Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Not a member yet
314 research outputs found
Sort by
PRODUKTIVITAS ALAT TANGKAP YANG DIOPERASIKAN DI SEKITAR RUMPON LAUT DALAM (Productivity of Fishing Gears Operated Around Deep Sea Fish Aggregating Devices)
ABSTRACTRumpon or Fish Aggregating Devices (FADs) had been used by purse seine and handline fishermen in Pacitan Regency since 2005. The use of rumpon has been associated with the catching of immature fishes in large number that would disrupt the sustainability of fish resources. The aims of this study were to measure fishing productivity of purse seine and handline fleets operated around FADs deployed in eastern Indian Ocean waters and analyze the size distribution and gonad maturity index of the catch. This study was conducted at Tamperan Fishing Port of the Pacitan Regency, East Java Province. Daily fish landing data from both fishing fleets were collected from the Tamperan auction hall from January to December 2014 for productivity calculation. About 289 fish samples from 6 dominant species was taken randomly on-board of 3 purse seine and 2 handlines vessels from 8 different FADs for size distribution and gonad analysis. The average productivity of purse seine fleets in 2014were 6,7 tonnes/trip (s = 5 tonnes/trip) while handling fleets average productivity were 0,9 tons/trip (s = 0,6 tons/trip. Purse seine catch were dominated by immature and juvenile fish while handlines catch were larger and already mature fishes.Keywords: FADs, fishing productivity, gonad analysisABSTRAKRumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs) telah digunakan oleh nelayan pukat cincin dan pancing ulur di Kabupaten Pacitan sejak tahun 2005. Penggunaan rumpon seringkali dihubungkan dengan penangkapan ikan yang belum dewasa dalam jumlah yang terlalu banyak sehingga dapat mengganggu keberlanjutan sumber daya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung produktivitas alat tangkap pukat cincin dan pancing ulur yang dioperasikan dengan menggunakan alat bantu rumpon yang dipasang di Samudera Hindia bagian timur dan menganalisis ukuran dan tingkat kematangan gonad hasil tangkapannya. Penelitian ini dilaksanakan di Pelabuhan Perikanan Tamperan, Kabupaten Pacitan, Propinsi Jawa Timur. Data pendaratan ikan harian selama bulan Januari hingga Desember 2014 diperoleh dari unit pelaksana teknis tempat pelelangan ikan Tamperan untuk perhitungan produktivitas. Adapun sampel ikan sebanyak 289 ekor diambil dari 3 unit kapal pukat cincin dan 2 unit kapal pancing ulur yang beroperasi di 8 rumpon yang berbeda untuk analisis sebaran ukuran dan tingkat kematangan gonad ikan hasil tangkapan. Produktivitas rata-rata pada tahun 2014 untuk alat tangkap pukat cincin yaitu sebesar 6,7 ton/trip (s = 5 ton/trip), sedangkan pancing ulur yaitu sebesar 0,9 ton/trip (s = 0,6 ton/trip). Hasil tangkapan pukat cincin didominasi oleh ikan berukuran kecil dan belum dewasa, sedangkan pancing ulur menangkap ikan yang berukuran lebih besar dan telah dewasa.Kata kunci: rumpon, produktivitas penangkapan, analisis gona
POLA USAHA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA MAJAKERTA, KECAMATAN BALONGAN-KABUPATEN INDRAMAYU (Business Pattern of Fishermen in Majakerta Village, Balongan District-Indramayu Regency)
ABSTRACTCapture fisheries business is a collective action in exploiting fisheries resources. It describes ability and dependency of community to capture fisheries resource that interestingly to be studied. The study was conducted for observing socio economic condition and analyzing small scale business of fishermen in Majakerta village Balongan Indramayu. The survey method was used in this study, with purposive random sampling for collecting samples as many as 10 respondents. The results showed that a small scale business of fishing had an important role for fishermen community in Majakerta village. Fishermen traditionally catch it, and they could be sustainable to do their business. It had financially profited with B / C ratio> 1.5 and payback period <= a year.Keywords: fishermen, Majakerta village, small scale capture fisheryABSTRAKUsaha penangkapan ikan oleh nelayan kecil merupakan aksi kolektif dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan. Aksi tersebut mencerminkan dua hal yang menarik untuk diteliti yaitu keberdayaan dan ketergantungan masyarakat pada sumberdaya perikanan tangkap. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi dan menganalisis pola usaha skala kecil nelayan di Desa Majakerta, Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan metode pengambilan sampel secara purposive random sampling yaitu sebanyak 10 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap skala kecil memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat nelayan di Desa Majakerta. Masyarakat nelayan melakukan kegiatan penangkapan ikan secara tradisional dan dapat menjalankan usahanya secara berkelanjutan. Secara finansial, pola usaha penangkapan udang, ikan, dan rajungan menguntungkan dengan B/C ratio > 1.5 dan payback period <= 1 tahun.Kata kunci: nelayan, Desa Majakerta, perikanan tangkap skala keci
KOMPETENSI NAKHODA KAPAL RAWAI TUNA DI PALABUHANRATU DITINJAU DARI STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) (Competency of Tuna Longliner Captain at Palabuhanratu, Viewed From Indonesian National Working Competency Standards (SKKNI))
ABSTRACTIndonesian government has prepared a standard for assessing the competencies of human resources in the field of fisheries, through the formulation of Indonesian National Occupational Competency Standards (INOCS). Captain of fishing vessels has an important role to the success of fishing operations, which must be supported by adequate competencies. This research aimed to describe INOCS in the field of fishing; and to assess the competence of the Captain of longline fishing vessels according to the INOCS. Data analysis was carried out by descriptive and gap analysis method. The result of the study showed that the competency of the Captain had been formulated, included five units of competencies with twenty elements of competencies. Among them, ten elements of competencies had been achieved, while the other ten competencies still had gaps. Elements of competency that has been achieved are mostly in accordance with the level V, while the level VI had not been achieved yet.Keywords: captain, competency, gap analysis, SKKNI, tuna longlineABSTRAKPemerintah Indonesia telah mempersiapkan perangkat untuk menilai kompetensi sumberdaya manusia di bidang perikanan, melalui perumusan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Nakhoda kapal penangkap ikan tuna memiliki peran penting untuk keberhasilan operasi penangkapan ikan, yang harus didukung oleh kompetensi yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari SKKNI di bidang penangkapan ikan; dan menilai kompetensi Nakhoda sesuai SKKNI. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menggunakan analisis kesenjangan (gap). Hasil penelitian menyatakan bahwa unit kompetensi nakhoda telah dirumuskan dengan baik. Terdapat lima unit kompetensi dengan dua puluh elemen kompetensi. Sepuluh elemen kompetensi telah tercapai, sementara itu sepuluh elemen kompetensi lainnya masih terdapat gap. Elemen kompetensi yang sudah tercapai sebagian besar adalah sesuai dengan jenjang V, sementara itu yang belum tercapai pada jenjang VI.Kata kunci: nakhoda, kompetensi, analisis kesenjangan, SKKNI, tuna longlin
Preview
MARINE FISHERIES: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut, merupakan media publikasi dari hasil-hasil penelitian/kajian di bidang teknologi dan manajemen perikanan laut secara luas. Jurnal ini dikelola oleh Forum Komunikasi dan Kemitraan Perikanan Tangkap (FK2PT) dan Departemen Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan (PSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB, yang diterbitkan dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Mei dan November. Ketua Editor:Dr. Yopi Novita, S.Pi, M.Si. Dewan Editor:Dr. Ir. Budhi Hascaryo Iskandar, M.Si.(IPB, Teknologi Perikanan Laut)Dr. Mochammad Riyanto, S.Pi, M.Si. (IPB, Teknologi Perikanan Laut)Dr.Ir. Fonny JL. Risamasu, M.Si.(UNDANA, Teknologi Perikanan Laut)Dr. Suparman Sasmita, S.Pi,M.Si.(BPPI, Teknologi Perikanan Laut)Prof.Dr.Ir. Domu Simbolon, M.Si.(IPB, Manajemen dan Kebijakan Perikanan Laut)Dr.Ir. Tri Wiji Nurani, M.Si.(IPB, Manajemen dan Kebijakan Perikanan Laut)Dr. Eko Sri Wiyono, S.Pi,M.Si.(IPB, Manajemen dan Kebijakan Perikanan Laut)Akhmad Solihin, S.Pi, MH.(IPB, Manajemen dan Kebijakan Perikanan Laut)Dr. Irfan Yulianto, S.Pi,M.Si.(WCS, Manajemen dan Kebijakan Perikanan Laut) Editor Teknis:Didin Komarudin, S.Pi, M.Si.Ima Kusumanti, S.Pi, M.Sc.Oktavianto P. Darmono, S.Pi, M.Si.Yuningsih Biaya penulisan MARINE FISHERIES: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut sebesar Rp. 1.000.000 per naskah. Harga berlangganan sebesar Rp 125.000 per tahun atau Rp 75.000 per eksemplar pembayaran dilakukan ke BNI Cabang Bogor No. Rekening 0369173065, a.n. Yopi Novita.Alamat Redaksi: Departemen Pemanfaatan Sumber daya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Lingkar Kampus, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Telp (0251) 8622935, Fax (0251) 8421732, Email: [email protected].
