Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pemberian Kombinasi Pakan Fermentasi dengan Multi Enzim dan Vitamin E dalam Ransum terhadap Peningkatan Kualitas Semen Ayam Arab
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mempelajari pengaruh pemberian kombinasi pakan fermentasi dengan multi enzim pencernaan dan vitamin E dalam ransum komersial terhadap peningkatan kualitas semen ayam arab. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 kelompok perlakuan dengan 5kali ulangan. 1) kontrol (P0) ayam diberikan ransum komersial 100 %, 2) perlakuan 1 (P1) ayam diberi 89,83% ransum komersial + 10% pakan fermentasi + 0,15% multi enzim + 0,02% vitaminE, (3) perlakuan 2 (P2) ayam diberi 79,83% ransum komersial + 20% pakan fermentasi + 0,15% multi enzim + 0,02% vitamin E, dan (4) perlakuan 3 (P3) ayam diberi 69,83% ransum komersial + 30% pakan fermentasi + 0,15% multi enzim + 0,02% vitamin E. Koleksi semen dilakukan pada hari ke 36 dengan metode masase. Data kualitas semen yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analysis of variance (ANOVA) satu arah yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kombinasi pakan fermentasi dengan multi enzim dan vitamin E dalam ransum komersial berpengaruh secara nyata (P0,05) terhadap peningkatan volume, pH semen, konsentrasi spermatozoa, motilitas, spermatozoa hidup, dan penurunan abnormalitas ayam arab, namun tidak berbeda nyata (P0,05) terhadap warna, konsistensi dan gerakan massa spermatozoa. Dapat disimpulkan pemberian kombinasi pakan fermentasi dengan multi enzim dan vitamin E dalam ransum komersial dapat meningkatkan kualitas semen ayam arab.(Effect addition of fermented feed with the multi-enzyme digestion and vitamin E in commercial feed on improvement the quality of semen arab chicken)ABSTRACT. The study aimed to determine the effect of fermented feed combination with the multi enzymes digestion and vitamin E addition on the quality of semen arabs chicken. This research used a randomized block design (RAK) consisting four treatments with five replications : P0: 100% Commercial feed (524), P1: 89.83% commercial feed + 10% fermented feed + 0.02% viamint E + 0.15% multi enzyme, P2: 79.83% commercial feed + 20% fermented feed + 0.02% vitamin E + 0.15% multi enzyme, P3: 69.83% commercial feed + 30% fermented feed + 0.02% vitamin E + 0.05% multi enzyme. Semen sample was collected at 36th day using a massage method. Data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and continued by Duncan test. The results showed that addition of combination of fermented feed with digestive multi enzymes and vitamin E has significantly effect (P0,05) on increases of the volume, pH, spermatozoa concentration, percentage of spermatozoa motility, spermatozoa life, and decreased the percentage of spermatozoa abnormalities. This research can be concluded that the addition of fermented feed combination with digestive multi enzymes and vitamin E able to improve the quality of arab chicken semen
Pengaruh Pemberian Urea dan Sulfur pada Pembuatan Silase Limbah Padat Bioetanol yang Diberi Starter Em-4
ABSTRAK. Pembuatan bioetanol berbahan dasar singkong menghasilkan limbah padat yang berpotensi untuk dijadikan pakan ternak. Namun, limbah tersebut memiliki kandungan nutrien yang rendah, apabila diberikan pada ternak secara langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan urea dan sulfur pada pembuatan silase limbah padat bioetanol dengan menggunakan starter EM-4 (Effective Mikroorganisms-4). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3 dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah penambahan urea dengan dosis masing-masing N1=0%, N2=1,5%, dan N3=3%, dan faktor kedua adalah penambahan sulfur dengan dosis masing-masing S1=0,00%, S2=0,02%, dan S3=0,04% dari bahan kering. Peubah yang diukur adalah kandungan asam laktat, pH, susut bahan kering, dan serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara penambahan urea dan sulfur. Kombinasi penambahan urea 3% dan sulfur 0,04% menghasilkan asam laktat paling tinggi, yaitu 1,30%, serta menghasilkan pH dan susut bahan kering paling rendah dengan nilai rata-rata 3,33 dan 9,02%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi urea 3% dan sulfur 0,04% merupakan perlakuan yang paling baik.