Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Mastitis sebagai Indikator Kesejahteraan Sapi Perah yang Dipelihara secara Zero Grazing di Daerah Tropis
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prevalensi mastitis sebagai indikator kesejahteraan sapi perah yang dipelihara secara zero grazing di daerah tropis. Penelitian dilakukan secara observasional dengan metode survei dan pengambilan sampel secara purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 45 ekor sapi perah laktasi yang dipelihara secara zero grazing pada kandang koloni dengan paritas I IV. Parameter yang diamati adalah tingkat peradangan ambing yang diuji menggunakan California Mastitis Test (CMT) dan jumlah sel somatis, produksi susu dan skor kebersihan ternak yang terdiri dari kebersihan kaki belakang bawah, kebersihan kaki belakang atas dan kebersihan ambing. Analisis yang digunakan yaitu analisis regresi linear sederhana dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat kuartir yang sehat sebesar 75% (135 kuartir) sedangkan 25% terindikasi mastitis. Terdapat hubungan yang nyata (P0,05) antara produksi susu dengan peradangan ambing (CMT dan sel somatis) secara linier negatif dengan persamaan Y = 10,945 2,650 X dan Y = 10,284 2,847E6 X. Tingkat peradangan dan kebersihan kaki belakang atas dan kaki belakang bawah tidak memiliki hubungan yang nyata (P0,05) tetapi memiliki hubungan yang nyata dengan kebersihan ambing (P0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemeliharaan sapi perah secara zero grazing di daerah tropis dengan animal welfare yang baik menghasilkan prevalensi mastitis yang rendah sehingga produksi susu dapat optimal.(Mastitis as an indicator of dairy cow welfare reared in a zero-grazing system in the tropics)ABSTRAK. This study was aimed to examine the prevalence of mastitis as an indicator of the welfare of dairy cows reared on a zero grazing basis in the tropics. The study was conducted by observational with survey method and sampling by purposive sampling. The material used in this study were 45 lactating dairy cows reared in zero grazing in colony pens with parity I IV. The parameter observed was the level of udder inflammation which was tested using the California Mastitis Test (CMT) and somatic cell count, milk production and cleanliness score of livestock consisting of cleanliness lower hind legs, cleanliness upper hind legs and cleanliness udder. The analysis used is simple linear regression analysis and spearmen correlation. The results showed that there were healthy quarters of 75% (135 quarters) while 25% indicated infected with mastitis. There was a significant relationship (P0.05) between milk production and udder inflammation (CMT and somatic cell count) with the equation Y = 10.945 2.650 X and Y = 10.284 2.847E6 X. The level of inflammation and cleanliness of the upper hind legs and lower hind legs did not have a significant relationship (P0.05) but had a significant relationship with udder cleanliness (P0.05). These results indicate that the maintenance of dairy cows with zero grazing in the tropics has a prevalence of mastitis which affects milk production and thus affects the welfare of dairy cows
Kompetensi Teknis Peternak Sapi Potong di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Belu
ABSTRACT. Pembangunan peternakan yang bertujuan meningkatkan produktivitas sapi potong belum menunjukkan hasil nyata di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini disebabkan oleh peternakan rakyat masih bersifat tradisional dalam mengelola usaha sapi potong. Dengan demikian kompetensi menjadi aspek yang harus dimiliki peternak agar bisa mengelola usaha ternak secara benar dan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kompetensi teknis peternak sapi potong di Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Belu. Penelitian menggunakan penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian survei yang bersifat menerangkan (explanatory research). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penelitian dilakukan di Kabupaten Timur Tengah Utara dan Kabupaten Belu. Jumlah sampel yang diambil di wilayah penelitian sebanyak 462 orang. Hasil penelitian menunjukkan Tingkat kompetensi teknis peternak berbeda nyata antara Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Belu. Secara umum kompetensi teknis peternak kategori tinggi (rerata = 55,32) di kedua kabupaten tersebut. Kompetensi peternak perlu ditingkatkan dengan meningkatkan kualitas layanan penyuluhan yang sesuai kebutuhan peternak serta melakukan pelatihan teknis usaha sapi potong.