Jurnal Agribisnis Indonesia
Not a member yet
228 research outputs found
Sort by
ANALISIS USAHATANI SALAK DAN PENGARUHNYA TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI DI KABUPATEN MAGELANG
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis usahatani salak di Kabupaten Magelang, termasuk biaya operasional, pendapatan, kontribusi terhadap rumah tangga, dan tingkat kemerataan pendapatan petani salak. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan lokasi penelitian di Kabupaten Magelang yang merupakan produsen salak terbesar kedua setelah Kabupaten Banjarnegara, dengan produksi mencapai 597.283 kuintal per tahun. Tiga kecamatan yang dipilih adalah Srumbung, Salam, dan Kajoran, yang memiliki produksi salak yang tinggi di Kabupaten Magelang. Sampel terdiri dari 60 petani salak yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani salak memiliki nilai NPV sebesar Rp89.504.294,00, ROI sebesar 8%, Gross B/C sebesar 2,80, dan Net B/C sebesar 6,85. Keempat indikator ini menunjukkan bahwa usahatani salak layak untuk diusahakan. Rata-rata pendapatan usahatani salak adalah sebesar Rp52.550.489,00/Ha/tahun. Kontribusi pendapatan usahatani salak terhadap pendapatan rumah tangga mencapai 71,88%, menunjukkan kontribusi yang tinggi. Tingkat kemerataan jumlah tanaman menghasilkan selaras dengan pendapatan usahatani salak dengan indeks gini 0,33 yang menunjukkan kemerataan tinggi, pendapatan rumah tangga petani ada pada nilai 0,28 yang menunjukkan kemerataan tinggi, sedangkan indeks gini pendapatan rumah tangga petani tanpa usahatani salak menunjukkan kemerataan rendah dengan indeks gini 0,68. Berdasarkan hal tersbut menunjukkan tingkat pendapatan yang diperoleh petani salak di Kabupaten Magelang diikuti dengan kemerataan pendapatan. Factors such as operational costs, income, family contributions, and income distribution among salak farmers in Magelang Regency are the focus of this study. Based on an annual production of 597,283 quintals, Magelang Regency is the second largest producer of salak in Indonesia, after Banjarnegara Regency. This study aims to find out the amount of farming costs and farmers\u27 income from salak farming, to find out the contribution of salak farming to household income, and to find out the distribution of household income of salak farmers in Magelang Regency. This study uses a quantitative descriptive approach. Srumbung, Salam, and Kajoran were chosen to be the three sub-districts because of the high salak production in Magelang Regency. Sixty salak farmers were randomly selected to be used as a sample. Data collection was carried out by conducting observations and interviews with salak farmers. The data analysis used was the analysis of the income of salak farmers, and the Gini coefficient. Based on the findings of the research, salak farming is financially feasible with an NPV of Rp89.504.294, an ROI of 8%, a Gross B/C of 2.80, and a Net B/C of 6.85. The results of these ratios show that salak farming is feasible. An annual income of Rp. 52,550,489.00 per hectare is a characteristic of salak farming. The contribution of salak farming income to household income reached 71.88%, showing a high contribution. The level of equality in the number of crops produced is in line with the income of salak farming with a Gini index of 0.33 which indicates high equity, the income of farmer households is at 0.28 which indicates high equity, while the Gini index of farmer household income without salak farming shows low equality with a Gini index of 0.68. Based on this, it shows that salak farming is declared feasible to be cultivated and shows that the level of income obtained by salak farmers in Magelang Regency is followed by income equality
Pengaruh Persepsi Petani dan Peran Pendamping Terhadap Digitalisasi Pertanian Durian di Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi petani dan peran pendamping terhadap digitalisasi pertanian durian di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis SEM-PLS (Structural Equation Modeling - Partial Least Squares) untuk menguji hubungan antar variabel laten. Responden yang digunakan dalam penelitian ini sejumlah 85 Responden petani durian di Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi petani memiliki pengaruh signifikan terhadap adopsi digitalisasi pertanian, sementara peran pendamping tidak memiliki pengaruh langsung terhadap digitalisasi pertanian, tetapi secara signifikan memengaruhi persepsi petani. Dengan demikian, pendampingan yang efektif dapat membentuk persepsi positif petani terhadap