(Effect of urea and sulfur addition on silage from bioethanol solid waste using EM-4 starters)ABSTRACT. In the making of bioethanol made of cassava as basic component produce solid waste that has potential as livestock feed. However, this waste product is of low nutritional value when given directly to the livestocks due to the high crude fiber. Therefore, waste should be done with pretreatment, and one of the way was done by fermentation. The aim of this research was to observe the effect of urea and sulfur additive in the making of bioethanol solid waste silage by using EM-4 starters. This research used 3 x 3 Completely Randomized Design with 3 replicates. The first factor was urea additive with different dosage N1=0%, N2=1.5%, N3=3%, and the second factor was sulfur additive with dosage S1=0.00%, S2=0.02%, S3=0.04%. The measured variables were concentration of lactic acid, pH, dry matter loss, and crude fiber content. The results showed that there were no interactions between urea and sulfur. Addition of 3% urea and 0,04% sulfur in substrate showed the highest of lactic acid with the average value of 1.32% and the lowest pH and crude fiber with average value 3.33 and 9.02%. It was concluded that combination of 3% urea and 0,04% sulfur was the best treatment
Pengaruh Pemberian Pakan dengan Sumber Protein Berbeda terhadap Efisiensi Penggunaan Protein Ayam Lokal Persilangan
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian pakan dengan sumber protein berbeda terhadap efisiensi penggunaan protein ayam lokal persilangan. Materi penelitian adalah 126 ekor ayam lokal persilangan (unsexed) umur 2 minggu, bobot badan 129,02 6,34 g. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 3 perlakuan, serta 7 ulangan, dan setiap unit percobaan terdiri dari 6 ekor ayam. Perlakuannya antara lain T1: 2 sumber protein (bungkil kedelai, tepung ikan); T2: 3 sumber protein (bungkil kedelai, tepung ikan, MBM (Meat Bone Meal)); T3: 4 sumber protein (bungkil kedelai, tepung ikan, Meat Bone Meal (MBM), Poultry Meat Meal (PMM)). Pakan sumber energi (jagung dan bekatul), pakan sumber mineral CaCo3. Pakan diberikan secara bebas memilih, ad libitum dan dalam benruk mash. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis of Variance) dengan uji F taraf 5%, dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan sumber protein berpengaruh nyata (p0,05) meningkatkan konsumsi protein (T1: 7,65c; T2: 9,57b; T3: 11,40a) g/ekor/hari, menurunkan rasio efisiensi protein (T1: 1,65a; T2: 1,42b; T3: 1,40b), dan meningkatkan asupan protein (T1: 5,82c; T2: 7,30b; T3: 8,82a) g/ekor/hari. Disimpulkan bahwa pemberian pakan dengan sumber protein (bungkil kedelai dan tepung ikan) dapat meningkatkan efisiensi protein ayam lokal persilangan.(The influence of different protein source on efficiency protein of crossbred local chicken)ABSTRACT. This research was aimed to determine the influence of different protein source on protein utilization of Crossbred Local Chicken. Using 126 Crossbred Local Chicken unsexed 2 weeks old with the average body weight 129,02 6,34 g. Completely randomized design with 3 treatments and 7 replication applied, each experimental unit consistent of 6 chickens. The treatment are T1: 2 protein source (soybean meal, fish meal); T2: 3 protein source (soybean meal, fish meal, meat bone meal); T3: 4 protein source (soybean meal, fish meal, meat bone meal. poultry meat meal). Feed energy source (corn and rice bran) and mineral source (CaCo3). Feed given with method free choice feeding, ad libitum, mash. The data obtained were analyzed using Analysis of Variance F-test with level 5% and Duncan test. The research showed that different protein source significantly (P0,05), increase protein consumption (T1: 7,65c; T2: 9,57b; T3: 11,40a) g/day, descreased ratio protein efficiency (T1: 1,65a; T2: 1,42b; T3: 1,40b) and increase protein intake (T1: 5,82c; T2: 7,30b; T3: 8,82a) g/day. As a cconclusion that feeding with soybean meal and fish meal as protein source able to improve protein efficiency of crossbred local chicken
