Jurnal Agribisnis Indonesia
Not a member yet
228 research outputs found
Sort by
Kewirausahaan dan Manajemen Agribisnis Terhadap Keberhasilan Usaha Ikan Patin di Kabupaten Kampar
Pengembangan usaha ikan patin di Provinsi Riau khususnya kabupaten Kampar tergantung kepada sumber daya manusia (SDM) kreatif dan inovatif serta memiliki daya saing. Usaha ikan patin mendapatkan dorongan dari pembudidaya ikan, pengusaha, dan pemerintah, hal ini dibuktikan dengan program peningkatan produksi ikan patin yang gencar dilakukan di masyarakat untuk pegembangan usaha ikan patin dengan bertambahnya minat masyarakat dan pengusaha ikan patin karena menyediakan peluang usaha yang baik di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jiwa kewirausahaan dan manajemen agribisnis terhadap keberhasilan usaha budidaya ikan patin di Kabupaten Kampar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. pengambilan sampel adalah non probability sampling berjumlah 153 responden. Metode pengumpulan adalah pengisian kuesioner. Data diolah dengan menggunakan model persamaan struktural (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS). hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) jiwa kewirausahaan yang dimiliki oleh pembudidaya ikan patin di Kabupaten Kampar menempati kategori skor sangat baik. Jiwa kewirausahaan yang dimiliki yaitu motivasi, melihat peluang, berani mengambil resiko, mandiri dan orientasi terhadap pencapaian. Berani mengambil resiko mempunyai skor paling tinggi yaitu 88,86. (2) manajemen agribisnis yang dimiliki oleh pembudidaya ikan patin termasuk kategori sangat baik. Pelaksanaan mempunyai skor paling tinggi yaitu 90%. (3) Keberhasilan usaha yang capai oleh pembudidaya ikan patin di Kabupaten Kampar diukur melalui tiga kriteria yaitu ukuran perusahaan, pertumbuhan usaha dan keuntungan. Skor keberhasilan usaha masuk kedalam kategori sangat baik. Keberhasilan usaha dengan skor tertinggi dimiliki oleh indikator peningkatan keuntungan dengan skor 87,43 persenThe growth of the catfish industry in the Kampar district, relies heavily on the ingenuity and inventiveness of its workforce, along with their competitiveness. The catfish sector has garnered support from fish farmers, entrepreneurs, and the government, as demonstrated by the concerted efforts to boost catfish production within the community. This has piqued the interest of both the community and catfish entrepreneurs due to the promising business opportunities it offers for the future. This research aims to assess the impact of entrepreneurial skills and agribusiness management on the success of catfish farming in Kampar Regency. The study employs a quantitative approach, with 153 respondents selected through purposive sampling and data collected via questionnaires. The data is analyzed using a SEM-PLS. The findings of the study reveal that: (1) Entrepreneurship has a favorable and significant influence on the prosperity of catfish farming enterprises. Catfish farmers in Kampar Regency exhibit a high level of entrepreneurship, characterized by motivation, a keen eye for opportunities, willingness to take risks, self-reliance, and a strong drive for achievement, with motivation scoring the highest at 96.85. (2) Effective agribusiness management also contributes positively and significantly to the success of catfish enterprises. Catfish farmers exhibit strong agribusiness management, with the highest score in implementation at 91.85 percent. (3) Success in catfish farming, as measured by company size, business growth, and profit, falls within the excellent category. The highest success score is attributed to the indicator of increased profits, which scores 91.14 percen
Pengaruh Pelatihan Pertanian Organik The Learning Farm Indonesia terhadap Kompetensi Bertani Generasi Z
