Jurnal Agripet
Not a member yet
    462 research outputs found

    Evaluasi Produksi dan Kualitas Susu pada Sapi Mastitis

    Get PDF
    ABSTRAK. Tingkat peradangan ambing merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi produksi dan kualitas susu sapi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara produksi dan kualitas susu yang dihasilkan sapi mastitis. Materi yang digunakan adalah 30 ekor sapi perah Friesian Holstein (FH) dengan periode laktasi III-V dan bulan laktasi 3-4. Tingkat peradangan ambing diuji menggunakan California mastitis test (X1) dan jumlah sel somatik (X2) dengan metode Breed dihubungkan dengan produksi (Y1) atau kualitas susu (lemak : Y2, protein = Y3 dan laktosa = Y4). Analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 30% kuartir ambing dinyatakan sehat sedangkan 70% kuartir ambing terinfeksi mastitis subklinis dengan tingkat peradangan yang berbeda. Terdapat hubungan antara tingkat peradangan ambing dengan produksi susu berpola linier negatif nyata (P 0,05) dengan persamaan Y1 = 16,126 - 3,064X1 - 0,001X2 dan koefisien korelasi kuat (r = 0,740). Hubungan antara tingkat peradangan ambing dengan kualitas susu (lemak, protein, laktosa) berpola linier negatif nyata (P 0,05) dengan persamaan Y2 = 3,481 - 0,157X1 - 0,000X2 (r = 0,739), Y3 = 3,048 - 0,124X1 - 0,000X2 (r = 0,653) dan Y4 = 4,605 - 0,106X1 - 0,001X2 (r = 0,623). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat peradangan ambing dengan produksi dan kualitas susu dimana semakin tinggi tingkat peradangan ambing maka produksi dan kualitas susu akan mengalami penurunan.(Evaluation of milk production and quality in mastitis cows)ABSTRACT. The level of udder inflammation is one of the factors that can affect the production and quality of cow's milk. This study was aimed to determine the relationship between milk production and quality produced by mastitis cows. The material used was 30 Friesian Holstein (FH) dairy cows with a lactation period of III-V and a lactation month of 3-4. Inflammation degree of the mammary gland was determined by the California mastitis test (X1) and somatic cell count (X2) with a breed method relationship between milk production (Y1) or milk quality (fat: Y2, protein: Y3, and lactose: Y4) were determined by the multiple linear regression. The results showed that 30% of the udder quarter were healthy while 70% of the udder quarter were infected with mastitis with different levels of inflammation. There was a strong negative correlation (P 0,05; r = 0.740) between milk production, CMT and SCC score with Y1 = 16.126 - 3.064X1 - 0.001X2. Moreover, the correlation between milk production and milk quality (fat, protein, lactose) also showed a strong negative linear correlation (P 0,05) with the equation Y2 = 3.481 - 0.157X1 - 0.000X2 (r = 0.739), Y3 = 3.048 - 0.124X1 - 0.000X2 (r = 0.653) and Y4 = 4.605 - 0.106X1 - 0.001X2 (r = 0.623). In conclusion, the increased mammary inflammation level will result the decrease in milk production and milk quality

    Pengaruh Substitusi Tepung Ikan dengan Tepung Keong Mas (Pomacea Canaliculata L.) di dalam ransum basal terhadap Plasma Metabolit Ayam Broiler Fase Starter

