan penggunaan kemasan hermetik lebih baik dalam mempertahankan kandungan kadar air dan nilai sifat fisik dengan waktu optimal penyimpanan kurang dari 60 hari.(Effect of storage time and packaging type on moisture content and physical properties of rice bran)ABSTRAK. Rice bran is a valuable feed ingredient for animal feed, but its low storage stability poses challenges for its long-term utilization. This study investigates the effects of storage time and packaging type on moisture content and the quality of physical properties of rice bran. A Completely Randomized Design (CRD) factorial design (3 x 4) with 4 replications was employed. Factor A examined storage time (0, 30, 60 days), and factor B explored different packaging types (polypropylene sack, burlap sack, polyethylene sack, and hermetic sack). The observed variables were moisture content, bulk density, tapped density, and specific gravity. Insect infestation was also assessed descriptively. ANOVA was used to analyze the data, and the Tukey test was applied in cases of significant differences (p0.05). The results revealed that both treatments and their interaction had significant effects (p0.05) on all measured parameters. Storage time significantly (p0.05) increased moisture content and decreased (p0.05) bulk density, tapped density, and specific gravity of rice bran. Insect populations increased with storage time, with the lowest infestation observed in the hermetic sack. The hermetic sack consistently outperformed other packaging types in maintaining moisture content and the quality of physical properties of rice bran throughout the storage period. The polypropene sack exhibited the poorest performance, suggesting an optimal storage time of less than 60 days for rice bran stored in this type of packaging
Peningkatan Produksi Rumput Brachiaria humidicola pada Padang Penggembalaan Melalui Suplementasi Pupuk Organic Feses Ayam
ABSTRACT. Brachiaria humidicola merupakan jenis rumput utama di padang penggembalaan Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan Jonggol (UP3J) Fakultas Peternakan, IPB University. Diperlukan strategi untuk meningkatkan produksi biomassa tanaman sesuai potensi genetiknya. Tujuan penelitian adalah upaya peningkatan produktivitas rumput Brachiaria humidicola di padang penggembalaan UP3J melalui suplementasi pupuk feses ayam yang ideal. Penelitian di desain dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan K = urea 150 kg ha-1, FA05 = 5 ton ha-1 pupuk organik + urea 75 kg ha-1, FA10 = 10 ton ha-1 pupuk organik + urea 75 kg ha-1, FA15 = 15 ton ha-1 pupuk organik + urea 75 kg ha-1, FA20 = 20 ton ha-1 pupuk organik + urea 75 kg ha-1. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan FA20 sangat nyata (p0,01) meningkatkan tampilan morfologi tanaman dan produksi biomassanya. Kesimpulan dari penelitian adalah suplementasi pupuk feses ayam hingga dosis 20 ton ha-1 tidak mengubah status pH tanah. Suplemantasi pupuk feses ayam dosis 20 ton ha-1 adalah yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan morfologi rumput Brachiaria humidicola (jumlah tunas, jumlah stolon, panjang stolon dan tinggi tanaman) dan produksi biomassa tanaman. Suplementasi pupuk feses ayam 10 ton ha-1 menghasilkan dominasi warna daun hijau muda sebagai visualisasi dari daun muda.(Improvement of grass production Brachiaria humidicola in grazing fields through supplementation of organic fertilizer poultry manure)ABSTRAK. Brachiaria humidicola is one of grass that predominantly grown at pasture at Jonggol Animal Science Teaching and Research Unit (Jastru), Faculty of Animal Science, IPB University. Improvement strategy should be done to increase biomass production of the grass. The objective of the research was to improve Brachiaria humidicola grass productivity with supplementation of fertilizer from broiler chicken manure. Completely randomized design with five different treatments, namely K = urea 150 kg ha-1, FA05 = 5 ton ha-1 of organic fertilizer + urea 75 kg ha-1, FA10 = 10 ton ha-1 of organic fertilizer + urea 75 kg ha-1, FA15 = 15 ton ha-1 of organic fertilizer + urea 75 kg ha-1, FA20 = 20 ton ha-1 of organic fertilizer + urea 75 kg ha-1. Result shows that FA20 treatment produce the highest production of biomass and improve plant morphology appearance compare to another treatment (P0,01). Supplementation of organic fertilizer up to 20 ton ha-1 did not change soil pH status. In addition, it can improve growth of the Brachiaria humidicola morphology (number of shoots and stolons, stolons length and plant height) and biosmass production. Furthermore, Supplementation of organic fertilizer more than 10 ton ha-1 produce leaf with predominantly light green color as a visualization of the young leaves
