Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Analisis Ketaatan Kontrak Perjanjian Kemitraan Ayam Broiler terhadap Pendapatan Peternak di Kabupaten Bungo
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan ketaatan kontrak perjanjian kemitraan ayam broiler antara ketaatan input dan ketaatan output pada berbagai perusahaan di Kabupaten Bungo serta faktor lainnya yang mempengaruhi. Objek yang diamati pada penelitian ini adalah peternak kemitraan ayam broiler dengan tiga perusahaan inti dengan sampel sebanyak 58 responden peternak ayam broiler, data penelitian sumber dari data primer dan data sekunder. Data primer tentang input, ouput dan karakteristik peternak. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis uji beda rata-rata dan analisis jalur (Path Analysis). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan tingkat ketaatan input dan ketaatan output dari tiga perusahaan dengan peternak. Hasil uji beda rata-rata (significant = P 0,05) menunjukkan perbedaan antara input peternak dan output peternak dari masing-masing perusahaan. Hasil analisis jalur menunjukkan input biaya pakan (42,39 %) dan biaya DOC (9,01 %) berpengaruh (P0,05) terhadap pendapatan peternak. Harga jual ayam (93,12 %), umur panen (22,00 %) dan bonus (59,44 %) (P0,05) terhadap pendapatan peternak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan rata-rata tingkat ketaatan input yang terdiri dari harga pakan dan harga DOC serta ketaatan output harga jual ayam dan perhitungan bonus sangat taat dari tiga perusahaan kemitraan broiler di Kabupaten Bungo. Terdapat perbedaan input serta output peternak dari tiga perusahaan kemitraan ayam broiler di Kabupaten Bungo.(Obedience analysis of broiler chicken partnership contract agreement on farmer income in Bungo District)ABSTRACT This study aims to determine the differences in compliance with broiler partnership agreement contracts between input compliance and output compliance in various companies in Bungo Regency and other influencing factors. The object observed in this study was broiler partnership farmers with three core companies with a sample of 58 respondents of broiler breeders, research data sources from primary data and secondary data. Primary data about inputs, outputs and characteristics of farmers. The results of the research data were analyzed using analysis of the average difference test and path analysis. The results of the study showed that there was no difference in the level of input compliance and compliance with the output of the three companies with farmers. The average difference test result (significant = P 0.05) shows the difference between farmer input and farmer output from each company. The results of path analysis showed that input feed costs (42.39%) and DOC costs (9.01%) had an effect (P 0.05) on farmer income, selling price of chicken (93.12%), harvest age (22.00%) and bonus (59.44%) (P 0.05) on farmer income. It can be concluded that the average input compliance level consisting of feed prices and DOC prices and compliance with the output of chicken selling prices and very obedient bonus calculations from three broiler partnership companies in Bungo Regency. There are differences in input and output of farmers from three chicken partnership companies broiler in Bungo District
Perbandingan Kualitas Semen Beku Sapi Unggul dan Hubungannya dengan Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan pada Sapi Aceh
ABSTRAK. Penelitian ini merupakan penelitian observasional yang dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 kelompok perlakuan jenis semen beku sapi aceh (S1), semen beku sapi bali (S2) dan semen beku sapi simmental (S3). Masing-masing kelompok diulang sebanyak 10 kali. Data kualitas spermatozoa dan angka kebuntingan yang diperoleh dianalisis dengan analisis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan dan hubungan kualitas spermatozoa semen beku dengan tingkat kebuntingan diuji dengan regresi berganda. Persentase motilitas, spermatozoas hidup dan TAU sapi aceh dan sapi bali tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata (P0,05), namun keduanya berbeda secara nyata (P0,05) dengan sapi simmental. Hasil uji regresi menunjukan ada hubungan yang nyata (P0,05) antara kualitas spermatozoa (motilitas, spermatozoa hidup dan TAU) semen beku dengan tingkat kebuntingan, dengan persamaan regresi adalah Y= - 2,586 + 0,017 X1 - 0,001 X2 + 0,043 X3, nilai koefisien korelasi r = 0,695 dan nilai koefisien determinasi (r2) sebesar 0,483. Keutuhan TAU memiliki hubungan yang lebih kuat (r = 0,695) dibanding dengan motilitas spermatozoa (r = 0,505) dan spermatozoa hidup (r = 0,195) terhadap angka kebuntingan. Disimpulkan kualitas semen beku sapi unggul berpengaruh terhadap tingkat kebuntingan setelah inseminasi pada induk aseptor sapi aceh betina.