Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Pengaruh Tepung Daun Sirsak (Announa muricata L.) dalam Ransum Terhadap Bobot Usus, Pankreas dan Gizzard Itik Tegal Jantan
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penambahan tepung daun sirsak (Annona muricata L.) dalam ransum terhadap bobot usus, bobot sekum, bobot pankreas dan bobot gizzard itik tegal jantan. Materi penelitian menggunakan 60 ekor itik tegal jantan, tepung daun sirsak, pakan basal yang terdiri atas jagung 30%, soy bean meal 7%, minyak sayur 6,1%, poultry meat meal 17%, dedak 38,2%, L-lysin HCL 0,1%, DL-methionin 0,3%, Topmix 0,2%, NaCl 0,1%, dan CaCO3 1%. Perlakuan terdiri atas: ransum basal, ransum basal ditambah 5% , 10% dan 15% tepung daun sirsak,. Hasil penelitian diperoleh rataan bobot usus, sekum, pankreas dan gizzard masing-masing 57,1 8,54; 4,15 0,892g; 3,4 1,188 g; dan 54,1 7,297 g. Berdasarkan hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P0,01) terhadap bobot usus dengan persamaan garis Y= 3,5550200 + 0,400084-0,019244X2 dan berpengaruh nyata terhadap bobot gizzard (P0,05)dengan persamaan garis Y = 4,04208+0,070476X, akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap bobot sekum dan bobot pankreas (P0,05). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perlakuan penambahan tepung daun sirsak level 10% per kg pakan adalah yang paling optimal.(The effect of dried soursop leaf meal (Annona Muricata L.) in rations on weight of intenstine, pancreatis and gizzard of male Tegal Duck)ABSTRACT. The purpose of the research was to determine the effect of dried soursop leaf meal (annona muricata L.) in rations on weight of intenstine, pancreatis and gizzard of male tegal duck. The research materials were 60 male tegal ducks, dried soursop leaf meal, basal feed consisted of corn 30%, soy bean meal 7%, vegetable oil 6.1%, poultry meat meal 17%, bran 38.2%, L-lysine HCL 0.1 %, DL-methionine 0.3%, Topmix 0.2%, NaCl 0.1% and CaCO31%.The treatments consisted of control diet, basal ration plus 5% soursop leaf meal, basal ration plus10% flour soursop leaves, basal ration plus 15% flour soursop leaves.The results obtaineds the average weights of the intestine, cecum, pancreas and gizzard were 57.1 8.54; 4.15 0.892 g; 3.4 1.188 g; dan 54.1 7.297 g respectively. Analysis of variance showed that the treatments had highly significant effect (P 0.01) on the weights of the intestine with the line equation Y = 3.5550200 + 0.400084X-0.019244X2 and significantly effect (P 0.05) on gizzard with the line equation Y = 4,04208 + 0,070476X but the treatment not significantly effect (P 0.05) on the weights of the cecum and pancreas. It can be concluded that supplementation of dried soursop leaf meal as much as 10% is the most optimum
Kajian Kualitatif Dampak Bantuan Pemerintah pada Peternakan Sapi Potong Menggunakan Pendekatan Model
ABSTRAK. Pemerintah telah mengimplementasikan banyak program untuk meningkatkan populasi sapi di Indonesia, namun untuk memenuhi kebutuhan daging nasional Indonesia masih tergantung pada impor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji dampak bantuan pemerintah terhadap kinerja kelompok peternak sapi potong, terutama pada aspek sosial ekonomi. Pemodelan kualitatif menggunakan Causal Loop Diagram (CLD) dipilih untuk memetakan hubungan antar elemen yang terkait. Penelitian dilakukan dengan observasi langsung, wawancara semi-terstruktur, dan lokakarya pada dua kelompok ternak di Kabupaten Banjarnegara dan Banyumas. Diagram menunjukkan bahwa dalam di dalam sistem teridentifikasi enam buah loops yang terbagi atas tiga loops penyeimbang dan tiga loops saling memperkuat. Berdasarkan studi ini dapat diketahui bahwa program pemerintah yang pada awalnya didesain untuk memacu populasi sapi potong, pada kenyataanya di level peternak tidak sepenuhnya teradopsi dengan baik. Peternak hanya mengadopsi aktifitas yang dinilai lebih mudah dan lebih cepat mendatangkan keuntungan. Besarnya nilai bantuan berupa uang tunai yang langsung masuk ke rekening kelompok memicu keinginan peternak untuk dapat memperoleh keuntungan secepat-cepatnya, sehingga peternak lebih memilih penggemukan yang memiliki siklus lebih cepat.