teknologi digital, yang pada akhirnya meningkatkan adopsi teknologi tersebut. Penelitian ini menyarankan agar program penyuluhan dan pelatihan teknologi digital bagi petani diperkuat untuk mempercepat proses digitalisasi di sektor pertanian.Agricultural digitalization is an innovative solution to face challenges in increasing the efficiency and productivity of the agribusiness sector. This process includes the use of information technology, such as the Internet of Things (IoT), data-based applications, and drones, to help durian farmers increase crop yields, reduce human error, and provide more accurate predictions regarding weather and durian crop conditions. This research aims to analyze the influence of farmers\u27 perceptions and the role of assistants on the digitalization of durian farming in Wonosalam District, Jombang Regency. The research method used is a quantitative approach with the SEM-PLS analysis tool to test the relationship between latent variables. The respondents used in this research were 85 durian farmers in Wonosalam District. The research results show that durian farmers\u27 perceptions have a significant influence on the adoption of agricultural digitalization. Meanwhile, the role of companions does not have a direct influence on digitalization, but significantly influences the perceptions of durian farmers. This confirms that effective mentoring can shape farmers\u27 positive perceptions of digital technology, which ultimately increases adoption of the technology. Therefore, this research recommends that digital technology education and training programs for farmers be strengthened, with the aim of accelerating the agricultural digitalization process. It is hoped that these findings can provide input for policy makers in developing technology development strategies in the agricultural sector, especially durian commodities
Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kinerja Usaha Di UMKM Kota Depok:
Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh strategi bisnis dan pemanfaatan teknologi terhadap kinerja usaha dengan keberlanjutan usaha sebagai intervening variable di UMKM Kota Depok. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari penyebaran kuesioner secara langsung. Data dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM) Lisrel. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah para pelaku usaha UMKM di Kota Depok. Jumlah sampel diambil sebanyak 110 responden berdasarkan perhitungan teknik penyederhanaan model LVS (laten variabel skor). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh langsung baik untuk strategi bisnis tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha dan pemanfaatan teknologi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha, sedangkan untuk pengaruh tidak langsung keduanya signifikan yaitu untuk strategi bisnis berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha melalui keberlanjutan usaha dan pemanfaatan teknologi berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha melalui keberlanjutan usaha, dan keberlanjutan usaha terbukti berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha. Penelitian ini memberikan gambaran implikasi manajerial berupa rekomendasi dan strategi untuk keberlanjutan usaha UMKM yang akan berdampak pada peningkatan kinerja UMKM di Indonesia.This study aims to examine and analyze the effect of business strategy and technology utilization on business performance with business sustainability an intervening variable in Depok City SMEs. This type of research is quantitative, using primary data obtained from distributing questionnaires directly. Data analyzed with Structural Equation Modeling (SEM) Lisrel. The data collection technique in this study is purposive sampling. The population in this study of SMEs entrepreneurs in Depok City. The number of samples taken was 110 respondents based on the calculation of the LVS model simplification technique Leave Variable Score The results of the study show that there is no direct effect either for business strategy, it does not have a significant effect on business performance and the use of technology does not have a significant effect on business performance. The indirect influence of these two variables is significant, namely that business strategy has a significant effect on business performance through business sustainability. The use of technology also has a significant effect on business performance through business sustainability, and business sustainability has been proven to have a significant effect on business performance. This research provides an overview of managerial implications in the form of recommendations and strategies for the sustainability of MSME businesses which will have an impact on improving the performance of MSMEs in Indonesia
