Jurnal Studi Al-Qur'an
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
المنطلقات الفكرية للحرية السياسية في الإسلام
ايتعرض هذا Ø§Ù„Ø¨ØØ« ÙÙŠ المنطلقات الÙكرية Ù„Ù„ØØ±ÙŠØ© اسياسية ÙÙŠ الاسلام Ø§ØØªÙˆÙŠ Ù‡Ø°Ø§ Ø§Ù„Ø¨ØØ« على اربعة ÙØµÙˆÙ„. ØÙ„ص Ø§Ù„Ø¨ØØ« الى ان Ø§Ù„ØØ±ÙŠØ© قيمة من أعظم قيم البشرية
‘Harmonious’ Coexistence and Mutual Ignorance: Exclusivity in Religious Education in Indonesia
Religious education and national interest often interrelate that its long process leads to an unpredicted outcome or side effects in the future. This paper seeks to analyse the unawareness between religious denominations, particularly Muslims and Christians in Indonesia which may be resulted by the religious education programmes and state policy involvement. A variety of literary sources is used to support the argument that religious harmony in Indonesia is not based on people’s self open-mindedness but more on the state authority’s strategy to advocate stability and coexistence between religions. Finally, it is suggested that the tolerance between religious communities should be motivated instead by a process of learning and acquiring knowledge of themselves and others by deepening their understanding of each and other’s faith.
Keywords : Religious education, Indonesia, Religious harmon
Menakar Kembali Pemikiran Feminisme Amina Wadud
Amina Wadud sebagai seorang intelektual dan seorang feminis, tidak saja berhasil memberikan pengetahuan kepada masyarakat, tetapi juga dalam membuat mereka berpikir tentang konsep kesetaraan gender dalam Islam. Pemikir dan aktifis feminis ini sangat kritis terhadap hak – hak wanita dalam Islam melalui kajian-kajian kritis terhadap teks-teks primer dan sekunder agama.
Kata Kunci: Amina Wadud, Feminisme, Pemikira
The Failure of Islamic Parties in Indonesia
Islamic Political Parties in Indonesia are facing many huge problems. One of the crucial problem is the compound of the number of the Islamic political parties. This particular problem actually has a simple solusion, which is uniting all Islamic political party in one organization (political party), them shows all the citizen that Islamic political party can act in an Islamic ways. however the solution seems extremely difficult to be implement. Many people—particular;y whom has budget and political interest—more and more tries to build political party. This phenomenon is like evidence that Islam still be a nice political tool to attract people, and dreams that they would be a political leader
Revitalisasi Nilai-Nilai Keislaman dalam Pembangunan Karakter Bangsa
Revitalisasi nilai nilai keislaman dalam merekonstruksi karakter bangsa diwujudkan dalam bentuk sosialisasi dan internalisasi nilai nilai keislaman, yang diimplementasikan melalui jalur jalur pendidikan formal, informal, dan nonformal. Rekonstruksi karakter bangsa penting dilakukan karena fakta menunjukan bahwa gejala degradasi karakter bangsa dari hari ke hari semakin deras mengikis nilai nilai pendukung karakter bangsa itu sendiri. Nilai nilai keislaman dipilih untuk dijadikan sendi sendi rekonstruksi di dasarkan pada fakta; (1) Pancasila sebagai ideologi bangsa yang dijiwai oleh nilai nilai keislaman telah diterima, dipahami, serta dihayati bangsa Indonesia. (2) Atas dasar keyakinan masyarakat, sosialisasi dan internalisasi nilai nilai spiritual kegamaan lebih mudah dterima dan dicerna masyarakat daripada nilai nilai formal yang dibentuk manusia. (3) Nilai nilai keislaman merupakan manivestasi dari nilai nilai kemanusiaan, sehingga lebih bersiaft universal. (4) Fakta demografis menunjukan bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah penganut agama Islam. Berdasarkan pertimbangan pertimbangan tersebut, diharapkan masyarakat akan lebih mudah untuk diajak kembali ke nilai nilai dasar yang dianutnya.
Kata kunci: Revitalisasi, Nilai-Nilai Keislaman, Rekonstruksi Karakter, Sosialisasi, Internalisasi Nilai
Makkiyyah-Madaniyyah: Upaya Rekonstruksi Peristiwa Pewahyuan
Pembedaan Makkiyyah dan Madaniyyah mengacu pada fase psikologis dan sosiologis yang dilalui oleh dakwah Islam.Makkiyyah-Madaniyyah merupakan ilmu yang berpretensi untuk memberikan informasi tentang konteks historis turunnya al-Qur’an. Perbedaan fase historis Makkiyyah-Madaniyyah berimplikasi pada variasi pesan, gaya bahasa, dan tehnik penjelasan. Melalui pemahaman yang mendalam tentang Makkiyah dan Madaniyah diharapkan kita mampu untuk merekontruksi konteks pewahyuan sehingga selanjutnya kita mampu mencari benang merah antara konteks historis masa lalu dengan konteks kekinian.