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pelatihan pertanian organik yang dilakukan oleh The Learning Farm Indonesia terhadap kompetensi bertani Generasi Z. Sampel dalam penelitian ini adalah 1 (satu) batch peserta pelatihan The Learning Farm Indonesia, yaitu pemuda yang berusia 17-24 tahun (tergolong dalam Generasi Z), sebanyak 28 orang. Data karakteristik dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Sedangkan data kompetensi dan pelatihan dianalisis menggunakan regresi linier berganda, dengan uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama metode pelatihan, materi pelatihan, dan instruktur pelatihan berpengaruh secara nyata terhadap kompetensi bertani Generasi Z di The Learning Farm Indonesia, ditunjukkan dari hasil uji F dengan nilai F hitung sebesar 5,660 dan signifikansi 0,004. Secara parsial metode pelatihan berpengaruh nyata terhadap kompetensi bertani Generasi Z di Learning Farm Indonesia, ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 2,323 dan signifikansi 0,029. Sedangkan materi pelatihan dan instruktur pelatihan tidak berpengaruh terhadap kompetensi bertani Generasi Z di The Learning Farm Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh nilai t hitung variabel Materi Pelatihan, yaitu sebesar 1,67 dan variabel Instruktur Pelatihan, sebesar 0,823. Metode pelatihan yang digunakan oleh The Learning Farm Indonesia adalah lecture (ceramah dan diskusi), video presentation, dan action learningThe research was aimed to determine the characteristics of the participants in The Learning Farm Indonesia training and analyze the effect of organic farming training by The Learning Farm Indonesia on Generation Z farming competence. The sample in this study was 1 (one) batch of participants in The Learning Farm Indonesia, namely youth aged 17-24 years (classified as in Generation Z), as many as 28 people. Characteristic data were analyzed using descriptive analysis. Meanwhile, competency and training data were analyzed by correlation analysis method using the SEM-PLS (Structural Equation Modeling - Partial Least Square) by utilizing the SmartPLS version 3 software application. The results showed that the characteristics of organic farming training participants of The Learning Farm Indonesia batch 41 were dominated by men, graduated from senior high school, and came from West Java. The training variables that influence the competency variables are training methods and training materials. The training method has an effect on knowledge with a p-value of 0.013. The training method has an effect on skills with a p-value of 0.025. The training material has an effect on skills with a p-value of 0.013. The training materials has an effect on attitudes with a p-value of 0.016. The training methods used by The Learning Farm Indonesia are lectures (lectures and discussions), video presentations, and action learning.
 
Analisis Kelayakan Usaha Pascapanen dan Daya Saing Jahe Simalungun
Jahe (Zingiber officinale) merupakan salah satu tanaman biofarmaka yang memiliki fungsi dan khasiat sebagai obat untuk penyembuhan atau sebagai bumbu masakan, ataupun sebagai bahan baku untuk pembuatan minuman. Permintaan pasar ekspor jahe di Indonesia dikategorikan cukup tinggi, sedangkan untuk diekspor ke Belanda dibutuhkan 40 ton per bulan. Studi mengenai analisis kelayakan dan daya saing usaha pascapanen jahe ekspor dilakukan sebagai bentuk evaluasi terhadap daya saing dan kelayakan usaha pascapanen yang telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa biaya produksi yang dikeluarkan dari usaha pascapanen jahe dalam rupiah serta USD, pendapatan yang diperoleh dari usaha pascapnen dalam satuan rupiah dan USD, biaya sumber daya lokal usaha pasca panen jahe ekspor dalam rupiah, biaya sumberdaya impor usaha pasca panen dalam rupiah dan USD, daya saing jahe di pasar internasional dan kelayakan usaha pascapanen jahe ekspor di daerah penilitian. Metode analisis biaya adalah metode yang digunakan untuk menghitung biaya produksi, pendapatan, biaya sumber daya dalam negeri dan biaya sumber daya impor pada penelitian ini. Untuk menganalisis kelayakan usaha digunakan analisis Benefit Cost Ratio (produktivitas modal atau disebut juga /c) serta analisis titik balik atau Break Even Point (BEP). Untuk menganalisis kemampuan jahe ekspor untuk bersaing di pasar internasional, digunakan metode biaya sumber daya domestik. Kesimpulan penelitian yang diperoleh memperlihatkan bahwa dan usaha pasca panen jahe ekspor produksi Simalungun di wilayah studi memiliki kemampuan berdaya saing untuk berkompetisi di pasar internasional serta menghasilkan manfaat dan layak untuk tetap dilanjutkan.Ginger (Zingiber officinale) as a biopharmaceutical plant has been used both as medicine and spice. The export demand for Indonesian ginger can be considered quite high, as just for The Netherlands itself, 40 tons of ginger is needed per month. The study on the analysis of the feasibility and competitiveness of the export ginger post-harvest was carried out as a form of evaluating the competitiveness and feasibility of the post-harvest that had been carried out. The purpose of this study is analyzing production costs in rupiah and USD, income earned in rupiah and USD, local resource costs in rupiah and USD, import resource costs in rupiah and USD, the competitiveness of ginger in the international market and also the postharvest business feasibility of exported ginger in the research area. The cost analysis method is the method used to calculate production costs, income, domestic resource costs, and imported resource costs in this study. Business feasibility analyzed with Break Even Point (BEP) and the competitiveness of exported ginger in the international market analyzed with the domestic resource cost method. The conclusion of the study showed that Simalungun ginger has an ability to be competitive and compete in the international market and provide benefits and feasible to continue
Kelayakan Finansial Pabrik Tahu dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
Industri tahu menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Salah satu solusinya adalah mengolah air limbah menggunakan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Penggunaan IPAL akan menambah beban biaya (biaya investasi dan biaya operasional) pabrik tahu, namun tidak menambah penerimaan pabrik tahu karena penggunaan IPAL tidak berhubungan dengan aktivitas produksi pabrik tahu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial pabrik tahu dengan IPAL dan menganalisis peningkatan maksimum harga kedelai dan upah tenaga kerja. Penelitian dilakukan dengan studi kasus pada Pabrik Tahu Bapak Narman dan menggunakan dua alternatif penerapan IPAL dengan empat tipe: IPAL mandiri (tipe HK 1) dan IPAL terpadu (tipe HK 3, 5, atau 10). Penelitian menggunakan kriteria investasi (NPV, IRR, Net B/C, dan Payback Period) dan analisis nilai pengganti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pabrik tahu dengan IPAL tidak layak untuk dijalankan. Pabrik tahu dengan IPAL dapat layak jika pabrik tahu menerima insentif dari kenaikan harga jual tahu sebesar 1,26% hingga 2,82% dan jika harga kedelai turun menjadi Rp9.521/kg hingga Rp9.787/kg. Pabrik tahu dengan IPAL lebih sensitif terhadap perubahan daripada pabrik tahu tanpa IPAL. Pabrik tahu dengan IPAL lebih sensitif terhadap perubahan harga bahan baku kedelai daripada perubahan upah tenaga kerjaThe tofu industry produces wastewater that can pollute the environment. One of the solution is using Wastewater Treatment Plant (WWTP). WWTP will increase the cost (investment cost and operational cost) for the tofu factory. However, it will not increase the revenue because the use of WWTP is unrelated to the production activities of the tofu factory. This research aimed to analyze the financial feasibility of a tofu factory with WWTP and analyze the maximum increase in soybean prices and labor wages. This research was conducted by a case study in Mr. Narman’s Tofu Factory and using two alternatives with four types, independent WWTP (type HK 1) and integrated WWTP (type HK 3, 5, or 10). This research used investment criteria (NPV, IRR, Net B/C, and Payback Period) and switching value analysis. The findings demonstrate that a tofu factory with WWTP was feasible even though there was a decrease in profit due to the application of WWTP. The tofu factory with IPAL can increase its profits if the tofu factory receives an incentive to increase the tofu selling price by 1,26 percent to 2,82 percent and if the soybean price decreases to Rp. 9.521/kg from Rp. 9.787/kg. A tofu factory with WWTP is more sensitive to changes than one without WWTP. Tofu factory with WWTP is more sensitive to soybean price changes than labour wage changes
