Jurnal Studi Al-Qur'an
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Tafsir Ayat-Ayat Teologis dalam al-Muharrar al-Wajiz: Studi Kritis Atas Tuduhan I’tizal terhadap Ibnu Athiyyah
This paper discusses the Ibn Athiyyah positions towards the concept of Muktazilah theology in his exegesis al-Muharrar al-Wajiz. Although Ibn Athiyyah is an interpreter who has Asy'ariyah school of thought, some scholars such as Ibn Taimiyyah (d. 728), Ahmad bin Hajar al-Haitami (d. 973) and Ibn 'Arafah (d. 803 H) have stated that Ibn Athiyyah interpretation has included the concept of Muktazilah theology. More over, al-Haitami also quoted Ibn 'Arafah's comment that the interpretation of Ibn Athiyyah was more worrying for beginner students than al-Kasysyaf, because al-Zamakhsyari, the author of al-Kasysyaf, was already known as a Mu’tazili, different with Ibn Athiyyah. This research is a type of qualitative research with a library research approach. By using a descriptive analysis, this paper explores Ibn Athiyyah‘s interpretation of the verses which are the evidence for the concept of Muktazilah theology or what is often referred to as al-Ushul al-Khamsah. The results of this study shows that the accusation of i'tizal aimed to Ibn Athiyyah is not true, because his interpretation of theological verses shows that Ibn Athiyyah always approves and justifies the Ash'ariyyah opinions. More over, on several occasions Ibn Athiyyah has refuted the opinions and arguments that used Muktazilah to affirm their theological concept.Tulisan ini membahas tentang sikap Ibnu Athiyyah terhadap konsep teologi Muktazilah dalam tafsirnya al-Muharrar al-Wajiz. Meskipun Ibn Athiyyah merupakan mufassir yang bermadzhab Asy’ariyah, namun beberapa ulama seperti Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), Ahmad bin Hajar al-Haitami (w. 973 H) dan Ibnu ‘Arafah (w. 803 H) melontarkan pernyataan bahwa dalam tafsir Ibnu Athiyyah terdapat pemahaman Muktazilah. Bahkan, al-Haitami juga menukil komentar Ibnu ‘Arafah bahwa tafsir Ibn Athiyyah lebih mengkhawatirkan bagi pelajar pemula daripada al-Kasysyaf, karena al-Zamakhsyari penulis al-Kasysyaf sudah dikenal sebagai seorang yang bermadzhab Muktazilah, berbeda dengan Ibn Athiyyah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Dengan menggunakan metode deskriptif analisis, tulisan ini mengeksplorasi penafsiran Ibnu Athiyyah terhadap ayat-ayat yang menjadi dalil atas konsep teologi Muktazilah atau yang sering disebut dengan al-Ushul al-Khamsah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tuduhan i’tizal yang ditujukan pada Ibnu Athiyyah tidaklah benar, karena dalam penjelasan tafsirnya atas ayat-ayat teologis didapati bahwa Ibnu Athiyyah selalu menguatkan dan membenarkan pendapat Asy’ariyyah. Bahkan, dalam beberapa kesempatan Ibnu Athiyyah menyanggah pendapat-pendapat serta dalil-dalil yang digunakan Muktazilah untuk menguatkan konsep teologis mereka
Pentingnya Nilai Persatuan Perpektif Al-Quran Surah Al-Imran Ayat 103 dalam Mengatasi Pandemi Covid-19
The values and spirit of unity and the prohibition of division have long existed and are taught by Islam, as in Surah Al Imran verse 103. Based on the interpretation of Ibn Kasir, Al Misbah, and Al Qurtubi, it explains the importance of unity so that there is a "terrible" threat if it is violated. (enmity/ divorce). This indicates the importance of unity in life. Our scholars and founding fathers have also reminded us of the importance of unity. Departing from the importance of the value and spirit of unity, in the context of handling the spread of Covid-19, especially in Indonesia, the values and spirit of unity need to be instilled in every heart because the values and spirit of unity have long been taught and there are many examples of success due to the value of unity. This study focuses more on the study of interpretations (Ibn Kasir, Al Misbah, and Al Qurtubi) regarding surah Al Imran verse 103 and is associated with arguments and text texts that are relevant to the values of unity. Through the descriptive method, Surah Al Imran verse 103 emphasizes that the existing values of unity can be implemented in dealing with the Covid-19 pandemic, including framing unity in faith, unifying in the level of obedience, and uniting in warding off hoax & self-control.