    Get PDF
    ABSTRAK. Keong mas (Pomacea canaliculata L.) merupakan bahan pakan alternatif bagi unggas yang memiliki kandungan protein tinggi yang hampir sama dengan tepung ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian tepung ikan dengan tepung keong mas (TKM) didalam ransum basal terhadap plasma metabolit yang meliputi total kolesterol (TCHO), trigliserida (TG), glukosa (GLU), dan total protein (TP) pada ayam broiler fase starter. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan 60 ekor DOC dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan, masing-masing perlakuan dipelihara selama 21 hari. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penggantian tepung ikan dengan TKM dengan level 0, 3, 6, dan 9%. Parameter yang diukur adalah TCHO, TG, GLU dan TP. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa penggantian tepung ikan dengan TKM pada level 9% berpengaruh nyata (P0,05) meningkatkan TCHO, GLU dan TP ayam broiler, namun tidak berbeda nyata (P0,05) terhadap TG. Kesimpulan penelitian ini adalah penggantian tepung ikan dengan TKM di dalam ransum basal dapat mengubah kadar plasma metabolit yang meliputi TCHO, GLU, dan TP pada ayam broiler fase starter. Selanjutnya, level TKM yang digunakan untuk menggantikan tepung ikan tidak boleh melebihi 6% khususnya untuk mencapai level terbaik TCHO di dalam plasma ayam broiler fase starter.(Effect of fish meal substitution with golden snail meal (Pomacea canaliculata L.) in basal ration with on plasma metabolites in broiler starter period)ABSTRACT. Gold snail is an alternative feed with high protein content and almost similar to protein content of fish meal. This study aims to determine the effect of substitution of fish meal with golden snail meal (GSM) in basal ration on plasma metabolites including total cholesterol (TCHO), triglyceride (TG), glucose (GLU) and total protein (TP) in starter broiler chickens. The research design in this study was a Completely Randomized Design, using 60 DOCS of broiler chickens (Cobb) with four treatments and five replications with each treatment consisted of 3 broilers chickens. The chickens were kept from DOC until 21 days old. The treatment in this study was the substitution of fish meal with GSM at levels 0, 3, 6 and 9% in basal ration in broiler chickens. The observed parameter in this study were TCHO, TG, GLU and TP. The results of this study showed that the substitution of fish meal with GSM in basal ration up to level 9% significantly (P0.05) increased TCHO, GLU and TP but did not affect TG in broiler chickens. The conclusion of this study that the substitution of fish meal with GSM in basal ration altered plasma metabolites including TCHO, GLU and TP in broiler starter period. Moreover, the maximum level of GSM substitution for fishmeal should not exceed 6% especially to achieve the best level of TCHO in plasma broiler chicken starter period

    Evaluasi Performa dan Income Over Feed & Chick Cost (IOFCC) Tiga Strain Ayam Broiler yang Beredar di Aceh

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa tiga strain ayam broiler yang umumnya dipelihara di Aceh. Materi yang digunakan adalah 150 ekor anak ayam broiler (DOC) strain Cobb 500, CP 707, dan MB 202 masing-masing berjumlah 50 ekor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap ulangan merupakan unit percobaan yang masing-masing terdiri dari 10 ekor anak ayam. Perlakuan adalah tiga strain ayam broiler: Cobb 500 (P1), CP 707 (P2), dan MB 202 (P3). Parameter yang diamati meliputi pertambahan berat badan, konsumsi ransum, konversi ransum (FCR), mortalitas, dan Income over Feed and Chick Cost (IOFCC). Hasil penelitian memperlihatkan performa broiler dipengaruhi oleh jenis strain. Strain MB 202 dan CP 707 memiliki bobot badan akhir (6 minggu) dan konsumsi ransum nyata (P0,05) lebih tinggi daripada Cobb 500. Angka konversi ransum tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antara ketiga strain pada semua umur panen. Nilai IOFCC tertinggi dipengaruhi oleh jenis strain dan lama pemeliharaan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa performa broiler dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi strain terhadap iklim setempat (pesisir Aceh) pada periode berbeda-beda yang dapat memengaruhi tingkat keuntungannya. Strain Cobb 500 memiliki kemampuan adaptasi lebih baik selama periode awal, sedangkan CP 707 dan MB 202 selama periode akhir.(Evaluation of performances and income over feed chick cost (iofcc) of three broiler chicken strains commonly marketed in Aceh) ABSTRACT. The study aimed to evaluate the performances and Income over Feed and Chick Cost (IOFCC) of three broiler chicken strains commonly marketed in Aceh. As many as 150 chicks of three different broiler strains (50 birds each) were used in this study. The study was performed into Completely Randomized Design (CRD) consists of 3 treatments and 5 replications creating 15 experimental units containing 10 birds each. The treatments were 3 different strains of broiler chickens i.e. Cobb 500, CP 707, and MB 202. The birds were reared up to 6 weeks to expose their performances recorded as final body weight, body weight gain, feed intake, and feed conversion, as well as mortality. Economic value was evaluated by calculating IOFCC. Results of study showed that performances of broilers were significantly (P0,05) influenced by the strains. Strains MB 202 and CP 707 represented more superior than Cobb 500 for 56 weeks of raising periods. However, the later was not inferior during initial phase close to 4 weeks. There were no significant differences in FCR among all strains for different ages. The IOFCC related to the strains and their marketing ages. The highest IOFCC was obtained by Cobb 500, CP 707, and MB 202 as they were sold at the ages of 4, 5, and 6 weeks, respectively. In conclusion, the achievements of the performances in various broiler strains were affected by the site climate (Aceh) in different stages of their ages. Cobb 500 had proper adaptation during starter, while CP 707 and MB 202 appeared seem to be better than Cobb 500 during finisher period

