Jurnal Studi Al-Qur'an
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Maimun Zubair and Response of Social, Political, and Religious Problems in Indonesia: A Study of Safīnatu Kallā Saya’lamūn fī Tafsīr Maimun Zubair by Lora Ismail Al-Ascholy
Tafsir Al-Qur’an selalu mencerminkan realitas yang dihadapi oleh penafsirnya. Tulisan ini akan menagaanalisis respon Kiai Maimun Zubair terhadap isu-isu sosial, politik, dan keagamaan di Indonesia melalui Safīnatu Kallā Saya'lamūn. Tafsir ini berasal dari kajian Tafsir al-Jalālayn yang disajikan oleh Kiai Maimun Zubair dalam Bahasa Jawa, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh muridnya, Lora Ismail Al-Ascholy. KiaiMaimun Zubair tidak hanya dikenal sebagai figur aktif di lingkungan pesantren, tetapi juga memiliki pengalaman luas di ranah politik Indonesia. Oleh karena itu, eksplorasi mendalam terhadap penafsirannya menjadi penting. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, historis, dan eksplanatoris, dengan penerapan analisis wacana kritis milik Teun A. Van Dijk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kiai Maimun Zubair tidak hanya menjadikan tafsir sebagai sarana untuk memahami firman Tuhan dalam Al-Qur’an, tetapi juga sebagai wadah untuk mengekspresikan pandangan dan responsnya terhadap fenomena sosial, politik dan keagamaan di Indonesia. Isu seperti pertanian, demokrasi, kemerdekaan Republik Indonesia, penyebaran dakwah di tanah Jawa, hingga keamanan Negara Indonesia mendapat sorotan darinya. Safīnatu Kallā Saya'lamūntidak hanya menggambarkan situasi sosial, politik dan keagamaan di Indonesia kontemporer, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam mendiskusikan persoalan-persoalan tersebut. Sikapnya mencerminkan paradigma pemikiran ulama pesantren yang tegas dalam bersikap dan mengungkapkan keyakinan, sehingga menjadikan pesantren turut berperan aktif dalam proses pembangunan Indonesia.Tafsir Al-Qur’an always reflects the reality faced by the interpreter. This paper will analyze Kiai Maimun Zubair’s response to social, political, and religious issues in Indonesia through Safīnatu Kallā Saya’lamūn. This interpretation comes from the study of Tafsir al-Jalālayn presented by Kiai Maimun Zubair in Javanese, then translated into Arabic by his student, Lora Ismail Al-Ascholy. Kiai Maimun Zubair is an active figure in the pesantren environment and has extensive experience in the Indonesian political sphere. Therefore, an in-depth exploration of his interpretation is essential. The research methods used in this study are descriptive, historical, and explanatory, applying Teun A. Van Dijk’s critical discourse analysis. The results of this study show that Kiai Maimun Zubair uses tafsir to understand God’s words in the Qur’an and as a platform to express his views and responses to social, political, and religious phenomena in contemporary Indonesia. He highlighted issues such as agriculture in Indonesia, criticism of democracy in Indonesia, and independence of the Republic. Safīnatu Kallā Saya’lamūn describes the social, political, and religious situation in contemporary Indonesia and significantly contributes to discussing these issues. His attitude reflects the paradigm of thought of pesantren scholars who are firm in their attitudes and beliefs, thus making pesantren play an active role in Indonesia’s development process
The Qur'an in the Modern Era: A Critical Analysis of Contemporary Interpretations
The Qur'an, the sacred book of Muslims, is considered the primary source of divine knowledge and religion. It has been the subject of extensive study by scholars of various disciplines for decades. To preserve the faithful transmission of his teachings, strict rules have been established to which all scholars must conform.However, in recent decades, some works have emerged which are subject to inconsistency with the carefully established rules. In this article, we will focus on a critical and scientific approach to certain opinions and ideas formulated in the books of NICOLAÏ Sinai, entitled "The Qur'an: A historical-critical Introduction" and Abdullah Saeed, entitled "The Qur'an: An Introduction." This article aims to present an objective and rigorous analysis while highlighting the points of disagreement and the outstanding questions concerning the interpretations presented in these works. From this observation, the article will highlight the discrepancies with some of the concepts advanced in these books using a qualitative research methodology.يعتبر القرآن، الكتاب المقدس للمسلمين، المصدر الأول لمعرفة الله ودينه، من مهمته وعلوي مكانه حاز من الاهتمام البالغ ودراسات مكثفة من قبل علماء من مختلف التخصصات. ومن أجل الحفاظ على نقل أمين لتعاليمه بعيدة عن الانحرافات، تم وضع قواعد وضوابط، يجب على جميع العلماء الذين لديهم اهتمام في هذا المجال الالتزام بها. ومع ذلك، في العقود الأخيرة، ظهرت بعض الأعمال، والتي لا تتوافق مع القواعد المعمول بها، سنركز في هذه المقالة على منهج نقدي وعلمي لبعض الآراء والأفكار التي تمت صياغتها في كتب نيكولاس سيناي بعنوان "القرآن: مقدمة تاريخية نقدية" وعبد الله سعيد بعنوان "القرآن: مقدمة".الهدف هو تقديم تحليل موضوعي ودقيق، مع إبراز نقاط الخلاف والأسئلة المتعلقة بالتفسيرات المقدمة في هذه الأعمال."
