Jurnal Agripet
Not a member yet
462 research outputs found
Sort by
Peningkatan Produksi Susu Kambing Peranakan Etawah Melalui Pemberian Coleus amboinicus Lour dan Sauropus androgynus L. Merr
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Coleus amboinicus L. (daun bangun-bangun) dan Sauropus androgynus L. Merr (daun katuk) terhadap produksi susu kambing Peranakan Etawah. Enam belas ekor kambing Peranakan Etawah laktasi digunakan pada penelitian ini dengan rancangan acak kelompok 4 x 4. Perlakuan P0 = 30% konsentrat +70% hijauan, P1= P0+6 g/kg BK Coleus amboinicus L., P2 = P0+6 g/kg BK Sauropus androgynus L. Merr, dan P3 =3 g/kg BK Coleus amboinicus L. +3 g/kg BK Sauropus androgynus L. Merr. Peubah yang diamati adalah konsumsi ransum (bahan kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, Ca dan P), produksi susu dan kualitas susu (bahan kering, bahan kering tanpa lemak, lemak, protein, casein dan berat jenis). Data dianalisis menggunakan ANOVA, jika berbeda nyata antar perlakuan dilakukan uji lanjut berganda Duncan. Perlakuan pemberian Coleus amboinicus L. dan Sauropus androgynus L. Merr tidak memengaruhi konsumsi bahan kering (BK) pakan, protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), Ca dan P (P0,05). Perlakuan Coleus amboinicus L. dan Sauropus androgynus L. Merr dapat meningkatkan produksi susu (P0,05), namun tidak memengaruhi kualitas susu (bahan kering, bahan kering tanpa lemak, lemak, protein dan casein) (P0.05) dan sangat nyata memengaruhi berat jenis (BJ) susu kambing Peranakan Etawah (P0,01). Disimpulkan bahwa pemberian Coleus amboinicus L. dan Sauropus androgynus L. Merr dapat meningkatkan produksi susu, tetapi tidak memengaruhi konsumsi ransum dan kualitas susu. (Increased production of Etawah cross-breed goat milk by giving Coleus amboinicus Lour and Sauropus androgynus L. Merr) ABSTRACT. This study intended to determine the effect of Coleus amboinicus L. and Sauropus androgynus L. Mers on Etawah crossbreed goat milk production. Sixteen lactating Etawah crossbred goats were used in the 4 x 4 randomized block experiment consisted of four treatments, P0 = 30% concentrate + 70% forage, P1 = P0 + 6 g/kg Coleus amboinicus L., P2 = P0 + 6 g/kg Sauropus androgynus L. Merr and P3 = 3 g/kg Coleus amboinicus L. + 3 g/kg Sauropus androgynus L. Merr on dry matter basis. The variables measured were consumption (dry matter, crude protein, crude fat, crude fiber, Ca and P), milk production and milk quality (dry matter, milk solid non fat, protein, specific gravity). Data were analyzed by ANOVA, if there were differences between treatments, Duncan's multiple-test was carried out. The result showed that, the addition of Coleus amboinicus L. and Sauropus androgynus L. Merr in ration did not affect dry matter consumption, crude protein, crude fat, crude fiber, Ca and P (P0.05). Coleus amboinicus L and Sauropus androgynus L. Merr significantly increased milk production (P0.05), and highly affected specific gravity of Etawah crossbreed goat milk (P 0.01), but did not affect milk quality (dry matter, dry ingredients non fat, protein fat and casein) (P0.05). It could be concluded that the addition of Coleus amboinicus L. and Sauropus androgynus L. Merr increased milk production, but did not affect consumption and milk quality
Penurunan Durasi Berbaring Harian Sapi Berahi, sebagai Peluang untuk Dijadikan Teknologi Otomatisasi Peringatan Dini Sapi Berahi
