Jurnal Agripet
Not a member yet
    462 research outputs found

    Performan dan Persentase Karkas Ayam Ras Petelur Jantan pada Kepadatan Kandang yang Berbeda

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepadatan kandang yang berbeda terhadap performan dan persentase karkas. Materi penelitian yang digunakan adalah ayam ras petelur jantan strain Isa Brown dari PT Charoen Pokphand Jaya Farm, Medan, sebanyak 208 ekor berumur 1 hari (DOC). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas 4 perlakuan tingkat kepadatan kandang dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Perlakuannya antara lain adalah K1: 10 ekor/m2, K2: 12 ekor/m2, K3: 14 ekor/m2, K4: 16 ekor/m2. Data yang diperoleh dianalisis dengan analysis of variance dan jika memberikan hasil yang nyata dilanjutkan dengan Uji Duncan. Variabel yang diamati meliputi: konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, konversi ransum, mortalitas, bobot karkas dan persentase karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan kandang yang berbeda 10, 12 14, dan 16 ekor/m2 tidak memberi pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum ayam ras petelur jantan umur 6 minggu. Demikian juga halnya terhadap pertambahan bobot badan, bobot badan akhir, konversi ransum, bobot karkas. Pemeliharaan ayam ras petelur jantan pada kepadatan kandang yang berbeda tidak mengalami mortalitas (0%) selama 6 minggu penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kepadatan kandang yang berbeda 10, 12, 14 dan 16 ekor/m2 tidak mempengaruhi performan, dan persentase karkas ayam ras petelur jantan umur 6 minggu. Pemeliharaan ayam ras petelur jantan masih dapat dilakukan pada kepadatan kandang 16 ekor/m2 tanpa mempengaruhi performan dan persentase karkas.(Performance and carcass percentage of male chicken layers with different density)ABSTRACT. The purpose of this study was to evaluate the performance and carcass percentage of male layer chickens in different density of cage. U 208 male layer DOC, strain Isa Brown produced by PT. Charoen Pokphand Jaya Farm, Medan. The study was designed into Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 replications; K1: 10 birds/m2, K2: 12 birds/m2, K3: 14 birds/m2 and K4: 16 birds/m2.Data was analyzed by Analysis of Variance (ANOVA), a significant difference, would be analyzed with the Duncan Multiple Range Test. Measured variables were, body weight, feed consumption, feed conversion, mortality, and carcass percentage. The results indicated that different density of cage has no significant effect on final body weight, body weight gain, feed intake, feed conversion and carcass percentage of male layer chickens. Density of cage did not influence to mortality rate of male . In conclusion, density of cage of 10, 12, 14, and 16 birds/m2 did not affect performance and carcass percentage of male chicken layers

    Analisis Motilitas Spermatozoa Sapi Aceh Setelah Pembekuan dalam Berbagai Konsentrasi Andromed