    Isolasi dan Identifikasi Bakteri Gram Negatif pada Uterus Sapi Aceh yang Mengalami Repeat Breeding

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis bakteri Gram negatif pada uterus sapi Aceh yang mengalami kawin berulang. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor sapi Aceh betina yang terdiri atas tiga ekor sapi fertil (K1) dan tiga ekor yang mengalami kawin berulang (K2, repeat breeding, RB). Pengambilan sampel bakteri dalam uterus sapi dilakukan dengan menggunakan swab steril yang disimpan dalam media nutrient broth (NB) untuk isolasi dan identifikasi jenis bakterinya. Berdasarkan hasil penelitian, baik K1 dan K2, positif terinfeksi bakteri dan diperoleh 16 isolat bakteri di antaranya enam isolat berasal dari K1 dan sepuluh isolat berasal dari K2. Dari 10 isolat bakteri Gram negatif yang ditemukan pada sapi RB terdiri atas Escherichia coli (E. coli) (30,00%), Pseudomonas sp. (30,00%), Enterobacter sp. (20,00%), Klebsiella sp. (20,00%). Disimpulkan bahwa bakteri yang paling banyak menginfeksi uterus sapi RB adalah E. coli dan Pseudomonas sp.(Isolation and identification of gram negative bacteria in uterine Aceh cow with repeat breeding) ABSTRACT. The study determined the type of Gram negative bacteria of the Aceh cattle uterus which has been diagnosed with repeat breeding. The study was conducted on six Aceh cows consists of 3 normal fertile cows (K1) and 3 repeat breeding cows (K2, RB). The bacteria in uterine samples were collected using sterile swab, kept into nutrient broth (NB) for further isolation and identification of bacteria. The result of the study showed that the total of 16 isolates of bacteria was observed in all cows : 6 isolates from group K1 and 10 isolates from group K2. A total of 10 isolates from cattle with repeat breeding consist of Escherichia coli (E. coli) (30.00%), Pseudomonas sp (30.00%), Enterobacter sp (20.0%), and Klebsiella sp (20.0%). It can be concluded that the most bacteria that infect uterine cows with repeat breeding are E. coli and Pseudomonas sp

    Fermentasi Aerob dan An-Aerob Rumput Gajah Mini (Pennisetum purpureum cv. Mott) untuk Pakan Kambing Boerka Sedang Tumbuh