ABSTRAK. Saat ini sudah tersedia berbagai produk teknologi monitoring kesehatan ternak berdasarkan analisis tingkah laku ternak. Namun belum ada teknologi monitoring berdasarkan tingkah laku yang cocok untuk pemeliharaan intensif seperti di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dasar teknologi monitoring sapi berahi berdasarkan perubahan total durasi berbaring harian antara sapi berahi dengan non berahi. Sebanyak 18 ekor sapi betina Peranakan Ongole (PO) sehat reproduksi ditempatkan pada kandang individu yang terpantau kamera selama 24 jam. Pengambilan data foto posisi berbaring atau berdiri sapi dilakukan tiap 2 menit. Dilakukan penjumlahan durasi total berdiri dan berbaring harian selama satu siklus berahi. Penentuan kondisi berahi menggunakan metode visual dan menggunakan heat detector Brunstmessgerat. Uji T test berpasangan dilakukan untuk membandingkan rata-rata berbaring harian sapi non berahi dengan durasi harian sapi berahi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama siklus berahi adalah sebesar 20,3 1,5 hari yang mengindikasikan sapi sehat secara reproduksi dan mendapatkan ketercukupan nutrisi pakan. Data total durasi berbaring harian yang didapatkan dari hasil tangkapan foto kamera menunjukkan sebaran data yang terdistribusi normal dan terdapat perbedaan yang nyata antara total durasi berbaring harian sapi berahi 49,83% dengan rata-rata total durasi berbaring harian sapi non berahi 53,60%. Hasil ini membuka peluang untuk dikembangkan menjadi teknologi monitoring sapi berahi berdasarkan perbedaan tingkah laku berbaring sapi. (Decreasing of the total daily lying behavior on oestrus cow, as an opportunity to become an automatic warning system for oestrus cows) ABSTRACT. Today, various livestock health monitoring technology products based on the analysis of livestock behavior are available. However, there is no behavior-based monitoring technology suitable for intensive maintenance such as in Indonesia. This study aims is to obtain the basic monitoring technology for heat cows based on changes of the total daily lying behavior duration between oestrus and non oestrus cows. A total of 18 healthy PO cows were placed in individual pan which were monitored by the camera in 24 hours a day. Collecting photo data from lying or standing position of the cow was done every 2 minutes. The total duration of daily standing and lying behavior for one oestrus cycle was done. The determination of the heat condition used a visual method and a heat detector manufactured by Brunstmessgerat. Paired T-test was conducted to compare the average daily lying behavior of oestrus and non oestrus cows. The results showed that the oestrus cycle length was 20,3 1,5 days, which indicated that the cows were reproductively healthy and had adequate feed nutrition. The total daily lying behavior duration data obtained from the camera photo captures showed that the distribution of data is normally distributed and there is a significant difference between the total daily lying behavior duration of oestrus 49,83% and non oestrus 53,60%. This result opens the opportunity to be developed into a monitoring technology for oestrus cows based on differences in the lying behavior
Iklim Mikro dan Respon Fisiologis Sapi Pesisir di Dataran Rendah dan Dataran Tinggi Sumatera Barat
ABSTRAK. Penelitian bertujuan melihat potensi iklim mikro dan respon fisiologis sapi Pesisir yang dipelihara di dataran rendah (Kota Padang (0-300 m dpl )) dan dataran tinggi (BPTU Padang Mengatas ( 600 m dpl)) Sumatera Barat. Materi yang digunakan dalam penelitian ini 8 ekor sapi Pesisir, variabel yang diukur terdiri dari 2 aspek yaitu lingkungan abiotik dan aspek fisiologis sapi Pesisir. Aspek lingkungan abiotik berupa suhu lingkungan (Ta), kelembapan udara (RH) serta Temperature Humidity Index (THI). Variabel fisiologis sapi meliputi suhu rektal (Tr), suhu kulit (Ts), frekuensi pernapasan (RR) dan denyut jantung (HR). Tr dan TS digunakan menghitung suhu tubuh sapi (Tb). Tr dan RR digunakan menghitung Heat Tolerance Coefficient (HTC). Uji beda (t-test) digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kondisi iklim dan respon fisiologis sapi Pesisir di dataran rendah dan tinggi Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan potensi iklim di dataran rendah adalah rerata suhu lingkungan 29,96C, rerata kelembapan 64,22%, rerata THI 79,96 sedangkan potensi iklim