Nilai-nilai dan semangat persatuan dan larangan perpecahan telah lama ada dan diajarkan oleh Islam, seperti dalam surah Al-Imran ayat 103. Berdasarkan tafsir Ibnu Kasir, Al Misbah dan Al Qurtubi, menjelaskan bagaimana pentingnya persatuan hingga ada ancaman yang “mengerikan” apabila hal tersebut dilanggar (permusuhan/ bercerai-berai). Hal tersebut mengindikasikan pentingnya persatuan dalam kehidupan. Para ulama dan founding father kita juga telah mengingatkan tentang betapa pentingnya persatuan. Berangkat dari pentingnya nilai dan semangat persatuan, dalam konteks penanganan merebaknya covid-19, khususnya di Indonesia, nilai nilai dan semangat persatuan perlu ditanamkan ke setiap sanubari karena nilai dan semangat persatuan tersebut telah lama diajarkan dan banyak contoh keberhasilan akibat nilai persatuan. Kajian ini lebih memfokuskan kepada kajian tafsir (Ibnu Kasir, Al Misbah, dan Al Qurtubi) tentang surah Al-Imran ayat 103 dan dikaitkan dengan dalil-dalil dan teks teks yang relevan dengan nilai-nilai persatuan. Melalui metode deskriptif, dalam surah Al Imran ayat 103 menegaskan bahwa nilai nila persatuan yang ada dapat diimplementasikan dalam dalam menangani pandemic covid-19, diantaranya membingkai persatuan dalam keimanan, bersatu dalam aras ketaatan, dan bersatu dalam menangkal hoax & pengendalian diri
Konsep Al-Qur’an tentang Kualitas Hidup Manusia sebagai Seorang Khalifah dan Maslahatnya terhadap Makhluk Lainnya
Rusmanto, Konsep Al-Qur’an tentang Kualitas Hidup Manusia sebagai Seorang Khalifah dan Maslahatnya terhadap Makhluk Lainnya, Tesis, Studi Qur’an/ Aqidah dan Filsafat Islam, Pascasarjana UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 2020.
Fokus penelitian ini adalah pada ayat-ayat alquran yang berbicara tentang Manusia Sebagai Seorang Khalifah di muka bumi ini, Selanjutnya akan menelaah ayat-ayat alquran tersebut tentang Maslahatnya atau kebaikan-kebaikan yang bisa ditimbulkan manusia ketika Allah sebutkan dia sebagai seorang khalifah terhadap Makhluk Lainnya yaitu alam semesta beserta isinya. Adapun tujuan dari penelitan ini adalah : 1). Untuk mengetahui Kualitas Manusia itu menurut Konsep Alquran. 2). Untuk mencari Kualitas Hidup Manusia Sebagai Seorang Khalifah menurut Konsep Alquran. 3). Untuk mendalami Maslahat Kualitas Hidup Manusia Sebagai Seorang Khalifah bagi Makhluk Lainnya Menurut Konsep Alquran.
Penelitian ini merupakan Riset Kepustakaan (Library Research) dengan menerapkan pengambilan data secara langsung melalui hasil bacaan, mengumpulkan data sebanyak mungkin, memperkaya analisis, mengumpulkan data-data akurat dan mengutip buku-buku yang sesuai dengan bahasan penelitian, serta mengidentifikasi data-data sesuai langkah-langkahnya, kemudian dilanjutkan dengan menganalisis data menggunakan metodologi metode tafsir tematik (Maudhu’i).