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh fermentasi secara aerobik dan anaerobik rumput gajah mini (RGM) sebagai pakan terhadap performan kambing Boerka. Penelitian dilaksanakan dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan terdiri atas tiga perlakuan yaitu RGM segar, RGM hasil fermentasi an-aerob dan RGM hasil fermentasi aerob. Pada setiap perlakuan ternak diberikan konsentrat dengan komposisi 50% hijauan dan 50% konsentrat berdasarkan bahan kering. Digunakan 24 ekor ternak kambing Boerka jantan (8 ekor per perlakuan). Ternak ditempatkan di kandang individu. Peubah yang diamati mencakup konsumsi bahan kering (BK), pertambahan bobot hidup harian (PBHH), efisiensi penggunaan pakan (EPP), income over feed cost (IOFC) dan kecernaan pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RGM segar sebagai pakan kambing dengan persentase pemberian 50% RGM dan 50% konsentrat menghasilkan PBHH dan IOFC yang nyata lebih tinggi (P0,05) dibanding RGM hasil fermentasi (62,1 vs 32,4 g/e/h dan Rp. 222.960 vs Rp. 104.397/e/3 bln) diikuti dengan EPP yang sama dengan RGM hasil fermentasi aerob sebesar 0,10. Pengolahan RGM melalui fermentasi meningkatkan kandungan protein kasar namun tidak meningkatkan kecernaan. Pemanfaatan RGM hasil fermentasi an-aerob untuk pakan kambing Boerka sedang tumbuh dapat menghasilkan konsumsi nutrien, kecernaan nutrien, PBHH, EPP dan IOFC yang sebanding dengan RGM tanpa fermentasi.(Aerob and un-aerob fermentation of dwarf elephant grass as feed for growing Boerka goat) ABSTRACT. The research was aimed to study the effects of fermentation of dwarf elephant grass (DEG) as feed on Boerka goat performances. The experiment was at Indonesian Goat Research Station, Sei Putih in 2015. The experiment was arranged in completely randomized designed, and consisted of three diet treatments namely 1) fresh (unfermented) DEG, 2) aerobically-fermented DEG, and 3) anaerobically-fermentation DEG. Goat was offered 50% concentrate and 50% DEG on every treatment based on dry matter. Twenty four of male Boerka goats were used on this experiment (eight animals per treatment). Parameters observed included dry matter intake (DMI), average daily gain (ADG), feed conversion ratio (FCR), income over feed cost (IOFC) and digestibility. The results showed that utilitazion of unfermented dwarf elephant resulted in higher ADG and IOFC (P0.05) than goats received aerob fermented dwarf elephant grass (62.1 vs 32.4 g/h/d dan Rp. 222,960 vs Rp. 104,397/h/3 month). Feed efficiency ranged from 0.08 to 0.10 and was not affected by treatments (P0.05). Fermentation of DEG increase crude protein content. The usage of anaerobically-fermentation DEG as feed of Boerka goat produce nutrient intake, nutrient digestibility, ADG, feed efficiency and IOFC which were comparable to DEG without fermentation

    Pengaruh Tepung Daun Kipait (Tithonia diversifolia) dalam Pakan terhadap Performa, Persentase Karkas, Lemak Abdominal, dan Giblet Broiler

    Get PDF
    ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh penggunaan tepung daun kipait (Tithonia diversifolia) (TDTD) terhadap performa, persentase karkas, persentase lemak abdominal, dan bobot relatif giblet. Penelitian menggunakan 200 ekor Day Old Chick (DOC) Strain CP 707 dengan rata-rata bobot badan adalah 106,0311,99 g/ekor. Pakan perlakuan disusun berdasarkan standar kebutuhan nutrisi broiler periode starter dan grower dan diberikan mulai umur 7 hari sampai 35 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan empat ulangan, setiap ulangan terdiri atas 10 ekor broiler. Perlakuan dalam penelitian adalah sebagai berikut: P1: Pakan kontrol (0% TDTD); P2: Pakan mengandung 4% TDTD; P3: Pakan mengandung 6% TDTD; P4: pakan mengandung 8% TDTD; dan P5: pakan mengandung 10% TDTD. Peubah yang diukur adalah performa broiler (konsumsi pakan (g/ekor); pertambahan bobot badan (g/ekor); konversi pakan); persentase karkas, persentase lemak abdominal, bobot relatif giblet. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa penggunaan TDTD dalam pakan signifikan (P0,05) memengaruhi konsumsi pakan namun tidak signifikan (P0,05) memengaruhi pertambahan bobot badan, konversi, persentase karkas, persentase lemak abdominal dan giblet. Kesimpulan penelitian adalah TDTD dapat digunakan di dalam pakan sebanyak 4% tanpa memengaruhi performa broiler (konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi pakan). Kemudian penggunaan sampai 10% dapat menurunkan persentase lemak abdominal dan peningkatan persentase karkas.(Effect of feeding Mexican sunflower (Tithonia diversifolia) leaf meal on performance, carcass percentage, abdominal fat, and giblet of broilers) ABSTRACT. The research aimed to see the influence of the used of Mexican sunflower (Tithonia diversifolia) leaf meal (TDLM) on the performance, the percentage of carcasses, the percentage of abdominal fat and the relative weight of giblets. The experiment used 200 day old chick (CP 707) with an average body weight of 106.03 11.99 g/bird.. The treatment diet were arranged according to the standard requirements for the starter and grower period broiler nutrition. The experimental chicken were provided dietary treatments when they were 7-day old and terminated on day 35A completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 4 replications and 10 birds in each replication was used in this experiment. Dietary treatments were: P1= control diet (0% of TDLM); P2= diet containing 4% TDLM ; P3= diet containing 6% TDLM ; P4= diet containing 8% TDLM; and P5: diet containing 10% TDLM. Variables measured were performances (feed consumption; body weight gain and feed conversion); Percentage of carcasses, percentage of abdominal fat, relative weight giblet. The results of analysis of variance showed that the used of TDLM in the diets significant effect (P0,05) on the feed consumption, but not significantly (P0,05) affect body weight gain, feed conversion, percentage of carcasses, the percentage of abdominal fat and the relative weight of giblet.. The conclusion of this study was TDLM can be used as 4% in diets without affecting the performance, the percentage of carcasses, the percentage of abdominal fat and the relative weight of giblet. Then the use of up to 10% can reduced the percentage of abdominal fat and increase the percentage of carcasses