di dataran tinggi adalah rerata suhu lingkungan 25,42C, rerata kelembapan 69,48%, rerata THI 74,3. Rerata daya tahan panas sapi di dataran rendah 1,78 dan dataran tinggi 1,82. Kesimpulan penelitian menunjukkan potensi iklim dataran rendah untuk pemeliharaan sapi termasuk zona cekaman panas sedangkan dataran tinggi dalam cekaman ringan. Kondisi fisiologis sapi Pesisir di dataran rendah yang berbeda dengan sapi yang di dataran tinggi adalah suhu rektal, suhu kulit, suhu tubuh dan denyut jantung sedangkan frekuensi pernapasan didapatkan sama di kedua dataran. Daya tahan panas sapi Pesisir cukup baik ditemui di kedua dataran Sumatera Barat.(Microclimate and physiological responses of Pesisir cattle at lowland and highland of West Sumatra) ABSTRACT. This research aimed to investigate the potential of microclimate and physiological responses of Pesisir cattle that are maintained in lowland (Padang City (0-300 m asl)) and highland (Padang Mengatas BPTU ( 600 m asl)) in West Sumatra. The experimental animals were 8 pesisir cattle. The measured variables were abiotic environment and physiological responses of Pesisir cattle. Abiotic environmental measures were ambient temperature (Ta), humidity (RH) and Temperature Humidity Index (THI). Physiological variables were rectal temperature (Tr), skin temperature (Ts), respiratory rate (RR), and heart rate (HR). Tr and Ts were used to determine body temperature (Tb). Tr and RR are variables for calculating Heat Tolerance Coefficient (HTC). To determine whether there are differences in climatic conditions and physiological values in the two regions, the data were analyzed using a t-test. The results showed that climate potential in the lowlands was the average Ta 29.96 C, the average Rh 64.22% with an average THI 79.96 while the potential climate in the highlands was the average Ta 25.42C, the average Rh 69, 48% with a mean THI of 74.3. The average HTC of cattle in the lowlands is 1.78 and the highlands is 1.82. The conclusion showed the climate potential of lowland for raising beef cattle includes heat stress zones, while the highlands there was mild stress. The physiological conditions of Pesisir cattle in the lowlands different from the highlands are Tr, Ts, Tb, and HR while RR is found the same in both plains. HTC of Pesisir cattle is good in both plains of West Sumatera
Pemanfaatan Limbah Sereh Wangi (Cymbopogon nardus) Amoniasi sebagai Pengganti Sebagian Pakan Basal terhadap Kualitas Semen Segar Domba Ekor Tipis
ABSTRAK. Suatu penelitian tentang kualitas semen segar domba ekor tipis yang diberikan limbah sereh wangi (Cymbopogon nardus) amoniasi sebagai pengganti sebagian pakan basal, dilakukan dengan metode Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan A adalah tanpa pemberian limbah sereh wangi amoniasi (kontrol), perlakuan B pemberian limbah sereh wangi amoniasi (10%), perlakuan C pemberian limbah sereh wangi amoniasi (20%), perlakuan D pemberian limbah sereh wangi amoniasi (30%). Parameter yang diamati secara makroskopis yaitu volume, warna, bau, konsistensi dan pH. Sedangkan parameter yang diamati dengan mikroskopis yaitu konsentrasi, motilitas individu, dan motilitas massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian limbah sereh wangi amoniasi 10%-30% tidak berpengaruh nyata (P0.05) terhadap pengujian kualitas semen segar baik secara makroskopis dan mikroskopis. Pemberian limbah sereh wangi amoniasi sebagai pengganti sebagian hijauan pakan sampai taraf 30% pada domba ekor tipis jantan tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas dari semen domba ekor tipis baik pada pengujian makroskopis maupun mikroskopis.