Penelitian ini menghasilkan tiga kesimpulan yaitu: 1). Kualitas Manusia menurut konsep Alquran diantaranya; Pertama, Kualitas Iman. Kedua, Kualitas Kecerdasan atau Intelegensi. Ketiga, Kualitas Emosi (Rasa). Keempat, Kualitas Budi dan Sosial. 2). Menurut konsep alquran, kualitas hidup manusia sebagai seorang khalifah yaitu memiliki kualitas hidup lebih dibandingkan manusia umumnya baik dari segi fisik maupun non fisik nya. 3). Maslahat Kualitas Hidup Manusia sebagai Seorang Khalifah bagi Makhluk Lainnya Menurut Konsep Alquran, yaitu dia akan membawa kebaikan, memberi manfaat, dan menjadi sebab terjadinya peningkatan kualitas hidup, pertambahan nilai menjadi sebab terpeliharanya nilai luhur.
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah menurut konsep alquran kualitas hidup manusia sebagai seorang khalifah yang diharapkan oleh Allah swt adalah mereka yang memiliki kualitas hidup lebih dibandingkan dengan manusia umumnya dari tiga indikator dalam diri manusia, yaitu dari otaknya, hatinya, dan amal sholehnya. Sehingga akan bisa menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi yang diharapkan oleh Allah SWT.
Kata Kunci : Konsep Alquran, Kualitas Hidup Manusia, Khalifah, Maslahat
Konsep Karakter Pluralis dalam Al-Qur’an dan Internalisasinya dalam Dunia Pendidikan
This article aims to explore the concept of pluralist character in the Quran and its internalization in the world of education. The method in this research uses a qualitative approach in the form of literature study to explore the concept of the Quran related to the Pluralist character. Also through observations, questionnaires and interviews to explore about its implementation at SD Kharisma Bangsa. Research findings show that the Quran directs Muslims to understand that diversity is a necessity; therefore it needs efforts to be able to respect each other among the existing differences; also able to be fair when working together. Internalization of Character Education at SD Kharisma Bangsa is carried out through SEL learning and also supported by exemplary and habituation.Artikel ini bertujuan untuk menggali konsep Karakter Pluralis dalam Quran dan Internalisasinya dalam dunia Pendidikan. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif berupa studi Pustaka untuk menggali tentang Kosep Quran terkait karakter Pluralis. Juga melalui observasi, angket dan wawancara untuk menggali tentang implementasinya di SD Kharisma Bangsa. Temuan Penelitian menunjukkan bahwa Quran mengarahkan umat Islam untuk bisa memahami bahwa keragaman adalah keniscayaan; karenanya perlu upaya untuk bisa saling menghormati diantara perbedaan yang ada; juga mampu bersikap adil saat bekerjasama. Internalisasi Pendidikan Karakter di SD Kharisma Bangsa dilakukan melalui pembelajaran SEL dan juga ditunjang dengan keteladanan dan pembiasaan
Tiga Tema Konsep Kebersyukuran dalam Perspektif Al-Qur’an: Sebuah Literatur Review
Abstract
A human being receives many blessings, but a few people who are considered as grateful human in the Qur'an are important things to study. There are few studies discussing gratefullness (shukr) in Indonesia. Mostly talking gratitude from social and individual perspectivem but lack of Islamic literacy, especially from the primary Islamic reference source, namely the Al-Qur'an, is the main objective of this research. The research method used is literature review study by analyzing the verses of gratitude in the Al-Qur'an with a thematic interpretation approach and Islamic science studies. The results of the study show that there are three major themes of the concept of gratitude contained in the Qur'an and supported by the interpretations of the scholars. The three major themes are (1). The command to be grateful in the perspective of the Al Quran, (2) the