(Comparison of frozen semen quality of aceh cattle, bali cattle, brahman cattle and simmental cattle and the relationship with the success level of artificial insemination in female aceh cattle)ABSTRACT. This study is an observational study with a completely randomized design (CRD) with 3 groups of frozen semen aceh cattle (S1), bali cattle frozen semen (S2) and simmental cattle frozen semen (S3). Each treatments groups was repeated 10 times. Spermatozoa quality data (motility, live spermatozoa, and intact acrosome) of frozen semen and pregnancy rates obtained were analyzed by analysis of variance (ANOVA) and continued with Duncant test. Percentage motility, live sperm and intact acrosome of aceh cattle, bali cattle and simmental cattle showed no significant differences (P 0.05), but they differ significantly (P 0.05) compared with brahman cattle. Results of regression analysis showed no significant relationship (P 0.05) between spermatozoa quality (motility, live sperm and intact acrosome) with a pregnancy rate of frozen semen, the regression equation is Y = - 2,586 + 0,017 X1 - 0,001 X2 + 0.043 X3, Correlation coefficient value r = 0,695 and coefficient of determination (r2) equal to 0,483. intact acrosome of spermatozoa have a stronger relationship (r = 0.695) compared with sperm motility (r = 0.505) and live spermatozoa (r = 0.195) on the pregnancy rate. It was concluded that the quality of frozen semen had an effect on the pregnancy rate after insemination on female aceh cow
Pengembangan Peternakan Sapi Potong melalui Program Klaster: Deskripsi Program dan Kegiatan
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan program dan kegiatan pengembangan klaster sapi potong. Peternakan rakyat sapi potong yang tergabung dalam kelompok tani ternak dan masuk kategori Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dilibatkan pada penelitian ini. Variabel-variabel yang terkait dengan program dan kegiatan penguatan UMKM Sapi Potong dikoleksi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan Root Cause Analysis. Program dan kegiatan pengembangan klaster sapi potong mencakup (i) program penguatan kelembagaan kelompok, (ii) program penguatan teknologi peternakan dan (iii) program penguatan akses pembiayaan perbankan. Program penguatan kelembagaan kelompok melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, peningkatan kerjasama (untuk penyediaan pakan dan modal, penanggulangan penyakit, pemasaran), peningkatan pertemuan antar anggota kelompok dan lembaga lain, peningkatan penguasaan teknologi diversifikasi. Program penguatan teknologi peternakan dengan kegiatan pelatihan berbagai teknologi peternakan, studi banding dan magang, pendampingan penerapan proven teknologi berorientasi peningkatan fisibilitas usaha. Untuk program penguatan akses pembiayaan perbankan berupa kegiatan sosialisasi pembiayaan perbankan dan pendampingan akses pembiayaan perbankan.(Beef cattle development through beef cattle cluster program: description of programs and activities)ABSTRACT. The purpose of this study was to describe the design of programs and activities of beef cattle clusters. Beef cattle farmer group (Micro Small Medium Enterprises, MSME) were involved in this study. Variables related to program and activities for empowering MSME were collected. Descriptive and Root Cause Analysis were applied in this study. The design of program and activities for beef cattle cluster include (i) program of empowering farmer groups, (ii) programs for strengthening livestock technology, and (iii) programs for increasing accessibility getting financial support from the bank. Program of empowering farmer groups involved education and training, increasing cooperation (for feeding capital, disease control, marketing), increasing cooperation among farmer group members and other institutions, transfer technology. Programs for strengthening livestock technology by activities such as training of livestock technologies, internship, provide proven technology for improving feasibility. The socialization of financial scheme, and assistance activities were involved for accelerating financial support from the bank