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi pengencer AdroMed terhadap kualitas semen sapi aceh setelah proses pembekuan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 kelompok perlakuan pengenceran AndroMed. Kelompok A1: AndroMed 10% (5 ml AndroMed + 45 ml Aquadestilata), A2: AndroMed 15% (7,5 ml AndroMed + 42,5 ml Aquadestilata), A3: AndroMed 20%(10 ml AndroMed + 40 ml Aquadestilata) dan A4: AndroMed 25% (12,5 ml AndroMed + 37,5 ml Aquadestilata). Masing-masing kelompok diulangi sebanyak 6 kali. Variabel yang di amati pada penelitian ini adalah Motilitas spermatozoa yang diamati tiap kelompok setelah pembekuan yang selanjutnya dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) pola satu arah yang dilanjutkan dengan uji Duncant. Rata-rata persentase motilitas spermatozoa pada kelompok A1, A2, A3 dan A4 secara berturut-turut adalah 30,693,68%, 39,792,44%, 45,223,17% dan 42,424,24%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi pengencer AndroMed berpengaruh secara nyata (P0,05) terhadap persentase motilitas spermatozoa sapi aceh. Persentase motilitas spermatozoa pada kelompok A1 tidak berbeda secara nyata dengan A2, dan keduanya berbeda secara nyata (P0,05) dibandingkan dengan kelompok A3dan A4. Konsentrasi AndroMed 20% lebih baik dari pada 10%, 15% dan 25% dalam mempertahankan motilitas spermatozoa sapi aceh setelah pembekuan.(Analysis of Aceh Cattle spermatozoa motility after freezing using Andromed with different concentration)ABSTRACT. The study aims to determine the effect of diluent concentration of AndroMed against the motility of aceh cattle spermatozoa following freezing process. This study uses a completely randomized design (CRD) with 4 treatment groups. Group 1 used diluent 15%; AndroMed, Grroup 2 diluent 15%; Group 3 with AndroMed 20%; and, Group 4 with AndroMed 25%. Each group was repeated 6 times. Motility of spermatozoa assessed which each group observed after freezing.The motility data obtained were analyzed by one way analysis of variance (ANOVA) followed by Duncant test. The average percentage of motility after freezing were found in the group A1, A2, A3 and A4 respectively are 30,69 3,68%, 39,79 2,44%, 45,22 3,17%, and 42,42 4,24%. Statistical analysis showed that the concentration of diluent AndroMed significantly affected (P0.05) the motility of aceh cattle spermatozoa. There is no significant difference of sperm motility percentage, between A2 with A1 treatment but both are significantly different (P0.05) compared to group A3. AndroMed concentration affects the motility of aceh cattle spermatozoa after freezing. The treatment of 20% AndroMed concentration were improved the quality of aceh cattle spermatozoa following freezing compared to those with AndroMed 10%, 15%, and 25%

    Efek Pemberian Pakan Terbatas dan Tepung Bawang Putih (Allium sativum) terhadap Kadar Protein dan Kolesterol Daging pada Ayam Pedaging

    Get PDF
    ABSTRAK.Penelitian ini bertujuan mengetahui efek pemberian pakan terbatas dan tepung bawang putih terhadap kadar protein dan kolesterol daging ayam pedaging. Dalam penelitian ini digunakan ayam pedaging sebanyak 72 ekor yang dibagi atas empat perlakuan: Perlakuan I, diberikan pakan basal dan tidak diberikan tepung bawang putih, Perlakuan II, diberikan pakan basal dan diberikan tepung bawang putih 3 mg/ekor/hari, Perlakuan III setiap 4 hari diberikan pakan basal, selang 1 hari dipuasakan (24 jam), dan tidak diberikan tepung bawang putih, Perlakuan IV, setiap 4 hari diberikan pakan basal, selang 1 hari puasa (24 jam), dan saat pemuasaan diberikan tepung bawang putih 3 mg/ekor/hari. Pemuasaan dilakukan mulai umur 15 hari. Masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Pemberian tepung bawang putih dilakukan dengan cara dicampurkan kedalam pakan komersil dan diberikan selama dua kali (pagi dan sore). Pengambilan sampel ayam pada umur 36 hari. Variabel yang diamati yaitu: kadar protein dan kadar kolestrol daging. Data dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan terbatas dan tepung bawang putih tidak berpengaruh nyata (P0.05) terhadap kadar protein dan kolesterol daging. Dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan terbatas dan tepung bawang putih tidak meningkatkan kadar protein dan tidak menurunkan kadar kolesterol daging ayam pedaging.(Effect restricted feeding and garlic powder on protein content, and meat cholesterol in broilers)ABSTRACT. This study aimed to determine the effect administration restricted feeding and garlic powder on the protein and meat cholesterol.. This study used chicken broiler as much as 72 chicks which were divided into four treatments: The first treatment, the chicks were given commercial feed ad libitum and withouth garlic powder, the second treatment, the chick were given commercial feed ad libitum and supplemented by garlic powder 3 mg/ head/day, the third treatment every 4 days given feed ad libitum, an interval of one-day fasting (24 hours), and are not given garlic powder, treatment IV, every 4 days given feed ad libitum, an interval of one-day fasting (24 hours), and when fasting given garlic powder 3 mg / head / day. Every treatment consisterd on tree reapeated. Garlic powder mixed into comercial feed and given twice a day. (morning and afternoon). Taken chicks sample done when the chicks aged of 36 days. Variables observed were: protein and cholesterol. Data were analyzed by analysis of variance followed by Duncan test level of 5%. The results showed that feeding is limited and garlic powder not significantly (P 0.05) on protein and cholesterol