(Qualitative modelling of the impact of government grant on beef cattle farming performance)ABSTRACT. The Government of Indonesia has introduced various programs to increase the cattle population. However, Indonesia still relies on imports to meet national demand. This study aimed to explore the impact of government program on the performance of farmer groups, particularly in socioeconomic aspect. Qualitative modelling using Causal Loop Diagram (CLD) of System Dynamics methodology was applied to connect the linkages among elements. A series of observations, semi-structured interviews, and workshops were undertaken involving two farmer groups from two districts; Banjarnegara and Banyumas. CLD showed a total of 6 loops; 3 balancing and 3 reinforcing loops. Each loop represented certain behaviour of the system. The study revealed that the program which initially designed to build engine of growth to boost population from farmers group level were not entirely implemented as it is. There were indications of selective adoption and side tracking. Farmers tended to prefer activities which more profitable and generate cash fasterly. A large amount of cash flow into farmers bank account provoked farmers to get immediate benefit, thus farmers choose the fattening over breeding which considered having shorter production cycle and disregarding the breeding which took longer time to produce cash
Respon Fisiologis dan Kualitas Susu Sapi Perah Friesian Holstein pada Musim Kemarau Panjang di Dataran Tinggi
ABSTRAK. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari respon fisiologi, produksi dan kualitas susu sapi perah Frisian Holstein pada akhir musim kemarau panjang di Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-SP HMT) Cikole, Lembang, Bandung. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Parameter mikroklimat yang diamati antara lain adalah temperatur lingkungan, kelembaban relatif, kecepatan angin, radiasi sinar matahari dalam kandang dan Temperature-Humidity Index (THI). Respon fisiologis yang diamati meliputi suhu rektal, suhu kulit, suhu tubuh, frekuensi respirasi dan denyut jantung. Nilai rerata THI (73.935.51) menunjukkan sapi perah berada dalam kondisi stress ringan. Nilai rerata dari suhu rektal, suhu kulit, suhu tubuh, frekuensi respirasi dan denyut jantung secara berurutan 37.940.20C; 32.151.25C; 37.130.32C; 39.13 3.00 dan 79.746.19. Nilai rerata persentase bahan kering, lemak dan protein susu secara berurutan 10,19 0,72, 2,14 0,38 dan 2,50 0,32. Temperatur lingkungan yang tinggi mempengaruhi respon fisiologis antara lain peningkatan denyut jantung yang lebih tinggi dari normal dan kualitas susu yang lebih rendah. (Physiological responses and milk qualities of holstein friesian during long dry season at high altitude)ABSTRACT. The objectives of this study were to evaluate physiological responses and milk qualities of dairy cows in Balai Pengembangan Ternak Sapi Perah dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-SP HMT) Cikole West Bandung at the end of long dry season. Samples were determined by using purposive sampling method. Microclimate parameters were included ambient temperature, relative humidity, air velocity, solar radiation and temperature-humidity index (THI). Physiological responses consisted of rectal temperature, skin temperature, body temperature, respiration rate and pulse rate. The mean value of THI (73.935.51) showed that dairy cows suffered by heat stress. The mean value of rectal temperature, skin temperature, body temperature, respiration rate and pulse rate were 37.940.20C; 32.151.25C; 37.130.32C; 39.133.00 and 79.746.19 consecutively. The average percentage value of dry matter, fat and protein content in milk were 10.190.72, 2.140.38 and 2.500.32. High ambient temperature and low relative humidity affected physiological responses such as pulse rate that higher than normal, and lower milk yield
Efek Penggunaan Sinbiotik Terhadap Kondisi Miklofora dan Histologi Usus Ayam Sentul Jantan