positive impact of gratitude contained in the Al Quran, and (3) the factors that cause gratitude described in the Al Quran. This result also explains that a grateful person must get the pleasure of Allah SWT, and he will avoid the torment of hellfire and get additional favours, both in this world and in the hereafter. So that someone can be grateful, it is advisable to look at people who are lower in rank, remember the blessings that Allah has given him, and ask Allah SWT to be given the strength to give thanks to Him.Banyak nikmat yang diterima oleh seorang manusia, namun sedikit manusia yang dianggap bersyukur di dalam Al-Qur’an menjadi hal penting untuk dikaji. Belum lagi, tidak sedikit penelitian yang membahas kebersyukuran di Indonesia, namun minimnya literasi keislaman terutama dari sumber referensi utama Islam, yaitu Al-Qur’an menjadi tujuan utama dalam penelitian ini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan menganalisis ayat-ayat kebersyukuran di dalam Al-Qur’an dengan pendekatan tafsir tematik dan studi ilmu keislaman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga tema besar konsep kebersyukuran yang tertuang dalam Al Quran dan didukung oleh tafsir para ulama. Ketiga tema besar tersebut adalah (1). Perintah untuk bersyukur dalam perspektif Al Quran, (2) dampak positif dari kebersyukuran yang tertuang dalam Al Quran, dan (3) factor-faktor penyebab kebersyukuran yang dijelaskan di dalam Al Quran. Hasil ini juga menjelaskan bahwa orang yang bersyukur pasti mendapatkan keridhaan Allah SWT, dan dia terhindar dari siksa api neraka, serta mendapatkan tambahan nikmat, baik di dunia maupun di akhirat. Agar seseorang bisa bersyukur, maka dianjurkan untuk melihat orang yang lebih rendah derajatnya, mengingat akan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, dan memohon kepada Allah SWT supaya diberi kekuatan untuk bisa bersyukur kepada-Nya
Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an dan Alkitab: Suatu Pendekatan Intertekstual Julia Kristeva
This article discusses the story of The Prophet Yusuf in the Qur'an. As the story is contained in the Qur'an and the Bible, from both books the story of Yusuf tells about four things. First, the story of Yusuf dreaming, Secondly, the tragedy of Yusuf being banished. Third, the story of Yusuf and Imara'ah Al-'aziz. Fourth, the story of Yusuf’s imprisonment. Therefore, this story becomes important to be examined more deeply aimed at finding the differences of the two scriptures about the story of yusuf. Therefore, the approach used is intertekstual initiated by Julia Kristeva who seeks to compare the two. Thus, this study found many differences, in terms of dominant in each fragment. The most basic difference between the two is in terms of the theme to be raised, the song of Joseph in the Qur'an themed on the teachings of Tawhid, while in the Bible themed on powerArtikel ini membahas mengenai kisah Nabi yusuf dalam al-Qur’an. Sebagaimana kisah tersebut termuat dalam al-Qur’an dan Alkitab, dari kedua kitab tersebut Kisah Nabi Yusuf menceritakan mengenai empat hal. pertama, kisah Yusuf bermimpi, kedua, tragedi Yusuf dibuang. Ketiga, kisah Yusuf dan Imara’ah Al-‘aziz. Keempat, kisah yusuf dipenjara. Maka dari itu Kisah ini menjadi penting untuk dikaji lebih dalam bertujuan menemukan letak perbedaan dari kedua kitab suci tersebut mengenai kisah Nabi Yusuf. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan adalah intertekstual yang digagas oleh Julia Kristeva yang berusaha untuk membandingkan keduanya. Dengan demikian, penelitian ini ditemukan banyak perbedaan, dari segi dominan dalam setiap fragmen. Perbedaan yang paling mendasar antara keduanya adalah dari segi tema yang hendak dimunculkan, kidah Nabi Yusuf dalam al-Qur’an bertemakan ajaran Tauhid, sedangkan dalam Alkitab bertemakan mengenai kekuasaan
 