    Kemampuan Antibakteri Susu Fermentasi terhadap Escherichia coli dan Shigella

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan starterLactobacillus plantarumpada konsentrasi 3%, 4% dan 5% dan diinkubasi selama 48 jam pada suhu kamar. Pengamatan terhadap susu fermentasi dilakukan selama 8 hari. Uji antibakteri ini dilakukan untuk melihat apakah susu fermentasi tersebut mampu menekan pertumbuhan patogen enterobakteri. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas penghambatan mikroba dari susu fermentasi terhadap bakteri patogen dengan tiga kali ulangan. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan susu fermentasi sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Shigella flexneri terjadi pada jumlah sel sebanyak (106CFU/ml) di dalam nutrient agar. Fermentasi susu menggunakan konsentrasi 5% starter memperlihatkan luas zona hambat tertinggi yaitu 17.42 mm terhadap E. coli pada hari kedua. Sedangkan terhadap Shigella flexneri luas zona penghambatan sebesar 8.88 mm pada hari ketiga dengan konsentrasi starter yang sama.(The antibacterial ability of fermented milk to escherichia coli and shigella flexneri)ABSTRACT. The study was performed using Lactobacillus plantarum as starter at concentrations of 3%, 4% and 5% and incubated for 48 hours at room temperature. Observation of fermented milk conducted for 8 day. The antibacterial activity test was analyzed to find whether fermented milk able to inhibit pathogen growth. The antibacterial ability of suppressing of Enterobacteriaceae growth observed by using Escherichia coli and Shigella flexneri (106 CFU/ml) in Nutrient Agar and challenge to fermented milk using 3%, 4% and 5% starter or about (50 l/well). Further testing of microbial inhibitory activity of fermented milk against pathogenic bacteria conducted by three replications. The data obtained were analyzed statistically using ANOVA. The results showed that the ability of fermented milk as antibacterial on Escherichia coli and Shigella flexneri occurred in the amount of sell as much as (106 CFU / ml) when it grown in nutrient agar. As a conclusion, fermented milk using a 5% starter showed that the highest inhibition zone of 17.42 mm to E. coli on the second day observation. While inhibition zone of Shigella flexnerii was 8.88 mm on the third day with the same starter concentration

    Pengaruh Tepung Daun Sukun (Artocarpus altilis) terhadap Produksi dan Kualitas Telur Puyuh (Coturnix-coturnic japonica)