Penggunaan Tepung Limbah Jus Jeruk (citrus sinensis) dalam Ransum terhadap Kualitas Karkas Ayam Broiler
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh tingkat penggunaan tepung limbah jus jeruk (Citrus sinensis) dalam ransum terhadap kualitas karkas (bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, kolesterol karkas, bobot lemak abdomen) dan konsumsi ransum ayam broiler. Materi yang digunakan adalah ayam broiler umur satu hari unsex, strain Arbor Acres CP 707 sebanyak 200 ekor. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap terdiri 5 perlakuan dan 4 ulangan masing-masing ulangan terdiri dari 10 ekor ayam. Perlakuan terdiri dari P0 = Ransum mengandung 0% tepung limbah jus jeruk (kontrol positif); P1 = Ransum mengandung 0% tepung limbah jus dengan penambahan basitrasin 0,02% (kontrol negatif); P2 = jeruk mengandung 5% tepung limbah jus jeruk; P3 = Ransum mengandung 10% tepung limbah jus jeruk; P4 = Ransum 15% tepung limbah jus jeruk. Variabel yang diamati adalah kualitas karkas (bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, kolesterol karkas, lemak abdomen) dan konsumsi ransum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung limbah jus jeruk dalam ransum nyata (P0,05) menurunkan konsumsi ransum, bobot potong, bobot karkas, kolesterol karkas dan bobot lemak abdomen, tetapi penggunaan tepung limbah jus jeruk dalam ransum tidak mempengaruhi persentase karkas. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah penggunaan tepung limbah jus jeruk (Citrus sinensis) dapat digunakan sampai taraf 5% dalam ransum ayam broiler.(The use of orange (citrus sinensis) juice by products in the ration on carcass quality of broiler chickens) ABSTRACT. This study was conducted to evaluate the effect of orange (Citrus sinensis) juice by products in rations on (carcass quality) ; weight of slaughter, carcass weight, carcasspercentages, abdominal fat weight and feed intake of broiler chicks. A total of two hundred unsexed 1 d-old chicks (Arbor Acres CP-707) used. The design used was Completely Randomized Design consisting of 5 treatments and 4 replications of each replication consisting of 10 chickens. Feed treatment consisted of P0 = 0% orange juice waste flour (positive control); P1 = 0% waste juice flour with 0.02% basitratin addition (negative control); P2 = 5% orange juice flour waste; P3 = 10% orange juice flour waste; P4 = 15% orange juice flour waste. The variables observed were carcass quality (cut weight, carcass weight, carcass percentage, carcass cholesterol, abdominal fat) and ration consumption..The results showed that the use of orange juice flour in the ration significantly influenced (P 0.05) in reducing the consumption of ration, cut weight, carcass weight, carcass cholesterol and abdominal fat weight, but the use of orange juice waste flour in the ration did not affect the percentage of carcass . As a conclusion is the use of orange juice waste flour (Citrus sinensis) can be used to a level of 5% in broiler chicken rations
Karakteristik Sarang dan Penetasan Telur Burung Mamoa (Eulipoa wallacei) di Galela Kabupaten Halmahera Utara
ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik sarang mamoa dan penetasan eks-situ (penetasan diluar habitat) yang menggunakan mesin tetas (inkubator) dan in-situ (di dalam habitat) secara semi alami. Penelitian survei dilakukan untuk mengetahui karakteristik sarang dan percobaan laboratorium untuk menentukan tingkat keberhasilan penetasan di habitat semi-alami di pantai Uwo uwo Kecamatan Galela pada kedalaman yang berbeda (20, 40, 60, 80 dan 100 cm). Analisis data digunakan analisis deskriptif dan analisis varian dalam program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik sarang peneluran pada habitat bertelur antara lain temperatur 31,88 1,58 0C, dan kelembaban 67,00 4,04%,. Diameter lubang 136,20 8,93 cm dan kedalaman lubang 58,17 4,3 cm dan tebal timbunan 67,97 4,33 cm, tingkat keberhasilan penetasan In-situ (semi alami) mencapai 100% pada kedalaman 20, 40, 60, 80 dan 100 cm dan Eks-situ (inkubator) hanya mencapai 75%.(Nest characteristics and hatching of mamoa bird egg (Eulipoa wallacei) in Galela District of North Halmahera)ABSTRACT. This study was conducted to identify the characteristics of mamoas nest as a basis for semi-natural and artificial hatching experiments. Survey study was to determine the characteristics of the nest (temperature, humidity) and experiments one was to determine the hatching success rate in semi-natural habitats on the beach of Uwo uwo Galela District where naturally Mamoa lays the eggs, at different depths (20, 40, 60, 80 and 100 cm). Data analysis applied was descriptive analysis and multivariate test using SPSS computer program. Results of the study showed that in the natural nesting ground temperature of 31,88 1,58 oC, and humidity of 67,00 4,04%. The hole diameter of 136,20 8,93 cm and hole depth of 58,17 4,3 cm and the thick pile of 67,97 4,33 cm, hatching success rate of In-situ reached 100% at depths of 20, 40, 60, 80 and 100 cm and ex-situ is only 75%
Persepsi Peternak Sapi Potong Terhadap Budaya Lokal Suku Bugis Terkait Aksesibilitas Pembiayaan
ABSTRAK. Pembiayaan pada peternak sapi potong masih merupakan determinan berkembangnya usaha peternakan.Cukup banyak penilaian yang ditentukan oleh pemberi pinjaman terutama lembaga formal yang menyulitkan peternak untuk mengaksesnya. Namun salah satu penilaian yang melekat pada diri peternak adalah karakter yang baik.Artikel ini menganalisis persepsi peternak sapi potong terhadap budaya lokal suku Bugis dan dikaitkan dengan dengan aksesibilitas pembiayaannya. Hal ini penting mengingat nilai-nilai budaya yang dianut oleh masyarakat sangat menentukan pembentukan karakter seseorang.Karakter perlu diperkuat karena merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan oleh pemberi pinjaman untuk menilai apakah debitur layak diberikan kredit atau tidak termasuk peternak. Sementara persyaratan lainnya agak sulit dipenuhi oleh peternak seperti: collateral, capacity, dan capital.Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan yang mayoritas suku Bugis.Jumlah peternak yang diwawancarai sebanyak 70 orang.Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dan menggunakan analisis statistik deskriptif. Persepsi peternak terhadap nilai-nilai budaya seperti: kejujuran (alempureng), kecendekiaan (amaccang), kepatutan (asitinajang), keteguhan (agettengeng), usaha (reso) dan harga diri (siri) adalah sangat positif dan setuju bahwa keenam hal tersebut dianggap sangat menentukan kemampuannya dalam mengakses pembiayaan. Budaya lokal tersebut perlu dijaga, dibina dan diperkuat untuk meningkatkan kepercayaan pemberi pinjaman baik lembaga formal maupun informal sehingga akses pembiayaan dapat meningkat.Keenam nilai-nilai tersebut saling berinteraksi dan menentukan karakter yang melekat pada diri peternak.(Perception of beef cattle breeders to local culture of buginese tribe related financing accessibility)ABSTRACT.Financing on beef cattle farmers is still a determinant of the development of livestock business. Quite a lot of judgments are determined by lenders, especially formal institutions that make it difficult for farmers to access it. But one of the inherent assessment of the breeder's self is a good character. This article analyzes the perception of beef cattle ranchers to the local culture of the Bugis tribe and associated with the accessibility of its financing. This is important because the cultural values adopted by the community are crucial to the formation of a person's character. The characterneeds to be strengthened because it is one of the things considered by the lender to assess whether the debtor is worthy of credit or not including the breeder. While other requirements are rather difficult to be met by breeders such as collateral, capacity, and capital.This research was conducted in Bone Bugis district of South Sulawesi. The number of farmers interviewed as many as 70 people. Research includes descriptive research and using descriptive statistical analysis. Farmers perception of cultural values such as honesty, intellect, propriety, perseverance, hard workandself-esteem are very positive and agree that these six things are considered determine its ability to access financing. The local culture needs to be maintained, nurtured and strengthened to increase the trust of both formal and informal lenders so that access to finance can increase. These values mutually intersect and determine the inherent character of the breeder
Pengaruh Pemberian Tepung Limbah Udang Fermentasi dalam Ransum Puyuh terhadap Kualitas Telur
ABSTRAK.Limbah udang merupakan limbah hasil industri pengupasan udang yang terdiri dari kepala dan kulit yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif dalam ransum puyuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian Tepung Limbah Udang Fermentasi (TLUF) dalam ransum puyuh untuk meningkatkan kecernaan. Materi penelitian menggunakan 250 ekor puyuh umur 6 minggu dengan bobot awal rata-rata 140,959,58 (CV=6,80). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan, setiap unit percobaan terdiri dari 10 ekor puyuh. Pakan perlakuan yang digunakan adalah 0%, 5%, 7,5% dan 10% tepung limbah udang fermentasi, serta 7,5% tepung limbah udang tidak fermentasi. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan uji F pada taraf 5% dan apabila terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemberian tepung limbah udang fermentasi dalam ransum puyuh berpengaruh nyata (P0,05) meningkatkan skor warna kuning telur tetapi tidak berpengaruh nyata (P0,05) terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan nilai Haugh Unit. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian tepung limbah udang fermentasi 10% mampu meningkatkan skor warna kuning telur.(The effect of supplementation of quails diet with fermented shrimp waste meal on eggs quality)ABSTRACT. Shrimp waste is a waste product of shrimp peeling industry which consists of head and skin. These waste product, can be used as alternative feed stuffs for quails diet. The research was conducted to study the effect of supplemenetation of the diet with fermented shrimp waste meal on quails egg quality. The experimental animals used were 250 quails of 6 weeks old with the initial weight of 140,959,58 (CV=6,80). Completely Randomized Design was used with 5 treatments and 5 replicate cages of 10 quails each cage. The treatments were fermented shrimp waste meal with the levels of 0%, 5%, 7,5% and 10%, and 7,5% unfermented shrimp waste meal. Data were analyzed using analysis of variance and any differences among treatment means found in the analysis of variance were further tested by Duncan Multiple Range Test. The results showed that the fermented shrimp waste meal had significant affect on yolk colour (P0,05), but produced no significant effet (P0,05) on yolk index, albumen index and haugh unit. In conclusion 10% fermented shrimp waste meal can increased yolk colour
Sistem Produksi Peternakan Sapi Potong di Pedesaan dan Strategi Pengembangannya
ABSTRAK. Pendekatan penelitian pada peternakan rakyat Livestock On-Farm Trials ditujukan untuk mengidentifikasi sistem produksi peternakan sapi potong di pedesaan wilayah kabupaten yaitu Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen. Tujuan penelitian ini adalah mendokumentasikan karakteristik sistem produksi peternakan sapi potong, strategi pengembangan untuk meningkatkan produktivitas serta dukungan pembiayaan dari bank. Hasil penelitian memperlihatkan pola yang diterapkan berupa peternakan tradisional berlahan terbatas (traditional rural landless) yang terintegrasi dengan sistem pertanian utamanya tanaman padi. Sapi Peranakan Ongole (PO) sangat dominan ditemukan dan merupakan sapi lokal yang tersebar di lima kabupaten. Pada wilayah penelitian juga ditemukan Sapi Brahman Cross yang ditujukan untuk pembiakan. Penampilan produksi sapi PO, Sumba Ongole dan Persilangan Simmental untuk tujuan penggemukan memperlihatkan hasil BCS sedang sampai tinggi, tetapi produktivitas sapi Brahman Cross cenderung rendah. Diperlukan perbaikan pada feeding system and good farming practices untuk meningkatkan produktivitas sapi. Kebijakan untuk meningkatkan akses pembiayaan kredit, meliputi (i) Penguatan dinamika kelompok dan penerapan teknologi untuk memperbaiki produktivitas sapi potong, (ii) pendampingan pemerintah mengenai aspek penjaminan dan subsidi kredit, penyediaan bantuan untuk revitalisasi pertanian yang dikelola pemerintah dan perbankan, (iii) bekerjasama dengan mitra yang sesuai seperti perbankan dan BUMN untuk program Kredit Kemitraan dan Corporate Social Responsibility.