(The utilization of ammoniated lemongrass waste (Cymbopogon nardus) as a partial replacement of basal feed on the quality of fresh semen of Javanese thin tailed sheep) ABSTRACT. A study on the quality of fresh semen of Javanese thin tailed sheep with ammoniated the waste of lemongrass (Cymbopogon nardus) as a partial replacement for basal feed, was carried out by the Latin Square Design (LSD) experimental method with 4 treatments and 4 replications. Treatment A was without ammoniated (control) lemongrass waste, treatment B was ammoniated lemongrass waste (10%), treatment C was ammoniated lemongrass waste (20%), treatment D was ammoniated lemongrass waste (30%). The parameters observed macroscopically are volume, color, odor, and consistency. While the parameters observed microscopically are concentration, individual motility, and mass motility. The results showed that the administration of 10% - 30% ammoniated lemongrass waste had no significant effect (P 0.05) on testing the quality of fresh semen both macroscopically and microscopically. The feeding of ammoniated lemongrass waste as a partial replacement of basal feed up to 30% in male rams did not have a negative effect on the quality of semen of thin sheep in both macroscopic and microscopic testing
Kecernaan In-Vitro Fraksi Serat Kombinasi Pucuk Tebu dan Titonia Fermentasi sebagai Pakan Ruminansia
ABSTRAK. Pucuk tebu dan titonia merupakan hijauan alternatif yang dapat digunakan sebagai sumber energi dan sumber protein pada ternak ruminansia, tetapi terkendala dengan adanya kandungan lignin dan zat anti nutrisi. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pucuk tebu dan titonia fermentasi terhadap kecernaan fraksi serat (NDF, ADF, selulosa dan hemiselulosa) secara in-vitro. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan yaitu A (100% Pucuk Tebu Fermentasi + 0% Titonia Fermentasi), B (75% Pucuk Tebu Fermentasi + 25% Titonia Fermentasi), C (50% Pucuk Tebu Fermentasi + 50% Titonia Fermentasi), dan D (25% Pucuk Tebu Fermentasi + 75% Titonia Fermentasi) dengan 5 ulangan. Pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diuji dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan jika ada perbedaan antar perlakuan. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P0,01) terhadap kecernaan fraksi serat (NDF, ADF, selulosa dan hemiselulosa). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan C (50% Pucuk Tebu Fermentasi + 50% titonia Fermentasi) memberikan hasil yang terbaik terhadap kecernaan NDF (78,13%), ADF (76,76%), selulosa (80,81%) dan hemiselulosa (81,11 %).(In-vitro digestibility of fiber fractions combination of sugarcane tops and tithonia as ruminant feed)ABSTRACT. Sugarcane tops and tithonia are alternative forages that can be used as an energy source and protein source in ruminants, but are constrained by the presence of lignin and anti nutrients. For this reason, a study was conducted to determine the effect of a combination of fermented sugarcane tops and fermented tithonia on the digestion of the fiber fraction(NDF, ADF, cellulose, and hemicellulose).The research design used a randomized block design (RBD) with 4 treatments, namely A (100% fermented sugarcane tops and 0% fermented tithonia), B (75% fermented sugarcane tops and 25% fermented tithonia), C (50% fermented sugarcane tops and 50% fermented tithonia), D (25% fermented sugarcane tops and 75% fermented tithonia) with 5 replications. Effect of treatment on parameters tested using analysis of variance and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT) if there are differences between treatments. The results of experiments showed that treatments gave a very significant difference (P 0.01) to the in-vitro digestibility of fiber fraction (NDF, ADF, cellulose, and hemicellulose). From the results of the study, it can be concluded that the treatment C (50% sugarcane tops fermentation and 50% fermented tithonia) gives the best results on the in-vitro digestibility of fiber fraction NDF (78,13%), ADF (76,76%), cellulose (80,81%) and hemicellulose (81,11 %)
Pengaruh Substitusi Sebagian Ransum Komersil Ayam Petelur dengan Bahan Pakan Campuran Fermentasi Tepung Limbah Ikan Leubim (Canthidermis maculata) dan Daun Indigofera terhadap Penampilan Produksi Telur Puyuh