    Get PDF
    ABSTRAK.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tepung daun sukun (artocarpus altilis) terhadap produksi telur dan kualitas telur puyuh (Coturnix-coturnix japonica). Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah burung puyuh betina umur 2 minggu yang berjumlah 100 ekor. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan penelitian adalah level penambahan tepung daun sukun dalam pakan puyuh yang terdiri atas 4 level, yaitu: S0 (pakan basal tanpa penambahan tepung daun sukun), S1 (pakan basal + 0,5 % tepung daun sukun), S2 (pakan basal + 1 % tepung daun sukun), S3 (pakan basal + 1,5 % tepung daun sukun). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali, sehingga dibutuhkan 20 petak kandang. Variabel yang diamati adalah produksi telur, bobot telur, ketebalan dan bobot kerabang telur, kadar kolesterol dan protein telur puyuh. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi dan dilanjutkan beda nyata jujur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung daun sukun (Artocarpus altilis) dalam pakan puyuh berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap produksi telur dan bobot kerabang telur, akan tetapi berpengaruh nyata (P0,05) terhadapbobot telur, ketebalan kerabang, kadar kolesterol dan protein telur Kesimpulan Penambahan tepung daun sukun (Artocarpus altilis) 0,5% dalam pakan puyuh optimal untuk memperbaiki produksi dan kualitas telur puyuh (Coturnix-coturnix japonica).(The effect of breadfruit leaves (Artocarpus altilis) flour on eggs production and eggs quality of japanese quail (Cortunix-cortunix japonica))ABSTRACT. The research purposed was to determine the effect of breadfruit flour (artocarpus altilis) on egg production and quail egg quality (Coturnix-coturnix japonica). The research material used a hundred quail of female 2 weeks of age. The research used experimental method and Completely Randomized Design (CRD). The research treatment was the level of addition of breadfruit flour in quail feed consisting of 4 levels, namely: S0 (basal feed without adding breadfruit flour), S1 (basal feed + 0.5% breadfruit flour), S2 (basal feed + 1 % breadfruit flour), S3 (basal feed + 1.5% breadfruit flour). Each treatment was repeated 5 times, so it take 20 unit of cages. The variables observed were egg production, egg weight, thickness and eggshell weight, cholesterol and quail egg protein. The data obtained were analyzed using variance analysis and Honestly Significant Difference (HSD) test. The results showed that supplemetation of breadfruit leafs flour (Artocarpus altilis) on feed was not significant effect (P 0,05) on egg production and egg shell weight, but there were significant effect (P 0,05) on egg weight, thickness of shell, cholesterol content and egg protein of quail. It can be concluded taht Supplementation of 0.5% of breadfruit leafs flour (Artocarpus altilis) in feed was the optimal level to improve the production and quality of quail egg (Coturnix-coturnix japonica)

    Dried of Poultry Waste Urea-Molasses Block (dpw-umb) as Potential for Feed Supplementation

    Get PDF
    ABSTRACT.The research purpose was to determine the nutrient content of dried poultry waste molasses block (DPW-UMB). The use of dried poultry waste in the manufacture of the urea-molasses block was as a substitute of urea and could improve the value added in dry season. The treatments used for research were T1 (15% manure layer chicken and 25% molasses), T2 (10% manure layer chicken and 30% molasses), and T3 (20% manure layer chicken and 30% molasses). Chemical analysis: the dried of poultry waste were analyzed for dry matter, crude protein, crude fibre, ash, fat, and gross energy. The statistical formulation diet composed with Microsoft Excel Ver. 2016. The results showed that the 20% manure layer chicken and 30% molasses (T3) were better than T2 and T1 on nutrient content with 92.04% Dry Matter (DM), 13.34% Crude Protein (CP), 13.39% Crude Fiber (CF), 37.16% ash, 3.44% fat, but low in Gross Energy (GE) (2631.63 kcal/kg). It could be concluded that dpw-umb T3 were dried of poultry waste contained sufficient levels of gross energy, crude protein, crude fibre, ash, and fat it could be used as feedstuff for ruminants for supplementation with the required nutrients.(Kotoran Ayam Molasses (Kamblok) Sebagai Potensi Supplementasi Pakan)ABSTRAK. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kandungan nutrisi dari Kotoran Ayam Molasses Blok (KAMBLOK) dengan analisis proksimat. Sebagai bahan pengganti urea dengan kotoran ayam kering dalam pembuatan urea molasses blok dan meningkatkan nilai tambah dalam suplementasi Kotoran Ayam Molasses Blok (KAMBLOK) pada musim kemarau. Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah Kotoran Ayam Molasses Blok (KAMBLOK) dengan T1 (Kotoran Ayam Petelur 15% dan Molasses 25%), T2 (Kotoran Ayam Petelur 10% dan Molasses 30%), T3 (Kotoran Ayam Petelur 20% dan Molasses 30%). Analisis kandungan nutrisi yang dilakukan adalah bahan kering, protein kasar, serat kasar, abu, lemak, dan gross energi. Analisis statistik menggunakan Microsoft excel versi 2016. Hasil Penelitian menunjukan Kotoran Ayam Molasses Blok (KAMBLOK) T3 lebih baik dari T2 dan T1 pada bahan kering (BK) 92, 04%, protein kasar (PK) 13,34%, serat kasar (SK) 13,39%, abu 37,16%, lemak 3,44% tetapi rendah dalam gross energi (GE) adalah 2.631,63 kal/kg. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kotoran ayam mengandung beberapa kandungan yaitu protein kasar, gross energy, serat kasar, abu, dan lemak yang bisa digunakan sebagai pakan potensial untuk supplementasi