Konsep Tasawuf Abdurrahman Al-Tha’alibi dalam Tafsir Al-Jawa>hir Al-H{isa>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n: Sufism Concepts of Abdurrahman Al-Tha'alibi in Tafsir Al-Jawa>hir Al-H{isa>n fi> Tafsi>r al-Qur’a>n
This article discusses some of the Sufism concepts, al-walayah, al-khalwah, al-dhikr, al-tafakkur and al-tawakkal according to Al-Tha'alibi, Muslim scholar from Algeria in the 8th and 9th centuries in Tafsi>r Al-Jawa>hir al-H{isa>n fi> Tafsi>r al-Qur'a>n. Using the descriptive-analytic method, this literature study found that Al-Tha'alibi in his tafsir in interpreting the verses was influenced by Sufi scholars who supported the Sunni Sufi concept, namely the Sufi way of life guided by al- Qur`an, Hadith, and the journey of life of the Companions and Salaf al-Ummah. As a Sufi and 'a>lim fi> al-di>n, Al-Tha'alibi certainly practiced the Sufi life patterns according to what he believed, namely the Sunni Sufi which was different from the Sufi understanding practiced by the majority of the Algerian population at that time which was considered to have come out of many demands Islam. It is caused by political, economic, and social conditions that are unstable and have a significant impact on the religious life of the Algerian population, especially in the understanding and practice of Sufism.
 
Tiga Golongan Penghafal Al-qur’an Dalam Surah Fatir Ayat 32 Perspektif Adi Hidayat
The purpose of writing this article is as a study that is very important to understand, especially for Qur'an memorizers. This article discusses the class of Qur'an memorizers contained in the al-Qur'an surah Fatir verse 32, especially according to Adi Hidayat. With his educational background and life since he was a child, he was educated to love Qur'an, the preaching he conveyed could not be separated from the study of memorizing the Qur'an. Qur'an memorizers are Allah's chosen people who have been given the gift to be closer to Qur'an and the mandate to protect it. The final result of this discussion is that Adi Hidayat states that in the Qur'an there are three groups of Qur'an memorizers, namely Dzalimun Li Nafsih, Muqtashid, and Sabiqun Bil Khairat. And the fact that at this time is that memorizing the Qur'an is more focused on the number of memorization and forgetting to understand and memorize the verses that are memorized, so that memorization does not benefit him. This study uses a type of media text research with a descriptive qualitative approach. Data collection techniques through observation and documentation.Tujuan penulisan artikel ini ialah sebagai suatu kajian yang sangat penting di pahami khususnya bagi para penghafal al-qur’an. Artikel ini membahas terkait golongan penghafal al-qur’an yang terdapat dalam al-qur’an surah Fatir ayat 32, khususnya menurut Adi Hidayat. Dengan latar pendidikan dan kehidupannya yang sejak kecil telah terdidik untuk mencintai al-qur’an, dakwah yang disampaikannya tak lepas dari kajian tentang penghafal al-qur’an. Penghafal al-qur’an adalah orang-orang pilihan Allah yang telah diberi anugerah untuk lebih dekat dengan al-qur’an dan amanah untuk menjaganya. Hasil akhir dari pembahasan ini ialah Adi Hidayat menyebutkan bahwa dalam al-qur’an terdapat tiga golongan penghafal al-qur’an, yakni Dzalimun Li Nafsih, Muqtashid, dan Sabiqun Bil Khairat. Dan Fakta yang pada masa ini ialah bahwa penghafal al-qur’an lebih terfokus dengan banyaknya hafalan dan lupa untuk memahami dan mentadabburi ayat yang dihafal, sehingga hafalan tersebut tidak membawa manfaat untuk dirinya. Kajian ini menggunakan jenis penelitian teks media dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriktif. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi