Jurnal Studi Al-Qur'an
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Lambang Penghambaan dan Penyucian dalam Al-Qur’an: Orientasi Waḥdah al-Wujūd Ibn ‘Arab dalam al-Futuḥāt al-Makkiyah
The complexity of the concept waḥdah al-wujūd in Ibn ‘Arabī understanding used in interpretation impacts the ignoring of his interpretation results leading to the essence of servitude and purification of God. The purpose of this study is the form of understanding that accentuates the meaning of the symbols depicted in verse. Tracing of Sufistic narratives in interpreting Ibn ‘Arabi was carried out in this study using qualitative methods with content analysis as a data analysis technique. The content analysis model analyzes the data by looking for conceptual relations in al-Futuḥāt al-Makkiyah by Ibn ‘Arabi about the Sufistic model of understanding. The semiotic theory of sacred texts aids this analysis process to see language phenomena in the scriptures presented through special symbols. This study found that the Sufistic interpretation of Ibn ‘Arabi is wrapped in symbolic form. The dressing of symbols in the process of understanding emphasizes the identification of Sufistic models with the diversion of meanings. This identity obscures Ibn ‘Arabī’s method of interpretation. The symbolic form is explained by analysis of the constitutional significance of the word writing and the function of his syntagmatic. The implications of this concept emphasize the relationship between God and servant (‘abd) implicit in each verse of the Qur’an. The result of the manifested interpretation underlines the totality of servitude and divinity, culminating in the level of the union of existence to God (waḥdah al-wujūd). Ibn ‘Arabī embodies the symbolic aspect represented in the Qur’an as a result of the decline of the language of God into the language of man.Kerumitan konsep waḥdah al-wujūd Ibn ‘Arabī yang digunakan dalam penafsiran berdampak pada pengabaian hasil interpretasi yang mengarah pada esensi penghambaan dan penyucian terhadap Tuhan. Bentuk penafsiran yang menonjolkan makna simbol yang tergambar dalam ayat menjadi tujuan dari penelitian ini. Penelusuran terhadap narasi sufistik dalam tafsir dilakukan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan content analysis sebagai teknik analisa data. Dengan model analisis konten, data yang telah diperoleh dianalisis dengan mencari hubungan konseptual tentang model penafsiran sufistik Ibn ‘Arabī. Proses analisis ini dibantu oleh teori semiotika teks sakral untuk melihat fenomena bahasa dalam kitab suci yang dihadirkan melalui simbol-simbol khusus. Penelitian ini menemukan bahwa konsep tematik yang digunakan Ibn ‘Arabī dalam penafsirannya yang dibalut dengan analisa simbolik. Balutan simbol dalam proses interpretasi menekankan pada identifikasi model sufistik dengan pemalingan makna. Identitas ini yang mengaburkan identifikasi atas metode tafsir Ibn ‘Arabī. Sedangkan wujud simboliknya dilakukan melalui penelusuran atas bentuk tulisan kata dan susunan kata yang membentuk huruf. Implikasi dari konsep ini menekankan pada relasi Tuhan dan hamba yang tersirat dalam setiap ayat al-Qur’an. Hasil penafsiran yang terwujud menekankan pada totalitas penghambaan dan ketuhanan yang puncaknya berada pada level penyatuan eksistensi kepada Tuhan (waḥdah al-wujūd). Ibn ‘Arabī mewujudkan aspek simbolis yang terkandung dalam al-Qur’an sebagai akibat penurunan bahasa Tuhan ke dalam bahasa manusia
Metaphor in Parable from the Noble Qur’an: A Corpus Based Stylistic Approach
A compelling speech figure, a parable, or a metaphor in the Qur'an seeks to explain a crucial point by sticking in the mind and helping us absorb the message and firmly lodge it in our hearts. The stylistic method utilized in this study was a corpus-based stylistic method, which entails a contextual assessment of the term or pattern in issue. The information is based on passages from the Qur'anic corpus that have been translated into English. The stylistic corpus-based approach was used to investigate four different types of metaphor. They are standard, implied, visual, and extended metaphors, as evidenced by the findings. From the result finding it shows that there are 21 verses in the metaphor that are classified as standard metaphors, accounting for 61% of the metaphor. There are 5 verses, or 13%, of implied metaphor, 7 verses, or 18%, of visual metaphor, and 3 verses, or 8%, of extended metaphor. The metaphor that appeared the most frequently is a standard metaphor.