MODEL MANAJEMEN RANTAI PASOK INDUSTRI PERIKANAN TANGKAP BERKELANJUTAN DI PROPINSI MALUKU (The Ideal Model of Supply Chain Management of Sustainability Industrial Capture fisheries in Maluku Province)
ABSTRACTDesigning and managing Industrial capture fisheries Supply Chain is complex and its faces socially bound uncertainties such as poor collaboration, communication and information sharing. Such complexity cannot be reduced through quantitative supply chain design and management techniques. The aim of this study was design an industrial capture fisheries supply chain in Maluku Province using Soft System Methodology. Multi Dimensional Scaling (MDS)and SCOR was applied in analyzing situational conditions related to the sustainability and performance of industrial capture fisheries. Analysis on capture fisheries shows in less sustainable category (43.91)and the performance of both fishermen and company indicate an excellent and good grade. SSM analysis generated root definitions: Ministry of Marine Fisheries, Department of Marine, regional institution and stakeholder of the supply chain (O) realize the sustainable fishing industry and implementation of reliable activities in the fisheries sector and competitive globally (W) which integrates all the units along supply chain and coordinate the flow of materials, information and finance ranging from such aspects : production, downstream industries (handling and processing), up to marketing (T) of the Fishermen, industries processing (C) on the entire supply chain through effective and efficient mechanism (E) as well as coordination both center and regional institution (A) related to quality and standardization of fishery products, distribution, infrastructure, data and information on fisheries (T)". The supply chain management of sustainable fishing industry model was developed by 20 activties. Improvement of Industrial capture fisheries supply chain in Maluku Province can be reached by doing activities within relevant system.Keywords: industrial capture fisheries, Multi Dimensional Scalling, SCOR, supply chain, SSM ABSTRAKMerancang manajemen rantai pasok industri perikanan tangkap merupakan hal yang kompleks. Penelitian ini bertujuan mendisain model manajemen rantai pasok industri perikanan tangkap yang ideal di Propinsi Maluku. Soft System Methodology (SSM) digunakan sebagai pendekatan kajian yang didukung oleh Multi Dimensional Scalling (MDS) untuk mengukur keberlanjutan industri perikanan tangkap dan Supply Chain Operation Reference(SCOR) untuk menganalisis kinerja industri perikanan tangkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan industri perikanan tangkap berada pada kategori kurang berkelanjutan dan kinerjanelayan dan perusahaan berada pada kategori sangat baik dan baik. Analisis SSM menghasilkan root definition “Kementerian Kelautan Perikanan, Dinas Kelautan, PEMDA dan pelaku rantai pasok (O) mewujudkan industri perikanan tangkap yang berkelanjutan dan terselenggaranya aktivitas di sektor perikanan yang andal dan mempunyai daya saing secara global (W) yang mengintegrasikan semua unit dalam rantai pasok dan mengkoordinasikan aliran material, informasi dan keuangan mulai dari aspek produksi, industri hilir (handling dan processing), hingga ke pemasaran (T) dari para Nelayan, industri-industri pengolah (C) pada seluruh rantai pasok melalui mekanisme yang efektif dan efisien (E) serta koordinasi kelembagaan pusat dan daerah (A) terkait mutu dan standardisasi produk perikanan, distribusi, sarana prasarana, infrasrtuktur serta data dan informasi perikanan (T)”. Model manajemen rantai pasok industri perikanan tangkap di Propinsi Maluku dibangun atas 20 aktivitas. Perbaikan rantai pasok industri perikanan tangkap dapat dicapai dengan melakukan aktivitas-aktivitas dalam model konseptual yang dibangun.Kata kunci: industri perikanan tangkap, Multi Dimensional Scalling, SCOR, rantai pasok,SS