Kualitas Semen Beku Sapi Limousin setelah Thawing Menggunakan Air Dingin dengan Lama Waktu yang Berbeda
ABSTRACT. Keberhasilan inseminasi buatan dipengaruhi oleh kualitas semen atau motilitas spermatozoa post thawing. Inseminator menggunakan air dingin (28oC) untuk thawing semen beku sedangkan SNI menyarankan thawing semen beku dengan air hangat (37oC) selama 30 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama dan suhu thawing pada semen beku sapi Limousin terhadap kualitas semen serta mengetahui perlakuan terbaik dari penelitian ini. Materi yang digunakan adalah 50 straw semen beku sapi Limousin yang diproduksi oleh BBIB Singosari. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan 5 perlakuan dan 10 ulangan. Variabel yang diamati adalah Motilitas Individu spermatozoa, Viabilitas spermatozoa, Abnormalitas spermatozoa, Konsentrasi dan Total Motilitas Spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam Analysis of Variance (ANOVA) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) kemudian diuji dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) jika terdapat perbedaan nyata. Selanjutnya diuji Chi square untuk variabel motilitas individu, konsentrasi dan total spermatozoa dan dibandingkan dengan SNI untuk semen beku. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa thawing pada suhu 28C dengan lama waktu 60 detik berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap viabilitas dan berpengaruh nyata (P0,05) pada motilitas individu dan total spermatozoa motil. Sedangkan, konsentrasi dan abnormalitas spermatozoa memberikan hasil tidak berpengaruh nyata (P0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah thawing dengan air dingin (suhu 28C) selama 60 detik memberikan kualitas semen terbaik setelah thawing.(Quality of Post Thawing Frozen Semen on Limousin Bull Using Cold Water with Different Durations)ABSTRAK. The quality of post-thawing semen influences the success factor of artificial insemination (AI). Inseminators usually used tap water (28C) to thaw the frozen semen, while Indonesian National Standard used warm water (37C) for 30 seconds. This study aims to determine the effect of thawing duration on the frozen semen quality of Limousin Bull and also to know the best treatment between the five treatments of this experiment. The material used in this study was 50 straws of frozen semen produced by Artificial Insemination Center Singosari. The method was an experiment method with five treatments and ten replications. the variables observed were individual motility, sperm viability, sperm abnormality, concentration, and total motile of sperm. The data obtained were analyzed statistically using Analysis of Variance (ANOVA) of Randomized Block Design (RBD) and then using Duncan Multiple Range Test if there is a difference. Then using Chi-Square Test for individual motility, concentration, and total motile of sperm and compared with the Indonesian National Standard of frozen semen. The results show that a temperature of 28C with a duration of 60 seconds is highly significant (P0,01) to viability and significant (P0,05) to individual motility and total motile of sperm. While, the concentration and abnormality of sperm give no significant effect (P0,05). In conclusion, the temperature and duration of thawing at 28C for 60 seconds show the best quality of post-thawing semen
Produktivitas dan Nilai Ternak Sapi Lokal serta Kerbau di Pasar Tradisional
