Jurnal Studi Al-Qur'an
Not a member yet
245 research outputs found
Sort by
Strengthening the Concept of Parenting in the Modern Era: A Study of al-Qur’an Surah at-Tahrim Verse 6 on Child Parenting
This study explores the relevance of QS At-Tahrim verse 6 in parenting in the modern era, which faces challenges from social and technological changes. The main focus is on how Islamic parenting methods can be adapted to contemporary life demands and how this verse can serve as a foundation for developing a relevant parenting concept today. Using library research methods and a descriptive analysis approach, the study utilizes literature such as Quranic exegesis and scholarly articles on Islamic parenting. Through Tahlili and ijmali exegesis, the research finds that this verse emphasizes the role of parents in protecting themselves and their families from the fire of Hell through strict religious education and supervision of children. The study links these Islamic parenting principles with modern parenting models, such as positive and authoritative parenting, which share similarities in supervision, discipline, and communication. The conclusion is that QS At-Tahrim verse 6 is relevant for modern parenting and provides guidance in shaping a generation that is strong both spiritually and intellectually.Penelitian ini mengeksplorasi relevansi QS At-Tahrim ayat 6 dalam konteks pengasuhan anak di era modern, yang menghadapi tantangan dari perubahan sosial dan teknologi. Fokus utama adalah bagaimana metode parenting Islami bisa disesuaikan dengan tuntutan kehidupan kontemporer, serta bagaimana ayat ini dapat digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan konsep pengasuhan yang relevan saat ini. Dengan menggunakan metode library research dan pendekatan analisis deskriptif, penelitian ini memanfaatkan literatur seperti tafsir Al-Qur'an dan artikel ilmiah tentang parenting Islami. Melalui tafsir Tahlili dan ijmali, penelitian menemukan bahwa ayat ini menekankan peran orang tua dalam menjaga diri dan keluarga dari api neraka dengan pendidikan agama yang ketat dan pengawasan terhadap anak. Penelitian ini mengaitkan prinsip-prinsip parenting Islami dengan model pengasuhan modern seperti positive parenting dan authoritative parenting yang memiliki kesamaan dalam hal pengawasan, kedisiplinan, dan komunikasi. Kesimpulannya, QS At-Tahrim ayat 6 relevan untuk pengasuhan di era modern dan memberikan panduan dalam membentuk generasi yang kuat secara spiritual dan intelektual
Hermeneutika Quraish Shihab dalam Menelaah Ayat-Ayat Gender dalam Tafsir Al-Misbah: Upaya Menemukan Nilai-Nilai Egaliter dalam Al-Qur’an
The interpretation of Quranic verses concerning gender relations has been a broad topic in Islamic tradition. Many classical interpretations place women in a subordinate position, which in the current context can be considered gender bias. This study aims to analyze the hermeneutical method used by M. Quraish Shihab to explain gender-related verses in Tafsir al-Misbah. The method used is qualitative with a literature study approach. The results show that Quraish Shihab applies a hermeneutical approach that considers the social context, historical background, and linguistic meaning in interpreting the verses. Thus, he offers a gender-just perspective on current developments. Verses such as QS. al-Nisa': 34, QS. al-Baqarah: 228, and QS. Al-Baqarah: 282 conservation does not emphasize male dominance but regulates social relations responsive to societal conditions. This interpretation also emphasizes that justice in Islam does not necessarily mean absolute equality but fairness in the rights, responsibilities, and respect for each individual's potential. This research recommends the need for more critical studies of classical interpretations to produce more inclusive and gender-just interpretations.Penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an mengenai hubungan gender telah menjadi topik yang luas dalam tradisi keislaman. Banyak tafsir klasik menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah, yang dalam konteks saat ini bisa dianggap sebagai bias gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis metode hermeneutika yang dipakai oleh M. Quraish Shihab dalam menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan gender dalam Tafsir al-Misbah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Quraish Shihab menerapkan pendekatan hermeneutika yang mempertimbangkan konteks sosial, latar belakang sejarah, dan makna bahasa dalam penafsiran ayat-ayat tersebut. Dengan demikian, beliau menawarkan perspektif yang adil gender dan sesuai dengan perkembangan zaman. Ayat-ayat seperti QS. al-Nisa’: 34, QS. al-Baqarah: 228, dan QS. al-Baqarah: 282 ditafsirkan bukan untuk menegaskan dominasi laki-laki, melainkan sebagai pengaturan hubungan sosial yang responsif terhadap kondisi masyarakat. Tafsir ini juga menegaskan bahwa keadilan dalam Islam tidak selalu berarti kesetaraan mutlak, tetapi kesetaraan dalam hak, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap potensi masing-masing individu. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya lebih banyak kajian kritis terhadap tafsir klasik agar dapat menghasilkan interpretasi yang lebih inklusif dan adil gender.