Pendapatan dan Kerentanan Petani Komoditas Kopi Robusta Sekitar Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Kopi robusta merupakan komoditas perkebunan yang memiliki potensi tinggi mengingat trend konsumsi dan produksi yang besar di beberapa provinsi di Indonesia salah satunya Provinsi Lampung, namun peningkatan produksi tersebut berdampak pada penggunaan lahan di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Nasional (TNBBS) untuk kegiatan pertanian kopi, terlebih lagi pandemi yang melanda dunia membuat tantangan baru dalam bisnis pertanian kopi ini. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis dan membandingkan tingkat pendapatan usaha tani kopi dan kerentanan keluarga petani kopi disebabkan pandemi Covid-19 di sekitar TNBBS, baik di dalam maupun di luar TNBBS. Analisis data menggunakan analisis pendapatan usaha tani dan analisis indeks kerentanan mata pencaharian (LVI). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan petani di kawasan TNBBS lebih kecil yaitu Rp. 9.833.453,57 sedangkan di luar kawasan TNBBS sebesar Rp. 12.571.781,31, rasio R/C juga menunjukkan bahwa bertani di luar daerah adalah yang paling menguntungkan. Perbedaan jarak lahan petani dalam kawasan dan luar kawasan memberikan kontribusi besar terhadap perbedaan jumlah ini. Kerentanan keluarga petani di dalam TNBBS dan di luar TNBBS tergolong rendah hingga sedang baik dalam perhitungan LVI maupun LVI yang mempertimbangkan definisi IPCC. Strategi mata pencaharian dan jaringan sosial yang tidak memadai di beberapa rumah tangga petani berkontribusi pada angka LVI yang dihasilkan dari analisis.Coffee, the prominent plantation commodity in Indonesia, exhibits significant potential due to its substantial consumption and production trends. Alongside tea and spices (HS code 09), coffee accounted for 41.5 percent of Indonesia\u27s total agricultural exports between 2016 and 2020. South Sumatra, Lampung, Aceh, and East Java serve as the primary coffee production regions in the country. However, this burgeoning industry has led to adverse effects on land conversion, particularly in Lampung province, where 60 percent of the forest area in Bukit Barisan Selatan National Park (TNBBS) has been converted for agricultural purposes, with 73 percent being utilized for Robusta coffee fields. Despite the promising outlook, the Covid-19 pandemic introduced new challenges to the coffee farming sector. This study aims to analyze and compare the income levels and vulnerability of coffee farming families inside and outside the TNBBS area during the pandemic. Primary data were collected through direct interviews, utilizing a non-probability sampling quota sampling method. The analysis includes farm income assessment with evaluation of poverty levels among farmer households and livelihood vulnerability index. Results indicate that coffee farmers outside the TNBBS area experience higher income and profits compared to their counterparts within TNBBS. Additionally, the poverty rate is higher for farmers within the TNBBS area. Vulnerability analysis reveals a medium-scale vulnerability level for farming families in both regions, emphasizing the necessity for targeted support to enhance their resilience
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ekspor Kopi di Timor-Leste
Perekonomian di Timor-Leste tergantung pada sektor minyak dan gas; Oleh karena itu, sektor nonmigas belum menjadi salah satu fokus kebijakan di Timor-Leste. Kajian ekonomi, khususnya ekspor di Timor-Leste, masih kurang; Oleh karena itu, artikel ini akan mengisi celah tersebut dengan membahas kopi sebagai komoditas potensial yang dapat diekspor dan sangat penting bagi perekonomian Timor-Leste. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perkembangan ekspor kopi Timor-Leste dengan mitra dagangnya dan (2) mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kopi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Metode yang digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat adalah analisis kuantitatif. Hasil metode kuantitatif diperoleh dari data sekunder menggunakan analisis data panel selama 14 tahun (2004-2018). Hasil penelitian dengan menggunakan model gravity menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor kopi di Timor-Leste adalah PDB negara tujuan, jumlah penduduk negara pengimpor, dan nilai tukar.