ABSTRAK. Sinbiotik merupakan gabungan dari probiotik dan prebiotik yang dapat memperbaiki mikroflora di saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan sinbiotik sebagai feed aditif terhadap jumlah Bakteri Asam Laktat (BAL), Escherichia colli, histologi tinggi dan lebar vili usus. Perlakuan R0 = Pakan kontrol, R1 Sinbiotik alami (2%), R2 = Sinbiotik Alami (4%), R3 = Sinbiotik Alami (6%), R4 = Sinbiotik Komersil (2%), R5 = Sinbiotik Komersil (4%), R6 = Sinbiotik Komersil (6%). Analisis statistik yang digunakan adalah ANOVA (Analisis Varian) dan uji lanjut menggunakan Orthogonal kontras. Hasil penelitian menunjukkan pemberian sinbiotik alami berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kondisi mikroflora usus, meningkatkan jumlah bakteri asam laktat, dan menurunkan jumlah Escherichia colli) sedangkan pemberian perlakuan sinbiotik alami berpengaruh nyata (P0,05) terhadap histologi tinggi dan lebar vili usus. Simpulan dari penelitian adalah penggunaan Sinbiotik Alami 2% dapat meningkatkan, jumlah bakteri asam laktat di duodenum, jejenum dan ileum, menurunkan bakteri Escherichia colli di ileum. Penggunaan sinbiotik komersil 4% meningkatkan, tinggi vili usus duodenum, jejenum dan ileum, dan lebar vili di ileum.(Effect synbiotic usage toward microbiological and hystological states of sentul rooster intestine)ABSTRACT. Symbiotic is a combination of probiotic and prebiotic used to improve microflora in digestive system. This study aims to evaluate the symbiotic usage as a feed additive toward the number of lactic acid bacteria, Escherichia coli, the height and the width of villi. Treatment R0 = Diet control, R1 Natural Symbiotic (2%), R2 = Natural Symbiotic (4%), R3 = Natural Symbiotic (6%), R4 = Commercial Symbiotic (2%), R5 = Commercial Symbiotic (4%), R6 = Commercial Symbiotic (6%). Statistical analysis uses ANOVA (Analysis of Variant), while further test uses orthogonal contrast. The result showed that the given symbiotic was significantly (P0,05) effect toward the condition of intestinal microflora, it increases the number of lactic acid bacteria and decreases Escherichia coli, as well as the treatment (P0,05) toward histology of the height and the width of intestinal villi. As the conclusion, the use of 2% of natural symbiotic increases the amount of lactic acid bacteria in duodenum, jejunum, and ileum, but reduces Escherichia coli in ileum, the height of intestinal villi in duodenum and the width of intestinal villi in ileum, and administered 4% of commercial symbiotic increases the height of intestinal villi in duodenum, jejunum, ileum and the width of intestinal villi in ileum
Persentase Karkas Itik Peking yang Diberi Pakan dalam Bentuk Wafer Ransum Komplit Mengandung Limbah Kopi
ABSTRAK. Penggunaan wafer ransum komplit mengandung limbah kopi pada itik peking dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui berat akhir dan persentase karkas. Materi penelitian yang digunakan adalah itik peking umur 1 hari (DOD) sebanyak 96 ekor dibagi dalam 4 perlakuan dan 3 ulangan. Ransum yang digunakan satu bulan pertama adalah ransum komersil, dan satu bulan terakhir wafer ransum komplit mengandung limbah kopi. Ransum perlakuan yang diberikan adalah: P0 = Wafer ransum komplit 0% limbah kopi (kontrol), P1 = Wafer ransum komplit 2,5% limbah kopi, P2 = Wafer ransum komplit 5% limbah kopi, dan P3 = Wafer ransum komplit 7,5% limbah kopi. Parameter yang diamati: bobot hidup, bobot karkas, bobot potongan karkas, persentase karkas, dan persentase potongan karkas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Data dianalisis dengan analysis of variance dan dilanjutkan dengan Uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan limbah kulit kopi sebagai bahan penyusun ransum itik peking dalam bentuk wafer ransum komplit berpengaruh nyata terhadap bobot akhir. Penggunaan limbah kulit kopi 2,5% dalam ransum secara signifikan (P0.05) meningkatkan bobot karkas dan potongan karkas. Dapat disimpulkan penggunaan limbah kulit kopi sebanyak 2,5% sebagai bahan penyusun wafer ransum komplit tidak memberi pengaruh negatif terhadap bobot badan akhir, persentase karkas dan potongan karkas itik peking.