HANG-IN RATIO GILLNET DASAR DAN PENGARUHNYA TERHADAP KARAKTERISTIK HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus SPP.) DI PALABUHANRATU JAWA BARAT (Hang-in Ratio Effect of Bottom Gillnet on Characteristic of Lobster (Panulirus spp.) in the Palabuhanratu, West Java)
ABSTRACTHang-in ratio (HR) will determine the characteristics of lobster caught by bottom gillnet, e.g number, size (weight and length) and quality. Higher hang-in ratio means more net material needed per length unit to develop a set of bottom gillnet. At the same time, higher hang-in ratio may increase the probability of lobster being entangled, so it can decrease the quality of the catches. The purpose of this study was to determine the optimum design of bottom gillnet in Palabuhanratu, West Java by considering the effect of different hang-in ratio (52%; 41% and 29%) on the characteristics of lobster caught, easier of releasing the catches from the net, and the material needed. A field work was carried out to perform an experimental fishing consisted of 23 fishing trips during October to November 2016. Statistical tests did not show any effect of the hang-in ratio. Based on scoring method, the best hang-in ratio is 29% due to capture the number of types of catches at least, easier of releasing catches from the net and fewest material needed.Keywords: bottom gillnet, hang-in ratio, lobster, PalabuhanratuABSTRAKPenggunaan hang-in ratio (HR) akan berpengaruh terhadap karakteristik hasil tangkapan lobster yang ditangkap dengan jaring insang dasar, seperti: jumlah, berat, panjang dan kualitas (kelengkapan tubuh). Penggunaan hang-in ratio yang besar akan meningkatkan penggunaan bahan atau mata jaring persatuan panjang dalam pembuatan satu unit jaring insang dasar. Penggunaan hang-in ratio yang besar pada jaring mengakibatkan semakin sulit lobster dilepaskan dari puntalan jaring karena tingkat kekenduran jaring yang tinggi. Jika tidak berhati-hati saat melepaskan lobster dari puntalan jaring dapat mematahkan bagian tubuh lobster (menurunkan kualitas hasil tangkapan). Tujuan penelitian adalah menentukan desain terbaik jaring insang dasar dengan melihat perbedaan hasil tangkapan, kemudahan melepaskan hasil tangkapan dari jaring dan penggunaan bahan jaring dari hang-in ratio yang berbeda, yaitu (52%, 41% dan 29%) di Palabuhanratu, Jawa Barat. Penelitian eksperimen ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2016 dengan 23 kali trip penangkapan. Uji statistik penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga jenis hang-in ratiotidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik hasil tangkapan lobster. Namun, berdasarkan skoring HR terbaik yang digunakan pada jaring adalah 29% karena menangkap jumlah jenis hasil tangkapan paling sedikit, lebih mudah melepaskan hasil tangkapan dari jaring, membutuhkan bahan jaring paling sedikit.Kata kunci: jaring insang dasar, hang-in ratio, lobster, Palabuhanrat
RESPONS IKAN ZEBRA EKOR HITAM (Dascyllus melanurus) TERHADAP PENGGUNAAN ANAESTESI MINYAK CENGKEH SEBAGAI ALAT BANTU PENANGKAPAN PADA SKALA LABORATORIUM (Response of Zebra Fish Blacktail (Dascyllus melanurus) on the use of Clove Oil Anesthesia as a ...