PENDAPATAN USAHATANI UBI KAYU BERDASARKAN SALURAN PEMASARAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA
Produksi ubi kayu yang tinggi berkontribusi pada pendapatan masyarkat di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Akan tetapi, usahatani ubi kayu menghadapi tantangan, seperti tingginya harga pupuk dan fluktuasi harga jual ubi kayu di tingkat petani. Petani di Kabupaten Gunungkidul memiliki dua alternatif saluran pemasaran (sebagai pembeli ubi kayu) yaitu melalui pedagang pengumpul dan melalui pengolah pangan. Masing-masing saluran pemasaran tersebut membeli ubi kayu petani dengan harga dan kriteria kualitas yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antara pendapatan usahatani ubi kayu yang menjual ke pengolah pangan dan yang menjual ke pedagang pengumpul di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini menggunakan metode analisis pendapatan usahatani dan R/C ratio untuk menganalisis pendapatan usahatani ubi kayu dan uji beda (independent sample t test) untuk mempelajari perbedaan antara pendapatan usahatani yang menjual ubi kayu ke pengolah pangan (dengan kualitas tertentu) dan menjual ke pedagang pengumpul (tanpa kualitas tertentu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan usahatani ubi kayu petani yang menjual ke pengolah pangan lebih tinggi dari pada petani yang menjual ke pedagang pengumpul berdasarkan biaya tunai maupun non tunai. Penelitian ini menemukan bahwa pupuk menjadi salah satu komponen biaya usahatani yang tinggi. Oleh karena itu, pemerintah disarankan untuk membantu petani mendapatkan akses ke pupuk bersubsidi yang disertai dengan pendampingan penggunaan pupuk tepat dosis, sehingga biaya usahatani bisa lebih rendah.Cassava farms in Gunungkidul Yogyakarta face two marketing channel choices: through food processors (marketing channel 1) and intermediaries (marketing channel 2). Each channel requires different cassava quality and offers different prices. This paper compared cassava farm incomes through marketing channels 1 and 2 using the R/C ratio and independent sample t-test. A survey was conducted to interview 26 cassava farms through marketing channel 1 and 45 cassava farms through marketing channel 2. The results demonstrate that cassava farm incomes through marketing channel 1 are greater than farm incomes through marketing channel 2. Fertilizer costs significantly contribute to a total farm cost. This paper suggests that farmers improve their cassava quality and facilitate them to engage with food processors that offer high prices. Farmers must be encouraged to use fertilizers at the right dosage to reduce farm costs
Pola dan Persepsi Petani Kopi Terhadap Kemitraan di Kabupaten Dairi
Kabupaten Dairi merupakan salah satu penghasil utama kopi di Sumatera Utara. Sebagian besar petani kopi di Kabupaten Dairi menjalin kemitraan dengan perusahaan PT. Wahana Graha Makmur (WGM). Namun, pelaksanaan kemitraan belum berjalan dengan baik. Perusahaan belum pernah menerima hasil panen dari petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme pola kemitraan yang telah terjalin dan bagaimana persepsi petani mitra terhadap kemitraan di Kabupaten Dairi. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni – Desember 2023 di Kecamatan Sumbul, Parbuluan dan Sitinjo. Responden dalam penelitian ini sebanyak 90 orang mitra koperasi Cimata Makmur dan 70 orang mitra Gereja Katolik MPOK. Pola kemitraan dianalisis dengan analisis deskriptif dan persepsi petani dengan skala likert. Terdapat tujuh indikator yang digunakan dalam analisis persepsi yaitu keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, komunikasi, kerjasama, kepercayaan dan komitmen. Uji Mann Whitney juga dilakukan untuk melihat perbedaan persepsi petani mitra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua jenis pola kemitraan yang terjadi antara petani kopi dengan PT. WGM. Pola kemitraan petani mitra koperasi Cimata Makmur adalah pola kemitraan adalah pola kemitraan multipartite dan pola kemitraan petani mitra gereja adalah pola kemitraan inti plasma. Penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi antara petani mitra koperasi dengan mitra gereja. Temuan ini memberikan informasi yang berguna bagi perusahaan sebagai bahan perbaikan kemitraan. Persepsi petani dapat ditingkatkan dengan manajemen