The economy of Timor-Leste depends more on the oil and gas sector. Therefore, the non-oil and gas sector has been less of a priority in the political agenda of this country. However, the studies on the economy in Timor-Leste, especially on commodity exports are underdeveloped, based on that, this research will discuss coffee production as a potential commodity and consider it as the largest share of the non-oil economy among other export products in Timor-Leste. The puRp. . ose of this study is to have a deeper comprehension of the business context, and the coffee export barriers and to identify and analyze the factors that might influence coffee exports. This research study used qualitative descriptive and quantitative analysis. The qualitative data was obtained through interviews with three exporters in Timor-Leste, and quantitative data using secondary data was obtained through the panel data analysis that was used for over 14 years (2004-2018) in seven importing countries. The data is analyzed by approaching descriptive and gravity models. Based on the results of the qualitative descriptive research on the context of the coffee business in Timor-Leste, there is a marketing flow that starts from farmers to retailers and will be passed on to the companies or from farmers directly to the companies. One of the constraints that are faced by exporting companies is the document procedure process which usually will take a long bureaucracy. Furthermore, the results of the study by using the gravity model explain that the variables that have a significant effect on the volume of coffee exports in Timor-Leste are the real GDP per capita of the exporting, and importing countries, and the total population of the importing countries
Analisis Pemasaran Beras Organik di Provinsi Sumatera Barat
Berdasarkan data SPOI tahun 2020, komoditas beras organik merupakan salah satu produk organik yang paling banyak digunakan. Beras merupakan salah satu komoditas teratas untuk produk organik. Pada tahun 2017 dan 2018, luas lahan yang dikonversi menjadi organik tumbuh signifikan sebesar 53.000 hektar. Luas area komoditas beras organik yang dihasilkan sejauh tahun 2016 terdapat 5 kabupaten/kota yang paling luas. Berdasarkan data dari SPOI, Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu tempat di Indonesia dengan lahan padi organik terbanyak (2017). Sejak tahun 2006, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah memiliki kebijakan untuk membantu pertumbuhan pertanian organik. Terdapat beberapa permasalahan dalam pemasaran beras organik di Sumatera Barat yaitu kurangnya akses pasar oleh petani sehingga hanya sebagian kecil hasil panen petani padi organik diserap sebagai produk akhir beras organik dan produk dijual dengan harga beras konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis efisiensi pemasaran dan operasional pemasaran (margin, farmer’s share dan rasio keuntungan) beras organik di Provinsi Sumatera Barat. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive. Purposive sampling digunakan untuk menentukan responden petani, dan snowball sampling digunakan untuk menentukan responden pedagang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif deskriptif. Rasio keuntungan terhadap biaya, farmer\u27s share, dan analisis margin pemasaran adalah alat analisis kuantitatif. Temuan ini menunjukkan terdapat empat jalur pemasaran beras organik di Sumatera Barat, yang semuanya didukung oleh lima lembaga pemasaran yang berbeda yaitu pedagang pengumpul, pedagang besar, petani bandar, pedagang pengecer skala kecil dan pedagang pengecer skala besar (supermarket). Petani – pedagang pengumpul – pedagang besar - pengecer skala kecil (saluran 2) merupakan pola saluran yang paling banyak dipilih oleh petani yaitu sebesar 50%. Saluran 4 merupakan pola saluran yang paling efisien karena merupakan saluran terpendek, memiliki margin terendah sebesar Rp 5.500, dan memiliki nilai farmer\u27s share tertinggi sebesar 50%.Rice is one of the leading commodities for organic products, organic rice commodities are one of the widely consumed organic products. West Sumatra Province is one of the regions that have the largest organic rice land in Indonesia. The development of Organic Agriculture has become a policy of the West Sumatra Provincial Government since 2006. There are several problems in marketing organic rice, namely the lack of market access by farmers so that only a small portion of the harvest of organic rice farmers is absorbed as the final product of organic rice and the product is sold at the price of conventional rice. The purpose of this research was to determine and analyze the marketing efficiency and marketing operations (margin, farmer\u27s share, and profit ratio) of organic rice in West Sumatra. The research location is decided by purposive method. To find farmer respondents using purposive sampling and trader respondents using snowball sampling. Qualitative descriptive analysis is used to