ABSTRAK. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penggunaan bahan pakan fermentasi yang terutama tersusun atas tepung limbah ikan leubim dan tepung indigofera sebagai substitusi sebagian ransum komersil ayam petelur terhadap penampilan produksi telur puyuh. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapangan Peternakan (LLP), Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala selama 10 minggu. Penelitian ini menggunakan 80 ekor puyuh (Coturnix coturnix japonica) betina dara umur 4 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok. Setiap kelompok merupakan unit percobaan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor puyuh betina dara. Ransum perlakuan adalah ransum komersil ayam petelur yang disubstitusi dengan bahan pakan campuran fermentasi: 20% tepung limbah ikan leubim + 11% tepung daun indigofera + 45,4% menir + 20% dedak jagung + 3,6% tepung kulit kerang sebanyak 0, 10, 20, dan 30%. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ransum komersil ayam petelur dapat disubstitusi sampai 30% dengan bahan pakan campuran fermentasi yang tersusun atas tepung limbah ikan leubim 20% + tepung daun indigofera 11% + menir 45,4% + dedak jagung 20% + tepung kulit kerang 3,6% tanpa menurunkan secara nyata produksi, berat dan massa telur, konsumsi dan konversi ransum, serta berat badan akhir dan pertambahan berat badan puyuh.(Egg productions of quails fed the commercial rations partially substituted by fermentation feed ingredients based on the mixture of Leubim fish waste meal and Indigofera sp.)ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the effect of the partial substitution of commercial ration with fermented feed ingredients based on leubim fish (Canthidermis maculata) waste meal and Indigofera sp. meal on the appearance of quail egg production. The research was conducted at the Field Laboratory of Animal Husbandry, Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University for 10 weeks. The study used 80 female quails (Coturnix-coturnix japonica) at 4 weeks of age. The study was designed into randomized block design consisting of 4 treatments and 4 blocks. Each block was an experimental unit, each consisting of 5 quails. The treatment was commercial ration of laying hens partially substituted by fermented feed ingredients composed of 20% leubim fish waste meal + 11% Indigofera sp. meal + 45.4% broken rice + 20% corn bran + 3.6% clam shell meal as many as 0, 10, 20, and 30%. The results of study showed that commercial ration of laying hens could be substituted up to 30% with a mixture of fermented feed ingredients composed of 20% leubim fish waste meal +11% Indigofera sp. meal + 45.4% broken rice + 20% corn bran + 3.6% clam shell meal without significantly reduced egg production, egg weight, and egg mass, feed consumption and FCR, and final body weight and average body weight gain of quails
Komponen Serat Sabut Kelapa yang Difermentasi Menggunakan Mikroba Pencerna Serat dari Rumen Kerbau
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan lama pemeraman dan aras starter mikroba pencerna serat dari rumen kerbau terhadap komponen serat dan perubahan struktur jaringan sabut kelapa fermentasi. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap pola faktorial 3x3 dan 4 ulangan. Fermentasi sabut kelapa menggunakan mikroba pencerna serat dari rumen kerbau sebagai starter dengan perlakuan aras starter (0, 2,5 dan 5%) dan lama peram (0, 7 dan 14 hari). Parameter yang diamati adalah komponen serat dan perubahan struktur jaringan. Data dianalisis menggunakan analisis ragam, dilanjutkan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat pengaruh interaksi (P0,05) antara perbedaan aras starter dan lama peram terhadap kadar neutral detergent fiber (NDF), acid detergent fiber (ADF), hemiselulosa, selulosa dan lignin. Kesimpulan penelitian ini adalah penurunan kadar komponen serat serta peningkatan kerusakan jaringan seiring dengan peningkatan aras starter dan lama pemeraman. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar selulosa dan lignin sedangkan kadar hemiselulosa tidak dipengaruhi. Hal ini didukung oleh pengamatan terhadap perubahan struktur jaringan.(Fiber components of fermented coconut husk using fibre degrading microbes from buffalo rumen)ABSTRACT. This study aimed to examine the effect of different fermentation periods and levels of fiber-degrading microbial starter from buffalo rumen fluid on fiber component and tissue structure alteration of coconut husk. The experimental design used was factorial randomized complete 3x3 and 4 replications. The coconut husk fermentation was using fiber-degrading microbial obtained from buffalo rumen fluid as a starter with different treatments of starter levels (0, 2.5 and 5%) and fermentation periods (0, 7 and 14 days). Parameters observed were fiber component and tissue structure alteration. The data were analyzed by analysis of variance and continued by Duncans Multiple Range Test. The results of this research showed that there was no interaction effect (P0.05) between starter level and fermentation period on NDF, ADF, hemicellulose, cellulose and lignin contents. The conclusion of this research was decreased fiber component content and damage to tissue structure of coconut husk along with increased starter level and fermentation period. This is caused by decreased levels of cellulose and lignin while hemicellulose levels were not affected. This is supported by observations of changes in tissue structure alteration
Karakter Motilitas Spermatozoa Hasil Sexing pada Sapi Peranakan Ongole dengan Volume Awal yang Berbeda
ABSTRAK. Sexing spermatozoa bertujuan untuk mengatur jenis kelamin sesuai harapan. Salah satu metode sexing adalah dengan menggunakan Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berbagai parameter motilitas menggunakan Computer-assisted Sperm Analysis dan proporsi spermatozoa X dan Y menggunakan metode Sentrifugasi Gradien Densitas Percoll dengan volume awal yang berbeda. Penelitian dilakukan di Loka Penelitian Sapi Potong Grati, Pasuruan, pada bulan Januari sampai Maret 2020. Materi yang digunakan adalah Semen Sapi Peranakan Ongole berumur 5 tahun dan bobot badan 700 kg sebanyak 3 ekor, motilitas masa 2+ dan motilitas individu 70%. Metode yang digunakan adalah eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 perlakuan volume saat sexing yaitu P1= 1 ml, P2= 1,5 ml dan P3= 2 ml dengan ulangan 11 kali. Ulangan juga berfungsi sebagai kelompok (block). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan sexing dan pendinginan hingga 5oC persentase motilitas adalah P1:71,02+10,08 %; P2: 79,63+8,65 % dan P3: 83,38+6,67 %, sedangkan motilitas progresif pada P1: 47,68+8,71%; P2: 59,61+7,26 % dan P3: 62,21+6,74%. Curvilinear Velocity (VCL) pada P1: 50,97,73 m/s, P2: 55,25,03 m/s dan P3: 53,25,97%. Straight-line Velocity (VSL) pada P1: 20,88,19 m/s; P2: 21,66,02 m/s; P3: 22,15,77 m/s, sedangkan Average Path Velocity (VAP) pada P1: 30,27,82 m/s; P2: 32,56,14 m/s dan P3 : 31,56,18 m/s. Linearity (LIN) pada P1: 40,212,26%;P2: 39,110,31%;P3: 39,87,25%. Straightness (STR) pada P1: 67,211,20%; P2: 65,710,06%;P3: 67,27,92% sedangkan Wobble (WOB) pada P1: 599,49%; P2: 58,88,63% dan P3: 59,17,74%. Kesimpulan dari penelitian adalah motilitas dan motilitas progresif spermatozoa pada sampel dengan volume awal 2 ml lebih baik dibandingkan dengan sampel dengan volume awal 1 ml dan 1,5 ml.