    Pertumbuhan dan Produksi Bakteriosin Lactobacillus fermentum Asal Dangke pada Media Whey Dangke

    Get PDF
    ABSTRAK.Dangke merupakan makanan khas Enrekang, Sulawesi Selatan. Dangke menghasilkan hasil sampingan yang disebut whey. Komponen nutrisi yang terkandung dalam whey dapat digunakan oleh bakteri asam laktat (BAL) untuk pertumbuhannya. Salah satu BAL yang dapat memproduksi bakteriosin yaitu Lactobacillus fermentum (L. fermentum). Strain L. fermentum asal dangke, yang digunakan dalam penelitian yaitu A323L, B323K, dan C113L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase logaritmik dari L. fermentum strain A323L yaitu pada waktu inkubasi 24-28 jam, sedangkan strain B323K dan C113L pada waktu inkubasi 20-24 jam. Zona hambat dari semua strain L. fermentum termasuk kategori lemah pada media pertumbuhan whey dangke, tetapi strain C113L mempunyai daya hambat terbaik.(The Growth and Production Bacteriocin of bacteria Lactobacillus fermentum using dangke whey as medium)ABSTRACT. Dangke is a local dairy product of Enrekang, South Sulawesi. Dangke processing produced a by-product called whey. Nutritional components in whey can be utilized by lactic acid bacteria (LAB) as a nutritional source of growth. One of bacteriocin producing lactic acid bacteria is Lactobacillus fermentum (L. fermentum). L. fermentum strain isolated from dangke, which used in this research were A323L, B323K, and C113L. The results showed that logarithmic phase of L. fermentum strain A323L were occurred at the incubation time of 24-28 hours, whilst strain B323K and C113Lwere at 20-24 hours. Inhibition zone of all strain of L. fermentum was categorized as weak in whey dangke medium, but strain C113L was the best among them

    Perbandingan Viabilitas Oosit Domba Pasca Vitrifikasi dengan Menggunakan Hemistraw dan Cryotop