ABSTRACT. Kebutuhan domestik daging sapi dan kerbau sebagian besar disuplai dari ternak lokal. Tujuan penelitian ini adalah karakterisasi produktivitas sapi Bali, sapi PO, dan kerbau serta nilai ternak di pasar tradisional berdasarkan kondisi ternak hidup, karkas dan non karkas serta komponen karkas dan non karkas. Penelitian ini menggunakan 17 ekor sapi lokal dan kerbau jantan, meliputi sapi Bali 6 ekor, sapi PO 6 ekor, dan kerbau 5 ekor dengan umur I2-I4. Data dianalisis menggunakan analysis of covariance dengan prosedur general linear model dan least square mean. Peubah yang diamati meliputi bobot potong, bobot dan persentase karkas, bobot komponen karkas, bobot dan persentase non karkas, bobot komponen non karkas, serta nilai ternak di pasar tradisional di daerah Bogor. Hasil penelitian menunjukkan ternak lokal dengan produktivitas karkas dan daging tertinggi yaitu sapi Bali, diikuti sapi PO dan kerbau. Persentase karkas sapi Bali 50,39%, sapi PO 49,96%, dan kerbau 46,41%. Sapi Bali memiliki persentase total daging tertinggi yaitu 72,23%, diikuti sapi PO 69,54%, dan kerbau 67,61%. Namun, kerbau memiliki hasil non karkas tertinggi, diikuti sapi PO dan sapi Bali. Berdasarkan bobot karkas dan komponen karkas, sapi Bali memiliki nilai ternak tertinggi, sedangkan sapi PO memiliki nilai ternak yang tinggi pada non karkas. Sapi Bali dan sapi PO memiliki nilai ternak lebih tinggi dari kerbau. Sapi dan kerbau akan mempunyai nilai tambah tertinggi pada saat diolah menjadi komponen karkas dan komponen non karkas.(Productivity and economic value of local cattle and buffalo in traditional markets)ABSTRAK. Domestic beef and buffalo supply mainly comes from local livestock. The purpose of this study was to compare the productivity of Bali cattle, PO cattle, and buffaloes, and their economic values for traditional markets based on live weight, carcass weight, and carcass and non-carcass component weights. This study used 17 heads of local bull and male buffaloes, comprising 6 Bali cattle, 6 PO cattle and 5 local buffaloes aged I2-I4. Data were analyzed using Analysis of Covariance, with the general linear model and least square mean procedures. Parameters observed included slaughter weight, weight and percentages of carcass, carcass components, non-carcass, non-carcass components, and their prices according to Bogor traditional market. The results showed that the local cattle with the highest productivity and meat yield were Bali cattle, followed by PO cattle and buffalo. The carcass percentage of Bali cattle were 50.39%, PO cattle were 49.96%, and buffalo were 46.41%. Bali cattle produced the highest meat yield 72.23%, followed by PO cattle 69.54%, and buffalo 67.61%. However, buffalo had the highest non-carcass productivity, followed by PO and Bali cattle. Based on carcass and its component weights, Bali cattle had the highest economic value, whereas PO cattle had the highest value on non-carcass weights. Bali cattle and PO cattle had higher economic value than buffalo. The ruminant animal had its highest added value when processed into carcass and non-carcass components
Kualitas Spermatozoa Sapi Simmental pada Pengencer TRIS dengan Kuning Telur dan Waktu Equilibrasi yang Berbeda
ABSTRACT. Tujuan penelitian adalah untuk melihat kualitas spermatozoa sapi Simmental pada pengencer tris kuning telur yang berasal dari tiga jenis unggas dengan variasi waktu equilibrasi. Semen ditampung menggunakan vagina buatan dari 2 ekor sapi Simmental dari BIB Tuah Sakato, Payakumbuh, Sumatera Barat. Penampungan dilakukan pagi hari, 1 x seminggu selama 10 minggu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dua faktor. Faktor pertama Jenis kuning telur yang digunakan (Puyuh, Ayam, dan Itik) dan faktor kedua adalah waktu equilibrasi (2, 3 dan 4 jam). Titik optimum ditentukan dengan uji regresi. Parameter diukur setelah thawing meliputi motilitas, viabilitas, abnormalitas, membrane plasma utuh dan recovery rate. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa penggunaan kuning telur asal ternak ayam menghasilkan motilitas 65.33%, viabilitas 67.7%, abnormalitas 15%, MPU 50% dan nilai recovery rate 87.11%, kuning telur itik menghasilkan motilitas 67%, viabilitas 72%, abnormalitas 12%, MPU 54%, dan recovery rate 89.5% dan kuning telur puyuh menghasilkan motilitas 65.00%, viabilitas 70.67%, abnormalitas 13.33%, MPU 51.33% dan nilai recovery rate 86.67%. Kesimpulan penggunaan telur itik dalam pengencer tris pada spermatozoa sapi Simmental dengan waktu equilibrasi 2 jam lebih baik dari waktu equilibrasi 3 dan 4 jam.