(Characteristics of Sexing Spermatozoa Motility in Ongole Cattle with Different Initial Volume) ABSTRACT. Sperm sexing is a technique of sorting a specific type of sperm cell to fertilize the egg cell. One of the sexing methods that can be used for spermatozoa sexing is percoll gradient density centrifugation. This research aims to find out various motility parameters using Computer-assisted Sperm Analysis and the proportion of spermatozoa X and Y using density gradient centrifugation method percoll with different initial volume. The study was conducted at Grati Beef Cattle Research Station, Pasuruan, from January to March 2020. Materials of the study were Semen of 3 Filial Ongole Cattles, aged 5 years, with 700 kg body weight, mass motility 2+, and individual motility 70%. The method used was experimental using a Randomized Group Design with 3 treatment volume when sexing i.e. T0= 1 ml, T1= 1.5 ml dan T2= 2 ml with repetition 11 times. The repetition also functions as groups (blocks). The results showed that after sexing and cooling up to 5oC, the percentage of motility is T0:71.02+10.08 %; T1: 79.63+8,65 % and T2: 83.38+6.67 %. Progressive motility on T0: 47.68+8.71%; T1: 59.61+7.26 % and T2: 62.21+6.74%. Curvilinear Velocity (VCL) on T0: 50.97.73 m/s, T1: 55.25.03 m/s and T2: 53.25.97%. Straight-line Velocity (VSL) on T0: 20.88.19 m/s; T1: 21.66.02 m/s; T2: 22.15.77 m/s. The Average Path Velocity (VAP) on T0: 30.27.82 m/s; T1: 32.56.14 m/s and T2 : 31.56.18 m/s. Linearity (LIN) on T0: 40.212.26%; T1: 39.110.31%;T2: 39.87.25%. Straightness (STR) on T0: 67.211.20%; T1: 65.710.06%; T2: 67.27.92%. Wobble (WOB) on T0: 599.49%; T1: 58.88.63% and T2: 59.17.74%. The conclusion of the study is the motility and progressive motility of spermatozoa in samples with an initial volume of 2 ml is better than samples with an initial volume of 1 ml and 1.5 ml
Kinerja Produksi dan Kualitas Telur Ayam Petelur yang Diberi Minum Air Gambut dan Air Non Gambut
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja produksi dan kualitas telur ayam petelur yang diberi air gambut (AG) dan air non gambut (ANG). Penelitian ini menggunakan 30 ekor ayam petelur strain lohman brown umur 15 bulan dengan pemberian pakan ransum komersial. Penelitian terdiri dari dua kelompok ayam dengan jumlah masing-masing 15 ekor. Kelompok pertama diberi minum AG dan kelompok kedua diberi ANG. Peubah yang diamati adalah konsumsi air minum, konsumsi ransum, produksi dan massa telur, konversi ransum, bobot telur, indeks putih telur, indeks kuning telur, tebal cangkang telur dan nilai haugh unit. Data penelitian dianalisis dengan uji-t untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi air minum, konsumsi ransum dan konversi ransum secara statistik berbeda nyata. Konsumsi air minum pada perlakuan AG (286,57 ml/ekor/hari) lebih tinggi dari pada perlakuan ANG (264,24 ml/ekor/hari), demikian juga konsumsi ransum (98,82 g/ekor/hari vs 90,10 g/ekor/hari). Sedangkan konversi ransum pada perlakuan AG (2,71) lebih baik dari pada perlakuan ANG (3,18). Pada peubah kualitas telur hanya bobot telur yang menunjukkan perbedaan nyata. Bobot telur pada perlakuan AG (55,85 g/butir) lebih tinggi dari pada perlakuan ANG (54,18 g/butir). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian minum dengan AG mampu memperbaiki kinerja produksi ayam petelur, terlihat dari konsumsi air minum, konsumsi dan konversi ransum. Sedangkan pada kualitas telur hanya terlihat dari bobot telur. (Performance and egg quality of laying hen given peat water and non peat water) ABSTRACT. The aim of this study was to evaluate the performance and egg quality of laying hens given peat water (PW) and non-peat water (NPW). This study used 30 laying hens strain lohman brown aged 15 months with commercial ration feeding. The study consisted of two groups of chickens with 15 chickens each. The first group was given PW and the second group was given NPW. The variables observed were water consumption, feed consumption, egg production and mass, FCR, egg weight, albumin and yolk index, egg shell thickness and haugh unit value. Data obtained were analyzed using t-test to determine the differences between treatment groups. The results showed that water