(Technical competence of beef cattle breeders in Timor Tengah Utara and Belu regencies)ABSTRAK. The development that aims to increase cattle productivity has not shown tangible results in the province of East Nusa Tenggara. This is because people's farms are still traditional in managing beef cattle business. Thus, competence is an aspect that must be owned by breeders in order to properly manage livestock business and produce high productivity. This study aims to analyze the level of technical competence of beef cattle breeders in North Central Timor Regency and Belu Regency. This research uses quantitative research with a descriptive research design (explanatory research). The method used in this research is a survey method. The research was conducted in North Middle East and Belu Districts. The number of samples taken in the research area was 462 people. The results showed that the level of technical competence of farmers was significantly different between North Central Timor Regency and Belu Regency. Competence needs to be improved by improving the quality of extension services according to the needs of breeders and conducting beef cattle business technicalities
Suplementasi Nukleotida dan Ekstrak Kunyit pada Pakan terhadap Kualitas Kimia Daging Ayam Broiler
ABSTRACT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pemberian nukleotida dan ekstrak kunyit terhadap kualitas kimia daging ayam broiler pada periode finisher. Materi yang digunakan dalam penelitian yaitu DOC ayam broiler CP 707 Produksi PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. sebanyak 168 ekor, yang dipelihara selama 42 hari. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 7 perlakuan dan 4 ulangan yang meliputi kontrol negatif: pakan basal + antibiotik zinc bacitracin 0,1 g/hari; N0K0 (kontrol positif): pakan basal + nukleotida 0 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 0 mg/kg pakan; N0K1: pakan basal + nukleotida 0 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 600 mg/kg pakan; N1K0: pakan basal + nukleotida 250 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 0 mg/kg pakan; N1K1: pakan basal + nukleotida 250 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 600 mg/kg pakan; N2K0: pakan basal + nukleotida 500 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 0 mg/kg pakan; N2K1: pakan basal + nukleotida 500 mg/kg pakan + ekstrak kunyit 600 mg/kg pakan. Variabel penelitian yang diukur dan diamati yaitu kualitas kimia daging ayam broiler yaitu kadar kolagen, kadar lemak, kadar protein daging dan kadar air. Analisis data yang digunakan yaitu analisis variansi/analysis of variance (ANOVA) menggunakan IBM SPSS. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa suplementasi nukleotida dan penambahan ekstrak kunyit pada pakan berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kadar lemak dan kadar protein daging, tetapi tidak berpengaruh nyata (P0,05) pada kadar kolagen dan kadar air. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa suplementasi nukleotida dan ekstrak kunyit menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan pada kadar lemak dan protein daging ayam broiler karena memiliki nilai yang lebih baik dan efektif dibandingkan dengan kontrol negatif (zinc bacitracin) dan kontrol positif (ransum basal).(Nucleotide supplementation and turmeric extract in feed on chemical quality of broiler meat)ABSTRAK. This study aims to examine the effect of giving nucleotides and turmeric extract on the chemical quality of broiler meat in the finisher period. The material used were 168 DOC broilers CP 707 produced by PT. Charoen Pokphand Indonesia Tbk. was kept for 42 days and used a Completely Randomized Design (CRD). There were 7 treatments and 4 replications which included negative control: Basal feed + antibiotic Zink Bacitracin 0.1 g/day; N0K0 (positive control): Basal feed + nucleotide 0 mg/kg feed + turmeric extract 0 mg/kg feed; N0K1: Basal feed + nucleotide 0 mg/kg feed + turmeric extract 600 mg/kg feed; N1K0: Basal feed + nucleotides 250 mg/kg feed + turmeric extract 0 mg/kg feed; N1K1: Basal feed + nucleotides 