komunikasi yang baik untuk mengurangi kekurangan informasi di antara petani mitra.Dairi Regency is one of the leading coffee producers in North Sumatra. Most of the coffee farmers in Dairi Regency are engaged in contract farming (CF) with the company PT. Wahana Graha Makmur (WGM). However, the implementation of CF could have been better. This research aims to analyze the mechanisms of established CF patterns and to find out how partner farmers perceive CF in Dairi Region. The survey was conducted from June to December 2023 in Sumbul, Parbuluan and Sitinjo Districts. Respondents were 90 partners of the Cimata Makmur cooperative and 70 partners of the MPOK Catholic Church. CF patterns were analyzed using descriptive analysis, and farmer perceptions were analyzed using a Likert scale. Seven indicators were used in perception analysis: relative advantage, suitability, complexity, communication, cooperation, trust and commitment. The Mann-Whitney test was also conducted to determine differences in the perceptions of partner farmers. The results show that the CF pattern between cooperative partner farmers is a multiparty model, and the partnership pattern between church partner farmers is an intermediate model. Research also shows differences in perceptions between cooperative partner farmers and church partners. These findings provide useful information for companies as a basis for improving partnerships. Farmers\u27 perceptions can be improved with good communication management to reduce the lack of information among partner farmers
Pengaruh Perilaku Kewirausahaan Terhadap Kinerja Usahatani Kopi Organik di Kabupaten Sumbawa
Kopi merupakan komoditas perkebunan yang penting bagi perekonomian Indonesia. Permintaan pasar menjadi peluang untuk meningkatkan kinerja usahatani kopi, khususnya kopi organik. Keberhasilan dalam berusahatani didorong oleh faktor individu dan lingkungan seperti kompetensi petani, teknik budidaya, sarana dan prasarana, serta penanganan pasca panen. Keberhasilan petani diantaranya dipengaruhi oleh faktor internal yaitu perilaku kewirausahaan.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik individu, menganalisis faktor individu dan lingkungan terhadap perilaku kewirausahaan, serta pengaruh perilaku kewirausahaan terhadap kinerja usahatani kopi organik. Pengambilan responden menggunakan metode sensus sebanya 180 petani. Analisis data menggunakan SmartPLS 3.0. Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik usia petani yaitu 45–56 tahun dengan pengalaman yang cukup lama. Mayoritas petani lulusan SD, luas lahan seluas 0-1 hektar. Faktor individu dan lingkungan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku kewirausahaan, indikator yang paling dominan adalah skala usahatani dan persepsi. Indikator yang paling dominan pada faktor lingkungan adalah ketersediaan bahan input dan kekompakan antar petani. Perilaku kewirausahaan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usahatani dengan indikator yang paling dominan adalah tekun berusahatani dan berani mengambil risiko. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku kewirausahaan dapat meningkatkan kinerja usahatani kopi organik. Dalam mengoptimalkan perilaku kewirausaan petani kopi organik dapat dilakukan dengan meningkatkan kapasitas petani, serta dukungan pemerintah berupa sarana dan prasarana kepada petani dalam mendukung kegiatan usahatani.Coffee is an important plantation commodity for Indonesian economy. Market demand is an opportunity to improve the performance of coffee farming, especially organic coffee. Success in farming is driven by individual and environmental factors such as farmer competency, cultivation techniques, facilities and infrastructure, and post-harvest handling. Farmer’s\u27 success is influenced by internal factors, That is entrepreneurial behavior. This research aims to identify individual characteristics, analyze individual and environmental factors on entrepreneurial behavior, as well as the influence of entrepreneurial behavior on the performance of organic coffee farming. The number of respondents taken using the census method was 180 farmers. Data analysis using SmartPLS 3.0. The research results show that the age characteristics of farmers are 45–56 years with quite a long experience. Most of the farmers are elementary school graduates, and the owning of land area is 0-1 hectare. Individual and environmental factors have a positive and significant influence on entrepreneurial behavior, the most dominant indicators are farming scale and perception. The most dominant indicators of environmental factors are the availability of input materials and solidarity between farmers. Entrepreneurial behavior also has a positive and significant effect on farming performance with the most dominant indicators being diligent farming and the courage to take risks. This shows that entrepreneurial behavior can improve the performance of organic coffee farming. Optimizing the entrepreneurial behavior of organic coffee farmers can be done by increasing farmer capacity, as well as government support in cilities and infrastructure for farmers to support farming activities