Sebuah figur ucapan yang menarik, sebuah perumpamaan, atau metafora dalam Al-Qur'an berusaha untuk menjelaskan poin penting dengan menempel di pikiran dan membantu kita menyerap pesan dan dengan kuat memasukkannya ke dalam hati kita. Metode stilistika yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode stilistika berbasis korpus, yang mencakup penilaian kontekstual terhadap istilah atau pola yang diangkat. Informasi ini didasarkan pada bagian-bagian dari korpus Al-Qur'an yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Pendekatan berbasis corpus gaya digunakan untuk menyelidiki empat jenis metafora yang berbeda. Mereka adalah metafora standar, tersirat, visual, dan diperluas, sebagaimana dibuktikan oleh temuan. Dari hasil temuan menunjukkan bahwa ada 21 ayat dalam metafora yang tergolong metafora standar, yaitu sebesar 61% dari metafora. Ada 5 ayat, atau 13%, metafora tersirat, 7 ayat, atau 18%, metafora visual, dan 3 ayat, atau 8%, metafora diperluas. Metafora yang paling sering muncul adalah metafora standar
Dasar-Dasar Moderasi dalam Epistemologi Pendidikan Islam Perspektif Al-Qur’an
This article explores the basics of moderation excavated from the verses of the Qur'an, which can be used as the epistemology of education in Islam. The critical value of this study is the critique of the epistemology of modern Western education, which ignores metaphysics as an approach and study in epistemology. Through this article, the author wants to make a description of the human ontology and its axiology from the perspective of the Qur'an as an epistemological foundation in education. It is urgent to do this because the basics of educational epistemology cannot be separated from the human perspective on ontology and axiology. Through the analysis of the verses of the Qur'an, it is illustrated that humans are created in moderation. The dimensions inherent in the reality of human ontology- such as exoteric-esoteric, physical-spiritual, physical-metaphysical, individual (private)-social aspects- are given serious attention by the Qur'an and placed in their respective positions. Another interesting discussion in this article is a description of the ethical-axiological values of a moderate Al-Qur'an perspective, such as the influence of morality, family, worship and prayer on the development of human physical and spiritual aspects. Regarding the research approach, this article can be called a thematic interpretation study because the author tries to collect the verses of the Qur'an in a specific theme and then examines the interrelationships between these verses to produce a general concept.Artikel ini mengeksplorasi dasar-dasar moderasi yang tergali dari ayat-ayat Al-Quran yang dapat dijadikan sebagai pijakan epistemologi pendidikan dalam Islam. Nilai penting kajian ini adalah kritik terhadap epistemologi pendidikan modern Barat yang mengesampingkan metafisika sebagai pendekatan dan kajian dalam epistemologi. Melalui artikel ini, penulis hendak menjadikan uraian tentang ontologi dan aksiologi manusia perspektif Al-Qur’an sebagai pijakan epistemologi dalam pendidikan. Hal ini urgen dilakukan sebab dasar-dasar epistemologi pendidikan tidak bisa dilepaskan dari cara pandang manusia terhadap ontologi dan aksiologi. Melalui analisa ayat-ayat Al-Qur’an, tergambarkan bahwa manusia tercipta secara moderat. Dimensi-dimensi inheren pada realitas ontologi manusia- seperti: aspek dhahir-batin, jasmani-ruhani, fisik-metafisik, individu (privat)-sosial- diberikan perhatian secara serius oleh Al-Quran dan ditempatkan pada posisinya masing-masing. Pembahasan menarik lainnya dalam artikel ini adalah uraian nilai-nilai etis-aksiologis perspektif Al-Qur’an yang moderat seperti adanya pengaruh akhlak, keluarga, ibadah dan doa terhadap pengembangan aspek jasmani dan ruhani manusia. Terkait dengan pendekatan penelitian, artikel ini bisa disebut sebagai kajian tafsir tematik sebab penulis berusaha untuk mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam suatu tema tertentu kemudian meneliti keterkaitan antar ayat-ayat tersebut sehingga dihasilkan sebuah konsep umum
Aurat Perempuan Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 59: Diskursus Relevansi Cadar Dalam Konteks Indonesia
This paper explores women's genitalia as far as QS sees it. al-Ahzab [33] verse 59. The specific explanation is related to the use of the veil, which is widespread in the Indonesian context. This study uses a thematic analysis method of the verses of the Qur'an, and it is concluded that there are differences of opinion regarding women's genitalia, especially regarding the face and palms, whether they are classified as aurat or not. This difference then developed in the legal issue of wearing the veil for women. Regarding the use of the veil, scholars consider social conditions so that there are scholars who require women to wear the veil since there has been a lot of slander spread in the community. Some scholars do not require women to wear the veil because the veil is considered a culture that grows from the local culture. However, wearing the veil for women remains relevant in Indonesia because, in addition to the veil protecting women from naughty views of the opposite sex, it will also affect their subconscious to improve religious practices in their lives.Tulisan ini berusaha mengupas tentang aurat perempuan sejauh yang dipandang QS. al-Ahzab [33] ayat 59. Penjelasan secara spesifiknya dikaitkan dengan penggunaan cadar yang marak dilakukan dalam konteks Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode analisis tematik terhadap ayat-ayat al-Qur’an, dan didapati kesimpulan bahwa terdapat perbedaan pendapat terkait aurat perempuan, khususnya mengenai wajah dan telapak tangan, apakah tergolong aurat atau bukan. Perbedaan ini kemudian berkembang pada masalah hukum memakai cadar bagi kaum perempuan. Terkait penggunaan cadar, ulama mempertimbangkan kondisi sosial sehingga ada ulama yang mewajibkan perempuan memakai cadar, dengan landasan telah banyak fitnah tersebar di tengah-tengah masyarakat. Ada pula ulama yang tidak mewajibkan perempuan memakai cadar, karena cadar dianggap sebagai budaya yang tumbuh dari kultur setempat. Meski demikian, pemakaian cadar bagi kaum perempuan tetap relevan di Indonesia, karena selain dengan bercadar dapat melindungi perempuan dari pandangan nakal dari lawan jenis, juga akan mempengaruhi alam bawah sadarnya untuk meningkatkan praktik keagamaan dalam kehidupannya. 
Pemikiran Sa’īd Ramadhān Al-Būthī Terhadap Isu-isu Feminisme (Kajian atas Penafsiran Sa’īd Ramadhān Al-Būthī terhadap Ayat-ayat Hijab, Kepemimpinan Perempuan, Hak Waris, dan Poligami)
This study aimed to elaborate the thoughts of Muhammad Sa'īd Ramadhān al-Būthī regarding women and Islamic teachings that are considered discriminatory against women. As for several Islamic teachings discussed in this study, specifically hijab, women's leadership, inheritance rights, and polygamy. This research is library research and uses a qualitative approach. The theory used in this research is Hans George Gadamer's theory of effective hermeneutics. The results of this study are: 1) Hijab does not isolate women from all activities in life. But an extreme understanding of QS. an-Nur: 31 that caused disturbance to women which led to the decline of Islam; 2) Women's leadership is justified as long as they are not the head of state with certain conditions; 3) QS. an-Nisa: 11 (li adz-dzakar mitsl haẓẓi al-untsayayn) is not a general rule in the distribution of inheritance. This rule only applies in certain conditions; 4) Polygamy is questioned by Western feminists because of the fundamental differences in perceptions between Islam and the West in seeing the essence and concept of marriage and adultery; 5) True equality is equality that does not contradict the nature that God has given to humans.Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi pemikiran Muhammad Sa’īd Ramadhān al-Būthī terkait perempuan dan ajaran Islam yang dianggap diskriminatif terhadap perempuan. Adapun sejumlah ajaran Islam yang dibahas dalam penelitian ini adalah hijab, kepemimpinan perempuan, hak waris, dan poligami. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilandasi teori hermeneutika efektual dari Hans George Gadamer. Penelitian ini berkesimpulan bahwa: 1) Hijab tidak mengisolasi perempuan dari segala aktivitas kehidupannya. Namun pemahaman yang ekstrem terhadap QS. an-Nur: 31 lah yang menimbulkan gangguan pada perempuan yang berujung pada kemunduran Islam; 2) Kepemimpinan perempuan dibenarkan selama tidak sebagai kepala negara dengan syarat-syarat tertentu; 3) QS. an-Nisa: 11 (li adz-dzakar mitsl haẓẓi al-untsayayn) bukanlah kaidah umum dalam pembagian harta warisan. Kaidah tersebut hanya berlaku pada kondisi tertentu saja; 4) Poligami dipermasalahkan oleh aktivis feminisme Barat dikarenakan adanya perbedaan persepsi yang mendasar antara Islam dan Barat dalam memandang esensi dan konsep pernikahan dan zina; 5) Kesetaraan yang benar adalah kesetaraan yang tidak menyelisihi kodrat yang diberikan Tuhan pada manusia
Polemik Keabsahan Naskh Intra-Qur’an dan Ekstra-Qur’an
The Polemic of the Validity of Intra-Qur'an and Extra-Qur'an Texts. Islamic Education Department, Faculty of Social Sciences, Jakarta State University. Two texts are polemic in this discussion, namely intra-Qur'anic texts (deletion between verses) and extra Qur'anic texts (deletion of the Koran on previous holy books and religions). The naskh polemic occurred because of the uncertainty about whether any verses of the Qur'an were in the text, some acknowledged. Still, others rejected, for various reasons, the mansukh of the poetry of the Qur'an. The term naskh, which means "annulment", was initially used to describe fiqh/Islamic law issues but later developed into the cancellation of pre-Qur'an revelations. Based on this, this study intends to reveal whether the revelation of the Qur'an replaces or cancels all other disclosures so that the concept of naskh is associated with Muhammad's apostolic position regarding the success of saving other monotheistic traditions. The results of this discussion reveal that the focus of the text is not on the cancellation of the verses of the Qur'an (Intra Qur'an). Still, the cancellation of the previous law or sharia (syar'u ma qoblana), either partially or entirely by Islamic law as stated by Al-Jabiri, so that the latter is called the extra text of the Qur'an. However, in general, for the two types of texts, there is still an assumption that the abolition of the previous verse or treatise means denying some of the rules of the text theory itself. It is even considered the same as rejecting the poetry of the Qur'an as the best teaching of religion, as in the QS verse. Al-Baqarah [2]: 106 only expresses the presupposition, not the necessity of the text. Meanwhile, all of the verses of the Qur'an are still valid and cooperative. Even if there is a contradiction, it must be understood proportionally based on socio-historical conditions, not by eliminating verses (Intra-Qur'an texts).Ada dua jenis naskh yang menjadi polemik dalam pembahasan ini, yakni naskh intra-Qur’an (penghapusan antar ayat), dan naskh ekstra Qur’an (penghapusan al-Qur’an atas kitab suci dan agama terdahulu). Polemik naskh tersebut terjadi karena ketidakpastian mengenai apakah ada ayat-ayat al-Qur`an yang di naskh, sebagian mengakui, tetapi sebagian yang lain menolak, dengan berbagai alasan, mengenai ke-mansukh-an ayat-ayat al-Qur`an. Istilah naskh, yang berarti “pembatalan”, pada mulanya digunakan terbatas pada masalah fikih/ hukum Islam, namun kemudian berkembang menjadi pembatalan wahyu pra-Qur`an. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bermaksud mengungkap apakah wahyu al-Qur`an itu menggantikan atau membatalkan semua wahyu lain, sehingga konsep naskh dikaitkan dengan posisi kerasulan Muhammad tentang keberhasilan penyelamatan tradisi monoteistik lainnya. Adapun hasil pembahasan ini mengungkapkan bahwa fokus naskh bukan pada pembatalan ayat al-Qur`an (intra Qur’an), tetapi pada pembatalan hukum atau syariat terdahulu (syar’u ma qoblana), baik sebagiannya atau seutuhnya oleh syariat Islam seperti yang dikemukakan oleh Al-Jabiri, sehingga yang terakhir ini disebut dengan naskh ekstra Qur’an. Namun secara umum kedua jenis naskh tersebut, masih ada anggapan terkait penghapusan terhadap ayat atau risalah sebelumnya berarti menafikan sebagian rules dari teori naskh itu sendiri bahkan dianggap sama dengan menolak ayat al-Qur’an sebagai ajaran terbaik dari agama, seperti pada ayat QS. Al-Baqarah [2]: 106 hanya mengungkapkan pengandaian bukan keniscayaan naskh. Sedangkan ayat-ayat al-Qur’an seluruhnya masih tetap berlaku, kooperatif, kalau pun ada pertententangan harus dipahami secara proposional berdasarkan kondisi sosio-historis, tidak dengan saling menghapuskan ayat (naskh intra-Qur’an)
Perilaku Pengguna Tik Tok di Kota Palopo dan Respon al-Qur’an