    Get PDF
    ABSTRAK.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji efek vitrifikasi dengan menggunakan dua buah system carrier yang berbeda terhadap viabilitas oosit domba yang telah dimaturasi secara in vitro. Oosit dibagi menjadi dua kelompok perlakuan, yaitu (i) divitrifikasi dengan menggunakan hemistraw (ii) divitrifikasi dengan menggunakan cryotop. Viabilitas oosit dievaluasi berdasarkan reekspansi, warna dan homogenitas sitoplasma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa viabilitas oosit setelah vitrifikasi serupa pada kedua jenis carrier yang digunakan untuk vitrifikasi. Oosit diletakkan dalam larutan equilibrasi yang mengandung konsentrasi permeable krioprotektan setengah dari larutan vitrifikasi. Setelah 15 menit, oosit ditransfer ke dalam media vitrifikasi yang mengandung 17% EG+17% DMSO +0, 65M sukrosa di dalam modified PBS yang disuplementasi dengan 20% fetal bovine serum. Total waktu yang digunakan untuk memaparkan oosit ke dalam larutan vitrifikasi adalah 30 detik. 5-8 oosit dipipet menggunakan kapiler gelas dan diletakkan/loading ke dalam carrier yang digunakan (hemistraw atau cryotop) kemudian langsung di paparkan ke dalam nitrogen cair. Viabilitas oosit dievaluasi berdasarkan reekspansi, warna dan homogenitas sitoplasma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa viabilitas oosit setelah vitrifikasi serupa pada kedua jenis carrier yang digunakan untuk vitrifikasi(Comparation of sheep oocyte viability after vitrification using hemistraw and cryotop)ABSTRACT.The aim of this study was to examine the effect vitrification using two different carrier system on the matured sheep oocytes viability. Oocytes were devided into two group (i) vitrified using hemistraw (ii) vitrified using cryotop. Oocytes placed into equilibration solution which is containing a half concentration permeable cryoprotectant of vitrification solution. After 15 minute, oocytes were transferred into vitrification solution containing 17% EG+17% DMSO +0, 65M sucrose in modified PBS supplemented with 20% fetal bovine serum. The total exposure time of oocytes to vitrification solution was 30 sec. Oocytes were pipetted into a glass capillary into group 5-8, and loaded into carrier (hemistraw or cryotop) then plugged into liquid nitrogen. After a week cryopreservation, oocytes were warmed and cultured in TCM 199 suplemented with 10% fetal bovine serum at 38.50 C under 5% CO2 for 3h. Oocytes viability was evaluated by re expansion, color and homogeneity of oocyte cytoplasm. Our results indicated that the oocytes viability after vitrification was similar from both of carrier for vitrificatio

    Pengaruh Perendaman Dengan Filtrat Abu Jerami Padi (FAJP) Terhadap Lignin Dan Serat Kasar Tongkol Jagung

    Get PDF
    ABSTRAK. Potensi tongkol jagung sebagai pakan ruminansia sangat besar, namun dibatasi penggunaannya karena kadar ligninnya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan mengetahui hubungan antara kandungan lignin dan serat kasar tongkol jagung yang direndam dengan berbagai konsentrasi filtrat abu jerami padi (FAJP). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat macam perendaman, yaitu R1 = Tongkol jagung dengan hidrolisis FAJP konsentrasi 5%, R2 = Tongkol jagung dengan hidrolisis FAJP konsentrasi 10%, R3 = Tongkol jagung dengan hidrolisis FAJP konsentrasi 15%, R4 = Tongkol jagung dengan hidrolisis FAJP konsentrasi 20%. Setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil menunjukkan bahwa FAJP berpengaruh nyata terhadap penurunan kadar lignin dan serat kasar pada tongkol jagung (p0,05). Hubungan antara perlakuan dengan kadar lignin membentuk persamaan regresi Y = 9,29 -0,172X dengan R2 =0,92, sedangan antara serat kasar dan lignin memiliki hubungan yang sangat erat dengan nilai r =0,85. Perendaman tongkol jagung dengan FAJP 20% menghasilkan persentase lignin dan serat kasar yang paling rendah yaitu 5,88dan 32,03 %.Kesimpulan, penggunaan FSJP dengan konsentrasi 20% merupakan perlakuan yang terbaik.(The effect of soaked by rice straw ash filtrate on lignin and crude fiber content of corn cob)ABSTRACT. Utilization of corncobs as a ruminant feed is highly potential but its high lignin content may limit its use. The objective of this experiment was to investigate the effect of soaking in the water containing different concentration of rice straws ash filtrate (RSAF) on lignin and crude fiber contents of corncob. A completely randomized design was employed to compare 5 different treatments: R1 = corncob with RSAF hydrolysis 5%, R2 = corncob with RSAF hydrolysis 10%, R3 = corncob with RSAF hydrolysis 15%, and R4 = corncob with RSAF hydrolysis 20%. Each treatment was repeatedfour times (n=4). The result showed that RSAF had a significant effect (P0.05) in reducing lignin and crude fiber contents. The relationship between treatment and lignin content followed a regression equation: Y = 9.29 -0.172X with R2 =0.92, while crude fiber and lignin had a close relationship with r =0.85. Soaking corncobs with RSAF as much as 20% resulted the lowest lignin and crude fiber contents which were 5.88 and 32.03% respectively. It concluded that utilization of RSAF 20% was the best treatment