Keputusan Pembelian dan Kepuasan Konsumen Jeruk Lokal Rimau Gerga Lebong di Pulau Sumatera
Jeruk rimau gerga lebong (selanjutnya disebut jeruk gerga) merupakan varietas jeruk lokal khas Provinsi Bengkulu yang saat ini dikembangkan sebagai komoditias unggulan nasional. Dalam mengembangkan jeruk lokal tersebut, penting untuk memahami perilaku konsumen jeruk tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis proses keputusan pembelian dan kepuasan konsumen terhadap jeruk gerga. Penelitian ini menggunakan data primer dari survei daring terhadap 200 responden di provinsi Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Jambi pada bulan April sampai Mei 2022. Data dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif, customer satisfication index (CSI), dan importance performance analysis (IPA). Pada analisis CSI dan IPA, penelitian ini menggunakan delapan atribut jeruk yaitu rasa, kandungan air, kesegaran, warna, ukuran, harga, promosi, dan ketersediaan produk. Hasil penelitian berkaitan proses pengambilan keputusan pembelian menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen membeli jeruk gerga dengan alasan manfaat dari kandungan vitamin C jeruk gerga, mendapatkan informasi dari pengalaman pembelian sebelumnya, mempertimbangkan atribut rasa dalam evaluasi sebelum pembelian, memutuskan membeli jeruk gerga karena faktor situasional, dan menyatakan puas dan bersedia melakukan pembelian ulang pasca pembelian. Berdasarkan analisis CSI, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan konsumen terhadap pembelian dan konsumsi jeruk gerga termasuk kategori puas. Berdasarkan analisis IPA, hasil penelitian menunjukkan bahwa atribut jeruk rimau gerga lebong yang perlu diperbaiki adalah ketersediaan buah. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi para pemulia atau penangkar buah dalam mengembangkan varietas jeruk gerga sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen dan bagi pemasar menyusun strategi pemasaran jeruk gerga dengan lebih tepat.Rimau gerga lebong orange (hereafter referred to as gerga orange) is a local orange variety of Bengkulu Province which is currently developed as a national superior commodity. It is important to understand the consumer behaviour to developing this local orange. The purpose of this study is to analyze the purchasing decision process and consumer satisfaction with gerga orange. This study uses primary data from an online survey of 200 respondents taken deliberately in Bengkulu, South Sumatra, and Jambi provinces in April and May 2022. Data were analyzed using descriptive methods, customer satisfaction index (CSI), and importance-performance analysis (IPA). In CSI and IPA analyses, this study uses eight attributes of oranges: taste, juicyness, freshness, colour, size, price, promotion, and product availability. The results of the purchase decision showed that most consumers buy gerga oranges because the benefits of vitamin C that contain in gerga oranges, obtain information from previous purchasing experiences, consider taste attributes in the pre-purchase evaluation, decide to buy gerga oranges due to situational factors, and express satisfaction and are willing to repurchase gerga oranges. Based on CSI analysis, the results showed that the level of consumer satisfied with the purchase and consumption of gerga oranges. Based on IPA analysis, the attribute of gerga lebong rimau oranges that needed improvement was fruit availability. The results of this study can provide benefits to breeders or fruit growers in developing varieties of gerga oranges according to consumer needs and preferences and for marketers to develop marketing strategies for gerga oranges more precisely
Identifikasi Risiko Produksi dan Pemasaran Produk LTI (Light Trap Insect) di CV Joglo Nusantara