250 mg/kg feed + turmeric extract 600 mg/kg feed; N2K0: Basal feed + nucleotides 500 mg/kg feed + turmeric extract 0 mg/kg feed; N2K1: Basalt feed + nucleotides 500 mg/kg feed + turmeric extract 600 mg/kg feed. The research variables measured and observed were the chemical quality of broiler chicken meat, namely collagen content, fat content, meat protein content, and water content. Data analysis with analysis of variance (ANOVA) using IBM SPSS. The results of the analysis of variance showed that nucleotide supplementation and the addition of turmeric extract to feed had a significant effect (P0.05) on fat content and protein content of meat, but had no significant effect (P0.05) on collagen content and water content. Based on the results of the study, it can be concluded that nucleotide supplementation and turmeric extract showed significant differences in the fat and protein content of broiler meat because it had a better and more effective value than the negative control (zinc bacitracin) and positive control (basal ration)
Analisis Faktor Keberhasilan Inseminasi Buatan pada Sapi Program Optimalisasi Reproduksi di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara
ABSTRACT. Inseminasi buatan merupakan salah satu bioteknologi dalam bidang reproduksi ternak yang memungkinkan manusia mengawinkan ternak betina tanpa perlu seekor pejantan. Penelitian bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan inseminasi buatan pada sapi yang dipelihara secara semi intensif telah dilakukan mulai bulan Juli sampai Oktober 2022 di Kabupaten Deli Serdang. Penelitian dilakukan dengan metode survey, menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung kepada peternak menggunakan kuesioner yang terstruktur, data sekunder diperoleh dari dinas terkait. Varibel yang diamati meliputi : angka kebuntingan, jumlah sapi betina, pengetahuan peternak dalam mendeteksi berahi, skor kondisi tubuh, jarak lokasi dan ketepatan waktu IB. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa R2 =65,3 yang artinya sebesar 65,3% variabel yang diamati memengaruhi angka kebuntingan sedangkan 34,7% dipengaruhi oleh faktor lain. Jumlah sapi betina di tiap lokasi penelitian secara signifikan (P0,05) memengaruhi keberhasilan inseminasi buatan. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa secara nyata jumlah sapi betina memengaruhi keberhasilan IB dan secara simultan bersama variabel pengetahuan peternak dalam mendeteksi berahi, ketepatan waktu IB, jarak lokasi peternak dengan petugas IB serta BCS sebesar 65,3% memengaruhi keberhasilan IB di Kabupaten Deli Serdang.(Analysis of successful factors for artificial insemination cattle in the reproduction optimization program in Deli Serdang Regency, North Sumatera)ABSTRAK. Artificial Insemination is one of the biotechnology in field of livestock reproduction that allows humans to inbreed female livestock without needed of male cattle. The method of this research was survey method, using primary data and secondary data. Primary data was obtained by distributing questionnaires and interviews directly to farmers as additional information, while secondary data obtained from inseminators related to the results of artificial insemination in the Deli Serdang District. The questionnaire used included questions about cattle characteristics such as pregnancy status, knowledge of breeders in detecting heat, body condition scores, number of cows, location distance and breeder profiles with 95 respondent breeders from three districts. Data were analyzed using multiple linear regression tests. The results showed that as many as 5 variables were observed simultaneously only 65.3% affected the pregnancy rate while 34.7% were influenced by other factors. The conclusion of the study is that the factors that influence the success of artificial insemination in cattle in Deli Serdang Regency are the number of cows in the sub-districts studied
Provision of Lactic Acid as Acidifier in Probiotics-Containing Ration on Protein Performance of Sentul Chicken