(Carcass percentage of peking duck feed wafer complete ration containing of coffee waste)ABSTRACT. This research was conducted to study the effectiveness of wafer complete ration containing coffee waste on the final body weight and carcass percentage. The study used 96 DOD Peking duck. Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments and 3 replications. Rations used during the first month was a commercial ration, and then subsequently wafer complete ration of coffee waste given as treatments; P0 = wafer complete ration contained 0% of coffee waste (control), P1 = wafer complete ration 2,5% of coffee waste, P2 = wafer complete ration 5% of coffee waste, and P3 = Wafer complete ration 7,5% of coffee waste. The observed variables were: final body weight, carcass weight, carcass percentage, carcass component weight, and carcass component percentage. Collected data was analyzed by ANOVA and followed by Duncan Multiple Range Test if there was a significant different between treatments. The results showed wafer complete ration containing coffee waste was significantly (P 0.05) effect on final body weight. Feed containing 2,5 % of coffee waste significantly (P0.05) effect on carcass weight and carcass percentage. It is concluded that no negatif effect of wafer complete ration containing 2,5 % coffee waste on final body weight and carcass percentage of peking duck
Kandungan Total Bakteri dan Total Fungi pada Pellet Limbah Penetasan yang Dibuat dengan Penambahan Bentonit
ABSTRAK. Penelitian efek penambahan bentonit dalam proses pelleting terhadap total bakteri dan total fungi dari produk pellet limbah penetasan sebagai bahan pakan alternatif, telah dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro. Penambahan bentonit pada proses pelleting diharapkan mengurangi total bakteri dan total fungi pada pellet olahan limbah penetasan, sehingga aman digunakan sebagai bahan pakan alternatif. Pada penelitian ini limbah penetasan yang berupa cangkang telur, telur infertile, telur gagal menetas, serta DOC afkir dan mati dihancurkan, dicampur dengan bentonit dan dibuat pellet, untuk kemudian dianalisis kandungan total bakteri dan total fungi pada produk pellet. Perlakuan bentonit dilakukan dengan aras 0, 2, 4 dan 6% (B/B). Penelitian dilakukan dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 5 ulangan. Data dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. Hasil menunjukkan bahwa pemberian bentonit dari berbagai level berpengaruh sangat nyata (P0,01). Pemberian bentonit pada tingkat tertinggi (6%) mampu menekan total bakteri dan total fungi pada kisaran 105 cfu/g. Disimpulkan bahwa bentonit mampu menekan kandungan total bakteri dan total fungi pada produk pellet limbah penetasan.(Numbers of total bacteria and total fungi of hatchery waste pellets that made by adding bentonite)ABSTRACT. A Research about the effect of bentonite addition in the pelletizing process on total bacteria and total fungi of pellet product of hatchery waste as an alternative feedstuff, was done at Feed Technology Laboratory, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University. The addition of bentonite was expected to reduce the number of bacteria and fungi in the pellet product of hatchery waste, therefore, it could be used safely as an alternative feedstuff. In this experiment, the hatchery waste in the forms of eggshell, infertile eggs, un-hatched eggs, dead and culled DOC were blended, mixed with bentonite and pelleted,and then the number of total bacteria and total fungi of pellet was analyzed. The treatment was carried out with the level of bentonite i.e. 0, 2, 4 and 6% (w/w). Completely randomized design (CRD)was applied by 4 treatments and 5 replications of each. Data analyzed by analysis of variance (ANOVA), and followed by Duncan multiple range test (DMRT) to determine differences among the treatments. The results showed that administration of bentonite at various levels significantly affect the number of bacteria and fungi in the hatchery waste pellets (P 0.01). Administration of bentonite at the level of 6% shows the highest value on suppressing the content of total bacteria as well as fungi up to the range of total content 105cfu/g. In conclusion, the bentonite was able to suppress the total amount of bacteria and total fungi in the hatchery waste pellets
Pola Pengembangan dan Produktivitas Sapi Potong Program Kemitraan Bina Lingkungan di Kabupaten Banyumas dan Cilacap Propinsi Jawa Tengah
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pola pengembangan dan produktivitas sapi potong pada Program Kemitraan Bina Lingkungan. Penelitian lapang melalui survei dengan metode Purposive sampling ditujukan kepada seluruh peternak sapi potong peserta Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) berlokasi di Kabupaten Banyumas dan Cilacap Propinsi Jawa-Tengah. Analisis statistik deskriptip kualitatip dan kuantitatip diterapkan pada penelitian ini. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pola yang diterapkan adalah penggemukan dan pembesaran (Banyumas) dan penggemukan (Cilacap). Penggemukan intensip sapi persilangan Simental, Limosine, Charalois dengan periode 45-96 hari dipraktekkan di Cilacap, dan penggemukan sapi Madura, Bali dan persilangan Sumba Ongole untuk tujuan Idul Qurban dilakukan di Banyumas dengan periode penggemukan relatip panjang (4-10 bulan). Diperoleh rataan pertambahan bobot badan harian 0,99 kg (sapi Madura), 0,97 kg (sapi Bali) dan 1,3 kg (Sapi Persilangan Ongole) dengan BCS berkisar 5-7 (level medium-tinggi). Rataan pertambahan bobot badan harian sapi persilangan Simental, Limosine dan Charalois adalah 1,4 kg dengan BCS berkisar 7-8 (level tinggi).(Development type and productivity of beef cattle at the community development partnership program in banyumas and cilacap regencies of Central-Java Province)ABSTRACT. The purposes of this study was to describe the developoment type and productivity of Beef Cattle at the Community Development Partnership Program. Purposive samping method was implemented by survey at the beef cattle farmers who are member of the Community Development Partnership Program located at Banyumas and Cilacap regencies of Central-Java province. Qualitative and quantitative descriptive statistics were applied in this study. It is found that fattening and growing type (in Banyumas) and fattening type (Cilacap) was practiced. Intensive fattening of Simental, Limosine, Charalois Cross cattle by 45-96 days of periods found in Cilacap, and extended fattening of Madura, Bali and Sumba Ongole Cross Cattle for Idul Qurban purposes found in Banyumas. Average daily gain was 0.99 kg (Madura Cattle), 0.97 kg (Bali Cattle) and 1.23 kg (Sumba Ongole Cross) with the Body Condition Score (BCS) of 5-7 (medium-high level). Average daily gain of Simental, Limosine and Charalois Cross Cattle was 1.54 kg with the BCS of 7-8 (high level)
Penampilan Produksi Sapi Peranakan Ongole yang Diberi Pakan Konsentrat yang Mengandung Tepung Daun Murbei
ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan pakan konsentrat yang mengandung tepung daun murbei terhadap performa sapi peranakan ongole. Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok, dengan 4 perlakuan dan 4kelompok. Perlakuan terdiri dari P1 (Pakan hijauan berupa rumput lapang dan pakan konsentrat berupa murbei dan konsentrat komplit), P2 (Pakan hijauan berupa rumput lapang dan pakan konsentrat berupa murbei dan konsentrat jagung), P3 Pakan hijauan berupa rumput lapang dan pakan konsentrat berupa murbei dan konsentrat dedak padi, P4 (Pakan hijauan berupa rumput lapang dan pakan konsentrat berupa murbei dan konsentrat onggok). Parameter yang diukur adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian, efisiensi pakan, Income Over Feed Cost (IOFC), dan R-C rasio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung daun murbei pada konsentrat yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang nyata (P 0,05) terhadap pertambahan bobot badan harian, konsumsi pakan, efisiensi pakan, Income Over Feed Cost (IOFC), dan R-C rasio. Kesimpulan penelitian ini bahwa konsentrat yang mengandung tepung daun murbei dapat dikombinasikan dengan konsentrat tunggal seperti jagung, onggok atau konsentrat komplit.