CV. Joglo Nusantara is a business in the agriculture sector that produces agricultural technology tools. One of the products made by CV Joglo is LTI (Light Trap Insect). LTI functions as an alternative deterrent to pest attacks on rice fields. Nevertheless, CV Joglo has a risk in production operations because the machine was damaged and needs to wait for the machine to be repaired. In addition, there is a marketing risk due to promotional obstacles in online media through the pre-order system. This research aimed to determine production and marketing risks and provide risk mitigation for the highest risks in CV. Joglo Nusantara. This research used fishbone diagram analysis tools and FMEA (Failure Model and Effecct Analysis). The results showed four production risk indicators: human resource risk, raw materials, equipment/machinery, and process. The results of marketing risk are two indicators in the form of market risk and promotion. Risk mitigation activities in CV. Joglo Nusantara on priority risks, namely production risks, by checking LTI equipment production machines, selecting raw materials that get quality standards, improving communication with fellow workers, and mitigating marketing risks by guiding CV owners on how to promote LTI technology tools by implementing a pre-order system to online media such as Instagram, Facebook, and WhatsApp by posting photos and videos of LTI.CV. Joglo Nusantara merupakan usaha yang bergerak dalam bidang pertanian serta tempat memproduksi alat teknologi pertanian Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk. Permasalahan penelitian ini pada risiko produksi yaitu produksi tidak dilakukan setiap hari dikarenakan mesin produksi mengalami kerusakan dan menunggu mesin selesai perbaikan, dan pemasaran yaitu kurang maksimal disebabkan karena terkendala promosi pada media online dengan melalui sistem pre order. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko produksi dan pemasaran serta memberikan mitigasi risiko terhadap risiko yang paling tinggi pada CV. Joglo Nusantara. Penelitian ini menggunakan alat analisis diagram fishbone dan FMEA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat indikator risiko produksi meliputi risiko SDM, bahan baku, peralatan/mesin, dan proses. Risiko yang tinggi yaitu terjadi kesalahan dalam perakitan dengan kategori sedang, sedangkan kategori rendah yaitu kurang bahan baku. Hasil dari risiko pemasaran terdapat dua indikator berupa risiko pasar, dan promosi. Terdapat risiko paling tinggi nilai RPN yaitu risiko kurang update promosi. Kegiatan mitigasi risiko pada CV. Joglo Nusantara pada risiko prioritas yaitu pada risiko produksi berupa melakukan pengecekan terhadap mesin produksi alat LTI, melakukan pemilihan bahan baku yang memenuhi standar kualitas, meningkatkan komunikasi terhadap sesama tenaga kerja, memberikan arahan terhadap tenaga kerja agar hati-hati dalam bekerja, dan menerapkan kedisiplinan dalam jadwal perawatan mesin produksi. Sedangkan risiko pemasaran berupa melakukan bimbingan terhadap pemilik CV tentang bagaimana mempromosikan alat teknologi LTI dengan menerapkan sistem pre order ke media online seperti Instagram, facebook, dan whatsapp dengan memosting foto maupun video alat teknologi LTI
Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Merah di Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang
Red cayenne pepper is a horticultural commodity that is a priority for the government\u27s development at this time because it has a high economic value and has the potential to be developed. In March 2023 there was a volcanic ash eruption of Mount Merapi which had an impact on reducing the productivity and quality of red cayenne pepper. Sumberejo Village is one of the areas in Ngablak Subdistrict that conducts red bird\u27s eye chili farming and is affected by the volcanic eruption. This research intends to evaluate chili farming after the eruption of Mount Merapi, which had a negative impact. Thus, this study aims to analyze the revenue, costs, and income, as well as the feasibility of cayenne pepper farming in Sumberejo Village, Ngablak sub-district, Magelang District. The type of research used is Descriptive quantitative. The sampling technique was done by purposive sampling with a total sample of 17 respondents. Data collection was done by interview. Data analysis techniques used are revenue analysis, costs, income, R / C Ratio, B / C Ratio, production BEP and price BEP. The results showed that cayenne pepper farming in Sumberejo Village provided revenue of Rp 93,471,342, -/ha/season, total costs of Rp 56,986,742, -/ha/season with the largest cost being fertilizer costs (27.47%), and income of Rp 36,484,600, -/ha/season. The