    Semen Quality of Garut Rams feed by Different Protein Sources and Their Implementation Potential in Small Farms of West Java

    Get PDF
    ABSTRACT. Maggot Hermetia illucens (Maggot Black Soldier Fly, MBSF) is an alternative protein source besides soybean meal (SBM) which may be used as a feed for improving the quality of semen particularly in Garut rams to support prolific nature. The aims of this study were to analyzed and compare the impact of different protein sources in feed on semen quality of Garut rams, and to assess the prediction ability of Garut rams to serve ewe in small-scale breeders in West Java, Indonesia. This study was conducted using a completely randomized design with 3 treatments and 4 replications, consisted of Brachiaria humidicola (BH) grass and T1 (concentrate contains 20% of SBM), T2 (concentrate contains 10% of SBM and 10% of MBSF), and T3 (concentrate contains 20% of MBSF). The parameters measured were feed consumption, semen quality (macroscopic and microscopic characteristics), also a potential ability of rams to serve ewe. The results showed there were no significant effect on protein consumption, semen volume, semen pH, semen color and consistency, sperm mass movement, sperm motility, sperm concentration, sperm morphology, and prediction potential ability to serve ewe. However, the result showed a significant effect (P0.05) on sperm viability and sperm plasma membrane integrity. Sperm plasma membrane integrity of ram feed with T3 was better than T1 and T2 (P0.05). The prediction potential ability rams to serve ewes on MBSF treatment was 38 heads, while in T1 and T2 were 43 and 57 heads, respectively. In conclusion, MBSF can be an alternative source of protein besides SBM to improve the semen quality of Garut rams.ABSTRAK. Maggot Hermetia illucens (Maggot Black Soldier Fly; MBSF) adalah sumber protein alternatif selain bungkil kedelai (SBM) yang dapat dipergunakan sebagai pakan untuk memperbaiki kualitas semen terutama pada domba Garut untuk mendukung sifat prolifik. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan membandingkan dampak pemberian sumber protein berbeda terhadap kualitas semen domba Garut dan untuk menilai kemampuan domba Garut pejantan dalam melayani betina pada peternakan rakyat di Jawa Barat, Indonesia. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan yang terdiri dari rumput Brachiaria humidicola (BH) dan T1 (konsentrat mengandung 20% SBM), T2 (konsentrat mengandung 10% SBM dan 10% MBSF), dan T3 (konsentrat mengandung 20% MBSF). Parameter yang diukur adalah konsumsi pakan, karakteristik semen (makroskopis dan mikroskopis) serta potensi domba jantan melayani betina. Hasil Penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada konsumsi protein pakan, volume semen, pH semen, warna dan konsistensi semen, gerakan massa sperma, motilitas sperma, konsentrasi sperma, morfologi sperma, dan prediksi potensi pejantan dalam melayani betina. Namun, hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan (P0.05) pada viabilitas sperma dan membran plasma utuh sperma. Membran plasma utuh pada perlakuan T3 lebih baik dibandingkan perlakuan T1 dan T2 (P0.05). Prediksi potensi betina terlayani dari pejantan yang diberi pakan MBSF adalah 38 ekor, sedangkan yang diberi SBM dan kombinasinya adalah 43 dan 57 ekor. Kesimpulan penelitian ini adalah MBSF dapat menjadi alternatif sumber protein selain bungkil kedelai dalam memperbaiki kualitas sperma domba Garut

    Analisis Bobot Badan dan Karakteristik Semen Ayam Gaok Terseleksi Generasi ke-6

    Get PDF
    ABSTRAK. Ayam Gaok merupakan salah satu rumpun ayam lokal yang memiliki potensi besar dikembangkan. Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah melakukan program seleksi pada ayam Gaok untuk menghasilkan bibit ayam lokal pedaging yang dipanen umur 10 minggu dan dapat dijadikan galur jantan (male line) yang akan disilangkan dengan ayam KUB yang merupakan galur betina (female line). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pertumbuhan bobot badan dan karakteristik semen ayam Gaok generasi ke-6 yang dipelihara di Balitnak. Sebanyak 211 ekor anak ayam Gaok umur satu hari dari generasi ke-6 dipelihara pada kandang koloni pada masa starter dan grower. Ayam dewasa dipelihara pada kandang individu. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Bobot badan ayam jantan dan betina pada umur 10 minggu masing-masing 1.075,26 156,55 g (KK= 14,56 %) dan 868,25 109,34 g (KK= 12,59 %). Rerata bobot badan jantan dan betina sudah mulai berbeda nyata (P0,05) pada saat ayam berumur lima minggu. Konsumsi dan konversi pakan sampai umur 10 minggu yakni masing-masing 2.801,61 g dan 2,99. Bobot badan ayam jantan dan betina pada umur 20 minggu masing-masing 2.354,01 280,06 (KK= 11,90%) dan 1.646,5 205,97 g (KK= 12,51%). Volume semen, konsentrasi, motilitas dan persentase sperma hidup ayam Gaok jantan pada umur delapan bulan masing-masing sebesar 0,4 ml, 3.927 106, 57,22 dan 62,5%. Bobot badan ayam Gaok umur 10 minggu menunjukkan hasil baik dengan variasi yang cukup seragam. Kuantitas dan kualitas semen ayam Gaok tergolong normal. (Analysis of body weight and semen characteristic of 6th generation selected gaok chicken) ABSTRACT. Gaok chicken is one of local breed chicken which potentially to be developed. Indonesian Research Institute for Animal Production (IRIAP) have been executed selection program on Gaok chicken to obtain meat type local chicken which is harvested on 10 weeks old age and can be made as male line to be crossed with KUB chicken which is the female line. The objective of this study was to observe growth of body weight and characteristics of semen of Gaok chicken 6th generation which are raised in IRIAP. A number of 211 DOC Gaok chicken 6th generation were raised in colony cage in starter and grower periods. Mature chickens were kept in individual cages. Feed and water were given ad libitum. Body weight male and female at 10 weeks were 1,075.26 156.55 g (CV=14,56 %) and 868.25 109.34 g (CV=12,59 %) respectively. Body weight on male and female were started significantly differ from five weeks (P0.05). Feed consumption and conversion for 10 weeks were 2,901.61 g and 2.99, respectively. Body weight male and female at 20 weeks were 2,354.01 280.06 g (CV=11,90 %) and 1,646.5 205.97 g (CV=12,51 %) respectively. Semen volume, concentration, motility and proportion of live sperm of male Gaok chicken were 0.4 ml, 3,927 106, 57,22 % and 62.5 %, respectively. 10th week body weight of Gaok chicken showed good results with uniform variation. Quantity and quality of Gaok chicken semen belonged to be normal

    Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Beku Sexing pada Bangsa Sapi yang Berbeda