ABSTRACT. The aim of this research was to study the addition of an acidifier in feed containing probiotics on protein performance in Sentul chickens. The material used was 60 female Sentul chickens aged 6 months, kept for 2 months in 20 units of battery cages, and used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments of 5 replications, therefore there were 20 experimental units with 3 head / replications. The variables measured included protein performance (protein consumption, liver protein percentage, and meat protein percentage and meat protein mass). Treatment: R0: basal feed; R1: basal feed + probiotic with lactic acid acidifier 0.5%; R2: basal feed + probiotic with lactic acid acidifier 1.0%; R3: basal feed + probiotic with lactic acid acidifier 1.5%. Data analysis with analysis of variance (ANOVA) using IBM SPSS. The results of the analysis of variance showed that lactic acid as an acidifier in feed containing probiotics had a significant effect (P 0.05) on protein consumption, liver protein percentage, meat protein percentage but had no significant effect (P 0.05) on meat protein mass. Based on the results of the study, it can be concluded that the addition of a 0.5% acidifier in probiotics containing ration can be used as additional feed for Sentul chickens because it is efficient in optimizing protein performance.(Pemberian Asam Laktat sebagai Acidifier pada Pakan Probiotik terhadap Kinerja Protein Ayam Sentul)ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji penambahan acidifier dalam pakan yang mengandung probiotik terhadap kinerja protein pada ayam Sentul. Materi yang digunakan adalah ayam Sentul betina umur 6 bulan sebanyak 60 ekor yang dipelihara selama 2 bulan pada 20 unit kandang baterai, dan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 5 ulangan oleh sebab itu terdapat 20 unit percobaan dengan 3 ekor / ulangan. Variabel yang diukur meliputi kinerja protein (konsumsi protein, persentase protein hati, persentase protein daging dan massa protein daging). Perlakuan: R0: pakan basal; R1: pakan basal + probiotik dengan acidifier asam laktat 0,5%; R2: pakan basal + probiotik dengan acidifier asam laktat 1,0%; R3: pakan basal + probiotik dengan acidifier asam laktat 1,5%. Analisis data dengan analisis variansi (ANOVA) menggunakan IBM SPSS. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa penggunaan asam laktat sebagai acidifier pada pakan yang mengandung probiotik berpengaruh nyata (P0,05) terhadap konsumsi protein, persentase protein hati dan persentase protein daging tetapi berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap massa protein daging. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan acidifier dengan taraf 0.5% dalam pakan yang mengandung probiotik dapat mengoptimalkan kinerja protein ayam Sentul
Penggunaan Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) untuk Perbaikan Dampak Stress Broiler Akibat Kepadatan Tinggi
ABSTRACT. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan level optimal penggunaan ekstrak daun cengkeh (EDC) dalam memperbaiki dampak stres ayam broiler yang dipelihara pada kepadatan tinggi. Penelitian dilakukan berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dilaksanakan di Laboratorium Produksi Ternak Unggas, Fakultas Pertanian Universitas Khairun, Ternate. Sebanyak 444 ekor ayam broiler Lohmann (unsexed) dipelihara secara bersama dari umur 0 sampai 7 hari. Pada hari ke-8 ayam broiler (berat badan 129,78 0,75 g) ditempatkan secara acak menjadi lima perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak enam kali. Perlakuan adalah sebagai berikut: T0= kontrol negatif, kepadatan 10 ekor/m2 tanpa EDC, T1= kontrol positif, kepadatan 16 ekor/m2 tanpa EDC, T2= kepadatan 16 ekor/m2 dengan 0,5 ml EDC/kg pakan, T3= kepadatan 16 ekor/m2 dengan 0,75 ml EDC/kg pakan, dan T4= kepadatan 16 ekor/m2 dengan 1,0 ml EDC/kg pakan. Data berupa performa, kadar malondialdehid (MDA) dan superoxide dismutase (SOD) dianalisis berdasarkan ANOVA dan jika ada pengaruh perlakuan yang nyata dilanjutkan uji Duncan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa level optimal pemberian EDC adalah 1,0 ml /kg pakan dapat memperbaiki performa ayam broiler yang dipelihara pada kepadatan tinggi. Pemberian EDC sampai dengan 1,0 ml/kg dalam ransum dapat mengurangi tingkat stres pada ayam broiler yang dipelihara pada kepadatan tinggi yang ditandai dengan penurunan kadar MDA dan meningkatnya kadar SOD pada ayam broiler.