feasibility of farming based on R/C Ratio is 1.64, B/C Ratio is 0.64, while the production BEP is 2,750.9 kg/ha and the price BEP value is Rp 10,130/kg. Based on the results of the study, it is concluded that despite being affected by the Merapi volcanic eruption, red bird\u27s eye chili farming in Sumberejo Village still provides positive income and feasible to cultivate.Cabai rawit merah merupakan komoditas hortikultura yang menjadi prioritas pengembangan pemerintah saat ini karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan. Pada bulan Maret 2023 terjadi erupsi abu vulkanik Gunung Merapi yang berdampak pada penurunan produktivitas dan kualitas cabai rawit merah. Desa Sumberejo merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Ngablak yang melakukan usahatani cabai rawit merah dan terdampak erupsi vulkanik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerimaan, biaya, pendapatan, dan kelayakan usahatani cabai rawit merah di Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Teknik penentuan sampel dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 17 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis penerimaan, biaya, pendapatan, R/C Ratio, B/C Ratio, BEP produksi dan BEP harga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani cabai rawit di Desa Sumberejo memberikan penerimaan sebesar Rp 93.471.342,-/ha/musim tanam, total biaya sebesar Rp 56.986.742,-/ha/musim tanam dengan biaya terbesar adalah biaya pupuk (27,47%), dan pendapatan sebesar Rp 36.484.600,-/ha/musim tanam. Kelayakan usahatani berdasarkan R/C Ratio sebesar 1,64, B/C Ratio sebesar 0,64, sedangkan BEP produksi sebesar 2.750,9 kg/ha dan nilai BEP harga sebesar Rp 10.130,-/kg. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disimpulkan meskipun terkena erupsi vulkanik Merapi, usahatani cabai rawit merah di Desa Sumberejo masih memberikan pendapatan positif dan layak diusahakan
Preferensi Konsumen Terhadap Atribut Eksternal Produk Beras Organik di Yogyakarta
Yogyakarta Special Region Province is the region displayed by Google Trends for the highest searches for the word “organic rice” on the period June 2019 – May 2020. Consumer preferences are very important because they are closely related to increased consumption. Organic rice business actors need to know the purchasing decision process and consumer preferences scientifically in determining the right marketing strategy and can be competitive in the market. Therefore, the purpose of this study is to analyze the purchasing decision process and the combination of organic rice attributes that are in accordance with the preferences of organic rice consumers in Yogyakarta. This study has a sample size of 111 respondents domiciled in Yogyakarta. The sampling method was carried out by purposive sampling. The analysis methods used are descriptive analysis and conjoint analysis. The results of the study show that the combination of organic rice attributes that are in accordance with the preferences of organic rice consumers in Yogyakarta is organic rice with an organic certificate with a utility value of 0.298; white with a utility value of 0.615; soft claims with a utility value of 0.157; and vacuum-packed with a utility value of 0.167. Future suggestions are given to farmers, agricultural extension workers, and organic rice entrepreneurs to have integrity with each other to develop the organic rice business.Indonesia termasuk dalam negara yang didorong oleh peningkatan daya belinya terhadap makanan organik sebesar 15 – 20 persen. Daerah Istimewa Yogkarta merupakan daerah yang ditampilkan Google Trends sebagai wilayah tertinggi untuk pencarian kata “organic rice” pada periode Juni 2019 – Mei 2020. Setiap produk beras organik memiliki atribut – atribut eksternal yang dapat langsung diamati oleh konsumen seperti logo sertifikat, varian beras, klaim pulen, dan kemasan. Kombinasi atribut yang sesuai dengan preferensi konsumen akan memberikan strategi pemasaran yang tepat bagi pelaku usaha beras organik untuk berdaya saing di pasar. Jadi, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganaliasis proses keputusan pembelian dan kombinasi atribut beras organik yang sesuai dengan preferensi konsumen beras organik di Yogyakarta. Penelitian ini memiliki jumlah sampel sebanyak 111 responden yang berdomisili di Yogyakarta. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi atribut beras organik yang sesuai dengan preferensi konsumen beras organik di Yogyakarta adalah beras organik dengan sertifikat organik, berwarna putih, pulen, dan kemasan vakum