Tik Tok is a new platform that young people love, and kids are no exception. This platform encompasses all levels of society, including adults and even the elderly. TikTok has both positive and negative sides like any other medium. Therefore, this study aims to determine the understanding of the community, especially the people of Palopo, about the benefits of Tik Tok and how to use it. This research is a field study with the people of Palopo city as informants for interviews and documentation. As a result, Tik Tok is used more than a means of entertainment, which sometimes leads to verbal and physical disrespectful behaviour. Some opinions say that Tik Tok is an online media short video that shows recordings of dancing and showing TikTok-er's genitals. The people of Palopo city consider TikTokers more for entertainment filled with dancing. Therefore, it is necessary to limit access to various media, including TikTok, so as not to be carried away by immoral behaviour. Thus, the Qur'an is the key and a solution to protect yourself by not showing your aurat. It means that Tik Tok may dive without showing aurat and indulgence in lust. For further researchers, it is necessary to research the effects caused by the application and the solution before and after being exposed to the syndrome.TikTok adalah platform baru yang banyak digandrungi para muda, tidak terkecuali anak-anak. Sekalipun demikian, platform ini menyisir seluruh lapisan masyarakat, termasuk orang dewasa, bahkan lanjut usia. TikTok memiliki sisi positif dan negatif sebagaimana media lainnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman masyarakat, khususnya warga Palopo tentang manfaat Tik Tok dan cara menggunakannya. Penelitian ini adalah kajian lapangan dengan masyarakat kota Palopo sebagai informan dengan cara wawancara dan dokumentasi. Hasilnya, Tik Tok lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan yang terkadang menjurus kepada perilaku tidak sopan, baik verbal maupun fisik. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa Tik Tok adalah media online dalam bentuk video pendek yang menyediakan rekaman joget dan mempertontonkan aurat si Tik Tok-er. Masyarakat kota Palopo menganggap pengguna Tik Tok lebih untuk sekedar hiburan yang biasanya diisi dengan joget. Oleh karena itu, perlu adanya batasan dalam mengakses berbagai macam media, termasuk Tik Tok agar tidak terbawa pada perilaku yang amoral. Dengan demikian, al-Qur’an menjadi kunci sekaligus solusi agar menjaga diri dengan tidak mempertontonkan aurat. Artinya Tik Tok diperbolehkan selama tidak mempertontonkan aurat dan mengumbar syahwat. Untuk peneliti selanjutnya, perlu melakukan penelitian tentang efek yang ditimbulkan oleh aplikasi tersebut dan solusinya sebelum dan sesudah terkena sindrome
Efektivitas Aplikasi Islami Terhadap Muslim Generasi Z dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an
As a generation that lives in the era of technological development, Generation Z sees smartphones no longer as devices but more as a lifestyle. The rapid growth of technology makes the smartphones that they hold offer many innovations that can facilitate all aspects of their lives, including worship by reading the Al-Qur'an through Islamic applications. It is believed that an Islamic application with various features and flexibility can improve the user's Al-Qur'an reading ability, especially the technology-savvy Generation Z. By involving 85 Muslim respondents of generation Z through an online survey, this study seeks to find out how practical Islamic applications are to increase the skills of reading the Al-Qur'an for generation Z Muslims. Various opinions of respondents are presented and then categorized so that these opinions result from a percentage stating that Islamic applications are declared quite effective to improve Gen Z's skills in reading the Al-Qur'an.Sebagai generasi yang hidup di era perkembangan teknologi, Generasi Z melihat smartphone tidak lagi sebagai perangkat tetapi lebih sebagai gaya hidup. Pesatnya perkembangan teknologi membuat smartphone yang mereka pegang menawarkan banyak inovasi yang dapat mempermudah segala aspek kehidupan mereka, termasuk untuk beribadah dengan membaca Al-Qur’an melalui aplikasi islami. Aplikasi islami yang menyediakan berbagai fitur dan fleksibilitas diyakini dapat meningkatkan kemampuan penggunanya untuk melafazkan ayat-ayat Allah SWT tersebut, terlebih Generasi Z yang paham teknologi. Dengan melibatkan 85 responden muslim generasi Z melalui survei online, penelitian ini berupaya untuk mengetahui seberapa efektif aplikasi islami untuk menambah keterampilan muslim generasi Z membaca Al-Qur’an. Berbagai pendapat responden disajikan kemudian dikategorikan sehingga dari pendapat tersebut menghasilkan persentase yang menyatakan bahwa aplikasi islami dinyatakan cukup memberikan dampak kepada generasi Z untuk menambah kemampuan membaca Kitabullah tersebut