(Use of clove leaf extract (Syzygium aromaticum) to improvement of the impact of stress on broilers raised at high density)ABSTRAK. The objective of this research was to investigate the optimal level of the use of clove leaf extract (CLE) in ameliorating the impact of stress on broilers reared at high density. The location of the study was at the Poultry Production Laboratory, Faculty of Agriculture, Khairun University, Ternate. A total of 444 Lohmann broilers (unsexed) were reared together from 0 to 7 days of age. On day 7, broiler chickens (weight of 129.78 0.75 g) were grouped randomly into five treatment groups and six replications. The treatments were T0= negative control, density 10 birds/m2 without CLE, T1= positive control, 16 birds/m2 without CLE, T2= 16 birds/m2 with 0.5 ml CLE/kg feed, T3= 16 birds/m2 with 0.75 ml CLE/kg feed, and T4= 16 birds/m2 with 1.0 ml CLE/kg feed. The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA). If there was a significant treatment effect, there will be a further test by using Duncan's Test. The results showed that the administration of clove leaf extract up to 1.0 ml/kg of ration reduced stress and improved the performance of broiler chickens raised at high density
Optimalisasi Produksi Protein Mikroba Rumen Melalui Suplementasi Ekstrak Tepung Daun Sengon (Albizia falcataria) yang Mengandung Tanin Kondensasi
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalisasi produksi protein mikroba rumen melalui suplementasi ekstrak tepung daun sengon (ETDS) yang mengandung condensed tannin (CT). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 7 perlakuan 5 ulangan menggunakan uji in vitro. Ransum yang digunakan dalam penelitian ini berupa rumput kolonjono (Brachiaria mutica) dan konsentrat. Perlakuan yang diberikan terdiri dari P0 = Ransum tanpa suplementasi ETDS (kontrol); P1 = Ransum + ETDS 1%; P2 = Ransum + ETDS 2%; P3 = Ransum + ETDS 3%; P4 = Ransum + ETDS 4%; P5 = Ransum + ETDS 5%; P6 = Ransum + ETDS 6%. Peubah yang diamati adalah pH, populasi protozoa, dan produksi protein mikroba (PPM). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan taraf suplementasi ETDS yang mengandung condensed tannin (CT) tidak berpengaruh (P0.05) terhadap nilai pH, namun berpengaruh nyata (P0.05) terhadap populasi protozoa dan PPM. Terdapat pola hubungan antara taraf suplementasi ETDS dengan populasi protozoa dan produksi protein mikroba dengan model persamaan Y= -0,2896 x2 + 1,2583 x + 8,1633 (R2 = 0,84) dan Y= -0,0764 x2 + 0,41x + 0,8257 (R2= 0,67). Suplementasi ETDS di atas taraf 3% memperlihatkan terjadinya penurunan populasi protozoa. Sementara itu, produksi protein mikroba terus meningkat sampai level suplementasi ETDS pada taraf 3 % dan selanjutnya mengalami penurunan. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa suplementasi ETDS pada taraf 3% mampu menghasilkan produksi protein mikroba yang tertinggi. Populasi protozoa mengalami penurunan pada suplementasi ETDS pada taraf di atas 3%.(Optimizing the production of rumen microbial protein through supplementation sengon leaf extracts (Albizia falcataria) containing condensed tannin)ABSTRACT. This study aimed to optimize the rumen microbial protein production through supplementation of sengon leaf extract (SLE) which contains condensed tannin (CT). The study arranged in completely randomized design (CRD) consisting of 7 treatments and 5 replications using in vitro test. The ration used was kolonjono grass (Brachiaria mutica) and concentrate. The treatments consisted of P0 = Ration without supplementation of SLE (control); P1 = Ration + 1% SLE; P2 = Ration + 2% SLE; P3 = Ration + 3% SLE; P4 = Ration + 4% SLE; P5 = Ration + 5% SLE; P6 = Basic Ration + 6% SLE. The observed variables were pH, protozoa population, and microbial protein production (MPP). The results showed that the supplementation of SLE containing CT did not affect (P0.05) the pH value, but significantly (P0.05) affected the protozoa population and MPP. There was a relationship pattern between the supplementation level of SLE with the population of protozoa and MPP with an equation model of Y= -0.2896 x2 + 1.2583 x + 8.1633 (R2 = 0.84) and Y= -0.0764 x2 + 0.41x + 0.8257 (R2= 0.67). Supplementation of SLE above 3% indicates a decrease in protozoa population. Meanwhile, MPP continues to increase until the supplementation level of 3% and subsequently decreases. From this study, it was concluded that supplementation SLE at the level of 3% was able to produce the highest production of microbial proteins. The protozoa population decreased in the supplementation of SLE at levels above 3%