ABSTRACTThe process of catching fish using an anesthetic technique is inseparable from the use of synthetic chemicals (cyanide) that negatively impact the target fish, non-target and on coral reefs. One way to reduce the negative impact of cyanide is to look for another alternative that are environmental friendly. One alternative is clove oil. The objectives of study are to determine the optimal concentration of clove oil on the induction and recovery time of zebra fish blacktail (Dascyllus melanurus). Samples used were captured without using cyanide. A tank with dimension 30 x 40 x 50 m filled with sea water was mixed with different concentrations of clove oil. The experiment was repeated three times. Observation of the behavior was performed to determine the induction and recovery time. The results showed the longest induction time were observed in concentration of 20 ppm with an average time of 321.33 seconds and the fastest time of induction was recognized in concentration of 60 ppm with an average time of 28.33 seconds. Longest recovery time was at a concentration of 20 ppm with an average time of 188.33 seconds and the fastest recovery time was at a concentration of 40 ppm with an average time of 80.67 seconds. Clove oil concentration of 40 ppm was most effective in fishing with induction time ranged from 40-48 seconds, and recovery time ranges from 72-91 seconds.Keywords: clove oil, induction time, recovery time, zebra fish blacktailABSTRAKProses penangkapan ikan dengan menggunakan teknik pembiusan tidak terlepas dari penggunaan bahan kimia sintetik (sianida) yang berdampak negatif terhadap ikan target, non-target serta pada terumbu karang. Salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif dari sianida adalah dengan mencari alternatif lain yang ramah lingkungan. Salah satu alternatif yang digunakan adalah minyak cengkeh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi optimal minyak cengkeh terhadap waktu induksi dan waktu pulih ikan zebra blacktail (Dascyllus melanurus). Sampel yang digunakan ditangkap tanpa mengggunakan sianida. Akuarium berukuran 30 x 40 x 50 m diisi dengan air laut. Kemudian dimasukkan beberapa konsentrasi minyak cengkeh yang berbeda (20, 30, 40, 50 dan 60 ppm). Pengamatan terhadap tingkah laku dilakukan untuk menentukan waktu induksi dan waktu pulih. Hasil penelitian menunjukkan waktu induksi terlama terdapat pada konsentrasi 20 ppm dengan waktu rata-rata 321,33 detik dan waktu induksi tercepat terdapat pada konsentrasi 60 ppm dengan waktu rata-rata 28,33 detik. Waktu pulih terlama terdapat pada konsentrasi 20 ppm dengan waktu rata-rata 188,33 detik dan waktu pulih tercepat terdapat pada konsentrasi 40 ppm dengan waktu rata-rata 80,67 detik. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi minyak cengkeh 40 ppm merupakan konsentrasi yang paling efektif dalam proses penangkapan ikan zebra blacktail (Dascyllus melanurus) dengan waktu induksi berkisar 40 – 48 detik dan waktu pulih berkisar 72 – 91 detik.Kata kunci: minyak cengkeh, waktu Induksi, waktu pulih, ikan zebra blacktai
STRATEGI PERENCANAAN IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENGOLAHAN DATA PENANGKAPAN IKAN DI KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
ABSTRACTMinistry of Marine Affairs and Fisheries Republic of Indonesia has a management information system on data processing of fishing surveillance. The information system can be useful if the system is works successfully. This research aim to formulate a strategic plan for the successful implementation of management information systems of data processing fisheries resources surveillance. Elements of the system on strategy was condected by using interpretative structural modeling (ISM), which is a strategic planning technique. The results show for the implementation of the model, there are seven elements of the system that need to be considered. Seven elements of the system with each sub element key, namely Directorat General PSDKP as affected sectors, support policies / regulations, conflict of interest between units echelon 1, up date data licensing continuity and fixed information technology (IT) expert. The implementation of fisheries resources surveillance program by IT based, mostly regional operators started to use information systems surveillance of fishery resources, increased access to data and information across echelons in MMAF and involvement MMAF as agencies involved in the success of the program.Keywords: Directorate of fisheries resources surveillance and management, information system, implementing strategy, ISMABSTRAKKementerian Kelautan dan Perikanan memiliki sistem informasi manajemen pengolahan data pengawasan penangkapan