Penerapan Kaidah Fiqih dalam Penafsiran Ayat-Ayat Ekologi dalam Tafsir Marah Labid
In today's digital world, cyberbullying has become a severe issue, especially among teenagers, which can negatively impact their mental health and identity. This study explores the application of fiqh principles in interpreting ecological verses in Tafsir Marah Labid by Imam Nawawi al-Bantani. The methodology used is a qualitative approach with content analysis, focusing on identifying and interpreting fiqh principles in an environmental context. The results show that Imam Nawawi al-Bantani indirectly applies fiqh principles such as “la darara wa la dirar” and “al-masyaqqah tajlibu al-taysir” in explaining environmental verses. This interpretation highlights the importance of maintaining ecological balance as a human responsibility as a caliph. The fiqh approach in Tafsir Marah Labid is highly relevant to current environmental conservation efforts and the importance of Islamic values education for ecological preservation among the younger Muslims.Dalam dunia digital saat ini, cyberbullying menjadi isu yang sangat serius, terutama di kalangan remaja, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan identitas mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan prinsip fiqh dalam menafsirkan ayat-ayat ekologi dalam Tafsir Marah Labid oleh Imam Nawawi al-Bantani. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis konten, berfokus pada identifikasi dan interpretasi prinsip fiqh dalam konteks lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam Nawawi al-Bantani secara tidak langsung menerapkan prinsip fiqh seperti “la darara wa la dirar” dan “al-masyaqqah tajlibu al-taysir” dalam penjelasan ayat-ayat lingkungan. Interpretasi ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan ekologi sebagai tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Pendekatan fiqh dalam Tafsir Marah Labid sangat relevan untuk upaya konservasi lingkungan saat ini, serta pentingnya pendidikan nilai-nilai Islam untuk pelestarian lingkungan di kalangan generasi muda Muslim
Model Penafsiran Kontemporer: Kajian Epistemologis terhadap al-Tafsîr al-Wasîț li-al-Qur’ân al-Karîm
Tafsir di era kontemporer dituntut untuk mampu menyajikan petunjuk-petunjuk al-Qur’an secara dinamis dalam rangka menjawab tantangan zaman. Demi memenuhi kebutuhan itu, tak sedikit mufassir masa kini yang berupaya menyusun tafsir-tafsirnya dengan gaya, pendekatan, dan metode yang berbeda dengan tafsir-tafsir klasik. Al-Tafsi>r al-Wasi>t} li-al-Qur’a>n al-Kari>m karya Muh}ammad Sayyid T{ant}a>wi> adalah salah satu karya tafsir yang ditulis untuk memenuhi kebutuhan
itu. Tulisan ini tidak sependapat dengan pandangan yang menilai tafsir kontemporer sebagai genre tafsir yang memiliki distinggsi epistemologis tersendiri, namun mendukung pendapat yang memahami tafsir kontemporer secara terbuka sebagai karya-karya tafsir yang ditulis di masa kini dengan beragam genre-nya. Menggunakan metode kualitatif dan pendekatan interpretatif, tulisan ini menunjukkan bahwa al-Tafsi>r al-Wasi>t} adalah salah satu tafsir kontemporer yang ditulis untuk merespon berbagai persoalan kehidupan saat ini. Epistemologi tafsir ini berpatok pada tiga prinsip utama, yaitu penyajian produk tafsir secara praktis; integrasi antara riwayat dan nalar; dan orientasi pada pemecahan permasalahan kontemporer. Meski bertumpu pada metodologi tafsir tradisional, tafsir ini relatif mampu menghadirkan penafsiran yang fleksibel terkait isu-isu kontemporer tertentu, tanpa menegasikan kaidah-kaidah yang disepakati bersama (al-qat}‘iyya>t).