Uji Biologis Multi Nutrient Block dengan Penambahan Jus Daun Sirih Hijau terhadap Pemanfaatan Energi Domba Ekor Tipis
ABSTRACT. Multi Nutrient Block (MNB) merupakan suplemen dengan kadar air yang cukup tinggi dan termasuk ke dalam intermediate moisture, sehingga perlu ditambahkan bahan yang memiliki sifat sebagai pengawet, antara lain daun sirih hijau. Daun sirih hijau juga memiliki sifat antiprotozoa, sehingga berdampak pada proses fermentasi dalam rumen. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kualitas biologis MNB yang ditambahkan daun sirih hijau pada Domba Ekor Tipis ditinjau dari konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian, konversi pakan, fermentabilitas dan pemanfaatan energi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 3 perlakuan dan 6 ulangan. Materi yang digunakan ialah MNB terdiri dari 50% molases, 30% jerami padi fermentasi, 6% tepung cangkang kerang, 3% garam, 4% urea dan 7% bentonit. Penambahan daun sirih hijau pada MNB sebanyak 0% pada T0, 3% pada T1 dan 6% pada T2. Pemberian pakan terdiri atas konsentrat komersil 65%, rumput gajah 25% dan MNB 10%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan jus daun sirih hijau pada MNB tidak berpengaruh nyata (P0.05) terhadap konsumsi nutrien dan energi, fermentabilitas nutrien pakan serta pemanfaatan energi. Pemberian jus daun sirih hijau sebesar 6% pada MNB tidak berdampak pada proses fermentabilitas dan performa ternak domba.(The biological quality of multi nutrient block with addition of green betel leaf juice on energy utilization of thin tailed sheep)ABSTRAK. Multi Nutrient Block (MNB) is supplement with a high moisture content and classified as intermediate moisture, so it is necessary to add ingredients that have preservative properties, such as green betel leaf. Green betel leaf also has antiprotozoal compound, so it has an impact on the fermentation process in the rumen. The purpose of this study was to examine the biological quality of MNB with green betel leaf to Thin Tailed Sheep in terms of dry matter consumption, daily body weight gain, feed conversion, fermentability and energy utilization. This study used a completely randomized design consisting of 3 treatments and 6 replications. The material used MNB consisting 50% molasses, 30% fermented rice straw, 6% clamshell flour, 3% salt, 4% urea and 7% bentonite, while the addition of green betel leaf was 0% at T0, 3% at T1 and 6% at T2. Feeding consisted of 65% commercial concentrate, 25% elephant grass and 10% MNB. The parameters observed in this study were dry matter consumption, average daily gain, feed conversion, fermentability and energy utilization. The results showed that the addition of green betel leaf juice to MNB had no significant effect (P0.05) on nutrient and energy consumption, fermentability and energy utilization. The conclusion of the study is the addition of green betel leaf juice to MNB until 6% did not impact on the process of fermentability and performance of sheep
Menekan Oksidasi Sosis Daging Sapi yang Disimpan pada Suhu Ruang dengan Penambahan Ekstrak Daun Senduduk (Melastoma malabathricum L.)
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan ekstrak daun senduduk sebagai antioksidan sosis daging sapi selama penyimpanan suhu ruang. Sebanyak 40 g bubuk daun senduduk dimaserasi dalam air destilata (1:4; b/v) selama 24 jam pada suhu kamar, disaring, kemudian di-freeze dry. Lima perlakuan diaplikasikan, yaitu kontrol yang mengandung daging sapi, minyak nabati, susu skim bubuk, tepung tapioka, garam, fosfat, es, dan bumbu-bumbu (P1); formula kontrol ditambah dengan butylated hydroxytoluene 0,01% (P2), formula kontrol ditambah ekstrak daun senduduk 0,5% (P3), formula kontrol ditambah ekstrak daun senduduk 0,75% (P4), dan formula kontrol ditambah ekstrak daun senduduk 1% (P5). Variabel yang diamati adalah susut masak, daya mengikat air, aktivitas antioksidan, nilai Tio barbituric acid reactive substances (TBARS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun senduduk menurunkan susut masak sosis dan tanpa memengaruhi karakteristik daya mengikat air. Penambahan ekstrak daun senduduk mampu meningkatkan daya hambat terhadap radikal bebas dan kapasitas antioksidan serta menekan nilai TBARS. Selama penyimpanan suhu pada ruang hingga 10 jam, aktivitas antioksidan mengalami penurunan tetapi tidak memengaruhi nilai TBARS. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah penggunaan ekstrak daun senduduk hingga 1% dari berat daging dapat menekan oksidasi yang setara dengan butylated hydroxytoluene 0,01% pada sosis selama penyimpanan suhu ruang 10 jam.(Reducing oxidation in beef sausage during room temperature storage by adding senduduk (Melastoma malabathricum L.) leaf extract)ABSTRAK. This study aimed to evaluate the use of senduduk leaf extracts as an antioxidant beef sausage during room temperature storage. A-40 g powder was macerated with distilled water (1:4; w/v) for 24 h at room temperature, filtered, and then was freeze-dried. Five treatments were employed including control containing beef, vegetable oil, skimmed milk powder, tapioca, salt, phosphate, ice, and seasons (P1); control added butylated hydroxytoluene 0.01% (P2); senduduk leaf extract 0.5% (P3); senduduk leaf extract 0.75% (P4); and senduduk leaf extract 1% (P5). Variables observed were cooking loss, water holding capacity, antioxidant activity, and Tio barbituric acid reactive substances (TBARS). The results showed the addition of senduduk leaf extract could decrease the cooking loss without any effect on the water-holding capacity of the sausages. The addition of senduduk leaf extract increase the scavenging activity and antioxidant capacity and reduced TBARS value of the sausages. During storage, the antioxidant activity of the sausages diminished with no affect the TBARS value. It could be concluded that the addition of senduduk leaf extract 1% could retard lipids oxidation of the sausage and the capability was equal to butylated hydroxytoluene 0.01 during 10 hours of storage
Hubungan antara Ukuran Linear Tubuh dengan Bobot Badan Domba Texel dan Domba Awassi
ABSTRACT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ukuran tubuh linier dengan bobot badan domba Texel dan Awassi. Materi penelitian adalah 35 ekor domba yang terdiri dari 20 ekor domba Texel betina umur 1-1,5 tahun dan 15 ekor domba Awassi betina umur 2 tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dengan melakukan pengukuran ukuran linear tubuh dan penimbangan bobot badan. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah lingkar dada (LD), panjang badan (PB), tinggi pundak (TP), dan bobot badan (BB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara LD dan PB dengan BB pada domba Texel (P0,01). Sementara itu, TP memiliki hubungan yang signifikan dengan BB pada domba Texel (P0,05). Nilai korelasi dari yang tertinggi sampai yang terendah yaitu 0,82; 0,64; 0,48. Pada domba Awassi terdapat hubungan yang sangat signifikan antara LD dan TP dengan BB domba Awassi (P0,01). Sedangkan PB memiliki hubungan yang signifikan dengan BB domba Awassi (P0,05). Nilai korelasi dari yang tertinggi sampai yang terendah yaitu 0,89; 0,63; 0.73. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa ukuran linear tubuh pada domba Texel dan Awassi seperti LD, PB, dan TP memiliki hubungan positif dengan BB.(Relationship between linear body measurements and body weight of Texel sheep and Awassi sheep)ABSTRAK. The aim of this research was to find the relationship between linear body measurements and body weight of Texel and Awassi sheep. The research material was 35 sheep consisting of 20 female Texel sheep aged 1-1,5 years and 15 female Awassi sheep aged 2 years. The method used in this research is observation by measuring body linear size and weighing body weight. Sampling was done by purposive sampling. The variables observed in this study were chest girth (CG), body length (BL), shoulder height (TP), and body weight (BW).The results showed that the very significant relationship between CG and BL with BW in Texel ewes (P0.01). Meanwhile, BH had a significant relationship with BW in Texel ewes (P0,05). The correlation values from the highest to the lowest, which is 0,82; 0,64; 0,48. In Awassi sheep there is a very significant relationship between CG and TP with BW Awassi ewes (P0,01). Meanwhile, TP had a significant relationship with the BW of Awassi ewes (P0.05). The correlation value from the highest to the lowest, which is 0.89; 0.63; 0.73. The conclusion in this study is that linear body measurements in Texel and Awassi ewes have a positive relationship with body weight