Hubungan antara Tingkah Laku Seksual dengan Produksi Spermatozoa Sapi Brahman
ABSTRAK. Pejantan untuk program inseminasi buatan adalah pejantan unggul yang diseleksi berdasarkan libido dan produksi spermatozoa. Penelitian bertujuan untuk menganalisa hubungan antara tingkah laku seksual dengan produksi spermatozoa sapi Brahman. Materi penelitian adalah 3 pejantan sapi Brahman yang ditampung menggunakan vagina buatan. Metode penelitian adalah observasional dengan mengamati waktu reaksi dan lama ejakulasi. Observasi laboratorium dengan mengamati volume, konsentrasi, dan motilitas individu untuk menghitung total spermatozoa (TS) dan total spermatozoa motil (TSM). Pengamatan dilakukan sebanyak 10 ulangan. Data dianalisa secara deskriptif serta hubungan antara tingkah laku seksual dan produksi spermatozoa dihitung dengan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi tingkah laku seksual dan produksi spermatozoa pada sapi Brahman. Individu Cipta mempunyai waktu reaksi dan lama ejakulasi paling singkat serta produksi spermatozoa paling rendah. Hubungan signifikan antara waktu reaksi dengan TS serta TSM pada individu Bizzyard dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 14 % dan 20%. Hubungan sangat signifikan antara lama ejakulasi dengan TS serta TSM pada individu Cipta dengan R2 sebesar 46% dan 58%. Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan antara tingkah laku seksual dengan produksi spermatozoa pada sapi Brahman, dengan koefisien korelasi (r) tertinggi sebesar 0,72 dan R2 sebesar 58% antara lama ejakulasi dan total spermatozoa motil pada individu Cipta.(The relationship between sexual behavior and semen production in Brahman bulls)ABSTRACT. Bulls for artificial insemination must be selected based on libido and sperm production. The study aimed to analyze the relationship between sexual behavior with sperm production on Brahman bulls. The material was 3 Brahman bulls collected using artificial vagina. The method was observational by observing reaction time and ejaculation duration. Laboratory observations by observing volume, concentration, and motility to calculate total sperm (TS) and total motile sperm counts (TMSC). Observations were replicated 10 times. The data were analyzed descriptively, the relationship between behavior and sperm production was examined using Pearson correlation. The results showed that there were variations in sexual behavior and sperm production in each bull. Cipta have the shortest reaction time and ejaculation duration and the lowest sperm production. A significant relationship between reaction time and TS and TMSC in Bizzyard with coefficient of determination (R2) of 14% and 20%. A very significant between ejaculation duration with TS and TMSC in Cipta with R2 of 46% and 58%. In conclusion, there was a relationship between sexual behavior and sperm production in Brahman bulls, with the highest correlation coefficient (r) of 0.72 and R2 of 58% between ejaculation duration and the total motile sperm counts in Cipta
Identifikasi Peranan Kelompok Sebagai Wahana Kerja Sama pada Kelompok Peternak Sapi Potong pada Peternakan Rakyat
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peranan kelompok sebagai wahana kerja sama pada kelompok peternak sapi potong. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bontolangkasa Selatan Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian adalah kelompok peternak sapi potong yang merupakan kelompok tani ternak kelas Madya. Penentuan petani peternak sebagai responden secara acak yang dihitung berdasarkan Slovin (Umar, 1997), dengan jumlah 43 orang responden peternak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan bantuan kuesioner. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan kelompok sebagai wahana kerja sama pada kelompok peternak sapi potong di Desa Bontolangkasa Selatan Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa tergolong masih kurang berperan terutama dalam hal kerja sama permodalan dan pada umumnya kelompok belum bermitra dengan lembaga lain.Identify the role of the group as a cooperative forum in the group of beef cattle farmersABSTRACT. This study aims to identify the role of the group as a cooperative mechanism in the livestock group. The research was conducted in the village of Bontolangkasa South Bontonompo Gowa District, South Sulawesi. The type of research used is descriptive quantitative. The study population is a group of livestock breeders who are a group of Madya class farmers. Determination of breeders as respondents Slovin (Umar, 1997) calculated on a random basis, with the number of breeders 43 respondents. Data collection was conducted through interviews using questionnaires. The analysis used in this study is descriptive statistical analysis. The results showed that the group's role as a cooperative mechanism in the group of beef cattle raisers in the village of Bontolangkasa South Bontonompo district of Gowa is still classified as a less important role, especially in terms of funding. turnover and the general group has not established a partnership with other institutions
The Effect of Dietary Candlenut Powder on Blood Profile and Meat Cholesterol Content of Broilers
ABSTRACT. The purpose of this research was to investigate the use of candlenut powder (Aleurites mollucana (L.) Willd.) as feed additive on blood profile and meat cholesterol content of broilers. Materials used in this research were 200 day-old broiler chicks. Research method was in vivo on Completely Randomized Design with 5 treatments (P0 = basal diets only, P1 = basal diets + 0.25% candlenut powder, P2 = basal diets + 0.5% candlenut powder, P3 = basal diets + 0.75% candlenut powder, P4 = basal diets + 1% candlenut powder), each treatment was replicated 5 times. Variables measured were blood profile (erythrocyte, hemoglobin, mean corpuscular volume, and mean corpuscular hemoglobin) and meat cholesterol content. Data were analyzed by using Analysis of Variance. Data with significant different effects were further analyzed by using Duncans Multiple Range Test. The results showed that candlenut powder usage as feed additive had a highly significant effect on (P0.01) erythrocyte and hemoglobin levels. Candlenut powder also significantly affect (P0.05) mean corpuscular hemoglobin (MCH), but did not significantly affect (P0.05) mean corpuscular volume (MCV) levels. Broilers fed candlenut powder had lower (P0.01) meat cholesterol content compared to those fed basal diets only. It might be concluded that the use of candlenut powder as feed additive at the level of 1% is safely recommended to give better blood profile and reduce meat cholesterol content of broilers.Pengaruh penambahan tepung biji kemiri terhadap profil darah ayam pedaging dan kandungan kolesterol dagingABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung biji kemiri (Aleurites mollucana (L.) Willd.) sebagai aditif pakan terhadap profil darah dan kandungan kolesterol daging ayam pedaging. Materi yang digunakan adalah 200 ekor day old chicks (DOC) ayam pedaging. Metode penelitian menggunakan percobaan in vivo pada Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (P0 = pakan basal, P1 = pakan basal + 0.25% tepung biji kemiri, P2 = pakan basal + 0.5% tepung biji kemiri, P3 = pakan basal + 0.75% tepung biji kemiri, P4 = pakan basal + 1% tepung biji kemiri), setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data dianalisis menggunakan analisis variansi (ANOVA) perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncans. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan tepung biji kemiri sebagai aditif pakan memberikan perbedaan yang sangat nyata (P0,01) terhadap jumlah eritrosit dan hemoglobin. Tepung biji kemiri juga memberikan pengaruh yang nyata (P0,05) terhadap mean corpuscular hemoglobin (MCH), tetapi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap mean corpuscular volume (MCV) darah ayam. Ayam pedaging yang diberi pakan dengan penambahan tepung biji kemiri memiliki kandungan kolesterol daging yang lebih rendah (P0,01) dibandingkan dengan yang hanya diberi pakan basal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penambahan tepung biji kemiri sebanyak 1% dapat memberikan profil darah yang lebih baik dan efektif untuk menurunkan kandungan kolesterol daging ayam pedaging.ABSTRACT. The purpose of this research was to investigate the use