ikan. Sistem informasi tersebut berguna jika dalam implementasi sistem berhasil dengan baik. Penelitian ini bertujuan merumuskan rencana strategis untuk keberhasilan implementasi sistem informasi manajemen pengolahan data pengawasan perikanan tersebut. Strategi penerapan implementasi sistem informasi dilakukan dengan teknik interpretative structural modelling (ISM). Elemen sistem pada strategi perencanaan implementasi sistem informasi, yaitu Direktorat jenderal Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Prikanan (PSDKP) sebagai sektor yang terpengaruh, dukungan kebijakan/peraturan, up datedata perizinan yang kontinuitas dan tenaga ahli Teknologi Informasi (IT), terlaksananya program pengawasan sumber daya perikanan berbasis IT, sebagian besar operator daerah mulai menggunakan sistem informasipengawasan sumber daya perikanan, peningkatan akses data dan informasi lintas eselon lingkup Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dan keterlibatan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai lembaga yang terlibat dalam keberhasilan program.Kata kunci: Dit. PPSDP, Sistem Informasi, Strategi implementasi, IS
STATUS PERIKANAN PANAH DI KEPULAUAN KARIMUNJAWA KABUPATEN JEPARA JAWA TENGAH BERDASARKAN CCRF (CCRF Perspective on Spearfisheries in Karimunjawa Islands, Jepara District Central Java)
ABSTRACTSpeargun is productive fishing gear,spearfishermen catch numerous reef fishes such as yellow tail, snapper grouper,andother fish species.Spearfishermen dive to spear fishes. Air supply diving is common in spearfishing, therefore spearfishermen facing a huge health risk. Diving safety standard should be applied by spearfishermen to prevent various diving diseases.Research objectives wereto determine the Karimunjawa spearfishing status by the CCRF perspective and describe job safety analysis.Fishing gear used by fishermen consists of a gun made of wood with a rubber strap to hurl an arrow made of rust resistant metal.Coral reef is spear fisheries main fishing ground, which is vulnerable ecosystem therefore spearfishing has to carry out carefully. Spearfishing operations is a high-risk activities, fishermen have to be very careful and perform diving safety standards so that the potential risks can be avoided. Karimunjawa spear fisheries, in the CCRF perspective point of view, denote fisheries that support the CCRF concept, despite of several aspects that need to take notice of seriously. Among them isthe fishermen awareness to comply and perform code of conduct and safety standards in the fishing operations and prudence in carrying out fishing operations in the coral reef ecosystems.Key words: CCRF, Karimunjawa, safety standard and spearfishing------ABSTRAKPanah adalah alat tangkap yang cukup produktif. Nelayan panah menangkap berbagai jenis ikan karang, seperti ekor kuning, kakap dan kerapu serta jenis ikan lainnya. Nelayan panah menyelam untuk menombak ikan. Pasokan udara dipompakan dari kompresor yang biasa digunakan untuk mengisi udara ban kendaraan. Oleh karena itu nelayan menghadapi risiko bahaya yang besar. Standar keselamatan penyelaman harus diterapkan oleh nelayan untuk mencegah berbagai penyakit penyelaman. Tujuan penelitian ini untuk menentukan status perikanan panah di Karimunjawa dengan perspektif CCRF dan analisis keselamatan kerja. Penelitian dilaksanakan di perairan Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, antara bulan Oktober – November 2011. Metode survei digunakan sebagai metode penelitian. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi deskripsi unit tangkap panah, analisis perikanan panah berdasarkan CCRF dan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis – JSA). Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan terdiri dari senapan yang terbuat dari kayu dengan tali karet untuk melontarkan panah yang terbuat dari besi tahan karat. Ekosistem terumbu karang adalah daerah penangkapan utama perikanan panah. Sementara itu, terumbu karang merupakan ekosistem yang rentan. Operasi perikanan panah adalah kegiatan berisiko tinggi. Oleh karena itu nelayan harus sangat berhati-hati dan mengikuti standar keselamatan penyelaman, sehingga potensi risiko dapat dihindari. Perikanan panah di Karimunjawa, dari perspektif CCRF, merupakan kegiatan perikanan yang mendukung konsep CCRF, meskipun terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan secara serius. Aspek tersebut diantaranya adalah kesadaran nelayan untuk mematuhi dan melaksanakan standar CCRF dan aspek keselamatan dalam operasi penangkapan ikan serta kehati-hatian dalam melaksanakan operasi penangkapan ikan di ekosistem terumbu karang.Kata kunci: CCRF, Karimunjawa, perikanan panah dan standar keselamata