Kata Kunci: Makkiyah-Madaniyyah, Rekonstruksi, Pewahyua
معايير التقوى الأية 311 إلى 311 تفسير سورة آل عمران
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات. هو الله الذي لا إله إلاّ هو الواحد الأحد الفرد الصّمد، الذي لم يلد ولميولد ولم يكن له كفوا أحد. فضاعف الله دائم صلواته وسلامه على محمد سيد المرسلين، وعلى آله الطاهرين،وأزواجه أمهات المؤمنين، وأقربائه المؤمنين، وأصحابه الذين هم نجوم الهداية واليقين، وجميع أمته إلى يومالدين.فإنه قد علم من الدين بالضرورة أن التقوى هو وسيلة لنيل سعادة الدارين. فمن ثم نحتاج إلى بيان كاف عنالتقوى لنفهم ثم نعمل بمقتضاها. فتعريف التقوى معلوم سمعناه كثيرا في الخطابات والمواعظ، وهو امتثالأوامر الله واجتناب نواهيه. ولكن يظهر في التسائل: ما هو معيار التقوى؟فهذا البُحَيْث المتواضع يعطي لنا تفسير الأية 311 إلى 311 من سورة آل عمران حيث تشمل تلك المعاييركما تحتوي على معلومات كثيرة وقيم يحتاج إليها الناس في حياتهم. فقال تعالى:وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِكُمْ وَجَنَةٍ عَرْضُهَا السَمَوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَتْ لِلْمُتَقِينَ ) 311 ( الَذِينَ يُنْفِقُونَ فِيالسَرَاءِ وَالضَرَاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَاسِ وَاللَهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ) 311 ( وَالَذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُنُوبَ إِلاَ اللَهُ وَلَمْ يُصِرُوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ) 311 ( أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِهِمْ وَجَنَاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ ) 31
Hukum Islam dan Demokrasi: Antara Ditentang dan Diperjuangkan
Posisi hukum Islam di tengah-tengah hukum sekuler masih menjadi selalu dipersoalkan, ditentangatau diperjuangkan. Secara konseptual hukum Islam dianggap sebagai hukum yang ideal oleh umatIslam. Kendatipun demikian, hukum Islam terbelah menjadi dua; pertama ada yang penerapannyalebih kontekstual dan ada pula yang lebih bersifat tidak kontekstual. Oleh karena itu, formulasihukum Islam ada yang lebih memprioritaskan faktor-faktor sosiologis dan ada pula yang lebihtekstual. Di samping itu, ada yang menghendaki penerapannya secara struktural melalui apa yangdisebut negara Islam dan ada yang menghendaki melalui proses penyadaran masyarakat. Haldemikian terjadi di beberapa negara mayoritas umat Islam, termasuk di Indonesia
Pendidikan Karakter dalam Islam: Kajian Al-Qur'an dan Hadis
This study aims at describing the definition of character education and finding the core argumentation in Islamic teaching through analysis of Quran and Hadis, the two sources in Islam. This research employs qualitative methodology and uses library research at a major method. This includes the published, online, and digital references. The output of this study shows that the character education has its argumentation in Islamic teachings, both form Quran and hadits. And it is suggested that there will be a further study to combine the values from Islamic teaching related to character education with modern method that has been developed in Western cultures
Dimensi Teologis dan Sosiologis dalam Relasi Antar Umat Beragama
Secara teologis, dalam setiap agama para pemeluknya ada yang memiliki teologi eksklusif dan adayang memiliki teologi inklusif. Oleh karena itu, kedua kecenderungan ini mengalami naik-turun(fluktuasi), terkadang kecenderungan kelompok eksklusif menguat, dan sebaliknya. Naik turunnyakualitas dua kubu tidak dapat dilepaskan dari faktor-faktor lain; faktor sosial, politik, dan ekonomi disekitar mereka. Artikel ini mencoba untuk memfokuskan kajian pada persoalan tersebut. Penulis berkeyakinan bahwa kedua dimensi tersebutharus dilihat secara bersamaan sebagai faktor dominan dalam melihat fluktuasi kerukunan antar umatberagama sehingga solusi terhadap persoalan hubungan antar umat beragama harus memperhatikanmasalah tersebut