of candlenut powder (Aleurites mollucana (L.) Willd.) as feed additive on blood profile and meat cholesterol content of broilers. Materials used in this research were 200 day-old broiler chicks. Research method was in vivo on Completely Randomized Design with 5 treatments (P0 = basal diets only, P1 = basal diets + 0.25% candlenut powder, P2 = basal diets + 0.5% candlenut powder, P3 = basal diets + 0.75% candlenut powder, P4 = basal diets + 1% candlenut powder), each treatment was replicated 5 times. Variables measured were blood profile (erythrocyte, hemoglobin, mean corpuscular volume, and mean corpuscular hemoglobin) and meat cholesterol content. Data were analyzed by using Analysis of Variance. Data with significant different effects were further analyzed by using Duncans Multiple Range Test. The results showed that candlenut powder usage as feed additive had a highly significant effect on (P0.01) erythrocyte and hemoglobin levels. Candlenut powder also significantly affect (P0.05) mean corpuscular hemoglobin (MCH), but did not significantly affect (P0.05) mean corpuscular volume (MCV) levels. Broilers fed candlenut powder had lower (P0.01) meat cholesterol content compared to those fed basal diets only. It might be concluded that the use of candlenut powder as feed additive at the level of 1% is safely recommended to give better blood profile and reduce meat cholesterol content of broilers
Pertumbuhan, Produksi, dan Kualitas Jerami Kedelai pada berbagai Level Penyiraman Air Laut untuk Menunjang Pemenuhan Pakan Ruminansia
ABSTRAK. Air laut mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi manfaat air laut untuk pertanaman kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang. Materi adalah air laut dari Pantai Marina Semarang, dan kedelai lokal Grobogan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok monofaktor delapan perlakuan empat ulangan. Perlakuan tingkat salinitas/EC (Electrical Conductivity) air penyiraman yaitu J0 = penyiraman air tawar; J1, J2, J3, J4, J5, J6, dan J7 berturut-turut adalah penyiraman air laut 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 mmhos/cm. Semua petak perlakuan menggunakan 8 ton/ha mulsa eceng gondok dan diinokulasi bakteri rhizobium. Parameter yang diamati panjang tanaman, jumlah daun, produksi berat segar dan bahan kering jerami, produksi biji, kadar protein kasar dan serat kasar jerami kedelai. Analisis ragam, menunjukkan penyiraman air laut hingga EC 7 mmhos/cm belum menunjukkan pengaruh yang signifikan pada pertumbuhan, produksi, maupun kualitas jerami kedelai dibandingkan penyiraman dengan air tawar. Penyiraman air laut EC 7 mmhos/cm menghasilkan rerata panjang tanaman 26,53 cm, jumlah daun 245,25 helai petiole, produksi berat segar jerami 2029,5 g/petak, produksi bahan kering jerami 235,05 g/petak, produksi biji kedelai 515,22 g/petak, kadar protein kasar jerami 12,63 %, dan kadar serat kasar jerami 48,78 %.Growth, production, and quality of soybean straw at various levels of sea water to support ruminant feedABSTRACT. Seawater contains nutrients needed by plant. The research aim was to get information the benefit of seawater for soybean. The research held in research field of Animal Husbandry and Agriculture Faculty, Diponegoro University Semarang. Seawater was taken from Semarang Marina Beach. Soybean was local bean of Grobogan. The experimental design used was a randomized block design eight treatment with four block.The factor was EC(electrical conductivity) level of watering diluted seawater namely J0 = Without sea water (fresh water); J1, J2, J3, J4, J5, J6, and J7 were EC level of watering diluted seawater of 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 7 mmhos/cm respectively. All treatments using 8 ton/ha of water hyacinth mulch and inoculated of rhizobium bacteria. The parameters were plant length, number of leaves, seed production, fresh weight and dry matter production of shoot, crude protein and crude fibre content of soybean straw. Variant analysis, showed that watering sea water up to EC level 7 mmhos/cm has not shown significant influence on the growth, seed and straw production and quality of soybean straw compared to watering with fresh water. Level of watering diluted seawater EC 7 mmhos/cm yields plant length of 26,53 cm, number of leaves 245,25 pieces of petiole, weight production of fresh straw 2029,5 g/plot, weight production of dry straw 235,05 g/plot, weight production of seed 515.22 g/plot, 12.63% crude protein content, and a crude fiber content of 48.78%