من هذه الملاحظة، ستسلط المقالة الضوء على التناقضات مع بعض المفاهيم المتقدمة في هذه الكتب باستخدام منهجية البحث النوعي
Kesantunan Berbahasa dalam Tuturan Nabi Musa dengan Fir’aun di Dalam Al-Qur’an (Analisis Tuturan dan Skala Kesantunan Leech)
Objek material dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan dalam komunikasi Nabi Musa dengan Fir'aun di dalam Al-Qur'an. Objek formalnya adalah teori bentuk tuturan dan skala kesantunan Leech. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam teorinya, leech mengemukakan bahwa terdapat 5 macam skala kesantunan yang dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan, yaitu 1) cost benefit scale, 2) optimality scale, 3) indirectness scale, 4) authority scale, 5) social distance scale. Dengan memanfaatkan 5 macam skala kesantunan tersebut penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan dan mendeskripsikan bentuk tuturan dalam komunikasi Nabi Musa dengan Fir’aun serta menunjukkan sekaligus mendeskripsikan wujud kesantunan bahasa Nabi Musa terhadap Fir’aun. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat 3 jenis bentuk tuturan dalam komunikasi Nabi Musa dan Fir'aun di dalam Al-Qur'an dari 5 jenis bentuk tuturan. Tiga jenis bentuk tuturan tersebut yakni, asertif, direktif, dan ekspresif. Peneliti tidak menemukan bentuk tuturan komisif dan deklaratif. Dari 3 jenis bentuk tuturan, jumlah data tuturan yang ditemukan peneliti adalah 15 tuturan. Dengan rincian 12 tuturan asertif, 2 tuturan direktif, 1 tuturan ekpresif. Kedua, berdasarkan analisis skala kesantunan berbahasa Leech, peneliti menemukan bahwa dalam komunikasi Nabi Musa dan Fir'aun di dalam Al-Qur'an memuat kesantunan dalam bahasanya. Wujud kesantunan tersebut dapat dilihat dalam tuturan Nabi Musa pada QS. As-Syu’arāa [26:16], QS. As-Syu’arāa [26:24], QS. As-Syu’arāa [26:26], QS. As-Syu’arāa [26:28], QS. Ṭāha [20:47], QS. Ṭāha [20:47-48], QS. Ṭāha [20:50], QS. Ṭāha [20:52], QS. Ṭāha [20:53-55].The material object in this research is the utterances in the story of Prophet Musa and Pharaoh in the Qur'an. The formal object is language politeness. The qualitative descriptive method is used because the data in this study are words and sentences, in this case, the verses in the Qur'an. The theory used in this study is the leech politeness scale. In theory, Leech suggests that five types of politeness scales can be used to determine the politeness rating of an utterance, namely 1) cost-benefit scale, 2) optimality scale, 3) indirectness scale, 4) authority scale, and 5) social distance scale. By utilizing the five types of politeness scales, this study aims to show and describe the form of speech in the speech of Prophet Musa and Pharaoh and to show and describe the form of politeness in Prophet Musa's language towards Pharaoh. The results of this study concluded that based on the analysis of the politeness scale in Leech's language, the researcher found that the speeches of the Prophet Musa and Pharaoh in the Qur'an contain politeness in their language. This form of politeness can be seen in the story of Prophet Musa in QS. As-Syu'arāa [26:16], QS. As-Syu'arāa [26:24], QS. As-Syu'arāa [26:26], QS. As-Syu'arāa [26:28], QS. Ṭāha [20:47], QS. Ṭāha [20:47-48], QS. Ṭāha [20:50], QS. Ṭāha [20:52], QS. Ṭāha [20:53-55]
Disability in the Qur'an Manifestation of Repositioning from Exclusive to Inclusive
This research is motivated by the rise of ableism. This research aims to discover Disability in the Qur'an Manifestation of Repositioning from Exclusive to Inclusive. This research uses library research by making the library the primary source for obtaining data. This research uses a qualitative approach to examine the theme of disability in the Qur'an and how the sacred text can be understood in a modern context as an effort to reposition from exclusive to inclusive. The results show that the Qur'an has many words for disability, namely, a'ma/ umyun, akmah, bukmun, shummun, and a'raj. There are 38 verses spread across 26 surahs of the Quran. There are four verses in the entire Qur'an about a person that speaks directly about their attitude towards a disabled person or refers to a person with a physical disability. The Qur'an sees people with disabilities as having to be tolerant like ordinary people or behave equally towards others, especially those who are weak to discrimination, which is a manifestation of the repositioning of exclusive to inclusive.Penelitian ini dilatar belakangi dari maraknya ableisme. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Disabilitas dalam Al-Qur'an Manifestasi Reposisi dari Ekslusif menjadi Inklusif. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan, yaitu dengan menjadikan perpustakaan sebagai sumber utama dalam mendapatkan data. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengkaji tema disabilitas dalam Al-Qur'an dan bagaimana teks suci tersebut dapat dipahami dalam konteks modern sebagai upaya reposisi dari eksklusif menjadi inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an memiliki banyak kata untuk disabilitas yaitu, a'ma/umyun, akmah, bukmun, shummun, dan a'raj. Ada 38 ayat tersebar di 26 surah Quran. Ada 4 ayat dari keseluruhan Al-Qur'an tentang seseorang yang berbicara langsung tentang sikap mereka terhadap orang cacat, atau mengacu pada seseorang dengan cacat fisik. Al-Qur'an melihat orang penyandang disabilitas harus toleran seperti orang biasa atau berperilaku sama terhadap orang lain, terutama mereka yang lemah diskriminasi yang merupakan manifestasi dari reposisi eksklusif menjadi inklusif
Dimensions of Hamka's Modern Sufism (A study of the verses of Maqamat in Tafsir Al-Azhar by Hamka)
Seeing the reality of today's society, moral degradation has arisen in humans, so it is essential to improve ourselves by returning humans to their existence as servants of Allah SWT. One alternative is to study and practice the teachings of Sufism. In the teachings, there are spiritual stages (maqâmât) to achieve perfection as a servant of Allah. The focus of this research is to examine Hamka's interpretation style in al-Azhar's tafsir by explaining his interpretation regarding the maqâmât verses so that the dimensions of Sufism and its relevance found in Hamka's al-Azhar tafsir are known. This research aims to find out Hamka's style and interpretation in al-Azhar's interpretation regarding the maqâmât verses and the dimensions of Sufism contained in them so that we can find out whether maqâmât is still relevant or not to be practiced in the present era. The methodology used in this research is qualitative library research (library research) with a mauḍu'i model of the Sufism approach that focuses on maqâmât verses using descriptive-analytical analysis of Hamka's Sufism thought. The results of this discussion show thatHamka's interpretation of the verses of maqâmât is in the style of Sufism by exploring the meaning of zahir and theinner meaning in which there are nuances to society (Adabi Ijtima'i) covering the socio-culture of Indonesianculture so that the dimension of Sufism contained in Hamka's interpretation is still very relevant to modern lifetoday.Melihat realitas masyarakat sekarang, timbul degradasi moral dalam diri manusia, sehingga penting membenahi diri dengan mengembalikan manusia pada eksistensinya sebagai hamba Allah SWT. Salah satu alternatifnya adalah dengan mengkaji dan mengamalkan ajaran tasawuf, dalam ajaran terdapat tahapan-tahapan spiritual (maqâmât) dengan tujuan meraih derajat kesempurnaan sebagai hamba Allah. Fokus penelitian ini ialah dengan mengkaji corak penafsiran Hamka dalam tafsir al-Azhar dengan memaparkan penafsirannya terkait ayat-ayat maqâmât, sehingga diketahui dimensi tasawuf dan relevansinya yang terdapat dalam tafsir al-Azhar karya Hamka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui corak dan penafsiran Hamka dalam tafsir al-Azhar terkait ayat-ayat maqâmât serta dimensi tasawuf yang terdapat di dalamnya sehingga dapat diketahui, maqâmât masih relevan atau tidak untuk diamalkan di masa sekarang ini. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif jenis kepustakaan (Library Research) dengan pendekatan tasawuf model mauḍu’i yang berfokus pada ayat-ayat maqâmât dengan menggunakan deskriptif analitis pada pemikiran tasawuf Hamka. Hasil dari pembahasan ini menunjukkan bahwa penafsiran Hamka pada ayat-ayat maqâmât bercorak tasawuf dengan penggalian makna zahir dan makna batin yang di dalamnya terdapat nuansa ke kemasyarakatan (Adabi Ijtima’i) mencakup sosial budaya masyarakat Indonesia, sehingga dimensi tasawuf yang terdapat pada penafsiran Hamka masih sangat relevan dengan kehidupan zaman modern sekarang ini