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat keberhasilan IB semen beku sexing Y. Penelitian menggunakan 39 sapi Peranakan Ongole dan 77 sapi Persilangan Limousin yang di IB secara double dosis. IB menggunakan semen beku spermatozoa Y dengan metode pemisahan Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll (SGDP) sapi Limousin yang diproduksi oleh Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Teknik deposisi semen adalah 4+ yaitu pada posisi cornua uteri selanjutnya dilakukan IB pada jam ke 2 dan ke 8. Untuk akseptor dilakukan penyuntikan BioATP+ dan pemberian pakan konsentrat 3 kg per hari selama 3 hari setelah IB. Variabel penelitian meliputi Non Return Rate (NRR), Service Per Conception (S/C), dan Conception Rate (CR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa IB sapi Peranakan Ongole dan sapi Persilangan Limousin yaitu NRR1 sebesar 82,05% dan 89,61%, nilai NRR2 sebesar 76,92% dan 84,42%, nilai CR sebesar 58,97% dan 74,03%, serta nilai S/C sebesar 1,78% dan 1,46%. Kesimpulan penelitian adalah IB menggunakan semen beku hasil sexing Y sapi Limousin pada sapi persilangan Limousin memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan sapi Peranakan Ongole.(The success rate of artificial insemination using frozen sexing semen of different breed cow)ABSTRACT. This study aimed to evaluate the success rate of AI frozen semen sexing Y. The material in this study used 39 Filial Ongole and 77 Limousin crossbred cattle in AI in double dose. The spermatozoa used were Y frozen semen of Limousin bull with the Percoll Gradient Density Centrifugation (SGDP) separation method produced by the Singosari Center for Artificial Insemination. The semen deposition technique was 4+, which has the position of the cornua uteri (deep Insemination), then AI implemented with a double dose at the 2nd and 8th hours after estrous. The cow acceptor was injected with BioATP+ and feed by 3 kg concentrate per day for three days after AI. Research variables include Non-Return Rate (NRR), Service Per Conception (S/C), and Conception Rate (CR). The results showed that AI of Peranakan Ongol and Limousin crossbred cattle on NRR1, NRR2, CR values, and S/C values respectively was 82.05% and 89.61%; 76.92% and 84.42%; 58.97% and 74.03%; 1.78% and 1.46%. In conclusion, AI using frozen semen from sexing Y Limousin cattle in Limousin crossbred cows had a higher success rate than Filial Ongole cattle

    Peningkatan Motilitas Spermatozoa Kambing Nubian Setelah Pemberian PGF2 dalam Pengencer Andromed

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian PGF2 dalam pengencer semen komersial (Andromed) terhadap peningkatan motilitas spermatozoa kambing Nubian. Penelitian ini menggunakan sampel semen yang dikoleksi dari 3 ekor kambing Nubian berumur 2-3 tahun menggunakan vagina buatan dan dievaluasi kualitasnya secara makroskopis dan mikroskopis. Setelah dievaluasi, sampel semen ditambahkan pengencer Andromed lalu dibagi atas 3 kelompok perlakuan, yaitu: P1; P2; dan P3 yang masing-masing ditambahkan NaCl fisiologis; 37,5 g PGF2; dan 75 g PGF2. Seluruh sampel disimpan dalam refrigerator selama 4 jam dan dilakukan pemeriksaan motilitas spermatozoa. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pola satu arah (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa motilitas spermatozoa (%) kambing Nubian pada P1; P2; dan P3 masing-masing adalah 26,335,5; 62,03,5; dan61,810,13 (P0,05). Disimpulkan bahwa penambahan PGF2 pada pengencer Andromed dapat meningkatkan motilitas spermatozoa kambing Nubian.(The improvement of sperm motility in Nubian goat after PGF2 administration in andromed semen diluents)ABSTRACT. The study aims to determine the administration effect of PGF2 in a commercial semen diluents (Andromed) on improvement of Nubian goat sperm motility. This study used semen samples that collected from three Nubian goats aged 2-3 using artificial vagina and their quality evaluated macroscopically and microscopically. After evaluated, semen samples were added with Andromed diluents then divided into three groups (P1, P2, and P3) where each group was then added with 0,9% physiologic NaCl, 37.5 g PGF2, and 75 g PGF2, respectively and stored in a refrigerator for 4 hours and subsequently spermatozoa motility was examined. The data obtained were analyzed by one-way analysis of variance (ANOVA) and followed by Duncan test. The results showed that the spermatozoa motility (%) of Nubian goats at P1, P2, and P3 were 26.335.5, 62.03.5, and 61.810.13, respectively. Based on the statistical tests showed that the administration of PGF2 at P2 and P3 had a significant effect (P0,05) on the motility of spermatozoa of Nubian goats, but the motility decreased in P1. The conclusion of this study is the addition of PGF2 to Andromed diluents can increase the motility of spermatozoa of Nubian goats

    409

    full texts

    462

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agripet
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