Substitusi Tepung Bawang Putih (Allium sativum) dengan Bawang Hitam (Black Garlic) dalam Ransum terhadap Umur Bertelur dan Bobot Telur Pertama Puyuh (Coturnix - coturnix japonica)
ABSTRAK. Untuk mendapatkan produksi terbaik dalam pemeliharaan puyuh maka harus memperhatikan ransum yang diberikan dimana ransum yang berkualitas baik akan meningkatkan penyerapan zat makanan yang berguna untuk meningkatkan performa awal produksi seperti umur pertama bertelur, bobot badan saat pertama bertelur, bobot telur pertama dan konversi ransum yang terbaik pula. Performa awal merupakan kunci keberhasilan untuk produksi selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa awal bertelur pada puyuh yang bahan pakannya diganti dari tepung bawang putih menjadi bawang hitam. Materi yang digunakan adalah 200 ekor puyuh betina umur 3 minggu yang dipelihara sampai umur bertelur pertama. Perlakuan yang diberikan adalah penggantian tepung bawang putih dengan bawang hitam sehingga diperoleh 5 perlakuan dan 4 ulangan dimana setiap ulangan terdiri dari 10 ekor puyuh. Perlakuannya adalah P0=100% ransum komersil tanpa penambahan tepung bawang putih dan bawang hitam (kontrol), P1=100% ransum komersil+3% tepung bawang putih+0% bawang hitam, P2=100% ransum komersil+2% tepung bawang putih+1% bawang hitam, P3=100% ransum komersil+1% tepung bawang putih+2% bawang hitam, P4=100% ransum komersil +0% tepung bawang putih+3% bawang hitam. Penelitian ini didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan jika terdapat pengaruh pada perlakuan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. Peubah yang diamati meliputi konsumsi ransum, bobot badan dan umur saat bertelur pertama dan konversi ransum. Hasil dari penelitian menunjukkan penggantian tepung bawang putih dengan bawang hitam tidak menunjukkan pengaruh yang nyata (P0.05) terhadap konsumsi ransum, bobot badan dan umur saat bertelur pertama, dan konversi ransum puyuh. Kesimpulan yang diperoleh bahwa substitusi tepung bawang putih dengan bawang hitam sampai 3 % dalam ransum belum dapat memperbaiki performa awal produksi telur pada puyuh.(Substitution garlic with black garlic in the ration on early egg production of layer quail (Coturnix - coturnix japonica))ABSTRACT. Quail production depends on the feed and feeding where feed quality will increase quail ability to digest and absorb the nutrients, thus, will improve the performance of early egg production, body weight at first egg laid, egg weight and feed conversion. The performance of early egg production is key to success and subsequent determinant of production. This study aimed to determine the performance of early egg production of quail fed ration contained garlic that was substituted by black garlic. The study used 200 female quail at 3 weeks of age and was kept until the first day of laying egg. The treatments were the substitution level of garlic with black garlic, namely P0 = 100% commercial feed without garlic and black garlic, P1 = 100% commercial feed + 3% garlic + 0% black garlic, P2 = 100% commercial feed + 2% garlic + 1% black garlic, P3 = 100% commercial feed + 1% garlic + 2% black garlic, and P4 = 100% commercial feed + 0% garlic + 3% black garlic. The research was designed into Completely Randomized Design (CRD) with 5 treatments and 4 replications those 10 quails each. The parameters were feed consumption, body weight and age at the first day of laying egg, and feed conversion. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) and the significant effect of the treatment would be tested using Duncans Multiple Range Test. Results of this study showed that there was not significant different (P0.05) among treatment groups on feed consumption, body weight and age at the first day of laying egg, and feed conversion. It is concluded that using black garlic up to 3 % or 2.91 % in ration to substitute garlic does not improve quail early egg production performance yet
Pemberian Ekstrak Daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dalam Air Minum Kambing Peranakan Ettawa untuk Meningkatkan Produksi dan Kualitas Susu
ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan pada kelompok ternak kambing perah di Desa Geucee Kayee Jatoe Kota Banda Aceh. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan persentase pemberian ekstrak daun katuk dalam air minum yaitu S0, S1, S2 dan S3 (0 %; 10%; 20 %, dan 30% ), tiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data volume produksi air susu yang diperoleh dianalisa dengan ANOVA, dan bila terdapat perbedaan, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang nyata (P0.05) terhadap volume air susu yang dihasilkan antar perlakuan S0, S1, S2 dan S3. Pemberian ekstrak daun katuk 10% (S1) dalam air minum memperlihatkan peningkatan produksi susu dan kualitas susu yang baik dibandingkan dengan pemberian 20% dan 30% dalam air minum.(Giving katuk leaf extract (Sauropus androgynus L. Merr) in drinking water Ettawa crossbreed goats to increase milk volume and milk quality)ABSTRACT. This research was carried out on a group of Ettawa crossbreed goats in Geucee Kayee Jatoe, Banda Aceh. This study used a completely randomized design with 4 (four) treatments of giving katuk leaves extract in drinking water, namely S0, S1, S2 and S3 (0%; 10%; 20%, and 30% of katuk leaf) and each group repeated 4 times. Data on milk production were analyzed by analysis of variant (ANOVA), and if there were differences, then followed by Duncan multiple range test (DMRT). The results showed that there was no significant effect (P 0.05) on the production of milk between treatments S0, S1, S2 and S3. Giving katuk leaf extract up to 10% (S1) in drinking water increase in milk production and quality compared to those giving 20% and 30% of katuk leaf
Fermentasi Pucuk Tebu (Saccharum officinarum L) Menggunakan Trichoderma Harzianum : Degradasi in Sacco Komponen Serat
ABSTRAK. Pucuk tebu (Saccharum officinarum L) (PT) merupakan salah satu pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan bagi ternak ruminansia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui degradasi in sacco komponen serat PT yang difermentasikan dengan beberapa level Trichoderma harzianum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diuji menggunakan analisis sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan kalau ada perbedaan antar perlakuan. Pucuk tebu difermentasi dengan perlakuan Trichoderma harzianum dengan beberapa level yaitunya 0, 2, 4 dan 6% selama 1 minggu. Pucuk tebu hasil fermentasi digiling untuk dijadikan bubuk dengan ukuran saringan 2 mm kemudian dengan teknik in sacco diinkubasi ke dalam rumen sapi berfistula selama 72 jam. Peubah yang diukur adalah degradasi NDF, ADF dan hemiselulosa dari PT yang telah difermentasi sesuai dengan perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa level T. Harzianum berpengaruh tidak nyata (P 0.05) terhadap degradasi NDF dan ADF dari PT fermentasi tetapi berpengaruh sangat nyata (P 0.01) terhadap degradasi hemiselulosa. Kesimpulan penelitian adalah degradasi NDF, ADF dan hemiselulosa dari PT fermentasi terbaik dicapai pada perlakuan dengan menggunakan 4% T. harzianum dibandingkan dengan perlakuan lainnya.(The fermentation of Saccharum officinarum L. shoot using Trichoderma harzianum: in sacco degradation of fiber component)ABSTRACT. Sugar can (Saccharum officinarum L) shoot (SCS) is one of an alternative feed that could be use as a source of feed for ruminant. The aim of this study was to reveal the in sacco degradation of SCS fermented with some level of Trichoderma harzianum. The design of this experiment was Completely Randomized Design with 4 treatments and 5 replications. The statistical analysis used in this experiment was Analysis of Variance and followed by Duncan Tets. Sugar can shoot was fermented with T. harzianum in some levels of 0, 2, 4 dan 6% for one week. The fermented SCS was dried, grounded in 2 mm mash and kept store until incubated. To evaluate the in sacco degradation, fermented SCS was incubated for 72 h. Parameters measured were the degradation of NDF, ADF dan hemiselulosa of treated SCS. Results showed that the level of T. harzianum did not significantly (P 0.05) affect on the degradation of NDF and ADF but it siginficantly (P 0.01) affected on the degradation of hemiselulosa. It could be concluded that the level of 4 % of T. harzianum in fermenting SCS showed the best in sacco degradation of NDF, ADF dan hemiselulosa among all treatments