Tafsir in the contemporary era is required to be able to present the instructions of the Qur'an dynamically in order to answer the challenges of the times. In order to fulfill this need, quite a few contemporary commentators have tried to compose their interpretations with a style, approach and method that are different from classical interpretations. Al-Tafsi>r al-Wasi>t} li-al-Qur'a>n al-Kari>mby Muh}ammad Sayyid T{ant}a>wi>is one of the tafsi>r works written to meet this need. This article does not agree with the view that considers contemporary tafsir as a genre of interpretation that has its own epistemological distinction, but supports the opinion that understands contemporary tafsir openly as tafsir works written in the present with its various genres. Using qualitative methods and an interpretive approach, this article shows that al-Tafsi>r al-Wasi>t}is a contemporary commentary of the Qur’a>n written to respond to various problems in today's life. Its tafsir epistemology is based on three main principles, those are presenting the exegesis in an easy way to understand; integration between narrated tradition and reason; and orientation towards solving contemporary problems. Even though it relies on traditional tafsir methodology, this tafsir is relatively capable of presenting flexibleinterpretations related to certain contemporary issues, without negating commonly agreed principles (al-qat}‘iyya>t)
The Relevance Between Values of Akhlak Education in Adnan and Syahid's Tafsir with Education Law in Indonesia
This research examines the relevance between the values of akhlak education In Adnan and Syahid's Tafsir with education law in Indonesia, the perspective of the surah Luqman. The research uses content analysis methods with hermeneutic approaches and comparative methods. The results show that the value of ethical education in interpreting the al-Qur'an Suci Basa Jawi and the Tafsir Al-Huda in principle is similar. Both broadly transmit Javanese noble values, which include: (1) Tawheed, (2) Filial piety to both parents, (3) Gratitude, (4) Patience, (5) Wisdom, (6) Simplicity, (7) Sincerity, and (8) the value of honesty. The relevance of the values of akhlak education above with the Indonesian education law emerges in attitudes and actions (1) Religion, (2) Discipline, (3) Independence and Responsibility, (4) Honesty, and (5) Concern for the social and natural environment. From an early age, make them habits when they are adults.Riset ini mengkaji relevansi nilai pendidikan akhlak yang terdapat dalam Tafsir Adnan dan Tafsir Syahid dengan undang-undang pendidikan di Indosesia, perspektif surat Luqman. Riset ini menggunakan content analysis dan metode komparatif dengan hermeneutika sebagai pendekatan. Hasil riset mengkonfirmasikan, bahwa nilai pendidikan akhlak dalam Tafsir Adnan Dan Tafsir Syahid secara prinsip tidaklah jauh berbeda. Dimana keduanya secara garis besar mentransmisikan nilai-nilai budi pekerti luhur Jawa, meliputi nilai: (1) Tauhid, (2) Berbakti ke kedua orang tua, (3) Syukur, (4) Sabar, (5) Kebijaksanaan (kawicaksanaan), (6) Kesederhanaan (prasaja), (7) Keikhlasan (narima ing pandum), dan (8) Kejujuran. Adapun relevansi nilai-nilai pendidikan akhlak di atas dengan undang-undang pendidikan di Indonesia adalah, melahirkan sikap dan tindakan (1) Religius, (2) Kepatuhan, (3) Mandiri dan Tanggung Jawab, (4) Jujur dan (5) Perhatian terhadap lingkungan sosial dan alam. Nilai akhlak tersebut, perlu ditanamkan sejak dini sehingga menjadi kebiasaan ketika dewasa