(Livestock production system of beef cattle in the village and their development strategies)ABSTRACT. Livestock On-Farm Trials addressed to identify livestock system of beef cattle production in the villages of Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara and Kebumen regencies. This study was designed to documenting the production system characteristics of beef cattle and development strategic of livestock production system in order to increase their productivity and financial support from bank. Beef cattle production systems characterize by traditional rural landless and integrated with crops especially rice. Ongole Cross (Peranakan Ongole) are the predominant of the local cattle and are widely distributed over the five regencies. Brahman Cross also found that are raising for cow calf operation. Performance of Peranakan Ongole, Sumba Ongole, and Simental Cross for fattening purposes were moderate to high of BCS, but low reproductive for Brahman Cross. Improving feeding system and good farming practices could be done to increase beef cattle productivity. Policies to improve access to credit financing, including (i) Strengthening of group dynamics and application of technology to improve the productivity of beef cattle,(ii) government assistance on the aspects of credit guarantee and subsidies, provision of assistance for agricultural revitalization managed by the government and banking,(iii) working with appropriate partners such as banks and BUMN for Partnership Credit and Corporate Social Responsibility programs
Efektivitas Ekstrak Daun Babadotan Sebagai Green Antiseptic untuk Pencelup Puting Sapi Perah
ABSTRAK. Penelitian dilakukan untuk mengetahui efektifitas ekstrak daun babadotan sebagai bahan aktif cairan pencelup puting (teat dipping) untuk menghambat masuknya bakteri melalui puting, serta membandingkan efektifitasnya dengan povidone iodine. Dua belas ekor sapi perah laktasi penderita mastitis subklinis digunakan dalam rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan berupa teat dipping menggunakan ekstrak daun babadotan 5%, 10%, 15% dan povidone iodine 10% selama 14 hari. Tingkat peradangan kelenjar ambing diketahui dari penjumlahan skor California mastitis test (CMT) dari keempat puting sapi. Hasil penelitian menunjukan penurunan rata-rata total koloni bakteri dalam susu yang sangat signifikan (P0.01) dari 6,1-7,3 log cfu/ml sebelum pencelupan menjadi 4,4-6,0 log cfu/ml sesudah pencelupan. Tidak ada perbedaan efektifitas sebagai antibakteri antara ekstrak daun babadotan dan povidone iodine dalam menurunkan total koloni bakteri dalam susu. Terjadi penurunan tingkat peradangan kelenjar ambing (P0.01) dari rata-rata 6,9 sebelum teat dipping menjadi 4,2 sesudah teat dipping. Persentase penurunan tingkat peradangan ambing ekstrak daun babadotan lebih tinggi (P0.05) dari povidone iodine. pH susu setelah dipping lebih rendah (P0,05) dari pH susu sebelum dipping. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan ekstrak daun babadotan dapat digunakan sebagai alternative antiseptik yang bertindak sebagai anti bakteri dan anti inflamasi dengan konsentrasi terbaik 5% ekstrak.