analyze organic rice marketing channels. Meanwhile, quantitative descriptive is used to measure the marketing efficiency of organic rice using marketing margin analysis, and farmer\u27s share. The results showed that organic rice marketing in West Sumatra consists of 4 marketing channels, which involve five marketing institutions, namely intermediary traders, large traders, city farmers, small-scale retailers, and large-scale retailers (supermarkets). Farmers - intermediary traders - wholesalers - small-scale retailers (channel 2) is the channel pattern chosen by most farmers which are 50%. The most efficient channel pattern is channel 4 because it is the shortest channel with the lowest margin of Rp. 5,500 and the highest farmer\u27s share value of 50%
Struktur, Perilaku dan Kinerja Pasar Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi saluran pemasaran TBS kelapa sawit di wilayah Kecamatan Ngabang dan menganalisis struktur perilaku dan kinerja pasarnya. Lokasi penelitian ditentukan menggunakan metode purporsive sampling sehingga diperoleh tiga desa di wilayah Kecamatan Ngabang. Responden penelitian ini adalah produsen atau petani kelapa sawit dan semua organisasi yang berperan dalam pemasaran TBS kelapa sawit. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya tiga saluran pemasaran untuk TBS kelapa sawit: Saluran pemasaran 1 yaitu, dimulai dari petani menjual ke pedangang pengumpul dan kemudian ke agen besar yang mendistribusikan TBS ke pabrik. Selanjutnya saluran pemasaran ke 2, dimulai dari petani menjual ke agen besar kemudian langsung menuju ke pabrik. Serta saluran Pemasaran ke 3, di mulai dari petani menjual kepada pedagang pengumpul dan langsung menuju pabrik pengolahan. Struktur pasar pasar TBS kelapa sawit diidentifikasikan sebagai pasar oligopoli, hasil ini ditunjukan dari nilai pangsa pasar (market share), konsentrasi rasio (CR4), indeks Herfindahl, dan hambatan untuk masuk dan keluar pasar setiap lembaga pemasaran yang ada menunjukan nilai yang tidak berbeda jauh. Kinerja atau market performance masing-masing saluran pemasaran menunjukkan bahwa margin, bagian yang diterima petani dan keuntungan terbesar terdapat pada saluran pemasaran II.This study aimed to identify marketing channels and analyze the behavioral structure and market performance of palm oil FFB in Ngabang District. The research location determined by using purposive sampling, namely three villages in Ngabang District. The respondents of this study were palm oil farmers and all institutions involved in marketing palm oil FFB. The results showed that there are three marketing channels for oil palm FFB, namely marketing channel 1, farmers selling to collectors, and then selling to large agents who distribute FFB to factories. In marketing channel 2, farmers sell to large agents and then sell them directly back to factories. In marketing channel 3, farmers sell to collectors and then sell directly to factories. The market structure of the FFB market for palm oil leads to an oligopoly market which seen from the market share value, concentration ratio, Herfindahl index, and market entry barriers from each marketing agency, showed values that are not too different. Market performance in each marketing channel showed that the largest margin, farmers\u27 share, and profit are in marketing channel 2
Dampak Moratorium Kapal Penangkap Ikan Asing Terhadap Kesejahteraan Nelayan di Indonesia
Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia pada periode pertama Pemerintahan Joko Widodo, Susi Pudjiastuti, membuat terobosan kebijakan perikanan tangkap, yaitu moratorium kapal asing. Kebijakan ini membuat seluruh kapal asing tidak dapat menangkap ikan di perairan Indonesia. Kapal asing yang kedapatan menangkap ikan di perairan Indonesia ditangkap, disita, dan ditenggelamkan. Pemerintah Indonesia mengklaim moratorium kapal asing mampu meningkatkan pendapatan nelayan Indonesia dan mempermudah nelayan Indonesia dalam menangkap ikan. Penelitian ini bertujuan menguji klaim manfaat moratorium kapal asing terhadap rumah tangga nelayan Indonesia. Data Survei Ekonomi Nasional (Susenas) menjadi data utama penelitian ini. Data Susenas diolah sehingga menampilkan data pada tingkat kabupaten atau kota di Indonesia. Data ini kemudian digabungkan dengan data Potensi Desa dan data produksi perikanan tangkap yang dikeluarkan oleh KKP. Penggabungan data bertujuan untuk menentukan kabupaten atau kota kontrol dan perlakuan. Data lalu diolah dan dianalisa menggunakan metode Difference in Difference (DiD). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa moratorium kapal asing menurunkan pengeluaran per kapita rumah tangga nelayan sebesar Rp 80.988,25. Di sisi lain, moratorium kapal asing membuat durasi bekerja nelayan bertambah sebesar 39 hingga 40 menit per hari (asumsi enam hari kerja). Temuan tersebut menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan Indonesia belum mendapatkan manfaat dari moratorium kapal asing. Oleh karena itu, kebijakan ini perlu didukung oleh kebijakan lainnya sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia.Indonesia’s Minister of Marine Affairs and Fisheries on Joko Widodo first period, Susi Pudjiastuti, made a breakthrough on fisheries policy, named foreign fishing vessel moratorium. This policy prohibits foreign fishing vessel to catch fish on Indonesia seas. Foreign fishing vessel which founded catching fish in Indonesia seas will be caught, confiscated, and sinked. Indonesia Government claimed foreign vessel moratorium increase Indonesian fishery household’s earnings and made Indonesian fishermen easier to catch fish than before. The purpose of this study is to examine foreign vessel moratorium’s benefit claims on Indonesian fishery households. National Economic Survey, Survei Ekonomi Nasional (Susenas), used as primary data in this study. Susenas data processed, so that it displays data at the district or city level in Indonesia. After that, Susenas data comibined with village potention and fisheries production data, which published by Ministry of Marine Affairs and Fisheries in Indonesia. The purpose of combining datas was to choose control and treatment district. Furthermore, this data processsed and analyzed by Difference in Difference (DiD) method. The results of this study showed that Indonesian fishery households’ per capita expenditure drops Rp 80.988,25 because of foreign vessel moratorium. In the other hand, Indonesian fishery household’s work duration rise 39-40 minutes per day (assumption six workdays per week). These results showed that Indonesian fishery household didn’t get the benefit from foreign vessel moratorium. Hence, the other policy is needed to increase Indonesian fishery households’ prosperity
Hubungan Budaya Bugis Terhadap Akses Finansial dan Pelatihan Pada Perempuan Wirausaha di Sulawesi Selatan
Budaya lokal diduga berhubungan dengan perempuan wirausaha, termasuk dalam kegiatan akses ke keuangan dan pelatihan. Bugis merupakan etnis asal Indonesia yang memiliki nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan kewirausahaan perempuan. Penelitian ini bertujuan (1) menjelaskan karakteristik perempuan wirausaha dan nilai-nilai budaya Bugis: reso (kerja keras), macca (cerdas dan terampil), passibijaang (kekeluargaan), dan barani (keberanian mengambil risiko) pada perempuan wirausaha; dan (2) mengukur hubungan antara nilai budaya Bugis (reso, macca, passibijaang, dan barani) dengan akses finansial dan pelatihan. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui survei online dan survei dengan wawancara tatap muka. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan jumlah sampel sebanyak 205 responden. Data dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan korelasi rank pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) budaya reso dan macca pada perempuan wirausaha cenderung tinggi, sedangkan budaya passibijaang dan barani pada perempuan wirausaha cenderung menengah; (2) Budaya macca dan barani berhubungan positif dengan akses finansial. Budaya macca memiliki tingkat hubungan yang sangat lemah dengan akses finansial, sedangkan budaya barani memiliki tingkat hubungan yang cukup kuat dengan akses finansial. Budaya passibijaang berhubungan positif dengan akses pelatihan, dengan tingkat hubungan terkategorikan lemah. Saran penelitian yaitu dilakukannya pembentukan komunitas guna mewadahi perempuan wirausaha pedesaan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berwirausaha.Local culture is expected to be related to women entrepreneurs, including access to finance and training activities. Bugis is one of the Indonesian ethnicities that have cultural values related to women\u27s entrepreneurship. This paper aims to: (1) explain the characteristics of women entrepreneurs and Bugis cultural values: reso (hard work), macca (smart and skilled), passibijaang (kinship), and barani (courage to take risks) in women entrepreneurs; and (2) measure the correlations between Bugis cultural values (reso, macca, passibijaang, and barani) and access to finance and training. Primary data were obtained from online surveys and surveys by face-to-face interviews. The sampling technique used simple random sampling with a sample size of 205 respondents. The data were analyzed using descriptive statistics and correlation with Person\u27s rank. The results show that (1) The reso and macca cultures of entrepreneurial women tend to be high, while the passibijaang and barani cultures of women entrepreneurs tend to be medium; (2) Macca and barani cultures are positively correlated with access to finance. Macca culture is weakly correlated with financial access, while Barani culture is pretty strongly correlated with access to finance. Passibijaang culture is weakly positively correlated with access to training. The paper recommends establishing a community that helps rural women entrepreneurs enhance entrepreneurship knowledge and skills