    Profil Glukosa dan Urea Darah Sapi Bali Jantan pada Penggemukan dengan Hijauan (Greenlot Fattening) di Peternakan Rakyat

    Get PDF
    ABSTRAK.Penelitian bertujuan mengetahui profil glukosa dan urea darah pada Sapi Bali jantan pada penggemukan dengan hijauan di peternakan rakyat. Ternak yang digunakan sebanyak sembilan ekor Sapi Bali jantan dengan kisaran umur 2,5 3,5 atau 3,0 tahun, bobot badan awal sebesar 257,4023,60 kg. Metode yang digunakan berupa metode deskriptif dengan perlakuan disesuaikan kebiasan peternak dalam menggemukkan ternak yang meliputi tatalaksana pakan, perkandangan serta kesehatan. Jenis pakan yang diberikan bervariasi meliputi Centrosema pubences, Clitoria ternatea, jerami jagung segar, king grass (Pennisetum purpuroides), lamtoro (Leucaena leucocepala), rumput alam, rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan turi (Sesbania grandiflora). Peubah yang diamati meliputi tampilan glukosa dan urea plasma darah pada 0 jam (sebelum pemberian pakan) dan 2,4,6 jam setelah pemberian pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar glukosa dan urea plasma darah sebelum pemberian pakan (0 jam) adalah 59,07 dan 23,66 mg/dl; kandungan glukosa plasma darah pada 2,4,6 setelah pemberian pakan adalah 57,29; 56,94 dan 61,20 mg/dl atau rerata 58,62 md/dL; sedangkan pada urea plasma darah adalah 23,79; 24,16 dan 24,81 mg/dl atau rata-rata 24,11 mg/dl. Dapat disimpulkan bahwa Sapi Bali jantan yang digemukkan dengan hijauan memperlihatkan kandungan glukosa plasma darah yang relatif normal, namun kandungan urea plasma darah rendah dan di bawah kisaran normal.(The Blood Glucose and Urea Profile of Male Bali Cattle on Greenlot Fattening at Smallholder Farms)ABSTRACT.The objective of this study was to determine the profile of blood glucose and urea of male Bali cattle on fattening with forage at smallholder farms. The cattle used consisted of nine male Bali cattle with a range of ages 2,5 - 3,5 or on the average 3.0 years old with initial body weight range was 227-290 kg or on the average of 257.4023,60 kg. This research used descriptive method with treatment be adapted to the practice of farmers in fattened cattle that includes management of feeding, housing, and health. Type of feed given during the study was Centrosema pubences, Clitoria ternatea, fresh corn straw, king grass (Pennisetum purpuroides), lamtoro (Leucaena leucocepala), natural grass, elephant grass (Pennisetum purpureum) and turi (Sesbania grandiflora). Variables measured include the display of blood glucose and urea plasma at zero (O) hour (before feeding) and at 2,4,6 hours post feeding. The results of research showed average content of blood glucose dan urea plasma at zero (0) hours were 59,07 and 23,66 mg/dl; The content of blood glukose plasma at 2,4 an 6 hours post feeding every were 57,29;56,94; and 61,20 mg/dl or an average 58,62 mg/dl. While the content of blood urea plasma were 23,79; 24,16 and 24,81 mg/dl or average 24,11 mg/dl. In Conclusion the Bali cattle male fattened with forage showed of blood glukose plasma were relatively normal, although the blood urea plasma were lowly and below the normal range

    409

    full texts

    462

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agripet
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