(Effectiveness of Ageratum conyzoides leaves extract as green antiseptic for teat dipping practices in dairy cow)ABSTRACT. The research was conducted to determine the effectiveness babadotan leaf extract (BLE) as an active ingredient of antiseptic teat dip for inhibiting the entry of bacteria through the nipple, and to compare its effectiveness with synthetic antiseptic povidone iodine(PI). Twelve lactating dairycows suffering from subclinical mastitis were used in a completely randomized design. Teat dipping use 5%, 10% and 15% of BLE and PI 10% for 14 days. The result show average total bacterial colonies in milk was reduced significantly (P0.01) from 6,1-7,3log cfu/ml at before dipping to 4,4-6,0 log cfu/ml after dipping. There are no differences between BLE and PI in reducing total bacterial colonies. A decline in the level of the mammary glands inflammation (P0.01) from an average at before teat dipping 6.9 to 4.2 after teat dipping. Compared with PI, the percentage decrease in the level of mammary glands inflammation of cows using BLE antiseptic is significantly higher (P0.05). Milk pH at after teat dipping practices is lower (P0.05) than before dipping. In conclusion, BLE can be used as an alternativeantiseptic due to its effectiveness as antibacterial and anti-inflammatory. The recommendation concentration of the babadotan antiseptic is 5% of extract
Evaluasi Tingkah Laku Sexual Kambing Kacang Jantan di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Desa Bina Gara Kabupaten Halmahera Timur
ABSTRAK. Keberhasilan IB kambing dipengaruhi salah satunya kualitas pejantan yang ditandai kemampuan menghasilkan semen dengan kualitas makroskopis dan mikroskopis tinggi. Kemampuan ini dipengaruhi oleh sexual behaviornya. Sebagai daerah transmigrasi yang berpotensi untuk pegembangan peternakan kambing, sekaligus banyak populasi kambing kacang di Halmahera Timur, sehingga desa Bina Gara menjadi lokasi sampel penelitian ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi sexual behavior sebagai gambaran kinerja reproduksi kambing Kacang jantan. Materi yang digunakan yaitu 9 pejantan dan 5 betina yang dibagi dalam 3 kelompok umur masing-masing P1 (1,5 tahun), P2 (2,5 tahun) P3 (4 tahun). Metode yang digunakan yaitu survey dengan pemilihan sampel secara purposive sampling dengan variabel yaitu waktu reaksi, jumlah fals mounting, daya jepit, daya dorong dan kualitas ereksi. Data dianalisis deskriptif menggunakan software genstat 14.2. Hasil yang diperoleh yaitu waktu reaksi P2 terbaik = 1,070,13, fals mounting rata-rata 2x di semua kelompok umur, daya jepit dan daya dorong 3+ di semua kelompok umur dan skor kualitas ereksi 3+ pada semua kelompok umur. Kesimpulan penelitian ini yaitu tingkah laku sexual kambing kacang jantan di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Desa Bina Gara Kabupaten Halmahera Timur secara umum memiliki performans terbaik pada semua kelompok umur, ditandai score false mounting 2 kali, daya jepit +3 dan kualitas ereksi +3, sedangkan untuk waktu reaksi skor tertinggi yaitu pada kelompok umur 2,5 tahun.(The evaluation of sexual behavior on kacang buck (capra hircus) in transmigration settlement unit (TSU) Bina Gara Village East Halmahera District)ABSTRACT. The success of Artificial Insemination goat is related to quality service quality with high macroscopic and microscopic qualities. This ability is subject to sexual behavior. As a transmigration area that shifts for the development of goat farms, as well as many Kacang Buck populations in East Halmahera, so the village of Bina Gara became the sample location of this study. This study was conducted with the aim to raise sexual behavior as a description of the performance of Kacang Buck. The material used is 9 males and 5 females divided into 3 age groups of each P1 (1.5 years), P2 (2.5 years) P3 (4 years). The method used is survey with sample selection by purposive sampling with reaction time variabel, the amount of fals mounting, clamp power, thrust and erection quality. The data were analyzed descriptively using software genstat 14.2. The result is the best reaction time P2 = 1.07 0.13, False mounting averages 2x in all age groups; 3-clamp force and thrust in all age groups and 3+ erectile quality score in all age groups. This research is sexual behavior of goat beans in Transmigration Resettlement Unit (TRU) of Bina Gara Village of East Halmahera Regency has the best performance in all age group, cleanliness 2 times, power +3 clamp and erection quality +3, while for time The highest score reactions are in the 2.5 year age group