consumption, feed consumption and FCR were statistically difference. The daily water consumption in PW treatment (286.57 ml/bird/day) was higher than in NPW treatment (264.24 ml/bird/day), as was ration consumption (98.82 g/bird/day vs 90.10 g/ bird/day). While the ration conversion in PW treatment (2.71) was better than that of NPW treatment (3.18). In the egg quality variable, only egg weight showed a significant difference. Egg weight in PW treatment (55.85 g/egg) was higher than in NPW treatment (54.18 g/egg). The conclusion of this experiment was the given peat water to laying hens was able to improve the production performance, indicated by water consumption, feed consumption and FCR. Meanwhile, the quality of eggs can only be seen from the egg weight
Suplementasi Probiotik dan Senyawa Fitokimia terhadap Performan, Persentase Komponen Asam Lemak Terbang, Total Bakteri dan Protozoa Cairan Rumen Kambing
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi efektivitas suplementasi probiotik Saccharomyces cerevisiae dan Acetoanaerobium noterae serta senyawa fitokimia pada tepung batang pisang (TBP) dan tepung daun albezia (TDA) terhadap performan, persentase komponen asam lemak terbang dan total koloni bakteri dan protozoa cairan rumen kambing. Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah 25 ekor kambing jantan sedang tumbuh dengan bobot badan rata-rata 12,212,28 kg. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan: pakan kontrol (R0); R0 + TBP (R1); R0 + TDA (R2); R0 + Probiotik S.c (R3); R0 + Probiotik A.n (R4). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Parameter yang diuji adalah konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian (pbbh) dan persentase komponen asam lemak terbang serta total koloni bakteri dan protozoa cairan rumen. Data dianalisis menggunakan analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian perlakuan memberikan pengaruh yang tidak signifikan (p0,05) terhadap seluruh parameter. Namun demikian, pemberian Saccharomyces cerevisiae (R3) cenderung meningkatkan pbbh, persentase komponen asam lemak terbang dan total bakteri cairan rumen. Pemberian tepung batang pisang (R2) cenderung memberikan pengaruh paling baik dalam mendefaunasi total protozoa cairan rumen. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh perlakuan lebih mendalam.(Supplementation of probiotics and phytochemical compound on performance, percentage of volatil fatty acid components, total of bacteria and protozoa of goats rumen fluid)ABSTRACT. The research was aimed to investigate supplementation effectiveness of probiotic Saccharomyces cerevisiae and Acetoanaerobium noterae and phytochemical compound from stem banana flour and albezia leaf flour on performances, percentage of volatil fatty acid components, and total of bacteria and protozoa of goats rumen fluid. A total 25 head of buck in growing period was used with average body weight of 12.212.28 kg. The research used Completely Randomized Design (CRD) with five treatments: Control (R0); R0+stem banana flour (R1); R0+Albizia leaf powder (R2); R0+Saccharomyces cerevisiae (R3); RO+ Acetoanaerobium noterae (R4). Each treatments replicated five times. Parameter tested were dry matter consumption, average daily gain (ADG), percentage of fatty acid components, and total of bacterial colonies and protozoa in rumen fluid. Data were analyzed by analysis of variance (ANOVA) and continued with Duncans multiple range test. The result showed that all treatments no significant affected (p0,05) on all parameter. However, supplementation of Saccharomyces cereviseae (R3) tended to increase average daily gain, percentage of volatil fatty acid components and total of bacterial colonies in rumen. Supplementation of stem banana flour (R2) tended to have the best effect on protozoa defaunating in rumen fluid. Further research is needed to determine the effect of more profound treatment