(Performance of local cattle (Peranakan Ongole-PO) feed concentrates containing mulberry leave meal)ABSTRACT. The research has been conducted to study the ability of mulberry leaves that mixed in concentrates feed on the performance of Local cattle. A randomized block design, with 4 treatments and 4 blocks applied. The treatments consisted of 4 different mix of feed which were P1 (native grass and concentrate feed in the form of mulberry leaves and concentrate complete), P2 (native grass and concentrate feed in the form of mulberry leaves meal and corn concentrate), P3 (native grass and concentrate feed in the form of mulberry leaves meal and rice bran concentrate), P4 (native grass and concentrate feed in the form of mulberry leaves meal and tapioca waste concentrate). Parameters measured were feed consumption, daily body weight gain, feed efficiency, Income Over Feed Cost (IOFC), revenue cost ratio. The results showed that the mulberry leaves meal in different concentrate not significantly (P0,05) affect daily body weight gain, feed consumption, feed efficiency and Income Over Feed Cost (IOFC), and revenue cost Ratio. It is concluded that based on the nutrient content, mulberry leaves meal concentrate can be combined with a single ingredient of concentrate feed such as corn, cassava waste meal or complete concentrate
Respon Kecernaan Bahan Kering dan Ukuran Tubuh Kambing Peranakan Etawah Jantan Terhadap Pemberian Bungkil Inti Sawit
ABSTRACT. A Study on dry matter digestibility and body sizes of Peranakan Etawah male goat given palm kernel cake (PKC) condukted at the experimental farm of Agriculture Fakulty of Syiah Kuala University. Twelve Peranakan Etawah male goats about 10-17 kg live weight were used in the experiment. randomized block design with 3 clocks and 4 treatments consists of R0 (without PKC) R1 (100 g PKC), R2 (200 g PKC), and R3 (300 g PKC) was applied in this experiment. Parameters measured were dry matter degestibility, crude protein degestibility,crude fiber degestibility, body length, chest gird, and shoulder heinght. The result showet that PKC singnificantly (P0.01) affected crude protein and significantly (P,0.05) affected crude fiber digestibility, body length and chest gird of Peranakan Etawah male goats. However, Peranakan Etawah male goats given PKC have no response on dry matter digestibility and shoulder height
Estimasi Nilai Heritabilitas Sifat Kuantitatif Sapi Aceh
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengestimasi nilai heritabilitas sifat kuantitatif pada sapi Aceh. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Indrapuri Aceh Besar, dengan menggunakan metode survey (data primer dan data sekunder), dan analisis data menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola Searah. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah nilai heritabilitas sifat kuantitatif meliputi panjang badan, tinggi gumba, lingkar dada, bobot lahir dan bobot sapih. Nilai heritabilitas bobot lahir 0,06 0,29, bobot setahun 0,12 0,32, bobot satu setengah tahun 0,37 0,41. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat kuantitatif pada sapi Aceh memiliki nilai heritabilitas yang rendah (bobot lahir) dan sedang (bobot setengah tahun). Perbedaan nilai heritabilitas disebabkan karena jumlah sampel yang digunakan, tempat dan waktu penelitian dan metode perhitungan yang berbeda.(Heritability estimation of quantitative traits in Aceh cattle)ABSTRACT. The objective of this research was to estimate the heritability of quantitative trait of Aceh cattle. This research was conducted in BPTU Indrapuri, Aceh Besar. The method used was survey, and the Completely Randomized Design Pattern Unidirectional was used to analyze the data. The parameter which was observed in this research was the heritability of quantitative trait including body length, body height, chest size, birth weight and weaning weight. Heritability for birthweight 0.06 0.29, for yearling weight 0.12 0.32, and heritability for the weight of one and a half years 0.37 0.41. The result shows that the heritability of quantitative traits in Aceh cattle was low (birth weight). The difference in heritability was due to the number of samples used, the place and time of the research and different calculation methods