(The quality of Simmental cattle sperm in TRIS diluent with different egg yolks and equilibration times)ABSTRAK. Aim of this research was to conduct the quality of sperm Simmental bull in egg yolk tris diluent from three types of poultry with variations in the equilibration time. Semen is collected using an artificial vagina from 2 Simmental cows from BIB Tuah Sakato, Payakumbuh, West Sumatra. The semen is carried out in the morning, once a week for 10 weeks. The experiment was design with two factor Randomized Block Design (RBD). The first factor was the type of egg yolk used and the second factor was the equilibration time. The optimum point is determined by regression. Parameters measured after thawing included motility, viability, abnormalities, intact plasma membrane and recovery rate. The results showed that using of chicken in 65.33% motility, 67.7% viability, 15% abnormality, 50% integrity membrane plasma, and 87.11% recovery rate; duck egg yolk resulted in 67% motility, 72% viability, 12% abnormality, 54% integrity membrane plasma, and 89.5% recovery rate; quail egg yolk resulted 65% motility, 70.67% viability, 12% abnormality, 51.33% integrity membrane plasma, and 86.67% recovery rate; The conclusion is that the use of duck eggs in tris diluent with a equilibration time of 2 hours is better than 3 and 4 hours for bull Simmental spermatozoa
Measurement of Stress Levels in Pre- and Post-Slaughter Cattle at Tanah Merah Slaughterhouse Samarinda, East Kalimantan Province, Indonesia
ABSTRACT. The heightened demand for domestic beef has emerged in response to an expanding populace and heightened public interest in meat consumption. The principal objective of this investigation was to assess cardiac activity, as inferred from heart rate data, through the application of rigorous statistical methodologies and meticulous sampling techniques. The study comprised 70 Bali cattle sourced from the Samarinda Slaughterhouse (RPH), with statistical analysis facilitated by the utilization of the Z Test. Examination of the heart rate data indicated a notable degree of variability. Upon conducting the Z Test, a statistically significant finding was ascertained with p0.05, signifying the acceptance of H1. This, in turn, signified that the heart rate data exhibited an elevation in stress levels. Conversely, H0 was categorically refuted, implying an absence of heightened heart rate between the enclosure environment and the site of slaughter. Further observations centered on urination and defecation within the sample, yielding an average incidence of 11.425% amongst the 70 Bali cattle, serving as an indicator of stress or discomfort. The evaluation of stress levels in cattle within the Tanah Merah Samarinda Animal Slaughterhouse, situated in East Kalimantan, corroborated a significant surge in stress during the transition of cattle from the enclosure zone to the slaughter and dispersal area. This phenomenon is attributed to the deficiency in knowledge among stockpersons concerning optimal livestock handling and the principles of animal welfare.(Pengukuran tingkat stres pada sapi pra dan pasca penyembelihan di rumah potong hewan Tanah Merah Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia)ABSTRAK. Permintaan yang meningkat untuk daging sapi dalam negeri muncul sebagai respons terhadap pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan minat publik yang tinggi dalam konsumsi daging. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai aktivitas jantung, seperti yang disimpulkan dari data denyut jantung, melalui penerapan metodologi statistik yang ketat dan teknik pengambilan sampel yang cermat. Penelitian ini melibatkan 70 ekor sapi Bali yang diperoleh dari Rumah Potong Hewan (RPH) Samarinda, dengan analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Uji Z. Pemeriksaan data denyut jantung mengindikasikan tingkat variasi yang signifikan. Setelah melakukan Uji Z, temuan yang signifikan secara statistik ditemukan dengan p0,05, menunjukkan penerimaan H1. Ini, pada gilirannya, menunjukkan bahwa data denyut jantung menunjukkan peningkatan tingkat stres. Sebaliknya, H0 secara tegas ditolak, mengimplikasikan ketiadaan peningkatan denyut jantung antara lingkungan kandang dan lokasi pemotongan. Pengamatan lebih lanjut terkait dengan buang air kecil dan buang air besar dalam sampel menghasilkan insiden rata-rata sebesar 11,425% dari 70 ekor sapi Bali, yang berfungsi sebagai indikator stres atau ketidaknyamanan. Evaluasi tingkat stres pada sapi di Rumah Potong Hewan Tanah Merah Samarinda, yang terletak di Kalimantan Timur, mengkonfirmasi peningkatan signifikan dalam stres selama proses pemindahan sapi dari zona kandang ke area pemotongan dan penyebaran. Fenomena ini dikaitkan dengan kurangnya pengetahuan di antara peternak tentang penanganan ternak yang optimal dan prinsip kesejahteraan hewan